Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Dunia"

Astronot china, yang liwei

BEIJING � Astronot asal China, Yang Liwei, mengaku mendengar suara seperti ketukan saat melakukan perjalanan perdananya di luar angkasa pada 2003.

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, dia mengingat bahwa seseorang mengetuk badan pesawat angkasa luar sama seperti mengetuk ember logam dengan palu kayu.

�Asalnya bukan dari dalam atau luar pesawat.�

Jelas saja dia menjadi cemas dan mengintip ke lubang, tetapi tetap tidak menemukan penjelasan terkait suara aneh tersebut.

Dia tidak bisa memutuskan saat masih di angkasa luar maupun setelah kembali ke bumi.

Yang Liwei telah mencoba, tetapi gagal, menciptakan kembali suara tersebut agar para ahli dapat membantunya mengidentifikasinya.

Tidak mengejutkan bahwa cerita suara misterius di angkasa luar mengundang perhatian berbagai pihak.

Apa atau siapa yang mengetuk pesawat angkasa luar Yang sementara dia sendirian jauh dari Bumi?

Kesunyian tak terbatas?

Angkasa luar diperkirakan sunyi karena tidak terdapat perantara agar suara dapat bergerak.

�Pergerakan suara memerlukan sebuah perantara � apakah itu unsur udara, molekul air, logam, atau atom padat,� kata Profesor Goh Cher Hiang, ahli angkasa luar dari National University of Singapore, kepada BBC.

Contoh sederhana hal ini adalah guntur, suara bergerak melalui udara, sonar bawah air, atau alat musik padat.

�Jika terdengar ketukan, kemungkinan suatu benda �memukul� pesawat angkasa luar pembawa astronot,� katanya. Namun, dia menekankan, pemikiran ini hanyalah rekaan.

Rekannya, Wee-Seng Soh, memberikan pandangan yang berbeda dengan mengatakan bahwa ini kemungkinan �hasil pemuaian atau kontraksi pesawat, terutama karena suhu bagian luar dapat sangat berubah di dalam orbit�.

Hari-hari Yang sebagai manusia angkasa luar sudah lama berlalu, tetapi media China menyatakan suara tersebut juga didengar astronot China berikutnya pada misi tahun 2005 dan 2008.

Yang memberi tahu mereka agar tidak terkejut dan mencemaskannya. Meskipun belum terjelaskan, dia sekarang menyatakannya sebagai sebuah �gejala biasa�.

Suara angkasa luar

Kenyataannya, tidaklah aneh mendengar suara di angkasa luar, dan juga suatu hal biasa tidak menemukan penjelasan pasti terkait suara tersebut.

Saat uji coba penerbangan tahun 1969 misi pendaratan Bulan, pada bagian terjauh orbit di mana tidak terdapat hubungan radio dengan Bumi, para astronot mendengar suara aneh yang tidak bisa dijelaskan.

Suara siulan tersebut mereka gambarkan sebagai musik angkasa luar, tetapi informasi rahasia tersebut baru diungkapkan baru-baru ini.

Rekaman suara tersebut baru didengar masyarakat permulaan tahun ini.

NASA menyatakan, hal ini kemungkinan adalah interferensi radio, bukannya makhluk angkasa luar.

Misi angkasa luar berikutnya juga mencatat suara sejenis dan NASA telah mengeluarkan rekaman penjelajah angkasa luar Juno saat mengorbit Jupiter. (bbc/sir)

Benteng Palacio de La Aljafer a warisan peradaban Islam di Spanyol | sumber: gambar bebas google picture
| Oleh Fahmi Mudaliyanto |

Layaknya sebuah harta warisan seperti itu pula negeri-negeri muslim di Andalusia (Spanyol). Warisan walau satu sama lain telah mendapat bagian sesuai hukum. Namun tak jarang satu sama lain berselisih meskipun mereka masih saudara kandung. Tentang jumlah warisan yang tidak sama, tentang hak warisan yang tidak ditunaikan, tentang penyelewengan salah satu ahli waris atau bahkan pihak di luar ahli waris yang merasa berhak mendapat warisan pula. Seperti itu kondisi Andalusia pasca Bani Umaiyah runtuh.
Di negeri Andalusia masyhur 3 nama raja. Abdurrahman I (ad-Dakhil) sang pendiri kerajaan Islam pertama dari Bani Umaiyah. Abdurrahman II (al-Ausat) yang meneguhkan kerajaan dengan barisan pasukan dan bangsawan nan gagah namun adil. Abdurrahman III (an-Nashir) sang pembela dimana beliau berkuasa selama 50an tahun dalam keadaan aman. Segala pemberontakan dipadamkan, perpecahan disatukan kembali dan perselisihan dihapuskan.
Pada masa Abdurrahman III, banyak negeri Eropa takluk dan mengakui kekuasaannya. Takluknya itu membuat utusan-utusan dari negeri Eropa datang membayar Jizyah dan memberi hadiah setiap tahun. Baginda Abdurrahman III ini memiliki 11 keturunan. Setelah beliau mangkat, tiada satupun dari keturunannya silih berganti yang mampu mempertahankan kekuasaannya. Hingga pada masa kekuasaan Hisyam III, kerajaan ini tumbang kemudian lahirlah kerajaan-kerajaan Islam kecil.
Setidaknya ada 3 kerajaan Islam yang sangat berpengaruh di Andalusia. 2 kerajaan paling besar saling berselisih yaitu Amirul Jamaah al-Wazir Abu Muhammad Jahur ibn Muhammad beliau adalah raja di Cordova dan kerajaan dari Bani Umayyah dikepalai Hisyam ibn Muhammad al-Murtadlo yang digelari Orang Besar Cordova. 2 kerajaan ini berperang satu sama lain hingga seluruh keturunannya habis. Kerajaan Islam lain yang agak besar adalah dari bani 'Abbaad. Ketika 2 kerajaan Islam yang berperang itu sama-sama binasa maka Bani 'Abbaad ambil bagian untuk menguasai Andalusia. Namun keruntuhan 2 kerajaan Islam ini dimanfaatkan pula oleh negeri Eropa untuk meneguhkan kuasanya.
Al-Mu'tamad ibn 'Abbaad adalah salah seorang raja dari bani 'Abbaad. Melihat kondisi kerajaan yang tidak memungkinkan untuk menghadapi serangan Eropa, maka beliau meminta bantuan kerajaan Islam Murabitin untuk membantu memerangi Eropa. Murabitin ini adalah salah satu kerajaan Islam besar di Morocco, Afrika. Sebenarnya Wazir-wazir nya tidak setuju meminta bantuan kepada Murabitin karena di Eropa kerajaan itu dikenal suka menjarah dan menguasai bangsa lain.
Dengan jitu Al-Mu'tamad ibn 'Abbaad menjawab bantahan itu, "menjadi tawanan yang disuruh menggembala unta di Afrika lebih aku sukai daripada menjadi tawanan untuk menggembalakan babi di Spanyol". Artinya dia lebih suka jatuh dibawah kuasa Islam daripada dikuasai oleh orang kafir.
Bala bantuan dari Morocco akhirnya datang membantu untuk menghancurkan Eropa. Mereka berhasil menaklukkan Eropa kembali. Raja al-Mu'tamad sesuai ramalannya ditawan oleh pasukan Murabitin dan meninggal di Afrika dalam kemelaratan.
Pada masa itu berdiri pula 2 kerajaan kecil yaitu Balansia (Valensia) dan Marsiah (Marcia). Yang terpenting ketika itu ialah daulah Nashiriyah dari bani Al-Ahmar. Daulah inilah yang mendirikan istana Al-Hambra di kota Granada. Kerajaan ini berkuasa 1232- 1492. Pada masa inilah Granada bangkit menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan.
Semakin berjayanya kerajaan Islam di tanah Andalusia, terlihat dari catatan sejarah, nampaknya membuat neger-negeri Eropa terancam. Tersebutlah 2 kerajaan besar di Eropa yaitu Aragon dan Castilia. Guna menghadapi kerajaan Islam itu mereka menikahkah raja masing-masing raja Ferdinand dan Ratu Izabella. Setelah mereka menikah, disatukanlah 2 kerajaan ini menghadapi kerajaan Islam. Pada 1492 kerajaan Islam di Andalusia terpaksa mengaku takluk kepada Eropa dengan raja terakhir Abu 'Abdullah kemudian meninggalkan daratan Eropa.
Dengan takluknya kerajaan Islam ini bangsa Spanyol dan Portugis mendapat jalan mengembara ke negeri Timur. Di zaman pemerintahan raja 'suami-istri' itulah Columbus menemukan benua baru Amerika. 22 tahun setelahnya yakni pada 1511 M Alfonso d'Albuquerque kepala perang Portugis merampas dan menaklukkan negeri Malaka, kerajaan islam terbesar kedua ditanah air kita setelah Samudera Pasai.
Pasca runtuhnya kerajaan Islam di Andalusia ini orang Islam dipaksa murtad oleh Paus-paus dari Vatican. Yang tidak mau murtad maka akan diusir bahkan dibunuh.

*Maroji Sejarah Ummat Islam Prof HAMKA

Uang keping bergambar Khalifah Abdul al Malik dari Dinasti Bani Umayyah | Foto: commons.wikimedia.ord
| Oleh Rofi'ulmuiz |

�Abu Sufyan,� ungkap Sayyid Quthub dalam Al Adalah Al Ijtima�iyah fi Al Islam, �Orang yang masuk Islam hanya di mulut semata, bukan keimanan dalam hati dan perasaan, seolah-olah tiada setetes keimanan pun didalamnya.�  Pernyataan itu seperti menjadi kegusaran tersendiri bagi umat Islam terhadap kontroversi pada orang-orang dari kalangan Bani Umayyah. Terutama jika sudah bersentuhan dengan masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ada santapan empuk bagi para pencela Bani Umayyah untuk semakin memperburuk citranya di mata umat Islam. (Baca: MenjawabCitra Negatif Bani Umayyah bagian 1)

Sejarah telah menunjukkan bahwa sebagian Bani Umayah yang menentang wahyu kepada Nabi Muhammad SAW adalah benar adanya, namun itu sebelum peristiwa Fathu Makkah (pembebasan Kota Makkah ke tangan Islam). Terutama Abu Sufyan. Ia terkenal sebagai tokoh Bani Umayyah yang menentang Nabi Muhammad SAW. Namun apa gerangan yang membuat Rosululloh SAW menjadikan Abu Sofyan sebagai sosok yang spesial saat peristiwa Fathu Makkah dengan memberikan jaminan keamanan bagi siapapun yang masuk ke dalam rumahnya?

Abdul Malik bin Husain Al Ishami dalam kitab An Nujum Al Awali memaparkan bahwa antara Bani Umayah dengan Bani Hasyim masih bertemu dalam silsilah keturunan, yaitu Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah. Abdu Manaf memiliki kedudukan terhormat di Makkah dan menjadi pemimpin mereka. Tidak ada satupun klan suku Quraisy yang menandinginya. Semua klan Quraisy mengakui hal itu dan menyerahkan kepemimpinan kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara Bani Hasyim dan Bani Umayah sebelum Islam merupakan hubungan persaudaraan. Namun kedatangan Islam menyebabkan sebagan besar Bani Umayah menentang agama baru ini beserta pembawanya, Muhammad SAW dari Bani Hasyim.

Penentangan tersebut terus berlangsung hingga peristiwa Fathu Makkah. Persitiwa berhasilnya kaum Muslim menguasai Mekkah menjadikan para Bani Umayyah masuk Islam dan  menjadi pendukung utama ekspansi Islam ke berbagai wilayah dunia. Kondisi harmonis penuh persaudaraan karena ikatan Islam ini berlangsung hingga terjadinya pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan ra. Peristiwa ini memunculkan konflik antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan ihwal terbunuhnya sang Khalifah serta hukuman qishash bagi para pembunuhnya.

Namun ada juga pendapat dari sejarawan muslim bernama Al Maqrizi. Ia mengkalim dalam buku An Naza� wa At Takhashum fi ma baina Bani Umayyah wa Bani Hasyim bahwa perseteruan antara mereka itu telah mengakar dan berlangsung lama.

Abdussyafi dalam bukunya yang diterjemahkan dengan judul Bangkit dan Runtuhnya Bani Umayyah, mencoba menentang pendapat Al Maqrizi dengan mengatakan bahwa semua peristiwa yang terjadi antara Bani Hasyim dan bani Umayyah sebelum Islam tidak keluar dari koridor persaingan dan rivalitas untuk memperoleh penghormatan, prestise, dan kekuasaan. Bahkan saat terjadi persaingan dalam memperebutkan berbagai hal, mereka saling melakukan munafarah (penghakiman dihadapan dukun).

Sebuah contoh kejadian yang diceritakan oleh Al Baladzuri dalam kitab Ansab Al Asyraf mengenai munafarah yang dilakukan oleh Bani Hasyim dan Bani Umayyah. Dia bercerita, �Umayyah bin Abdu Syams adalah seorang hartawan, sehingga ia memaksa diri untuk mengikuti kebiasaan Hasyim memberi makan kaum Quraisy. Namun, ternyata Umayyah tidak mampu melakukannya. Akibatnya orang-orang Quraisy merasa pesimis dan mencibirnya karena ketidakmampuannya.

Umayyah pun naik pitam dan menantang Hasyim untuk melakukan munafarah dengan masing-masing menyerahkan 50 ekor unta untuk disembelih di Makkah atau diusir (diasingkan dari Makkah) selama sepuluh tahun. Keduanya bersepakat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dihadapan seorang dukun dari Bani Al Khuza�i-ia adalah kakek Amr bin Lahyl yang bertempat tinggal di Asfan. Sang dukun pun memutuskan kemenangan Hasyim atas Umayyah. Dengan keputusan ini, Hasyim menyembelih unta tersebut dan membagikan dagingnya kepada semua hadirin. Sedangkan Umayyah harus pergi ke Syam. Disanalah ia menetap selama sepuluh tahun.�

Dari kejadian tersebut menegaskan bahwa persaingan yang terjadi dikalangan mereka dilakukan secara terhormat dan saling menghargai, bukan berdasarkan kedengkian dan saling memusuhi yang menghalangi mereka untuk saling mendukung dan bersatupadu saat menghadapi ancaman dari luar.

Kemudian kisah keislaman Abu Sufyan menjelang Nabi Muhammad SAW menduduki Makkah dan peran Abbas bin Abdul Muthalib (Paman Nabi Muhammad Saw) didalamnya merupakan bukti kongkret kuatnya hubungan dan kasih sayang antara kedua pembesar Bani Hasyim dan Bani Umayyah.

Saat itu Abbas membawa Abu Sufyan menghadap Nabi Muhammad SAW. Ia senantiasa memohonkan ampunan baginya, sehingga beliau mengabulkannya. Jiwa Abbas tidak merasa tenang sebelum mendengar Abu Sufyan masuk Islam dihadapan Nabi Muhammad SAW. Upaya keras Abbas agar Abu Sufyan masuk Islam sempat membuatnya marah besar kepada Umar bin Khathab yang meminta izin kepada Rosululloh SAW untuk memenggal batang leher Abu Sufyan. Kata Abbas dalam kitab Sirah Ibn Hisyam, �Wahai Rosululloh, Abu Sufyan adalah orang yang menyukai kebanggaan. Karena itu, lakukanlah sesuatu baginya.� Nabi menjawab, �Baiklah, Barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan, ia aman. Barangsiapa menutup pintu rumahnya, ia aman. Dan, barangsiapa memasuki masjid (Masjidil Haram), ia aman.�

Masih dalam kitab Sirah Ibn Hisyam, Nabi Muhammad SAW memperlakukan Bani Umayyah dan seluruh penduduk Makkah dengan sikap yang sesuai dengan akhlak, perasaan, dan kasih sayangnya. Bukan membalas dengan secara setimpal akibat kekafiran, permusuhan dan perlawanan. Maka beliau berkata pada mereka, �Wahai kaum Quraisy, menurut kalian apa gerangan yang akan kulakukan terhadap kalian?� Mereka menjawab, �Kebaikan, wahai saudara yang dermawan putra saudara yang dermawan.� Beliau pun bersabda, �Pergilah, kalian semua bebas.�

Jadi menurut Abdussyafi-kembali menegaskan- bahwa permusuhan sebagian besar Bani Umayyah terhadap Islam sebelum Fathu Makkah bukan timbul akibat dari permusuhan lama yang mengakar dan mendarah daging antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah, melainkan timbul dari persaingan memperoleh kehormatan dan kedudukan tertinggi di komunitas Quraisy yang sangat mementingkan hal semacam itu.

Ketika itu, menurut mereka (Bani Umayyah), Nabi Muhammad SAW tidak layak mengemban risalah kenabian. Bahkan Allah SWT berfirman dalam surat Az Zukhruf ayat 31 mengenai hal ini. �Dan mereka berkata, �Mengapa Al Qur�an tidak diturunkan kepada salah seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Tha�if) ini?�� Allah SWT pun menjawab dalam firman-Nya pada ayat selanjutnya dengan berfirman, �Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhamnu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.�

�Sikap permusuhan yang diperlihatkan Bani Umayyah terhadap Rosululloh SAW dan dakwahnya,� Abdussyafi menjelaskan. �bukanlah monopoli mereka, melainkan diperlihatkan pula oleh para pemimpin dari keluarga besar suku Quraisy lainnya, seperti Bani Makhzum, Bani Jamh, dan lain-lain.�

Kendati semua kalangan Bani Umayyah masuk Islam setelah Fathu Makkah dan mereka menjalankan ajaran agamanya dengan sangat baik, bahkan mereka memberikan pengorbanan luar biasa dalam menolong agama Islam dan meninggikan agama Allah, tetapi sebagian orang melupakan permusuhan suku Quraisy terhadap Rosululloh SAW. Mereka hanya mengingat permusuhan Bani Umayyah terhadap beliau. Seolah-olah hanya Bani Umayyah saja yang bersikap antagonis.

�Para propagandis,� kata Abdussyafi. �melupakan sebagian orang dari Bani Umayyah yang tergolong dalam As sabiqunal Al awwaluun(orang-orang yang pertama kali masuk Islam). Bahkan jumlah Bani Umayyah bisa jadi lebih banyak daripada Bani Hasyim,� jelasnya. Beberapa orang dari Bani Umayyah itu adalah Ustman bin Affan bin Abul Ash bin Umayyah, Khalid bin Sa�id, dan Amr bin Sa�id. Khalid bin Sa�id adalah orang kelima yang masuk Islam.

Mereka (para propagandis) senantiasa mengatai Bani Umayyah dengan julukan ath thulaqa� wa abna �uth thulaqa� (tawanan yang dibebaskan beserta keturunannya). Ibnu Taimiyah termasuk yang membantah penulis Minhaj Al Karamah yang mengatai Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai tawanan yang dibebaskan sekaligus putra tawanan yang dibebaskan. Hal tersebut beliau uraikan penjelasannya dalam kitab Minhaj As Sunnah An Nabawiyah.

Maka ungkapan ath thulaqa� wa abna �uth thulaqa� yang disematkan kepada bani Umayyah menunjukkan sejauh mana kedengkian terpendam ekstrimis Syi�ah dan lain-lain.

Uang keping bergambar Khalifah Abdul al Malik dari Dinasti Bani Umayyah | Foto: commons.wikimedia.ord
| Oleh Rofi'ulmuiz |

Bagian dari periode terburuk dalam sejarah peradaban Islam adalah terbunuhnya Khalifah Ali bin abi Thalib dan diangkatnya Muawiyyah bin Abu Sofyan menjadi pelanjut kekhalifahan. Tak hanya pelanjut, ia juga menempatkan kekhalifahan Islam dengan sistem monarki. Banyak kalangan menilai, keputusan Muawiyyah itu dianggap sebagai bentuk kudeta, atau gila kekuasaan, yang menyebabkan konflik panjang antara Bani Umayyah dengan para ahlul baitatau keluarga Nabi, dikenal juga dengan Bani Abbas, sehingga sejarah Islam penuh dengan cerita perang saudara. Tak sedikit sejarawan menempatkan Bani Umayah sebagai antagonis. Terhadap masalah ini, Abdussyafi dalam mukadimah Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyahmenuliskan, �Periode dari sejarah umat Islam masih membutuhkan kajian dan penelitian intensif yang penuh kesadaran.�

Dinasti Umayyah seringkali menjadi sorotan para cendikiawan kontemporer, sebagian besar tulisannya cenderung bersifat menghakimi. Dalam hal ini mereka mempergunakan berbagai riwayat yang dikemukakan musuh-musuh Bani Umayyah atau pendapat dari pakar sejarah yang cenderung memihak golongan tertentu. Akibatnya, sejarah para khalifah dan kepala daerah Bani Umayyah penuh dengan kepalsuan, berbagai penyimpangan, dan jauh dari sejarah yang hakiki.

Sayyid Quthub , seorang kolumnis muslim ternama yang menelurkan banyak buku tentang pergerakan Islam, tak luput ikut bersuara mengenai Bani Umayyah dalam buku Al Adalah Al Ijtima�iyyah. �Pun, Bani Umayyah di era Islam adalah Bani Umayyah di era Jahiliyyah. Mereka tidak hanya sebagai zhalim dan penjahat, keyakinan dan keikhlasan mereka dalam beragama meragukan!� ungkapnya.

Kolumnis kontemporer yang juga berkomentar negatif tentang Bani Umayyah adalah Mahmud Abbas Al-Aqqad. �Kalaulah sejarah ditulis dengan benar, tentulah julukan yang disematkan pada dirinya (Muawiyah bin Abu Sufyan) hanyalah mufarriqul jama�ah (pemecah belah persatuan),� umpatnya.

Dari pernyataan itu, Abdussyafi, mencoba membantah. Ia berkata, �Dalam berbagai sumber sejarah bersepakat dan ini pun diakui oleh mereka yang memusuhi Bani Umayyah, bahwa karakter yang paling menonjol dari seorang Muawiyah bin Abu Sufyan adalah sabar, toleran, dan dermawan. Diakui juga oleh berbagai sumber sejarah bahwa periode kekhalifahannya merupakan periode amul jama�ah (tahun persatuan),�

Citra negatif tersebut tentunya tidak tanpa faktor yang melatar belakanginya. Ada beberapa faktor yang saling mendukung dalam menciptakan citra negatif dan mencemarkan nama baik mereka, sehingga periode Bani Umayyah dicap dengan berbagai sebutan kegelapan dan keburukan.

Pertama, sebagian besar Bani Umayyah pada awalnya (pra-Islam) mutlak menentang kedatangan risalah Muhammad Rosululloh SAW, bahkan mengusung bendera perlawanan dan menabuh genderang perang serta melancarkan berbagai serangan terhadapnya selama lebih dari dua puluh tahun. Bani Umayyah bersedia masuk Islam ketika peristiwa Fathu Makkah.

Kedua, Bani Umayyah terlibat dalam konfrontasi politik dengan Ahlu Bait sejak terbunuhnya Utsman bin Affan, sehingga emosional sebagian besar umat Islam cenderung memihak Ahlu Bait demi memandang kedudukan merak dikalangan umat Islam.

Ketiga, beberapa kesalahan fatal yang dilakukan sebagian khalifah Bani Umayyah, seperti menyerang dua kota suci umat Islam-Makkah dan Madinah-yang mengguncang emosional umat Islam dan gaungnya senantiasa mewarnai jiwa dan aneka tulisan mereka.

Keempat, banyaknya kelompok yang memusuhi Bani Umayyah, seperti Syiah, Khawarij, dan para pendengki mereka yang tamak dalam memperoleh kekuasaan yang menjerumuskan mereka dalam pertemuparan sengit.

Kelima, provokasi dan informasi-informasi negatif itu senantiasa menyebar dalam pembicaraan masyarakat hingga masa pembukuan.

�Meskipun sebagian Bani Umayyah sangat memusuhi Islam pada awalnya,� lanjut Abdussyafi. �Ketika masuk Islam pada Fathu Makkahmereka memperlihatkan aneka kebaikan dengan berbagai penaklukan mereka. Mereka juga memperlihatkan peran signifikan dalam mengibarkan bendera tauhid. Mereka memperlihatkan rasa cinta pada agama Allah dan perjuangan di jalan-Nya yang layak diapresiasi. Bahkan Rosululloh SAW sendiri mengamanatkan berbagai tugas besar nan penting kepada mereka. Begitu juga dengan keberhasilan yang dicapai ketiga khulafaur rasyidin sepeninggal beliau.�

�Benarkah bahwa keislaman Bani Umayyah tidak berpengaruh positif terhadap etika dan prilaku mereka, sehingga dikatakan masih bagian dari masyarakat jahiliyah? Apakah semua itu tidak diketahui Rosululloh SAW ketika beliau merasa senang dengan keislaman dan kedekatan mereka?� tanya Abdussyafi kepada para kritikus yang hanya menampakkan sisi negatifnya saja, �Sampai-sampai beliau (Rosululloh) melimpahkan kepada mereka berbagai tugas penting berkaitan dengan perkembangan pemerintahan dan stabiitas keamanan. Bahkan, dalam hal yang berkaitan dengan akidah, beliau mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pencatat wahyu!� jelasnya kemudian.

Maka tak lain lagi, Bani Umayyah yang menyatakan dirinya masuk Islam dialah termasuk dari sahabat nabi yang pernah berjuang bersama dengan beliau. Imam Ahmad bin Hambal dalam Fadha�il Ash Shahabahberpendapat bahwa seluruh sahabat Rosulullah SAW memiliki karakter lurus (udul) berdasarkan kesaksian dan pengakuan Allah dan Rosul-Nya bagi mereka. Sangat banyak ayat Al Quran dan hadist Rosululloh SAW yang menyebutkan tentang mereka dan kelurusan mereka.

Sejalan dengan yang disampaikan Imam Ahmad, Ibnu Hajar berkata, �Hanya saja, seandainya tidak ada satu keterangan pun dari Allah dan Rosul-Nya tentang mereka, tetap saja sikap dan prilaku mereka, seperti hijrah, jihad, perjuangan menyebarkan dakwah Islam, saling memberi nasehat dalam agama, kuatnya keimanan dan keyakinan, memastikan kelurusan serta kebersihan jiwa mereka. Seluruh sahabat merupakan manusia terbaik jika dibandingkan dengan setiap generasi sesudah mereka.�

Masih dalam pembahasan mengenai keutamaan sahabat nabi, Ibnu Taimiyah dalam Minhaj As Sunnah membedakan antara al adalah (kelurusan) dan al ishmah (kemaksuman). Dalam hal ini beliau menyampaikan bahwa kaidah utama dalam masalah ini menyatakan bahwa tidak meyakini ada orang yang maksum selain Rosululloh SAW. Para Khulafaur Rasyidin boleh jadi melakukan kesalahan.

Sebagai contoh, seorang sahabat dalam hal ini Hathib bin Abu Balta�ah. Dia mengirimkan surat kepada kaum Quraisy yang isinya memberitahukan kepada mereka ihwal pergerakan Rosululloh SAW untuk menaklukkan kota Makkah. Kendati itu merupakan kesalahan fatal yang hukumannya adalah hukuman mati dalam undang-undang kemiliteran, tetapi Rosululloh SAW memaklumi alasannya dan beliau memaafkannya.

Pasukan Asing Perancis di Maroko, 1914. | sumber: ww1blog.osborneink.com
| Oleh Fahmi Mudaliyanto |

Tantangan hidup di Eropa adalah musim dingin. Maka sumber kehangatan selain alkhohol yang sangat dibutuhkan disana adalah rempah-rempah dari bangsa timur. Manfaat rempah-rempah selain menambah daya taham tubuh, menyehatkan, juga memberi kehangatan. India, China, dan Nusantara adalah beberapa lokasi dimana mereka mendapatkan rempah-rempah itu.

Ratusan tahun bangsa kulit putih ini berlayar mengitari Afrika dan Asia untuk mendapatkan barang kebutuhan mereka. Namun pelayaran yang sedianya membahagiakan itu di rentan tahun 1664 - 1827 telah menjadi momok yang menakutkan. Hampir seluruh kapal dagang di rampok, bahkan tak tanggung-tanggung perompak laut ini menyerang dan merampok pula kapal perang kerajaan.

Tersebutlah Kerajaan Asyraf Hasaniyin di Sajalmasah, Maghribi Al-Aqsa (Morocco). Awalnya negeri ini hanya bermaksud mengamankan negerinya dari serangan laut bangsa lain. Namun seiring berganti kepala negara yang pandai menjaga dan mengatur siasat berganti dengan kepala negara yang serakah mengejar keuntungan. Armada laut yang sedianya mengamankan negara ini di sulap menjadi bajak laut. Sesiapa melintas dalam wilayah teretorialnya akan di rampok. Tak peduli kapal dagang, kapal kerajaan, bahkan kapal tempur sekalipun dirampok juga.

Gegara beringas dan kuatnya bajak laut ini bangsa-bangsa Eropa mau tak mau bersedia membayar pajak nan mahal setiap tahunnya agar kapal mereka yang membawa rempah-rempah tidak diserang.

Pada pertemuan tahunan 1827 seperti biasanya wakil-wakil negara Eropa mengirimkan pajaknya ke Morocco. Monseur Dauval, seorang wakil dari Perancis yang bertugas membawa Jizyah ke Morocco, karena satu dan lain hal, telah berlaku congkak di hadapan Raja Husain. Baginda raja marah dan memukul wajah wakil itu dengan kipas. Wakil tersebut pulang dan mengadukan yang ia dapat saat menyerahkan Jizyah.

Louis XIV adalah Raja Perancis yang berkuasa saat itu. Tak terima wakilnya dipukul maka ia meminta bantuan Inggris untuk menyerang Morocco. Hingga tahun 1910 an M Perancis tak berhasil pula mengalahkan Morocco.

Kala itu Morocco di kepala Sultan Maulaya Abdul 'Aziz. Beliau memiliki adik yang telah di peralat oleh Perancis yang bernama Maulaya Abdul Hafidz. Pada 1912, melalui propagandanya, Perancis berhasil menumbangkan Sultan Maulaya Abdul 'Aziz kemudian digantikan Maulaya Abdul Hafidz yang memihak Perancis.

30 Maret 1912 rakyat Morocco menuntut di turunkannya Sultan Maulaya Abdul Hafidz karena kecenderungannya pada Perancis. Maka Abdul 'Aziz yang dicintai rakyat namun tak disukai Perancis pun diasingkan ke Tanjah (Tanger) sedang Abdul Hafidz yang disukai Perancis namun tidak disukai rakyat pun di pindah ke Paris. Ia meninggal di Paris 1940 M. Lalu diangkatlah Sultan Maulaya Yusof yang sebelumnya sudah ada hitam di atas putih untuk tunduk pada Perancis dan mengakui kekuasaannya.

Perancis mengeluarkan Undang-undang "Zahir el Barbari" yang berisi pemisahan bangsa Bar-bar dengan bangsa Arab pada 1924 . Namun Sultan Maulaya Yusof tidak berkenan untuk menandatangani piagam tersebut. November 1927 Perancis mengundang Sultan Maulaya Yusof ke Paris. Ketika di Paris sang Sultan di racun hingga sepanjang perjalanan pulang beliau sakit. Beliau meninggal beberapa hari setelah tiba kembali di Morocco.

Sultan Maulaya Yusof berputra dua orang. Maulaya Idris nan dicintai oleh rakyatnya dan si bungsu Maulaya Muhammad nan akrab dengan Perancis. Setiba di Morocco Sultan langsung memberi Wasiat kepada Maulaya Idris untuk menggantikannya. Namun lagi-lagi Perancis menjadi penengah sehingga Maulaya Muhammad ibn Yusof lah yang diangkat menjadi Sultan. Kemudian Maulaya Idris ibn Yusof diasingkan.

Pada 1930 kembali Perancis menyuruh Morocco untuk menandatangani Undang-undang pemisahan bangsa Barbar dengan bangsa Arab. Demi mengetahui apa yang telah dilakukan Perancis pada ayah dan kakak nya, maka Sultan Maulaya Muhammad ibn Yusof memimpin rakyatnya menuntut dan memperjuangkan kemerdekaan Morocco.

Morocco merdeka penuh dari Perancis pada 2 Maret 1956.



Bacaan : Sejarah Islam, Prof Dr HAMKA
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget