Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Sejarah Aceh"

Lambang Kerajaan Samudera Pasai
AMP - Keberasalan orang Melayu dan bahasa Melayu masih terus dibincangkan para ahli, sekalipun secara garis besar, mereka telah mencapai beberapa kesimpulan. Antara lain, dikarenakan kawasan selatan Sumatra (Jambi-Palembang) sampai dengan waktu ini merupakan kawasan yang terbanyak memiliki prasasti-prasasti dalam bahasa Melayu kuno, maka para ahli masih pada kesimpulan bahwa bahasa Melayu berasal dari sana.

Keberasalan bahasa Melayu ini juga dikaitkan dengan sebuah kerajaan bercorak Buddhisme yang pernah muncul di kawasan selatan Sumatera, yakni Kerajaan Sriwijaya. Sebab itu, mereka juga berkesimpulan bahwa prasasti-prasasti bahasa Melayu kuno yang dijumpai di kawasan selatan Sumatera berasal dari masa sebelum kemunculan kerajaan-kerajaan Islam.

Sementara mengenai prasasti tertua dalam bahasa Melayu kuno yang dibuat dalam zaman Islam dan masih menggunakan aksara Sumatra kuno, para ahli sepakat menunjuk prasasti pada satu batu nisan yang berada di Gampong Menye Tujoeh, Kecamatan Pirak Timur, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.

Nisan tersebut adalah nisan makam seorang ratu yang namanya disebutkan pada inskripsi berbahasa Arab. Beberapa ahli telah membacanya, namun menyangkut nama orang yang dimakamkan, mereka menghasilkan bacaan yang berbeda satu sama lain: Nurul A’la, Nurul ‘Aqla, Nurul Ilah, Wabisah. Saya sendiri membacanya: Danir atau Dannir. Inskripsi berbahasa Arab itu juga memuat tarikh wafat pada hari Jum’at 7 (9?) Dzulhijjah 791 Hijriah (26 November 1389 Masehi).

Sementara prasasti berbahasa Melayu kuno yang terdapat pada nisan bagian kaki makam telah dibincangkan oleh para ahli semisal J. G. de Casparis, W. F. Stutterheim, Morisson, dan yang paling mutakhir telah dibaca dan dibahas oleh Willem van der Molen dalam Inskripsi Islam Tertua di Indonesia (2008).

Pada prasasti berbahasa Melayu kuno ini juga disebutkan dua nama negeri di mana ratu ini telah dipertuan agung, yakni Pasai dan Kedah. 

Seraya menolak bulat-bulat prasangka bahwa prasasti berbahasa Melayu kuno ini hadir di wilayah pesisir utara Aceh akibat ekspansi Majapahit, maka perlu dipertanyakan tentang kedudukan kedua negeri ini: Pasai dan Kedah—malah tiga negeri jika ditambahkan Jambur Ayir—sebelum masa Islam, atau dengan kata lain pada zaman mana pengaruh Kerajaan Sriwijaya di kawasan selatan Sumatera (geografi Arabo-Persia: Jaziratul Maharaj) masih mendominasi kawasan besar meliputi Pulau Sumatera dan Daratan Semenanjung Melayu sampai Indocina.

Kepustakaan geografi yang ditulis dalam bahasa Arab sejak Sulaiman At-Tajir (abad ke-3 H/ke-9 M) sampai dengan Ibnu Majid (wafat 906 H/1501 M) menyebutkan sebuah daerah bernama Jawah (Javah) dan mengacu ke wilayah pesisir utara Aceh. Ibnu Baththuthah yang memuat informasi lebih panjang tentang Sumuthrah (Samudra Pasai) dalam karyanya Tuhfah An-Nazhzhar menyebutkan dengan terang, ia telah melihat “Jawah” yang hijau dari jarak setengah hari perjalanan laut.

Di sini, saya memaklumi sensitivitas orang Aceh terhadap sebutan “Jawa”, tapi toponimi semisal Krueng Jawa dan Rayeuk Jawa di wilayah pedalaman Krueng Pase, menurut sumber sangat terpercaya, sudah dikenal paling tidak sejak sebelum 100 tahun silam—tokoh yang kami wawancarai untuk keterangan ini pada waktu itu (2010) telah berusia sekira 80 tahun dan ia menuturkan tentang toponimi yang sudah didengar sejak masa kakeknya yang bernama Panglima Si Kleing dari Meuraksa, Lhokseumawe. Maknanya, sensitivitas saya dan Anda tidak dapat menggugurkan kenyataan.

 Mohon bersabar sejenak sebab belum tentu semuanya seperti yang kita duga selama ini, dan jangan sampai gara-gara sensitivitas yang tidak sepenuhnya beralasan itu kita akhirnya melepaskan sesuatu yang hakikatnya kita miliki. Menurut Anda yang sensitif, dari mana datangnya istilah Jawi(جاوي) atau Al-Jawi (الجاوي) itu sendiri? Jawiy merupakan sebuah nisbah yang sejak abad ke-16 sudah mulai ditabalkan untuk penghuni kepulauan bawah angin di India Belakang, dan Al-Jawiyyah menjadi nama sebuah bahasa yang merupakan muasal dari Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu hari ini.

Ibnu Baththuthah dalam karyanya menyebut Jawah dan Mul Jawah. Jawah, dalam catatan tahun 746 Hijriah (1346 Masehi) yang ditulis Ibnu Baththuthah, adalah wilayah di mana dijumpai sebuah kota yang besar, indah dan dikelilingi benteng serta menara-menara penjagaan yang terbuat dari kayu. Sultannya seorang Muslim pengikut mazhab Al-Imam Al-A’zham Muhammad bin Idris Asy-Syafi’iy—Radhiyya-Llahu ‘anhu. Sedangkan Mul Jawah adalah sebuah negeri kafir.
Sebelum Ibnu Baththuthah, Marco Polo dalam laporannya juga telah menyebutkan Jawa Minor yang nama negeri-negerinya antara lain Samara.

Maka tentang wilayah pesisir utara Aceh yang disebut dengan Jawah (Javah) dalam kepustakaan geografi Arab adalah sesuatu yang tidak saya ragukan lagi. Pelacakan bukti-bukti untuk adanya daerah inti dari wilayah yang disebut dengan Jawah ini juga masih dilakukan. Daerah aliran Krueng Jawa dan Rayek Jawa di Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara, adalah di antara daerah-daerah yang sangat dinanti-nantikan dapat menyajikan informasi-informasi berguna menyangkut persoalan keberasalan Jawiy atau Al-Jawiy ini.

CISAH Lhokseumawe, pada 2011, telah melakukan ekspedisi besar-besaran di daerah pedalaman yang berjarak kurang lebih 20 km di selatan Lhokseumawe. Selain temuan-temuan dari masa Islam, CISAH juga menemukan petunjuk-petunjuk yang menyemangatkan mengenai kehidupan masa sebelumnya.

 Sesuatu yang sudah ditemukan pula lewat inskripsi pada batu nisan adalah nama negeri-negeri kuno yang diyakini sudah ada sebelum Islam, yakni Pasai di wilayah Krueng Pase, Kedah di wilayah Krueng Keureuto dan Pirak, serta Jambur Ayir di wilayah Krueng Jamboe Aye. Dari ketiga wilayah ini, Kedah atau wilayah Krueng Keureuto merupakan wilayah yang berada di bagian paling tengah.

Pada 2012, CISAH telah melancarkan ekspedisi yang menghabiskan biaya besar untuk menjelajah kawasan Paya Bakoeng dan sebagian Pirak Timur selama dua bulan lamanya. Dari ekspedisi yang didukung Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Utara itu, CISAH membawa pulang berbagai informasi yang mengejutkan. Siapa sangka jika daerah di pedalaman Keureuto yang merupakan daerah paling belakang di Aceh Utara dan bertapal batas dengan rimba tengah Aceh itu merupakan pusat permukiman yang sangat padat, dan layak untuk disebut sebagai sebuah kenegerian atau kerajaan?!

Ratusan kompleks makam tersebar di sepanjang bantaran aliran sungai Krueng Keureuto dan Pirak begitu pula di tepi alur-alur air kuno. Pecahan gerabah dan keramik yang ditemukan di daerah itu, menurut Arkeolog Dedy Satria, juga menunjukkan kelas kehidupan mereka yang mewah, dan telah mampu mengimpor barang-barang mewah sejak abad ke-15 M. Ukuran dan bentuk nisan pada beberapa kompleks makam juga mengesankan adanya satu wilayah politis yang kuat dari sejak sebelum Islam datang.

Dari sumber masyarakat setempat, CISAH pada akhirnya menemukan sebuah kejelasan yang terpercaya bahwa yang dimaksud dengan Kedah pada prasasti Melayu kuno dan Arab di Meunye Tujoeh—yang juga disebut dalam sebuah sumber sekunder—ialah wilayah tengah dari aliran sungai Krueng Keureuto dan Pirak, dan sama sekali bukan Kedah di semenanjung Melayu.

Baca Selanjutnya

Rakyat Aceh pada masa peperangan 
AMP- Masyarakat Aceh dikenal sebagai satu BANGSA yang suka berperang sebagai PEJUANG (the warrior) di ujung Pulau Sumatera, yang mengawal pintu gerbang Selat Melaka, sebagai pintu gerbang masuk dari Timur Tengah (Middle East) ke Timur Jauh, Laut Cina Selatan (South China Sea), dan Pacific-Asia. Penjajah Belanda menyebut, “Orang Aceh pergi ke medan perang seperti pergi ke pesta perkawinan.”

Sejak dunia berkembang, Bangsa Aceh dikenal dalam sejarah perkembangan bangsa-bangsa Asia Tenggara sebagai The Balcony of Mecca (Serambi Mekkah) disebabkan peranannya sebagai pelopor Islam di Asia Tenggara.

Mulai dari zaman Sulthan Alaidin Malikussalih (659-688 H./1261-1289 M.), telah berdatangan ulama-ulama dari Arab, Yaman, Persia dan India, antara lain Syeikh Hamzah al Fansuri yang membuka pusat pendidikan Islam di Aceh, Syeikh Abdurrauf as-Singkili (Syiah Kuala), dan Syeikh Nuruddin Ar-Raniry.

Pada masa kegemilangan Aceh ini jelas tujuan bangsa Aceh sebagai umat Islam sejati, yang benar-benar menyerahkan dirinya kepada Allah sang Maha Pencipta.

Motto hidupnya diucapkan dalam permulaan shalatnya paling kurang 5 kali sehari, “Sesungguhnya shalatku (pengabdianku), ibadahku (apa saja yang aku lakukan), hidupku dan matiku, semuanya untuk-Mu ya Allah, Tuhan dari alam jagad raya.”

Aceh hari ini

Sebagai orang tua Aceh dan sebagai sesepuh pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM), saya melihat Aceh sekarang sangat parah dibandingkan dengan Aceh masa lalu, atau Aceh 1945 atau Aceh masa perjuangan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Aceh hari ini tidak jelas lagi visi dan misi perjuangan bangsa.

Aceh hari ini ngawur dalam bidang ekonomi, pertanian, peternakan, politik pemerintahan, dan pembangunan negeri. Aceh hari ini tidak menentu dari segi dekadensi moral termasuk penggunaan narkoba.

Rakyat Aceh kini berada dalam kebingungan akan kesadaran bernegara, dan beragama. Mereka berada dalam keadaan identity crisis, tidak mengenal siapa dirinya, bagaimana sejarah bangsanya.

Sehingga tidak tahu menempatkan dirinya di tengah-tengah pergolakan bangsa-bangsa Melayu di Asia Tenggara. Tidak mempunyai visi dan misi untuk masa depan, apalagi sebagai satu bangsa di tengah-tengah peradaban internasional.

Dibandingkan 1945, saat-saat Aceh telah memperoleh kembali kebebasannya, bebas dari pendudukan dan pendjadjahan Belanda dan Jepang, tidak ada tekanan dari pihak manapun.

Pada waktu ini, Aceh benar-benar dalam keadaan satu momentum emas, satu kesempatan yang benar-benar langka, kembali kepada posisinya sebagai satu bangsa yang merdeka seperti sebelum invasi Belanda pada 1873.

Pada waktu ini rakyat Aceh benar-benar dalam keadaan lega, euphoria, hingga lupa diri akan identitasnya sebagai satu bangsa yang merdeka, sebagai pelopor Islam di Asia Tenggara.

Sehingga tidak tahu untuk mengibarkan simbol kebangsaannya, benderanya, bendera Aceh, untuk menegakkan kembali negaranya seperti semula sebelum penjajah Belanda dan Jepang menduduki Aceh.

Ironisnya malah ada sebahagian para uleebalang yang ingin mengembalikan penjajah Belanda untuk kembali menjajah Aceh dengan janji memberikan hak-hak istimewa kepada uleebalang untuk menjajah bangsanya sendiri. Mayoritas masyarakat Aceh masa itu bersatu untuk menaikkan bendera merah-putih, satu bendera baru di Aceh yang belum pernah eksis dibumi Aceh sebelumnya.

Rakyat bersatu-padu meneriakkan pekik merdeka, menunjukkan solidaritas mereka terhadap seluruh bangsa-bangsa melayu diluar Aceh yang dulunya sama-sama dijajah Belanda dan Jepang.

Padahal tidak ada persamaan sejarah mereka kecuali hanya sama-sama dijajah oleh Belanda dan Jepang. Apakah ini disebabkan keluhuran budi bangsa Aceh yang sudah biasa dengan solidaritas terhadap bangsa Islam lain di Nusantara?

Mengapa orang Aceh sampai melupakan identitas mereka sendiri sebagai satu bangsa di Asia Tenggara yang mempunyai negara, pemerintahan, bendera, bahasa dan sejarahnya sendiri yang sungguh gemilang? Ini, tentunya, memerlukan analisa dan pembahasan khusus tersendiri, terlalu kompleks untuk dibahas dalam forum ini.

Mengapa mereka tidak menyatakan kemerdekaannya lebih dulu, kemudian mendukung kemerdekaan bangsa-bangsa Melayu lainnya yang pernah dijajah oleh Belanda? Malah ajakan pemimpin Melayu Deli, Tengku Mansur untuk membentuk negara Sumatera ditolak oleh pemimpin Aceh masa itu.

Pada zaman itu rakyat Aceh lebih bersatu, tidak banyak terpecah seperti sekarang ini. Hanya terpecah dua, yaitu yang satu ingin menaikkan kembali bendera penjajah Belanda, Merah Putih Biru, dan yang satunya ingin menaikkan Bendera Merah Putih. Mungkin dianggap sebagai bendera pemersatu umat Islam, meskipun keduanya bukan bendera Aceh. 

Proses kemerdekaan RI berlangsung timbul-tenggelam 1945-1949. Pada mulanya RI yang baru lahir ini berbentuk negara Persatuan, sebagai Federasi persatuan perwakilan bangsa-bangsa Melayu Nusantara, dengan nama RIS (Republik Indonesia Serikat).

Dalam 1949-1953, rakyat Aceh, Jawa Barat, Banjar, dan Bugis, baru sadar bahwa negara yang mereka perjuangkan itu bukan negara Islam. Tiga wilayah Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim itu bersatu dan memproklamirkan DII/TII di bawah pimpinan Imam Kartosuwiryo. 

Perjuangan DI/TII bukanlah perjuangan menghancurkan RI, tetapi satu perjuangan umat Islam Indonesia untuk mengubah konstitusi RI menjadi konstitusi Islam. Pada masa inilah kembali terlihat persatuan dan solidaritas rakyat Aceh, sehingga hampir seluruh rakyat Aceh mendukung perjuangan DI/TII.

Tanda solidaritas

Pada 4 Desember 1976, Dr Tgk Hasan Muhammad di Tiro, memproklamirkan Negara Aceh Sumatra Merdeka. Meskipun proklamasi ini merupakan double standard terhadap proklamasi RIA yang telah diproklamirkan oleh Tgk Muhammad Daud Beureu-éh 15 Agustus 1961, beliau tidak mempersoalkan hal ini. Bahkan, beliau mendukung kepemimpinan Tgk Hasan Tiro dan membantu perjuangan Aceh Merdeka (AM). 

Itu menunjukkan tanda solidaritas yang ikhlas dari kepemimpinan generasi tua kepada generasi muda Aceh. Hampir seluruh Aceh ikut terlibat dan menyokong organisasi AM ini.

Namun demikian, patut disesalkan perpecahan GAM justeru terjadi ketika Tgk Hasan di Tiro mulai uzur. Waktu itu terjadi perebutan kekuasaan antara petinggi-petinggi GAM yang mengakibatkan perpecahan masyarakat Aceh hingga kini. 

Sebagian orang GAM berhasil mendominasi GAM lainnya dan bertindak seolah-olah mereka bukan wakil semua kelompok GAM yang telah terpecah-belah, tetapi mereka sebagai wakil semua masyarakat Aceh. Demikian yang terjadi hingga berlangsungnya perdamaian MoU Helsinki 15 Agustus 2005.
Hasan tiro proklamirkan Aceh Merdeka
Lebih jauh lagi, mereka yang mewakili perundingan menganggap bahwa Aceh ini adalah milik mereka dan dengan lantang menepuk dada menyerukan kepada rakyat Aceh:

“Pilihlah aku, karena akulah pahlawan Aceh yang berhak atas Aceh!” Tanpa menghiraukan bahwa hampir semua rakyat Aceh ikut terlibat secara langsung atau tidak langsung di masa konflik 1976-2005.

Kini, ada tiga partai lokal Aceh --Partai Aceh (PA), Partai Nasional Aceh (PNA), dan Partai Daulat Aceh (PDA)-- yang mungkin di dalamnya masih ada bekas-bekas pejuang AM, atau keturunan-keturunan mereka. 

Ironisnya ketiganya tidak lagi menunjukkan barisan yang membela kepentingan umum rakyat Aceh, yang manifestasinya kita lihat sewaktu Pilkada 2012 lalu, adanya intimidasi sesamanya sampai-sampai terjadi pembakaran posko dan penembakan terhadap pihak lawan.

Di samping tiga partai tersebut diatas ada golongan-golongan radikal yang tidak mengakui MoU Helsinki, dan ada pula golongan yang mencoba menggagalkan Pilkada 2017. 

Ada lagi golongan baru yang ingin memerdekakan Aceh dan menganggap pengkhianat semua pejuang-pejuang GAM 1976, yang terdahulu, menghalalkan semua darah mereka tanpa satu peradilan yang jelas. 

Na’uzubillah, saya mengharapkan tidak ada lagi darah bangsa Aceh yang akan tertumpah dan tidak ada lagi anak yatim baru, akibat dari pergaduhan perebutan kekuasaan dan perang saudara sesama bangsa Aceh. Semoga! (tribunnews)

* Dr. Tgk. H. Husaini Hasan, mantan Menteri Pendidikan Aceh Merdeka. Email: tengkuhalimon@gmail.com

Kisah Guci merayap saat hujan
Pernahkah anda mendengan "Guci" jika anda anak 80an pasti tau dengan benda ini,Guci ini di gunakan oleh sebagian masyarakat aceh pada zaman dulu untuk menampung air.


Rumah masyarakat aceh kala itu banyak membangun rumah adat aceh,Nah adapun Guci ini di letakkan tepat di dekat tangga rumah aceh.
Kisah Guci merayap saat hujan
Ada juga yang menempatkan guci ini di dalam rumah,atau di bawah rumah aceh.


Sebagian dari nenek kita dulu menggunalan Guci ini untuk mempermudah mengambil air untuk keperluan memasak.

Konon Meurut cerita nenek kita terdahulu guci ini memiliki hidung,namum hidung guci ini tidak sama dengan hidung manusia.

Dari cerita nenek kita terdahulu Guci ini saat hujan deras berjalan dengan sendiri nya(mencari lawan),tanpa ada yang membawa nya.

Jika kita pikir dengan logika moderen,hal ini hanya dongeng belaka,namun inilah yang terjadi kala itu.

Yang lebih menarik dari Guci ini ketika hujan selalu mencari lawan,jika sudah menemukan lawan,layak nya domba sedang adu kekuatan.

Namun guci ini saat mencari lawan secara sembunyi-sembunyi supaya si pemilik guci tidak mengetahui nya.

Layak nya anak anak yang sembunyi sembunyi saat mau main hujan,supaya tidak ketahuan sama orang tua.

Nah Jika guci ini ketahuan sama pemelik nya makan resiko nya besar,pemilik guci tersebut akan memukul hidung guci sampai patah.

Yang aneh dari guci ini adalah ketika hidung nya sudah patah,maka guci tersebut tidak berani keluar lagi,karena ia malu hidung nya sudah patah.

Sukarno melanggar perjanjian dengan rakyat aceh
Nanggroe Aceh serambi mekkah telah berdaulat sebagai sebuah kerajaan merdeka dan bahkan menjadi bagian dari kekhalifahan Turki Utsmaniyah, Jauh sebelum NKRI berdiri.

Hal ini sungguh-sungguh disadari Soekarno sehingga ia mengajak dan membujuk Muslim Aceh untuk mau bergabung dengan rakyat Indonesia guna melawan penjajah Belanda.

Saat berkunjung ke naggroe aceh Aceh serambi mekkah pada tahun 1948, Bung Karno dengan sengaja menemui tokoh Aceh,yaitu Daud Beureueh.

Bung Karno selaku Presiden RI menyapa Daud Beureueh dengan sebutan �Kakanda (kakak)� dan terjadilah dialog yang sampai saat ini tersimpan dengan baik dalam catatan sejarah .

Berikut permintaan Presiden Soekarno."Saya minta bantuan Kakak agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945."

Tanggapan Daud Beureueh."Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid."

Presiden Soekarno."Kakak! Memang yang saya maksudkan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Teungku Cik Di Tiro dan lain-lain, yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid."

Daud Beureueh."Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu Saudara Presiden. Dengan demikian bolehlah saya mohon kepada Saudara Presiden, bahwa apabila perang telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan Syariat Islam di dalam daerahnya."

Presiden Soekarno."Mengenai hal itu Kakak tak usah khawatir. Sebab 90% rakyat Indonesia beragama Islam."

Daud Beureueh, �Maafkan saya Saudara Presiden, kalau saya terpaksa mengatakan bahwa hal itu tidak menjadi jaminan bagi kami. Kami menginginkan suatu kata ketentuan dari Saudara Presiden.�

Presiden Soekarno, �Kalau demikian baiklah, saya setujui permintaan Kakak itu.�

Daud Beureueh, �Alhamdulillah. Atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan hati Saudara Presiden. Kami mohon (sambil menyodorkan secarik kertas kepada presiden) sudi kiranya Saudara Presiden menulis sedikit di atas kertas ini.�

Mendengar ucapan Daud Beureueh itu Bung Karno langsung menangis terisak-isak. Airmata yang mengalir telah membasahi bajunya.

Dalam keadaan sesenggukan, Soekarno berkata, �Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi presiden,Apa gunanya menjadi presiden kalau tidak dipercaya.

�Dengan tetap tenang, Daud Beureueh menjawab, �Bukan kami tidak percaya, Saudara Presiden. Akan tetapi sekadar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan kepada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang."

�Sambil menyeka airmatanya, Bung Karno mengucap janji dan bersumpah,Bung Karno bersumpah, �Waallahi (Demi Allah), kepada daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan Syariat Islam.

Dan Waallah, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar dapat melaksanakan Syariat Islam di dalam daerahnya.

Nah, apakah Kakak masih ragu-ragu juga?�Daud Beureueh menjawab, �Saya tidak ragu Saudara Presiden. Sekali lagi, atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati Saudara Presiden.�

Dalam suatu wawancara yang dilakukan M. Nur El Ibrahimy dengan Daud Beureueh, Daud Beureueh menyatakan bahwa melihat Bung Karno menangis terisak-isak, dirinya tidak sampai hati lagi untuk bersikeras meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji presiden itu.

Soekarno mengucapkan janji tersebut pada tahun 1948. Setahun kemudian Acehbersedia dijadikan satu provinsi sebagai bagian dari NKRI.

Namun pada tahun 1951, belum kering bibir mengucap, Provinsi Aceh dibubarkan pemerintah pusat dan disatukan dengan Provinsi Sumatera Utara.

Jelas, ini menimbulkan sakit hati rakyat Aceh. Aceh yang porak-poranda setelah berperang cukup lama melawan Belanda dan kemudian Jepang, lalu menguras dan menghibahkan seluruh kekayaannya demi mempertahankan keberadaan Republik Indonesia tanpa pamrih, oleh pemerintah pusat bukannya dibangun dan ditata kembali malah dibiarkan terbengkalai.

Bukan itu saja, hak untuk mengurus diri sendiri pun akhirnya dicabut. Rumah-rumah rakyat, dayah-dayah, meunasah-meunasah, dan sebagainya yang hancur karena peperangan melawan penjajah dibiarkan porak-poranda.

Bung Karno telahmenjilat ludahnya sendiri dan mengkhianati janji yang telah diucapkannyaatas nama Allah.

Kenyataan ini oleh rakyat Aceh dianggap sebagai kesalahan yang tidak pernah termaafkan.

Semoga pengalaman ini menjadi pelajaran penting bagi kita umat islam indonesia,yang sedang memperjuangkan,supaya si penista agama tetap di tangkap,walaupun ia mengeluarkan airmata buaya.

[Mohammad Said, Pengarang Buku �Aceh Sepanjang Abad Jilid Ke Dua�]

Keberanian pahlawan terdahulu patut di acungi cempol,mereka sangat iklas memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negara.

Hari ini kita menikmati hasil perjuangan para pahlawan kita yang telah merebut kembali kemerdekaan dari penjajah belanda dan penjajah-penjajah lain.

Malahayati, adalah sosok perempuan pemberani yang berasal dari Kesultanan Aceh. Nama aslinya adalah Keumalahayati. Ayah Keumalahayati bernama Laksamana Mahmud Syah.

Foto di bawah ini adalah pelabuhan malahayati yang terletak di krueng raya aceh besar.

Keumalahayati perempuan pemberani asal aceh
Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530-1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.


Pada tahun 1585-1604, memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal, dan mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati.

Makam Malahayati di bukit Krueng Raya, Aceh Besar
Selain dinamakan sebagai nama jalan di berbagai wilayah di Indonesia, nama Malahayati juga banyak diabadikan dalam berbagai hal.

Pelabuhan laut di Teluk Krueng Raya, Aceh Besar dinamakan dengan Pelabuhan Malahayati.

Selain itu, salah satu kapal perang TNI Angkatan Laut dinamakan dengan KRI Malahayati.

Dalam dunia pendidikan terdapat Universitas Malahayati yang terdapat di Bandar Lampung.

Sebuah serial film Laksamana Malahayati yang menceritakan riwayat hidup Malahayati telah dibuat pada tahun 2007.

Nama Malahayati juga dipakai oleh Ormas Nasional Demokrat sebagai nama divisi wanitanya dengan nama lengkap Garda Wanita Malahayati.

Saksimata kekejaman PKI
KH Zakaria (84 tahun) adalah Pengasuh Pondok 'Pesantren Sabilil Mutaqien' (PSM) Takeran, Magetan, Jawa Timur.


ia merupakan salah satu saksi mata yang tersisa peristiwa pemberontakan PKI Madiun 1948. Ia menyaksikan sendiri secara langsung bagaimana kiai dan santri pesantren itu dijemput segerombolan orang bersenjata yang memaksa agar mengakui idelogi komunis.

Dalam wawancara yang dilakukan Republika.co..id beberapa bulan silam, KH Zakaria mengatakan, seusai shalat Jumat pada 17 September 1948 pesantrennya didatangi beberapa orang tokoh PKI.

Kepala gerombolan penculik dipimpin aktivis PKI Suhud. Mereka datang didampingi para pengawal bersenjata yang dikenali sebagai kepala keamanan di Takeran.
Saksimata kekejaman PKI
''Ketika menjemput kepada Kiai Mursyid Suhud menukil ayat Alquran, innalloha laa yughoyirru bi qoumin hatta yughoyiyiru maa bi anfusihim (Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib satu kaum kecuali kaum itu mengubah nasibnya sendiri).


Setelah berkata seperti itu, Kiai Mursyid pun dibawa pergi dan sampai sekarang tak diketahui rimbanya,'' kata Zakaria seraya mengaku bahwa peristiwa itu dan siapa saja orangnya hingga sekarang masih diingatnya dengan baik.
Saksimata kekejaman PKI
Zakaria menceritakan, tak cukup menyerbu pesantren PSM Takeran, pada saat itu banyak pesantren lain yang ada di sekitar Madiun dan Magetan yang juga didatangi gerombolan masa PKI pimpinan Muso itu.


Salah satu di antara yang diserbu itu adalah Pesantren Tegalrejo, sebuah pesantren tua yang ada tak jauh dari wilayah Takeran.

''Ketika massa PKI sampai di pesantren Tegalrejo itu, pengasuh pondok, KH Imam Mulyo ditangkap dan dilempari beberapa granat sembari diancam agar mau tunduk kepada ideologi dan partai mereka. Syukurnya granat itu tak meledak,'' ujar Zakaria.

Karena granat tak meledak, lanjutnya, maka kini ganti para santri yang tadinya diam saja berbalik melawan mereka.

Para gerombolan itu ternyata pengecut karena malah lebih memilih lari karena ketakutan. "Mbah Kiai Pesantren Tegalrejo akhirnya bisa lolos dari penculikan,'' ungkap Zakaria.

Dia kemudian menerangkan bila masa yang menyerbu pesantren itu berpakaian hitam, bersenjata, dan berikat kepala merah.

Melihat proses penculikan, di kemudian hari Zakaria menyimpulkan bahwa aksi kejam berupa penculikan dan pembunuhan yang dilakukan oleh PKI pada bulan September tahun 1948 itu bukanlah aksi biasa yang tanpa tujuan.

Setidaknya, mereka benar-benar sudah mempersiapkannya dengan matang. Ini terbukti hanya dalam waktu singkat para pemberontakan tersebut mampu menguasai wilayah yang cukup luas, yakni meliputi Madiun, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Blora, Pati, Cepu, dan Kudus.

''Sebelum meledak, di sekitar Takeran beterbaran aneka pamflet tentang Muso yang baru pulang dari Moskow. Pesantren Takeran dipilih untuk diserbu karena saat itu menjadi tempat atau basis pergerakan Islam.

Kiai Mursyid mau diajak berunding karena sudah tahu pesantrennya terancam akan dibakar,'' tegas Zakaria.

Pesantren Takeran merupakan pesantren tua. Didirikan oleh seorang bangsawan atau pangeran dari Kraton Yogyakarta yang merupakan salah satu pengikut Pangeran Diponegoro.

Di zaman pergerakan, pesantren yang letaknya di sekitar ladang tebu dan pabrik gula itu menjadi tempat penggodokkan pendirian Partai Masyumi.

Tak jauh dari pesantren itu, di antara lahan perkebunan tebu, terdapat lima lobang sumur yang menjadi kuburan pembantain korban PKI. Beberapa lobang kini sudah didirikan monumen dan menjadi tempat ziarah para keluarga korban pembantaian.

Dari nama korban yang tertera di dinding lobang pembantain, tak hanya para kiai dan santri saja yang menjadi korbannya.

Para pejabat daerah di seputaran Ngawi dan Madiun seperti bupati, kepala polisi, residen, pegawai negeri sipil, juga dibunuh dan jasadnya dibenamkan ke dalam sumur yang berada di dekat pabrik gula Rejosari, Kecamatan Kawedanan, Magetan.

Dan ketika dicek di tembok monumen, di sana terpacak 26 nama. Mereka di antaranya bupati Magetan, para anggota kepolisian, patih Magetan, wedana, kepala pengadilan Magetan, kepala penerangan Magetan, lima orang kiai, dan para warga biasa lainnya. Selain itu masih ada lima sumur lainnya yang juga dipakai sebagai ajang pembantaian.

Bila dijumlahkan, seluruh korban pembantaian tercatat ada 114 orang.

Beberapa nama ulama yang ada di monumen itu di antaranya tertulis KH Imam Shofwan. Dia pengasuh Pesantren Thoriqussu'ada Rejosari, Madiun. KH Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur tersebut setelah disiksa berkali-kali.

Bahkan, ketika dimasukkan ke dalam sumur, KH Imam Shofwan sempat mengumandangkan azan. Dua putra KH Imam Shofwan, yakni Kiai Zubeir dan Kiai Bawani, juga menjadi korban dan dikubur hidup-hidup secara bersama-sama.

Sedangkan korban yang berasal dari keluarga Pesantren Sabilil Mutaqin (PSM) Takeran di antaranya adalah guru asal Arab Saudi Hadi Addaba' dan Imam Faham dari Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran.

Imam Faham adalah adik dari Muhammad Suhud, paman dari mantan mendiang ketua DPR M Kharis Suhud. Bahkan, pada saat peristiwa terjadi Kharis Suhud yang saat itu menjadi anggota tentara Siliwiangi adalah orang yang ikut membebaskan wilayah di sekitar pesantren Takeran dari penguasaan gerombolan bersenjata yang merupakan anak buah Musso.

''Beberapa hari, sekitar sepekan, pasukan Mas Kharis datang untuk membebaskan pesantren kami. Saat itu pangkatnya masih letnan,'' kata Zakaria.

'Saya Masih Ingat Wajah dan Warna Baju Orang Yang Menculik dan Membunuh Kiai Mursyid
Apakah kenangan buruk itu bisa terlupakan? KH Zakaria mengatakan tidak. Bahkan, meski sudah lebih dari

70 tahun berlalu, kenangan akan peristiwa penculikan itu masih diingatnya. Bahkan, laksana gambar hidup, bila diputar untuk diingat kembali, kenangan itu masih sangat jelas. Suasana, ekspresi wajah, dan para pelakunya masih terasa jelas seperti baru saja terjadi.

Berikut ini wawancara lengkap dengan KH Zakaria di rumahnya yang terletak di seberang jalan raya dan sisa rel lori pengangkut tebu.

Di kompleks pesantren inilah kemudian lahir sosok Ketua MPR Kharis Suhud dan konglomerat jaringan media Jawa Pos Dahlan Iskan

Apa yang terjadi di Pondok Pesantren Takeran pada 18 September 1948?


Habis shalat Jumat, saya bersama para santri pondok yang sedang duduk-duduk di serambi masjid melihat ada mobil datang ke pesantren. Mobil itu warnanya hitam dan bentuknya kecil.

Bersama mereka terlihat beberapa orang membawa stand gun dan ada yang membawa karaben. Di situ saya lihat ikut datang seseorang yang katanya berasal dari Jombang sebagai pemimpin rombongan. Orang itu beberapa waktu kemudian saya tahu namanya Suhud.

Sesampai di pesantren dan bertemu Kiai Imam Mursyid Mutaqin, ia kemudian berkata dengan mengutip ayat Alquran yang artinya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum (bangsa) kecuali mereka yang berusaha mengubah nasibnya sendiri. Jadi, katanya rombongan yang datang itu ingin mengubah nasib bangsa Indonesia.

Tapi, sebelum mereka datang, di sekitar pesantren sudah tersebar pamflet yang isinya: Muso, Moskow, Madiun. Pamflet itu tersebar di sepanjang jalan raya yang ada di depan pesantren. Saya yang saat itu duduk di bangku kelas I SMP ikut membaca pamflet itu.

Nah, rombongan yang dipimpin Suhud yang di situ ada pejabat camat Takeran yang menjadi anggota PKI itulah yang menculik Kiai Mursid. Saat itu juga Kiai dibawa pergi.

Jadi, Anda masih ingat peristiwa itu?

Iya betul, bahkan sampai kini mimik wajah, warna pakaian para penculik itu semuanya saya masih ingat. Yang membawa pergi adalah seseorang yang memakai piyama warna krem. Dia pergi bersama Kiai Mursyid yang diapit oleh Suhud dan camat Takeran yang jadi anggota PKI itu.

Setelah Kiai Mursid dibawa pergi, kompleks pesantren ini saat itu kemudian di-stealing (dikepung) oleh para anggota PKI lainnya. Kami dikepung selama sekitar seminggu. Kami ingat betul pengepungan itu membuat persediaan garam di pesantren habis. Kami dikepung sekitar tujuh hari hingga pasukan Siliwangi datang membebaskan kami.

Kemudian bagaimana nasib Kiai Mursyid?

Semenjak dibawa pergi itulah, kami sampai kini tak tahu mengenai keberadaannya. Namun, seorang pemuda yang masih menjadi kerabat dan tinggal tak jauh dari pesantren melaporkan bila beberapa hari sebelum penculikan itu, desa-desa di sekitar Takeran dikepung oleh orang-orang yang berseragam hitam-hitam.

Mereka juga mengepung kantor Kecamatan Takeran. Beberapa rumah haji juga di sekitar Takeran didatangi, didobrak pintunya, dan penghuninya diancam.

Mereka juga memukulinya dan memaksa agar tunduk pada PKI. Kata mereka, "Kamu mau tunduk, tidak?" Kalau tidak, terus dipukuli dan baru berhenti setelah menyatakan menerimanya.

Di situlah saya lihat penculikan itu memang disengaja dan sistematis. Para kader PKI terlihat sudah betul-betul siap melaksanakan gerakannya. Mereka bergerak ke mana-mana.

Apakah ada korban lain selain Pak Kiai Mursyid?

Yang diculik langsung di depan santri memang hanya beliau. Tapi, beberapa hari kemudian banyak santri dan pengurus pesantren juga hilang diculik mereka.

Yang hilang itu kerabat kami, Moh Suhud (ayah Ketua MPR/DPR Moh Kharis Suhud), seorang guru yang mengajar di Mualimin milik Pesantren Takeran; kakak ibu saya, Imam Faham; ada Ustaz Hadi Addaba' (orang Arab yang menjadi guru bahasa Arab) di Pesantren Takeran; Maijo (kepala MI Takeran).

Ada juga yang ikut hilang, yakni Husen (anggota Hizbullah). Juga ada beberapa keluarga kiai pengikut tarekat yang ikut dibunuh. Nama-nama mereka sudah saya lupa persisnya. Namun, setelah jasadnya diangkat dari sumur, jenazahnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Madiun dan Magetan.

Menurut Anda, apa yang membuat pengikut PKI itu begitu membenci para kiai dan santri sehingga mereka tega membunuhnya?


Saat kejadian, saya tak tahu mengapa itu terjadi. Namun, ketika saya mulai besar dan kuliah, saya mulai paham apa dan mengapa peristiwa pembantaian PKI di Madiun terjadi.

Apalagi, pesantren kami ini semenjak dahulu adalah basis pergerakan. Leluhur kami adalah seorang pangeran dari Yogyakarta (Pangeran Kertopati) yang ikut berperang bersama Pangeran Diponegoro.

Dan, di pesantren ini pula Masyumi itu digagas. Jadi, lingkungan kami adalah orang yang paham dunia pergerakan.

Nah, setelah lepas dari situasi itu, dan ketika saya mulai kuliah, saya makin paham dengan situasi politik. Mulai tahun 1960-an, agitasi politik dari PKI memang terus menaik tinggi.

Dan, sama dengan tahun 1948, agitasi itu juga mulai menargetkan dan menyerang posisi kiai yang katanya jadi bagian tujuh setan desa karena punya tanah luas.

Kalau begitu, peristiwa 1948 terus terbawa-bawa hingga 1965?

Peristiwa penculikan di September 1965, di mana anggota PKI menipu kami dengan mengajak Kiai Mursyid berunding dan kemudian menculik dan membunuhnya, itu berbekas di hati.

Ketika semakin besar, saya kemudian mencari jawabannya, misalnya dengan memperlajari sejarah revolusi kaum buruh di Rusia atau revolusi Cina yang dipimpin Mao Zedong.

Di situlah saya tahu Muso itu muridnya Lenin, yang lari ke Moskow setelah memecah Syarikat Islam. Dan dari situ pula saya yakin bila partai komunis itu partai yang bersenjata yang siap merebut kekuasaan kapan saja ketika waktunya tiba.

Di desa-desa sekitar Takeran, semenjak perayaan ulang tahun PKI tahun 1964, terdengar seruan bagi-bagi tanah. Sebutan setan desa muncul di mana-mana. Saat itulah kami yakin peristiwa seperti 1948 akan terjadi lagi. Cuma waktunya belum tahu.

Sumber: rol




Nanggroe Aceh - Semua
orang juga tahu bahwa televisi merupakan teknologi audio visual yang bisa
menampilkan gambar bergerak dan mengeluarkan suara. Sekarang televisi bukanlah
hal baru, semua rumah memiliki televisi dan bahkan ada sekelompok orang yang
menganggap bahwa televisi sudah mulai kuno. Apalagi dengan hadirnya internet
yang menjelma sebagai kebutuhan primer manusia. Akan tetapi ada




Nanggroe Aceh - Ulee Balang atau Hulu Balang dalam kerajaan Melayu merupakan struktur paling penting pada kerajaan Aceh. Ulee Balang merupakan pemimpin yang memimpin kenegerian atau nanggroe (setingkat dengan kabupaten) dalam struktur pemerintahan Aceh. Bangsawan Aceh ini digelari dengan gelar Teuku untuk laki-laki dan Cut untuk perempuan. Kerajaan Aceh menganut sistem monarki absoulut yang




Nanggroe Aceh - Jika kita menapaki masa lalu Aceh, maka kita akan menemukan salah satu sosok pahlawan Aceh yaitu Pocut Baren pahlawan wanita Aceh pembasmi kolonialisme Belanda. Di daerah lain peranan wanitanya belum begitu menonjol, maka Aceh justru muncul banyak tokoh-tokoh wanita yang menjadi pemimpin, baik pemimpin militer maupun kepala pemerintahan. Hal ini membuktikan bahwa dalam gerakan




Nanggroe Aceh - Mercusuar Pulau Breueh pada tahun 1880-an. Mercusuar Pulau Breueh adalah sebuah mercusuar yang terletak di Pulau Breueh, Aceh. Nama mercusuar ini Mercusuar Williems Torren III tapi karena letaknya berada di Pulau Breueh maka disebut dengan Mercusuar Pulau Breueh. Mercusuar ini dibuat atas hasil kerja sama antara Kerajaan Portugis dengan Kerajaan Aceh Darussalam yang dibangun




Nanggroe Aceh - Pada tahun 1873 Belanda menyatakan perang terhadap
Aceh dan berniat menguasai seluruh kekayaan Aceh serta meruntuhkan peradaban
Islam beserta Kerajaan Islam di Aceh yang tidak bisa ditaklukkan oleh Portugis
pada masa silam. Agresi Belanda pertama pada tahun 1873 tersebut dipimpin
langsung oleh Jenderal Kohler seorang Jenderal pasukan Belanda yang tangguh dan
juga komandan
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget