Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Nasionalisme"

jama'ah Haji dari Mandailing di kedutaan Hindia Belanda di Jeddah tahun 1883 | Sumber: Tropemuseum
| Oleh Ridwan Hd. |

Surat kabar Swara Umum yang dipimpin Dr. Sutomo pada bulan Juni hingga Agustus 1930 secara berturut-turu memuat artikel yang menyentak umat Islam. Artikel yang ditulis oleh Homo Sum menjelaskan keraguannya terhadap manfaat pergi haji. Si penulis memandang ibadah haji adalah sebuah kerugian.

Seperti yang dikutip Deliar Noer di dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, pada Swara Umum Tahun I No. 50 yang terbit 18 Juni 1930, Homo Sum mengatakan, �Kita tidak membantah bahwa orang yang akan pergi ke Mekkah itu belajar berhemat untuk menurutkan kehendaknya, karena keyakinanya, ia tidak mengingat lagi bahwa pergi meninggalkan tanah tumpah darah itu berarti menimbun modal sini untuk keuntungan orang lain.�

Kemudian Homo Sum juga memperbandingkan ibadah haji ke Mekkah dengan pembuangan para politikus ke Digul. Ia menganggap mereka yang dibuang ke Digul lebih bermartabat dari pada pergi haji.

Tambahnya lagi, Homo Sum juga menyayangkan banyak orang Indonesia menghilang di Mekkah. Pada No. 69 dituliskan, �Tahun ini kira-kira 29.000 orang pergi naik haji. Tetapi hanya 26.900 orang yang kembali, jadi kira-kira 2.100 orang tidak kembali .... Betapa banyak saudara kita sebangsa yang mati di negeri orang ... Agaknya jumlah 1.500 tidaklah terlalu berbeda dari yang sebenarnya. Apakah angka-angka ini tidak menyebabkan kita orang Islam sedih dan duka, disebabkan oleh payah harta dan payah jiwa karena kepercayaan kita?�

Pada No. 73 yang terbit 13 Agustus 1930, Homo Sum kembali menyudutkan umat Islam agar tidak mengikuti �Islam Arab�, melainkan �Islam yang sebenarnya�. Ia berkata, �Saudara-saudara Muslim, ingatlah Islammu yang sebenarnya, jangan buat kesalahan dengan menyembah berhala Arab!�

Homo Sum tidak menjelaskan maksud �Islam yang sebenarnya�, tetapi komentar pihak redaksi yang mendukung pemikiran Homo Sum menjelaskan, �... peringatan (Homo Sum) bukanlah yang pertama sampai kini. Dengan bangkitnya Islam (di Jawa) para wali membangun masjid Demak dengan maksud agar orang Islam di negeri kita tidak membuat kesalahan dengan mengarahkan muka mereka ke tanah Arab.�

Artikel-artikel Swara Umum atas nama Homo Sum menimbulkan reaksi keras dikalangan umat Islam. Surat kabar Swara Umum termasuk media yang hadir dari kalangan kebangsaan, atau juga disebut Nasionalis Sekuler. Dengan munculnya tulisan kritik tentang haji ini semakin memperuncing konflik antara kelompok kebangsaan dan kelompok Islam.

Salah satu tokoh yang menanggapi artikel tersebut adalah Dr. Soekiman Wirjosandjojo. Mantan ketua Perhimpunan Indonesia dan salah satu pejabat Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) ini menuliskan artikel bantahan di surat kabar Pembela Islam No. 13 pada Oktober 1930 dengan judul Tentangan Terhadap Agama Islam.

Sebelum masuk ke pokok permasalah, Soekiman menjelaskan, bahwa kritik harus memenuhi beberapa perkara, yaitu: orang yang mengkritik harus mengerti materi yang akan dikritik, dan kritik itu tidak boleh menyakitkan hati kepada yang dikritik. Bagi Soekiman kritik memang diperlukan agar mengetahui kekurangan. Ia berkata, �Dan juga kita orang Islam, orang-orang biasa saja, janganlah berpendapatan  bahwa kita selamanya ada dijalan kebenaran .... sebab itu kritik adalah perlu sekali bagi kita, tetapi kritik yang senonoh yang maksudnya tidak menentang azas agama.�

�Mekkah dan Digul,� Soekiman menjelaskan ke permasalahan utamanya, �adalah dua anasir yang tiada bisa dibandingkan.� Perbedaan itu menurut Soekiman terletak pada niatnya. Orang-orang ke Digul karena dipaksa akibat penahanan yang dilakukan pemerintah kolonial. Berbeda dengan ke Mekkah yang dilakukan berdasarkankeikhlasan hati untuk memenuhi perintah Agama. Digul memang terkenal sebagai tempat pembuangan tahanan politik yang melawan pemerintah Hindia Belanda. Bagi Homo Sum, orang-orang yang berada di Digul memiliki kemuliaan karena perjuangannya.

Begitu juga soal orang yang pergi ke Mekkah, dianggap Homo Sum kehilangan keyakinannya terhadap perjuangan dari pada yang berada di Digul. Soekiman menunjukkan, banyak juga haji-haji yang telah pergi ke Mekkah berada di Digul. Ia menyebutkan nama Haji Misbach.
Dalam kritik Homo Sum yang menyinggung persoalan ekonomi, Soekiman menjelaskan bahwa memang benar pergi ke Mekkah akan kehilangan sebagian materi dan harta.  Meski kehilangan harta, bukan berarti kehilangan manfaat dalam proses perjuangan Bangsa Indonesia, sebab kata Soekiman, �meninggalkan Indonesia buat sementara waktu adalah suatu perkara yang penting. Sebab dengan jalan ini kita bisa memperbandingkan nasib negeri kita dengan negeri luaran.�

Dengan bepergian ke Mekkah tak hanya semata-semata ibadah (haji) menjalankan Rukun Islam, tetapi juga terjadinya hubungan pertemuan dari semua bangsa yang merupakan cita-cita Islam dan cita-cita dunia, yaitu Damai Dunia , dan persaudaraan dengan berbagai bangsa di muka bumi. Apa yang dicita-citakan oleh bangsa kulit putih (kesetaraan ras dan persamaan hak) sebenarnya sudah dilakukan oleh umat Islam sejak 13 abad yang lalu.

Berada di Mekkah juga menjadi kesempatan warga Indonesia untuk merasakan berada di negeri yang merdeka. Orang-orang yang pernah merasakan menginjak di negeri yang merdeka dapat membandingkan dengan negerinya yang sedang terjajah. Dengan begitu akan menyadarkan para haji untuk berjuang melepaskan cengkraman penjajah. �Dengan jalan begini tentulah Indonesia lebih cepat mendapatkan kemerdekaan.� tulisnya. (Baca juga: Haji, Manusia Berbahaya)

Lalu Soekiman menyimpulkan, �Jika kita menyelidiki sedalam-dalamnya isi artikel itu, maka kita dapat menetapkan bahwa maksud artikel itu tiada lain melainkan: ANTI ISLAM.� Lalu ia meneruskan juga, �Mereka membicarakan hal-hal Mekkah itu sebenernya hanyalah buat menyebarkan perasaan anti Islam.�

Menurut Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara di dalam Api Sejarah jilid 2, bahwa artikel dari surat kabar yang dipimpin Dr. Soetomo itu sebagai upaya dukungan kepada pemerintah Hindia Belanda yang sedang mengeluarkan aturan pengetatan proses izin ibadah haji yang tertuang dalam Ordonasi Haji tahun 1927 Stb. No. 286. Ahmad Mansur juga menyimpulkan, berdasarkan dialog antara Dr. Soetomo dnegan K. H. Mas Mansoer yang dimuat dalam Madjalah Pengandjoer No. 6 Tahun II, Juli 1938, bahwa Homo Sum sebenarnya adalah Dr. Soetomo sendiri, pendiri Budi Utomo 20 Mei 1908.

Sebuah mural dukungan kemerdekaan | Foto: cas oorthuys
| Oleh Ridwan Hd. |

�Waktu itu bulan puasa,� cerita Mohammad Hatta dalam buku otobiografinya Untuk Negeriku, �Sebelum pulang aku masih dapat makan sahur di rumah Admiral Maeda. Karena tidak ada nasi, yang kumakan ialah roti, telur, dan ikan sardin, tetapi cukup mengenyangkan.�

Cerita Hatta ini berlangsung ketika sedang berada di rumah Laksamana Maeda setelah menyusun tek proklamasi. Para tokoh terdiri dari anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan berbagai kalangan pemuda sedang berkumpul hingga larut malam. Hingga pukul 03.00, naskah proklamasi berhasil diselesaikan untuk dibacakan pada pukul 10 pagi.

Berdasar kalander tahun Masehi yang mengikuti peredaran bumi mengelilingi matahari, hari proklamasi jatuh pada hari Jum�at, 17 Agustus tahun 1945. Jika mengikuti kalender tahun Hijriah yang mengikuti peredaran bulan mengelilingi bumi, maka hari proklamasi bertepatan pada 9 Ramadhan tahun 1364. Dalam situasi bulan Ramadhan inilah, dengan Rahmat Allah Swt, Rakyat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya ditengah pengawasan Jepang dan ancaman Sekutu di masa-masa akhir Perang Dunia ke 2.

Sebenarnya, ketika Soekarno dan Hatta diundang ke Dalat, Vietnam, oleh Jenderal Terauchi, pihak Jepang sudah menjanjikan kemerdekaan yang akan dilangsungkan pada 24 Agustus 1945. Berdasarkan rancangan Jenderal Terauchi juga, wilayah-wilayah seperti semenanjung malaya, Singapura, dan Kalimantan Utara (termasuk Brunei) masuk dalam satu wilayah Indonesia.

Rupanya, ada kehendak lain. Sekitar 16 Agustus, sebagai negeri kalah perang, Jepang dituntut oleh pihak Sekutu agar tidak menyerahkan status quo wilayah kekuasaannya di Nusantara. Janji kemerdekaan akhirnya dibatalkan.

Hari sebelumnya sepulang dari Dalat, Soekarno dan Hatta didatangi oleh gerombolan pemuda agar proklamasi dilaksanakan saat itu juga tanpa melalui PPKI, sebab badan panitia kemerdekaan itu adalah bentukan Jepang. Mereka ingin kemerdekaan lepas dari tangan Jepang. Para pemuda yang dipimpin Sukarni mengancam, jika tidak memproklamasikan kemerdekaan saat itu juga para pemuda akan melakukan revolusi. Tetapi kedua tokoh itu tidak mau mengikuti tuntutan pemuda. Mereka berharap, untuk urusan ini dapat dibicarakan di dalam sidang PPKI. Karena tidak dapat memenuhi tuntutan pemuda, Soekarno dan Hatta diculik ke Rengasdengklok dengan alasan pengamanan ketika revolusi berlangsung. Namun sampai tanggal 16 Agustus sore, revolusi yang direncanakan para pemuda itu juga tidak berlangsung.

Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta pada 16 Agustus malam dan langsung ke kediaman Maeda bersama para tokoh lain untuk menyusun teks proklamasi yang akan dibacakan keesokan hari.

Menurut penjelasan Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah jilid 2, bahwa Soekarno mendapat kepastian waktu yang baik untuk melaksankan proklamasi pada 17 Agustus diperoleh dari K.H. Abdoel Moekti, yang merupakan pimpinan Muhammadiyah Madiun. Bila tidak diproklamasikan pada tanggal tersebut hanya akan menemui hari yang demikian bahagia itu 300 tahun yang akan datang.

Keterangan Ahmad Mansur Suryanegara ini didapat dari KH. Abdoe Moekti sendiri saat Seminar Sejarah Perjuangan Umat Islam di Indonesia pada 1967. Ia ditunjukan bukti tentang kesaksian ini dengan tanda tangan beberapa tokoh yang hadir dalam proklamasi yang membenarkan bahwa penentu proklamasi pada 17 Agustus 1945, jum�at Legi, 9 Ramadhan adalah K.H. Abdoel Moekti.

Memang sejak Belanda menguasai Nusantara, penggunaan kalender tidak lagi menggunakan tahun Hijriyah yang biasa dipakai oleh kerajaan-kerjaaan Islam sebelumnya, tetapi diganti dengan kalender Masehi. Sejak itu pula ketika Negara Indonesia berdiri, penanggalan yang digunakan adalah masehi. Maka, peringatan kemerdekaan Republik Indonesia lebih dipilih menggunakan hari 17 Agustus dari pada 9 Ramadhan.

Ahmad Mansur Surynegara berkata, �Kalau demikian kenyataan sejarahnya, apakah salah ataukah bid�ah jika umat Islam pada setiap 9 Ramadhan, sebagai mayoritas bangsa Indonesia, menjadikan tanggal 9 Ramadhan sebagai tanggal syukuran Umat Islam menerima anugerah nikmat kemerdekaan Republik Indonesia dari Allah Yang Maha Kuasa, selain diperingati setiap 17 Agustus?�

Agus Salim (kiri), Soekarno (kanan) tahun 1949 | Sumber: Hulton-Deutsch Collection / Corbis
| Oleh Ridwan Hd. |

Pidato Soekarno di tahun 1928 nampak mengusik pikiran Agus Salim. Soekarno berkata, �Ibumu Indonesia teramat cantik. Cantik langitnya dan cantik buminya. ...� terus dilanjutkan berbagai keunggulan dan keelokan tanah air, �... Maka tidak lebih dari wajibmu apabila kamu memperhambakan, memperbudakkan dirimu kepada ibumu Indonesia. Menjadi putera yang mengikhlaskan setiamu kepadanya.�

Melalui harian Fadjar Asia yang terbit 28 Juli 1928, Agus Salim mengkritik pernyataan Soekarno itu. �Alasannya benar. Tujuannya baik.� kata Salim, �Tapi, atas nama Tanah Air, yang oleh beberapa bangsa disifatkan �dewi� atau �ibu�, bangsa Perancis dengan gembira menurutkan Lodewijk XIV, penganiaya dan pengisap darah rakyat itu, menyerang, merusak, membinasakan negeri orang dan rakyat bangsa orang, sesamanya manusia.�

Agus Salim juga menjelaskan beberapa negara selain Perancis yang melakukan hal yang sama karena sikap nasionalisme negara-negara Eropa yang cendrung pada Chauvisme, seperti yang dilakukan Austria kepada Prusia, Jerman dan Itali kepada negara-negara tetangganya. Atas nama cinta tanah air, beberapa negara Eropa merendahkan derajat negara lain, dengan menjajah. �Demikianlah kita lihat, betapa agama yang menghambakan manusia kepada berhala tanah air itu mendekatkan kepada persaingan berebut-rebut kekayaan, kemegahan, dan kebesaran, kepada membusukan, memperhinakan dan merusak tanah air orang lain.�

Menghamba dan membudakan diri kepada dewi dan ibu sebagai bentuk presonifikasi tanah yang kita pijak karena keunggulannya, seperti kesuburan, bentangan alam yang indah, dan sebagainya, bagi Agus Salim adalah berbahaya. Menghamba pada sifat kebendaan dunia bukanlah cara untuk mencapai derajat kesempurnaan. Dunia sifatnya tidak kekal, maka jika nyawa itu sudah tidak ada akan habis gunanya. �Demikian juga dalam cinta tanah air kita mesti menunjukkan cita-cita kepada yang lebih tinggi daripada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada hak, keadilan, dan keutamaan yang batasnya dan ukurannya telah ditentukan telah ditentukan oleh Allah Subhanahuwa Ta�ala.�

"Alangkah baiknya," Agus Salim menyimpulkan, "jika cinta kepada tanah air itu karena Allah semata. Bukan karena eloknya dunia. Berlandas cinta kepada Allah dapat menghindari dari: menyimpang dari jalan hak, keadilan, dan keutamaan itu, karena dorongan hawa nafsu.�

Agus Salim mencontohkan cinta tanah air itu pada kisah Nabi Ibrahim yang tertuang pada Surat Ibrahim ayat ke 37. Dari kisah di ayat tersebut, Agus Salim menjelaskan tentang Nabi Ibrahim yang berada di tanah yang tandus, tanpa air, dan juga tak ada kehidupan. Namun, karena ketakwaannya kepada Allah, Nabi Ibrahim berdoa untuk meminta kemuliaan pada tanah tersebut menjadi tanah yang diberkahi. Doa Nabi Ibrahim kini terkabul dengan Melihat Kota Mekkah yang kini ramai dikunjungi jutaan penduduk bumi, dan penuh dengan buah-buahan dari segala penjuru dunia. Padahal, tanah di sana tandus.

Melalui Harian Fadjar Asia itu juga yang terbit pada 18 Agustus 1928, Soekarno menanggapi pernyataan Agus Salim. �Sekali-kali tidak menimbulkan pada kita dugaan akan persaingan dan perceraian, dan memang tidak bermaksud persaingan dan perceraian itu. Bukankah begitu, saudara Haji Agus Salim?� kata Soekarno.

Soekarno lebih membawa pendapatnya itu untuk tujuan persatuan. Propaganda kecintaan pada tanah air yang didengungkan Soekarno lebih kepada ajakan untuk bersatu dari tiap-tiap golongan yang ada. Bukan bermaksud untuk mengajak kecintaan dengan tujuan perpecahan dengan bangsa lain seperti yang ditakutkan Agus Salim. Kemudian ia menganggap tulisan sanggahannya ini sebagai pelengkap, bukan bantahan dari pernyataan Agus Salim yang dianggap Soekarno �lupa mengemukakan� soal persatuan itu.

Menurut Soekarno, Agus Salim lupa mengatakan bahwa rasa kebangsaan kini sedang berapi-api di dalam hati sanubari kaum Nasional Indonesia. Rasa kebangsaan menurut dirinya bukan kebangsaan yang agresif dan menyerang. Tidak seperti kebangsaan seperti di Eropa. �Tidak diarahkan ke luar, tetapi ialah diarahkan ke dalam.� jelas Soekarno.

Soekarno menjelaskan maksud nasionalisme dalam pandangannya. �Ia bukanlah nasionalisme yang timbul dari kesomboongan bangsa belaka; ia adalah nasionalisme yang melebar �nasionalisme yang timbul daripada pengetahuan atas susunan dunia dan riwayat , ia bukanlah jingo-nasionalismeatau chauvinisme, dan bukanlah suatu copie atau tiruan daripada nasionalisme barat. Nasionalisme kita ialah suatu nasionalisme yang menerima rasa hidupnya sebagai suatu wahyu dan menjalankan rasa hidupnya itu sebagai suatu bakti.�

Kemudian melanjutkan, �Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi perkakas Tuhan, dan membuat kita menjadi hidup dalam roh �sebagai yang saban-saban dikhotbahkan oleh Bipin Chandra Pal, pemimpin India yang besar itu. Dengan Nasionalisme yang  demikian ini maka kita insaf dengan seinsaf-insafnya, bahwa negeri kita dan rakyat kita adalah sebagian daripada negeri Asia dan rakyat Asia. Kita kaum pergerakan nasional Indonesia, kita bukannya saja merasa menjadi abdi atau hamba dari pada tanah tumpah darah kita, akan tetapi jugalah merasa menjadi abdi dan hamba Asia, abdi dan hamba semua kaum sengsara, abdi dan hamba dunia...�

Soekarno juga banyak mencontohkan karakter nasionalisme dari para pempimpin Islam, seperti Moestafa Kamil, Amanoellah Khan, Arabi Pasha, dengan berbagai pernyataan cintanya pada tanah air.

Agus Salim kembali menanggapi melalui Harian Fadjar Asia yang terbit 20 Agustus 1928. Ia menegaskan tidak bermaksud untuk menunjukkan perpecahan atas tidak sependapatnya pada konsep nasionalisme Soekarno. Baik dari kalangan Nasionalis Sekuler yang diwakilkan Soekarno melalui Partai Nasionalis Indonesia (PNI) dan kalangan Islam yang diwakilkan Agus Salim melalui Partai Sarekat Islam (PSI), memiliki kesamaaan, yaitu sama-sama cinta pada tanah airnya. Sama-sama memiliki tujuan, yaitu kemuliaan bangsa dan kemerdekaan tanah air. Juga sama-sama pada tempat bergerak, yaitu negeri yang sedang terjajah oleh bangsa asing. Hanya saja, bagi Agus Salim, berbeda dalam asas dan niat. �Asas kita adalah agama, yaitu Islam. Niat kita Li�llaahi Ta�aala.� kata Salim.

Dalam penjelasannya, Agus Salim berusaha tetap mempertemukan kesamaan dalam perjuangan antar pergerakan. Kritiknya pada pidato Soekarno di awal tidak bermaksud mengganggu persatuan yang telah ditetapkan dalam pergerakan antara PSI dan PNI.

Dalam penjelasannya juga, Agus Salim sangat menghormati pandangan Soekarno dan mau menerima perbedaan pendapatnya. Ia hanya ingin mengemukakan menurut pandangannya sesuai asas dari PSI yang berideologi Islam, bahwa persatuan memang perintah Allah.

Dengan berlandas niat kepada Allah, akan terjaga dari sifat-sifat congkak dan sombong atas kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh tanah air. Jika sifat itu merasuk, seperti yang ditakuti Agus Salim, dapat memunculkan perendahan pada bangsa lain. Dengan niat karena Allah, rasa sombong itu bisa dijaga. Begitu juga apapun kekurangan yang ada pada negeri, seperti pada kisah Nabi Ibrahim tadi, cinta pada tanah air tetap terjaga. 


Agus Salim menyimpulkan, �Kita merasa amat perlu mengemukakan ini sebab bergerak menuntut kemerdekaan bangsa dan tanah air yang dalam penghambaan, bukan perkara mudah dan bukanlah perkara yang memberi keyakinan akan mendapatkan untung dengan seketika, tetapi sebaliknya banyak sekali perdaya dunia yang bermancam-macam yang dapat menyesatkan dia. Hanya pengakuan batas-batas Allah yang dapat menjaga kesucian pergerakan keutamaan itu.�
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget