Halloween Costume ideas 2015
June 2013

LOS ALTOS, CALIFORNIA (IPS) � PARA ulama Arab Saudi memimpin paduan suara dari para khatib yang mendesak kaum Muslim dan Arab mendukung pemberontak Suriah melawan apa yang mereka sebut kekejaman pasukan SyiahPresiden Suriah Bashar al-Assad, yang didukung Iran.
Jumat lalu, imam Masjidil Haram di Mekkah, Sheikh Saud El-Fridayeym, mengeluarkan seruan yang tak biasa untuk umat Muslim agar memberikan bantuan �dengan segala cara� kepada para pemberontak dan warga sipil Suriah yang terperangkap dalam konflik.
Ulama terkenal Saudi, Sheikh Mohammed Al-Erify, menggunakan khotbahnya di sebuah masjid pusat di Kairo, Mesir, untuk menarik ribuan jemaah menyokong kelompok yang melawan rezim Assad dan mendesak para pendengarnya mendaftarkan diri sebagai jihad.
Pada Kamis, puluhan ulama, terutama dari Teluk, berkumpul di Kairo untuk membahas rencana sebuah seruan jihad internasional di Suriah.
Pada 4 Juni, Al-Arabiya, saluran televisi yang didanai Saudi dan biasanya berhaluan liberal, menampilkan pemimpin konservatif Sheikh Youssef Qaradawi, berasal dari Doha, Qatar, untuk mendesak pemberian dukungan terhadap jihad melawan pasukan Hizbullah yang berjuang bersama pasukan Assad di Suriah.
Lonjakan seruan keagamaan itu muncul sepekan setelah milisi Syiah Hizbullah yang dibekingi Iran melancarkan intervensi di Suriah dan memaksa pasukan pemberontak keluar dari kota penting dan strategis Al-Qusair.
Pemberontak menduduki Al-Qusair selama berbulan-bulan. Jatuhnya kota itu menandai pergeseran keseimbangan kekuatan sejak pemberontak angkat senjata pada Desember 2011 dan mengusir pasukan pemerintah dari beberapa kota.
Media, yang dikendalikan pemerintah Suriah, melaporkan bahwa pasukan Assad bergerak ke arah Homs, kubu pemberontak, sementara kantor berita Iran Fars menyebutkan pekan lalu bahwa tentara Suriah memegang kendali atas beberapa wilayah di Suriah.

Konflik internasional
Fatwa jihad oleh para ulama Sunni melawan Assad, seorang Alawi yang merupakan anggota dari cabang minoritas Islam Syiah, muncul begitu Amerika Serikat mengisyaratkan kesediaannya pada Kamis untuk mengirim senjata ke pemberontak di Suriah. Suriah dianggap menerabas �garis merah� dengan menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri.
Selama sepuluh tahun invasi Soviet terhadap Afghanistan yang dimulai pada 1979, Amerika Serikat dan Arab Saudi memainkan peran serupa, di mana Washington menyuplai senjata ke pejuang mujahidin Afghanistan sementara Arab Saudi membantu pendanaan dan menyediakan pembenaran agama guna melawan pasukan penyerbu Soviet.
Selama beberapa pekan terakhir, media Arab didominasi laporan saksimata di lapangan tentang masuknya para pejuang Syiah, yang diprovokasi Iran, dari Irak, Lebanon, dan Iran ke Suriah untuk memperkuat rezim Assad. Laporan itu menyoroti meningkatnya ketegangan sektarian yang mendasari konflik.
Para ulama Sunni menyalahkan Iran dan Hizbullah yang mengubah konflik antara kedikatorran Assad dan rakyatnya menjadi perang sektarian.
Pemberontakan itu mulanya protes prodemokrasi damai di kota Dera, di bulan-bulan awal Musim Semi Arab yang menyebabkan jatuhnya beberapa diktator. Protes itu dengan cepat memburuk menjadi perang yang menewaskan sedikitnya 93.000 orang, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Khotbah Jumat Shoreym disiarkan secara langsung ke beberapa saluran televisi pan-Arab. Khatib Saudi itu begitu dihormati di banyak negara Muslim Sunni. Khotbah dan pengajiannya seringkali didengar di tempat-tempat umum maupun rumah-rumah.
Dalam khotbahnya yang emosionalShoreym menangis haru saat mengingat nasib warga sipil, perempuan dan anak-anak, di Suriah.
�Perempuan kehilangan suami, anak-anak menjadi pengungsi, dan rumah mereka tinggal puing-puing oleh kekuatan agresi dan tirani,� ujarnya. �Ini membuat kita semua berkewajiban mengulurkan tangan untuk membantu mereka.�
Sebelumnya Shoreym jarang mengomentari politik, sesuai dengan garis pemerintahan Saudi untuk menjauhkan tempat-tempat suci di Mekkah dan Madinah dari politik sebisa mungkin.
Khotbahnya menandai pergeseran penting dari kebijakan itu, menunjukkan betapa serius situasi di Suriah.
Di Kairo, khotbah satu jam Al-Erify fokus pada pentingnya ikut jihad. �Sejarah modern belum pernah melihat pembantaian seperti yang telah dilakukan rezim itu selama 40 tahun terakhir,� ujarnya.
Al-Erify, ulama yang buku-bukunya laris dan acara TV-nya populer, memperingatkan jika aliansi Syiah yang dipimpin Iran berhasil di Suriah, mereka akan mengejar �anak-anak Muslim di negara-negara lain� dan �membantai mereka seperti yang mereka lakukan di Suriah.�
Seruan Erify, Shoreym, dan Qaradawi merupakan serangkaian fatwa terakhir yang mendesak rakyat melawan pasukan Assad di Suriah.
Pada Kamis, puluhan ulama Sunni, sebagian besar dari Teluk, berkumpul di Kairo untuk mengumumkan �seruan mendesak untuk jihad� di Suriah dan menggalang dukungan publik bagi para pejuang di sana.
�Konferensi itu pasti punya dampak di wilayah itu,� kata Gamal Sultan, editor suratkabar Al-Mesryoon di Kairo. �Dunia membayangkan mereka dapat menjual rakyat Suriah dengan harga murah ke tirani Assad. Para ulama keluar untuk membuktikan anggapan itu keliru.�

Mendokumentasikan kekejaman
Para peserta konferensi, termasuk Ahmed Al Tayeb, imam besar Masjid Al-Azhar, benteng Islam Sunni dan kedudukan prestisiusnya dalam studi agama di Mesir, menonton film dokumenter yang menunjukkan Hizbullah dan pasukan Suriah bertindak kejam terhadap rakyat sipil di wilayah konflik.
Sebuah pernyataan di situsweb International Union of Muslim Scholars, organisasi nonpemerintah pan-Islam yang menggelar konferensi itu, menulis pertemuan itu dirancang untuk �menunjukkan wajah asli Iran, rezim Assad, dan Hizbullah.�
Beberapa peserta konferensi kemudian bertemu dengan Presiden Mesir Mohammed Morsi pada Jumat lalu guna mencoba menggalang dukungan atas seruan jihad.
Media sosial, yang jadi perangkat penting melancarkan Musim Semi Arab, kini dipakai sebagai sarana gigih untuk menunjukkan kekejaman rezim Assad maupun menyerukan jihad melawan Assad.
Awal pekan ini, sebuah video amatir di Youtube menunjukkan anak-anak muda berusaha menyelamatkan seorang gadis Suriah yang terbaring di tengah jalan, setengah telanjang, dan terluka setelah dilaporkan diperkosa oleh pasukan pro-Assad. Satu demi satu mereka ditembak pasukan Assad saat mencoba menolong, dan perempuan itu diyakini tak selamat.
Laman Facebook berbagi foto anak-anak berlumuran darah, tenggorokan mereka digorok, dan tumpukan mayat, termasuk anak-anak, terbaring di bawah reruntuhan. �Sementara Anda duduk menjelajahi Facebook Anda, anak-anak mati sekarat di Suriah,� tulis sebuah posting. [Emad Mekay]

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

NEW DELHI (IPS) ï¿½ PARA aktivis lingkungan dan kedaulatan pangan di India sekian lama berhasil menunda-nunda upaya memperkenalkan tanaman pangan rekayasa genetik di negara yang didominasi pertanian itu. Namun, mereka kini harus berhadapan dengan rancangan undang-undang yang bisa mengkriminalisasikan mereka.
RUU Otoritas Regulasi Bioteknologi India (BRAI), diajukan ke parlemen April lalu, memberikan �izin satu pintu� bagi proyek-proyek dari perusahaan bioteknologi dan agrobisnis, termasuk yang menerapkan tanaman pangan rekayasan genetik, ke negeri tersebut, di mana 70 persen dari 1,1 milyar penduduknya terlibat dalam kegiatan pertanian.
�Penolakan rakyat terhadap pengenalan tanaman rekayasa genetik merupakan jerih payah dari sebuah kampanye yang dilancarkan kelompok masyarakat sipil guna menumbuhkan kesadaran di antara konsumen,� kata Devinder Sharma, pakar kedaulatan pangan dan pemimpin Forum for Biotechnology and Food Security. �Sekarang kami sedang menentang rencana masuknya pisang rekayasa genetik dari Australia.�
Sharma berkata kepada IPS bahwa bila RUU tersebut disahkan menjadi undang-undang, kampanye penyadaran semacam itu akan terkena hukuman berat. RUU menetapkan hukuman penjara dan denda bagi �siapapun, tanpa bukti atau laporan ilmiah, menyesatkan publik mengenai keamanan dari organisme dan produk��
Suman Sahai, yang memimpin Gene Campaign, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk konservasi sumberdaya genetik dan pengetahuan lokal, berkata bahwa �RUU kejam ini telah diajukan ke parlemen tanpa menggamit sejumlah bukti dari seluruh dunia mengenai risiko kesehatan yang diakibatkan tanaman pangan rekayasa genetik.�
Dia mengatakan para aktivis India tengah mendalami laporan terbaru yang ditulis Judy Carmen dari Flinders UniversitydiAdelaide, Australia, dan dimuat di Organic Systems Journal. Isinya menunjukkan bukti bahwa babi yang diberi pakan jagung dan kedelai rekayasa genetik cenderung mengalami radang perut parah.
�RUU baru bukan tentang peraturan, tapi promosi kepentingan perusahaan makanan raksasa yang mencoba memperkenalkan teknologi berisiko ke India, mengabaikan hak-hak petani dan konsumen,� ujar Sahai. �Ini mengkhwatirkan karena memberi kekuasaan kepada penguasa untuk memadamkan perlawanan terhadap teknologi rekayasa genetik dan mengkriminalkan mereka yang berani melawan.�
Bulan lalu rencana masuknya pisang rekayasa genetik ke India mendapat penolakan keras dari sejumlah LSM terkemuka, termasuk Initiative for Health & Equity in Society, Guild of Services, Azadi Bachao Andolan, Save Honey Bees Campaign, Navdanya, dan Gene Ethics di Australia.
Kelompok-kelompok itu berusaha membatalkan perjanjian antara Queensland University of Technology dan departemen bioteknologi India untuk menanam benih pisang rekayasa genetik di India.
Vandana Shiva, yang memimpin organisasi konservasi keanekaragaman hayati Navdanya dan salah satu tokoh penggagas kampanye melawan tanaman rekayasa genetik, berkata bahwa eksperimen tanaman pangan seperti itu merupakan �ancaman langsung terhadap keanekaragaman hayati, kedaulatan benih, pengetahuan lokal, dan kesehatan masyarakat di India, dengan secara perlahan menggantikan aneka varietas tanaman pangan dengan sejumlah kecil tanaman monokultur yang dipatenkan.�
Dia cemas bahwa upaya itu dibikin untuk mengontrol budidaya pisang di India melalui paten �oleh orang-orang kuat di tempat yang jauh, yang mengabaikan keanekaragaman hayati di lahan-lahan kami.�
India memproduksi dan mengkonsumsi 30 juta ton pisang saban tahun, diikuti Uganda yang menghasilkan 12 juta ton dan memakan buah-buahan itu sebagai panganan pokok.
National Research Centre for Banana di India, yang melindungi lebih dari 200 varietas buah-buahan itu, menjadi rekanan proyek pisang rekayasa genetik. Lembaga lainnya termasuk Indian Institute of Horticulture Research, Bhabha Atomic Research Centre (BARC), dan Tamil Nadu Agricultural University.
Dengan keterlibatan begitu banyak lembaga resmi, muncul kekhawatiran pisang rekayasa genetik akan menjadi bagian dari program gizi yang dijalankan pemerintah. �Ada bahaya bahwa pisang hasil rekayasa genetik akan diperkenalkan ke dalam program seperti skema perkembangan anak terpadu dan makan siang bagi anak-anak,� ujar Shiva.
Integrated Child Development Services di India, program anak usia dini terpadu yang terbesar di dunia, dimulai pada 1975 dan kini meliputi 4,8 juta ibu hamil dan ibu menyusui dan lebih dari 23 juta anak di bawah usia enam tahun. Pisang dimasukkan sebagai bagian dari makanan yang disajikan di 40.000 pusat perbaikan gizi.
Prof James Dale dari Queensland University of Technology, yang memimpin proyek itu, dalam wawancara kepada media Australia, membenarkan eksperimen rekayasa genetik dengan mengatakan hal itu akan �menyelamatkan perempuan India dari kematian saat melahirkan karena kekurangan zat besi.�
Menurut studi yang dilakukan International Institute for Population Sciences di Mumbai, lebih dari 50 persen perempuan India dan lebih dari 55 persen perempuan hamil di India menderita anemia. Ditaksir 25 persen kematian ibu karena komplikasi lantaran anemia.
Pada 9 Maret 2012, dalam wawancara dengan Australian Broadcasting Corporation, Dale berkata, �Salah satu alasan utama kekurangan zat besi karena sebagian besar penduduk India adalah vegetarian, dan sulit bagi seorang vegetarian memperoleh asupan zat besi yang cukup, terutama untuk penduduk yang bertani secara subsisten.�
�India adalah penghasil pisang terbesar di dunia tapi mereka tak mengekspornya sama sekali; semuanya dikonsumsi lokal. Jadi ini sebuah tujuan yang sangat baik untuk meningkatkan jumlah zat besi dalam pisang yang kemudian dapat didistribusikan ke� petani miskin dan subsisten.�
Dale membantah adanya risiko terhadap strain pisang India. Dia berkata karena pisang itu steril maka tak ada bahaya bahwa gen yang diperkenalkan akan masuk dan menghancurkan varietas lainnya.
Tapi para ahli seperti Vandana Shiva menentang klaim Dale. Dia bilang, para ilmuwan Australia memakai sebuah virus yang merangsang pisang, berfungsi sebagai promotor, dan itu akan menyebar melalui transfer gen secara horisontal.
�Semua rekayasa genetik memakai gen dari bakteri dan virus dan berbagai penelitian telah menunjukkan ada risiko kesehatan serius yang berhubungan dengan makanan hasil rekayasa genetik,� tegasnya, menambahkan ada cara lebih aman, lebih murah, dan lebih alami untuk menambah zat besi dalam makanan.
India adalah penghasil buah dan sayuran terbesar di dunia dengan banyak varietas alami yang kaya akan zat besi. �Sumber yang baik untuk zat besi di India termasuk kunyit, batang teratai, kelapa, mangga (dan) bayam� tak ada kebutuhan untuk merekayasa genetik pisang, tanaman suci di India,� ujarnya.
IPS gagal menghubungi Dale secara langsung maupun terpisah lewat humas kampusnya untuk menanyakan risiko transfer gen secara horisontal dan kemungkinan bahayanya bagi kesehatan masyarakat.
Menurut Shiva, ada langkah terpadu oleh korporasi makanan untuk mengendalikan tanaman pangan dan bahan pokok penting di pusat-pusat tanaman itu bercokol. �Kami telah melihat jagung rekayasa genetik diperkenalkan ke Meksiko dan ada upaya tekun memperkenalkan terong rekayasa genetik di India.�
Pada Februari 2010, Jairam Ramesh, saat itu menteri lingkungan, memerintahkan moratorium proyek terong dan tindakannya dipandang sebagai tamparan keras bagi pengenalan tanaman pangan rekayasa genetik di India.
�Jika RUU baru itu disahkan, kita berada dalam situasi mundur dan proyek seperti pisang rekayasa genetik akan cepat masuk dengan dukungan pemerintah. Bila itu terjadi, hanya tinggal tunggu waktu India menjadi republik pisang rekayasa genetik,� tutur Devinder Sharma. [Ranjit Devraj]

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

YERUSALEM (IPS) � PERJUANGAN untuk kesetaraan gender dan pluralisme Yahudi mengambil bentuk simbolisnya pada hari Minggu di Tembok Barat, situs paling dipuja Yudaisme dan lambang kesatuan. Kelompok perempuan yang dikenal dengan nama �Women of the Wall� bisa berdoa secara legal dan dengan cara mereka.

Selama 24 tahun, Women of the Wall, sebuah kelompok feminis Yahudi, menuntut hak untuk membawa dan melantunkan Kitab Suci Yudaisme di Tembok Barat, atau �Kotel� dalam bahasa Ibrani, dengan mengenakan selendang doa, tefillin, dan kupluk.

Menurut Hukum Yahudi Ortodoks, hanya kaum pria yang boleh memakai tallith, tefillin, dan kippah, serta membaca Taurat dengan suara lantang selagi berdoa selama beribadah. Karena itu, tuntutan perempuan tersebut adalah laknat bagi Yahudi Ortodoks, aliran Yudaisme yang dianut secara umum di Israel.

Gerakan konservatif, reformis, progresif, dan liberal yang menjadi afiliasi Women of the Wall, kendati menonjol di Amerika Serikat, tetaplah minoritas di Israel.

Lapangan terbuka Kotel pada hari Minggu menyerupai medan perang yang diperkuat pertahanannya. Dua kubu yang berlawanan mengenai kewajiban agama dan hak-hak gender mempersiapkan diri untuk menghadapi pertikaian lebih lanjut.

Sekira 300 perempuan, yang hendak merayakan hari pertama bulan Tamuz Yahudi dengan regalia lengkap, berusaha melewati kerumunan kaum pria ultra-Ortodoks yang sama banyaknya dan tengah terpancing amarah.

�Para perempuan ini ingin memecah-belah Yudaisme. Yahudi sekuler takkan pernah berani memalsukan firman Tuhan, tapi perempuan-perempuan ini mengubah Yudaisme dari dalam,� kata Nahum Weiss memperingatkan, seorang rabbi dari sekolah Talmudik.

Ratusan petugas polisi �setidaknya dua orang untuk tiap perempuan� dikerahkan di antara dua kubu guna mencegah kekerasan yang telah terjadi pada sembahyang bulanan sebelumnya, saat putra-putri seminari melemparkan sampah, popok, dan telur ke Women of the Wall.

Kali ini, kaum pria memaki-maki kaum perempuan: �Pergilah ibadah dengan kaum Muslim!�; �Pulanglah ke Amerika!�; dan �Kalian tak diterima di sini!�

Jenny Menashe, dari kelompok Women for the Wall, kembaran Women of the Wall dari kelompok Ortodoks dengan semboyannya �menjaga kesucian tembok�, menyerukan kepada kaum pria sesamanya untuk �mengizinkan perempuan menangani para perempuan ini.�

Plakat berbunyi �Anda membuat agama baru, membangun sebuah tembok baru!� direspon kelompok Women of the Wall dengan himne Hassidic Ortodoks, �Seluruh dunia merupakan sebuah jembatan sempit; karena itu, janganlah takut.�

Polisi perempuan mengawal mereka menuju bagian perempuan di Kotel, tempat mereka tetap berada di balik pagar guna menghindari konflik lanjutan dengan jemaat Ortodoks. Ratapan serupa doa membahana dari bagian kaum pria guna menenggelamkan doa kaum perempuan itu. Untuk menjalankan ibadah di Kotel, kaum pria memiliki tempat dua kali lebih besar dari kaum perempuan.

�Memalukan, kami ditempatkan terpisah untuk berdoa layaknya penderita kusta,� sesal Ya�ara Nissan. �Inilah yang terjadi pada perempuan saat mereka keluar dari dapur.�

Titik balik

Dua bulan lalu, seakan mematuhi maklumat Ortodoks, polisi akan menangkap perempuan yang berdoa di Kotel dengan cara mereka sendiri. Namun, pada 25 April, Women of the Wall meraih kemenangan bersejarah setelah perjuangan panjang untuk mendapatkan pengakuan atas praktik mereka dan melawan otoritas Ortodoks yang bertanggungjawab atas aturan sembahyang di tempat suci itu.

Berdasarkan penilaian bahwa perilaku di luar ortodoks mereka tidaklah menganggu kedamaian, sebaliknya kaum Yahudi ultra-Ortodoks yang menyebabkan kekacauan, Pengadilan Distrik Yerusalem memutuskan Women of the Wall dapat berdoa di Tembok Barat.

Hakim Moshe Sobel, seorang Yahudi Ortodoks, menulis dalam putusannya bahwa kegiatan Women of the Wall bukan merupakan sebuah pelanggaran atas �adat-istiadat lokal� maupun provokasi.

Pengadilan juga memutuskan menganulir interpretasi kepolisan atas putusan Mahkamah Agung sebelumnya pada 2003, menyatakan bahwa perempuan tak dilarang mengadakan kebaktian doa mereka sendiri di Kotel dan tidak diharuskan berkumpul di dekat Robinson�s Arch

�Hari ini Women of the Wall membebaskan Tembok Barat untuk seluruh bangsa Yahudi,� teriak Anat Hoffman, ketua organisasi.

Menanggapi putusan pengadilan, Rabbi Shmuel Rabinowitz dari Tembok Barat memprotes. �Saya mohon pihak berwenang serta mayoritas yang diam, yang peduli pada Kotel untuk mencegah para ekstremis mengubahnya jadi tempat pertentangan antarsaudara.�

Pada Minggu, para rabbi ultra-Ortodoks menyerukan para pria menikah dan berpengalaman untuk menentang Women of the Wall, menginstruksikan para murid yang terbakar amarah tetap di sekolah-sekolah Talmudik agar protes itu tak berubah menjadi pertikaian tak terpuji dan tercela.

Namun, alih-alih ribuan, hanya ratusan orang yang tergerak atas seruan itu.

Secara umum, kegiatan ibadah berjalan lancar. Beberapa telur yang dilempar mendarat di kaki para pria pendukung Women of the Wall. �Mereka merancang unjuk kekuatan sekaligus kelemahan mereka,� ujar seorang pendoa.

�Mereka dimanfaatkan untuk melawan kami,� kata Hoffman, mengutarakan pandangan hati-hati. �Kotel merupakan tempat bagi semua komunitas dan aliran Yahudi,� kata ketua Shira Preuce. �Kaum Rabi Ortodoks takut pada pemberdayaan perempuan, takut akan perubahan.�

Pergeseran keseimbangan politik

Yahudi Ortodoks pelan-pelan kehilangan kekuasaan di Israel.

Lanksap politik sekarang menunjukkan lobi Ortodoks di Knesset (parlemen Israel) luar biasa lemah, dan para legislator ultra-Ortodoks beroposisi dengan partai-partai liberal, progresif, dan Arab. Hubungan antara negara dan sinagog kini lebih menguntungkan arus Yahudi progresif.

Sebuah rancangan undang-undang wajib militer bisa mencabut keistimewaan yang sekian lama dinikmati Yahudi ultra-ortodoks untuk terhindari dari tugas ketentaraan, sementara para rabi non-Ortodoks sekarang mendapatkan gaji dari negara, dan warga Yahudi Israel diizinkan menikah di setiap dewan rabi di Israel. [Pierre Klochendler]

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik




Nanggroe Aceh - Mercusuar Pulau Breueh pada tahun 1880-an. Mercusuar Pulau Breueh adalah sebuah mercusuar yang terletak di Pulau Breueh, Aceh. Nama mercusuar ini Mercusuar Williems Torren III tapi karena letaknya berada di Pulau Breueh maka disebut dengan Mercusuar Pulau Breueh. Mercusuar ini dibuat atas hasil kerja sama antara Kerajaan Portugis dengan Kerajaan Aceh Darussalam yang dibangun




Nanggroe Aceh - Pada tahun 1873 Belanda menyatakan perang terhadap
Aceh dan berniat menguasai seluruh kekayaan Aceh serta meruntuhkan peradaban
Islam beserta Kerajaan Islam di Aceh yang tidak bisa ditaklukkan oleh Portugis
pada masa silam. Agresi Belanda pertama pada tahun 1873 tersebut dipimpin
langsung oleh Jenderal Kohler seorang Jenderal pasukan Belanda yang tangguh dan
juga komandan




Nanggroe Aceh - Siapa yang tidak tahu Takengon, negeri kopi yang sejuk dan panorama alamnya yang menakjubkan. Setiap tahun di negeri kopi ini diselenggarakan kompetisi pacuan kuda yang telah menjadi tradisi masyarakat Gayo. Seakan pacuan kuda telah menjadi ritual rutin masyarakat Gayo di Aceh Tengah, mereka sangat antusias menyambut perhelatan akbar ini. Tanpa promosi atau aba-aba dari tim

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget