Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Satwa"

Foto: Kerangka gajah di Aceh (dok. BKSDA)
AMNews - Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh kembali menemukan tiga kerangka gajah Sumatera. Gajah-gajah ini diduga mati tersetrum.

"Kemarin tim kembali melakukan pencarian terhadap adanya informasi gajah mati. Tim menemukan kembali tulang belulang pada lokasi yang lain," kata Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto, Jumat (3/1/2020).

Tim yang melakukan pencarian terdiri dari BKSDA Aceh, Polres Aceh Jaya, Balai Gakkum Wilayah Sumatera, Polsek Teunom dan CRU Aceh. Mereka menyisir enam titik di Desa Tuwi Priya, Kecamata Pasie Raya, Kabupaten Aceh Jaya pada Kamis (2/1).

"Pada enam titik lokasi yang didatangi ditemukan adanya tiga ekor gajah mati yang sudah berupa tulang belulang. Kematian gajah tersebut diduga terkena tegangan arus listrik," jelas Agus.

Dia mengatakan ada pagar listrik yang dipasang pada perkebunan sawit masyarakat di sekitar lokasi kerangka gajah ditemukan. Total, ada lima kerangka gajah yang ditemukan selama dua hari pencarian.

"Terdiri dari empat ekor tulang belulang utuh dan 1 ekor tulang belulang hanya dengan rahang bawah tanpa tengkorak kepala utuh," ujar Agus.

BKSDA Aceh pun berkoordinasi dengan Polres Aceh Jaya untuk mengusut kasus ini. Penemuan bangkai gajah tersebut berawal dari laporan masyarakat terkait adanya satwa dilindungi mati.

"Penemuan bangkai ini berawal dari laporan yang kita terima dari masyarakat Desa Tuwi Pria, Kecamatan Pasie Raya, Kabupaten Aceh Jaya bahwa adaya gajah mati sebanyak lima ekor," tuturnya. (Detik.com)

AMP - Zoonosis is a disease caused by infectious organisms such as viruses, bacteria, and parasites that can be transmitted from animals to humans, or vice versa. Bird flu, is one of several diseases transmitted from animals to humans.
Veterinary Advisor, Borneo Orangutan Rescue Center, International Animal Rescue, Joost Philippa, said there has recently been an increase in zoonoses as human contact with animals increases. Especially on farms that have many animals but small shelter. "Surely, in every era of human life will always be accompanied by the emergence of new diseases."
Joost says, social and ecological changes related to the spread of human populations and changes in the environment and globalization, can also have implications for the emergence of zoonoses. "This disease also develops as the world develops rapidly," he explained.
Boedi Setiawan, Lecturer at the Faculty of Veterinary Medicine, Airlangga University Surabaya, said that zoonosis is a disease that can occur anywhere. "However, the impact has the potential to become severe (emerging zoonoses) if previously ever epidemic."

 Boedi explained, the disease can use animals as a medium for its survival. Direct zoonosis, the disease agent requires only one vertebrate as a host between the direct disease-borne disease, that is, the disease agent infects the animal and then moves on to humans.

There is also Cyclo zoonosis, an illness agent requiring two or more vertebrate hosts. Meta zoonoses, disease agents require vertebrate hosts and invertebrates. Alternatively, Sapro zoonosis, the disease agent requires a host between organic matter or non-soulful living matter as a place for accumulation of disease.

Many factors can trigger disease in animals. "The disease can attack primarily in conditions of weak animals, stress, dirty environment, and poor maintenance," he explained.

The mode of transmission of diseases from animals to humans can be through various vectors, such as organisms that carry pathogens from one host to another. Vectors that can bring disease to humans include insects (insects). For example through mites (flea) or ticks that are consumed by infected animals and then eaten by humans. In the process, they transmit infectious organisms. "Zoonotic disease is often fatal, both for animals and humans."
However, we often do not know the dangers that threaten if the disease, because less alert and do not know. Often we just realized after a complete examination as well as in cases of toxoplasmosis. "This disease is not enough to be diagnosed only based on clinical symptoms, but it can only be confirmed after a blood test with the right method," said Boedi.
To avoid or minimize zoonoses, we require early monitoring and detection of disease outbreaks in animals and humans, so that effective control strategies can be carried out at an early stage. "Limiting exposure is also very important that improving hygiene and safety in farms. Or, minimize contact with wild animals by stopping forest encroachment and stopping the consumption of wild animals, "said Joost.

Type Zoonosis

There are various kinds of zoonoses that people need to know to watch out for:


Inflammation of the brain or Japanese encephalitis

Viral infections in the central nervous system caused by mosquito bites with pigs. This type has initial complaints of fever, headache, decreased consciousness, tremors, and seizures. Further complaints can cause muscle stiffness, abnormal breathing to coma. Incubation period is 4-14 days with a healing period of seven weeks.

Leptospirosis or Weil 'S Disease, Haemorrhagic Jaundice

The source of the disease is from rats, cows, goats, sheep, horses, pigs, dogs, cats, birds, as well as insectivores like hedgehogs, bats, squirrels. Mode of transmission through contaminated material urine leptopspirosis pain hospital through mucous membrane (mucosa) eyes, nose, skin blisters, and digestive tract. Incubation period 4-19 days, severe complications can cause 54% death.

Anthrax
Antracian spores are derived from anthrax bacteria that occur naturally in the soil and can be in inactive condition for many years until finding suitable hosts such as wild animals or farm animals. Transmission can be through the skin, digestion, breathing. This disease can cause death.

Mad cow or Bovine Spongiform Encephalopathy / BSE
Disorders of the brain caused by prion infection (abnormal protein in livestock). Prions are found in many parts of the animal body such as the brain, eyes, and spinal cord. Humans affected by this disease will experience motor disruption that is paralysis that leads to death, also great irritation. The spread of this disease can also occur between humans. 

Tuberculosis (TB)

Cow tuberculosis is caused by Mycobacterium tuberculosis var infection. bovis (M. bovis). This disease is infectious, infectious and chronic diseases. This type of bacteria is part of the Mycobacterium tuberculosis complex that can infect cattle, wild animals, and humans.

Rabies

This disease often appears after having bites of dogs infected with rabies virus. Cats, monkeys, and other wildlife can also be the vector of the disease. The danger of this virus is that it can attack the brain and nervous system, so rabies patients show clinical symptoms of hydrophobia (fear of water), itching, bite, fever, and aggressive.

Hepatitis E
Generally the disease appears in areas of water shortages, minimal sanitation, and low health services. This virus is a virus hepatitis is quite unique because the animal is its reservoir. If the virus enters the body and infects the intestine, it multiplies then causes an acute failure in liver function resulting in death. Symptoms are shown almost the same as other hepatitis patients, such as skin yellowing, dark urine, and frequent vomiting.

Avian Influenza (Bird flu)

Bird flu is a type of influenza. This disease is caused by viruses that are transmitted from birds to humans. This disease does not immediately appear after the virus into the human body, it took 3-7 days before the symptoms initially appeared. Like diarrhea, bleeding in the gums and nose, chest and muscle pain, cough, high fever, and headache.

Bird flu attacks the respiratory tract causing a problematic supply of oxygen. As a result, the oxygen levels in the blood decrease so that other organs do not work properly. Organ that can be dependent, among others, such as heart, kidney, even brain. 

Foto: Dok. commons.wikimedia.org/Bff
AMP - Ada beberapa video di situs YouTube yang menggambarkan beberapa orang Afrika sedang menggali tanah. Kemudian mereka menemukan bongkahan seperti kentang dan saat dibuka, isinya ikan seperti belut aneh yang menggulung dirinya.

Ikan apa gerangan yang bisa hidup di tanah kering? Ikan seperti belut itu ternyata lungfish Afrika yang memiliki nama genus Protopterus. Disebut lungfish karena ikan ini bernafas menggunakan paru-paru. Di Afrika, setidaknya ada empat spesies lungfish.

Dengan pernafasan seperti itu, ikan yang tubuhnya seperti belut ini bisa bertahan hidup di tanah Afrika yang kering.

Saat di dalam air Protopterus ini bisa berenang dan naik ke permukaan untuk menghirup udara. Tapi habitatnya (danau, sungai, kolam, rawa) biasanya akan mengering karena musim kemarau panjang selama setidaknya 3 bulan lebih.

Untuk bertahan hidup, ikan ini akan melakukan hibernasi, mengubur dirinya dalam lumpur, sampai hujan datang dan air merendam habitatnya kembali. Itulah mengapa, ia bisa hidup berbulan-bulan tanpa air.

Menariknya, hewan yang panjangnya bisa mencapai 200 cm ini juga memiliki empat tentakel yang kelihatannya seperti kaki. Namun tentakel ini sangat sensitif karena bisa mendeteksi mangsa seperti moluska, udang, amfibia kecil, dan sebagainya.

Tentakel ini juga bisa berfungsi sebagai ‘kaki’, membantunya merayap di dasar perairan. (CNN)

July 29, 2016 ,
AMP - Peringati Hari Harimau Dunia, puluhan aktivis lingkungan dari lintas komunitas dan LSM di Banda Aceh menggelar kampanye penyelamatan terhadap Harimau Sumatera. Aksi tersebut juga dijadikan momentum untuk memburu pemburu harimau yang marak di Aceh.

Dalam kampanye tersebut, puluhan aktivis menggunakan atribut menyerupai Harimau seperti topeng serta replika harimau. Selain itu mereka ikut membawa sejumlah spanduk seperti, Aceh For Global Tiger Day 2016 dan #BuruPemburu. Hari Harimau se Dunia diperingati setiap 29 Juli.

Mereka juga memburu cap jempol masyarakat untuk mendukung penghentian pemburuan satwa langka itu. Cap jempol dengan warna menyerupai kulit Harimau tersebut ditempel pada sehelai kain putih sepanjang lima meter.

Koodinator Aksi dari Gerakan Earth Hour Aceh, Cut Ervida mengaku, cap jempol warga Banda Aceh tersebut nantinya akan dikirimkan ke Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya.

“Kita akan meminta pemerintah Indonesia serius memerangi perburuan dan perdagangan Harimau dengan memberi hukuman yang berat bagi para pelaku kejahatan,” kata Cut Ervida, Jumat (29/7/2016).

Menurutnya, setiap tahun kasus perburuan dan jual beli Harimau terus meningkat. Oleh sebabnya, ia menilai perlu kerjasama yang dibangun antara aparat serta masyarakat untuk bisa mencegah kasus serupa ke depan.

Cut Ervida menambahkan, dari enam spesies harimau yang tersisa di dunia, Harimau Sumatera nasibnya paling tragis karena populasinya menurun drastis. Diperkirakan hanya ada 400 ekor harimau di seluruh pulau Sumatera.

“Setiap tahun polisi menangkap barang bukti kulit harimau dan tulang-tulang yang akan diperdagangkan. Sementara modus jual beli harimau hidup juga terpantau di internet,” ungkapnya.

Kampanye kreatif untuk penyelamatan harimau sumatera ini bertema #ThumbsUpForTiger. Mereka memberi dukungan berupa cap dua jempol tangan sebagai simbol double tigers yang berarti menggandakan populasi harimau.

Para peserta pada kesempatan itu, juga melukis wajah seperti harimau, mengusung poster dan spanduk, orasi, membaca puisi serta aksi flashmob untuk menarik perhatian masyarakat. Kampanye itu digelar oleh Forum Kolaborasi Komunitas didukung oleh WWF Indonesia, Forum Harimau Kita, Fauna dan Flaura Internasional, serta Forum Konservasi Leuser.(OKZ)

May 24, 2016 , ,
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melakukan pemusnahan barang bukti kejahatan satwa bernilai miliaran rupiah yang ditangani penegak hukum sejak 2013.

Sebanyak 3 ofsetan harimau, 2 ofsetan macan dahan, 2 gading, 1 ofsetan beruang, serta kulit kucing hutan dan beruang madu dibakar bersama oleh para pejabat Pemerintah Aceh, Kejaksaan, dan Kepolisian di Banda Aceh, Senin, 23 Maret 2016. Pembakaran ini simbol perlawanan serius terhadap perburuan dan perdagangan satwa yang meningkat cukup tajam di Aceh.

Pemusnahan barang bukti satwa liar, Senin 23 Mei 2016, di Banda Aceh. Foto: Chik Rini
Pemusnahan barang bukti satwa liar, Senin 23 Mei 2016, di Banda Aceh. Foto: Chik Rini

Kepala BKSDA Aceh Genman Suhefti Hasibuan menuturkan, kegiatan pemusnahan ofsetan satwa liar ini merupakan momentum pemerintah dalam memberantas jual beli satwa dilindungi baik hidup maupun mati. “Pemerintah tidak akan mentolerir setiap pelanggaran hukum di bidang kehutanan, terutama jual beli satwa liar ilegal,” tegasnya.

Barang bukti kejahatan satwa ini berasal dari sitaan masyarakat dan juga kasus-kasus hukum yang ditangani Direktorat Kriminal Khusus Polda Aceh yang tersebar di Aceh Tengah, Aceh Jaya, Aceh Tenggara, termasuk dari Pengadilan Militer di Banda Aceh. Setidaknya, lebih dari 20 orang telah divonis pengadilan sepanjang 2013-2016 dengan hukuman berkisar 4 bulan – 2,5 tahun penjara.

Menurut drh. Taing Lubis dari BKSDA Aceh, barang bukti ofsetan satwa tersebut dibakar mengingat kondisinya yang tidak utuh dan bisa menjadi sumber penyakit. Seperti ofsetan macan dahan yang semua bulunya rontok dan menyisakan kulit. Sementara kondisi ofsetan harimau juga sudah tidak utuh lagi karena ada bagian yang hilang seperti kulit dahi, hidung, kumis, dan ekornya patah.

“Banyak asumsi bagian harimau itu berdaya magis. Makanya, kita bakar untuk memastikan barang-barang itu musnah tak berbekas dan tidak bernilai lagi,” kata Taing.

Pemusnahan barang bukti satwa liar ini merupakan kasus yang ditangani sejak 2013 yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Foto: Chik Rini
Pemusnahan barang bukti satwa liar ini merupakan kasus yang ditangani sejak 2013 yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Foto: Chik Rini

Tidak semua barang bukti tersebut dimusnahkan. Beberapa yang masih bagus kondisinya dititipkan di Museum Aceh dan Visitor Centre Tahura Pocut Meurah Intan di Aceh Besar yang akan digunakan sebagai bahan penelitian dan pendidikan konservasi.

Salah satu yang diserahkan ke Museum Aceh adalah  gading gajah Papa Genk. Gajah Sumatera  berumur 30 tahun itu mati dibunuh dengan cara dipasang jerat tombak pada Juli 2013 di Sampoinet, Aceh Jaya.  Kasus Papa Genk menarik perhatian Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono waktu itu, karena banyaknya protes pencinta satwa. Para pelaku sebanyak 14 orang tersebut telah divonis 4 bulan percobaan penjara.

“Kami senang mendapatkan gading “The Legend Papa Genk”. Ia memiliki nilai sejarah karena kisah terbunuhnya sangat mengharukan. Diharapkan, kisah Papa Genk bisa diabadikan di Museum Aceh sebagai pembelajaran generasi muda agar peduli pada gajah sumatera yang sudah hampir punah,” kata Afni, kurator dari Museum Aceh.

Museum Aceh juga mendapat titipan 1 ofsetan harimau sumatera dari hasil penangkapan di Aceh Tengah tahun 2013 dan tulang rahang gajah yang berasal dari kasus pembunuhan gajah di Aceh Barat pada 2014.

Untuk Tahura Pocut Meurah Intan dititipkan 2 ofsetan harimau sumatera, 1 kepala harimau sumatera, 2 ofsetan kucing emas, 2 gading sepanjang 2 meter lebih milik gajah Sadat dari  Pusat Latihan Gajah Saree yang mati karena sakit, 2 gading sitaan, ofsetan beruang madu, kepala kijang muntjak, kepala burung julang, dan tulang belulang harimau.

Barang bukti kejahatan tersebut berasal dari kasus yang pernah ditangani pengadilan militer di Banda Aceh yang melibatkan 2 oknum TNI di Aceh Tengah tahun 2013, kasus perdagangan ofsetan di Aceh Tengah tahun 2014, dan kasus perdagangan yang terjadi di Aceh Tenggara tahun 2014.

Sejumlah barang bukti yang ditunjukkan ini merupakan bukti tingginya perburuan satwa liar di Aceh. Foto: Chik Rini
Sejumlah barang bukti yang ditunjukkan ini merupakan bukti tingginya perburuan satwa liar di Aceh. Foto: Chik Rini

WWF Indonesia mencatat, Aceh merupakan salah satu daerah asal perdagangan satwa karena memiliki hutan cukup luas dengan spesies satwa yang lengkap. Menurut Wildlife Crime Team WWF Indonesia, Novi Hardianto, beberapa kasus penangkapan jual beli satwa dan organnya di Medan dan Riau, satwa-satwa itu berasal dari perburuan di Aceh. Seperti kasus penangkapan anak orangutan dan gading gajah di Pekanbaru beberapa waktu lalu, yang barang buktinya berasal dari Aceh.

“Biasanya, dari Aceh mereka menjual ke Medan sebelum membawanya ke Jakarta, Batam, Malaysia atau Singapura,” kata Novi.

Perdagangan satwa liar melibatkan jaringan yang cukup luas dan saat ini merupakan kejahatan cukup serius di seluruh dunia. Menurut data Global Financial Integrity, Washington DC, perdagangan ilegal satwa menempati urutan kelima dengan omset tertinggi setelah narkoba, pemalsuan barang, perdagangan manusia, dan minyak. Kerugian Indonesia dari kasus perdagangan ilegal satwa ini mencapai Rp9 triliun per tahun. “Ini menjadi masalah besar karena menyebabkan penurunan populasi satwa yang sebagian besar hasil tangkapan alam liar,” ujar Novi.(mongabay)

April 17, 2016
AMP - Seekor gajah jantan ditemukan tewas oleh warga di area perkebunan PT. Dwi Kencana, Gampong Jambo Rehat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, Minggu, 17 April 2016.

Yunansyah salah satu warga saat diwawancarai portalsatu.com menyebutkan gajah jantan tersebut diperkirakan sudah mati sejak Sabtu, 16 April 2016 malam.

"Gajah itu kalau kita lihat fisiknya masih baru. Sebab warga di sini baru melihat gajah itu sejak tadi pagi," kata Yunan.

Pantauan portalsatu.com, gajah jantan tersebut masih memiliki gading dengan panjangnya lebih kurang 3 sampai 6 sentimeter. Tidak ada bekas luka atau hasil kekerasan lainnya yang terlihat dari fisik bangkai poe meurah itu.

Dihubungi secara terpisah, Kepala BKSDA Aceh, Genman Hasibuan, mengaku telah mengetahui kasus gajah mati tersebut. Namun sampai saat ini pihaknya belum bisa memastikan motif kematian satwa yang dilindungi itu.

"Laporan itu telah kita terima. Untuk hasil pemeriksaan sementara dari mulut bangkai gajah tidak berbuih. Jadi belum bisa menyimpulkan gajah itu mati akibat  diracun atau tidak," katanya.

Dia mengatakan tim BKSDA Aceh bakal turun ke lapangan untuk mengotopsi bangkai gajah tersebut guna mencari penyebab kematiannya.

"Nanti kita lihat hasil otopsinya setelah tim bekerja. Untuk sementara kita belum bisa menyimpulkan penyebab kematiannya," kata Genman.[portalsatu.com]

Pasukan pemburu babi asal Gampong Alue Keumiki Kecamatan Ulim, Pidie Jaya dan dari Batee Gelengku Kecamatan jeunib, Bireuen, Minggu (17/1) berhasil membunuh berlasan ekor babi di sejumlah gampong di Kecamatan Meurahdua. Pasukan let bui saat istirahat.SERAMBI/ABDULLAH GANI
AMP - Pasukan letbui (pemburu babi-red) asal Alue Keumiki, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya dan Batee Gelungku, Kecamatan Pandrah, Bireuen, menggempur kawasan Pante Beureune, Kecamatan Meurahdua Minggu (17/1). Pada aksi yang kedua kalinya itu, 15 ekor babi mati dibunuh.

Sementara pada Minggu pekan lalu, babi yang tewas mencapai 52 ekor.  Selain di Pidie Jaya, “Kelompok Sampoh Pegleh” yang dipimpin Abral (25), juga menjelajahi sejumlah kabupaten termasuk Aceh Besar. Aksi mereka mendapat sambutan positif dari masyarakat.

Kehadiran pasukan letbui ke Pante Beureune, kata Abrar, atas undangan masyarakat setempat. Sebab, keberadaan babi di sana cukup meresahkan masyarakat.

Selain mengganggu pertanaman, babi juga ikut memangsa ternak piaraan warga, khususnya unggas (ayam, itik, bebek dan sejenisnya).

Abral mengakui, upah yang mereka terima jauh lebih kecil dibanding tenaga dan risiko yang dihadapi. Tapi, karena rasa sosial dan keperihatinan terhadap musibah yang dialami masyarakat serta petani, pasukan letbui dari dua kecamatan yang berjumlah 50 orang tersebut, terpanggil untuk membantu.

Pasukan mulai bergerak ke hutan pukul 08.00 WIB,  setelah sebelumnya para pemburu diarahkan pada apel singkat menyangkut medan yang akan dijelajahi. Dengan mengepung empat arah angin, babi dalam hutan lari cot ikue (tunggang langgang-red).

Helmi, koordinator kegiatan tersebut, mengatakan pada Kamis (14/1) lalu, tim ini membunuh 52 ekor babi. Sementara kemarin, 15 ekor babi dibunuh. Jumlah keseluruhan sudah 67 ekor babi diekskusi.

Selain Pante Beureune, lokasi pemburuan juga menyebar hingga ke beberapa desa lain seperti Jurong Teupin Pukat, Meunasah Mancang, Dayah Usen, Beuringen, serta Dayah Kruet. Kegiatan serupa diupayakan berlanjut.

Helmi mengatakan, dengan adanya upaya pemburuan babi, selain menyelamatkan tanaman masyarakat, ternak peliharaan warga seperti ayam, itik, bahkan kambing sekali pun, dapat diselamatkan. Selama ini, ternak unggas sering menjadi makanan empuk binatang bertaring dan jenis tanaman apa pun yang diusahakan warga ludes digerogoti.

Menurut Helmi, untuk mengandalkan swadaya masyarakat jelas tidak mungkin bisa berkelanjutan. Sebab, untuk sekali kegiatan, setidaknya harus dialokasi anggaran sekitar Rp 2 juta. Karena itu, masyarakat mengharapkan perhatian dinas terkait. “Kami sangat mengharapkan perhatian pemerintah menyangkut soal babi yang sering mengancam kehidupan perekonomian warga,” kata Helmi.

Sabang - Aceh memiliki destinasi menarik di ujung nusantara yang masih alami. Namanya Pulo Aceh. Penasaran bukan?

Pulau paling barat Indonesia ini menawarkan keindahan bak sepotong tanah surga. Pulo Aceh yang berada di Kabupaten Aceh Besar menyimpan banyak potensi pariwisata baik wisata bahari, alam bahkan sejarah. Potensi ini tersebar di Pulo Nasi maupun Pulo Breuh, dua pulau berpenghuni di gugusan Kecamatan Pulo Aceh.

Pantai berpasir putih dengan laut biru kehijau-hijauan ada di mana-mana. Sebagian besar tersembunyi di balik-balik bukit atau rimbun pepohonan.

Bukan hanya di permukaan saja yang elok, sebagian pantainya juga menyimpan alam bawah laut memukau dan cocok untuk pecinta diving mapun snorkeling.
 
 Hutan yang menyelimuti kedua pulau ini juga masih lebat. Kicauan burung dan binatang lain di balik rimbun pepohonan terdengar bersahutan selain debur ombak.

Pulo Aceh merupakan kecamatan kepulauan. Teradapat 10 pulau di sana, tapi hanya dua yang besar dan berpenghuni yakni Pulo Nasi dan Pulo Breuh (Breuh dalam bahasa Indonsia artinya beras).

Ada 17 gampong (desa) di kecamatan ini masing-masing lima desa di Pulo Nasi, 12 lainnya di Pulo Breuh. Penduduk dari kedua pulau ini lebih dari lima ribu jiwa, mayoritas bermata pencaharian petani dan nelayan.

Soal keindahan alam dan laut  kedua pulau ini tak perlu diragukan. Pulo Nasi yang lebih dulu kita temui saat berlayar dari Banda Aceh punya banyak objek menarik.[OKZ]

AMP - Mengenang 10 tahun usia nota kesepahaman pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau disebut sebagai Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki Finlandia. Fasilitator MoU Helsinki Finlandia Juha Christensen mengatakan saat ini kehidupan eks anggota Gam masih belum terekomendasi sepenuhnya.

"Mudah-mudahan pemerintah Aceh bisa cari sistem untuk eks GAM agar dapat profesi baru. Untuk uang, Aceh sudah dapat banyak. Aceh dapat dana khusus Rp 5 sampai 6 triliun selama 15 tahun," kata Juha saat ditemui di Kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (13/11).

Juha menambahkan persoalan yang dihadapi pemerintah Indonesia yaitu dana. Hal in i perlu diatur dan dibentuk struktur teksnis serta implementasi dalam penyaluran. Pasalnya implementasi yang di Nangroe Aceh Darussalam masih belum berjalan secara maksimal.

"Untuk itu para 'eks' ini harus dibantu dari segi financial dan memberikan edukasi yang memumpuni kepada mereka agar dapat menjalani hidup lebih layak," kata Juha.

Menurut Juha, selama ini proses reintegrasi di Aceh pasca tsunami yang kemudian disusul perja njian MoU Helsinki belum sepenuhnya 100 persen berhasil. Selain soal pekerjaan untuk eks GAM tadi, ada pula soal lambang dan bendera GAM yang tak boleh dikibarkan. Sampai saat ini aturan ini belum terimplementasi sempurna. Dia optimis, pemerintah pasti punya solusi menegakkan aturan ini.

"Pemerintahan baru Jokowi-JK pasti ada solusi, lebih cepat lebih baik. Tinggal 3-7 persen implementasi dari MoU Helsinki yang belum tuntas," kata Juha.

Acara diskusi ini juga dihadiri oleh Mantan Gubernur Aceh Mustafa Abubakar, Koordinator Sub Komisi Mediasi Komnas HAM Ansori Sinungan, dan Komisioner Komnas HAM Hafid Abbas.

Di lokasi yang sama, Mantan Gubernur Aceh Mustafa Abubakar menyatakan pihaknya terus melakukan upaya dengan menyediakan lapangan pekerjaan bagi eks GAM, dengan mempekerjakan mereka menjadi petani sawit.

"Akan tetapi, masih terbentur kendala dalam meralisasikan rencana tersebut. Kita ada upaya membikin kebun sawit agar eks anggota GAM bisa menjadi petani sawit. Namun terkendala izin lahan," kata Mustafa.

Komisioner Komnas HAM Ansori Sinungan menyatakan perdamaian di Aceh bisa menjadi contoh proses damai di Papua maupun Poso yang acapkali bergejolak. "Mudah-mudahan Aceh bisa menginspirasi," tutupnya.[MP]

Tim Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh sedang mengautopsi bangkai gajah yang tewas di Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, Aceh, Kamis (12/11/2015)
AMP - Pemerintah Aceh Timur membangun Conservation Respons Unit (CRU) di Desa Buleun, Kecamatan Serba Jadi, Kabupaten Aceh Timur, Aceh.

Konservasi ini bertujuan untuk mengatasi serangan gajah liar ke kawasan permukiman dan perkebunan warga.

Di lokasi itu akan ditempatkan empat gajah jinak untuk menghalau gajah liar yang masuk ke permukiman ke kawasan hutan.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, BKSDA Aceh Dedi Irfansyah kepada Kompas.com, Jumat (13/11/2015) menyebutkan, lahan seluas dua hektare untuk CRU telah disiapkan. Diperkirakan pembangunan CRU itu akan rampung awal tahun depan.

“Nanti akan ada gajah jinak dari BKSDA Aceh yang ditempatkan di kawasan itu. Begitu ada gangguan gajah liar, maka gajah jinak ini akan kita bawa untuk mengusir teman-temannya ke kawasan hutan lagi,” ujar Dedi.

Sebelumnya, di kawasan Aceh Utara juga telah dibangun CRU di Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara. Sehingga, gangguan gajah liar di Aceh Utara bisa diatasi.

“Kita harap setelah CRU difungsikan, maka bisa mengatasi gangguan gajah liar yang merusak kebun warga dan rumah warga di kawasan pedalaman Aceh Timur,” ungkap Dedi.

Sebelumnya diberitakan, seekor gajah betina tewas di Seumanah Jaya, Aceh Timur. Sepanjang 15 tahun terakhir, konflik gajah dan manusia di kawasan itu belum teratasi dengan baik.

Ratusan hektare lahan sawit dan karet serta puluhan gubuk juga dirusak gajah. [kompas]
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget