Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Seputar Aceh"

Satuan Reserse Narkoba Polresta Medan mengungkap pengedar sabu Aceh-Tiongkok dengan modus menyamarkan di dalam bungkus teh hijau, dari berbagai lokasi terpisah di Medan.
Polisi Bongkar Jaringan Narkoba Aceh-Tiongkok, 4,9 Kg Sabu Disita
Dari pengungkapan ini petugas mengamankan barang bukti 4,9 Kg sabu, beserta tiga orang tersangka yakni RH (43) warga Jalan Nyiur Perumnas Simalingkar, AM (31) warga Jalan Gatot Subroto Medan, dan AMD (47) warga Jalan Pancing Medan.

Kapolresta Medan Kombes Pol Mardiaz Kusin Dwihananto, didampingi Kasat Narkoba Kompol Boy J Situmorang, Senin (27/6/2016) sore menjelaskan penangkapan bermula dari laporan masyarakat yang menyebutkan adanya peredaran narkoba di kawasan Simalingkar.

�Pengungkapan ini dengan cara undercover buy, dan mengamankan tersangka RH di Simalingkar,� kata Mardiaz.

Dari penangkapan RH petugas mengamankan barang bukti 100 gram sabu, petugas lalu melakukan pengembangan, dan meringkus kedua tersangka lain yakni AM dan AMD.

�Saat penggeledahan rumah AM, ditemukan barang bukti 4,8 Kg sabu,� ujarnya.

Dijelaskan Mardiaz, barang bukti narkoba ini didapati dari Aceh, dan kuat dugaan terkait jaringan dengan jaringan internasional yang beberapa waktu lalu sempat diungkap BNN.
sumber: statusaceh.net

Setelah sempat terlibat baku tembak. Tim Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat, Rabu pagi (1/3/2017), akhirnya berhasil menciduk enam warga sipil asal Aceh Utara dan Bireuen, Provinsi Aceh dan satu oknum TNI dari Denpom Medan. Peristiwa itu terjadi di Jalan Binjai, kilometer 10.5, Sunggal Deli Serdang, Sumatera Utara.
Baku Tembak, Enam Warga Aceh Utara dan Bireun Bawa Sabu 35 Kg di Ciduk BNN
Sumber  menyebutkan. Sekira pukul 09.30 WIB, enam orang yang diduga sebagai komplotan bandar sabu datang beriringan dari kawasan Binjai, menggunakan mobil Xenia Hitam BK 1856 KV dan mobil Honda CR-V BK 1189 OG.

Nah, begitu masuk daerah jalan  Binjai persis kilometer 10.5,  petugas BNN berusaha menghentikan komplotan itu namun mereka malah tancap gas. Persis di depan Kantor BPBD, barulah terjadi penembakan.

Bersamaan dengan itu, melintas Lettu Inf Tumpal Manihuruk, Danramil Binjai Kodim 0203/Lkt dan membantu penangkapan. Hasilnya, tim BNN mengamankan barang bukti (BB) berupa mobil para pelaku ke dalam Kantor BPNP Sumut. Tujuannya agar tidak terjadi kemacetan di jalan dan untuk mempermudah pengembangan.

Akibat peristiwa itu, dari 4 tersangak bandar narkoba tadi, satu tewas ditempat dan 3 masih hidup. Sementara kendaraan yang digunakan para pelaku adalah satu unit mobil Xenia hitam BK 1856 KV dan mobil Honda CR-V BK 1189 OG.

Selain itu ada tiga  tas ransel diperkirakan seberat 30 kilogram berisi sabu dan masih dilakukan pendalaman oleh pihak BNN .

Setelah itu diadakan pengembangan lanjutan dari tersangka  yang hidup. Tim BNN Pusat kemudian bergerak ke jalan Gang Langgar,  Kecamatan Sunggal, Medan dan dilakukan penangkapan sabu diperkirakan seberat 35 kilogram di rumah pribadi anggota Denpom Medan Sertu Habibie.

Adapun para pelaku sipil lainnyq adalah. Junet (45) asal  Aceh Utara. Andi (32), Bireuen. Hendra (26), Aceh Utara, Zakaria (25), Aceh Utara, Rahmat (24) dan Rizal (20) juga asal Aceh Utara.

Semua pelaju sipil telah dibawa oleh tim BNN, sementara Sertu Habibie sedang dalam pendalaman tim BNN Pusat, Jakarta.

sumber: statusaceh.net

Tim intel Polres Aceh Tengah temukan bendera Palu Arit di ruang kerja PPAT/NOTARIS Budi Harto SH, Rabu (21/12/2016), sekira pukul 14.30 WIB. Bendera lambang "Palu Arit  itu terpasang di ruang Budi Harto, SH Jl. Terminal Kp. Blangkolak Asli Kec. Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah.
Polres Aceh Tengah Temukan Bendara Palu Arit di Ruang Notaris
Menurut Budi Harto bahwa bendera tersebut diperoleh pada saat liburan ke Vietnam sekitar enam bulan  lalu.

Kata  Budi Harto bendera tersebut dibelinya sebagai "souvenir" dari Vietnam.

Saat ditanya apakah dia tahu kalau itu lambang komunis dan Vietnam negara komunis, Budi Harto, mengakui benar.

Karena itu dia mengaku tidak memakainya atau bendera tersebut tidak dipajang didepan atau ditempat umum, hanya di ruangan pribadinya. 

Kontributor MODUSACEH.CO di Takengon melaporkan. Saat ini Kasat Intel Polres Aceh Tengah masih berkoordinasi dengan Kapolres Aceh Tengah, terkait langkah hukum selanjutnya. Sementara Budi belum berhasil di konfirmasi.
sumber: www.modusaceh.co

Dua siswa SMAN 1 Paya Bakong, Aceh Utara, Maulidi Rahmi dan Fadlon dipastikan akan mewakili Indonesia ke ajang Lomba Matrix Internasional di Kazakhstan.
Wakili Indonesia di Ajang Internasional, Dua Siswa Pedalaman Aceh Utara Terkendala Dana
Maulid Rahmi dan Fadlon meraih medali perak pada ajang Indonesian Science Project Olimpiad, di Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan, 24-26 Februari 2017 untuk kategori komputer. Siswa SMAN 1 Paya Bakong berhasil membuat perangkat sofware untuk memudahkan tuna rungu memahami huruf abjad.

Cara kerja software yang dibuat oleh mereka adalah dengan menggerakan tangan, yabg kemudian direkam oleh webcam lalu keluar huruf abjad di layar komputer.
Berdasarkan informasi yang diterima oleh Klikkabar.com, kedua siswa ini kini terkendala persoalan dana untuk biaya transportasi ke Khazastan, menurut pihak sekolah, mereka telah berupaya menelusuri ke dinas terkait akan tetapi belum membuahkan hasil.

Pihak sekolah pun berharap bantuan dari para akademisi, pegiat ilmu pengetahuan dan pecinta pendidikan agar dapat membantu dua putra Aceh yang berprestasi ini untuk dapat go internasional.
Kepada para pembaca yang ingin membantu atau mengetahui informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Kepala Sekolah SMAN 1 Paya Bakong Drs. Sayuti (085261349558 ), Nazaruddin Usman selaku guru setempat (085361161210 ) atau alumni SMAN 1 Paya Bakong, Reza Vahlevi (0811680038 )
Sumber: Klikkabar.com

BANDA ACEH - Warga Kota Banda Aceh yang terdiri atas PNS, ibu pengajian, masyarakat umum dan pelajar, Jumat (3/3) memadati acara Dakwah Jumatan yang berlangsung di Taman Sari (Taman Bustanussalatin), Banda Aceh. Dakwah itu menghadirkan Tgk Masrul Aidi sebagai penceramah dan Wirda Mansur, putri dari Ustad Yusuf Mansur yang tampil motivator untuk generasi muda.
Warga Banda Aceh Padati Dakwah Wirda Mansur
Dalam ceramahnya kemarin, Tgk Masrul menyampaikan harapannya agar ke depan Pemko Banda Aceh, agar dapat menjalankan program yang mampu memotivasi kawula muda Banda Aceh untuk menghafal Alquran. Ia pun sempat mengusulkan beberapa program, seperti mengubah tadarus saat bulan Ramadhan menjadi lomba membaca Alquran. Selain itu Pemko juga disarankan membuat lomba hafalan Alquran selama bulan ramadhan, jika mampu menghafal beberapa juz, maka di akhir ramadhan maka akan diberikan hadiah.

Ustad Masrul juga berharap agar pemuda dan remaja yang mampu menghafal Alquran dan memiliki suara yang merdu dapat diberikan kesempatan untuk menjadi Imam Shalat. Sehingga menjadi motivasi bagi remaja lainnya dan tentu membuat bangga para orang tuanya. �Mungkin bisa kita kasih kesempatan bagi mereka menjadi Imam Shalat Tarawih dulu. Para orang tua akan termotivasi datang ke Masjid karena bangga dengan anaknya,� ujar Ustad Marul Aidi.

Sementara itu, Wirda Mansur yang tampil untuk memberikan motivasi mengatakan, bahwa yang harus dimiliki seseorang jika ingin melakukan sesuatu yaitu kesungguhan dan keinginan untuk berubah. Menurut Wirda, dengan mampu menghafal Alquran 30 juz membuat dirinya mampu menjelajah ke banyak negara di dunia, bahkan ia pernah menetap di Amerika Serikat dan dinobatkan sebagai duta Alquran.
Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa�aduddin Djamal kolaborasi Ustad Masrul Aidi dan Wirda Mansur dapat memantik semangat anak-anak Banda Aceh dalam belajar, menghafal dan memahami Alquran serta mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Serambi: http://aceh.tribunnews.com

Diduga melakukan pencemaran nama baik pribadi dan lembaga, terkait isu menerima suap Rp1 miliar, Ketua Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Kabupaten Bireuen, Muhammad Basyir membuat laporan ke Polres Bireuen, Jumat (3/3/2017).
Menurut informasi yang diperoleh GoAceh dari seorang komisioner Panwaslih Bireuen, laporan yang dilayangkan Muhammad Basyir itu kini sedang dibuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Polres setempat.

Sementara itu, Muhammad Basyir membenarkan, kalau dirinya telah melaporkan ke pihak berwajib, terkait pencemaran nama baiknya, berupa tulisan yang dilansir di sebuah situs, Senin (27/2/2017) lalu, yang menuding dirinya telah menerima suap saat Pilkada Bireuen 2017. 
Ads �Dalam situs itu disebutkan, isu Panwaslih Bireuen terima uang Rp1 miliar, kemudian diposting dan disebarkan pengguna media sosial lainnya,� kata Basyir.

Untuk kejelasan, Basyir juga turut membawakan print out berita tersebut dan sejumlah bukti pemilik akun media sosial yang ikut menyebarkannya dan mengomentari isu tersebut.

Komisioner Panwaslih Bireuen, Desi Safnita kepada GoAceh saat konferensi pers di Mapolres Bireuen, Jumat (3/3/2017) meminta, penulis dan penyebar fitnah tersebut untuk datang langsung ke kantor Panwaslih Bireuen, guna meminta maaf kepada pihaknya.

�Hingga saat ini kami sudah tahu siapa orang tersebut, di mana posisisnya dan apa motifnya. Tetapi kami masih membuka niat baik, agar datang untuk meminta maaf, baik secara kelembagaan maupun pribadi,� ujar Desi.

Tak hanya penulis berita di media abal-abal, tambah Desi, tetapi kepada siapapun yang ikut menyebarkan terkait isu tersebut di media sosial juga harus datang guna meminat maaf. �Kami masih membuka pintu, agar mereka datang untuk segera meminta maaf, sebelum kasus ini diproses hukum,� pinta Desi.

Sumber: https://www.goaceh.co/berita/baca/2017/03/03/dituding-terima-suap-rp1-miliar-panwaslih-bireuen-lapor-polisi#sthash.JAoGBxEg.dpbs

Lhokseumawe � Warga Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, melakukan pengerebekan lokasi maksiat secara bersamaan di dua tempat terpisah.
Warga Lhokseumawe Grebek Lokasi Maksiat
Dua tempat terpisah dimaksud antara lain, di kawasan Cunda, Kecamatan Muara Dua, pada sebuah ruko lantai atas yang digunakan sebagai tempat dugem, serta pada sebuah di lokasi pasar buah, Kecamatan Banda Sakti yang digunakan untuk berbuat mesum.

Kasatpol PP dan Wilayatul Hisbah Kota Lhokseumawe M Irsyadi yang didampingi oleh Kabid Penegakan Kebijakan Daerah dan Syariat Islam (PKDSI) M.Nasir, Kamis, mengatakan bahwa untuk lokasi di Cunda, digerebek oleh warga setempat pada malam hari.

Didalam pengerebekan tersebut, warga hanya menemukan tujuh orang wanita dan satu orang pria, sedangkan yang lainnya melarikan diri. Tujuh orang wanita yang diamankan langsung diserahkan oleh warga ke Satpol PP dan WH Kota Lhokseumawe untuk ditindaklanjuti.
Umumnya wanita yang ditangkap tersebut merupakan warga Lhokseumawe dan Aceh Utara.

Sedangkan berdasarkan hasil keterangan sementara, lokasi ruko lantai atas yang dijadikan tempat dugem tersebut belum sampai sebulan beroperasi. Sementara di lokasi pasar buah warga mengamankan sebanyak dua pasangan yang diduga hendak melakukan mesum.
Setelah ditangkap oleh warga, lalu diserahkan kepada pihak Satpol PP dan WH Kota Lhokseumawe untuk ditindaklanjuti

Terkait belasan pelanggar syariat Islam yang ditangkap oleh warga tersebut, Kasatpol PP dan WH Kota Lhokseumawe mengatakan, bahwa pihaknya akan meminta keterangan lebih lanjut dari para pelanggar. Serta akan ditindaklanjuti sebagaimana mestinya.

Sumber: Sumber: http://harianmerdeka.com/warga-lhokseumawe-grebek-lokasi-maksiat

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengingatkan pentingnya Pancasila dalam kehidupan di masyarakat Indonesia. Sebagai negara demokrasi, Megawati merasa Indonesia seharusnya mempertahankan pelbagai budaya dan adat istiadat.
Megawati: Kalau Islam, jangan jadi Arab
Itu diungkapkan Megawati dalam pidatonya di hari ulang tahun ke 44 PDIP di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (10/1). Menurut dia, Presiden Soekarno bahkan sudah sejak lama meminta Indonesia mempertahankan segala tentang Indonesia meski banyak budaya.

"Bung Karno menegaskan, kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini," kata Megawati di depan ribuan kader PDIP.

Megawati menegaskan, Pancasila merupakan jiwa bangsa dengan nilai-nilai filosofis ideologis agar bangsa Indonesia tidak kehilangan arah dan jati diri. Ada tiga poin atau Trisila penting dari Pancasila.

Pertama, kata dia, sosio-nasionalisme yang merupakan perasan dari kebangsaan dan internasionalisme; kebangsaan dan peri kemanusiaan. Kedua, sosio-demokrasi. Itu artinya demokrasi dimaksud bukan dari bangsa barat. "Demokrasi yang dimaksud adalah demokrasi politik ekonomi, yaitu demokrasi yang melekat dengan kesejahteraan sosial, yang diperas menjadi satu dalam sosio-demokrasi," tegasnya.

Terakhir, ungkap Mega, adalah Ketuhanan. Ini menjadi poin ketiga bukan karena derajat kepentingannya paling bawah. Tetapi, ini justru sebagai pondasi kebangsaan, demokrasi politik dan ekonomi bangsa Indonesia.

"Tanpa Ketuhanan bangsa ini pasti oleng. Ketuhanan yang dimaksud adalah Ketuhanan dengan cara berkebudayaan dan berkeadaban; dengan saling hormat menghormati satu dengan yang lain, dengan tetap tidak kehilangan karakter dan identitas sebagai bangsa Indonesia," terangnya.

Hari ulang tahun ke 44 PDIP ini, juga dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla. Selain itu, hampir semua menteri Kabinet Kerja juga diboyong Jokowi dalam acara ini.
Merdeka.com

Harga emas di toko-toko emas di Banda Aceh ikut naik seiring naiknya harga emas di pasar internasional. Pada Selasa (12/7), harga �si kuning� di Banda Aceh hampir Rp 1,9 juta/mayam tepatnya Rp 566.000/gram, sehingga per mayam Rp 1.884.780 (satu mayam setara 3,33 gram), belum termasuk ongkos buat.
Harga Emas Selangit, Jomblo Aceh Menjerit
Demikian diberitakan Harian Serambi Indonesia hari ini. Tak berapa lama setelahnya, fenomena kenaikan harga emas, yang merupakan tertinggi selama kurun 2016 ini, kemudian mendapat tanggapan beragam dari masyarakat Aceh, khususnya para anak muda yang masih jomblo (bujang).

Selama ini, emas memang identik dengan mahar untuk menikah di Aceh. Bahkan ada yang iseng membuat grafik jumlah mahar (mas kawin) berdasarkan wilayah di Provinsi Aceh. Wanita Pidie disebut-sebut sebagai yang termahal dalam mematok "tarif" (lihat gambar diatas).

Komentar lajang Aceh satu ini misalnya, yang terlihat "merintih" pada dinding akun facebooknya, sungguh begitu menyayat hati siapapun yang membacanya.

Memikirkan tingginya mas kawin, acap menjadi momok yang sangat menakutkan bagi para lelaki Aceh, yang hendak membina rumah tangga. Hal ini melanda mereka yang merasa dirinya belum mapan, sementara dari segi umur sudah sangat layak untuk menikah.

Padahal tidak semua orang tua mempelai wanita di Aceh akan memasang mahar tinggi, ketika ada yang ingin mempersunting anaknya. Bahkan ada yang hanya melihat latar-belakang keluarga si laki-laki, apakah dia itu berasal dari keluarga baik-baik, punya pendidikan agama, dan lain-lain, tanpa mempersoalkan jumlah mahar.

Namun, adat dan kebiasaan setempat telah membuat orang-orang yang ingin menikah, umumnya akan diliputi kegelisahan soal mahar. Bila menikah dengan mahar ala-kadar, umumnya wanita Aceh cenderung akan merasa minder dengan teman-temannya yang menikah dengan mahar lebih tinggi, begitupun di pihak lelaki, dia akan dianggap kurang tajir.

Karuan saja, kebiasaan itu telah menyebabkan Aceh sebagai satu-satunya Daerah di Indonesia, yang telah menerapkan Hukum Islam ini dilanda berbagai kasus khalwat (mesum), yang trendnya kian hari kian meningkat. Kurangnya lapangan kerja di Serambi Mekkah, juga telah menjadikan persoalan "ke penghulu" ini menjadi kian kompleks. 

Banyak pasangan muda-mudi yang secara "batin" sudah siap menikah, namun secara "lahir" belum cenderung memilih jalan pintas. Umumnya hal tersebut dilakukan oleh mereka yang lemah iman dan dangkal pemahaman terhadap agama, sehingga tidak kuasa melawan dorongan "arus bawah"nya.

Semoga ini menjadi konsen dari para pemangku kepentingan di negeri ini, untuk segera dicarikan solusi, agar para "bujang lapuk" bisa segera berlayar ke "pulau kapuk", bersama pasangan halalnya.

Jadi, "Bek coba-coba teumanyong 'pajan kawen' bak aneuk muda Aceh jinoe siat beuh? Abeh neuh"...hehehe.
sumber: http://www.goolerampoe.com/2016/07/harga-emas-selangit-jomblo-aceh-menjerit.html

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H. M. Daud Pakeh mengatakan bahwa pada tahun 2017/1438 H jumlah Kuota Haji Aceh mengalami penambahan dari tahun sebelumnya. Pada tahun ini kuota Haji Aceh berjumlah 4.393 (Empat Ribu Tiga Ratus Sembilan Puluh Tiga) Orang termasuk didalamnya 34 orang TPHD, sedangkan secara nasional Kuota haji Indonesia tahun 2017 berjumlah 221.000 orang.
Hal tersebut dikatakan Kakanwil, sesuai dengan jumlah yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 75 tahun 2017 tentang penentapan Kuota Haji 1438 H.

Untuk Tahun ini Kuota haji Aceh bertambah 1.282 orang atau sekitar 41.2 Persen dari tahun sebelumnya, bahkan Kuota tahun ini lebih banyak dari kuota yang ada pada tahun seblelumnya, kita sangat bersyukur atas penambahan ini, sehingga mengurangi masa tunggu jamaah haji Aceh, Ujar Daud Pakeh didampingi Kabid PHU dan Kasubbag Inmas di ruang kerjanya, Rabu, (1/3).
Tahun 2017, Kuota Haji Aceh Bertambah
Dengan adanya penambahan Kuota Haji Aceh ini, Kakanwil menghimbau kepada masyarakat Aceh yang termasuk dalam estinasi nomor porsi berangkat pada tahun ini untuk mempersiapkan diri mulai dari pembuatan paspor, pemeriksaaan kesehatan di Puskesmas dan belajar manasik haji.

Kami menghimbau kepada masyarakat mulai sekarang sudah bisa mempelajari manasik haji, kalau bisa ilmu manasik ini terus dipelajari agar kita lebih siap dalam menjalani ibadah nantinya, tidak harus menunggu manasik yang dilakukan oleh Kemenag, tahun 2016 lalu nomor porsi yang terakhir berangkat adalah 0100047675, sedangkan untuk nomor porsi tahun ini masih menunggu informasi lebih lanjut dari Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji terpadu (SISKOHAT) Pusat, jelas Kakanwil.

Sedangkan untuk Proses pembuatan paspor pada tahun ini sama dengan tahun sebelumnya, yaitu dapat dilakukan secara perorangan/mandiri atau kolektif dengan menggunakan biaya sendiri terlebih dahulu dan biaya tersebut akan dikembalikan pada saat jamaah berada di asrama Haji Embarkasi Aceh menjelang keberangkatan ke tanah suci jelas Kakanwil.
Sampai saat ini Rabu, 1 Maret 2017 Jamaah Calon Haji Aceh yang sudah mendaftar dan mendapat Porsi (Waiting List) untuk Musim Haji yang akan datang Berjumlah: 86.745 Orang.

Seperti diketahui, pada tahun 2016, jumlah kuota haji Aceh sebanyak 3111 Orang, sebelumnya kuota Haji Aceh pada saat Kuota normal berjumlah 3888 Jamaah dan pada tahun 2017 in kuota haji Aceh menjadi 4.393 Orang.
sumber: klikkabar

Kunjungan Raja Salman ke Indonesia sepertinya melupakan rakyat Aceh, bukan berarti menghilangkan sejarah jejak Aceh untuk Arab Saudi, mungkin saja kerajaan Arab Saudi sekarang menganggap Indonesia bagian dari Aceh atau sebaliknya Aceh bagian dari Indonesia, jadi tak heran jika Aceh sama sekali tak disebut oleh orang nomor satu di Arab Saudi itu.
Lawatan Raja Salman Yang Melupakan Seuramoe Mekkah
Dikutip dari serambinews.com, Lawatan Raja Salman bin Abdul Aziz Alsaud ke Indonesia memantik kehebohan luar biasa. Selama sepekan terakhir, media cetak, online, dan elektronik, tak pernah absen mengabarkan, sejak rencana dan persiapan penyambutan hingga saat-saat Sang Khadimul Haramain (penjaga dua Kota Suci) itu berada di Indonesia.

Kemarin, Raja Salman tiba di Indonesia melalui Bandara Halim Perdana Kusuma setelah menempuh penerbangan dari Malaysia. Raja dan sejumlah delegasi disambut oleh Presiden RI, Joko Widodo. Sejumlah pejabat ikut hadir mendampingi hingga melaksanakan pertemuan penting ke Istana Bogor.

Ini merupakan kedatangan pertama Raja Arab Saudi ke Indonesia, setelah lawatan Raja Faisal bin Abdul Aziz Alsaud, 47 tahun silam.

Publik dibuat heboh dengan kedatangan Raja Salman. Pasalnya ia turut membawa sejumlah peralatan mewah dan memboyong rombongan �super jumbo� sebanyak 1.500 orang. Bahkan, untuk liburan di Bali, Raja Salman menyewa empat hotel bertarif ribua Dollar AS dan menyewa mobil mewah lebih kurang 350 unit.

Selain liburan ke Bali, ada beberapa agenda penting yang akan dilakukan Raja Salman selama berada di Indonesia sejak 1-9 Maret. Agenda politik untuk mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Arab Saudi, salah satu alasan Raja Salman bertandang ke Indonesia. Selain itu, Raja Salman disebut-sebut tertarik untuk berinvestasi di Indonesia. Dua provinsi yang disasar raja ketujuh Arab Saudi ini adalah, Sumatera Barat dan Bangka Belitung.

Ini mungkin jadi tamparan keras dan pelajaran berharga bagi Aceh. Soalnya, Aceh yang selama ini cukup gencar mempromosikan wisata halal, menerapkan syariat Islam, justru tak memikat hati Sang Raja. Walau hal tersebut bukan indikator, namun setidaknya Pemerintah Aceh harus berpikir dua kali, mengapa Aceh--yang cukup kental keislamannya--tak memantik minat Raja Salman untuk datang atau minimal meliriknya.

Guru Besar Universitas Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof Dr Tgk H Muslim Ibrahim MA yang ditanyai Serambi mengatakan, sebenarnya berharap Raja Salman juga datang ke Aceh. Namun ia tahu, lawatan Raja Salman ke Indonesia sudah diatur sejak beberapa waktu lalu dengan agenda-agenda yang lebih penting antara Indonesia dan Arab Saudi.

�Terutama sekali memang hubungan kita sesama Islam kan, apalagi bisa dikaitkan untuk mendapatkan kuota haji tambahan. Orang Saudi kan kaya-kaya, ya setidaknya kita berharap (mereka) membantu proyek-proyek yang monumental di Aceh untuk kejayaan masa depan,� kata Muslim Ibrahim.

Ditanya apa penyebab Raja Salman tak datang atau melirik Aceh sedikit pun dalam lawatannya ke Indonesia, Prof Muslim Ibrahim tak mau menyangka-nyangka dan tak mau menduga-duga. Namun, ia berharap kepada Pemerintah Aceh, untuk memanfaatkan momentum kunjungan Raja Salman ke Indonesia. �Iya, seharusnya kita harus pintar sekali menjaga momen, memperhatikan peluang dan kesempatan. Kadang-kadang peluang itu tidak dengan mudah kita peroleh, harus ada usaha terlebih dulu, jadi semua pemimpin kita ini hendaknya cepat tanggap dengan situasi seperti ini,� sebutnya.

Meski Raja Salman tak sampai ke Aceh, Muslim Ibrahim berharap ada rombongan atau delegasi yang datang ke Aceh selama Raja Salman berada di Indonesia. Dari 1.500 orang yang datang ke Indonesia, Muslim berharap minimal ada dua orang yang datang ke Aceh untuk menjalin hubungan dengan Pemerintah Aceh. �Dari 1.500 semoga ada yang datang, dan mudah-mudahan di masa yang akan datang, beliau akan datang khusus ke Aceh, siapa tahu kehendak Allah,� sebutnya.

Sementara itu, Direktur Aliansi OKI Aceh, Muqni Affan Abdullah, mengatakan, memang agak mustahil Raja Salman datang ke Aceh, mengingat ada beberapa kendala seperti minimnya fasilitas dan sebagainya. Kalau untuk berwisata atau berlibur, kata Muqni, Bali memang lebih pantas didatangi Raja Salman dan rombongan. �Kita (Aceh) mungkin tidak sanggup menyambut tamu sebanyak itu,� sebutnya.

Ia mengatakan, kedatangan Raja Salman ke Indonesia memang dalam rangka agenda untuk mempererat hubungan bilateral kedua negara. Ia juga tak menampik, selama rencana kunjungan Raja Salman, nama Aceh memang tak pernah disebut oleh delegasi Arab Saudi, dibandingkan dengan Sumatera Barat dan Bangka Belitung.

Pun demikian, Muqni menyebutkan, Aceh tak perlu berkecil hati, Pemerintah Aceh nantinya harus pandai memanfaatkan momentum kunjungan ini. �Gubernur kita harus proaktif, pasti hari ini ada banyak perjanjian yang dilakukan, jadi kita harus dapat turunan-turunan perjanjian tersebut. Selama ini banyak bantuan yang terus mengalir ke Aceh, salah satunya menghajikan ratusan anak yatim,� pungkas Muqni Affan.

Sumber: http://www.acehmerdekapost.info/2017/03/lawatan-raja-salman-yang-melupakan.html


Jejak Aceh di Tanah Arab Yang Menguntungkan RI
�Asyi�, sebutan 'marga' Aceh dikalangan orang Arab. Gelar Asyi (Aceh�dalam bahasa Arab) ini adalah merupakan sebuah pengakuan identitas bagi setiap orang Aceh di Arab Saudi yang terhormat, sehingga gelar "al-Asyi" ini kemudian bisa dikatakan sebagai salah satu marga Aceh yang wujud di Tanah Arab."
Sebutan negeri Aceh adalah tidak asing bagi sebagian orang Arab walaupun sekarang hanyalah salah satu propinsi di negeri ini. Karena itu, saya memandang bahwa martabat orang Aceh di Arab Saudi sangat luar biasa. Sejauh ini, gelar ini memang tidak begitu banyak, namun mengingat kontribusi para Asyi ini pada kerajaan Saudi Arabia, saya berkeyakinan bahwa ada hubungan yang cukup kuat secara emosional antara tanah Arab ini dengan Serambinya, yaitu Aceh.

Banyak sekali orang Arab keturunan Aceh mendapat kedudukan bagus di kerajaan Saudi Arabia seperti alm Syech Abdul Ghani Asyi mantan ketua Bulan Sabit Merah Timur Tengah, Alm Dr jalal Asyi mantan wakil Menteri Kesehatan Arab Saudi, DR Ahmad Asyi mantan wakil Menteri Haji dan Wakaf dan banyak sekali harta wakaf negeri Aceh sekarang masih wujud disana.

Kita akan menguak tradisi sumbang menyumbang masyarakat Aceh di Tanah Hijaz (Mekkah, Saudi Arabia) pada abad ke-17 Masehi. Ini menarik kita ketahui bagaimana kontribusi Aceh atas tanah Hijaz, yang sekarang bernama Saudi Arabia. dimana orang Aceh tidak hanya mewakafkan tanah, melainkan juga emas yang didatangkan khusus dari Bumi Serambi ke negeri Mekkah Al-Mukarramah ini.

Diriwayatkan bahwa pada tahun 1672 M, Syarif Barakat penguasa Mekkah pada akhir abad ke 17 mengirim duta besarnya ke timur. Mencari sumbangan untuk pemeliharaan Masjidil Haram. Karena kondisi Arab pada saat itu masih dalam keadaan miskin. Kedatangan mareka ke Aceh setelah Raja Moghol, Aurangzeb (1658-1707) tidak mampu memenuhi keinginan Syarif Barakat itu. Dia saat itu belum sanggup memberi sumbangan seperti biasanya ke Mesjidil Haram. Setelah empat tahun rombongan Mekkah ini terkatung katung di Delhi India. Atas nasehat pembesar di sana, rombongan ini berangkat ke Aceh dan tiba di Aceh pada tahun 1092 H (1681M).

Sampai di Aceh, duta besar Mekkah ini disambut dan dilayani dengan baik dan hormat oleh Sri Ratu Zakiatuddin Inayatsyah (1678-1688 M). Di luar dugaan, kedatangan utusan syarif Mekkah ini menyulut semangat kelompok wujudiyah yang anti pemerintahan perempuan. Namun, karena sosok Sultanah Zakiatuddin yang �alim dan mampu berbahasa Arab dengan lancar. Bahkan menurut sejarah, dia berbicara dengan para tamu ini dengan menggunakan tabir dari sutra Dewangga (Jamil: 1968).

Utusan Arab sangat gembira diterima olehSri Ratu Zakiatuddin, karena mareka tidak mendapat pelayanan serupa ketika di New Delhi, India. Bahkan empat tahun mareka di India, tidak dapat bertemu Aurangzeb.

Ketika mereka pulang ke Mekkah, Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah, memberi mareka tanda mata untuk rombongan dan Syarif Mekkah juga sumbangan untuk Mesjidil Haram dan dan Mesjidil Nabawi di Madinah terdiri dari: tiga kinthar mas murni, tiga rathal kamfer, kayu cendana dan civet (jeuebeuet musang), tiga gulyun (alat penghisap tembakau) dari emas, dua lampu kaki (panyot-dong) dari emas, lima lampu gantung dari emas untuk Masjidil Haram, lampu kaki dan kandil dari emas untuk Masjid Nabawi.

Pada tahun 1094 (1683 M) mareka kembali ke Mekkah dan sampai di Mekkah pada bulan Sya�ban 1094 H (September 1683 M). Dua orang bersaudara dari rombongan duta besar Mekkah ini yakni Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim, tetap menetap di Aceh atas permintaan para pembesar negeri Aceh yang dalam anti raja perempuan (Jamil: 1968). Mereka dibujuk untuk tetap tinggal di Aceh sebagai orang terhormat dan memberi pelajaran agama dan salah satu dari mereka, kawin dengan Kamalat Syah, adik Zakiatuddin Syah.

Lima tahun kemudian setelah duta besar Mekkah kembali ke Hijaz dengan meninggalkan Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim di Aceh, Sultanah Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah wafat tepat pada hari Ahad 8 Zulhijjah 1098H (3 Oktober 1688 M). Pemerintahan Aceh digantikan oleh adiknya yaitu Seri Ratu Kamalatsyah yang bergelar juga Putroe Punti. Dia diangkat menjadi Ratu pemerintahan kerajaan Aceh atas saran Syeikh Abdurrauf Al Fansury yang bertindak pada saat itu sebagai Waliyul-Mulki (Wali para Raja).

Baru setelah meninggalnya Syeikh Abdurrauf pada malam senin 23 Syawal 1106 H (1695M), konflik mengenai kedudukan pemerintahan Aceh dibawah pemerintahan ratu yang telah berlangsung 54 tahun sejak Safiatuddin Syah(1641-1675M), terguncang kembali. Hal ini dipicu oleh fatwa dari Qadhi Mekkah tiba. Menurut sejarah, �fatwa import� ini tiba dengan �jasa baik� dari golongan oposisi ratu. Lalu pemerintah Aceh, diserahkan kepada penguasa yang berdarah Arab, yaitu salah satu dua utusan Syarif dari Mekkah, yakni suami Ratu Kemalatsyah, Syarif Hasyim menjadi raja pada hari Rabu 20 Rabi`ul Akhir 1109 H (1699M).

Menurut sejarah, Ratu tersebut dimakzulkan akibat dari �fatwa import� tersebut. Lalu kerajaan Aceh memiliki seorang pemimpin yang bergelar Sultan Jamalul Alam Syarif Hasyim Jamalullail (1110-1113 H/1699-1702M). dengan berkuasanya Syarif Hasyim awal dari dinasti Arab menguasai Aceh sampai dengan tahun 1728 M. Inilah bukti sejarah bahwa kekuasaan para Ratu di Aceh yang telah berlangsung 59 tahun hilang setelah adanya campur tangan pihak Mekkah, paska para ratu ini menyumbang emas ke sana. Aceh yang dipimpin oleh perempuan selama 59 tahun bisa jadi bukti bagaimana sebenarnya tingkatemansipasi perempuan Aceh saat itu (Azyumardi Azra, 1999).

Terkait dengan sumbangan emas yang diberikan oleh Ratu kepada rombongan dari Mekkah, ternyata menjadi perbincangan dan perdebatan di Mekkah. Disebutkan bahwa sejarah ini tercatat dalam sejarah Mekkah dimana disebutkan bahwa emas dan kiriman Sultanah Aceh tiba di Mekkah di bulan Syakban 1094 H/1683 M dan pada saat itu Syarif Barakat telah meninggal. Pemerintahan Mekkah digantikan oleh anaknya Syarif Sa�id Barakat (1682-1684 M).

Snouck Hurgronje, menuturkan �Pengiriman Seorang Duta Mekkah ke Aceh Pada Tahun 1683� sempat kagum terhadap kehebatan Aceh masa lalu dan dicatat dalam bukunya, dimana sewaktu dia tiba di Mekkah pada tahun 1883. Karena Kedermawaan Bangsa dan Kerajaan Aceh masa itu, Masyarakat Mekkahmenyebut Aceh Sebagai "Serambi Mekkah" di sana.

Ternyata sumbangan Kerajaan Aceh 200 tahun yang lalu masih selalu hangat dibicarakan disana. Menurutnya berdasarkan catatan sejarah Mekkah yang dipelajarinya barang barang hadiah itu sempat disimpan lama di rumah Syarif Muhammad Al Harits sebelum dibagikan kepada para Syarif yang berhak atas tiga perempat dari hadiah dan sedekah diberikan kepada kaum fakir miskin sedangkan sisanya diserahkan kepada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Begitu juga tradisi wakaf orang Aceh di tanah Arab sebagai contoh tradisi wakaf umum, ialah wakaf habib Bugak Asyi yang datang ke hadapan Hakim Mahkmah Syariyah Mekkah pada tanggal 18 Rabiul Akhir tahun 1224 H. Di depan hakim dia menyatakan keinginannya untuk mewakafkan sepetak tanah dengan sebuah rumah dua tingkat di atasnya dengan syarat; rumah tersebut dijadikan tempat tinggal jemaah haji asal Aceh yang datang ke Mekkah untuk menunaikan haji dan juga untuk tempat tinggal orang asal Aceh yang menetap di Mekkah.

Sekiranya karena sesuatu sebab tidak ada lagi orang Aceh yang datang ke Mekkah untuk naik haji maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal para pelajar (santri, mahasiswa) Jawi (nusantara) yang belajar di Mekkah. Sekiranya karena sesuatu sebab mahasiswa dari Nusantara pun tidak ada lagi yang belajar di Mekkah maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal mahasiswa Mekkah yang belajar di Masjid Haram. Sekiranya mereka ini pun tidak ada juga maka wakaf ini diserahkan kepada Imam Masjid Haram untuk membiayai kebutuhan Masjid Haram.

Menurut sejarah, sebenarnya bukan hanya wakaf habib Bugak yang ada di Mekkah, yang sekarang hasilnya sudah dapat dinikmati oleh para jamaaah haji dari Aceh tiap tahunnya lebih kurang 2000 rial per jamaah. Peninggalan Aceh di Mekkah bukan hanya sumbangan emas pada masa pemerintahan ratu ini juga harta harta wakaf yang masih wujud sampai saat ini seperti :


 Wakaf Syeikh Habib Bugak Al Asyi',
        Wakaf Syeikh Muhammad Saleh Asyi dan isterinya Syaikhah Asiah (sertifikat No. 324) di Qassasyiah,
        Wakaf Sulaiman bin Abdullah Asyi di Suqullail (Pasar Seng),
        Wakaf Muhammad Abid Asyi,
        Wakaf Abdul Aziz bin Marzuki Asyi,
        Wakaf Datuk Muhammad Abid Panyang Asyi di Mina,
        Wakaf Aceh di jalan Suq Al Arab di Mina,
        Wakaf Muhammad Saleh Asyi di Jumrah ula di Mina,
        Rumah Wakaf di kawasan Baladi di Jeddah,
        Rumah Wakaf di Taif,
        Rumah Wakaf di kawasan Hayyi al-Hijrah Mekkah.
        Rumah Wakaf di kawasan Hayyi Al-Raudhah, Mekkah,
        Rumah Wakaf di kawasan Al Aziziyah, Mekkah.
        Wakaf Aceh di Suqullail, Zugag Al Jabal, dikawasan Gazzah, yang belum diketahui pewakafnya.
        Rumah wakaf Syech Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan) di Syamiah Mekkah,
        Syech Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga) di Syamiah, Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi di Syamiah dan Chadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi di Syamiah.


Inilah bukti bagaimana generous antara ibadah dan amal shaleh orang Aceh di Mekkah.Mereka lebih suka mewakafkan harta mereka, ketimbang dinikmati oleh keluarga mereka sendiri. Namun, melihat pengalaman Wakaf Habib Bugak, agaknya rakyat Aceh sudah bisa menikmati hasilnya sekarang.

Fenomena dan spirit ini memang masih sulit kita jumpai pada orang Aceh saat ini, karena tradisi wakaf tanah tidak lagi dominan sekali. Karena itu, saya menganggap bahwa tradisi leluhur orang Aceh yang banyak mewakafkan tanah di Arab Saudi perlu dijadikan sebagai contoh tauladan yang amat tinggi maknanya. Hal ini juga dipicu oleh kejujuran pengelolalaan wakaf di negeri ini, dimana semua harta wakaf masih tercatat rapi di Mahkamah Syariah Saudi Arabia.

Sebagai bukti bagaimana kejujuran pengelolaan wakaf di Arab Saudi, Pada tahun 2008 Mesjidil haram diperluas lagi kekawasan Syamiah dan Pasar Seng. Akibatnya ada 5 persil tanah wakaf orang Aceh terkena penggusuran. Tanah wakaf tersebut adalah kepunyaan Sulaiman bin Abdullah Asyi, Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan), Syech Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga), Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi dan Chadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi. 

Di Mekkah juga penulis sempat bertemu dengan Saidah Taliah Mahmud Abdul Ghani Asyi serta Sayyid Husain seorang pengacara terkenal di Mekkah untuk mengurus pergantian tanah wakaf yang bersetifikat no 300 yang terletak di daerah Syamiah yang terkena pergusuran guna perluasan halaman utara Mesjidil haram Mekkah al Mukarramah yang terdaftar petak persil penggusuran no 608. Yang diwakafkan oleh Syech Abdurrahim Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan) dan adiknya Syech Abdussalam Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga). 

Memang pada asalnya 75 persen tanah di sekitar Mesjidil Haram adalah tanah wakaf apakah itu wakaf khusus atau wakaf umum. Dan sebagiannya ada milik orang orang Aceh dulu dan ini bagian dari kejayaan Aceh yang pernah masuk dalam 5 besar negeri Islam di dunia bersama Turki, Morroko, Iran, Mughal India dan Aceh Darussalam di Asia tenggara.

Menurut peraturan pemerintah Saudi Arabia para keluarga dan nadhir dapat menuntuk ganti rugi dengan membawa bukti kepemilikan (tentu memerlukan proses yang lama ie menelusuri siapa nadhir tanah wakaf tersebut, penunjukan pengacara dll) dan bisa menghadap pengadilan agama Mekkah menutut ganti rugi dan penggantian dikawasan lain di Mekkah sehingga tanah wakaf tersebut tidak hilang. Kalau seandainya tidak ada keluarga pewakaf lagi khusus untuk wakaf keluarga maka sesuai dengan ikrar wakaf akan beralih milik mesjidil haram atau baital mal. Inilah pelajaran atau hikmah tradisi wakaf di Mekkah yang semoga bisa menjadi contoh yang baik bagi pengelolaan wakaf di Aceh.

Itulah secuil catatan yang tercecer, tentang wakaf orang Aceh di Tanah Arab, walaupun generasi sekarang hanya mengenal bahwa Aceh adalah Serambi Mekkah. Namun sebenarnya ada rentetan sejarah yang menyebabkan Aceh memang pernah memberikan kontribusi penting terhadap pembinaan sejarah Islam di Timur Tengah. Karena itu, selain Aceh memproduksi Ulama, ternyata dari segi materi, rakyat Aceh juga memberikan sumbangan dan wakaf yang masih bisa ditelusuri hingga hari ini.

Karena itu, saya menduga kuat bahwa tradisi Islam memang telah dipraktikkan oleh orang Aceh saat itu, dimana �tangan di atas, lebih baik daripada tangan di bawah�. Akibatnya, kehormatan orang Aceh sangat disegani, baik oleh kawan maupun lawan. Dalam hal ini, harus diakui bahwa Snouck telah �berjasa� merekam beberapa akibat dari episode sejarah kehormatan orang Aceh. Inilah pelajaran penting bagi peneliti sejarah Aceh

Inilah sekelumit hasil muhibbah saya ke Arab Saudi dan saya benar-benar terkesima dengan pengakuan identitas "Asyi" dan pola pengelolaan wakaf di Arab Saudi. Selain ini, di dalam perjalanan ini, saya sempat berpikir apakah nama baik orang Aceh di Arab Saudi bisa sederajat dengan nama baik Aceh di Indonesia dan di seluruh dunia. Yang menarik adalah hampir semua negara yang saya kunjungi, nama Aceh selalu dihormati dan dipandang sebagai bagian dari peradaban dunia.

Penulis adalah sejarawan dan pemerhati sejarah Aceh
Sumber: http://www.acehmerdekapost.info/2017/03/jejak-aceh-di-tanah-arab-yang.html


1.    Teuku Nyak Arief (1945-1946)
2.    Teuku Daud Syah (1947-1948)
3.    Tgk. Daud Beureueh (1948-1951) Gubernur militer
4.    Danu Broto (1951-1952)
5.    Teuku Sulaiman Daud (1952-1953)
6.    Abdul Wahab (1953-1955)
7.    Abdul Razak (1955-1956)
8.    Ali Hasjmy (1957-1964)
9.    Nyak Adam Kamil (1964-1966)
10.  H. Hasbi Wahidi (1966-1967)
11.  A. Muzakkir Walad (1967-1978)
12.   Prof. Dr. A. Madjid Ibrahim (1978-1981)
13.  Eddy Sabhara (Pjs) (1981)
14.  H. Hadi Thayeb (1981-1986)
15.  Prof. Dr. Ibrahim Hasan (1986-1993)
16.  Prof. Dr. Syamsudin Mahmud (1993-21 Juni 2000)
17.  Ramli Ridwan (Pj. 21 Juni 2000-November 2000)
18.  Abdullah Puteh November (2000-19 Juli 2004), wakilnya Azwar Abubakar
19.  Mustafa Abubakar (Pj. 30 Desember 2005-Februari 2007)
20.  Irwandi Yusuf (8 Februari 2007-7 Februari 2011), wakilnya Muhammad Nazar
21.  Dr. Zaini Abdullah ( Periode 2012 � 2017), wakilnya Muzakir Manaf

Teuku Umar. Mendengar namanya kita langsung terbayang akan sosok pahlawan yang sering terpasang gambarnya di dinding sekolah dan perkantoran. Sosok Teuku Umar telah menjadi idola seluruh bangsa Indonesia dan menjadi kebanggaan masyarakat Aceh tempat Teuku Umar berasal.

7 Fakta Teuku Umar Yang Bikin Kamu Bangga

Agar kita semakin cinta dan bangga dengan Teuku Umar, intipaceh.com akan mengupas tujuh fakta Teuku Umar yang bikin kamu bangga :

1. Lahir Di Meulaboh

Teuku Umar merupakan putra kelahiran Meulaboh Aceh Barat. Teuku Umar merupakan seorang putra dari uleebalang (golongan bangsawan dalam masyarakat Aceh) bernama Teuku Ahmad Mahmud.

2. Sifat Kepahlawanannya Sudah Terlihat Sejak Dari Kecil

Teuku Umar kecil dikenal dengan pemikirannya yang cerdas, pemberani, dan terkadang suka iseng bertengkar dengan teman-temannya. Selain itu Teuku Umar juga memiliki sifat pantang menyerah dan juga keras.

3. Menjadi Keuchik (Kepala Desa) di Usia 19 Tahun

Jika anak-anak lain yang berusia 19 tahun masih asik dengan permainannya. Tidak demikian dengan Teuku Umar. Beliau dari usia 19 tahun sudah dipercaya menjadi pemimpin di dalam Gampong (desa) di sebuah daerah di Meulaboh Aceh Barat.

4. Teuku Umar Tidak Mendapatkan Pendidikan Formal

Pada tahun 1873 Teuku Umar dipercaya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Siapa sangka, ternyata di balik prestasinya tersebut Teuku Umar tidak pernah menempuh pendidikan formal. Meski tidak memiliki pendidikan formal, Teuku Umar tetap menjadi orang yang diperhitungkan karena kecerdasan otaknya.

5. Memiliki Istri Seorang Pahlawan

Teuku Umar menikah di usia 20 tahun dengan seorang wanita bernama Nyak Sofiah. Setelah itu Teuku Umar juga pernah menikah dengan Nyak Malighai. Dan pada tahun 1880 Teuku Umar menikah dengan seorang janda bernama Cut Nyak dhien. Cut Nyak Dhien merupakan putri dari paman beliau sendiri. Dalam sejarah tercatat bahwa Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien berjuang sama-sama untuk mengusir penjajah. Dan keduanya merupakan sosok pejuang yang begitu disegani.

6. Teuku Umar Bergabung Dalam Kelompok Belanda

Pada tahun 1883 masyarakat Aceh di bawah kepemimpinan Teuku Umar berhasil membuat Balanda menyerah. Tetapi pada tahun 1884 kembali terjadi perlawanan. Dan pada tahun itu pula Teuku Umar Memutuskan untuk bergabung bersama pasukan Belanda. Keputusan Teuku Umar tersebut membuat masyarakat Aceh kecewa, Teuku Umar dicap sebagai pengkhianat. 

Ternyata Teuku Umar tidak berkhianat. Teuku Umar sedang melakukan strategi perang dengan bergabung dengan Belanda agar mengetahui strategi Belanda terapkan dan perlengkapan perlawanan mereka. Selain itu Teuku Umar dapat membawa kabur perlengkapan para pasukan Belanda untuk serahkan kepada pasukan Aceh.

7. Teuku Umar Wafat di Meulaboh

Pada tanggal 11 Februari tahun 1899 Belanda berhasil menemukan Teuku Umar dari laporan mata-mata.  Pasukan Teuku Umar dicegat oleh pasukan Belanda. Teuku Umar dan pasukannya tidak bisa bergerak kemana-mana, hanya perlawanan jalan satu-satunya.

Teuku umar gugur di tangan Belanda. Jenazahnya di makamkan di Kampung Mugo Meulaboh Aceh Barat. Cut Nyak Dhien Sebagai istri tercinta sangat terpukul dengan kabar meninggal suaminya. Tetapi Cut Nyak Dhien tidak patah semangat, beliau melanjutkan perjuangan sang suami untuk mengusir penjajah dari tanoh Aceh.

Itulah beberapa fakta Teuku Umar yang berhasil kami rangkum. Semoga bermanfaat dan dapat menumbuhkan rasa cinta kita untuk tanah air Indonesia.

Sumber: http://www.intipaceh.com/2016/07/7-fakta-teuku-umar-yang-bikin-kamu.html

Malang nian nasib WA, 17 tahun, warga Nurussalam, Aceh Timur. Gadis ini trauma berat setelah disetubuhi paksa oleh pria tanggung yang tak lain adalah pacarnya sendiri, JM.

Cabuli Pacar di Semak-semak

Menurut informasi yang diperoleh Klikkabar.com, JM, 21 tahun, saat ini tercatat sebagai warga Desa Seuneubok Tuha Sa, Darul Aman, Aceh Timur. Ia diduga merupakan �aktor� yang melakukan tindakan asusila terhadap WA.
Tindakan asusila tersebut terjadi pada 4 Januari 2017 lalu. WA, saat itu dijemput oleh JM dengan dalih hendak jalan-jalan ke rumah salah satu familinya yang terletak di Peudawa.

Setelah itu, WA kembali diajak jalan-jalan dan JM mengajak WA untuk ke rumahnya. Di pertengahan jalan, saat kondisi jalan tergolong sepi, JM membawa WA ke semak-semak dan memperkosanya.
�Korban tidak bisa melawan, karena mulutnya ditutup oleh tersangka,� ujar Kapolres Aceh Timur AKBP Rudi Purwiyanto melalau Kapolsek Nurussalam Iptu Aiyub kepada Klikkabar.com, Jum�at, 27 Januari 2017.

Kemudian, lanjutnya, karena tak terima dengan perbuatan JM, ayah korban pun membuat pengaduan atas kejadian yang baru saja menimpa anaknya. JM akhirnya berhasil ditangkap oleh polisi di seputaran Kota Idi pada Kamis, 26 Januari 2017 kemarin sekitar pukul 18.15 WIB.

�Petugas juga berhasil mengamankan barang bukti beruapa pakaian korban yang berlumuran darah dan sepeda motor yang digunakan saat tersangka melancarkan aksinya,� tutup Iptu Aiyub.
Sumber: KlikKabar.com 

�...Waallah Billah, Atjeh nanti akan saya beri hak untuk menjusun rumah tangganja sendiri sesuai Syari�at Islam. Akan saya pergunakan pengaruh saya agar rakjat Aceh benar-benar dapat melaksanakan Syari�at Islam. Apakah Kakak masih ragu...??�



Kata-kata di atas diucapkan oleh Sukarno sambil terisak di bahu seseorang yang ia panggil Kakak. Sang kakak, tidak lain adalah Daud Beureueh. Akhirnya, berbekal iba dan isak tangis, Sukarno berhasil meluluhkan hati sang Abu Jihad, demikian panggilan Daud Beureueh.

Sukarno mengucapkan janjinya untuk meyakinkan Daud Beureueh, bahwa jika Aceh bersedia membantu perjuangan kemerdekaan, Syari�at Islam akan diterapkan di tanah Rencong ini. Maka urung niat Daud Beureu�eh meminta perjanjian hitam di atas putih.

Janji tinggal janji, belum kering bibir sang Presiden, Ia menghianati janji yang di ucapkannya sendiri. Dan penerapan Syariat Islam di Aceh pun tinggal mimpi. Air mata yang diteteskan Sukarno dianggap hanya pelengkap sandiwara. Deraian air mata bung Karno ternyata adalah titik awal mula penderitaan rakyat pemodal kemerdekaan bangsa ini.

Saat berkunjung ke Aceh tahun 1948, Bung Karno dengan sengaja menemui tokoh Aceh, Daud Beureueh. Bung Karno selaku Presiden RI menyapa Daud Beureueh dengan sebutan �Kakak� dan terjadilah dialog yang sampai saat ini tersimpan dengan baik dalam catatan sejarah :

Presiden Sukarno : �Saya minta bantuan Kakak agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.�

Daud Beureueh : �Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid.�

Presiden Sukarno : �Kakak! Memang yang saya maksudkan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Teungku Cik Di Tiro dan lain-lain, yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid.�

Daud Beureueh : �Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu Saudara Presiden. Dengan demikian bolehlah saya mohon kepada Saudara Presiden, bahwa apabila perang telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan Syariat Islam di dalam daerahnya.�

Presiden Sukarno : �Mengenai hal itu Kakak tak usah khawatir. Sebab 90% rakyat Indonesia beragama Islam.�

Daud Beureueh : �Maafkan saya Saudara Presiden, kalau saya terpaksa mengatakan bahwa hal itu tidak menjadi jaminan bagi kami. Kami menginginkan suatu kata ketentuan dari Saudara Presiden.�

Presiden Sukarno : �Kalau demikian baiklah, saya setujui permintaan Kakak itu.�

Daud Beureueh : �Alhamdulillah. Atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan hati Saudara Presiden. Kami mohon (sambil menyodorkan secarik kertas kepada presiden) sudi kiranya Saudara Presiden menulis sedikit di atas kertas ini.�

Mendengar ucapan Daud Beureueh itu Bung Karno langsung menangis terisak-isak. Air mata yang mengalir telah membasahi bajunya. Dalam keadaan sesenggukan ;

Sukarno berkata, : �Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi presiden. Apa gunanya menjadi presiden kalau tidak dipercaya.�

Dengan tetap tenang, Daud Beureueh menjawab, : �Bukan kami tidak percaya, Saudara Presiden. Akan tetapi sekadar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan kepada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang.�

Sambil menyeka air matanya, Bung Karno mengucap janji dan bersumpah;

Bung Karno bersumpah : �Waallah Billah (Demi Allah), kepada daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan Syariat Islam. Dan Waallah, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar dapat melaksanakan Syariat Islam di dalam daerahnya. Nah, apakah Kakak masih ragu-ragu juga?�

Daud Beureueh menjawab : �Saya tidak ragu Saudara Presiden. Sekali lagi, atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati Saudara Presiden.�

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan M. Nur El Ibrahimy dengan Daud Beureu'eh, El Ibrahimy adalah seorang Purn. ABRI jugamenantu Daud Beureueh. Menyatakan bahwa mertuanya itu melihat Bung Karno menangis terisak-isak, sehingga dirinya tidak sampai hati lagi untuk bersikeras meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji presiden itu.

Sukarno mengucapkan janji tersebut pada tahun 1948. Setahun kemudian Aceh bersedia dijadikan satu provinsi sebagai bagian dari NKRI. Namun pada tahun 1951, Provinsi Aceh dibubarkan pemerintah pusat dan disatukan dengan Provinsi Sumatera Utara.

Dan apa yang terjadi? Aceh kembali membara. Bukan itu saja, hak untuk mengurus diri sendiri dan menjalankan syariat Islam sejak awal kemerdekaan sebagaimana janji dalam pertemuannya dengan Daud Beureueh pun akhirnya dicabut.

Rakyat Aceh berperang cukup lama melawan Belanda dan kemudian Jepang, lalu menguras dan rela menghibahkan seluruh kekayaannya; Aceh yang porak-poranda setelah Rumah-rumah rakyat, dayah-dayah, meunasah-meunasah (sejenis surau) dan sebagainya yang hancur karena peperangan melawan penjajah oleh pemerintah di jakarta dibiarkan terbengkalai. 

Perempuan-perempuan Aceh rela melepaskan perhiasan emas dari tangannya, para pria menjual ternak-ternak kerbau, sapinya, hingga telur-telur ayam kampung -begitulah tutur orang-orang tua Aceh dulu-, Semua dikumpulkan untuk dana membeli dua pesawat Dakota, RI-001 dan RI-002, cikal bakal Garuda Indonesia. 

Juga sejumlah sumbangan dana untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan di luar Aceh, yakni di Medan Area dan Yogyakarta, itu mereka lakukan semata demi mempertahankan keberadaan Republik Indonesia. 

Namun karena jasa ini pula-lah rakyat Aceh harus menanggung beban perang selama puluhan tahun dengan pemerintahannya sendiri. Kenyataan tersebut rakyat Aceh menganggap telah terjadi penghinaan yang luar biasa,Inilah titik awal timbulnya rasa sakit hati rakyat Aceh yang menyisakan parut luka hingga kini.

Dan pada kenyataan itu juga, rakyat Aceh telah mengangap bung Karno telah mengkhianati janji yang telah diucapkannya atas nama Allah SWT,Kenyataan ini pula oleh rakyat Aceh dianggap sebagai sebuah kesalahan yang tidak termaafkan.

Calon Gubernur Aceh nomor urut 2, Zakaria Saman atau yang kerap disapa Apa Karya mengatakan bahwa Aceh saat ini sangat tidak aman.
Hal tersebut disampaikan Apa Karya dalam acara Silaturrahmi Pelaksanaan Pilkada Aceh Damai Tahun 2017 yang diselenggara oleh KIP Aceh di Pendopo Gubernur Aceh, Banda Aceh, Selasa 10 Januari 2017.

Apa Karya: Aceh Tidak Aman

Bahkan Apa Karya mendeskripsikan keadaan Aceh saat ini yang tidak aman dengan menceritakan saat dirinya bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta beberapa waktu lalu.

�Zakaria aman gak di Aceh? Tanya Wapres, saya jawab tidak aman pak,� celetus Apa Karya.
�Maka saya mohon hal yang terjadi di Aceh saat ini untuk ditindak lanjuti, dikarenakan bapak seorang yang pernah menjadi tim perdamaian Aceh kala itu,� tambah Apa Karya sedikit menceritakan pertemuannya dengan Wapres JK.

Oleh sebab itu, pada kesempatan tersebut, Apa Karya meminta semua stakholder terutama penyelenggara pilkada dan pihak keamanan untuk bisa menjalankan pilkada Aceh 2017 ini dengan penuh kedamaian.
�Kepada pengawas dan pelaksana pemilu di pilkada serentak 2017 ini untuk dapat melaksanakan tugas sesuai dengan aturan dan undang-undang yang berlaku,� pinta Apa Karya.

Kader partai Aceh yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPRK Nagan Raya, Samsuardi alias Juragan, menghimbau seluruh masyarakat Nagan Raya agar ikut membantu memenangkan pasangan Muzakir Manaf-TA Khalid dalam Pilkada Aceh 2017.


Hal itu disampaikan Juragan dalam orasi politiknya pada acara peresmian posko pemenangan Muzakir Manaf-TA Khalid di Nagan Raya, Selasa (06/09/2016) siang.

Menurut Juragan, jika Mualem mengalami kekalahan dalam Pilkada 2017, maka rakyat Aceh tidak akan punya harga lagi, bahkan akan lebih rendah dari harga kotoran manusia.

�Begeuteupeu le mak-mak lon, ureung syik meutuwah yang meubahgia, ban mandum geutanyoe beutasadari, nyoe kepentingan Aceh seluruh jih. (Para ibu-ibu, para orang tua saya yang berbahagia, semua kita harus menyadari, ini kepentingan Aceh secara keseluruhan),� ujar Juragan.

�Meunyo meunang Mualem, meunang Aceh, meunyo talo Mualem, talo rakyat Nagan Raya dan rakyat ban sigom Aceh bandum. (Kalau Mualem menang (di Pilkada 2017), maka menanglah Aceh. Kalau Mualem kalah, maka ini adalah kekalahan untuk rakyat Nagan Raya dan kekalahan seluruh rakyat Aceh,� imbuhnya.

Juragan menambahkan, �Pateh jeut han jeut. Nyan singoh meunyo kon, neutoh ek bak kubu lon. Meuhai yum ek singoh ngen yum geutanyoe meunyo talo Mualem. (Boleh percaya boleh tidak. Kalau yang saya ucapkan ini salah, boleh buang kotoran di kuburan saya. Kalau Mualem kalah, maka harga diri kita akan lebih rendah daripada harga kotoran manusia)�.
Masih berpidato dalam bahasa Aceh, Juragan mengatakan, kalau Mualem menang, maka kemana pun rakyat Aceh pergi masih dihargai.

�Tapi kalau Mualem kalah, semuanya tidak akan tentu arah. Lebih-lebih orang- orang yang terlibat dalam perjuangan. Boleh percaya boleh tidak, terserah. Silakan pikir dan hayati masing-masing apa yang saya sampaikan ini,� ujarnya.

Oleh sebab itu, menurut Juragan, Partai Aceh harus bisa memenangkan Pilkada kali ini, sehingga kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat dapat lebih terjamin ke depan.( acehjournalpasific)

sumber: http://www.atjehcyber.com/nanggroe/jika-mualem-kalah-di-pilkada-2017-silahkan-buang-kotoran-di-kuburan-saya.html

Calon Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, berjanji di hadapan masyarakat Kota Subulussalam, jika dia bersama pasangannya TA Khalid menang dalam Pemilihan Kepala Daerah yang dihelat 15 Februari 2017 mendatang, akan menyelesaikan tiga program unggulannya.


Ketiga program itu diantaranya akan menembuskan jalan Muara Situlen yang menghubungkan Aceh Tenggara � Kota Subulussalam yang hingga kini belum tercapai. Padahal, jalan tersebut memudahkan kedua warga daerah itu, sehingga tidak lagi melintasi Kabupaten Dairi dan Pakpak Barat, Provinsi Sumatera Utara.

Selain itu, Muzakir Manaf juga menawarkan pembangunan kanal sepanjang Sungai Souraya, agar warga yang tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS) tidak lagi terkena banjir yang hampir setiap tahunnya datang.
Selanjutnya, dia juga akan memberi peran besar kepada masyarakat di Kota Subulussalam, khususnya dalam hal perkebunan sawit, yang banyak dimiliki perusahaan perkebunan pengelola Hak Guna Usaha (HGU).

�Kalau menang, tiga program itu akan saya prioritaskan selama 100 hari kerja sejak kami dilantik. Tujuan saya itu tidak lain untuk mensejahterakan masyarakat Kota Subulussalam agar terlepas dari kemiskinan dan pengangguran � kata Muzakir Manaf saat menyampaikan sambutan pada acara pengukuhan tim pemenangan Muzakir Manaf-TA Khalid, di lapangan Beringin, Kota Subulussalam, Sabtu (10/12).

Meningkatnya angka kemiskinan di Aceh, kata Mualem, menjadi PR bersama pasangannya untuk menekan agar turun, sehingga masyarakat Aceh hidup sejahtera. �Tujuan kami mencalonkan diri adalah untuk mensejahterakan rakyat Aceh agar terlepas dari kemiskinan,� ujar Mualem disambut tepuk tangan yang meriah dari ribuan peserta yang hadir.

Kedatangan Mualem ke Subulussalam disambut meriah simpatisan dan Partai Aceh Subulussalam. Sebelum menuju lapangan, ribuan pendukung menggelar konvoi kendaraan sepanjang jalan protokol Subulussalam bersama Mualem. Mereka meneriakkan yel-yel, �Ulang lupa da kaum,� bahasa singkil yang berarti (jangan lupa kaum).

Tak hanya pendukung, Mualem yang berada di panggung juga mengatakan berkali-kali ucapan ulang lupa da kaum itu di tengah pendukungnya. Usai di Subulussalam, rombongan Mualem langsung menuju Aceh Singkil untuk melakukan acara yang sama serta meninjau warga Aceh Singkil serta menyerahkan bantuan korban banjir. (lim/ara)

sumber: harianrakyataceh.com
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget