Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Abu Sayyaf"

AMP - Kelompok Abu Sayyaf dilaporkan kembali membebaskan tiga sandera asal Indoensia. Dalam pembebasan kali ini, kelompok yang beroperasi di Filipina Selatan tersebut membebaskan tiga orang sandera asal Indonesia.

Penasihat perdamaian Presiden Filipina, Jesus Dureza mengatakan sama seperti pembebasan sebelumnya, ketiga sandera asal Indonesia ini juga diserahkan ke tokoh MNLF< Nur Misuari sebelum akhirnya diserahkan ke Gubernur Sulu Totoh Tan, lalu kemudian diserahkan kepada militer Filipina.

Deruza menuturkan, dia telah meminta Brigadir Jenderal Arnel Dela Vega, komandan militer Joint Task Force Sulu, untuk memfasilitasi penyerahan sandera dari Tan kepada militer Filipina.

"Misuari meminta saya untuk menyampaikan perkembangan baru ini kepada Presiden (Rodrigo) Duterte, dan atas nama Presiden saya menyatakan terima kasih atas upaya yang dia lakukan," kata Deruza, seperti dilansir gmanerwork pada Minggu (2/10).

Dia menyatakan, ketiga sandera asal Indonesia diindetifikasi sebagai Edi Suryono, Ferry Arifin dan Muhammad Mabrur Dahri.

Total, Abu Sayyaf membebaskan tujuh sandera asal Indonesia dalam kurun waktu dua minggu terakhir. Dengan dibebaskan tiga sandera ini, tinggal tersisa dua sandera asal Indonesia lainnya yang berada di tangan Abu Sayyaf.(Sindonews)

ZAMBOANGA - Kelompok Abu Sayyaf mengobarkan perang besar-besaran melawan pasukan Presiden Filipina Rodrigo Deterte yang mereka klaim sebagai “jihad”. Kelompok bersenjata ini mengaku mengerahkan lebih dari 1.000 militan untuk perang besar.

Abu Sayyaf bahkan tidak akan menunggu untuk diserang pasukan Duterte baik dari polisi maupun tentara Filipina. Sebaliknya, para militan kelompok itu akan “jemput bola” dengan menyerang pasukan Duterte.

Juru bicara Abu Sayyaf, Alhabsi Misaya, mengatakan dalam pesan tertulis pada hari Kamis, bahwa “tanggal 1 September, Abu Sayyaf dan tentara (Presiden Rodrigo) Duterte akan menguji satu sama lain dalam pembebasan.”

Misaya, yang berada di bawah kepemimpinan Radulan Sahiron, pertempuran besar akan pecah di Patikul dan jadi perang terakhir.

”Jika mereka diberi keberanian, perang ini lebih sengit daripada (perang) di Zamboanga,” tulis Misaya dalam salah satu pesan tertulis yang salah satunya dikirim ke media Filipina, Daily Inquirer, yang dilansir Jumat (2/9/2016).

Menurut Misaya, jika tentara Filipina tidak menyerang Abu Sayyaf, maka kelompok itu yang akan melakukan serangan terhadap tentara Duterte.

”Abu Sayyaf siap dengan lebih dari 1000 pasukannya, untuk melakukan jihad,” kata Misaya.

Kepala Komando Mindanao Barat, Letnan Jenderal Mayoralgo Dela Cruz, juga mendapatkan pesan tertulis yang sama dari juru bicara Abu Sayyaf. Namun, dia meremehkan informasi dari Abu Sayyaf itu dengan menganggap sebagai sebutir garam.

”Pesan ini merupakan bagian dari perang mereka, apakah benar atau tidak, kita telah siap untuk itu," katanya. Dia meragukan klaim Misaya bahwa Abu Sayyaf mengerahkan lebih dari 1.000 militan. Dia memprediksi kekuatan Abu Sayyaf hanya 200 hingga 250 militan.

Jenderal Dela Cruz menambahkan bahwa militer akan senang melihat Abu Sayyaf menyerang. "Lebih baik dengan cara ini, sehingga kita tidak lagi memburu mereka,” katanya.(Sindonews)

AMP - Defense Minister Ryamizard Ryacudu announced on Thursday (14/07) that the Philippine military has reportedly killed 40 members of the Abu Sayyaf rebel group — accused of masterminding a series of kidnappings of Indonesian ship crews this year — in a recent attack.

“40 rebels were killed, 37 wounded and others arrested several days ago,” Ryamizard said at the Presidential Palace in Jakarta.

According to the minister, Indonesia has been keeping a close watch on the military operations in Southern Philippines. “We are observing the Philippine military's operation. They had coordinated the attack since last week, and deployed a massive personnel of 10,000 soldiers, cannons, helicopters and other weapons,” said the former Army Chief of Staff.

The retired general also said that the ten Indonesians still held hostage by Abu Sayyaf were still alive and well.

“They are in good condition," Ryamizard said.

Indonesia, the Philippines and Malaysia will meet again next week to work out a way to free the hostages and disarm the rebel group. Ryamizard said the Indonesian Military, or TNI, would most likely offer assistance.

“We will talk about land operations next week,” said Ryamizard.

Coal barges should stick to safe routes

Ryamizard said he will also meet businessmen and ship owners in South Kalimantan on Monday (18/07) to tell them to stick to the standard routes for their coal barges.

“The key is discipline. I will tell whoever owns coal barges to stick to the safe routes,” the minister said.

Ryamizard said sticking to the standard routes may help prevent more kidnappings, especially by Abu Sayyaf-affiliated armed rebels.“If the ships choose to go on other routes and the crew get kidnapped again, it's their own fault.”(beritasatu.com)

AMP - Pemerintah Indonesia terus memantau kondisi Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok bersenjata di Filipina. ‎Pemerintah juga mengaku terus berkoordinasi dengan Militer Filipina dalam upaya pembebasan para sandera.

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengatakan, militer Filipina mengerahkan 10 ribu personelnya untuk mengepung kelompok bersenjata. Bahkan, para personel militer Filipina dilengkapi meriam dan helikopter dalam upaya pembebasan para sandera tersebut.

"Hasilnya beberapa hari yang lalu ada 40 yang mati pemberontak, ada 37 luka-luka, sebagian ditangkap. Operasi akan diteruskan ke arah barat," ujar Ryamizard di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (14/7/2016).

Dia menyampaikan, kondisi para WNI yang disandera kelompok bersenjata dalam kondisi baik. Menurutnya, ada beberapa sandera dari negara lain yang kondisi kesehatannya terganggu. "Sandera negara orang. Kan negara orang sudah lama tuh," ucapnya.
(Sindo)

Ilustrasi militer Filipina bersiap melawan Abu Sayyaf. (Getty Images/Gabriel Mistral)
AMP - Upaya diplomasi pemerintah untuk membebaskan warga negara Indonesia yang disandera oleh kelompok bersenjata di Filipina terhambat karena operasi militer setempat.

“Kami melakukan persuasi dengan berbagai kontak kita di sana, melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh untuk mencari jalan keluar, tapi karena pemerintah Filipina melakukan operasi militer juga, kontak tak selancar yang kita harapkan,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (14/7).

Sejak Rodrigo Duterte dilantik menjadi presiden baru, Filipina memang bertekad untuk membasmi kekerasan yang merebak di negaranya, termasuk kelompok militan Abu Sayyaf. Dalam sepekan terhitung hingga Senin (11/6) saja, militer Filipina sudah menewaskan 40 militan Abu Sayyaf.

Kelompok Abu Sayyaf ini pula yang disinyalir kini menyandera total 10 WNI dalam dua kesempatan berbeda. Tujuh anak buah kapal WNI disandera pada 20 Juni lalu di perairan Laut Sulu.

Berselang sekitar dua pekan kemudian, tepatnya 9 Juli lalu, tiga WNI kembali disandera di perairan Sabah, Malaysia, diduga oleh kelompok militan yang sama.

Kini, pemerintah masih terus mengupayakan pembebasan kesepuluh WNI tersebut. Namun, Arrmanatha menampik rumor yang mengatakan bahwa pihak perusahaan tempat para ABK bekerja menawarkan sejumlah uang untuk membayar tebusan.

“Upaya pemerintah saat ini tidak melakukan pembayaran tebusan. Belum dengar perusahaan telah mempersiapkan sejumlah dana,” tutur Arrmanatha.

Ini bukan kali pertama WNI disandera oleh kelompok militan Filipina. Sebelumnya, ada 14 WNI yang telah dibebaskan setelah diculik Abu Sayyaf.

Selain 10 WNI, Abu Sayyaf saat ini juga menyandera seorang warga Belanda, seorang Norwegia, dan lima warga Filipina.

Menurut pakar keamanan, Abu Sayyaf mendapat puluhan juta dolar dari penculikan untuk digunakan membeli senjata otomatis, peluncur granat, kapal cepat dan peralatan navigasi canggih.

Duterte yang menjabat sejak 30 Juni, berada di bawah tekanan terkait maraknya penculikan yang dilakukan oleh kelompok militan itu akhir-akhir ini. Menteri Pertahanan Filipina mengatakan bahwa penyerbuan ke Abu Sayyaf merupakan prioritas utamanya. (CNN)

AMP - Pemerintah Indonesia akan membawahi tim negosiator dalam pembebasan 10 anak buah kapal (ABK) WNI yang disandera oleh kelompok separatis asal Filipina, Abu Sayyaf.

"Pembentukan tim negosiator terdiri dari pihak Indonesia dan Filipina itu juga di bawah koordinasi pemerintah Indonesia," kata Menko Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan, Selasa (12/07/2016).

Menurut Luhut, pembentukan tim negosiator ini sejalan dengan pilihan pemerintah Indonesia yang mengedepankan upaya perundingan untuk menyelamatkan sandera, mengingat hingga saat ini opsi militer belum bisa dilakukan karena terganjal konstitusi Filipina yang melarang pelibatan militer negara lain untuk beroperasi langsung di negaranya.

"Tidak, belum ada," kata Luhut saat ditanya terkait izin operasi militer untuk pembebasan sandera WNI di Filipina.

Luhut menambahkan selain menyiapkan tim negosiator, Indonesia juga akan mengupayakan kerja sama peningkatan keamanan jalur perdagangan laut melalui pertemuan trilateral antara menteri pertahanan Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Pertemuan tersebut akan diselenggarakan pada Selasa-Rabu pekan depan di Kuala Lumpur, Malaysia.

Sebelumnya, mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis TNI AD Mayor Jenderal (Purnawirawan) Kivlan Zen mengaku akan bergabung sebagai penasihat dalam tim negosiator pembebasan sandera WNI di Filipina. Proses negosiasi juga diperkirakan akan melibatkan pimpinan Moro National Liberation Front (MNLF), Nur Misuari.

Misuari inilah yang pada dasawarsa '90-an aktif menggelar perlawanan bersenjata kepada Istana Malacanang, agar pemerintahan Ferdinand Marcos pada saat itu mau memberi perhatian lebih kepada minoritas muslim di Filipina selatan.
(Rimanews)

AMP  - Mantan negosiator sandera Inspektur Jenderal (Pol) Purnawirawan Benny Joshua Mamoto berpendapat, pemerintah Indonesia harus mempertimbangkan betul-betul opsi mengerahkan militer untuk membebaskan 10 warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok Abu Sayyaf.

Benny mengatakan, kelompok Abu Sayyaf memang ahli dalam menyandera sejak zaman dahulu.

"Mereka itu hidupnya memang dari dulu sudah seperti itu (menyandera demi uang). Oleh sebab itu, mereka sangat menguasai medan, masyarakat pun di pihak mereka. Maka (pengerahan TNI) harus dipertimbangkan betul-betul," ujar Benny saat dihubungi Kompas.com, Selasa (12/7/2016).

Selain itu, fakta bahwa militer Filipina yang hendak membebaskan sandera WNI beberapa waktu lalu banyak yang tewas setelah diserang kelompok Abu Sayyaf, juga harus menjadi pertimbangan serius TNI jika ingin mengerahkan pasukan.

"Ingat kan waktu militer Filipina hendak membebaskan WNI yang disandera beberapa waktu lalu melalui operasi militer dan korban justru banyak jatuh dari militer. Ya iyalah, mereka sangat menguasai medan, mereka sudah pasang ranjau, mereka bisa melihat kita, kita tidak bisa melihat dia," ujar Benny.

Bahkan, lanjut Benny, beberapa kali militer Amerika Serikat 'menggertak' dengan mengerahkan armada lautnya di Filipina Selatan, kelompok tersebut tidak takut.

Oleh sebab itu, pembebasan 10 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf, tidak lain adalah dengan jalan diplomasi, baik diplomasi sosial, kebudayaan sekaligus ekonomi.

Pendekatan yang digunakan haruslah pendekatan kesejahteraan agar mereka tidak lagi menjadikan penyanderaan sebagai mata pencaharian.

"Butuh waktu memang. Tapi enggak ada pilihan lain selain bergerak secara komprhensif, mendorong percepatan peningkatan ekonomi mereka sembari negosiasi-negosiasi," ujar Benny.

Tiga WNI disandera kelompok Abu Sayyaf ketika melewati perairan kawasan Felda Sahabat, Tungku, Lahad Datu Sabah, Negara Bagian Malaysia. Mereka adalah ABK pukat tunda LD/114/5S milik Chia Tong Lim berbendera Malaysia.

Sebelum penyanderaan tiga WNI, tujuh ABK WNI lebih dulu disandera kelompok Abu Sayyaf di perairan Sulu, FilipinaSelatan. Penyanderaan itu terjadi pada Senin (20/6/2016). Selain membajak kapal, penyandera meminta tebusan sebesar Rp 60 miliar.
(kompas.com)

AMP - Mentri Pertahanan Republik Indonesia ryamizard ryacudu sangat berharap dengan upaya tersebut 7 Warga Negara Indonesia yang disandera di Filipina Bisa dibebaskan Dan Kembali ke Tanah Air Indonesia Dengan Selamat.

Untuk Sejauh ini Indonesia dan Filipina Telah Melakukan Rencana Operasi Jalur Laut. Jendral Ryamizard Juga Menambahkan Jika TNI Sudah Mengantongi Izin untuk memasuki Filipina. Namun Walau Begitu TNI Belum Bisa masuk begitu saja ke wilayah tersebut untuk melakukan Penyelamatan.

Hal ini dikarenakan belom ada koordinasi yang jelas dan spesifik antara indonesia dan Filipina untuk melakukan penyelamatan Tersebut.

Ryamizard juga menambahkan jika langkah Koordinasi tersebut akan ia lakukan seusai hari raya idul fitri. Rencana yang akan di bahas adalah teknis operasi jalur darat.


Sejumlah warga memelintas di depan KRI Usman Harun (359) yang bersandar di dermaga Pelabuhan Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Minggu (29/5/2016). (ANTARA/Adwit B Pramono)
AMP - Anggota Komisi I DPR RI Charles Honoris mengapresiasi langkah yang dilakukan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menemui Menteri Pertahanan Filipina Voltaire T Gasmin. Hasil dari pertemuan itu, TNI disebutkan diperbolehkan masuk wilayah Filipina untuk membebaskan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf dan Al-Habsyi.

"Artinya Filipina ingin membuka diri untuk mengajak negara-negara sahabat untuk bekerja sama. Untuk menyelesaikan permasalahan yang harusnya diselesaikan sejak lama," kata Charles di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa, 28 Juni 2016.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu menambahkan, bahkan dengan adanya pertemuan antara menteri pertahanan dua negara, kerja sama antar dua negara bisa meningkat untuk melawan, kelompok separatis itu.

"Kalau memang perlu, bukan hanya sekadar membebaskan sandera, tapi bagaimana menghentikan atau menyelesaikan permasalahan Abu Sayyaf ini secara permanen," ujarnya.

Namun, Charles mengingatkan perlu kehati-hatian Indonesia terutama TNI bila akan masuk ke wilayah Filipina untuk membebaskan WNI yang disandera. Hal itu untuk menghindari berbagai risiko terburuk.

"Dalam mengambil tindakan, tentunya harus ada koordinasi intelijen yang lebih baik. Saya sangat yakin TNI bisa apabila diizinkan operasi bersama dengan Filipina. Saya yakin TNI bisa membebaskan sandera," tegasnya.

Menurutnya, Abu Sayyaf merupakan kelompok kriminal yang harus dilawan. "PBB sendiri sudah menyebutkan kalau Abu Sayyaf adalah kelompok teroris yang sangat berbahaya. Masuk daftar teroris dunia," ujarnya.
(Viva)

AMP - Seorang pria Kanada yang disandera selama berbulan-bulan oleh kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina telah dibunuh.

Robert Hall, pria asal Kanada tersebut, ditahan milisi Abu Sayyaf sejak September 2015.

Canadian Broadcasting Corporation membenarkan bahwa Hall dipenggal setelah menerima informasi dari sekitar persembunyian Abu Sayyaf di Pulau Jolo, Filipina selatan.

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, juga mengatakan 'Hall sudah dibunuh' oleh para penangkapnya.

"Saya berkeyakinan bahwa warga Kanada, Robert Hall, yang disandera sejak 21 September 2015 telah dibunuh oleh orang-orang yang menahannya," kata PM Trudeau, hari Senin (13/06).

Abu Sayyaf sudah memperingatkan mereka akan membunuh Hall jika tidak menerima uang tebusan jutaan dolar.

Pada April lalu kelompok ini membunuh John Ridsdel, direktur perusahaan pertambangan yang juga memegang kewarganegaraan Kanada.

Hall dan Ridsdel termasuk dari empat sandera yang ditahan ketika tengah berada di kawasan wisata pantai.

Abu Sayyaf terbentuk 15 tahun lalu di Filipina selatan dan melancarkan sejumlah pengeboman, pembunuhan, dan penculikan.
(BBC)

AMP - Peneliti Madya Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia, Ridlwan Habib menilai pro-kontra siapa yang paling berjasa dalam pembebasan 10 WNI yang ditawan militan Abu Sayyaf cukup wajar. Hanya saja, para petugas yang bekerja di lapangan telah terbiasa dengan prinsip operasi senyap yang jauh dari sorotan media.

“Prinsip dari teman-teman yang bekerja di lapangan adalah kredo-kredo operasi senyap. Kredo operasi senyap itu ya berhasil tidak dipuji, mati tidak diakui, gagal dicaci maki,” jelas Ridlwan kepada Kiblat.net melalui sambungan telepon, beberapa waktu lalu.

Ridlwan menekankan, dalam kasus ini, operasi diplomasi dan operasi intelijen lebih dikedepankan ketimbang operasi militer.

“Ada dua kendala utama. Kendala pertama adalah kendala prosedural formal, yakni operasi militer itu harus mendapatkan persetujuan dari pemerintah Filipina. Persetujuan itu juga harus disetujui oleh parlemen atau senat. Ini sangat rumit dan ini membutuhkan proses yang sangat panjang,” tambahnya.

Adapun, kendala yang kedua adalah kendala teknis yang bersifat taktis. Artinya, lokasi kesepuluh sandera itu dalam posisi koordinat yang dipisah-pisah. Setidaknya, Ridlwan menuturkan ada empat titik korrdinat. Jadi, kalau dilakukan operasi ekstraksi militer harus dilakukan saat itu juga, pada jam yang sama, pada empat titik yang berbeda. “Ini almost immposible (hampir tidak mungkin),” kata pengamat intelijen ini.

Dilanjutkannya, operasi militer untuk pembebasan sandera bisa saja menjadi opsi yang diambil, tapi kemungkinan ada sandera yang meninggal sangat besar.

Terkait empat sandera yang tersisa dalam tawanan milisi Abu Sayyaf, Ridlwan menegaskan bahwa mereka juga prioritas. Keempat sandera ini juga harus diprioritaskan dengan segala cara, terutama melalui pendekatan dialogis, negosiasi tradisional, serta pendekatan-pendekatan kesukuan.

Ia juga menjelaskan ada kemungkinan bahwa keempat WNI yang masih disandera ini dibawa oleh faksi Abu Sayyaf yang berbeda. Sebagaimana diketahui militan Islam di Filipina terbagi ke dalam beberapa faksi seperti MILF, MNLF, BIFF. Sementara Abu Sayyaf merupakan salah satu pecahan dari sejumlah faksi besar pejuang Islam Filipina.

Ridlwan melihat, pendekatan dialogis dalam upaya pembebasan sandera yang ditawan Abu Sayyaf sangat penting. Pasalnya, mereka melihat juga warga yang disandera ini siapa, asalnya dari mana, kemudian sukunya apa, serta apa agamanya.

Kemudian, para militan itu juga berhitung apakah negara asal sandera itu dalam konflik Filipina selatan itu pro-pemerintah Manila atau tidak. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia dinilai punya hubungan yang cukup baik dengan pejuang Filipina selatan.

“Bertahun-tahun Umar Patek sembunyi di sana. Dulmatin juga sembunyi di sana. Dulu mujahidin-mujahidin alumni Ambon, Poso latihannya di Moro. Teman-teman Sri Rejeki, tahun 2003, Yusuf dan kawan-kawan belajar bikin bom lontong disana. Jadi, posisinya sangat akrab secara geo-politik, ada kedekatan,” jelas Ridlwan.

Dilanjutkannya, itulah faktor yang membedakan sikap pejuang Abu Sayyaf ketika memperlakukan sandera asal Indonesia dengan sandera asal Kanada. Sebab, Kanada tidak memiliki koneksi yang bagus dengan Filipina.[kiblat.net]

AMP - Anggota Komisi III DPR RI Adies Kadir meragukan keberhasilan operasi militer pembebasan WNI yang disandera kelompok milisi Abu Sayyaf, Filipina. Keraguan ini dipicu oleh belum berhasilnya operasi penangkapan gembong teroris Poso, Santoso alias Abu Wardah.


Politisi Golkar ini mengatakan, masalah pembebasan 10 WNI yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf saja sampai saat ini belum juga diselesaikan. Hal ini, kata Kadir sangat membahayakan para tawanan orang Indonesia.

"Kasus Abu Sayyaf, pemerintah mau kirim pasukan menghadapi persoalan yang tidak kita ketahui medannya. Bandingkan dengan Poso, yang tak mampu diatasi. Apa tidak mati konyol kita di sana," tegas Adies dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Kepala Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Tito Karnavian, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (13/4/2016).

Hingga kini, 10 WNI yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf belum bebas. Pemerintah Indonesia mengisyaratkan memperkuat negosiasi, setelah pihak militer Filipina gagal melumpuhkan kelompok Abu Sayyaf. [posmetro]

AMP - Para pejabat militer Filipina bersumpah akan menghancurkan kelompok ekstrimis Abu Sayyaf. Hal ini terjadi setelah 18 tentara Filipina tewas dalam pertempurang sengit di Pulau Basilan.

"Setelah kami berduka untuk tentara kita, kita akan melanjutkan pertarungan," kata Menteri Pertahanan Filipina Voltaire Gazmin dan pejabat militer dalam sebuah pernyataan bersama dikutip dari Daily Mail, Minggu (10/4/2016).

Sementara Kepala Staf Angkatan Darat Filipina, Letjen Eduardo Ano mengatakan, militer bertujuan untuk menghancurkan Abu Sayyaf. "Terutama sekarang kita telah menemukan lokasi yang tepat dari kelompok itu," katanya.

Sebelumnya, sebuah pertempuran sengit terjadi di daerah pedalaman di Pulau Basilan. Pertempuran selama 10 jam itu menewaskan 18 tentara Filipina dan melukai 53 orang tentara. Pertempuranitu juga menewaskan 5 anggota Abu Sayyaf, dimana satu diantaranya diketahui berasal dari Maroko.

Pasukan Filipina yang dikirim ke Basilan kemarin sejatinya untuk membunuh atau menangkap komandan Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon.

Kelompok Abu Sayyaf didirikan pada tahun 1991 di Basilan, sekitar 550m (880 km) sebelah selatan dari Manila. Kelompok ini telah bersumpah setia pada ISIS yang dipimpin Abu Bakr Al-Baghdadi pada bulan Juli 2014.(Sindonews.com)

AMP - 18 Tentara Filipina tewas dalam aksi baku tembak dengan kelompok Abu Sayyaf. Mereka diketahui berasal dari pasukan khusus militer.

Tidak hanya ada korban tewas, 50 orang pasukan khusus ini mengalami luka-luka. Pasukan khusus militer Filipina ini tergabung di batalion infanteri ke-44, pasukan infanteri 14, dan terutama batalion pasukan khusus ke-4.

Berdasarkan informasi berbagai sumber, Minggu (10/4/2016), batalion pasukan khusus ke-4 diketahui lebih sering melakukan operasi kontra-terorisme di dalam negeri khususnya di wilayah-wilayah gerilyawan di Filipina Selatan. Batalion pasukan khusus ke-4 merupakan bagian dari resimen pasukan khusus airborne yang didirikan pada tahun 1960.

Beberapa tugas yang pernah diemban pasukan ini adalah operasi antigerilya melayan Moro Islamic Liberation Front (MILF) dan Moro National Liberation Front (MNLF) serta operasi keamanan kelompok Abu Sayyaf, Jamaah Islamiyah, dan Al-qaeda di Mindanao.

Sementara itu, batalion infanteri ke 44 merupakan bagian dari divisi infantri Filipina. Khusus untuk pasukan ke-44 ini berada di wilayah Zamboanga City yang berdekatan dengan Provinsi Basilan yang disebut sebagai salah satu benteng pertahanan dari kelompok Abu Sayyaf.

Pemerintah Filipina mengakui pihaknya menugaskan pasukan ini untuk melakukan pencarian dan pembebasan sandera yang dtahan kelompok Abu Sayyaf. "Pasukan Joint Task Grup Basilan melakukan operasi militer di Provinsi Basilan dan melakukan kontak dengan 120 orang pasukan Abu Sayyaf di bawah pimpinan Hapilon dan Furuji Indama," ujar juru bicara militer Mayor Filemon Tan.

Di tempat terpisah, Kolonel Benedict Manquiquis menyebutkan kontak senjata terjadi saat pasukan sedang dalam perjalanan ke lokasi kelompok Abu Sayyaf. Saat berada di tengah jalan, pasukan pemerintah disergap. Kelompok Abu Sayyaf disebut berada dalam posisi yang menguntungkan karena berada di wilayah tinggi.

"Musuh berada dalam posisi yang lebih tinggi. Jadi di mana pun tentara kami mencari perlindungan, mereka masih bisa terkena senjata berat dan peledak dari kelompok Abu Sayyaf," terangnya.

Menteri Pertahanan Voltaire Gazmin dan Kepala Militer Filipina Jenderal Hernando Iriberri bahkan langsung terbang menuju markas komando di Zamboanga City untuk melakukan peninjauan usai baku tembak.

"Operasi Militer akan terus berlanjut dan mereka harus bertanggung jawab atas kejahatan mereka," ujar Iriberri.

Iriberri yang berada di Zamboaga juga menyempatkan diri untuk menjenguk pasukan elite yang luka dan dirawat di rumah sakit usai baku tembak dengan kelompok Abu Sayyaf. Dirinya juga memberikan medali penghargaan kepada 53 tentara yang dirawat. (Detik.com)

AMP - Militer Filipina mengirimkan pasukan dari dua batalion tempur ke Pulau Basilan pada Sabtu (9/4) menjelang pukul delapan waktu setempat. Itu sehari lewat tenggat pembayaran uang tebusan yang diminta kelompok teroris Abu Sayyaf (ASG) atas 10 warga Indonesia yang menjadi sanderanya.

Namun, pasukan yang terlibat dalam palagan, yang berlangsung selama hampir 10 jam, belum sanggup menjangkau lokasi para tawanan. Pasalnya, kubu lawan kadung menyergap.

"Pasukan pendahulu di depan kami terkena ranjau darat. Setelah itu, tiba-tiba tembakan terdengar dari mana-mana," ujar seorang anggota pasukan. Dalam pertempuran jarak dekat tersebut, yang "hanya berjarak 10 meter", 18 orang dari pihak tentara Filipina dan lima orang dari kelompok Abu Sayyaf tewas. Sebanyak 56 tentara dan 20 militan juga diperkirakan terluka.

Menurut laman South China Morning Post, serangan militer itu membidik Isnilon Hapilon, komandan Abu Sayyaf. Sang target telah menyatakan sumpah setia kepada gerombolan ISIS. Ia menjadi buruan selama bertahun-tahun berkat sejumlah keterlibatan dalam serangan teroris. Bahkan, pemerintah Amerika Serikat menghargai kepalanya 5 juta USD, atau sekitar Rp65,6 miliar.

Laporan yang muncul pascaserangan, Isnilon tidak terlihat dalam daftar tewas. Tapi, sang putra, Ubaida Hapilon yang justru menemui akhir hidupnya.

Kegagalan itu tidak mencerminkan besarnya dana yang telah digelontorkan pemerintah Amerika Serikat untuk program antiterorisme Filipina. Padahal, ukuran kelompok Abu Sayyaf tidak sebanding dengan militer Filipina. Dalam peta organisasi militan yang dibuat Stanford University, jumlah pejuang kelompok berideologi Salafi-Sunni itu berkisar 500 orang (Mei 2015). Angka itu lebih kecil dari 2008 (500 orang) dan 2010 (445 orang).

Untuk persenjataan sendiri, belum ada data pasti mengenai koleksi kelompok. Namun, Ali Fauzi Manzi, pengamat urusan terorisme dan mantan aktivis gerakan radikal asal Lamongan, Jawa Timur, kepada Viva.co.id mengatakan persenjataan kelompok Abu Sayyaf komplet.

"Di sana, amunisinya lebih komplet daripada teroris (di) Indonesia. RPG (rocket- propelled grenade), granat untuk antitank itu, seperti sampah di sana. Seperti mortar, apalagi hanya M-16 dan AK-47 banyak sekali, biasa di sana," ujarnya, Rabu (30/3), seraya menambahkan bahwa milisi Abu Sayyaf sudah biasa menghadapi tentara Filipina.

Ali Fauzi, adik pelaku Bom Bali 2002 Amrozi, Ali Gufran, dan Ali Imran, mengetahui detail tersebut karena pernah mengikuti pelatihan militer di Mindanao saat bergabung dengan Moro Islamic Liberation Front (MILF). Ia pun mengaku pernah "bersentuhan dengan kelompok Abu Sayyaf pada tahun 2002 sampai 2005."

Pada 2005, pemerintah Filipina pernah mengeluarkan taksiran mengenai perlengkapan militer ASG. Dilansir Stanford, jumlah senjata yang dimiliki kelompok itu mencapai 480 pucuk. Gerombolon tersebut juga dianggap memiliki peralatan untuk melihat menembus kegelapan (night vision), sensor panas tubuh, perahu cepat, dan lain sebagainya.

Yang mengagetkan, diduga sejumlah perlengkapan itu dipasok oleh angkatan bersenjata Filipina. Hal demikian tentu mengindikasikan problem korupsi yang menggerogoti militer setempat.

Selain itu, ASG pun diduga mendapatkan senjata dari kelompok Infante--sindikat penjualan obat bius dan senjata yang pemimpinnya dibekuk pada 2003--serta dari Viktor Bout, pedagang senjata gelap internasional yang turut memasok persenjataan Al-Qaeda dan Hizbullah sebelum tertangkap pada 2008. (beritagar.id)

AMP - Indonesia memiliki pengalaman membebaskan seorang WNI yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di wilayah Filipina selatan pada 2005.

Operasi pembebasan yang bersifat "tertutup" dan melibatkan TNI, Badan Intelijen Negara (BIN), BAIS dan Polri ini berhasil membebaskan seorang awak kapal Bonggaya 91, Ahmad Resmiadi, pada Maret 2005, dari penyanderaan kelompok Abu Sayyaf.

Walaupun situasinya tidak sama persis, operasi pembebasan Ahmad Resmiadi ini dapat dijadikan pelajaran dalam upaya pembebasan 10 WNI oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina selatan, kata bekas negosiatornya.

Inspektur jenderal (purnawirawan) Benny Joshua Mamoto mengatakan, proses pembebasan sandera membutuhkan waktu panjang, kesabaran, ketelitian, fokus dan koordinasi antar instansi terkait.

"Harus ada kendali, tidak boleh jalan-jalan sendiri, sehingga dengan mudah progress (kemajuannya) dan arahnya bisa dikontrol," kata Benny kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Minggu (10/04) malam.

Pada 2005, Benny Mamoto ditunjuk oleh Kapolri (saat itu) Jenderal Da'i Bachtiar untuk membantu operasi yang bersifat "rahasia". Mereka ditugaskan untuk membebaskan tiga orang anak buah kapal (ABK) Kapal Bonggaya 91 yang diculik kelompok Abu Sayyaf.

"Dari penyanderaan sampai dengan operasi militer itu (memakan waktu) tiga bulan," ungkapnya.

Pada 30 Maret 2005, tiga orang WNI itu mulai disandera, dan operasi militer Filipina yang digelar pada 12 Juni berhasil membebaskan dua sandera. "Tapi dua agen mereka dibunuh," ungkap Benny.

Adapun satu orang sandera lainnya, yaitu Ahmad Resmiadi, dibawa kabur oleh kelompok penculik Abu Sayyaf ke dalam hutan, ungkapnya.

"Setelah itu, Filipina janji satu minggu akan ada operasi militer, tapi saya tunggu seminggu, dua minggu, hingga sebulan, tidak ada berita. Mulailah saya turun," jelas Benny.

Walaupun tidak bersedia menjelaskan detail teknik operasi pembebasannya (yang disebutnya bersifat "tertutup"), Benny mengatakan, "Saya langsung dengan negosiasi dengan kelompok penculik selama tiga bulan."

"Sampai dengan 9 September 2005, kita akhirnya berhasil membebaskan Ahmad Resmiadi," katanya.
'Negosiator satu pintu'

Dari pengalamannya menjalankan peran negosiator, Benny mengatakan kelompok penculik yang menuntut tebusan biasanya akan menekan, meneror dan mengancam keluarga, perusahaan serta pemerintah dari pihak sandera.

"Maka, dari pengalaman saya, negosiatornya harus satu pintu. Boleh satu orang, satu tim, tetapi satu pintu," ungkap mantan Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) ini.

Dengan demikian, kelompok penculik tidak dapat meneror kepada pihak manapun karena sudah disepakati untuk kontak kepada satu pihak saja.

"Dengan satu pintu, kita bisa mengarahkan dia (penculik), bisa mengendalikan dia, bisa mempengaruhi dia, sehingga kemauan kita yang dituruti dan bukan kemauannya," jelas Benny.

Kepada keluarga sandera, pemerintah harus bisa membuat mereka tenang dan tidak panik, katanya.

"Saya dulu membangun komunikasi yang baik dengan keluarga agar mereka tahu day by day kemajuannya," ungkapnya.

Sambil operasi berjalan, pihaknya juga terus mengenali penculiknya dan mengecek terus kondisi kesehatan sandera. "Dan dalam berkomunikasi dengan penculik, gunakan isu-isu yang menyentuh. Bagaimanapun mereka manusia," ujar Benny.

Dimintai komentarnya tentang proses pembebasan terhadap 10 WNI yang saat ini disandera kelompok Abu Sayyaf, Benny mengatakan langkah pemerintah Indonesia sudah tepat.

"Diplomasi diutamakan, ibu menlu sudah turun ke Filipina, instansi terkait sudah berkoordinasi untuk lobi dan pertukaran informasi," katanya.(BBC)

AMP - Militer Filipina kalah telak saat menyerbu kelompok bandit Abu Sayyaf di Basilan, Filipina Selatan. Total ada 18 pasukan yang tewas. Apa penyebabnya?

Diberitakan AFP, Minggu (10/4/2016), seorang juru bicara dari tentara Filipina yang ikut penyerbuan, Kolonel Benedict Manquiquis, kepada radio DZRH menjelaskan, pasukan Filipina saat itu sedang dalam perjalanan menuju lokasi kelompok Abu Sayyaf. Tiba-tiba di tengah jalan, mereka disergap lebih dulu oleh kelompok ekstrem tersebut.

"Kelompok kami sedang dalam perjalanan untuk menyerang mereka. Saat di perjalanan, mereka disergap," kata Benedict.

"Musuh berada dalam posisi yang lebih tinggi. Jadi di mana pun tentara kami mencari perlindungan, mereka masih bisa terkena senjata berat dan peledak dari kelompok Abu Sayyaf," tambahnya.

Dilansir dari detik.com, Data yang disampaikan Benedict menyebutkan, 18 tentara Filipina tewas, empat di antaranya dipenggal kelompok Abu Sayyaf. Dari pihak musuh, ada 5 orang tewas. Sebagian lagi, 53 tentara dan 20 kelompok Abu Sayyaf luka-luka.

Pertempuran ini terjadi sehari setelah seorang pendeta asal Italia, Rolando Del Torchio, dibebaskan oleh kelompok Abu Sayyaf. Rumor menyebut, pria tersebut bebas karena mendapat tebusan. Namun kabar ini belum terkonfirmasi.

Otoritas Filipina menemukan Rolando Del Torchio pada Jumat (8/4) malam di atas sebuah kapal feri yang berlabuh di pulau terpencil, Jolo, yang merupakan basis utama kelompok Abu Sayyaf. Jolo berlokasi sekitar 950 kilometer selatan ibukota Manila.

"Korban sekarang kurus. Dia kehilangan banyak berat badan dibandingkan dengan apa yang kami lihat di foto-foto lamanya," kata juru bicara militer wilayah setempat, Mayor Filemon Tan kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (9/4/2016).

"Selain itu, dia baik-baik saja," imbuhnya.

Tan mengatakan, pemerintah Italia telah mencarter sebuah pesawat swasta untuk membawa pergi Del Torchio. Namun tidak disebutkan kemana pria itu dibawa pergi.

Masih ada sejumlah sandera dalam penguasaan Abu Sayyaf, termasuk 10 WNI yang sudah disandera sejak beberapa pekan lalu.

© SuaraNetizen.Com

AMP - Upaya Filipina untuk membebaskan 18 warga asing, termasuk 10 pelaut asal Indonesia dari tangan militan Abu Sayyaf menemui jalan buntu. Satu peleton pasukan yang diterjunkan ke Provinsi Basilan tak berdaya menghadapi hujan peluru yang dilancarkan para ekstremis tersebut.

Alhasil, 18 tentara tewas bersama dengan lima militan Islam setelah terlibat baku tembak selama 10 jam. Sedangkan 50 tentara lainnya mengalami luka-luka.

Harian Philippine Daily Inquirer sampai melaporkan, seluruh peleton 'dihabisi', dan empat di antaranya dipenggal. Padahal, pasukan yang dikirim merupakan pasukan elite di Filipina, yakni Pasukan Batalion Khusus Ke-4 dan Batalion Infanteri ke-44, mereka diadang lebih dari 100 militan Abu Sayyaf.

"Pasukan kami sedang akan menyerbu mereka. Di perjalanan kami disergap," kata Kolonel Benedict Manquiquis, juru bicara militer wilayah Basilan kepada stasiun radio DZRH, seperti dilansir BBC, Minggu (10/4).

Keberadaan mereka di provinsi tersebut adalah memburu militan Abu Sayyaf yang diinformasikan bersembunyi di Pulau Joso. Mereka berusaha mencium jejak kelompok yang berafiliasi dengan ISIS tersebut selama dua minggu terakhir.

Pasukan Batalion Khusus Ke-4 yang diterjunkan untuk memburu militan Abu Sayyaf bukan pasukan sembarangan, mereka merupakan bagian dari pasukan penerjun payung atau lintas udara. Pasukan ini berada di bawah komando Pasukan Resimen Khusus.

Pasukan elite ini berdiri pada 1960-an oleh Kapten (Inf) Fidel V Ramos, sekaligus komandan pertama di pasukan tersebut. Pasukan ini dilatih melalui Operasi Perang Non-konvensional dan Operasi Perang Psikologis, bahkan dilatig langsung oleh Pasukan Khusus AS yang dikenal dengan Baret Hijaunya.

Sejak berdiri, pasukan ini sudah diterjunkan untuk mengatasi pemberontakan dan terorisme, utamanya kelompok militan Moro. Kini, mereka ikut berhadapan dengan Abu Sayyaf dalam misi pembebasan sandera.

Sementara Batalion Infanteri ke-44 berada di bawah komando Divisi Regular Pertama, yang juga dikenal dengan nama Divisi Tabak. Pasukan ini terbentuk sejak 5 Mei 1936, serta ikut terlibat dalam pertempuran melawan Pasukan Jepang di kawasan Pasifik.(MDK)

AMP - Kelompok Abu Sayyaf sudah membebaskan satu sandera pada Jumat (8/4).

Tawanan yang sudah di tangan Abu Sayyaf selama enam bulan di Sulu, Filipina selatan ini adalah mantan misionaris berkebangsaan Italia, Rolando del Torchio.

Mindanao Examnier edisi Jumat (8/4) melansir, Torchio sudah dibawa pasukan keamanan Filipina ke sebuah pangkalan militer di Jolo.

Torchio (57 tahun), dalam kondisi kesehatan yang buruk dan harus dirawat di rumah sakit militer. Dia juga sudah diperiksa (awal) oleh petugas, namun pihak berwenang belum merinci proses pembebasannya.

Tidak diketahui berapa banyak uang tebusan yang harus dibayar keluarga atau negaranya ke Abu Sayyaf.

Torchio diketahui diculik oleh enam orang bersenjata pada bulan Oktober tahun lalu. Dia bekerja sebagai misionaris di Pontifical Institute for Foreign Missions, pada tahun 1984 hingga 2001.

Kabar sandera lainnya hingga kini belum diketahui. (jpnn)

AMP - Tenggat waktu kelompok Abu Sayyaf yang meminta tebusan uang sebesar Rp15 miliar berakhir kemarin. Namun Rahmi Rianda isteri Mahmud salah satu kru kapal Brahma 12, yang jadi tawanan kelompok Abu Sayyaf mendapatkan kabar jika para kru kapal selamat dan sehat.

Kabar tersebut didapat Rahmi dari pihak perusahaan via telepon di kediamannya di Kelurahan Benten, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Sabtu pagi (9/4/2016).Rahmi mengharapkan suaminya dan para tawanan lainnya dapat segera dibebaskan dan kembali ke kampung halaman mereka dengan selamat.

Mahmud sendiri dikabarkan tercatat beralamatkan di Banjarmasin, Kalimanatan Selatan, tapi kenyataannya merupakan warga asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Mahmud dan istrinya tinggal di Kelurahan Benten, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo.

Sebelumnya Rahmi Rianda beserta anak serta keluarganya selalu menanti perkembangan rencana pembebasan suaminya baik lewat telepon maupun pemberitaan televisi..

Ibu beranak satu tersebut terlihat berusaha tegar sambil memangku anaknya yang masih berumur dua tahun sambil menatap foto suaminya.

Foto Mahmud suaminya yang gagah serta tegap bersama dirinya itulah sebagai pengobat rasa rindunya. Selain Mahmud ada seorang warga Wajo lainnya yang menjadi tawanan kelompok milisi Islam garis keras pimpinan Abu Sayyaf. Dia adalah Surianto warga Kelurahan Gilireng.(Sindowens)
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget