Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Kisah"

Ilustrasi
AMNews - Hujan baru saja reda, jarum jam menunjukkan waktu tengah malam. Suhu udara terasa dingin hingga menusuk tulang. Seorang putri remaja duduk sembari mengutak-atik ponsel di sudut sebuah kafe di Kota Lhokseumawe, Aceh.

Seharusnya tengah malam begini, anak dara itu tidak lagi berkeliaran. Tapi ia bukan dara biasa. Ia sengaja mangkal di situ, mencari penghasilan dengan menggaet pria hidung belang.

Jangan bayangkan gadis itu memakai pakaian seksi. Ia mengenakan celana jeans agak ketat dipadu kaos lengan panjang, dan rambutnya tertutup jilbab. Terlihat sama seperti perempuan Aceh pada umumnya, hanya saja ia menggunakan celana jeans.

Sebut saja namanya Rindu (bukan nama sebenarnya). Ia sering dibawa lelaki hidung belang ke kamar hotel di pusat Kota Medan, Sumatera Utara.

Rindu bercerita kepada Tagar, mereka yang menggunakan jasa syahwatnya biasanya lelaki berusia dewasa dengan dompet tebal. Tarifnya minimal Rp 2 juta.

“Biasanya aku komunikasi melalui Facebook dan WhatsApp, melakukannya di Medan. Tidak pernah di Aceh, agar tak ada yang tahu, sehingga rahasia tetap terjaga,” ujar Rindu.

Bukan alasan itu saja. Tujuan lain menggunakan layanan jasa syahwatnya di Medan karena kondisinya lebih aman apabila dilakukan di hotel berbintang, dan apabila dilakukan di Aceh bisa saja nantinya akan kena cambuk.

Tidak Puas dengan Suami

Kasih (bukan nama sebenarnya). Perempuan berambut pirang ini tinggal di Kabupaten Aceh Utara. Ia memiliki suami dan anak. Pada tahun ini anaknya memasuki pendidikan di perguruan tinggi.

Kasih menjalani pekerjaan sebagai pekerja seks komersil (PSK) online selama dua tahun terakhir. Biasanya ia menggaet tamu dengan menggunakan aplikasi jejaring sosial Facebook dan WhatsApp. Setelah ada kesepakatan, komunikasi berlanjut melalui telepon.

Ia bercerita, terjun ke dunia gelap ini pada awalnya karena tidak mendapatkan kepuasan seksual dari suami. Berikutnya ia melakukannya untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

“Saya tidak mendapat kepuasan saat berhubungan intim dengan suami, makanya saya menjalani ini. Selain itu supaya bisa mendapatkan uang lebih, untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Kasih.

Mereka yang menggunakan jasa Kasih pada umumnya adalah pria yang tinggal di Kota Medan. Mereka bertemu di salah satu hotel di Kota Binjai, Sumatera Utara. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga rahasia tamu jangan sampai ketahuan istrinya.

Saat pergi untuk melayani lelaki hidung belang yang memesannya di Kota Binjai, Kasih mengatakan kepada suaminya, ia pergi untuk bekerja di rumah temannya selama beberapa hari.

Sekali memberikan layanan seksual, Kasih mendapatk uang Rp 2 juta, kadang kadang ada yang memberinya Rp 5 juta.

Kasih yakin suami tidak mencurigainya sama sekali karena ia sangat rapi menyimpan rahasia pekerjaannya tersebut. Apalagi anak-anaknya, sama sekali tidak tahu pekerjaannya seperti itu.

Ia juga mengaku melayani pria hidung belang lokal yang ingin menggunakan jasanya. Namun dia lebih suka dibawa ke wilayah Binjai, karena menurutnya lebih terjamin keamanannya.

    Saya tidak mendapat kepuasan saat berhubungan intim dengan suami, makanya saya menjalani ini. Selain itu supaya bisa mendapatkan uang lebih, untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kasih juga melayani pria hidung belang di rumah kawannya di kawasan Aceh Utara. Teman wanitanya itu telah bersuami, hanya saja suaminya sedang bekerja di Malaysia.

Untuk melakukan praktik syahwat di rumah tersebut, pelanggan lokalnya harus membayar Rp 200 ribu untuk satu jam, dan biaya jasa Rindu sebesar Rp 300 ribu untuk satu jam. Apabila ingin memperpanjang waktu layanan, harga tersebut tinggal diakumulasikan saja.

“Rumah ini cukup aman, karena orang tahu kawan saya itu punya suami, hanya saja kerja di Malaysia. Lagian pula di rumah itu ada anak-anaknya juga, jadi orang tidak curiga kalau kita bawa laki-laki,” tutur Rindu.

AMP - Tapaktuan sangat terkenal dengan sebuah Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga. Cerita tersebut sangat hidup didalam masyarakat disana. Cerita ini sangat mudah untuk dapat kita dengar dari A sampai Z. Adapun Legenda tersebut dibarengi dengan ornamen ornamen yang memiliki bentuk dan rupa seperti yang tersebut di dalam cerita tersebut. Ada baiknya saya ceritakan sedikit tentang Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga itu.

” Alkisah, dizaman dahulu kala, di Aceh Selatan hidup sepasang naga . Sepasang naga ini, memiliki anak perempuan yang disebut Putri Naga atau Putri Bungsu. Putri ini cantik jelita.  Putri nan rupawan ini, menurut cerita didapat dari laut kepas disaat selesai badai dahsyat yang menenggelamkan sebuah kapal dari daratan cina.

Konon, pada saat itu, sepasang naga tersebut sedang menyusuri lautan yang bergelombang. Si Naga jantan tiba-tiba berhenti, tertegun memperhatikan sebuah titik hitam di tengah laut. Titik hitam itu menarik perhatiannya. Lamat-lamat titik hitam itu kian mendekat ke arah sang naga disebabkan oleh arus gelombang laut. Si Naga Jantan dan Betina terus memperhatikan titik hitam itu. Ketika titik hitam itu semakin mendekat, Sang Naga melihat adanya kayu pecahan dari sebuah kapal dan diantara kayu-kayu tersebut terdapat seorang bayi mungil tersangkut diatas kayu yang mengapung.

Bayi mungil ini terapung-apung dipermainkan ombak hingga akhirnya sepasang naga itu menolong dan mengasuhnya disarang mereka. Karena sepasang naga tersebut tidak mempunyai keturunan lalu bayi mungil itu mereka jadikan sebagai anak pungut dan diberi nama dengan Putri Bungsu atau lebih dikenal dengan nama Putri Naga. Syahdan, sepasang naga dan si putri bungsu mendiami sebuah daratan disekitar Desa Batu Itam (nama sekarang-red) Kecamatan Tapaktuan Aceh Selatan.

Memang pada masa itu memang sering terlihat masuknya kapal – kapal dagang dari negeri asing ke wilayah Aceh Selatan untuk membeli rempah-rempah yang tumbuh subur didaerah tersebut. Menurut cerita, nilam, cengkeh dan pala merupakan komoditi yang paling banyak terdapat di daratan Aceh Selatan, makanya lalu lintas perairan dikawasan itu cukup ramai.

Kembali kecerita, Sepasang naga itu sangat senang mendapatkan putri berbentuk manusia. Dengan suka cita sepasang naga tersebut mengasuh dan merawat si putri. Sementara itu, setelah selamat dan menepi kedarat orangtua kandung si Putri (asal dari cina –red) begitu sedih kehilangan buah hatinya setelah perahu mereka kandas dihempas badai dahsyat. Mereka berpikir bahwa anak perempuan kesayangannya sudah hilang tenggelam dalam laut, sehingga dengan perasaan pilu (menurut cerita) merekapun kembali kenegeri asal dengan menumpang kapal dagang lain.

Kedua Naga itu sangat menyanyangi putri pungut mereka. Bahkan, Naga betina selalu memeluk putri kecil itu dalam cengkeramnya agar tidak hilang. Layaknya anak-anak, Putri bungsu setelah sadar dari pingsannya, ketakutan dan menangis sejadi-jadinya begitu melihat sosok Naga yang menyeramkan. Walaupun sedih, sepasang naga tersebut berupaya agar Putri bungsu tidak merasa ketakutan dan mau menerima mereka sebagai keluarga barunya. Seiring waktu, Putri bungsu akhirnya menerima keadaannya dan bergaul dengan hangat dengan sepasang naga tersebut.

Saking sayangnya pada Putri Bungsu, naga jantan menciptakan tempat bermain nan indah di gunung itu. Mulai dari tempat pemandian si putri hingga tempat – tempat lainnya dipenuhi agar Putri Bungsu suka dan tidak pergi dari mereka. Semua Semua itu dilakukan agar Putri Bungsu betah tinggal bersama mereka.

Begitulah, sementara itu waktu terus bergulir. Putri Bungsu pun sudah merangkak remaja. Kedua ekor naga tersebut sangat memuji akan kecantikan Putri Bungsu. Matanya sedikit sipit, kulit yang putih serta pembawaannya yang anggun membuat sepasang naga makin sayang kepada Putri Bungsu. Mereka sangat memanjakan sang putri. Sementara itu, Putri Bungsu yang bertahun-tahun tinggal dan menetap bersama dua ekor naga dalam sebuah gua mulai merasa tidak betah. Berkali-kali dia meminta pada ‘orangtua asuhnya’ agar diperkenankan untuk melihat daratan dan melihat orang-orang, namun kedua naga tidak menyetujui. Dalam anggapan mereka, apabila si putri diizinkan keluar, maka kemungkinan untuk ditinggalkan sudah tentu ada. Itulah sebabnya Putri Bungsu tidak pernah dibawa ke daratan.

Hingga pada suatu hari, Putri Bungsu bertekat untuk segera meninggalkan kediaman orang tua asuhnya tersebut. Niat untuk melarikan diri ini pun dirancang dengan matang sehingga kedua naga yang cerdas itu tidak mengetahui. Hari demi hari terus berlalu, Putri Bungsu yang jelita semakin patuh pada aturan sang naga. Hal ini membuat sepasang naga yakin dan percaya bahwa si putri tidak akan meninggalkan mereka. Oleh karena itu, sering terlihat sepasang naga pergi mengarungi lautan dan meninggalkan Putri Bungsu sendiri di goa kediaman mereka.

Putri Bungsu bukanlah gadis yang bodoh. Walaupun sering ditinggalkan sendiri sehingga peluang untuk pergi terbuka, tapi demi menjaga kepercayaan sang naga kepadanya, dia membiarkan keadaan tersebut berlangsung. Bahkan, pada suatu hari ada terlihat sebuah kapal yang melaju agak dekat dengan kediamannya. Dalam hatinya merasa sangat gembira manakala terlihat olehnya manusia-manusia yang berpakaian rapi berdiri dianjungan kapal. Saat itu dengan berani, Putri Bungsu mulai sering menampakkan diri dipenggir goa agar kehadirannya disitu menjadi perhatian setiap kapal yang lewat.

Hingga pada ketika, disaat sepasang naga berpamitan untuk pergi agak lama sehingga harus meninggalkan sang putri sendirian digoa. Putri Bungsu sangat girang karena dalam kurun waktu tersebut, rencana untuk melarikan diri akan terlaksana. Begitulah, setelah puluhan kilometer naga berlalu, ada sebuah kapal berlayar dan kebetulan sudah menyaksikan keelokan sang putri dan nakhkoda kapal pun segera bersandar didekat pulau itu kemudian membawa Putri Bungsu berlayar. Biasanya, setiap kapal tidak berani dekat-dekat dengan pulau tersebut karena sering bertiup angin kencang dan sering membuat awak kapal sangat kerepotan menjaga agar tidak tenggelam. Hal ini disebabkan oleh ulah kedua naga itu yang tidak ingin tempat mereka didekati.

Setelah Sang Putri berlayar, ditempat lainnya, Naga betina merasa hatinya tidak nyaman sehingga memutuskan untuk kembali kekediaman mereka. Namun betapa bingungnya kedua naga itu karena keberadaan putri bungsu tidak terlihat. Seluruh sudut pulau itu mereka susuri namun Putri Bungsu sudah hilang. Naga Betina sangat sedih sementara itu naga jantan marah.

Akhirnya diputuskan untuk mencari Putri Bungsu dilautan lepas. Sasaran mereka adalah kapal-kapal yang lewat. Kebetulan dilautan terlihat sebuah titik hitam yang melaju dekat dengan sebuah pulau besar. Dengan segera kedua naga tersebut mengejarnya. Setelah mengintai, mereka melihat Putri Bungsu berada disana. Kedua naga sangat marah, mengira Putri mereka diculik manusia sehingga kapal dan seluruh penumpang menjadi terancam. Dengan ketakutan, seluruh penumpang kapal berteriak – teriak. Angin membawa teriakan mereka pada sebuah goa yang bernama Goa Kalam. Didalamnya terdapat seorang tua yang sedang bertapa. (Tidak ada keterangan yang jelas siapa nama sebenarnya dari tokoh ini-red). Orang tua ini disebut dengan Tuan Tapa. Tuan tapa yang mendengar jeritan dan teriakan ketakutan merasa tidak tentram. Lalu, Tuan tapa mengambil tongkatnya dan keluar dari goa. Dengan kesaktiannya, Tuan Tapa melihat dengan jelas ditengah lautan terjadi perkelahian antara sepasang naga dengan penumpang kapal.

Tanpa menunggu, Tuan Tapa kemudian merubah ukuran tubuhnya menjadi besar. (menurut cerita, laut didaerah Tapaktuan hanya sebatas pinggangnya -red). Setelah itu dengan pesat, Tuan Tapa menengahi perkelahian yang tidak seimbang itu. Namun sepasang naga yang sudah kalap berbalik menyerang Tuan Tapa. Karena terjadi gelombang besar akibat gerakan sepasang naga itu, Kapal pun terlempar jauh. Perkelahian antara sepasang naga dengan Tuan Tapa berlangsung seru. Bertubi – tubi kedua naga menyemburkan api dari mulutnya sementara ekor dan cakar mereka tidak ketinggalan menyerang. Begitulah, berkat kesaktian dari Tuan Tapa, semua serangan sepasang naga berhasil diredam.

Akibat perkelahian itu, Pulau besar yang berada ditengah laut pun hancur dan terpisah-pisah menjadi 99 buah (selanjutnya disebut dengan Pulau Banyak, pulau ini berada di kabupaten Aceh Singkil)

Hingga pada suatu ketika, Tongkat Tuan Tapa berhasil mengenai tubuh naga jantan sehingga hancur terberai. Darahnya memancar keluar, sebagian besar terpencar ke bagian pesisir dan membeku (Selanjutnya tempat dimana darah naga itu tumpah disebut dengan Desa Batu Sirah atau Batee Mirah). Sementara hati dan jantungnya juga tercampak kepesisir (daerah ini disebut dengan desa Batu Itam atau Batu yang menghitam -red). Naga Jantan mati dengan tubuh hancur.

Melihat pasangannya mati,  Naga betina ketakutan lalu melarikan diri.  Demi menghindar dari kematian, Naga Betina yang panik lari tanpa tujuan dan menabrak sebuah pulau lainnya sehingga pecah menjadi dua pulau (selanjutnya disebut dengan Pulau Dua, berada diwilayah laut Kecamatan Bakongan Timur Kabupaten Aceh Selatan).

Sementara itu, akibat dari pertempuran antara sepasang Naga dan Tuan Tapa, masih meninggalkan jejak berupa tongkat. Setelah dipugar, Tongkat itu, dipercayai sebagai tongkat Tuan Tapa.

Kemudian, Bagaimana nasib sang Putri? menurut cerita, Sang Putri akhirnya kembali hidup normal layaknya manusia dan hidup bahagia bersama kedua orangtuanya didaratan cina.

Dan Lagenda ini telah diperkuat dengan beberapa bukti yang telah ditinggalkan oleh Si Tuan Tapa berupa Tongkat dan Topinya yang berada di tengah laut Tapaktuan dan hanya bisa di lihat dari sebuah gunung yang bernama Gunung Lampu menjelang pasang sudah surut. Kemudian sebuah Tapak kaki dan makam Tuan Tapa yang ukurannya besar.

Begitulah sedikit cerita tentang Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga dari Kota Tapaktuan menurut versi yang saya kumpul dari beberapa tokoh masyarakat Aceh Selatan. Banyak versi yang beredar didalam masyarakat. terlepas dari beragam versi tersebut semuanya tidak lain hanya ingin memperkenalkan bahwa inilah Kota Naga, Inilah Tapaktuan dengan legendanya yang hebat  agar generasi mendatang mengetahui tentang asal usul sebutan Kota Naga yang melekat dengan Kota Tapaktuan.

Keterangan gambar:

1). Batu Merah, 2). Batu Itam, 3).Makam Tuan Tapa, 4). Goa Kalam, 5). Alu Naga dan 6). Bekas Tapak kaki tuan tapa

*disunting kembali pada, 5 Januari 2014 tanpa merubah inti cerita , baca di SUMBER

AMP - Lebih dari 430.000 orang Rohingya telah tiba di distrik Cox's Bazar di Bangladesh dalam empat minggu terakhir, melarikan diri dari serangan militer di dalam Myanmar.
Lembaga bantuan mengatakan anak-anak, janda, orang tua dan orang cacat adalah yang paling rentan, membutuhkan bantuan dalam bentuk makanan, tempat tinggal dan perawatan kesehatan.
Al Jazeera berbicara dengan beberapa pengungsi, yang menceritakan kisah mereka.
Saya meninggalkan rumah saya di desa Kuinnyapara di Maungdaw.
Anakku, Abdullah, dibunuh oleh tentara Myanmar. Dia berusia 28. Dia merawatku. Saya melarikan diri untuk hidup saya bersama dengan sesama penduduk desa. Aku hampir tidak bisa berjalan, tapi entah bagaimana berhasil mencapai Dhankhali Char untuk menyeberangi sungai Naf ke Bangladesh.
Ketika saya tidak berdaya, seorang pemuda bernama Hamid Hossain, 27, menyelamatkan saya. Saya tiba di Bangladesh dengan Hamid melintasi perbatasan di Shah Pori Dwip pada tanggal 3 September.
Saya pertama kali berlindung di daerah perpanjangan Kutupalong dan kemudian dia beserta keluarganya bergeser ke puncak bukit di perpanjangan Balukhali. Saya tinggal di sini bersama Hamid tapi dia memiliki keluarga sendiri 15 orang.
Suami saya Abu Bakar Siddique meninggal delapan tahun yang lalu. Abdullah termasuk di antara delapan anak saya. Saya tidak tahu keberadaan anak-anak saya yang lain.
Tempat saya tinggal saat ini bagus tapi jauh dari jalan utama.
Saya telah meninggalkan segala sesuatu kepada Allah dan ingin mengambil nafas terakhir saya tanpa rasa takut diserang.
Saya melarikan diri dari daerah Badanat di Maungdaw. Di antara 10 anak saya, hanya satu anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang masih hidup, sisanya terbunuh saat melakukan serangan. Saat ini saya tinggal di dekat puncak bukit bersama putri saya.
Saya ingin makanan. Saya tidak makan apapun sejak pagi. Selain itu, saya tidak bisa tidur karena sakit di tubuh saya. Bisakah kamu melakukan apapun untukku?
Putri saya Nasima Begum, 42, suaminya, Ali Chan Miah, tinggal jauh dari jalan utama. Sulit untuk mengambil makanan di sini.
Nasima mengatakan: "Saya dan suami dan anak-anak saya bisa melewatkan hari dengan kelaparan namun sangat sulit bagi ibu saya untuk mentolerirnya pada usia ini."
Saya mengalami gangguan penglihatan. Saya mohon kepada kamp pengungsi Thaingkhali yang tidak terdaftar untuk bertahan hidup. Saya dari Charicomb di Maungdaw. Saya tinggal di tempat selama tujuh hari terakhir, tapi tidak bisa menemukan pusat medis. Saya perlu berkonsultasi dengan dokter mata.
Saya tidak tahu di mana saya bisa menemukan tempat medis untuk tuna netra.
Saya senang saya datang kesini. Setidaknya tidak ada yang membunuhku. Orang-orang di sini bermurah hati, mereka memberi makanan.
Kaki saya lumpuh saat masih kecil, akibatnya saya tidak bisa menikah sampai sekarang.
Ayah dan ibuku meninggal beberapa tahun yang lalu, dan kami tinggal di desa Morikhong di Maungdaw sendirian.
Ketika desa-desa terdekat diserang, saya memberi sekitar 300.000 Kyat kepada dua anak laki-laki dari desa saya untuk membantu kami mencapai Bangladesh.
Saat ini saya tinggal di gudang nomor 19 di Blok D di kamp Kutupalong yang terdaftar di rumah salah satu kerabat saya.
Adik perempuan Jannat Shamima, 22, mengatakan bahwa mereka hidup dengan sejumlah uang yang ditinggalkan oleh ayah mereka
"Tapi sekarang kita punya sedikit uang yang tersisa.
"Saya tidak tahu bagaimana kita bisa bertahan setelah uang selesai. Kita tidak punya sumber penghasilan di sini.
"Berkat penyandang cacat Internasional, sebuah LSM, kita memiliki tempat untuk mendapatkan perawatan yang bebas biaya, tapi siapa yang akan memberi kita makanan dan tempat tinggal di masa depan?"
Sumber: Berita Al Jazeera

AMP - Cerita ini masih belum lama terjadi—pada awal Perang Dunia II. Ini tentang seorang pahlawan fasis yang, setelah sebelah tangannya dirampas oleh perang, kemungkinan besar ditugaskan oleh bos fasisnya untuk mendaftar lalu menyensor buku-buku yang dinilainya amoral, berbahaya, dan menghina pemerintah. Dan karena buku-buku itu menyebut fasisme sebagai babi kotor, korup, pembunuh brutal, tukang sensor, memata-matai rakyatnya sendiri—pendek kata, “kritik yang tidak membangun”—maka pemerintahan fasis itu memenjarakan atau mencoba mengancam memenjarakan para penulisnya. Kebetulan sang pahlawan juga seorang sastrawan.

Tentu saja, saat membaca buku-buku itu, sang pahlawan fasis menggunakan sesuatu yang mungkin sudah lama ditelantarkannya, yakni otaknya.

Dan di sinilah masalahnya, otak si fasis berkhianat, jika bukan hancur berkeping-keping, oleh sebuah buku puisi.

Kisah ini tidak terjadi di NKRI, negara yang setahun lalu kepala Perpustakaan Nasionalnya membuang buku-buku hasil karya para ilmuwan yang dianggapnya meresahkan masyarakat; negara yang dalam minggu terakhir ini diterpa problem pajak paling memalukan karena dituding mengambil terlalu banyak hasil penjualan buku salah seorang penulis paling produktif.

Dan, karena itu, bisa dimengertilah apabila seorang menterinya gugup saat ditanyai wartawan karena tidak bisa membedakan dengan jelas apa arti pembangunan dan racun arsenik yang telah membunuh seorang aktivis HAM. Meski di NKRI, tentu saja, kita tidak kekurangan orang atau calon fasis yang berhasil tersamarkan di balik ((adab ketimuran)).

Cerita di atas terjadi pada masa Jenderal Franco, diktator Spanyol yang dari segi kebuasannya setara dengan Jenderal Soeharto. Di bawah pemerintahan kedua jagal ini, kekuasaan bisa gampang menempatkan lembaga sensor bekerja lebih efisien dan trengginas menghajar para penulis. Dan, berbeda dari zaman sekarang, menurut saya, pemerintahan kini agak terlalu munafik dan pesimis karena terpaksa menggunakan jasa segerombolan tukang pukul profesional untuk menghantam target yang sama.

Setiap ada percobaan memenjarakan seorang penulis karena tulisannya, saya tertawa pahit, dan mengingat kembali kisah di atas, ditulis dengan dingin oleh Eduardo Galeano dalam The Book of Embraces. Ia mengisahkan bagaimana sang pahlawan bertobat setelah tertawan oleh puisi-puisi César Vallejo, penyair Peru yang mengasingkan diri ke Spanyol, melawan Iblis dalam dirinya dan membuatnya gemetar selama bermalam-malam.

Setelah itu, diceritakan, sang pahlawan berbalik melawan sang diktator. Untuk pertobatan yang ajaib ini, sang pahlawan dipenjara, dicabut tanda jasanya, dan dibuang oleh pemerintahan fasis kepada siapa selama bertahun-tahun ia mengabdikan hidupnya.

Baru-baru ini Dandhy Dwi Laksono dalam sebuah kolomnya di acehkita menulis bahwa pembersihan etnis di Rohingya bisa terjadi dalam skala luar biasa besar sehingga membuat masyarakat mana pun—termasuk di Indonesia—terkejut lalu bereaksi, karena kekejian ini dibiarkan terjadi oleh para aktivis pro-demokrasi Myanmar.

Seharusnya kaum intelektual berdiri paling depan mencegah meluasnya pembasmian massal, menghentikan tank-tank pembunuh dan operasi militer. Tetapi, karena oleh satu dan lain hal, para bekas narapidana, buronan, dan korban persekusi—mereka yang sebagian besar menguasai pemerintahan Myanmar sekarang—juga pernah dibuat babak belur dan sebagian disekolahkan oleh pelaku yang sama, sang junta militer, sebelum keduanya—mantan korban dan Setan—berjabat tangan dan berdamai dalam Pemilu di negara itu pada 2015.

Dandhy membandingkan bencana di Rohingya dengan sebuah bencana lain yang hampir mirip terjadi di Indonesia, empat belas tahun silam, pada masa Darurat Militer di Aceh.

Mirip dalam hal bagaimana militer mendapatkan dukungan sipil untuk melancarkan operasi brutal dan berdarah tersebut. Kemiripan yang seharusnya membuat siapa pun gemetar saat mengetahuinya. Dan, karena berhasil menunjukkan kemiripan tersebut, Dandhy dilaporkan oleh sebuah ormas.

Darurat Militer di Aceh juga dibiarkan terjadi oleh kelas menengah terdidik Indonesia—setidaknya saat itu bisa dihitung dengan jari berapa banyak kaum cendekiawan Indonesia yang bersedia menghitung dengan cermat “kerusakan tambahan” akibat “peluru nyasar” atau “salah tangkap” atau “disekolahkan” (dibunuh) selama operasi militer ini.

Dan jangan lupakan bagaimana industri media massa pada masa itu—mayoritas terkonsentrasi di Jakarta—mendukung kekejian di Aceh dengan melakukan praktik embedded journalism: sumpah berdarah untuk menutupi apa sebenarnya yang terjadi demi suksesnya operasi ini. Sementara lembaga-lembaga keagamaan, yang biasanya terkenal cepat tanggap dan paling bermoral, juga tidak bereaksi apa pun, setidaknya untuk menguburkan puluhan jasad yang dilemparkan begitu saja di jalan.

Darurat Militer di Aceh belum terlalu lama berlalu, sebagian korban masih hidup dan masih bisa bersaksi tentang korban-korban lain yang telah mati atau hilang.

Tapi apa itu Darurat Militer?

Darurat Militer adalah situasi ketika otoritas militer bisa melakukan apa pun karena mereka dilindungi oleh undang-undang untuk melakukan apa pun—termasuk membunuh.

Waktu itu tidak ada kantor polisi tempat seseorang bisa dengan sangat mudah melaporkan kasus-kasus pencemaran nama baik seperti sekarang, apalagi melakukannya untuk atas nama orang lain.

Polisi tidak menangani hal-hal seperti itu, karena hal seperti itu sama sekali sudah tidak diperlukan. Karena begitu operasi ini disetujui oleh parlemen dan pemerintah Indonesia, dengan sendirinya semua orang Aceh tercemar nama baiknya di hadapan tuduhan “menjadi bagian atau mendukung kelompok separatis,” sementara sarana untuk membela diri seperti pengadilan tidak berfungsi. Sejak saat itu semua orang Aceh adalah kriminal berengsek!

Belakangan, operasi ini menuai kecaman—dan sayangnya, kecaman ini kebanyakan datang dari “orang kafir” di luar negeri. Sementara di dalam negeri, kebenaran tentang operasi militer ini antara lain diberitakan melalui acehkita, segelintir media yang berani membocorkan informasi-informasi mengenai kekejaman dari Aceh yang arusnya dikendalikan oleh Penguasa Darurat Militer Daerah, otoritas yang mencoba memisahkan orang baik dan para pengkhianat dengan sebuah identitas yang diterbitkan oleh PDMD.

Penduduk Aceh yang lulus saringan diberikan sebuah tanda pengenal baru: Selembar KTP Merah-Putih, ukurannya hampir empat kali e-KTP yang dikorupsi itu. Sedangkan KTP lama, sebagaimana yang digunakan oleh seluruh penduduk Indonesia lainnya, ditarik.

Tapi KTP ini tetap tidak bisa menyamarkan identitas kesukuan seseorang, yang mengutuknya ke mana pun mereka berlari, seperti yang dialami etnis Rohingya sekarang.

Mari saya berikan cerita.

Saat beberapa orang Aceh ingin menonton film di sebuah pusat kebudayaan asing di Jakarta dan diminta menunjukkan identitasnya, Satpam pusat kebudayaan tersebut menolak mereka masuk. Bukan hanya itu, identitas ini membuat petugas keamanan takut dan menduga mereka adalah teroris yang pura-pura mau menonton film noir.

Sementara seorang teller bank milik pemerintah di Jakarta saat ditunjukkan KTP ini menertawakan seorang nasabahnya. Karena baru melihat KTP sialan ini seumur hidup, ia tidak percaya identitas seperti ini ada. Karena itu, ia tidak mempercayai nasabahnya dan menolak melakukan transaksi.

Birokrasi sipil di Aceh waktu itu lumpuh. Militer mengambil alih pelayan publik dari tangan sipil yang saat itu diragukan nasionalismenya. Salah satu bentuk pelayanan publik adalah “usaha pembinaan kembali” terhadap mereka yang dituduh “mempunyai gagasan separatisme”, yang mungkin masih bisa diselamatkan setelah disiksa. Kegiatan rehablitasi ini bertempat di gedung-gedung milik sipil. Gedung-gedung itu sekaligus berfungsi sebagai tempat tahanan sementara.

Tapi kenapa hal-hal seperti ini masih diingat? Bukankah di Aceh sudah damai sekarang dan para separatis pun telah lama insaf dan menjadi kawan? Itulah masalahnya.

Salah satu lokasi penyiksaan itu dipusatkan di Gedung Arsip, yang membuat ingatan pada masa itu tertinggal dan terdokumentasi dengan baik. [tirto.id]

Bendera diduga kuat peninggalan Kerajaan Aceh di Trumon
AMP - Kabar mengejutkan dirilis oleh para aktivis Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa). Mereka mengklaim telah menemukan salah satu bendera yang diduga asli peninggalan kerajaan Aceh di Trumon, Kabupaten Aceh Selatan.

Ihwal penemuan bendera-bendera yang sepintas terlihat asli ini diketahui dari 15 foto yang dibagikan oleh Irfan M Nur ke grup MAPESA "MASYARAKAT PEDULI SEJARAH ACEH" di Facebook.

Irfan M Nur merupakan salah satu aktivis Mapesa yang ikut dalam ekspedisi yang diberi tagar #EkspedisiMuhammadGhauts itu.

Sayangnya, tidak banyak penjelasan yang menyertai foto-foto tersebut. Dalam keterangan yang menyertai ke-15 foto itu, Irfan hanya menulis "Bendera (alam) Aceh Darussalam disimpan oleh keluarga Teuku Raja Aceh (Raja Ade) di Trumon, Aceh Selatan. Kondisi fisik bendera ini terlihat original.

Berikut foto-fotonya;
Bendera diduga kuat peninggalan Kerajaan Aceh di Trumon (MAPESA)

Peneliti Mapesa Tgk Taqiyudin Muhammad (baju putih) memperhatikan bentuk bendera (GRUP MAPESA)





Hingga Selasa (22/8/2017) pukul 10.30 WIB, foto-foto yang diunggah pada Senin (21/8/2017) pukul 14.49 WIB, mendapatkan 233 tanggapan, 25 kali dibagikan, dan delapan komentar.

Belum ada netizen yang meragukan keaslian bendera tersebut. Salah satu netizen, Wahyu R. Soemitra Wijaya menulis "pedang zulfikar dalam tafsiran orang nusantara, banyak mempengaruhi dalam bendera-bendera.."

Netizen lainnya menulis bahwa bendera itu adalah bendera kerajaan, bukan mas kesultanan. "Nyan masa kerajeun, kon masa sultan," tulis pemilik akun Renal Naldi.

Sementara Zahrotan Mazanny berharap agar suatu hari kelak, bendera ini akan berkibar kibar kembali di negeri Pasei/Aceh Darussalam.

Nah, bagaimana pendapat Anda??
(tribunnews)

AMP - Pemberitaan yang minim soal krisis Marawi oleh media di Indonesia bukan berarti di sana kini tidak terjadi apa-apa. Sampai tulisan ini diturunkan, perang masih berkecamuk. Pasukan Filipina masih kepayahan menghadapi ISIS. Kematian tetap menghantui prajurit Filipina dan warga sipil. Sampai hari Minggu lalu (6/8), total prajurit yang tewas mencapai 122 orang dan warga sipil 45 orang. Ke depan angka ini sangat mungkin bertambah.

Marawi masih jadi kota mati. Rumah-rumah masih kosong lantaran penduduk setempat—biasa disebut Maranao—mengungsi. Tidak ada aktivitas apa pun selain baku tembak. Tentara atau polisi berlalu-lalang menenteng senjata. Marawi masih muram dan mencekam.

"ISIS belum ditaklukkan. Doakan agar perang ini segera berakhir," kata Ismael Albinner, seorang serdadu yang menemani saya ke garis depan lewat pesan pendek sesaat sebelum saya pulang ke Jakarta, pekan lalu.

Saya sempat mengunjungi Marawi pada 22 Juli lalu. Kedatangan saya tepat 60 hari pendudukan ISIS di Marawi. ISIS memulai keonaran ini pada 23 Mei lalu. Evakuasi besar-besaran warga sipil berselang sesudah ISIS berkuasa di Marawi. Hampir 200-an ribu penduduknya kini terluntang-lantung.

Ini adalah ironis. Padahal suasana ibu kota Provinsi Lanao del Sur ini adalah kota yang indah, dikelilingi perbukitan dan udara sejuk, dengan ketinggian di atas 700 mdpl, terletak di tepian Danau Lanao—danau terbesar kedua di Filipina.

Namun kedamaian dan keindahan itu kini berganti jadi kengerian. Marawi lebih mirip seperti kota hantu. Sampah berserakan di mana-mana. Banyak pintu dan jendela beberapa toko dan rumah terbuka. Pecahan kaca berserakan.

Dari luar, kita bisa melihat tak ada lagi barang berharga. Terkadang alang-alang tumbuh subur di dalam puluhan rumah yang tak berpenghuni itu. Di luar, jalanan lengang. Sesekali hanya melintas truk militer atau kendaraan lapis baja.

Sejak perang berkecamuk, tidak sembarang orang bisa masuk ke Marawi. Mereka yang ingin masuk ke dalam kota mesti mendapatkan surat izin car pass dari pihak militer.

Pusat komando militer operasi gabungan terletak di Perkantoran Gubernur Lanao del Sur, Matampay, di utara kota. Ini lokasi teraman di Marawi—biasa disebut Zona Hijau (Green Zone).

Gerbang selalu tertutup dan dijaga secara bergilir oleh polisi atau tentara. Terlebih di samping perkantoran ini terdapat barak prajurit Filipina.

Tetapi, jangan samakan Green Zone di Marawi seperti di Bagdad, ibu kota Irak. Pos penjagaan di sini tak dilindungi karung-karung pasir. Tidak ada pula beton anti-bom. Pagar di sekeliling kompleks berbentuk teralis. Orang dari luar mudah menembaki kami yang ada di dalam. Nasib apes ini salah satunya dialami Adam Harvey, koresponden ABC, stasiun televisi berita dari Australia. Sebutir peluru kaliber 5.56 dari senjata M-16 nyasar dan menancap ke lehernya.

Kompleks ini tak sepenuhnya aman. Jika ditarik garis lurus, jarak antara Gubernuran dan wilayah ISIS di seberang Sungai Agus, tepatnya Raya Madaya, hanya 1,6-an kilometer.

Itulah sebabnya mayoritas wartawan di Marawi tak pernah melepaskan atribut rompi antipeluru, plus berdiri lama-lama di halaman depan kantor seperti yang dilakukan Harvey.

"Di sini Anda bisa mati gara-gara apes terkena peluru nyasar, dan itu sungguh tidak lucu," kata Divina, jurnalis lokal yang menemani saya di Marawi.

Saya tiba di Kompleks Green Zone sekitar pukul 09.00. Setelah berbincang dengan juru bicara Pasukan Tempur Gabungan Letkol Jo-ar Herrera, saya dipersilakan pergi ke garis depan di Jembatan Mapandi bersama rombongan wartawan lain. Ada dua wartawan asing lain yang diizinkan ikut selain saya: keduanya wartawan Jepang.

Dari kantor gubernur, kami diarahkan menuju ke barak marinir sementara di Mapandi Memorial Center, di Jalan Sultan Omar Dianalan, Lilod Saduc. Jaraknya sekitar 2 kilometer. Herrera menugaskan dua sersan bersenjata lengkap untuk ikut mengawal dan mengantar kami ke lokasi karena kami tertinggal rombongan.

Usai keluar dari kantor gubernur, ketika si sersan mengarahkan mobil berbelok ke arah selatan, saya mulai sedikit was-was. Panduan dari aplikasi Google Maps menunjukkan, untuk menuju Lilod Saduc, kami bisa memutar lewat utara melalui Jalan Campo Nao, Jalan Bacol, dan tiba di Jalan Sultan Omar Dianalan.

Namun, si sersan pilih jalan lain. Ia mengarahkan mobil ke selatan menuju perempatan Sarimanok, lalu berbelok melewati Rumah Sakit Amai Pakpak, dan berhenti sejenak di depan Taman Lanao. Jarak dari lokasi ini ke medan pertempuran hanya 700 meter. Suara rentetan senapan mesin jelas sekali terdengar. Dan benar saja: si sersan ternyata kebingungan.

Hampir saja ia mengarahkan mobil ke Jalan Insinyur Sacar Basman. Jika saja mobil terus melaju, kami akan langsung tembus ke Jembatan Bayabao—salah satu jembatan vital lain yang jadi rebutan antara kombatan ISIS dan pasukan Filipina. Untungnya seorang tentara keluar dari sebuah rumah dan memperingatkan kami serta mengarahkan ke rute yang benar.

"Saya baru dua hari di sini," kata si sersan dengan enteng sambil terkekeh.

Jalan Sultan Omar Dianalan membentang dari utara ke selatan Kota Marawi. Melewati empat desa: Lilod Saduc, Saduc, Lilod Madaya, dan Mocado Colony, serta melintasi Jembatan Mapandi. Lokasi jembatan ini dari barak marinir hanya 400 meter. Tak ayal baku tembak lebih terdengar keras di sini.

Awalnya, Komandan Batalion Tim Pendarat Marinir 7, Letkol Bill Pasla, menjanjikan para wartawan yang berjumlah 15 orang diberi akses melewati Jembatan Mapandi, masuk ke area ISIS di seberang Sungai Agus, dan menyaksikan pertempuran utama dari jarak dekat.

Agar bisa ke sana tentu mesti menaiki kendaraan lapis baja. Bagaimanapun, masih banyak milisi ISIS berjaga di sekitar area jembatan. Mereka bersembunyi di reruntuhan gedung, menembaki pasukan yang hendak menyeberang dan masuk ke arah mereka.

Itu adalah rute yang mengerikan. Selanjutnya

Foto setelah aksi pembantaian atau genosida oleh Belanda di Kuto Reh, Aceh, pada 1904 yang diperkirakan menewaskan 4.000 orang. Foto/istimewa
AMP - Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh siang itu mendadak riuh. Tiga kapal Belanda berukuran besar merapat, membawa ratusan orang yang diangkut dari tanah seberang. Tidak kurang dari 10 orang perwira, 13 bintara, serta ahli geologi dan tenaga medis berkebangsaan Eropa turut dalam rombongan tersebut.

Itu belum termasuk 473 orang mandor, puluhan kuli paksa, penunjuk jalan, serta 208 anggota marsose alias Korps Marechaussee te Voet, satuan militer yang bernaung di bawah Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Kendati berlabel penjajah, sebagian besar anggota marsose tersebut justru berasal dari orang lokal sendiri. Mereka adalah para pemuda yang diambil dari Jawa hingga Maluku untuk dijadikan sebagai prajurit kolonial, termasuk dalam menjalankan misi penting di tanah rencong.

Hari itu, 8 Februari 1904, Belanda memulai operasi militer untuk mengakhiri Perang Aceh yang telah berlangsung selama puluhan tahun, sekaligus menangkap Cut Nyak Dien yang masih melakukan perlawanan dengan cara bergerilya.

Yohannes Benedictus van Heutsz selaku Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu memang sangat berambisi menguasai seluruh wilayah Aceh. Maklum, van Heutsz pernah terlibat langsung dalam Perang Aceh, bahkan sempat menjadi gubernur di wilayah tersebut, tetapi selalu gagal.
Misi Penaklukan Total
Dari Banda Aceh, rombongan pimpinan van Daalen bertolak ke Lhokseumawe yang merupakan tujuan akhir pelayaran mereka. Berikutnya, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang trem menuju Bireuen yang ditempuh dalam tempo sekitar 4 jam.

Ratusan orang itu harus berjalan kaki dari Bireuen. Jalur satu-satunya untuk mencapai Gayo memang hanya jalan darat dengan medan pegunungan yang sulit di pedalaman Aceh itu. Long march menuju Gayo pun dijalani dengan memakan waktu hingga 163 hari (Ibrahim Alfian, Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah, 1999:229).

Ekspedisi ke tanah Gayo dan Alas itu sendiri bermula dari laporan hasil riset Snouck Hurgronje bertajuk "Het Gajolan en Zijn Bewoners" atau “Tanah Gayo dan Penduduknya” kepada van Heutsz. Sang Gubernur Jenderal pun segera merespons dengan menunjuk Gotfried Coenraad Ernst van Daalen sebagai pemimpin operasi militer ke Aceh.

Dipilihnya van Daalen tentunya bukan tanpa alasan. Keluarga van Daalen sudah sangat berpengalaman di Aceh. Ayah Gotfried, van Daalen Sr., pernah menjabat kapten dalam Perang Aceh periode kedua (1874-1880), tapi gagal menyelesaikan misinya. Van Daalen muda pun sangat antusias menerima penunjukan itu sekaligus untuk menuntaskan tugas bapaknya.

Belakangan, Hurgronje justru muak dengan aksi van Daalen yang dinilainya melampaui batas dalam ekspedisi ke Aceh pada 1904 itu. Namun tidak demikian dengan van Heutsz. Ia bahkan menyebut van Daalen sebagai sosok yang “terkadang kasar dan keras, sangat ketat dan semena-mena dalam aksinya, tapi juga dapat melindungi dan memaafkan.”

Setelah melalui berbagai rintangan, mulai dari kondisi medan yang sulit, kian menipisnya cadangan logistik, hingga serangan-serangan mendadak yang dilancarkan oleh kaum gerilyawan, rombongan van Daalen akhirnya sampai juga di tanah Gayo. Misi penaklukan total pun dimulai.

Sesaat setelah tiba, van Daalen langsung mengirimkan surat kepada raja-raja Gayo agar mereka segera menghadap. Van Daalen menghendaki para pemimpin rakyat itu menandatangani perjanjian takluk seperti yang telah dilakukan oleh banyak pemimpin rakyat di wilayah Aceh lainnya (Dien Madjid, Catatan Pinggir Sejarah Aceh, 2014:280).

Respons para pemimpin Gayo ternyata di luar dugaan. Tidak ada satu pun dari mereka yang memenuhi undangan itu. Van Daalen yang murka kemudian menggerakkan pasukan untuk menyisir satu demi satu perkampungan di wilayah tersebut. Raja-raja dan pemuka masyarakat dipaksa datang. Jika tetap enggan, moncong senjata yang akan berbicara.
Aksi Pembantaian Massal
Rakyat Gayo bersikukuh, tidak sudi takluk dan memilih terus melawan. Orang-orang Gayo punya ciri khas dalam berperang atau mempertahankan diri. Semua penghuni desa tanpa kecuali berkumpul di benteng-benteng dari bambu dan semak berduri untuk menahan gempuran musuh.

Sebagian besar dari mereka memakai pakaian serba putih untuk menandakan bahwa inilah perang suci melawan kaum kafir. Meskipun dengan senjata seadanya ditambah munajat kepada Sang Pencipta, rakyat Gayo melawan sampai titik darah penghabisan. Mereka lebih baik mati di jalan Tuhan ketimbang menjadi tawanan.

Van Daalen sendiri tidak menerapkan taktik khusus, ia hanya memerintahkan agar seluruh musuh dibasmi tanpa ampun. Deli Courant (1940) menyebutkan, dalam suatu penaklukan di salah satu desa di Gayo, ratusan warga dibantai, korban tewas terdiri dari 313 pria, 189 wanita, dan 59 anak-anak. Itu baru korban di satu desa, belum di desa-desa Gayo lainnya.

Tak hanya di Gayo, aksi genosida ala Belanda terus berlanjut ke wilayah Suku Alas di Aceh Tenggara. Salah satu insiden paling keji terjadi pada 14 Juni 1904 di Kuto Reh. Menurut Asnawi Ali, mantan tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), ada 2.922 orang tewas dalam tragedi itu, yakni 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan, termasuk anak-anak dan orang tua.

Fakta yang lebih mengejutkan sebelumnya justru telah diungkap oleh ajudan van Daalen, J.C.J. Kempees. Dalam laporan berjudul "De tocht van Overste van Daalen door de Gajo, Alas-en Bataklanden" (1904), Kempees menyebut bahwa ekspedisi militer Belanda di pedalaman Aceh itu setidaknya memakan korban nyawa hingga 4.000 orang.

Masih dalam laporannya itu, Kempees juga menyertakan foto-foto yang menjadi bukti bahwa telah terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang dari Suku Gayo maupun Alas. Setiap kali usai penyerbuan, van Daalen memang memerintahkan ajudannya untuk memotret tumpukan-tumpukan mayat dengan para marsose yang berpose di sekitarnya (Dien Madjid, 2014: 282).

Ekspedisi militer Belanda ke pedalaman Aceh yang berlanjut hingga ke tanah Karo di Sumatera Utara itu boleh dibilang menjadi babak akhir Perang Aceh. Dalam rangkaian aksi tersebut, Cut Nyak Dhien akhirnya tertangkap dan kemudian diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, hingga wafat.

Meskipun Cut Nyak Dien sebagai pimpinan terakhir telah ditangkap, tetapi para pejuang dan rakyat Aceh terus melakukan perlawanan terhadap Belanda kendati dalam skala yang lebih kecil. Itu berlangsung bahkan hingga Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942.

Berbeda dengan kasus Westerling dan sejumlah luka sejarah lainnya, hingga saat ini pihak Belanda belum pernah meminta maaf secara resmi terkait pembantaian yang terjadi di pedalaman Serambi Mekkah yang berlangsung selama 3 bulan di tahun 1904 tersebut. Sumber: Tirto.id

AMP - Sultan Jauharul 'Alam Syah bin Muhammad Syah (W. 1239 H/1823 M).

Dalam tahun 1229 hijriah, Almarhum Sultan Jauharul 'Alam Syah bin Muhammad Syah pindah ke Teluk Samawi (hari ini: Lhokseumawe) dari kota pemerintahannya, Bandar Aceh Darussalam, akibat pergolakan yang muncul untuk menjatuhkannya pada waktu itu.

Di sana, Sultan yang memiliki wawasan luas dan cakap berbahasa Inggris ini, memperoleh dukungan penuh dan dilindungi oleh penguasa Teluk Samawi, Tuanku Karot.

Di sanalah kemudian Sultan menerbitkan mata uang "keuh" atas namanya dengan disertai tahun dan negeri tempat dicetak: 1229, Teluk Samawi.

Sejauh yang kami ketahui, mata uang yang memuat dengan sangat terang nama Sultan Aceh Darussalam, Jauharul 'Alam Syah, dan Teluk Samawi, merupakan mata uang yang langka, dan saat ini berada dalam koleksi Bidang Kebudayaan, Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab. Aceh Utara.

Penulisan angka pada mata uang ini menimbulkan kerancuan sebab angka kedua dan ketiga berbentuk angka 9 (sembilan) dalam tulisan Arab dan angka keempat sama sekali tidak diketahui.

Tetapi setelah menimbang-nimbang, kami menyimpulkan bahwa angka kedua dan ketiga merupakan angka 2 Arab yang bagian atasnya telanjur dibuat melingkar atau tergulung, dan angka terakhir adalah angka 9 Arab yang diletakkan tidak sejajar dengan angka-angka yang lain.

Dan 1229 hijriah adalah 1814 masehi, yakni tahun Sultan pindah ke Teluk Samawi dan tinggal untuk beberapa waktu lamanya sampai dengan keadaan di Bandar Aceh Darussalam telah dapat dipulihkan.
Dikuti dari Aceh Darussalam Academy.[]Sumber:mapesaceh.com | Portalsatu

Catatan Dr. Yusra Habib Abdul Gani

TIADA mustika kata indah Tengku Hasan di Tiro untuk disajikan hari ini –tujuh tahun kepergiannya– kecuali petuah yang mengingatkan supaya pejuang GAM, tegas menentukan sikap untuk menghadapi strategi politik, militer, psy-war Indonesia dan jangan sekali-kali terpengaruh, apalagi takut kepada propaganda pemerintah RI yang hendak memperpanjang status Darurat Sivil di Aceh. (Amanat Wali Negara, 4 Desember 2004). Namun pada akhirnya tersungkur juga, apabila juru runding GAM menerima konsep otonomi khusus (berselimut self-government) di Aceh, sekaligus mengubur cita-cita perjuangan, mengakui kedaulatan dan tunduk kepada konstitusi di bawah payung NKRI. (Mukadimah MoU Helsinki, 2005).

Semua ini berpunca dari pelbagai faktor, seperti ketidak setaraan derajat antara GAM-RI di meja berunding, tekanan CMI dan Badan dunia Internasional, GAM tidak tahan dengan ujian, tidak memiliki pengetahuan berunding –tidak menguasai istilah hukum dalam perjanjian Internasional, tidak mampu berhujah, lemah argumen, tidak jujur kepada pemimpin dan rapuh kesetiaan kepada perjuangan; walaupun Hasan Tiro telah menegaskan bahwa kesetiaan dan komitmen adalah anak kunci dalam sebuah perjuangan. Selebihnya, konflik Aceh bukanlah berpunca dari penerapan otonomi dan pembangunan, tetapi masalah penjajahan dan kemerdekaan serta konsekuensi logisnya. Oleh itu, Aceh tetap melawan jika Indonesia masih memerangi. (Amanat Wali, 4 Desember 2004). Garis-garis ideologi perjuangan GAM ini, ternyata tidak mampu dicerna dan dipertahankan oleh juru runding GAM di Helsinki.

Diakui bahwa, komitmen perjuangan GAM di forum diplomasi masih dapat dikawal oleh Hasan Tiro di setiap putaran rundingan antara GAM-RI di Geneva (2000-2002). Namun pada putaran rundingan di Helsinki, Hasan Tiro mulai terasing karena alasan kesehatan sehingga tidak mampu memantau jalannya rundingan. Selama rundingan Helsinki berlangsung, Malik Mahmud dan Zaini Abdullah mengambil alih kendali kebijakan, termasuk me-non aktif-kan telp. resmi ASNLF +46-853191275, menukarnya kepada telp: +46-853183833. Terakhir, nomor tlp. +46-853191275 dibekukan dan secara rahasia diganti kepada No. +046-853184728. Sejak itu, Hasan Tiro terputus hubungan komunikasi dengan dunia luar.

Di celah-celah perundingan, Hasan Tiro menerima laporan bahwa “MoU Helsinki merupakan kemenangan besar, karena telah mengalahkan Indonesia dan menoreh sejarah gemilang bagi Aceh menuju merdeka. Enam pasal MoU Helsinki sudah cukup untuk mengatakan Aceh menang dan merdeka. MoU ini telah memberi ruang kepada Aceh untuk bergerak bebas walaupun Indonesia tidak sadar akan hal ini. Aceh benar-benar merdeka –satu bendera, satu lagu dan satu bahasa– Tengku dapat kembali ke Aceh untuk memproklamirkan kemerdekaan Aceh untuk kali kedua.” (Laporan Bakhtiar Abdullah kepada Hasan Tiro (tarikh?). Dokumen ini kami simpan. Apapun kisahnya, yang pasti Hasan Tiro baru memperoleh naskah MoU Helsinki dua minggu sebelum penandatanganan MoU Helsinki. Itupun, setelah Abdullah Ilyas mengirimnya melalui fax. dari Kantor Post Rotterdam, Belanda; bukan dari tangan juru runding GAM. (Yusra Habib Abdul Gani, Satus Aceh Dalam NKRI: 2008).

Pasca penandatanganan MoU Helsinki dikatakan: ”kita telah berhasil membuat satu perjanjian dengan pihak pemerintah Indonesia. Apa yang diputuskan merupakan satu langkah dari banyak langkah ke depan yang akan kita ambil alih untuk mengamankan dan memakmurkan Aceh. Kita akan bentuk pemerintahan sendiri (self-government) di Aceh seperti tertulis dalam MoU sesuai dengan kehendak bangsa Aceh, seperti bebas dalam hal politik, ekonomi, pendidikan, agama, hukum, keadilan secara demokrasi.” (Malik Mahmud, 15 Agustus 2005). Realitas yang terjadi ternyata tidak dapat diemplementasikan. Propaganda ini dipakai untuk meyakinkan Hasan Tiro supaya mau pulang ke Aceh, yang kemudiannya dikorbankan.

Proses kepulangan Hasan di Tiro ke Aceh sempat menuai kontroversial. Pasalnya, “Wali tidak jadi pulang ke Aceh”, tutur Muzakkir Abdul Hamid kepada Musanna Abdul Wahab (salah seorang ahli waris di Tiro). Namun akhirnya, “Wali jadi juga pulang ke Aceh.” (wawancara dengan Musanna Tiro, 13 September, 2016). Sejak rencana kepulangan Hasan Tiro ke Aceh, famili di Tiro coba dihalang-halangi oleh pimpinan GAM untuk mendampingi perjalanan dari luar negeri ke Aceh. Buktinya, “Musanna Tiro tidak disertakan satu pesawat bersama rombongan Hasan Tiro dari Kuala Lumpur ke Aceh.” (Musanna Tiro, 13 September, 2016). Protokuler sudah diatur sedemikan rupa, termasuk teks pidato Hasan Tiro telah siap untuk dibacakan di Masjid Baiturrahman, yang antaranya menyebut: “… jaga dan selamatkan perdamaian Aceh…”. Teks inilah yang dijadikan alasan pembenar dan rujukan politik GAM untuk dipasarkan di Aceh. Pada hal Hasan Tiro tidak tahu-menahu soal kalimat tersebut. (Musanna Tiro, 13 September, 2016). Tragisnya, Hasan Tiro menganggap bahwa Aceh sudah merdeka saat mendarat di Bandara Iskandar Muda, Banda Aceh; yang dihadiri oleh lautan manusia menyambut dan suasana haru ketika menyampaikan pidato di Masjid Baiturrahman.

Setelah beberapa bulan berada di Aceh, beliau mulai merasakan hal-hal yang aneh. Misalnya, ketika rombongan Wali Negara tiba di Lhok Seumawe atas undangan Bupati Aceh Utara untuk menghadiri jamuan makan malam. Hasan Tiro menunggu dalam kamar khusus, didampingi oleh Musanna Tiro dan Muzakkir Hamid. Hasan Tiro bersama Muzakkir Abdul Hamid keluar dari kamar menuju tempat acara makan malam. Beberapa menit kemudian Musanna Tiro menyusul keluar dari kamar. Tanpa diduga, Hasan Tiro sudahpun berada di depan pintu masuk kamar, sambil menendang, mendorong Musanna ke dalam, menutup dan membanting daun pintu. Emosi beliau hampir tidak terkendali, kesendirian, kesepian dan marah. Musanna Tiro merasa terkejut, apa gerangan berlaku? Karena tidak tahu persis punca penyebab Hasan Tiro bertindak demikan; maka Musanna Tiro mengintip ke luar dari celah pintu. Ternyata yang berlaku adalah, Malik Mahmud sedang berjabat tangan dan berpelukan mesra dengan dua orang petinggi anggota TNI lengkap dengan tongkat Komando dari Kodim dan Korem Lhok Seumawe. Ketika Musanna Tiro hendak menutup pintu, Muzakkir Abdul Hamid menghampiri Musanna Tiro dan dengan suara rendah berkata: “Wali agaknya sudah tahu, kalau kita sudah benar-benar berdamai dengan RI”. “Apa itu Muzakkir?” tanya Musanna Tiro. Muzakkir berpura-pura tidak mendengar dan ketika Musanna meminta konfirmasi, Muzakkir tidak melayani. Sejak peristiwa itu, Musanna sudah curiga bahwa, sejak di Sweden lagi Hasan Tiro sesungguhnya sudah ditipu.

Peristiwa lain yang menyedihkan berlaku, ketika Hasan Tiro buat terakhir sekali masuk ke Aceh dari Malaysia –pada masa itu kesehatan beliau dalam situasi kritikal– sementara visa izin tinggal di Indonesia hampir tamat. Untuk dapat menetap lebih lama, disyaratkan memiliki Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS). Untuk itu, Hasan Tiro cukup menandatangani formulir yang sudah disediakan oleh Bukhari Hj. Umar (pegawai yang mewakili Imigrasi Banda Aceh). Begitu formulir disodorkan untuk diisi, raut muka Hasan Tiro merah, marah dan menolak mentah-mentah untuk menandatangani tanpa menjelaskan apa alasannya. Hasan Tiro hanya menunjuk gambar burung Garuda –lambang negara Indonesia– pada formulir itu. ”Peue cicém njan, Musanna?”. Musanna Tiro menjawab: “Tidak ada masalah Abua. Ini hanyalah prosedur untuk mendapatkan visa”. Bagaimana pun, Hasan Tiro tetap menolak menandatandatangi dan sekali lagi menunjuk burung Garuda itu. Musanna terpaksa memperlihatkan contoh formulir miliknya yang terdapat gambar burung Garuda. Dalam situasi marah, beliau kata: “thats you, I don’t Musanna”, sambil melemparkan pulpen dan meninggalkan pegawai Imigrasi.
Kemudian Musanna Tiro cari akal untuk menutup gambar burung garuda dengan kertas lain. Namun saat formulir ditandatangani, Hasan di Tiro membuka tirai kertas pelapis yang masih nampak burung garuda. Hasan Tiro mencampakkan kembali formulir itu. Namun begitu, beliau sebetulnya sedang berdiri di depan “puntu jaring”. Barulah pada keesokan harinya Musanna Tiro mengambil inisiatif, mem-fotocopy formulir tersebut tanpa terlihat gambar burung Garuda. Barulah beliau menandatangani, itu pun setelah Musanna bilang: “supaya kita boleh tinggal di negeri bertuah ini sebentar lagi Abua”. Hasan Tiro tersentak, terkejut dan baru sadar –namun tidak mampu berbuat apa-apa lagi– bahwa dirinya sudah ditipu dan dikhianati. (Musanna, 13 September, 2016).

Sungguh miris, apabila Hasan Tiro tidak tahu, kalau ideologi perjuangan GAM sudah dikubur oleh juru runding GAM di Helsinki, yang telah mengorbankan ribuan nyawa dan kerugian harta benda rakyat Aceh sejak dipugar oleh Hasan Tiro tahun 1976. “Kami telah membuat banyak konsesi…” (Pidato Malik Mahmud, 15/08/2005), seperti Aceh kehilangan kedaulatan, militer, jabatan Perdana Menteri dan Dewan Menteri berdasarkan (point 1.1 (a) MoU Helsinki) dan “MoU Helsinki menyisakan sejumlah masalah yang belum selesai”. (Serambi Indonesia, 16/08/2010). Artinya, MoU Helsinki ternyata menambah masalah, bukan menyelesaikan masalah!

Di mata Hasan Tiro Aceh sudah merdeka. Itu sebabnya, surat undangan kepada Yusuf Kalla (Wakil Presiden RI) untuk berkunjung ke Aceh, ditulis di atas kertas memakai lambang negara Aceh (buraq), ditandatangani oleh Hasan Tiro sebagai kepala negara Aceh. Surat Undangan ini dinilai kontrovesial, karena dianggap telah melecehkan pemerintah RI. Akhirnya, tanpa pengetahuan Hasan Tiro, surat undangan susulan ditulis di atas kertas kosong, ditandatangani oleh Malik Mahmud. Tidak cukup dengan itu, pimpinan GAM secara rahasia mengurus penukaran status kewarganegaraan Hasan Tiro dari warganegara Sweden kepada warganegara RI, di saat beliau dalam keadaan tidak sadar diri –koma– dan untuk melicinkan maksud tersebut, famili di Tiro tidak dilibatkan secara langsung. Dengan begitu, famili di Tiro sama sekali tidak bertanggungjawab atas penukaran kewarganegaraan Hasan Tiro; walaupun Tengku Fauzi Tiro diminta menjadi wakil ahli waris untuk menerima sertifikat kewarganegaraan Hasan Tiro yang siserahkan oleh Menhankamhum berserta uang Rp. 15 Juta (Musanna Tiro, 13 September, 2016).

Peristiwa ini berlangsung 26 jam sebelum Hasan Tiro menghembuskan nafas terakhir pada 3 Juni 2010. Yang pasti “semua ini terjadi semata-mata atas kemauan mereka (Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Zakarya Saman, Irwandi Yusuf, Farhan Hamid). Kami famili di Tiro (ahli waris), sama sekali tidak dilibatkan dalam perkara ini.” (Wawancara dengan Tengku Fauzi di Tiro, 29 Nopember 2011). Dalam konteks ini, ”ada dua alasan, mengapa pimpinan GAM perlu segera menukar kewarganegaraan Tengku Hasan di Tiro. Pertama, untuk memudahkan proses penguburan di Aceh (Indonesia). Kedua: untuk memenuhi tuntutan agenda politik Indonesia.” (Tengku Fauzi di Tiro, 29 November 2011). Keabsahan perkara ini dinyatakan pula bahwa “famili di Tiro sama sekali tidak diikut sertakan dalam proses pengurusan penukaran kewarganegaraan Hasan Tiro. Oleh karenanya, kami tidak bertanggungjawab.” (Wawancara dengan Zaidi Ubaidillah, 14 Mei 2017).

Rupa-rupanya di sebalik peristiwa ini ada agenda tersendiri, yaitu Malik Mahmud, Zaini Abdullah dan Zakarya Saman juga berhajat menukar status kewarganegaraan masing-masing menjadi warganegara RI. Ini terjadi, tepat 17 hari seusai Hasan Tiro meninggal. Penukaran status kewarganegaraan ketiga tokoh GAM tersebut adalah tindakan “jak seutot langkah Wali Neugara” (mengikuti jejak langkah Wali Negara), sekaligus membebaskan diri mereka dari tuduhan ‘quisling’. Semasa hidupnya, Hasan Tiro mengamanahkan supaya jasadnya dikubur disamping Ibundanya di Kampung Tiro; tetapi tidak dibenarkan oleh pimpinan GAM. (Musanna, 13 September, 2016). Akhirnya beliau dibukurkan di kawasan kuburan Pahlawan Muereue, Aceh Besar; disamping Tengku Thjik di Tiro Muhammad Saman dan Tengku Thjik di Tiro Zainal Abidin. [acehtrend.co]

Anggota Pemuda Rakjat yang berafiliasi dengan PKI ditangkap di Jakarta, 30 Oktober 1965. FOTO/AP Photo
AMP - Daftar anggota Hizbut Tahrir di seluruh Indonesia beredar di masyarakat. Tidak jelas siapa penyusunnya, tak ada pula pihak yang mengklaim. Lembaran itu tidak memiliki kop surat, ditulis dengan font standar arial.

Sejumlah kalangan menyatakan keprihatinan atas keberadaan daftar tersebut. "Ada siklus kekerasan yang tampaknya sedang dirancang,” Puri Kencana Putri, wakil koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) kepada Tirto Selasa lalu, mengingatkan tentang potensi persekusi terhadap orang-orang HTI. 

Pada kamis (20/7), Bedjo Untung, Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) 1965, menyatakan kepada Tirto penyebaran dokumen tersebut mirip dengan peredaran daftar nama tokoh PKI yang disasar pada 1965. Bedjo mengungkapkan, CIA mengambil nama-nama tokoh PKI dari koran.

"Saya khawatir ada pihak tertentu yang ingin memunculkan chaos seperti peristiwa 65 yang terjadi huru-hara besar-besaran," tuturnya.

Disusun dari Kedubes AS
Kekhawatiran Bedjo beralasan.

Pada 1966, partai komunis terbesar ketiga di dunia tumbang. Pucuk pimpinannya habis. Dalam pembantaian 1965-1966, pelbagai angka diajukan oleh lembaga dan perorangan untuk memastikan jumlah korban. Laporan CIA pada 1968 menyebut 250 ribu korban jiwa; estimasi ilmuwan politik Ben Anderson 1 juta; sementara Sarwo Edhie, yang mengomandoi pembantaian melalui RPKAD, menyebut 3 juta korban.

Antara Oktober 1965-Maret 1966, pembumihangusan terhadap PKI berjalan mulus dan membuat—seperti ditulis sejarawan John Roosa—Peristiwa Madiun 1948 kelihatan tidak ada apa-apanya. Kepemimpinan PKI memang dihancurkan selama Peristiwa Madiun. Namun pada awal 1950an, di tangan generasi mudanya, partai kembali bangkit dan duduk di peringkat empat pada pemilu 1955. Berbeda dari tahun 1965, tak ada perburuan sistematis dalam peristiwa yang lebih mirip perang sipil itu.

Pada 1990, jurnalis States News Service Kathy Kadane menulis kisah Robert J. Martens, seorang staf diplomatik Amerika Serikat yang mengumpulkan 5.000 nama orang-orang kiri yang bergabung dalam PKI serta organisasi-organisasi terafiliasi: SOBSI, Gerwani, Lekra, dst. Martens adalah seorang pakar Uni Soviet dan staf biro politik kedubes AS di Jakarta. Tulisan Kadane diterbitkan beberapa media, termasuk Washington Post pada Mei 1990.

“Daftar itu membantu tentara” ujar Martens kepada Kadane. “Mereka mungkin sudah membunuh banyak orang dan tangan saya pun berlumuran darah, tapi bukan berarti semuanya buruk. Ada kalanya Anda harus bertindak keras dalam saat-saat yang menentukan." 

Keterangan Kadane dibantah oleh Marshall Green, mantan dubes AS untuk Indonesia pada tahun 1965. Kepada New York Times pada Juli 1990, Green yang sudah pensiun menyebut tulisan Kadane “sampah”. Green menerangkan bahwa AS memang terlibat dalam berbagai peristiwa politik di Asia Timur. “Namun kali ini tidak,” katanya.

Namun dalam transkrip wawancara yang dirilis Kadane, Green membenarkan keterlibatan staf diplomatik AS. Ia mengklaim bahwa orang Indonesia pada saat itu sulit itu melakukan profiling semacam itu karena kuatnya pengaruh PKI di sejumlah instansi, termasuk militer (Angkatan Udara). Soal apakah tentara Indonesia hanya bergantung pada sumber data AS, Green tidak menjawab.

Mengawasi Warga Dunia
Ketika diwawancarai Kadane, mantan Direktur CIA William Colby membandingkan profiling terhadap tokoh-tokoh PKI dengan Phoenix Program, suatu aktivitas pengumpulan data intelijen terpadu yang dilakukan militer AS dan Vietnam Selatan terhadap komunis Vietcong antara 1967-1972.   

"Identifikasi atas tokoh-tokoh komunis lokal [para pemimpin komunis] dirancang supaya mereka menyerah, Anda tangkap mereka atau Anda tembak,” ucap Colby.

Jurnalis investigatif Seymour Hersh, mengutip statistik yang diterbitkan Vietnam Selatan, menyebutkan angka nyaris 41 ribu jumlah korban tewas akibat penyiksaan, pembunuhan, perkosaan selama program tersebut berlangsung.

Baik Phoenix Program maupun profiling anggota PKI merupakan bagian dari program AS (dan lebih khususnya operasi kontrainsurgensi dalam kasus Vietnam) untuk menghalau pengaruh komunis selama Perang Dingin. Di dalam negeri, terdapat beberapa kebijakan profiling serupa terhadap siapapun yang dianggap ‘musuh negara’.

Pada tahun 1938 House Un-American Activities Committee didirikan untuk mendata dan menginvestigasi aktivitas orang atau lembaga yang dicurigai sebagai komunis. Komite ini sedemikian berkuasa pada tahun 1950an. Ribuan warga AS yang bekerja di pemerintahan, militer, hingga sektor swasta seperti di studio-studio Hollywood dipecat.

Setelah pangkalan militer AS di Pearl Harbour diserang oleh Jepang pada 1941, Presiden AS Franklin D. Roosevelt mengeluarkan executive order yang memerintahkan penahanan orang-orang Jerman, Italia, dan Jepang di AS, yang sebelumnya telah masuk ke dalam database pemerintah.

Logika yang sama diteruskan pada masa pemerintahan Obama. Pada 2012, Washington Post membongkar keberadaan “Disposition Matrix” yang memuat nama-nama pihak yang diduga membahayakan keamanan AS.

Sama dengan Phoenix Program, proyek ini melampaui teritori AS, hingga ke tempat-tempat seperti Pakistan, Afganistan, Somalia, dll., yang selama ini menjadi wilayah operasi jaringan al-Qaeda. Kriteria siapa saja yang dianggap mengancam ditentukan secara manasuka oleh National Counterterrorism Center (NCTC) dan CIA.

Dalam berbagai operasi yang melibatkan pembunuhan warga sipil selama Orde Baru, Indonesia nampaknya belajar banyak dari program-program di atas. Namun, perlu diingat bahwa daftar-daftar tersebut merupakan daftar yang sangat rahasia, tidak pernah sengaja dibocorkan ke publik, dan dapat diidentifikasi jelas siapa lembaga yang merilisnya. Mekanisme yang telah dipilih negara untuk membatasi pengaruh HTI di masyarakat adalah satu hal. Namun, beredarnya daftar anggota HTI adalah hal lain yang memunculkan sejumlah pertanyaan terkait apa yang akan dilakukan negara pasca pembubaran dan kemungkinan penggunaan cara-cara lama seperti pada masa Orde Baru. [Tirto.id]

AMP - Hari itu, Jumat 23 Juli 1999 pesantren Tgk Bantaqiah di Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya Diserang oleh pasukan TNI. Pasukan yang saat itu sedang memburu Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bergerak dari Takengon ke Beutong Ateuh.

Dilansir wikepedia, penyerangan pesantren Tgk. Bantaqiah ini dinamakan dengan Tragedi Beutong Ateuh yaitu peristiwa pembantaian warga sipil di Desa Blang Meurandeh, Kecamatan Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, pada Jumat 23 Juli 1999.

Peristiwa itu terjadi di balai pengajian Teungku Bantaqiah yang dilakukan oleh lebih dari 100 orang pasukan TNI AD. Sedikitnya ada 30 orang lebih warga sipil tersebut dibantai karena dituduh terlibat Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan menyimpan senjata dan ganja.(acehterkini)

AMP - Bebicara soal ganja, tidak bisa lepas dari Aceh. Wilayah di ujung barat Indonesia ini dikenal sebagai tempat bersemainya tanaman yang memiliki nama Latin Cannabis sativa. Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat ada 480 ribu hektare lebih ladang ganja di Aceh.

Berdasarkan UU No 35 Tahun 2009, ganja termasuk ke dalam narkotika golongan I . Artinya, ganja setara dengan kokain, heroin, dan sabu. Barang haram ini tidak digunakan untuk terapi medis serta berdampak ketergantungan.

Namun sebagian kalangan menganggap ganja adalah tanaman yang dapat digunakan secara medis. BNN Provinsi Aceh mengaku akan kesulitan bila tanaman ganja dilegalkan untuk tanaman obat. Sebab, tidak mudah untuk mengawasi ladang-ladang ganja yang ada di Kota Serambi Mekah ini.

Bahkan, mereka merasa perlu ada regulasi baru yang mengatur bahwa ganja dilegalkan untuk kepentingan medis.

"Harus dipersiapkan segala sarana dan prasarana, dan instansi terkait harus bekerja dan turun sehingga ini memakan waktu lama," kata Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Aceh, Amanto, seperti dilansir Voice of America, Selasa (11/7/2017).

Fauzan, salah satu bekas petani ganja di kawasan Lamteuba, Aceh Besar, mengatakan ia saat ini memilih untuk mengubah profesi dari berladang ganja ke palawija sejak 2009. Hal ini didorong karena aparat yang terus memberantas peredaran dan penyelundupan ganja ke luar Aceh.

Sementara itu, beberapa lembaga swadaya masyarakat mendorong pemerintah untuk melakukan penelitian ganja sebagai tanaman obat. Terlebih, setelah mencuatnya kasus penangkapan Fidelis Arie Sudewarto (36) di Sanggau, Kalimantan Barat.

Fideli menanam 39 batang ganja untuk pengobatan istrinya, Yeni Riawati. Yeni mengidap syringomyelia atau tumbuhnya kista berisi cairan (syrinx) di dalam sumsum tulang belakang.

Direktur Eksekutif Yayasan Sativa Nusantara, Inang Wisastro, mendorong pemerintah untuk melakukan penelitian ganja sebagai tanaman obat.

"Kalau sudah diteliti oleh para ahli Indonesia melalui laboratorium Indonesia dan didukung oleh pemerintah, saya kira pemerintah itu sendiri tinggal memutuskan untuk memanfaatkan tanaman ini sebagai bahan baku obat," kata Inang. (Liputan6.com)

AMP - “Anjing dan Pribumi dilarang masuk”,  begitulah bunyi kalimat yang tertulis di poster yang dipajang oleh Belanda di dekat pintu restoran-restoran mewah di berbagai tempat di nusantara yang diperuntukkan untuk kaum kulit putih, pada masa penjajahan silam.

Itu adalah cara dari kaum penjajah pada masa itu untuk menunjukkan superioritasnya atas jajahan. Taktik ini dimaksudkan untuk membuat bangsa terjajah merasa wajar dan bisa menerima perlakuan diskriminatif yang mereka terapkan.

Munculnya poster seperti itu adalah puncak dari kerja keras kaum penjajah dalam menanamkan doktrin bahwa bangsa penjajah adalah ras yang lebih unggul sehingga sudah sewajarnya mendapatkan hak istimewa yang tidak didapatkan oleh kaum terjajah. 

Doktrin bisa berjalan sukses hanya jika dilakukan dengan cermat dengan strategi yang jelas dan terpola. Itulah yang dilakukan oleh bangsa penjajah itu ketika akan menguasai pribumi dulu. Langkah awal mereka hancurkan dulu rasa kebanggaan pribumi, sejarah kebesaran mereka, entah itu keberanian atau ketinggian budaya nenek moyang di masa lalu disembunyikan atau dimanipulasi.

Apa yang dilakukan oleh Belanda ini bukanlah hal baru, taktik yang sama bisa kita telusuri dalam semua sejarah penjajahan di setiap era dalam sejarah peradaban umat manusia. Bagaimana kaum Arya yang datang dari utara menaklukkan India yang dihuni oleh ras Dravidia, menciptakan sistem kasta, menjadikan Tuhan-tuhan kaum Dravidia sebagai pembantu tuhan-tuhan Arya yang kemudian berhasil membuat kaum Dravidia percaya bahwa mereka lebih inferior dari Arya. Demikian pula taktik yang digunakan kaum kulit putih ketika mereka memperbudak kaum kulit hitam.

Ketika kebanggaan telah dihilangkan, maka menerima diskriminasi adalah sebuah keniscayaan.

Lalu apa hubungan cerita ini dengan judul tulisan ini?

Begini, setelah kejatuhan Keraton Kesultanan Aceh pada tahun 1873, Aceh dilanda perang berkepanjangan yang banyak melahirkan pahlawan yang begitu gigih dan ditakuti oleh Belanda.

Tengku Tapa dari Gayo yang dalam beberapa literatur dikatakan berasal dari Telong (maksudnya tentu Burni Telong) Redelong adalah salah seorang pahlawan besar yang sangat ditakuti oleh Belanda itu. Bersama Pang Pren asal Bebesen dan Pang Ramung asal Kebayakan, dalam kurun waktu tahun 1898 sampai tahun 1900, Tengku Tapa benar-benar membuat kehidupan pasukan Belanda di wilayah pesisir timur Aceh sedemikian sulit .

Selain memiliki strategi perang yang hebat, Tengku Tapa juga seorang jago propaganda yang membuatnya memiliki banyak pengikut di Pesisir. Salah satu strategi propaganda Tengku Tapa adalah dengan cara menghidupkan kembali legenda Malem Dewa yang hidup di masyarakat.

Catatan resmi militer Belanda menyebutkan “Teungkoe Tapa, de bedriegelijke herrijzen Malim Dewa, de z.g. onkwetsbare held uit de Atjehsche hikayat, had zich een enorme aanhang weten te verschaffen door den heiligen oorlog te prediken”  yang kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia kira-kira berarti ; “Teungku Tapa, menipu rakyat Aceh dengan cara membangkitkan kembali legenda Malim Dewa, yang dalam hikayat Aceh disebut sebagai pahlawan tak terkalahkan, tipuan ini terbukti mampu membuatnya mendapatkan pengikut dalam jumlah besar (karena para pengikut itu) merasa sedang melakukan perang suci”

Ya memang begitulah kenyataanya, selain dikenal dengan namanya sebagai Tengku Tapa, orang-orang Aceh di pesisir juga mengenalnya sebagai “Teungku Malim Diwa”.

Sementara mengenai pasukan Tengku Tapa sendiri apakah perlawanannya berada langsung di bawah komando Kesultanan atau merupakan pasukan mandiri sebagaimana umumnya pejuang asal Gayo, setidaknya untuk di Gayo sendiri ada dua pendapat.

Menurut Fauzan Azima, salah seorang tokoh pejuang GAM terkemuka asal Gayo, Tengku Tapa adalah panglima kerajaan Aceh, sementara Menurut Syirajuddin, anggota DPRK Aceh Tengah dari PAN, Tengku Tapa adalah anggota dari kelompok Muslimin, satu kelompok pejuang mandiri yang banyak diikuti oleh para Pang asal Gayo yang tidak terikat komando pada kerajaan Aceh.

Tapi terlepas dari dua pendapatan ini, yang jelas perlawanan Tengku Tapa yang mendapat banyak simpati dari masyarakat ini terbukti benar-benar membuat pasukan Belanda yang begitu ditakuti di seluruh nusantara ini mengalami kejatuhan moral.

Begitu parahnya kejatuhan moral pasukan Belanda yang diakibatkan rasa takut terhadap serangan Tengku Tapa, sampai-sampai menurut Yusra Habib Abdul Gani, intelektual Gayo yang saat ini menjabat sebagai Direktur pada “Institute for Ethnics Civilization Research” yang bertempat di Denmark, Belanda mempropagandakan Tengku Tapa sudah meninggal dunia. Propaganda ini tidak hanya dilakukan sekali, tapi enam kali.

“Jumlah propaganda Tengku Tapa, mengalahkan Tengku Hasan Tiro yang dipropagandakan oleh telah meninggal oleh pemerintah Orde Baru sebanyak lima kali”, sebut Yusra

Karena begitu besarnya kerugian materil maupun moril yang diderita oleh Belanda akibat perlawanan Tengku Tapa. Belanda pun tidak mau tanggung-tanggung dalam usaha menumpas perlawanan pahlawan Gayo ini. Untuk menghadapi Tengku Tapa, Belanda langsung mengutus Jenderal terbaiknya, Jendral J.B. van Heutsz yang kelak akan menjadi Gubernur Militer Aceh dan bahkan akhirnya menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Nama jenderal inilah yang banyak disebut oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Novel “Anak Semua Bangsa”, salah satu dari tetralogi Pulau Buru-nya yang melegenda. Settingan novel itu memang dibuat pada masa pemerintahan J.B. van Heutsz sebagai gubernur Jenderal.

Tapi nyaris tak ada orang yang tahu, salah satu ujian yang harus dihadapi oleh van Heutsz sebelum menjadi orang nomer satu di nusantara adalah menghadapi perlawanan seorang pahlawan asal Redelong.

Gubernur Militer Belanda di Banda Aceh mengutus Jendral J.B. van Heutsz  dan pasukannya ke Idi pada tanggal 6 Juli 1898 hingga 24 Juli 1898 dengan sandi operasi “Het bedwingen van Teungkoe Tapa beweging” yang secara harfiah bisa diartikan sebagai “Gerakan untuk menjinakkan Tengku Tapa”

Bahkan ketika Snouck Hurgronje menulis  & Het Gajoland en Zijne Bewoners&,  penasehat militer Belanda terkait kultur dan masyarakat Aceh ini secara khusus menyebutkan nama Tengku Tapa sebagai musuh yang sangat ditakuti Belanda.

Melihat begitu besarnya kepahlawanan Tengku Tapa, sekilas tentulah terlihat aneh, mengapa Pahlawan dengan nama sebesar itu namanya nyaris tak pernah dibahas dalam pembahasan sejarah Aceh arus utama. 

Perlakuan para pemangku kebijakan sejarah di Aceh terhadap fakta sejarah Tengku Tapa yang sangat kuat ini begitu berbeda dengan “fakta” sejarah tidak jelas yang ditemukan dalam Hikayat Raja-Raja Pasee.

Terhadap “fakta” sejarah  yang menyatakan bahwa nama “Gayo berasal dari kata Kayo”, sebuah “fakta sejarah” yang bahkan oleh Snouck Hurgronje, seorang kafir yang berpura-pura masuk Islam pun dianggap tak lebih berharga dari sampah ini. Bahkan seorang tokoh sekaliber Ali Hasjmy dan sejarawan Junus Djamil pun merasa perlu turun tangan dan membuat seminar di Takengen untuk menguatkan “fakta” sejarah ini.

Akhirnya sekarang kita sama-sama tahu “fakta” yang oleh Snouck Hurgronje dipandang nilainya tak lebih berharga dari sampah ini menjadi seolah-olah tak terbantahkan, sampai masuk menjadi materi dalam buku ajar sejarah untuk siswa SLTA di seluruh Indonesia.

Sementara itu, dalam pembahasan sejarah arus utama di Aceh, Tengku Tapa hanya pernah beberapa kali disebut, tapi itupun bukan sebagai peran utama.

Tercatat, Hazil dalam bukunya yang berjudul “Teuku Umar dan Tjut Nja Din Sepasang Pahlawan Perang Atjeh” yang diterbitkan oleh penerbit Djambatan, di Jakarta pada tahun 1952 menyebut nama Tengku Tapa pada halaman 141-142. Kemudian Said, M juga pernah menyebut Tengku Tapa pada halaman 615 bukunya yang berjudul “Atjeh Sepandjang Abad” yang diterbitkan oleh Waspada di Medan pada tahun 1961.

Baru pada tahun 2006, seorang intelektual sekaligus pejuang Kemerdekaan asal  Gayo Lues, almarhum AK Yacobi yang berperan sebagai editor, atas dukungan mantan Bupati Bener Meriah Ruslan Abdul Gani meluncurkan buku khusus tentang Tengku Tapa yang diterbitkan oleh penerbit Yayasan “Seulawah RI 001” Jakarta. Buku ini diberi judul “Wali Teungku Tapa, Wali dan Kurir Sultan Aceh Melawan Belanda”

Jadi dari kenyataan di atas, teranglah sudah tak bisa tidak, kalau Gayo ingin dihargai dengan semestinya. Kitalah orang Gayo sendiri yang harus memulainya.

Mengharapkan pemerintah provinsi untuk mengambil inisiatif untuk menempatkan Tengku Tapa pada posisi sejarah yang seharusnya jelas sebuah penantian sia-sia.

Pilihan pemangku kebijakan di provinsi yang mengutamakan penguatan sejarah “nama Gayo berasal dari kata Kayo” daripada menguatkan bukti kepahlawanan seorang Tengku Tapa kiranya cukup jadi pelajaran. Kemudian, bagaimana ketika Saman terkenal, mereka membuat tari kreasi bernama “Reutoh Duek” yang dimanipulasi sebagai Saman dan kemudian melalui seorang  “budayawan” , sejarah Saman juga dibelokkan menjadi bukan asli Gayo, bahkan belakangan kopi Gayo pun mulai dikaburkan.

Tapi ini kan pemerintahan baru yang wakilnya berasal dari Gayo?

Sudahlah, jangan naif. Pemilihan anggota RPJM dan sekarang orang-orang yang ada di ring satu pemerintahan yang baru ini jelas menunjukkan bagaimana sikap mereka sebenarnya terhadap Gayo.  Yang terjadi, pemerintahan ini malah terlihat berniat menguatkan pandangan masyarakat bahwa Gayo itu memang inferior dengan cara mempropagandakan bahwa orang Gayo itu tak kompeten dan tak profesional, sehingga dari sekian ratus ribu orang Gayo yang masih hidup, tak satupun yang layak menjadi anggota RPJM.

Bahkan melalui seorang “Pion” yang berkomentar di media sosial, kita melihat indikasi kalau pimpinan Aceh yang baru yang terkenal sebagai ahli propaganda ini berniat membenturkan Gayo dengan suku minoritas lain.

Sementara wakilnya, Nova Iriansyah, memang benar secara darah dia asli Gayo, tapi harap kiuta semua paham kalau dalam karir profesional dan politiknya dia nyaris sama sekali tak bersentuhan dengan Gayo. Penulis yang selama 13 tahun tinggal di Banda Aceh pun tak pernah sekalipun bertemu dengannya dalam acara masyarakat Gayo.

Artinya, Nova adalah sosok ideal untuk sebuah propaganda. Secara darah dia Gayo, sehingga keberadaan sosoknya membuat pemerintah bisa mengklaim sudah mengakomodir Gayo tapi dalam prakteknya dia sama sekali tidak memposisikan diri sebagai pembela kepentingan Gayo.

Sikap Nova terhadap Gayo bisa kita baca dnegan jelas melalui pernyataan terbarunya dalam acara makan malam dengan seluruh anggota keluarga besarnya. Dalam pernyataannya itu,  wakil gubernur ini terang-terangan memberi kode keras  bahwa dia sama sekali tidak memposisikan Gayo secara istimewa dengan mengatakan “apabila lima tahun kedepan, dirinya harus memikirkan Aceh secara keseluruhan, sehingga seperti kata Pak Irwandi harus menyatukan semua kelompok, dan menjadi milik seluruh rakyat Aceh.”

Artinya jelas, di hadapan keluarga besarnya ini Nova sebenarnya sedang mengatakan bahwa Gayo itu hanyalah segelintir sangat kecil dari Aceh, bukan seluruh rakyat Aceh, sehingga mengharapkan pemerintah provinsi mengambil inisiatif untuk mengangkat kepentingan Gayo seperti pengungkapan sejarah Tengku Tapa ini jelas layaknya pungguk yang merindukan bulan dan mengharapkan bunyi saat bertepuk sebelah tangan.

Jadi kalau kita tidak ingin orang lain memanipulasi sejarah kita yang berakibat pada lemahnya karakter anak-anak muda kita karena meyakini segala penjelasan dalam sejarah mainstream yang menyatakan Gayo berasal dari kata penakut sebagai fakta.

Sudah saatnya kita melupakan pemerintah Provinsi, sudah saatnya kita mulai mendesak pemerintah di kabupaten-kabupaten Gayo untuk mulai menaruh perhatian pada pembentukan karakter generasi muda Gayo dengan cara mengenalkan kembali karakter Gayo yang asli, karakter pejuang yang salah satunya direpresentasikan oleh Tengku Tapa.

Karena beliau berasal dari Redelong, seperti yang sudah dicontohkan oleh mantan bupati Ruslan Abdul Gani, kiranya pemerintah Bener Meriah lah yang paling pantas untuk mengambil inisiatif untuk membuat seminar tentang Tengku Tapa, mengabadikan nama beliau untuk nama jalan-jalan protokol di Bener Meriah, bahkan mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk mengangkat beliau sebagai pahlawan nasional.

Dan ini semua perlu dilakukan dengan segera, karena perlu diketahui pula.  Karena kurangnya catatan sejarah tentang Tengku Tapa, belakangan sudah mulai beredar cerita yang mengaburkan kaitan pahlawan besar ini dengan Gayo dengan mengatakan bahwaTengku Tapa sebenarnya bukan orang Gayo (logikanya tentu saja, mana cocok pahlawan seberani beliau berasal dari bangsa yang asal namanya saja berasal dari kata TAKUT)

Sebagai penutup, mengacu pada kepada alinea pembuka tulisan ini, Penjajahan hanya berhasil ketika bangsa penjajah bisa meyakinkan bahwa bangsa yang dijajahnya adalah bangsa yang berkarakter lemah, sehingga mereka percaya bahwa bangsanya memang pantas dijajah.[lintasgayo]
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget