Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Soekarno"

Beberapa pilihan foto-foto kenangan Presiden Soekarno semasa hidupnya.

Saat jadi komandan Romusha di masa Jepang | Foto: Fotoleren

Foto keluarga, dari kiri: Soekarno, Megawati, Guntur, dan Fatmawati. Tahun 1949 | Foto: Getty Images

Sungkem ke ibu Soekarno, Ida Ayu Nyoman Rai, 1946 | Foto: John Florea - LIFE

Bebronceng sepeda dengan Ibu Fatmawati di India 1950 | Foto: Fotoleren

Berdansa dengan Mrs. Howard P. Jones (Istri Dubes AS) di Jakarta 1959 | Foto: Getty Images 

Bermain Dumbo dengan anak, Guntur, di Disneyland, California AS 1956 | Foto: Corbis

Tanpa kopiah bersama Hartini, istri ke empat, di Istana Bogor 1965 | Foto: Getty Images

Membawa anak-anaknya, Guntur dan Megawati, ke New York tahun 1961 | Foto: Getty Images

Sedang santai bercanda di Athena, Yunani, tahun 1965 | Foto: Fotoleren

Tanpa kopiah di Istana Negara tahun 1967 | Foto: Fotoleren

Sebuah mural ekspresi kemerdekaan yang di foto tahun 1945 | Fotografer: John Florea, sumber: Time Life

| Oleh Ridwa Hd. |

Sore hari pada 17 Agustus 1945, Mohammad Hatta menerima telepon dari Tuan Nishiyama, pembantu Admiral Maeda, yang meminta kesediannya untuk bicara dengan opsir Kaigun (Angkatan Laut Jepang). Opsir itu ingin mengemukakan suatu hal yang sangat penting. Hatta mempersilakan datang.

Opsir sebagai utusan Kaigun menyampaikan aspirasi keberatan dari wakil-wakil umat Protestan dan Katolik di wilayah Indonesia Timur atas kalimat pembukaan Undang-undang Dasar yang berbunyi: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Opsir itu menyampaikan jika wakil-wakil itu merasa di diskriminasi. Jika kalimat tersebut ditetapkan juga, mereka memilih berdiri di luar Republik Indonesia.

�Itu bukan suatu diskriminasi,� kata Hatta kepada opsir itu yang diceritakannya di buku Untukmu Negeriku. �Sebab, penetapan itu hanya mengenai rakyat yang beragama Islam. Waktu merumuskan Pembukaan Undang-undang Dasar, Mr. Maramis (beragama Kristen) yang ikut serta dalam panitia sembilan tidak mempunyai keberatan apa-apa dan pada tanggal 22 Juni ia ikut menandatanganinya.�

Opsir itu tetap menjelaskan bahwa apa yang disampaikan sudah menjadi pendirian para pemipin kristen dan katolik di daerah kekuasaan Angkatan Laut Jepang wilayah Indonesia Timur. Ancaman disintegrasi rupanya menakuti Hatta. Selama ini ia sudah berjuang mati-matian untuk bisa membuat negeri ini bersatu. Lalu Hatta meminta kepada opsir agar bersabar dan akan menyampaikan usulan itu kepada sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPKI) keesokan harinya.

Usul opsir itu disampaikan oleh Hatta pada sidang PPKI pada 18 Agustus 1945. Keributan pun terjadi. Kelompok Islam tidak terima dikarenakan Dasar Negara Pancasila sudah disepakati bersama pada 22 Juni 1945. �Memang pintar pihak minoritas non-Muslim itu. Pintar untuk memanfaatkan kesempatan  moment psychologis.� komentar Kasman mengenai kejadian ini di buku Hidup itu Berjuang Kasman Singodemidjo 75 Tahun.

Mohammad Hatta mengusulkan formulasi baru pada sila pertama menjadi �Ketuhanan yang Maha Esa�. Ia menafsirkan kata Tuhan sebagai Allah, Tuhannya umat Islam. Demi menjaga persatuan untuk menghadapi penjajahan kembali, beberapa tokoh golongan Islam mengambil sikap mengalah dan menyetujui rancangan baru tersebut. Tidak dengan Ki Bagus Hadikusomo yang tetap ngotot mempertahankan Piagam Jakarta.

Kasman yang ikut sebagai anggota tambahan sidang PPKI, sebenarnya ingin tetap mempertahankan hasil kesepakatan Piagam Jakarta sebagai dasar negara. Karena baginya Piagam Jakarta adalah wajar dan sangat logis bagi bangsa dan rakyat Indonesia. Situasi yang genting dan waktu yang berjalan begitu cepat, ia memutuskan ikut mengalah untuk sementara.

Para tokoh Islam juga berupaya meyakinkan Ki Bagus Hadikusumo tetapi tidak berhasil. Soekarno akhinya meminta batuan Kasman. Selain sesama orang Muhammadiyah, Kasman memang cukup dekat dengan Ki Bagus Hadikusumo. Dengan berpegang pada janji Soekarno akan dibahas kembali persoalan dasar negara 6 bulan kemudian di sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Kasman memutuskan ikut membantu meyakinkan Ketua Muhammadiyah itu agar bisa melihat kenyataan bahwa kondisi saat itu sedang darurat.

 �Kiyai, tidakkah bijaksana, jikalau kita sekarang sebagai umat Islam yang mayoritas ini sementara mengalah demi kemenangan cita-cita kita bersama, yakni tercapainya Indonesia merdeka ....� begitu usaha lobi Kasman. Ki Bagus Hadikusumo pun luluh.

Setelah berkompromi secara bulat dan sikap toleransi para tokoh Islam, disepakati hasil rumusan Pancasila pada kesepaktan Piagam Jakarta di pasal 1 berubah dari �Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya� menjadi �Ketuhanan Yang Maha Esa�. Butir Pancasila hasil kesepakatan dari Panitia Sembilan dan sidang PPKI pada 18 Agustus 1945 itu yang dipakai hingga sekarang.

Sejak Soekarno memperkenalkan lima sila yang diberi nama Panca Sila pada 1 Juni 1945, masih belum disepakati sebagai dasar negara (baca juga: Sambutan Tepuk Tangan Ide Pancasila). Abdul Kahar Muzakkir, dalam pidatonya di Majelis Konstituante pada 1957,  menceritakan kronologis pelaksaan sidang BPUPKI. Dengan jujur ia menjelaskan, bahwa dari 60 orang peserta sidang BPUPKI yang mewakili kelompok Islam hanya 25% saja. Kemudian yang memilih dasar negara kebangsaan sebanyak 45 suara dan memilih dasar Islam sebanyak 15 suara.

�Badan Penyelidik sesudah mengadakan rapat-rapatnya pada bulan Juni 1945 itu, memang belum begitu bulat pendapatnya tentang dasar negara,� ucap Muzakkir dalam sidang itu yang dirangkum di buku Debat Dasar Negara Islam dan Pancasila Konstituante 1957. �Terbukti ketika ada kesempatan kebanyakan anggota-anggota Badan Penyelidik berkumpul di Jakarta pada 22 Juni 1945, maka Bung Karno mengundang mereka berapat di ruangan Hokokai (Kementrian Keuangan sekarang).�

Dalam rapat itu, Soekarno mengusulkan dibentuk panitia kecil yang diberi nama Panitia Sembilan. Angota Panitia Sembilan adalah: Soekarno, Mohammad Hatta, Agus Salim, A. A. Maramis, Mohammad Yamin, Wahid Hasyim, A. Subarjo, Abikoesno, dan A. Kahar Muzakkir. Sebuah perbandingan yang adil dimana kelompok Islam berjumlah 4 orang, begitu juga kelompok kebangsaan 4 orang. Sedangkan Soekarno sebagai penengah dan pimpinan sidang.

Pada rapat 22 Juni 1945 itu, usulan lima sila soekarno yang terdiri dari: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme dan Peri Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa, disempurnakan oleh Panitia Sembilan.

Setelah rapat hingga jam 20.00 bertempat di kediaman Bung Karno di Jalan Pengangsaan Timur No. 56, Jakarta, disepakati rumusan lima sila yang berbunyi: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hasil rumusan Pancasila ini disepakati dengan nama Piagam Jakarta oleh Mohammad Yamin.

Kronologis jalannya sudang BPUPKI hingga PPKI juga diceritakan oleh Mohammad Yamin dalam buku Naskah Persiapan Undang-undang Dasar 1945. Hasil rumusan Panitia Sembilan memang banyak penolakan dari kelompok kebangsaan di Sidang BPUPKI tahap ke 2. Tetapi Soekarno dengan tegas mengatakan, �Kalau kalimat ini tidak dimasukan, tidak bisa diterima oleh kaum Islam.� Begitu juga anggota yang lain yang masih mempersoalkan sila pertama, lagi-lagi Soekarno dengan tegas bawah anak kalimat itu merupakan, �Kompromi antara golongan Islam dan kebangsaan, yang hanya didapat dengan susah payah.�

Rupanya penolakan sila pertama tak hanya datang dari kelompok kebangsaan, dari kalangan Islam, yakni Ki Bagus Hadikusumo juga tak sepakat dengan anak kalimat pasal satu: ... bagi pemeluk-pemeluknya. Ia meminta agar kalimat terakhir itu dihapus saja, tak perlu menggunakan kalimat Bagi pemeluk-pemeluknya.

Sekali lagi Soekarno mengingatkan sidang, bahwa anak kalimat itu adalah hasil kompromi antara dua pihak, �pendek kata inilah kompromis yang sebaik-baiknya. Jadi Panitia memegang teguh kompromis yang dinamakan oleh anggota yang terhormat Muhammad Yamin �Jakarta Charter� yang disertai perkataan anggota yang terhormat Sukiman �Gentelman�s Agreement�, supaya ini dipegang teguh di antara pihak Islam dan pihak kebangsaan.� jelas Soekarno. Setelah mendengar pidato Abikoesno dari kelompok Islam, akhirnya sidang secara bulat sepakat dasar negara yang akan ditetapkan sesuai rumusan Panitia Sembilan.

�Dengan penegasan itu, belumlah berarti bahwa Islam dijadikan dasar negara,� kata Muzakkir kemudian di dalam pidato Majelis Konstituante pada 1957. �banyak sedikitnya dapat sekedar memberi jaminan bagi berlakunya hukum Islam bagi pemeluk-pemeluknya.�

Kemudian Abdul Kahar Muzakkir lanjut bercerita, �akan tetapi apa lacur pada 18 Agustus 1945, semua prinsip-prinsip yang baik dan luhur itu ole Panitia Persiapan Kemerdekaan telah diubah, discoret-coret, dan dihapuskan dari Mukaddimah dan Undang-undang Dasar. Itulah sebabnya ada orang yang mengatakan bahwa Pancasila itu dikebiri.�

Soekarno berpidato di sidang KNIP di Malang tahun 1947 | sumber: fotoleren.nl
| Oleh Ridwan Hd. |

Suasana sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang berlangsung 29 hingga 31 Mei 1945 begitu ribut. Masing-masing orang membentuk kelompoknya sesuai pendapat yang ingin diajukan. Setiap jam istirahat, kelompok Islam melakukan pertemuan sendiri. Begitu juga kelompok kebangsaan, pendukung negara federal, dan kelompok-kelompok yang berbeda pandangan soal konsep wilayah negara.

�Aku duduk di tengah keributan itu dan membiarkan setiap orang mengeluarkan pendapatnya.� kata Soekarno dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat yang disusun Cindy Adams.

Menurut Soekaro, mereka semua terlalu banyak bicara �seandainya� dan menduga-duga. Kalau terus begini akan sulit menggapai kemerdekaan. �Kalau Jepang memberi kemerdekaan pada kami di hari itu juga, tentulah kami akan berkata, �Nanti dulu... tunggu sebentar. Kami belum siap�.� kata Soekarno.

Memasuki hari 1 Juni 1945, tiba giliran Soekarno berdiri di depan podium untuk mengungkapkan gagasannya tentang dasar negara. Setelah sidang dibuka, ia melangkah ke podium marmer yang berada di tempat yang lebih tinggi. Podium itu pernah berdiri Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk membuka resmi Volksraad, yaitu dewan perwakilan dari pemerintahan Hindia Belanda. Tempat berlangsungnya sidang BPUPKI memang berada di gedung bekas Volksraad.

Di podium itu, Soekarno memperkenalkan lima mutiara berharganya; Kebangsaan, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Demokrasi, Keadilan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Berpidato tanpa teks, ia uraikan penjelasan ke lima usulan dasar negara di depan peserta BPUPKI. �Bangsa Indonesia, karena itu, meliputi semua orang yang bertempat tinggal di seluruh kepulauan Indonesia, dari Sabang di ujung utara Sumatera, sampai Merauke di Papua.� ucapnya ketika menjelaskan bagian kebangsaan.

Pada bagian internasionalisme, ia berkara, �Itu bukanlah Indonesia Uber Alles,� katanya tegas. �Indonesia hanya satu bagian kecil saja dari dunia. Ingatlah kata-kata Ghandi, saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan.� Dalam penjelasannya ini, ia menolak nasionalise seperti nasionalismenya orang Jerman terhadap bangsa Arya. �Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman sarinya Internasionalisme.�

�Kita tidak akan menjadi negara untuk satu orang atau satu golongan, tetapi, semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu.� ucapnya menjelaskan bagian demokrasi. �Biarlah orang Islam bekerja sehebat-hebatnya agar supaya sebagian terbesar dari kursi Dewan Perwakilan Rakyat diduduki oleh utusan-utusan Islam. Kalau misal orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap peraturan dari negara Indonesia dijiwai Injil, bekerjalah mati-matian agar sebagian besar dari utusan-utusan adalah orang Kristen. Itu adil!�

Masuk bagian Keadilan Sosial, ia keluarkan pertanyaan retoriknya, �Apakah kita mau Indonesia Merdeka, yang kaum kapitalismenya merajalela, ataukah yang semua rakayatnya sejahtera, karena merasa diayomi oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang pangan kepadanya?�

�Kita tidak menghendaki persamaan politik semata. Kita ingin demokrasi sosial. Demokrasi ekonomi. Satu dunia baru di dalam mana terdapat kesejahteraan bersama.� lanjutnya.

Terakhir, masuk pada bagian Ketuhanan Yang Maha Esa. �Marilah kita menyusun Indonesia merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Biarkan masing-masing orang Indonesia bertuhan Tuhannya sendiri. Hendaknya tiap-tiap orang menjalankan ibadahnya sesuai cara yang dipilihnya.�

Soekarno mengakui senang pada hal yang simbolik. �Rukun Islam ada lima. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai pancaindera. Jumlah pahlawan Mahabrata, Pandawa, juga lima. Sekarang asas-asas di atas dasar makna kita akan mendirikan negara, lima pula bilangannya.�

Dari ucapannya itulah keluar nama Pancasila. �Jika kuperas yang lima ini menjadi satu, maka dapatlah aku satu perkataan Indonesia tulen, yaitu perkataan gotong-royong. Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua.

�Prinsip gotong-royong di antara yang kaya dan tidak kaya, antara yang Islam dan Kristen, antara yang Indonesia dan yang non-Indonesia. Inilah saudara-saudara, yang kuusulkan kepada saudara-saudara.�

Suara tepuk tangan terdengar bergemuruh. Mohammad Hatta dalam otobiografinya Untuk Negeriku, berkata, �Pidato itu disambut hampir semua anggota dengan tepuk tangan yang riuh. Tepuk tangan yang riuh itu dianggap sebagai suatu persetujuan.�

Pidato Soekarno ini juga menjadi akhir dari sidang BPUPKI tahap pertama. Rumusan yang diusulkan Soekarno akan diolah kembali untuk susunan Undang-undang Dasar di sidang BPUPKI ke dua dengan membentuk panitia sembilan. Tepat pada 22 Juni 1945, rumusan Pancasila disepakati bersama dengan kesepakatan bernama Piagam Jakarta (baca juga: Lima Sila Hasil Kompromi).

Agus Salim (kiri), Soekarno (kanan) tahun 1949 | Sumber: Hulton-Deutsch Collection / Corbis
| Oleh Ridwan Hd. |

Pidato Soekarno di tahun 1928 nampak mengusik pikiran Agus Salim. Soekarno berkata, �Ibumu Indonesia teramat cantik. Cantik langitnya dan cantik buminya. ...� terus dilanjutkan berbagai keunggulan dan keelokan tanah air, �... Maka tidak lebih dari wajibmu apabila kamu memperhambakan, memperbudakkan dirimu kepada ibumu Indonesia. Menjadi putera yang mengikhlaskan setiamu kepadanya.�

Melalui harian Fadjar Asia yang terbit 28 Juli 1928, Agus Salim mengkritik pernyataan Soekarno itu. �Alasannya benar. Tujuannya baik.� kata Salim, �Tapi, atas nama Tanah Air, yang oleh beberapa bangsa disifatkan �dewi� atau �ibu�, bangsa Perancis dengan gembira menurutkan Lodewijk XIV, penganiaya dan pengisap darah rakyat itu, menyerang, merusak, membinasakan negeri orang dan rakyat bangsa orang, sesamanya manusia.�

Agus Salim juga menjelaskan beberapa negara selain Perancis yang melakukan hal yang sama karena sikap nasionalisme negara-negara Eropa yang cendrung pada Chauvisme, seperti yang dilakukan Austria kepada Prusia, Jerman dan Itali kepada negara-negara tetangganya. Atas nama cinta tanah air, beberapa negara Eropa merendahkan derajat negara lain, dengan menjajah. �Demikianlah kita lihat, betapa agama yang menghambakan manusia kepada berhala tanah air itu mendekatkan kepada persaingan berebut-rebut kekayaan, kemegahan, dan kebesaran, kepada membusukan, memperhinakan dan merusak tanah air orang lain.�

Menghamba dan membudakan diri kepada dewi dan ibu sebagai bentuk presonifikasi tanah yang kita pijak karena keunggulannya, seperti kesuburan, bentangan alam yang indah, dan sebagainya, bagi Agus Salim adalah berbahaya. Menghamba pada sifat kebendaan dunia bukanlah cara untuk mencapai derajat kesempurnaan. Dunia sifatnya tidak kekal, maka jika nyawa itu sudah tidak ada akan habis gunanya. �Demikian juga dalam cinta tanah air kita mesti menunjukkan cita-cita kepada yang lebih tinggi daripada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada hak, keadilan, dan keutamaan yang batasnya dan ukurannya telah ditentukan telah ditentukan oleh Allah Subhanahuwa Ta�ala.�

"Alangkah baiknya," Agus Salim menyimpulkan, "jika cinta kepada tanah air itu karena Allah semata. Bukan karena eloknya dunia. Berlandas cinta kepada Allah dapat menghindari dari: menyimpang dari jalan hak, keadilan, dan keutamaan itu, karena dorongan hawa nafsu.�

Agus Salim mencontohkan cinta tanah air itu pada kisah Nabi Ibrahim yang tertuang pada Surat Ibrahim ayat ke 37. Dari kisah di ayat tersebut, Agus Salim menjelaskan tentang Nabi Ibrahim yang berada di tanah yang tandus, tanpa air, dan juga tak ada kehidupan. Namun, karena ketakwaannya kepada Allah, Nabi Ibrahim berdoa untuk meminta kemuliaan pada tanah tersebut menjadi tanah yang diberkahi. Doa Nabi Ibrahim kini terkabul dengan Melihat Kota Mekkah yang kini ramai dikunjungi jutaan penduduk bumi, dan penuh dengan buah-buahan dari segala penjuru dunia. Padahal, tanah di sana tandus.

Melalui Harian Fadjar Asia itu juga yang terbit pada 18 Agustus 1928, Soekarno menanggapi pernyataan Agus Salim. �Sekali-kali tidak menimbulkan pada kita dugaan akan persaingan dan perceraian, dan memang tidak bermaksud persaingan dan perceraian itu. Bukankah begitu, saudara Haji Agus Salim?� kata Soekarno.

Soekarno lebih membawa pendapatnya itu untuk tujuan persatuan. Propaganda kecintaan pada tanah air yang didengungkan Soekarno lebih kepada ajakan untuk bersatu dari tiap-tiap golongan yang ada. Bukan bermaksud untuk mengajak kecintaan dengan tujuan perpecahan dengan bangsa lain seperti yang ditakutkan Agus Salim. Kemudian ia menganggap tulisan sanggahannya ini sebagai pelengkap, bukan bantahan dari pernyataan Agus Salim yang dianggap Soekarno �lupa mengemukakan� soal persatuan itu.

Menurut Soekarno, Agus Salim lupa mengatakan bahwa rasa kebangsaan kini sedang berapi-api di dalam hati sanubari kaum Nasional Indonesia. Rasa kebangsaan menurut dirinya bukan kebangsaan yang agresif dan menyerang. Tidak seperti kebangsaan seperti di Eropa. �Tidak diarahkan ke luar, tetapi ialah diarahkan ke dalam.� jelas Soekarno.

Soekarno menjelaskan maksud nasionalisme dalam pandangannya. �Ia bukanlah nasionalisme yang timbul dari kesomboongan bangsa belaka; ia adalah nasionalisme yang melebar �nasionalisme yang timbul daripada pengetahuan atas susunan dunia dan riwayat , ia bukanlah jingo-nasionalismeatau chauvinisme, dan bukanlah suatu copie atau tiruan daripada nasionalisme barat. Nasionalisme kita ialah suatu nasionalisme yang menerima rasa hidupnya sebagai suatu wahyu dan menjalankan rasa hidupnya itu sebagai suatu bakti.�

Kemudian melanjutkan, �Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi perkakas Tuhan, dan membuat kita menjadi hidup dalam roh �sebagai yang saban-saban dikhotbahkan oleh Bipin Chandra Pal, pemimpin India yang besar itu. Dengan Nasionalisme yang  demikian ini maka kita insaf dengan seinsaf-insafnya, bahwa negeri kita dan rakyat kita adalah sebagian daripada negeri Asia dan rakyat Asia. Kita kaum pergerakan nasional Indonesia, kita bukannya saja merasa menjadi abdi atau hamba dari pada tanah tumpah darah kita, akan tetapi jugalah merasa menjadi abdi dan hamba Asia, abdi dan hamba semua kaum sengsara, abdi dan hamba dunia...�

Soekarno juga banyak mencontohkan karakter nasionalisme dari para pempimpin Islam, seperti Moestafa Kamil, Amanoellah Khan, Arabi Pasha, dengan berbagai pernyataan cintanya pada tanah air.

Agus Salim kembali menanggapi melalui Harian Fadjar Asia yang terbit 20 Agustus 1928. Ia menegaskan tidak bermaksud untuk menunjukkan perpecahan atas tidak sependapatnya pada konsep nasionalisme Soekarno. Baik dari kalangan Nasionalis Sekuler yang diwakilkan Soekarno melalui Partai Nasionalis Indonesia (PNI) dan kalangan Islam yang diwakilkan Agus Salim melalui Partai Sarekat Islam (PSI), memiliki kesamaaan, yaitu sama-sama cinta pada tanah airnya. Sama-sama memiliki tujuan, yaitu kemuliaan bangsa dan kemerdekaan tanah air. Juga sama-sama pada tempat bergerak, yaitu negeri yang sedang terjajah oleh bangsa asing. Hanya saja, bagi Agus Salim, berbeda dalam asas dan niat. �Asas kita adalah agama, yaitu Islam. Niat kita Li�llaahi Ta�aala.� kata Salim.

Dalam penjelasannya, Agus Salim berusaha tetap mempertemukan kesamaan dalam perjuangan antar pergerakan. Kritiknya pada pidato Soekarno di awal tidak bermaksud mengganggu persatuan yang telah ditetapkan dalam pergerakan antara PSI dan PNI.

Dalam penjelasannya juga, Agus Salim sangat menghormati pandangan Soekarno dan mau menerima perbedaan pendapatnya. Ia hanya ingin mengemukakan menurut pandangannya sesuai asas dari PSI yang berideologi Islam, bahwa persatuan memang perintah Allah.

Dengan berlandas niat kepada Allah, akan terjaga dari sifat-sifat congkak dan sombong atas kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh tanah air. Jika sifat itu merasuk, seperti yang ditakuti Agus Salim, dapat memunculkan perendahan pada bangsa lain. Dengan niat karena Allah, rasa sombong itu bisa dijaga. Begitu juga apapun kekurangan yang ada pada negeri, seperti pada kisah Nabi Ibrahim tadi, cinta pada tanah air tetap terjaga. 


Agus Salim menyimpulkan, �Kita merasa amat perlu mengemukakan ini sebab bergerak menuntut kemerdekaan bangsa dan tanah air yang dalam penghambaan, bukan perkara mudah dan bukanlah perkara yang memberi keyakinan akan mendapatkan untung dengan seketika, tetapi sebaliknya banyak sekali perdaya dunia yang bermancam-macam yang dapat menyesatkan dia. Hanya pengakuan batas-batas Allah yang dapat menjaga kesucian pergerakan keutamaan itu.�
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget