Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Berita Luar Negeri"

Peta wilayah Palestina dan Israel dari masa ke masa yang pernah disiarkan MNSBC tahun 2015. Foto/Tangkapan layar YouTube/MNSBC
AMNews - Negara "Palestina Baru" telah direncanakan berdasarkan kesepakatan baru antara Israel, Hamas dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Dalam rancangan perjanjian itu, negara anyar tersebut harus membayar kepada rezim Zionis untuk perlindungan terhadap agresi internasional.

Dokumen rancangan kesepakatan itu telah bocor dan disiarkan stasiun televisi Al Mayadeen yang berbasis di Lebanon pada hari Senin (16/12/2019).

Di bawah kesepakatan itu, sebuah negara anyar bernama "Palestina Baru" akan dibuat di Tepi Barat dan Jalur Gaza, kecuali untuk wilayah yang sudah ditempati oleh Israel. Yerusalem akan dibagikan oleh Israel dan "Palestina Baru".

Menurut laporan Al Mayadeen yang dikutip Senin (17/12/2019), proyek tersebut telah disetujui oleh Amerika Serikat, Uni Eropa dan negara-negara Teluk Persia. Negara-negara tersebut diperkirakan akan mengalokasikan sekitar USD30 miliar dalam lima tahun ke depan untuk pembentukan negara baru.

Masih menurut laporan itu, hanya polisi yang akan diizinkan untuk membawa senjata di negara "Palestina Baru", dan Israel akan melindungi negara anyar itu dari agresi asing, asalkan "Palestina Baru" membayar perlindungan semacam itu kepada Israel.

Hamas nantinya sepenuhnya akan dilucuti, tetapi para anggotanya akan menerima gaji bulanan. Hamas, organisasi militan Palestina yang menguasai Jalur Gaza, telah "dikunci" dalam konflik berkepanjangan dengan Israel.

Pemerintah Otoritas Palestina yang dipimpin Presiden Mahmoud Abbas dan Hamas belum berkomentar atas bocornya dokumen rancangan negara anyar itu. Pemerintah Israel juga belum berkomentar

Awal bulan ini, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS menyetujui resolusi yang menegaskan kembali dukungannya pada solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina. Resolusi itu juga menentang aneksasi sepihak oleh Israel.

Presiden AS Donald Trump telah mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Tak hanya itu, Trump juga mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israel. Dataran Tinggi Golan adalah wilayah Suriah yang diduduki Israel sejak Perang Enam Hari 1967.

Pada bulan November, Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo mengatakan bahwa Washington tidak menganggap pemukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki sebagai tindakan ilegal. Keputusan itu bertentangan dengan hukum internasional dan kebijakan AS sebelumnya terkait dengan permukiman tersebut.[SINDOnews]

Asiye Abdulaheb
AMNews - Ancaman pembunuhan terhadapa Asiye Abdulaheb datang bertubi-tubi. Itu terjadi karena dia menyebarkan dokumen rahasia pemerintah Tiongkok tentang kamp detensi Uighur.

Perempuan Uighur 46 tahun yang kini tinggal di Belanda tersebut mengungkapkan kisahnya kepada harian Belanda de Volksrant untuk melindungi keluarganya.

“Saya bisa mengatasi tekanan ini. Tetapi, saya takut sesuatu terjadi pada anak-anak saya dan ayah mereka,” ujarny.

“Kami tidak bisa tidur. Kami butuh perlindungan lebih. Publikasi memberi kami perlindungan,” tambahnya.

Dalam salah satu surat, Abdulaheb diancam bakal berakhir di tempat sampah depan rumahnya.

Abdulaheb mengungkapkan bahwa dirinya mendapat dokumen rahasia yang berisi 24 halaman itu musim panas ini.

Seluruh dokumen tersebut sudah disimpan di laptopnya. Dia tidak mengungkap sosok yang memberikannya. Yang jelas, tugasnya adalah menyebarkan informasi tersebut agar dunia tahu apa yang terjadi di Xinjiang.

Selama ini pemerintah Tiongkok mengklaim warga Uighur masuk kamp secara sukarela. Tetapi, versi dokumen yang tercantum pada 2017 itu tidak demikian.

Di dalamnya terungkap detail bagaimana kamp tersebut dijalankan. Mulai pengawasan di kamar mandi hingga sistem mata-mata berteknologi tinggi yang digunakan untuk mengidentifikasi warga Uighur.

Terdapat sekitar satu juta warga Uighur di kamp-kamp detensi tersebut. Petugas mencuci otak mereka agar menjadi murtad atau keluar dari agamanya.

Tiongkok sempat menyangkal dokumen tersebut, namun akhirnya mengakuinya. Mereka menyebut kamp itu sebagai tempat reedukasi untuk mencegah radikalisasi. [pojoksatu.id]

Presiden AS Donald Trump teken sanksi baru terhadap Iran. Foto/Istimewa
AMNews - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan tidak perlu persetujuan Kongres untuk menyerang Iran. Hal itu dikatakan Trump dalam sebuah wawancara dengan Hill TV.

Ketika ditanya apakah dia yakin dia memiliki wewenang untuk memulai aksi militer terhadap Iran tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan Kongres, Trump berkata: "Ya."

"Tapi kami terus membuat Kongres mengikuti apa yang kami lakukan dan saya pikir itu adalah sesuatu yang mereka hargai," katanya dalam wawancara eksklusif di luar Oval Office.

"Aku suka membuat mereka mengikuti, tapi aku tidak harus melakukannya secara legal," imbuhnya.

"Kami mungkin hampir membuat keputusan untuk menyerang. Lalu aku memutuskan untuk tidak melakukannya. Omong-omong, tidak ada yang keluar. Aku akan membuat keputusan itu pada waktu tertentu, dan aku memutuskan untuk tidak melakukannya karena itu benar-benar tidak proporsional," tutur Trump seperti dikutip dari The Hill, Selasa (25/6/2019).

Trump kemudian membantah pernyataan Ketua DPR Nancy Pelosi bahwa ia akan membutuhkan persetujuan Kongres untuk setiap tindakan "permusuhan" apa pun dengan Iran.

"Aku tidak setuju," katanya. "Kebanyakan orang tampaknya tidak setuju," sambungnya.

"Mereka punya ide. Mereka adalah orang-orang cerdas. Mereka akan memunculkan beberapa pemikiran," kata Trump, merujuk pada anggota parlemen.

"Aku sebenarnya belajar beberapa hal tempo hari ketika kita mengadakan pertemuan dengan Kongres," ujarnya.

Pada Jumat lalu, Pelosi menyatakan dia tidak diberitahu oleh pejabat mengenai keputusan Trump menyetujui aksi militer ketika ia dan para pemimpin kongres lainnya pergi ke Gedung Putih untuk briefing hari itu.

Trump sebelumnya sempat memerintahkan untuk menyerang Iran sebelum kemudian membatalkannya. Aksi militer itu sebagai tanggapan atas ditembak jatuhnya pesawat tak berawak AS.

Pemimpin Minoritas Senat Charles Schumer mengatakan Partai Demokrat mengatakan kepada Trump selama briefing Room Situation bahwa ia akan memerlukan otorisasi Kongres sebelum melakukan penyerangan.

Dua Senator Partai Demokrat Tim Kaine dan Tom Udall telah menawarkan amandemen pada rancangan pengeluaran pertahanan yang akan menghalangi Trump menggunakan dana pemerintah untuk menyerang Iran tanpa persetujuan Kongres. Schumer meminta Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell untuk menunda pemungutan suara RUU itu sampai debat utama presiden Demokrat minggu ini sehingga para senator yang menjadi nominasi partai dapat hadir untuk memberikan suara pada amandemen. [Sindo]

Asap disertai pijaran api membubung dari salah satu gedung di Gaza ketika jet tempur Israel menyerang sebagai bentuk balasan setelah roket menghantam Tel Aviv pada Senin (25/3/2019).
AMP - Gaza saat ini berada di ambang "bencana kemanusiaan" dengan satu juta warga Palestina terancam kelaparan, demikian peringatan PBB.

Adapun pejabat PBB mengungkapkan, anggaran Badan Pengungsi Palestina (UNRWA) bakal habis "dalam waktu sebulan" dan berada dalam situasi darurat untuk mendapat dana tambahan.

Dilaporkan The Independent Kamis (9/5/2019), sekitar 2.000 orang di Gaza yang ditembak oleh pasukan Israel juga terancam kehilangan anggota badannya akibat krisis dana di UNRWA.

Setiap tahun, UNRWA butuh setidaknya 1,2 miliar dollar AS, sekitar Rp 17,2 triliun, untuk mempertahankan sekolah, fasilitas medis, maupun program pangan.

Selain itu, dana itu juga diperuntukkan sebagai dukungan finansial bagi 5 juta pengungsi Palestina di Gaza, Tepi Barat, Suriah, Lebanon, serta Yordania.

Musim panas lalu, UNRWA harus memohon tambahan dana di negara Eropa dan kawasan Teluk setelah AS, donatur terbesar mereka, memutuskan memangkas dana.

Akibatnya, UNRWA menderita defisit sampai 440 juta dollar AS atau sekitar Rp 6,3 triliun.

Tanda adanya dana segar, hantaman paling parah bakal berada di Gaza, kantong sepanjang 40 km yang menjadi rumah bagi 12 juta orang dan obyek Israel dan Mesir selama 12 tahun.

PBB menyatakan setidaknya dibutuhkan 20 juta dollar AS, sekitar Rp 287,3 miliar, untuk mencegah krisis layanan kesehatan yang sedang terjadi di sana.

Direktur Kantor UNRWA di Washington Elizabeth Campbell berkata, skenario terburuk adalah mereka tidak akan bisa memberi makan setengah dari populasi di Gaza.

"Kami harus menutup sekolah, orang-orang tidak akan bisa mendapatkan layanan kesehatan dari kami. Selain itu kami juga harus merampingkan pegawai," ujarnya.

Setelah Otoritas Palestina (PA), UNRWA merupakan pemberi kerja terbesar di Gaza.

Campbell memperingatkan dampak ketidakstabilan Gaza juga bakal mengancam Israel.

"Kalian (Israel) akan mendapatkan bencana besar kemanusiaan yang bisa menyebar dengan cepat di seluruh wilayah. Kami sangat khawatir dengan imbas keamanannya," ujarnya.

Pernyataan Campbell juga didukung Koordinator Kemanusiaan PBB di Palestina Jamie McGoldrick yang menuturkan warga Palestina yang terkena tembakan Israel juga terancam.

Ada sekitar 29.000 warga Palestina yang menderita luka tembak ketika bentrok dengan pasukan Israel dalam aksi protes di perbatasan sepanjang tahun.

Kebanyakan dari mereka menderita luka di bagian bawah tubuh.

"Mereka sangat membutuhkan rekonstruksi tulang sebelum rehabilitas sendiri," terang McGoldrick.

Tanpa adanya dana untuk melaksanakan prosedur operasi, McGoldrick memperingatkan warga Palestina yang menderita luka tembak bakal diamputasi.

Sementara itu, Program Pangan Dunia PBB memutuskan memotong bantuan bagi 193.000 orang di Gaza dan Tepi Barat pada 2019 ini karena kendala yang sama seperti UNRWA.

Sumber: bangkapos.com

Gaza - Seorang warga Palestina tewas ditembak Israel dalam bentrokan baru di perbatasan timur Rafah, jalur Gaza selatan. Korban bernama Abdullah Abd al-Aal (24) itu ditembak di bagian perut.

Hal itu disampaikan oleh juru bicara kementerian kesehatan Palestina sebagaimana dilansir dari AFP, Sabtu (11/5/2019). Korban ditembak dalam protes pertama sejak serangan mematikan pada pekan lalu.

Diketahui, 13 demonstran lainnya ditembak selama demonstrasi di berbagai tempat sepanjang perbatasan yang pecah.

Sementara itu, seorang juru bicara militer Israel mengatakan sekitar 6 ribu orang ikut dalam demonstrasi itu. Para pengunjuk rasa menyerukan agar Israel mengakhiri blokade Gaza selama lebih dari satu dekade.

Demonstrasi minggu ini dipandang sebagai ujian utama untuk gencatan senjata yang disepakati antara para penguasa Islamis Hamas dan Israel.

Selama dua hari, 25 warga Palestina terbunuh termasuk setidaknya sembilan militan, bersama dengan empat warga sipil Israel. Perjanjian gencatan senjata diumumkan oleh faksi Palestina Senin pagi. [Detik.com]

Foto terbaru Jet Li yang terlihat tua dan rapuh.
AMP - Siapa yang tidak tahu superstar asal Cina, Jet Li. Film-filmnya dengan mudah kita dapat nikmati, mulai dari yang diproduksi di Cina hingga Hollywood. Ya, aktor laga ini telah mendapat hati para pecinta film laga.

Ia selalu menjadi orang yang kuat, dan mampu menumpas berbagai penjahat. Senjata yang digunakannya di dalam film beragam, mulai dari keahlian Kung Fu hingga senjata api.

Tapi siapa sangka, di usianya yang kini menginjak 55 tahun Jet Li terlihat lemah bangkan tidak dapat dikenali. Ia dilaporkan harus berjuang dengan masalah kesehatan yang menggerogoti tubuhnya. Apa penyakit yang diidapnya?

Dikutip dari Daily Mail, ia dikatakan sedang berjuang melawan hipertiroidisme, kondisi jantung, dan cedera kaki atau tulang belakang akibat aksinya di film laga.

Kembali pada tahun 2013, juara Wushu yang sudah pensiun itu mengaku bahwa dokter memberinya pilihan untuk 'terus membuat film [aksi] atau menghabiskan sisa hidupnya di kursi roda.'

Ia pun mengatakan dalam sebuah pernyataan baru-baru ini tentang apa yang sedang terjadi padanya.

“Saya sangat berharap Anda dan keluarga Anda menjadi sehat dan bahagia. Saya akan berbagi lebih banyak tentang hidup saya dalam waktu dekat. Terima kasih atas semua dukungan," ucap Jet Li.

Padahal lima tahun sebelumnya, Li menembakkan senapan mesin ke helikopter bersama Arnold Schwarzenegger sebagai ahli tempur dalam film The Expendables 3.

Belum jelas apa yang sedang menimpa dirinya saat ini, namun ia akan memberikan keterangan dalam waktu yang dekat.(*)

Foto Ilustrasi http://m.rilis.id
AMP - Pasukan Israel membunuh puluhan warga Palestina saat unjuk rasa besar di perbatasan Gaza, saat Amerika Serikat membuka kedutaannya di Yerusalem, Israel, Senin (14/5/2018).

Dibukanya kedutaan besar AS di Yerusalem ini untuk memenuhi janji Presiden Donald Trump, yang mengakui kota suci tersebut sebagai ibu kota Israel.

Namun, pembukaan kedubes AS tersebut melecut kemarahan Palestina dan mengundang kecaman banyak pemerintah dunia dan menunjukkan kemunduran dari upaya perdamaian kedua negara tersebut.

Di perbatasan Gaza, protes Palestina dengan cepat berubah menjadi pertumpahan darah.

Tembakan senjata Israel menewaskan sedikitnya 43 orang Palestina, korban tertinggi dalam satu hari sejak serangkaian protes untuk menuntut hak untuk kembali ke tanah air leluhur di Israel mulai pada 30 Maret 2018 lalu.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan, korban tewas termasuk enam anak di bawah usia 18 tahun.

Pejabat kesehatan mengatakan, 900 warga Palestina terluka, sekitar 450 dari mereka dengan peluru tajam.

Sebelumnya, Prancis meminta Israel untuk menahan diri dan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengatakan, dirinya sangat prihatin oleh peristiwa yang terjadi di Gaza.

Puluhan ribu warga Palestina telah menuju garis pantai perbatasan daerah kantong, beberapa mendekati pagar Israel, sebuah garis yang dikatakan oleh pemimpin Israel Palestina tidak akan diizinkan untuk melewatinya.

Awan asap hitam dari ban yang terbakar oleh demonstran membumbung di udara.

Pengunjuk rasa, beberapa bersenjatakan ketapel, melemparkan batu ke pasukan keamanan Israel, yang melepaskan tembakan gas air mata dan rentetan tembakan gencar.

"Hari ini adalah hari besar ketika kita akan melewati pagar dan memberi tahu Israel serta dunia, kita tidak akan terima untuk dikuasai selamanya," demikian guru ilmu pengetahuan Gaza, Ali, yang menolak disebutkan nama belakangnya.

Pengakuan Trump atas Yerusalem yang diperebutkan sebagai ibu kota Israel pada Desember membuat marah rakyat Palestina, yang mengatakan Amerika Serikat tidak bisa lagi menjalankan perannya sebagai perantara yang jujur dalam proses perdamaian dengan Israel.

Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara yang ingin mereka bangun di Tepi Barat yang diduduki dan Jalur Gaza.

Israel menganggap semua kota, termasuk sektor timur yang direbutnya dalam perang Timur Tengah 1967 dan dianeksasi, sebagai "ibu kota abadi dan tak terpisahkan" dalam sebuah langkah yang belum memenangkan pengakuan internasional.

Sebagian besar negara mengatakan status Yerusalem - sebuah kota suci bagi orang Yahudi, Muslim dan Kristen, harus ditentukan dalam penyelesaian perdamaian terakhir dan memindahkan kedutaan mereka sekarang akan merusak kesepakatan semacam itu.

Perundingan perdamaian, yang bertujuan menemukan penyelesaian dua negara untuk sengketa itu dibekukan sejak 2014.

Sementara pada upacara pembukaan kedutaan itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu berterima kasih kepada Trump karena memiliki keberanian menepati janji.

"Sungguh hari luar biasa bagi Israel. Kami berada di Yerusalem dan kami di sini untuk tinggal," kata Netanyahu dalam pidatonya.

Trump, dalam rekaman pesan, mengatakan tetap berkomitmen untuk perdamaian Israel dengan Palestina.| ANTARA

AMP - 16 Februari 2011. Terinspirasi “Arab Spring” di Tunisia dan Mesir, rakyat Libya berdemonstrasi di Kota Badya menuntut Muammar Khadafi turun dari tahta yang didudukinya sejak 1969. Sebuah mobil polisi diserang dan dibakar di persimpangan jalan besar. Delapan bulan berikutnya, Tripoli dan kota lain merasakan situasi serupa. Situasinya kadang berlangsung dalam eskalasi yang lebih mengerikan. Korban berjatuhan. Rezim yang telah berkuasa selama 40 tahun lebih pun ambruk.

20 Oktober 2011. Khadafi sudah tak bisa kemana-mana lagi. Di kota kelahirannya, Sirte, Khadafi dikepung milisi. Saat seluruh pengawalnya habis tak tersisa, Khadafi memilih bersembunyi di sebuai pipa drainase bawah tanah. Berdasarkan rekaman amatir, di hari itu pemberontak berhasil menyeretnya keluar dari persembunyian. Dalam kondisi tak berdaya, Khadafi dikeroyok massa, dijambak hingga hampir habis rambutnya, ditikam dari belakang, dan meregang nyawa.

Narasi yang selama ini terbangun adalah perseteruan rezim Khadafi dengan Barat. Keduanya saling menegasikan satu sama lain, setidaknya demikian pemberitaan media massa.

Dalam revolusi enam tahun silam, Barat pun melakukan intervensi militer melalui penerjunan Pasukan Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Gabungan pasukan beberapa negara, termasuk Inggris, bersama-sama milisi pemberontak turut menyerang pertahaan Khadafi selama tujuh bulan (Maret-Oktober 2011) atas dasar tuduhan pelanggaran hak asasi yang dilakukan rezim Khadafi kepada rakyat Libya.

Khadafi pun menyerang Barat tak hanya lewat pidato super-panjang di forum internasional. Rezim ini, misalnya, dikaitkan dengan serangan bom pesawat Pan Am tahun 1988 di atas langit Kota Lockerbie, Skotlandia, yang membunuh 270 orang. Dunia Barat kala itu marah besar dan meningkatkan tensi ketegangan antara Barat dan Khadafi.

Khadafi diduga terlibat dalam pemboman pada tahun 1986 di sebuah klub malam di Berlin Barat yang sering dikunjungi oleh tentara Amerika Serikat, pun dalam sabotase penerbangan UTA Perancis 772 di Chad pada 1989 yang mengakibatkan hilangnya 170 penumpang. Lebih jauh lagi, Khadafi juga menyuplai senjata ke Pasukan Republik Irlandia (IRA) dan kelompok pemberontak di negara-negara lainnya.

Namun, situasi yang terbangun sesungguhnya tak sehitam-putih itu. Usai revolusi menumbangkan Khadafi, kantor-kantor pemerintahan diserbu massa. Salah satunya kantor badan intelijen Libya bernama Organisasi Keamanan Eksternal Libya (ESO). Di dalamnya ditemukan arsip dengan konten menarik: Inggris dan Libya pernah menjalin hubungan mutualis pada awal 2000-an.

Jurnalis Guardian Ian Cobain menelusuri dokumen-dokumen terkait dan jejak hubungan Inggris-Libya di masa lampau yang menguatkan fakta tersebut. Cobain melacak dokumen pemerintah Inggris yang dirilis berdasarkan hukum “Freedom of Information Act” dan materi yang muncul dalam penyelidikan otoritas keamanan London plus arsip pengadilan sipilnya. Cobain juga mewawancarai pejabat berwenang Inggris dan para korban dari hubungan kedua negara.

Dalam laporan final bertajuk "How Britain did Gaddafi’s dirty work" yang dipublikasikan Kamis (9/11/2017) kemarin, ia menemukan bahwa akar hubungan intens kedua negara berawal dari rangkaian empat serangan bunuh diri terhadap beberapa target di New York City dan Washington DC pada 11 September 2001, atau yang dikenal dengan tragedi 9/11.

Lima hari usai tragedi, sekelompok kecil petugas senior Badan Intelijen Pusat AS (CIA) mengunjungi kedutaan besar Inggris di Washington. Tujuannya untuk mengajak badan intelijen Inggris MI6 untuk bekerja sama memburu gerombolan ekstremis Islam. Dalam pertemuan selanjutnya di Selandia Baru, Direktur CIA George Tenet mengulangi ajakannya dengan lebih spesifik: menjalin kerja sama dengan badan intelijen negara muslim, dan sebagai imbalannya menuruti keinginan negara yang bersangkutan.

MI6 bersedia. Pada tahun 2002 MI6 dan CIA mulai mendekati ESO yang selama ini dikenal piawai menjalankan misi rahasia ke berbagai negara di bawah komando Khadafi. Awalnya, MI6 dan CIA datang untuk mempelajari gerakan Islam ekstremis, namun lama-lama keduanya memandang kedekatan dengan ESO bisa dimanfaatkan untuk menghentikan proyek senjata pemusnah massal yang saat itu sedang dibangun oleh Khadafi.

Khadafi mempunyai dua jenis senjata pemusnah massal, yakni senjata berbahan kimiawi/biologi dan senjata berbasis nuklir. Proyek senjata nuklir sudah digagas Khadafi sejak awal 1970-an. Bahan-bahan dasarnya ia upayakan dari India, sementara bijih uranium dan teknologi pengayaannya ia dapatkan dari aliansi blok kiri seperti Rusia dan Cina. Jika proyek ini dibiarkan, demikian menurut MI6 dan CIA, keamanan global akan terancam.

Menuju musim panas 2003, AS menginvasi Irak dalam dalih operasi pembebasan. Setelah 20 hari bertempur (20 Maret-1 Mei) dengan pasukan Saddam Hussein, permasalahan pokok yang muncul jauh-jauh hari sebelum perang rupanya mengemuka kembali: AS tak pernah merilis bukti solid tentang senjata pemusnah massal milik Saddam yang jadi dalih utama invasi. Kritikan pedas muncul dari berbagai sisi, terutama aktivis-aktivis dalam negeri AS sendiri, yang menyatakan bahwa senjata pemusnah massal itu sebenarnya tak pernah ada.

Dengan demikian, selain karena amanat kontra-terorisme pasca tragedi 9/11, tugas membujuk Khadafi agar berhenti bermain dengan senjata pemusnah massal menjadi penting bagi MI6 dan CIA. Jika keduanya berhasil, merujuk laporan Cobain, maka badai kritik pedas yang dialamatkan pada pemerintahan George W. Bush akan mereda. Dengan kata lain, perang yang menyeret ribuan nyawa rakyat sipil di Irak sedikit terlegitimasi.

Ada negosiasi panjang, tentunya lewat jalan belakang, yang kemudian terjalin antara Inggris yang saat itu dipimpin Tony Blair, dengan ESO dan Khadafi. Dalam dokumen yang diinvestigasi Cobain, dinyatakan bahwa Khadafi mau memperlambat program senjata pemusnah massalnya. Dalam tafsiran lain, Khadafi dinilai berkeinginan meninggalkan sepenuhnya proyek senjata berbahan kimiawi/biologi dan senjata berbasis nuklir.

Blair dan Bush sama-sama menyatakan kegembiraannya di depan awak media, menyebut keputusan Khadafi sebagai kemenangan kecil. Blair menyatakan “kejadian dan kebijakan politik baru-baru ini” telah membuat dunia lebih aman. Opini-opini yang ditulis oleh para pendukung invasi AS ke Irak menyebar di sejumlah media, secara implisit menyatakan bahwa pelucutan senjata Khadafi menjustifikasi perang di Irak. 

Namun tak ada makan siang yang gratis. Sebagai imbalannya, MI6 dan CIA harus melakukan kerja-kerja kotor pesanan Khadafi untuk mempertahankan kekuasaannya. Kerja-kerja itu beragam, namun intinya adalah membungkam dan mengintimidasi para lawan politik Khadafi yang sedang di Inggris ataupun di negara lain. Dalam sejumlah kasus, para oposan korban intrik politik ini juga diusahakan agar bisa dideportasi kembali ke Tripoli, tempat Khadafi menjalankan kekuasannya.

Oposan rezim Khadafi yang tinggal secara legal di Inggris selama bertahun-tahun ditangkap oleh kepolisian Inggris. Para pencari suaka keturunan Inggris-Libya di Manchester dan London marah besar. Agen suruhan Khadafi saat itu bisa melenggang bebas di jalanan bersama agen intelijen Inggris dan merepresi orang-orang asal Libya yang anti-Khadafi. Keluarga mereka diancam. Otoritas berwenang juga berusaha untuk mendeportasi mereka.

Represi difokuskan pada anggota Al-Jama'ah al-Islamiyyah al-Muqatilah bi-Libya atau Kelompok Pertarungan Islam Libya (LIFG) yang ingin menggulingkan Khadafi dan mendirikan negara dengan hukum syariah secara murni dan konsekuen. Para pemimpinnya yang melarikan diri ke luar negeri diculik untuk diboyong kembali ke Tripoli beserta anak dan istrinya. Sesampainya di Libya, mereka disiksa sambil ditahan dalam kondisi ekstrem. Beberapa rekan mereka mengalami perlakuan serupa, sebelum akhirnya dibawa ke tempat pengasingan.

Salah satu cerita yang didapatkan Cobain berasal dari wawancara dengan Komandan LIFG Abdel Hakim Belhaj.

Pada Februari 2004 Berlhaj dan istrinya yang sedang hamil empat bulan sedang berupaya mencari penerbangan dari Beijing ke London, berharap mencari suaka. Namun, otoritas Cina mendeportasi keduanya ke Malaysia. CIA kemudian membawanya ke sebuah tempat tahanan di Bandara Don Mueang di Bangkok, dan disiksa.

Belhaj mengaku dipukuli sambil dipaksa mendengarkan musik bervolume keras. Istrinya ditempatkan di ruangan berbeda, dengan tangan dan kakinya terikat. Ia ketakutan jika suaminya dibunuh. Lima hari kemudian keduanya dibawa ke Tripoli, juga ditahan di dua tempat berbeda. Berlhaj pun disiksa lagi.

Akhirnya Belhaj dikerangkeng di tempat penahanan anak-anak buahnya di LIFG dan faksi oposan anti-Khadafi lainnya. Mereka diinterogasi dengan keras oleh otoritas Libya yang dibantu personil MI6.

Dua hari usai kunjungan pertama kali Tony Blair ke Libya pada 25 Maret 2004, operasi serupa dilaksanakan lagi untuk menculik Sami al-Saadi, pemimpin spiritual LIFG. Saadi pindah ke Cina dengan istri dan empat anaknya. Beserta sang istri, ia melakukan perjalanan ke Hong Kong setelah sempat ditemui oleh anggota MI6. Anggota MI6 tersebut menawari Saadi pindah ke London agar lebih aman. Saadi setuju, namun ia dan keluarganya justru ditahan oleh otoritas Hong Kong.

Saadi dan keluarganya kemudian diterbangkan kembali ke Libya dan ditahan di penjara Kota Tajoura. Saadi dipukuli, dintimidasi, dan disetrum. Anak-anaknya, plus sang ibu, kemudian dilepaskan setelah 10 minggu ditahan dan diperbolehkan masuk sekolah. Saadi dan Belhaj sendiri ditahan selama enam tahun oleh Khadafi, hingga tahun 2011 revolusi pecah.

Kerja Sama juga Melebar ke Bidang Pendidikan dan Keamanan
Inggris memang menampakkan wajah bengisnya selama revolusi penggulingan rezim Khadafi. Pesawat pembom hingga pasukan bersenjatanya di grup NATO beriringan dengan faksi-faksi pemberontak dalam upaya merebut kota demi kota di Libya. Situasinya cukup kontras, mengingat menurut catatan media massa, kerja sama antara Inggris dan Libya pada hingga beberapa tahun sebelum revolusi berlangsung cukup mesra di ranah pendidikan.

Merujuk laporan Cobain, Saif al-Islam Khadafi, anak Muammar Khadafi, pada tahun 2002 kembali bersekolah di London School of Economics (LSE). Sejak enam tahun silam muncul berbagai laporan tentang hubungan kuat antara Khadafi dan LSE. Lebih dari sekedar memasukkan anaknya bersekolah di universitas terkemuka di Inggris tersebut, Khadafi juga turut menjadi donor bagi LSE. Skandal ini kerap diistilahkan dengan “LSE Libya Links”.

LSM Gaddadi Foundation menyumbang sekitar 1,5 juta poundsterling selama lima tahun ke pusat penelitian LSE Global Governance. LSE kemudian menetapkan kontrak senilai 2,2 juta poundsterling untuk melatih para pejabat Libya, dan menilai bahwa langkah ini dimotivasi oleh cita-cita menyiapkan para pemimpin masa depan Libya.

Pada tahun 2008 juga ditemukan fakta menarik: LSE memberikan gelar PhD kepada Saif untuk disertasinya. Dalam laporan Telegraph, Saif juga membayar seorang profesor sebesar 600 poundsterling untuk membuatkan tugas-tugas kuliahnya. Selain biaya pembuatan paper ilmiah, sang dosen yang bernama Dr. Philip Dorswitz juga dibayar 150 poundsterling per jam untuk menjadi tutor pribadi Saif. SELANJUTNYA

AMP - Pasukan militer Suriah menemukan senjata buatan Israel dalam jumlah besar di sebuah lokasi di al-Mayadin, Provinsi Deir az-Zour, beberapa hari setelah mengambil alih kota itu dari tangan kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Mengutip komandan lapangan, kantor berita Suriah, SANA kemarin melaporkan, senjata-senjata itu termasuk sejumlah tipe senapan berat, ringan, dan sedang. Selain Israel, senjata itu juga berasal dari sejumlah negara Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Eropa.

Komandan juga menyebutkan mereka menemukan mortir, perlengkapan artileri dalam jumlah banyak dan bazoka kaliber 155 milimeter dengan jangkauan hingga 40 kilometer, seperti dilansir laman Press TV, Kamis (19/10).

Ini bukan kali pertama militer Suriah menemukan persenjataan buatan Israel dan NATO yang digunakan militan ISIS.

Menurut SANA, beberapa pekan sebelumnya, pasukan Suriah menemukan sebuah bazoka buatan Israel bersama sejumlah besar senjata, amunisi, dan peralatan komunikasi dari ISIS di daerah Jib al-Jarrah, sebelah timur pinggiran Homs.

Pemerintah Suriah sebelumnya kerap mengatakan rezim Israel dan negara Barat serta sekutunya membantu ISIS di Suriah. (merdeka.com)

AMP - Terselip lidah saat berbicara adalah hal lumrah yang kerap terjadi pada sejumlah orang dan pada beberapa kesempatan. Entah itu saat berbicara tatap muka dengan seseorang atau berpidato di depan khalayak ramai.

Maksud hati ingin mengatakan X. Namun apa daya, karena minim konsentrasi, kurang minum, atau beberapa faktor lain, mulut justru mengucapkan Y, jauh dari apa yang awalnya dikehendaki.

Ketika peristiwa tersebut terjadi, lawan bicara yang mendengar dan sadar akan hal itu, biasanya akan merespons dengan tersenyum atau menertawai si individu yang terselip lidah.

Respons serupa turut dilakukan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin kala mendengar salah satu menterinya terselip lidah dalam sebuah rapat kabinet.

Putin tertawa terbahak-bahak saat mendengar Menteri Pertanian Rusia Alexander Tkachev menyebut rencana untuk mengekspor daging babi ke Indonesia. Demikian seperti dikutip Al Arabiya, Selasa (17/10/2017).

Menurut media lokal, seperti dikutip Al Arabiya, Mentan Tkachev mengusulkan sebuah rencana untuk meningkatkan ekspor daging Rusia.

Ia kemudian menyebut, Rusia dapat mencontoh strategi Jerman dalam hal mengekspor daging babi ke beberapa negara Asia, seperti ke Jepang, China, dan Indonesia.

Mendengar hal itu, khususnya terkait rencana Tkachev mengekspor daging babi ke Indonesia, Putin pun tersenyum.

Eks agen KGB pada era-Soviet itu kemudian mengklarifikasi sang menteri, mengatakan bahwa Indonesia adalah negara mayoritas muslim yang kebanyakan warganya tidak memakan daging babi.

Namun, Tkachev --yang tampaknya tidak menyadari telah terselip lidah--tetap bersikukuh dan mengatakan kepada Putin, "Mereka tetap akan (memakan babi)."

Putin pun membalas Tkachev, "Tidak, mereka tidak akan (memakan babi)," sambil kemudian tertawa terbahak-bahak seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Sang Mentan, usai melihat Putin tertawa, lantas segera menyadari kekeliruannya. Tkachev kemudian tersenyum dan mengklarifikasi bahwa yang ia maksud adalah Jepang, China, dan Korea Selatan, bukan Indonesia.

Berikut video Presiden Putin tertawa usai mendengar rencana Rusia untuk mengekspor daging babi ke Indonesia. Simak Videonya Disini

AMP - Ayesha Begum yang berusia dua puluh tahun duduk di atas tikar plastik di dalam tempat penampungan dan tempat penampungan tarpaulin keluarganya di pemukiman pengungsi Aceh Balukhali yang luas.
Dia memeluk anak laki-lakinya yang berusia satu tahun di pelukannya, sering meniup wajahnya untuk memberikan kelegaan dari panas yang terik.
"Saya diperkosa hanya 13 hari yang lalu," kata pengungsi Rohingya.
Ayesha, yang tiba di Bangladesh kurang dari seminggu yang lalu, mengatakan bahwa dia sedang makan malam dengan empat saudara iparnya di desa mereka di Tami di Kotapraja Buthidaung Myanmar saat tentara menyerang dusun tersebut. Prajurit memasuki rumah mereka dan memaksa para wanita masuk ke sebuah ruangan.
Mereka merobek bayi Ayesha dari pelukannya dan menendangnya "seperti sepak bola".
Ayesha mengatakan bahwa tentara tersebut menelanjangi wanita-wanita itu dengan telanjang. Seorang tentara memegang pisau ke tenggorokannya dan mulai memperkosanya. Dua belas tentara bergantian untuk memperkosa wanita selama apa yang dia percaya beberapa jam.
"Aku merasa ingin membunuhku," kata Ayesha, matanya yang hitam waspada. "Saya takut anak saya meninggal," tambahnya sambil mengusap kepalanya.
Berbicara di depan ibu, saudara laki-laki, saudara perempuan dan suaminya, tanpa bilah bambu dan dinding lembaran plastik yang memisahkan mereka dari tetangga mereka di kedua sisinya, Ayesha mengatakan bahwa dibutuhkan waktu delapan hari untuk berjalan ke Bangladesh.
Saat melarikan diri dari Myanmar, dua saudara ipar perempuannya yang telah diperkosa dengannya meninggal. "Mereka sangat lemah sehingga mereka meninggal," katanya.

Selama lebih dari sebulan, tentara Myanmar telah melancarkan kampanye militer yang brutal di negara bagian Rakhine utara melawan Rohingya - sebuah kelompok etnis mayoritas Muslim yang olehnya pemerintah Myanmar menyangkal hak kewarganegaraan dan hak asasi manusia - setelah para pejuang dengan kelompok bersenjata Rohingya melakukan serangan pada pasukan keamanan pada 25 Agustus.
Tentara Myanmar telah melakukan sejumlah serangan semacam itu sejak tahun 1970an, di mana Rohingya telah melaporkan pemerkosaan, penyiksaan, pembakar dan pembunuhan. Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyebut pembersihan etnis ofensif militer terbaru.
Lebih dari 501.800 Rohingya telah melarikan diri dari negara yang mayoritas beragama Buddha dan menyeberang ke Bangladesh sejak 25 Agustus. Permukiman pengungsi yang padat penduduknya telah menjamur di sekitar jalan arteri di distrik Cox's Bazar di Bangladesh yang berbatasan dengan Myanmar.
Para pengungsi, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk tempat tinggal, makanan, sanitasi dan perawatan medis. Banyak perempuan dan anak perempuan diperkosa dan diserang secara seksual oleh tentara militer Myanmar.

Korban selamat dan saksi mata telah berbagi kisah tentang wanita dan anak perempuan yang diperkosa kemudian dikurung di dalam rumah yang dibakar. Mereka telah menceritakan kisah-kisah penyiksaan, mutilasi, dilucuti telanjang dan kekejaman lainnya dan tindakan penghinaan.
"[Prajurit] masuk ke rumah kami dan mereka mengambil adik perempuan kami. Dia sangat cantik," kata Mohsina Begum, 20, juga dari desa Tami. Dia mengatakan bahwa tentara diserang secara seksual dan berusaha memperkosanya sampai ketua desa turun tangan.
Sementara Mohsina dan keluarganya melarikan diri, mereka menemukan mayat saudara perempuannya yang berusia 19 tahun, namun tidak dapat berhenti menguburkannya.Cerita Rajuma: 'Mereka merobek anakku dariku dan memotong tenggorokannya'
Rajuma Begum, 20, selamat dari pembantaian 30 Agustus di Tula Toli, yang diyakini merupakan salah satu insiden kekerasan militer Myanmar yang paling brutal. Penduduk desa dibawa ke sebuah pantai di tepi sungai tempat orang-orang dipisahkan dari wanita dan anak-anak dan kemudian ditembak mati, di-hack sampai mati dan dibelenggu.
Rajuma menggendong anaknya, Mohammed Saddique, dalam pelukannya, ketika empat atau lima tentara mulai membawa wanita pergi dalam kelompok lima sampai tujuh.
"Mereka membawa saya bersama empat wanita lainnya di dalam sebuah rumah," Rajuma menceritakan, berbicara di sebuah sekolah di kamp pengungsi Kutupalong.
"Mereka merobek anakku dari pelukanku dan melemparkannya ke tanah dan memotong tenggorokannya," katanya, sebelum mengubur kepalanya di tangannya dan mulai meratap.
"Saya haus mendengar seseorang memanggil saya 'ma'," kata Rajuma di antara isak tangisnya. "Saya memiliki adik laki-laki berusia 10 tahun, saya minta maaf kepadanya karena mereka menangkapnya dan saya tidak dapat menyelamatkannya."
Rajuma ditahan di sebuah ruangan dengan tiga ibu lainnya, seorang gadis remaja dan satu wanita berusia sekitar 50 tahun. Para prajurit memperkosa mereka semua kecuali wanita yang lebih tua. Rajuma diperkosa oleh dua pria karena apa yang dia katakan terasa seperti dua atau tiga jam.
Setelah itu, mereka memukul perempuan dengan tongkat kayu, lalu menyalakan obor tiga kali untuk memastikan mereka mati. Para prajurit mengunci mereka di dalam rumah dan membakarnya.
Itu adalah panas dari api yang membuat Rajuma kembali sadar. Dia bisa menembus dinding bambu dan melarikan diri. Dia bersembunyi di atas bukit selama sehari dan saat dia keluar di sisi lain bertemu dengan tiga wanita lain dari desanya dan seorang yatim piatu.
Naked, dia mengenakan pakaian yang ditinggalkannya dengan melarikan diri dari Rohingya. Ketika melintasi perbatasan, seorang Bangladesh membantunya sampai ke Kutapalong dimana dia dirawat di sebuah klinik. Di Bangladesh, dia bertemu kembali dengan suaminya Mohammed Rafiq, 20, yang selamat dengan berenang menyeberangi sungai sebelum pembantaian di Tula Toli dimulai.

"Anggota keluarga saya terbunuh, dan sekarang hanya ada saya, saudara laki-laki dan suami saya di sini. Saya ingin berbagi ini dengan seluruh dunia sehingga mereka dapat membawa kedamaian," kata Rajuma, yang memiliki bekas luka di dagunya. dan di sisi kanan kepalanya di mana rambutnya telah dicukur dan disembunyikan oleh jilbab merah.
"Militer membunuh tujuh anggota keluarga saya Ibu saya, Sufia Khatun, 50 tahun, Rokeya Begum dan Rubina Begum, salah satunya berusia 18 tahun, dan yang lainnya berusia 15 tahun, kedua saudara perempuan saya dibawa oleh tentara dan diperkosa dan terbunuh, Musa Ali, saudara laki-laki saya, 10 tahun, saya menebak dia meninggal, dan ipar perempuan Khalida berusia 25 tahun, dan anaknya Rojook Ali, yang berusia dua setengah tahun, dan anak laki-laki saya Mohammed Saddique, yang berumur satu tahun empat bulan. "
Rajuma berkata: "Penting untuk mengetahui cerita kita, apa yang terjadi pada kita sebagai Rohingya."

Gema genosida Rwanda
Peter Bouckaert, direktur darurat Human Rights Watch yang menyelidiki kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, mengatakan dalam sebuah wawancara, kelompok tersebut mengumpulkan data mengenai "apa yang terjadi di seberang perbatasan karena kampanye pembersihan etnis ini terus berlanjut terhadap orang-orang Rohingya" dengan maksud Menuntut mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan tersebut.
"Dalam 20 tahun saya bekerja di Human Rights Watch, ini adalah beberapa pelanggaran paling mengerikan dan mengerikan yang telah saya dokumentasikan. Mereka benar-benar membawa kembali kenangan akan genosida di Rwanda dalam hal tingkat kebencian dan kekerasan ekstrem yang ditunjukkan - terutama terhadap wanita dan anak-anak, "katanya.
"Kami melihat pemerkosaan dan pelecehan seksual yang meluas pada wanita," Bouckaert menjelaskan.
"Mayoritas wanita yang diperkosa dibunuh. Tidak ada keraguan tentang itu," katanya, menambahkan bahwa "kebencian rasis" adalah motivasi di balik sebagian besar kekerasan tersebut.
"Kampanye dehumanisasi dan rasisme melawan Rohingya adalah benar-benar apa yang mendorong kekerasan ekstrem ini, termasuk kekerasan seksual, terhadap masyarakat," katanya, mengacu pada bagaimana pejabat telah lama menodai Rohingya sebagai "teroris", atau juga " kotor "bagi tentara untuk diperkosa.
"Kampanye kebencian ini ... benar-benar mengingatkan kita akan apa yang terjadi dengan orang Tutsi dalam genosida Rwanda, yang disebut 'kecoak' oleh pemerintah mereka. Anda tahu jenis kampanye ini berdampak langsung pada jenis kekerasan yang kita lihat."
Bouckaert mengatakan "tujuan utama" militer Myanmar adalah untuk "membersihkan Burma sepenuhnya dari populasi Rohingya".
"Mereka tidak diakui sebagai warga negara di negara mereka sendiri, dan mereka bahkan tidak dikenali sebagai pengungsi saat mereka melarikan diri dari kebrutalan ini. Jadi sulit untuk memikirkan orang-orang yang lebih ditinggalkan di dunia. Identitas mereka yang hancur . "

Implikasi kesehatan mental dari kekerasan seksual
Kate White, koordinator medis darurat untuk Dokter Tanpa Perbatasan (MSF), yang memiliki klinik di kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh, mengatakan bahwa kekerasan seksual "sudah pasti tersebar luas".
Sejak 25 Agustus, MSF telah menangani setidaknya 23 kasus kekerasan seksual dan berbasis gender. Layanan mereka meliputi perawatan medis untuk luka fisik, profilaksis infeksi menular seksual dan peraturan menstruasi bagi mereka yang mencurigai mereka hamil.
Memahami seberapa meluasnya kekerasan ini, kata White, merupakan tantangan karena mereka yang bersedia untuk maju dan mencari perawatan mewakili "puncak gunung es".
Dalam krisis saat ini, di mana orang lebih rentan karena keluarga yang rusak dan struktur pendukung dan lebih banyak rumah tangga sekarang dikepalai oleh wanita, White mengatakan bahwa orang dipaksa untuk memilih antara mengumpulkan makanan atau mencari perawatan kesehatan. "Saat ini prioritas mereka adalah bertahan hidup," katanya.

Putih mengantisipasi dampak jangka panjang dari kekerasan seksual akan pada kesehatan mental. Banyak korban selamat yang ditangani MSF mengalami trauma setelah diperkosa oleh beberapa pelaku atau beberapa kali saat melarikan diri, kata White, yang berbicara di kantor MSF Cox's Bazar.
"Saya harus mengakui ini adalah beberapa hasil kesehatan mental terburuk yang pernah saya lihat dalam hal kekerasan seksual. Dari segi dampaknya terhadapnya - sangat ekstrem," katanya, menggambarkan bagaimana beberapa orang yang selamat tidak dapat berfungsi. sehari-hari.
Stigma dan rasa malu budaya yang terkait dengan pemerkosaan di masyarakat Rohingya berarti banyak korban yang selamat tidak mungkin membicarakan pengalaman mereka, apalagi mencari pertolongan, terutama gadis yang belum menikah yang takut ditolak oleh calon suami.
Rajuma, korban Tula Toli, mengatakan bahwa suaminya mengetahui ceritanya dan berdiri di sampingnya. "Dia memberi saya cinta yang biasa dia berikan," katanya.

Cerita Yasmine: 'Saya pikir saya sekarat'
Di pemukiman pengungsi baru Palong Khali, yang jauh dari distribusi bantuan makanan dan dengan sedikit pos perawatan medis, di sepanjang jalur lumpur yang licin dan dikelilingi oleh sawah hijau terang, hiduplah Yasmine, yang namanya telah diubah untuk melindungi privasinya. Di tempat yang tidak biasa, dia bilang dia terlalu malu untuk berbicara dengan siapa pun tentang apa yang terjadi padanya.
Tapi dia setuju untuk menceritakan kisahnya setelah suaminya memberikan persetujuannya.
Pria 45 tahun tersebut berasal dari desa Chawprang di kota Buthidaung. Dia tiba di Bangladesh bersama suami dan 11 anaknya 19 hari yang lalu. Wanita ramping dengan selendang kuning berdebu menutupi kepalanya dan matanya basah karena air mata, menggambarkan bagaimana, sebelum tentara Myanmar menyerang desanya, keluarganya telah merumput ternak dan menanam padi. Anak-anaknya menjual sayuran, daun sirih dan ikan sungai di pasaran.
"Kami menjalani kehidupan yang baik sebelum krisis ini," kata Yasmine, anak bungsu yang berusia empat dan tertua 26 tahun.
Dia tidak ingat kapan tepatnya pasukan tentara menyerang desanya, namun pada hari-hari menjelang serdadu itu, dia memukul penduduk desa dan mencuri ternak mereka, katanya. Kemudian mereka datang suatu hari pada siang hari saat dia memberi makan tiga anak bungsunya.

"Mereka menyatakan bahwa Anda memiliki senjata, menyerahkan senjatanya, jika penduduk desa mengatakan bahwa mereka tidak memiliki senjata, maka mereka mulai membunuh mereka, mulai menyiksa mereka, mulai memukuli mereka," kenangnya.
Delapan tentara memasuki rumahnya. Mereka menendang dan meninju anak-anaknya berusia empat, enam dan delapan.
Dia menutupi mulutnya dengan selendangnya, melihat ke bawah dan berbicara dengan suara rendah. Ketika anak-anak dibawa keluar rumah, dia mengatakan lima tentara dengan berbagai usia memperkosanya sementara tiga orang menunggu di luar.
"Saya tidak bisa mengungkapkan ini sepenuhnya," katanya sambil menangis.
Anak bungsunya, seorang gadis, mengembara, duduk diam di samping ibunya, dan meletakkan tangannya di pangkuannya.
"Saya pikir saya sekarat," katanya. Keluarga tersebut melarikan diri beberapa hari kemudian dan membayar seorang tukang perahu untuk membawa mereka menyeberangi Sungai Naf ke Bangladesh.
"Di Myanmar, saya tidak bisa tidur nyenyak. Ada keamanan dalam hidup saya, jadi saya merasa lebih baik di sini," katanya.'Kami menginginkan keadilan'
Kembali ke kamp Balukhali, Ayesha menceritakan bagaimana setelah dia menyeberangi Sungai Naf dia akan mencari suaminya, Asadullah, 25, yang adalah seorang guru di sebuah sekolah Islam di Myanmar. Dia melarikan diri segera setelah 25 Agustus ketika tentara mengumpulkan orang-orang dari desa mereka, membunuh dan menyiksa mereka. Mereka memukulinya dengan sangat parah sehingga kakinya sekarang cacat.
Ketika sampai di Bangladesh, dia melihat beberapa penduduk desa yang dia kenal dan bertanya kepada mereka apakah mereka telah melihat suaminya. "Lalu seseorang memberi tahu yang lain, yang satu memberitahu yang lain," katanya. "Begitulah, setelah tiga hari, saya menemukan suami saya."
Asadullah mengatakan bahwa dia dipenuhi dengan kemarahan. "Saya merasa tidak enak di dalam, saya tidak dapat melakukan apapun untuk mereka," katanya, menambahkan bahwa dia percaya apa yang terjadi pada mereka adalah takdir. "Karena itulah saya tidak mengeluh tentang apa yang terjadi pada istri saya, saya mencintainya."
Ayesha mengatakan bahwa dia memiliki "rasa sakit di dalam hati saya". Untuk alasan ini, dia menambahkan, "Saya mengatakan hal ini yang terjadi pada saya, untuk mengurangi rasa sakit, saya membicarakannya."
Di tempat yang sempit, Ayesha berbicara terus terang, matanya bersinar. "Kami menginginkan keadilan, yang saya ingin orang-orang di seluruh dunia tahu: kami menginginkan keadilan," katanya.
Di sisi lain dinding bambu dan lembaran plastik, suara seorang wanita berseru, "Kami menginginkan keadilan."[Aljazeera.com]
 
 
 

AMP - Lebih dari 430.000 orang Rohingya telah tiba di distrik Cox's Bazar di Bangladesh dalam empat minggu terakhir, melarikan diri dari serangan militer di dalam Myanmar.
Lembaga bantuan mengatakan anak-anak, janda, orang tua dan orang cacat adalah yang paling rentan, membutuhkan bantuan dalam bentuk makanan, tempat tinggal dan perawatan kesehatan.
Al Jazeera berbicara dengan beberapa pengungsi, yang menceritakan kisah mereka.
Saya meninggalkan rumah saya di desa Kuinnyapara di Maungdaw.
Anakku, Abdullah, dibunuh oleh tentara Myanmar. Dia berusia 28. Dia merawatku. Saya melarikan diri untuk hidup saya bersama dengan sesama penduduk desa. Aku hampir tidak bisa berjalan, tapi entah bagaimana berhasil mencapai Dhankhali Char untuk menyeberangi sungai Naf ke Bangladesh.
Ketika saya tidak berdaya, seorang pemuda bernama Hamid Hossain, 27, menyelamatkan saya. Saya tiba di Bangladesh dengan Hamid melintasi perbatasan di Shah Pori Dwip pada tanggal 3 September.
Saya pertama kali berlindung di daerah perpanjangan Kutupalong dan kemudian dia beserta keluarganya bergeser ke puncak bukit di perpanjangan Balukhali. Saya tinggal di sini bersama Hamid tapi dia memiliki keluarga sendiri 15 orang.
Suami saya Abu Bakar Siddique meninggal delapan tahun yang lalu. Abdullah termasuk di antara delapan anak saya. Saya tidak tahu keberadaan anak-anak saya yang lain.
Tempat saya tinggal saat ini bagus tapi jauh dari jalan utama.
Saya telah meninggalkan segala sesuatu kepada Allah dan ingin mengambil nafas terakhir saya tanpa rasa takut diserang.
Saya melarikan diri dari daerah Badanat di Maungdaw. Di antara 10 anak saya, hanya satu anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang masih hidup, sisanya terbunuh saat melakukan serangan. Saat ini saya tinggal di dekat puncak bukit bersama putri saya.
Saya ingin makanan. Saya tidak makan apapun sejak pagi. Selain itu, saya tidak bisa tidur karena sakit di tubuh saya. Bisakah kamu melakukan apapun untukku?
Putri saya Nasima Begum, 42, suaminya, Ali Chan Miah, tinggal jauh dari jalan utama. Sulit untuk mengambil makanan di sini.
Nasima mengatakan: "Saya dan suami dan anak-anak saya bisa melewatkan hari dengan kelaparan namun sangat sulit bagi ibu saya untuk mentolerirnya pada usia ini."
Saya mengalami gangguan penglihatan. Saya mohon kepada kamp pengungsi Thaingkhali yang tidak terdaftar untuk bertahan hidup. Saya dari Charicomb di Maungdaw. Saya tinggal di tempat selama tujuh hari terakhir, tapi tidak bisa menemukan pusat medis. Saya perlu berkonsultasi dengan dokter mata.
Saya tidak tahu di mana saya bisa menemukan tempat medis untuk tuna netra.
Saya senang saya datang kesini. Setidaknya tidak ada yang membunuhku. Orang-orang di sini bermurah hati, mereka memberi makanan.
Kaki saya lumpuh saat masih kecil, akibatnya saya tidak bisa menikah sampai sekarang.
Ayah dan ibuku meninggal beberapa tahun yang lalu, dan kami tinggal di desa Morikhong di Maungdaw sendirian.
Ketika desa-desa terdekat diserang, saya memberi sekitar 300.000 Kyat kepada dua anak laki-laki dari desa saya untuk membantu kami mencapai Bangladesh.
Saat ini saya tinggal di gudang nomor 19 di Blok D di kamp Kutupalong yang terdaftar di rumah salah satu kerabat saya.
Adik perempuan Jannat Shamima, 22, mengatakan bahwa mereka hidup dengan sejumlah uang yang ditinggalkan oleh ayah mereka
"Tapi sekarang kita punya sedikit uang yang tersisa.
"Saya tidak tahu bagaimana kita bisa bertahan setelah uang selesai. Kita tidak punya sumber penghasilan di sini.
"Berkat penyandang cacat Internasional, sebuah LSM, kita memiliki tempat untuk mendapatkan perawatan yang bebas biaya, tapi siapa yang akan memberi kita makanan dan tempat tinggal di masa depan?"
Sumber: Berita Al Jazeera

AS mengirimkan lebih dari 3.000 tentara baru ke Afghanistan. Foto/Istimewa
AMP - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), James Mattis, mengkonfirmasi bahwa lebih dari 3.000 tentara baru akan menuju ke Afghanistan. Pengiriman tentara itu sebagai bagian dari strategi baru Presiden Donald Trump untuk memenangkan perang yang telah berlangsung selama hampir 16 tahun.

"Ini kira-kira lebih dari 3.000 dan sejujurnya saya belum menandatangani perintah terakhir saat ini karena kami melihat elemen kecil yang spesifik," jelas Mattis seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (19/9/2017).

Sebelumnya, Senator David Perdue menyebut angka 3.500 lebih tentara dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Defense One.

"Terlalu lama, strategi Amerika di Afghanistan didorong oleh politik, yang menyebabkan kapten pasukan sewenang-wenang dan jadwal yang tidak masuk akal untuk penarikan tentara. Akhirnya sarung tangan dimatikan," tulis Perdue, mencatat bahwa musuh menafsirkannya sebagai kurangnya tekad untuk menang.

Perdue, yang mengunjungi Afghanistan pada bulan Juli, memuji Trump sebagai panglima tertinggi yang mendengarkan para pemimpin militernya. "Dan mengerti bahwa kita memerlukan pendekatan yang lebih baik dan bijaksana di Afghanistan," imbuhnya.

Trump mengumumkan strategi barunya pada akhir Agustus lalu, dengan memberikan pembalasan cepat dan ampuh terhadap organisasi teroris yang mencari tempat yang aman di Afghanistan. Alih-alih memberikan tenggat waktu, dia mengatakan bahwa kemenangan akan didasari pada "kondisi di lapangan."

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menggambarkan strategi baru tersebut sebagai jalan buntu, sementara Pakistan dan China mengkritik pendekatan Washington, mencatat bahwa tidak ada solusi militer untuk situasi di Afghanistan. (Sindo)

AMP - Ribuan Muslim Rohingya di barat laut yang dilanda kekerasan Myanmar memohon kepada pihak berwenang untuk melakukan perjalanan yang aman dari dua desa terpencil yang terputus oleh perbuatan umat Buddha yang bermusuhan dan kekurangan makanan.

"Kami ketakutan," Maung Maung, seorang pejabat Rohingya di desa Ah Nauk Pyin, mengatakan kepada kantor berita Reuters melalui telepon. "Kami akan kelaparan sebentar lagi dan mereka mengancam akan membakar rumah kami."

Seorang Rohingya lainnya menghubungi, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa umat Buddha Rakhine etnis datang ke desa yang sama dan berteriak, "Tinggalkan atau kita akan membunuh Anda semua."

Hubungan rapuh antara Ah Nauk Pyin dan tetangganya Rakhine hancur pada 25 Agustus ketika serangan mematikan oleh pemberontak Rohingya di negara bagian Rakhine memicu sebuah respon ganas dari pasukan keamanan Myanmar.

Sedikitnya 430.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh untuk menghindari apa yang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa disebut "contoh buku teks tentang pembersihan etnis".

Sekitar satu juta Rohingya tinggal di Rakhine sampai kekerasan baru-baru ini terjadi. Sebagian besar menghadapi pembatasan perjalanan yang kejam dan ditolak kewarganegaraannya di negara di mana banyak umat Buddha menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh.

Tin Maung Swe, sekretaris pemerintah negara bagian Rakhine, mengatakan bahwa dia bekerja sama dengan pihak berwenang setempat, dan tidak menerima informasi tentang permohonan warga desa Rohingya untuk perjalanan yang aman.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," katanya saat ditanyai tentang ketegangan. "Rathedaung Selatan benar-benar aman."

Juru bicara kepolisian nasional Myo Thu Soe mengatakan bahwa dia juga tidak memiliki informasi tentang desa Rohingya, namun dia akan menyelidiki masalah tersebut.

Inggris akan menjadi tuan rumah pertemuan tingkat menteri pada hari Senin di sela-sela Sidang Umum PBB tahunan di New York untuk membahas situasi di Rakhine.

Dilingkari


Ah Nauk Pyin duduk di semenanjung berbatu bakau di Rathedaung, satu dari tiga kotapraja di negara bagian Rakhine utara. Penduduk desa mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kapal.

Sampai tiga minggu yang lalu, ada 21 desa Muslim di Rathedaung, bersama dengan tiga kamp pengungsi Muslim yang dilecehkan oleh kekerasan agama sebelumnya. Enam belas dari desa-desa tersebut dan ketiga kamp tersebut telah dikosongkan dan dalam banyak kasus dibakar, memaksa sekitar 28.000 Rohingya untuk melarikan diri.

Lima desa Rohingya Rathedaung yang masih hidup dan 8.000 penduduknya dikelilingi oleh umat Buddha Rakhine dan sangat rentan, katakanlah pemantau hak asasi manusia.

Situasinya sangat mengerikan di Ah Nauk Pyin dan dekat Naung Pin Gyi, di mana ada rute pelarian ke Bangladesh yang panjang, sulit, dan kadang-kadang diblokir oleh tetangga Rakhine yang bermusuhan.

Maung Maung, pejabat Rohingya, mengatakan bahwa penduduk desa telah mengundurkan diri untuk pergi namun pihak berwenang tidak menanggapi permintaan keamanan mereka. Pada malam hari, katanya, penduduk desa mendengar tembakan yang jauh.

"Lebih baik mereka pergi ke tempat lain," kata Thein Aung, seorang pejabat Rathedaung, yang menolak tuduhan Rohingya bahwa Rakhines mengancam mereka.

Hanya dua serangan 25 Agustus oleh Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) yang berlangsung di Rathedaung. Tapi perkampungan itu sudah menjadi ketegangan ketegangan religius, dengan ARSA mengutip penganiayaan Rohingya di sana sebagai satu pembenaran atas ofensifnya.

Maung Maung mengatakan bahwa dia telah menghubungi polisi setidaknya 30 kali untuk melaporkan ancaman terhadap desanya.

Pada tanggal 13 September, dia mengatakan, dia mendapat telepon dari seorang penduduk desa Rakhine yang dia kenal. "Tinggalkan besok atau kita akan datang dan membakar semua rumah Anda," kata pria itu, menurut sebuah rekaman yang Maung Maung berikan kepada Reuters.

Ketika Maung Maung memprotes bahwa mereka tidak punya sarana untuk melarikan diri, pria itu menjawab: "Itu bukan masalah kita."

Pada tanggal 31 Agustus, polisi mengadakan pertemuan di pinggir jalan antara dua desa, yang dihadiri oleh tujuh orang Rohingya dari Ah Nauk Pyin dan 14 pejabat Rakhine dari desa-desa sekitar.

Alih-alih menangani keluhan Rohingya, kata Maung Maung dan dua orang Rohingya lainnya yang hadir dalam pertemuan tersebut, pejabat Rakhine menyampaikan sebuah ultimatum.

"Mereka mengatakan bahwa mereka tidak ingin ada orang Muslim di wilayah ini dan kami harus segera pergi," kata warga Rohingya Ah Nauk Pyin yang meminta namanya dirahasiakan.

Rohingya setuju, kata Maung Maung, tapi hanya jika pihak berwenang memberikan keamanan.

Mereka belum mendapat tanggapan, katanya.[aljazeera.com]

Kerumunan warga Rohingya termasuk anak-anak mengevakuasi jasad tiga anak kecil termasuk bayi di tepi Sungai Naf. Foto/ABC
AMP - Tiga jasad anak kecil etnis Muslim Rohingya, termasuk bayi ditemukan terdampar di tepi Sungai Naf, sungai perbatasan Myanmar dan Bangladesh. Ketiga jasad itu diduga korban penembakan aparat polisi Myanmar saat para korban melarikan diri bersama keluarganya dari Rakhine.

Penemuan jasad anak-anak Rohingya itu direkam dan videonya telah dirilis media, Australia, ABC.

Dalam video tersebut, beberapa anggota sebuah keluarga telah berhasil sampai ke sisi Sungai Naf yang berada di Bangladesh. Namun, ada anggota keluarga lainnya yang putus asa sedang menarik jasad anak-anak yang tewas dari air sungai.

Para pengungsi menyatakan, jasad-jasad itu merupakan korban tindakan keras polisi Myanmar di wilayah perbatasan. Namun, klaim dan video tersebut belum bisa diverifikasi karena polisi Myanmar tindak memberikan konfirmasi.

Video itu juga diteima pemimpin masyarakat Rohingya, Anwar Sha, yang kini tinggal di Australia. Anwar telah kehilangan kontak dengan keluarganya sejak kekerasan terbaru pecah di negara bagian Rakhine atau Arakan 25 Agustus 2017 lalu.

”Saya mendengar salah satu saudara perempuan saya telah menyeberang ke Bangladesh, tapi dua saudara perempuan lainnya, saya belum pernah mendengar tentang mereka,” kata Anwar.

”Tidak ada kontak dengan mereka dan saya tidak tahu di mana mereka berada,” ujarnya. Selama dua minggu terakhir, dia telah menerima banyak video yang direkam oleh warga sipil Rohingya dan sejumlah wartawan.

Sebuah laporan dari para aktivis mengatakan bahwa pelanggaran HAM secara sistematis terhadap etnis Rohingya terjadi di Rakhine. Tindakan itu mendekati definisi genosida.

”Ada sekitar 30.000 orang yang terjebak di perbukitan jauh dari Bangladesh,” kata Anwar. ”Mereka tidak punya makanan, mereka tidak memiliki tempat berlindung. Mereka sekarat di sana,” ujarnya.

”Begitu mereka mencoba keluar dari sana, kelompok demi kelompok, militer dan polisi menyerang mereka dan membantai mereka,” imbuh dia.

Citra satelit menunjukkan ribuan rumah warga Rohingya telah dibakar sejak 25 Agustus.

”Kami melihat desa-desa dibakar sampai rata dengan tanah dalam skala yang belum pernah terlihat sebelumnya,” kata Kayleigh Long, seorang jurnalis lepas yang meliput tragedi Rohingya, kepada Lateline.

”Ada laporan yang keluar dari orang-orang yang melarikan diri, tentara menembaki tanpa pandang bulu, orang-orang hanya melarikan diri dengan apapun yang mereka miliki dan dalam banyak kasus semuanya telah terbakar,” ujarnya.

Anwar menambahkan, sebuah video yang direkam oleh stasiun televisi Myanmar menunjukkan bahwa desa masa kecilnya terbakar. ”Suatu hari saya pernah bermimpi untuk pergi ke desa saya,” katanya. ”Saya tidak punya harapan lagi.”

Dalam video tersebut, beberapa keluarga yang tampak ketakutan berkumpul bersama di hutan.

Pria yang direkam sedang berdoa agar mendapat bantuan.”Oh, ayah, cobalah untuk kami, selamatkan hidup kami,” katanya. [Sindo]
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget