Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Wisata"

AMP - Wisata Air terjun Jamur Kule, di Desa Sembuang, kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, lebih indah dari wisata air terjun lainnya, pasalnya air terjun yang indah ini belum terjamah dan masih alami.

Kepala Desa Sembuang Shabirin Amin Kepada Sidaknews.com, mengungkapkan, air terjun Jamur kule memiliki ketinggian sekitar 75 meter dan lebar mancapai 10 meter, dengan posisi air menurun landai, terdiri dari tiga tingkat, dan juga terdapat hamparan pasir bebatuan di setiap tingkatnya.

“Tingkat pertama tingginya sekitar 30 meter, tingkat kedua 25 meter dan tingkat tiga mencapai 20 meter, di sekeliling air terjun hutan lebat yang di jaga oleh warga setempat, kami sudah membuka akses menuju objek wisata air terjun jamur kule yang jarak tempuh dari kampung Sembuang hanya 35 menit tiba dilokasi masyarakat setempat yang ramah juga siap memandu pengujung,” Ungkap Shahbirin. Senin (6/11/2017).

Lanjutnya “Bobot air terjun lebih besar dari air terjun yang terdapat di tempat lain, bahkan air terjun yang satu ini sangat indah dan lebih menarik, pengunjung tidak ingin pulang setelah berkunjung ke air terjun Jamur kule. Meski demikian air terjun jamur kule aman di kunjungi untuk berwisata,” Tutup Shahbirin Amin. (sidaknews.com)

AMP - Aceh menyimpan pesona alam yang luar biasa indah. Tak heran, banyak traveler yang ingin menginjakkan kaki di provinsi paling barat di Indonesia ini. Nah, jika Anda berkesempatan menjelajah Aceh, ada satu destinasi yang tengah digandrungi traveler dan tak boleh dilewatkan. 

Adalah Air Terjun Tujuh Tingkat yang berada di Aceh Selatan. Wujudnya yang unik sekaligus cantik, membuat air terjun ini begitu menarik perhatian wisatawan. Dari namanya, pasti sudah dapat ditebak mengapa diberi nama 'tujuh tingkat'. Ya, karena memang air terjun ini memiliki 7 tingkat dengan ketinggian masing-masing. 

Tempat wisata ini patut dikunjungi karena pemandangannya sangat indah, dengan peohonan rindang dan udara sejuk. Cocok sekali untuk rekreasi di masa libur panjang seperti sekarang ini.

Air Terjun Tujuh Tingkat ini berlokasi di wilayah Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. Butuh waktu 8 jam perjalanan darat dari Kota Banda Aceh. Sementara dari Kota Tapaktuan, jarak tempuhnya cukup dekat. Hanya sekitar 10 menit saja menggunakan kendaraan bermotor.

Untuk bisa sampai ke air terjun tingkat pertama, Anda harus berjalan kaki mendaki kurang lebih sekitar 1-2 km dari jalan utama, yakni Jalan Medan, Tapaktuan. Obyek wisata ini memiliki tempat parkir dan para pengunjung bisa membawa motor maupun mobil untuk sampai ke parkiran menuju air terjun tingkat pertama.
Sesuai dengan namanya, Air Terjun Tujuh Tingkat terdiri dari 7 tingkatan. Tingkat pertama, dua, tiga, empat sampai tujuh terpisah satu sama lain. Tingkat satu hingga empat terletak bersisian, sementara untuk tingkatan selanjutnya Anda hsrus mendaki lagi dengan menelusuri aliran sungai.

Ingin tahu lebih jauh tentang Air Terjun Tujuh Tingkat di Aceh? Yuk lihat di sini.

AMP - Kehadiran Jepang di Aceh dimulai awal 1942. Jepang membangun benteng pertahanan dan aneka macam goa di daerah itu.

Konsep pertahanan dengan membangun benteng dan goa ini dilakukan Jepang sepanjang pinggir pantai dan perbukitan di Aceh.

Lihatlah sepanjang pinggir pantai Lhokseumawe, Sabang, dan pantai lainnya, Anda akan mudah menemui benteng sisa peninggalan Jepang.

Begitu juga goa. Khusus di Lhokseumawe, sepanjang tahun 1942, tentara Jepang memaksa ratusan rakyat Aceh untuk membangun benteng dan goa.

Salah seorang saksi sejarah, Iskandar (89) mengisahkan, begitu masuk ke Aceh, Jepang memutuskan membangun pusat pertahanan di perbukitan Desa Blang Payang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Bukit itu berada 120 meter di atas permukaan laut. Dari arah bukit membentang Samudera Hindia, sehingga sangat cocok dijadikan pusat pemantauan Jepang kala itu.

“Jepang memutuskan lokasi pertahanannya di Blang Payang. Sekarang dikenal dengan bukit goa Jepang. Seluruh goa itu dibangun oleh rakyat dan di bawah ancaman senjata,” sebut pria yang akrab disapa Abu Is ini kepada Kompas.com, Rabu (13/4/2016).

Dia menjelaskan, lebar mulut goa peninggalan Jepang itu yakni 2 x 3 meter.

Lhokseumawe dihimpit oleh dua bukit, yaitu Cot Panggoi dan Ramulah. Di Aceh, goa dikenal dengan sebutan guha atau keurokrok (tempat persembunyian). Goa itu membelah area perbukitan di kawasan itu.

Selain tempat persembunyian, goa tersebut kerap dipakai untuk menyekap para tahanan.

“Kami dulu sebagai pekerja pembuat lobang goa Jepang itu. Dipaksa oleh Jepang. Romusha. Tanpa gaji,” kenang Abu Is.

Sepanjang hari, siang dan malam, rakyat mengeruk tanah untuk membuat goa. Nyaris tanpa istirahat.

“Jepang ingin seluruh goa dan benteng segera selesai. Mereka khawatir diserang oleh pejuang Indonesia atau negara lainnya,” terang Abu Is.

Hasilnya, akhir Desember 1942, sebanyak 17 goa dan 8 benteng diselesaikan oleh pekerja. Sejak saat itu pula, Jepang menggunakan benteng dan goa itu untuk seluruh pasukan mereka.

Objek wisata

Saat ini, goa itu dijadikan obyek wisata. Dinding goa telah dipasang paving block. Namun sebagian besar dinding tetap dipertahankan sesuai bentuk aslinya.

Guratan senjata masih terlihat jelas di dinding itu. Konon di ruang tahanan itu, ratusan nyawa melayang karena disiksa.

Bahkan di beberapa goa tersedia ruang tahanan yang hanya cukup untuk berdiri satu orang. Tahanan ini dibiarkan berdiri selama 24 jam dalam sehari.

Di goa, layaknya model goa Jepang, pada umumnya terdapat ruang pengintaian, logistik, tahanan, ruang makan, dapur dan tempat kamar tidur. Kini, goa itu menjadi saksi bisu kekejaman tentara Jepang di Indonesia.

Penulis    : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi 
Sumber: kompas.com

AMP - Dua unit armada kapal laut bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk Kabupaten Aceh Singkil, Aceh, segera beroperasi untuk transportasi masyarakat dari daratan ke pulau-pulau terluar di daerah itu.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Singkil Ismet Taufiq di Singkil, Minggu (13/3) menyatakan, dua unit armada kapal yang akan dioperasikan mulai 1 April 2016 tersebut adalah kapal bekas bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI tahun 2015.

“Ini kapal kita dapatkan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2015.  Lalu kapal ini bukan kita terima dari baru, melainkan kapal bekas yang sudah pernah digunakan oleh masyarakat Painan, Kabupaten Pesisir, Sumatera Barat,” katanya.

Awalnya, kata Ismet, pihak Kementerian Kelautan menyerahkan bantuan armada kapal berkafasitas 20 GT untuk masyarakat di Kabupaten Pesisir, Sumbar. Namun, setelah diuji coba oleh nelayan di sana, ternyata tidak dapat dioperasikan karena tidak sesuai dengan keadaan laut.

“Berhubung kapal-kapal itu tidak dapat difungsikan oleh masyarakat Sumatera Barat, maka saya bersama Bupati melobi ke Jakarta agar kapal bantuan tersebut dapat dialihkan ke kita, karena kondisi laut kita cocok untuk kapal jenis tersebut,” katanya.

Berkat kerja keras, lanjutnya, dua unit kapal tersebut dialihkan oleh pihak Kementerian dari Painan ke Aceh Singkil pada akhir tahun 2015 dan kita rencanakan pada 1 April sudah mulai beroperasi ke pulau-pulau terluar Indonesia dengan tarif bersubsidi.

“Jadi, dua unit kapal ini kita rencanakan satu unit untuk membantu transportasi antara Singkil ke semua pulau-pulau terluar dan pulau-pulau kecil yang ada di seputaran laut Singkil dengan tarif murah, sedangkan yang satu lagi kita gunakan untuk kapal pengawasan perikanan kita,” katanya.

Kata dia, dengan telah beroperasinya kapal bantuan tersebut tentu saja masyarakat lokal maupun nasional dan internasional yang ingin datang berwisata ke sejumlah kepulauan yang ada di seputaran laut Aceh Singkil, selain menjadi mudah ongkos juga murah karena subsisdi pemerintah daerah.

Pemkab Aceh Singkil memberikan subsidi tersebut selain untuk mempromosikan tempat wisata dan alam bawah laut di sejumlah Kepulauan Banyak dan pulau-pulau kecil lainnya, juga untuk mempermudah masyarakat terutama dalam mengunjungi famili di pulau-pulau.

“Setelah kita bawa pulang dari Painan, kapal ini harus kita rehab dulu karena ada yang rusak, makanya agak sedikit terlambat. Kemudian, kita juga menunggu sistem pengelolaan, karena sistem pelaksanaannya kita lelang kepada masyarakat,” demikian Ismed Taufiq.[Waspada]

JALAN tanah dan berbatu ini memang membuat kondisi tubuh tak nyaman. Untung saja ini musim kemarau, tak terbayang jika musim penghujan, sepeti apa bentuk jalanan yang sedang kami lalui ini. Setengah jam berlalu dengan guncangan-guncangan, sontak mata kami langsung disuguhi pemandangan indah plus udara yang segar luar biasa. Nuansa hijau dari aneka pepohonan dan air kolam asli pegunungan melenyapkan semua letih dan pegal yang tadi menjalari tubuh.

"Assalamualaikum, selamat datang, jika ingin menikmati pemandangan air dan goa, silakan naik ke atas sebelah kiri, di sana ada pemandangan indah," sambut seorang pemuda tanggung, saat kami masih terbengong-bengong dengan suasana yang ada.

Tanpa menunggu lama, kami pun langsung menyusuri jalur yang ditunjukkan sang pemuda tanggung tadi. Ternyata dia adalah satu di antara beberapa pemuda yang bertugas mengawasi lokasi kolam pemandian yang bernama Pucok Krueng tersebut. Pucok Krueng adalah lokasi wisata pemandian kolam pegunungan yang terletak di Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.

Secara umum, Lhoknga dikenal sebagai kawasan wisata pantai dengan pasir putih yang indah dan kuliner yang mengasyikkan. Tapi, di balik semua itu, ternyata Lhoknga menyimpan satu pesona yang mulai memancarkan sinarnya ke permukaan. Yakni sinar pesona pegunungan Pucok Krueng. Disebut Pucok Krueng dalam bahasa Aceh, karena lokasi ini benar-benar terletak di sudut gunung di kawasan ketinggian di atas pemukiman penduduk. Lokasi ini baru saja dikenal sejak tiga tahun lalu.

Awalnya tak banyak yang tahu keberadaan tempat ini selain warga kampung setempat, yang datang berkebun dan bersawah di kawasan Pucok Krueng. Lama kelamaan kawasan ini mulai dikenal di kalangan anak-anak muda pencinta alam dan backpacker, yang akhirnya berkembang dari mulut ke mulut. “Karena sudah mulai banyak datang orang, makanya kami memutuskan untuk mengawasi lokasi ini, agar lokasi tetap terjaga keasriannya dan kebersihannya, serta mengawasi pula agar lokasi ini tidak digunakan untuk hal-hal yang maksiat,” jelas Agam, pengawas kolam Pucok Krueng.

Sesaat menjajaki kaki di kawasan ini, mata kita akan langsung dimanjakan dengan hijaunya kolam air yang mata airnya langsung bersumber dari gunung. “Di sebelah sini kolam dengan goa yang kalau ditelusuri maka ujung goa ini akan berakhir di sebuah sungai pegunungan di Lamno, Aceh Jaya,” jelas sang pemuda tanggung yang menyambut kedatangan kami tadi.

Fakta yang cukup mengejutkan. Karena jika ditempuh dengan jalur darat, maka jarak dari Lhoknga menuju Lamno, Aceh Jaya adalah 75 kilometer. Sejurus dia pun meninggalkan kami dan membiarkan kami menikmati udara bersih dan angin yang semilir. Di kolam utama dengan warna air yang kehijauan, para pengunjung terlihat sibuk mengabadikan suasana, dan sebagian lainnya asyik berenang menikmati segarnya air.

Di dinding tebing terlihat seutas tambang tergantung dari atas tebing. Rupanya tambang ini digunakan pula untuk para pengunjung yang ingin menguji adrenalin mereka, dengan memanjat dinding tebing dengan tambang hingga ke puncak dan kemudian melompat ke kolam pemandian. Jaraknya tak jauh, hanya kurang dari 20 meter saja, namun tak semua orang bisa melakukannya. Dan.. Hup..!! seorang pemuda tangung terlihat berhasil memanjat dinding tebing dan dengan rasa puas dia pun meloncat ke arah kolam bak gaya atlit peloncat indah profesional.

“Saya mendengar tentang lokasi ini dari seorang teman, dan ceritanya membuat saya penasaran, dan ketika saya sampai di sini, ternyata cerita itu benar, tempat ini indah sekali, sekali pun jalan menuju ke sini masih tidak bagus,” jelas Sandy, seorang wisatawan asal Pulo Weh, Sabang, Aceh.

Menurut Sandy, keberadaan lokasi Pucok Krueng memang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. “Dan tentu saja ini merupakan pekerjaan rumah untuk pemerintah setempat jika memang ini meraup banyak manfaat dari potensi wisata yang ada dan jika sudah menjadi tempat yang ramai diharapkan masyarakat juga bisa tetap menjaga tempat ini agar terus alami,” jelas Sandy, saat ditemui KompasTravel di lokasi Wisata Pucok Krueng pertengahan Maret 2015, lalu.

Hal senada juga dikatakan Deny, seorang warga Banda Aceh. Menurut Deny, suasana alami yang disajikan Pucok Krueng membuat orang terbuai dan merasa seperti di surga. "Selama 30 tahun saya tinggal di Kota Banda Aceh, baru sekarang saya tahu lokasi ini, dan suasananya benar-benar seperti di surga," katanya.

Belum banyaknya intervensi dari masyarakat di lokasi kolam pemandian ini membuat lokasi tetap asri dan diharapkan suasana alami dan segar akan terus terjaga. Selain memberikan manfaat kesegaran yang alami, kehadiran kolam pemandian Pucok Krueng merupakan keseimbangan alam yang harus dijaga kelestariannya.

Penulis: Kontributor Banda Aceh, Daspriani Y Zamzami
Sumber: Kompas.com


AMP - Lingkungan alami dan hijau itulah yang dicari saat ini oleh mereka yang sudah bosan dengan kepengatan di kota besar, maupun kota yang mulai berjalan menjai besar, kebosanan akan asap kendaraan yang 24 Jam tanpa henti ditambah lagi kebisingan kedaraan yang terus menerus pastinya membuat siapapun merasa ingin mencari ketenangan di suatu tenpat yang masih hijau dan memilika udara yang segar

Desa Lubok Gapuy Kec. Ingin Jaya Kab. Aceh Besar mungkin bisa menjai pilihan bagi anda yang merasa butuh satu ketenangan atau butuh refresing kea lam yang hijau alami dan segar, di Desa Lubok Gapuy masih memiliki persawahan yang begitu hijau sehingga siapun yang menggunjunginya pastinya akan merasa tenang dan tentram, pastinya 99% masalah anda hilang


Inilah sedikit penanmpakan bagaimana Indah dan hijaunya pesona alam desa Lubok Gapuy, Aceh Besar

 Bagaimana, tertarik tidak untuk mengunjungi desa ini ? dijamin anda tidak akan merasa rugi karena kehijau alam desa lubok gapuy akan membayar semuanya

Lingkungan hijau dan alami sangat baik bagi kesehatan, menurut rilis di salah satu website kesehatan menyebutkan bahwa ada beberapa manfaat lingkungan hijau bagi kita semuam, bebarapa manfaat di antaranya yaitu:

1. Mengurangi hipertensi dan depresi. Berjalan alam atau lingkungan hijau tidak hanya meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering berjalan di hutan atau alam hijau memiliki kesehatan mental yang sehat

2. Mengurangi timbulnya penyakit. Tanaman memancarkan senyawa organik yang mudah menguap, phytoncides, untuk melindungi diri dari bakteri, jamur, dan serangga. Manusia akan mendapatkan banyak keuntungan dengan menghirup bahan kimia ini karena bisa menghilangkan hormon stres, tekanan darah dan detak jantung. Jika Anda melakukan olahraga rutin maka di alam asri setiap minggu, tubuh Anda akan terhindar dari berbagai penyakit

3. Sistem kekebalan tubuh. Olahraga di tempat yang asri dan rindang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, yang telah dirusak oleh hormon stres. Sebuah penelitian telah membuktikan bahwa pasien pulih lebih cepat, jika mereka berolahraga di lingkungan yang hijau


Dibalik tiga hal tersebut sebenarnya masih banyak lagi hal yang membuat lingkungan hijau bisa menyehatkan kita semua, mungkin untuk lengkapnya bisa di search di internet, atau bisa mencari referensi di buku kesehatan

Sekitar persawahaan desa Lubok Gapuy yang hijau ini sering dingunakan warga desa untuk berolahraga jogging, bisa dibilang setiap harinya pasti ada orang yang jogging di sekitar persawahan desa ini, kehijauan dan alaminya pesona alam desa ini juga ikut menarik warga desa- desa di sekitarnya untuk ikut berolah raga jogging di sekitar desa Lubok Gapuy, kini giliran anda merasakan hijaunya alam desa ini.[VIVA]
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget