Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Sain"

MATA terpejam, kepala bergoyang, kedua tangan saling berpegangan erat. Begitulah gaya Mauliza Juliantika (20) saat menghafal ayat Suci Alquran. Lantunan suaranya terdengar begitu merdu.

Kemampuan menghafal sampai 30 juz Alquran itulah yang kini memberi peluang bagi Mauliza menjadi wakil Indonesia ke ajang MTQ Internasional Fatimah binti Mubarak ke-2 di Dubai pada 12-14 November 2017. Di panggung kelas dunia itu, mahasiswi semester V Jurusan Bahasa Arab UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini akan menjadi duta Indonesia khusus di cabang hafiz 30 juz.

Saat Serambi mendatangi rumahnya di Desa Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, Selasa (10/10) sore, Mauliza menceritakan, dirinya baru fokus belajar membaca Quran saat duduk di bangku kelas 5 SD. Meskipun awalnya hanya belajar di balai pengajian desa.

Namun itu hanya berlangsung beberapa bulan saja. Karena setelah itu, atau tepatnya pada September 2005, anak pertama dari enam bersaudara dari pasangan Abdul Malik-Harmiati ini pun mulai menuntut ilmu di Pusat Pendidikan Tahfiszul Quran (PPTQ) Kota Lhokseumawe. Di situlah dia mulai belajar menghafal Quran secara lebih serius dan baik. Dimulai satu juz hingga khatam atau mampu menghafal 30 juz pada Desember 2008. Berbagai prestasi telah diraihnya sejak 2009 sampai sekarang.

Mauliza juga menceritakan, saat masih belajar hafalan satu juz hingga dua juz, trik untuk cepat menghafal dengan cara mengulang-ulang. Tapi memasuki hafalan juz ketiga, cara dia untuk cepat menghafal pun diubah, yakni dia terlebih dahulu menguasai arti dari ayat-ayat suci Alquran sehingga akan semakin mudah memahami setiap ayat yang dihafalnya. “Jadi sekarang saat saya menghafal Alquran, seperti membayangkan ada Quran di depan saya,” ungkapnya.

Ditanya juz yang sulit dihafal dulunya, dia menyebutkan, ada beberapa juz, seperti juz 27, juz 29, dan juz 30. Alasannya, karena ayatnya terlalu pendek-pendek, sehingga sangat sulit dibayangkan saat mulai melantunkan ayat-ayat tersebut.

Motivasinya untuk mampu menghafal Alquran, menurut Mauliza karena ingin membanggakan serta membantu orang tua dunia dan akhirat. “Saya sadar berasal dari keluarga susah. Alhamdulillah, atas prestasi yang saya raih selama ini, dapat membantu orang tua dalam hal ekonomi,” ujar anak penjual barang pecah belah keliling ini.

Terkait dapat kesempatan ke Dubai untuk mewakili Indonesia, Mauliza mengaku tidak meyangka karena di Indonesia pastinya masih banyak hafizah-hafizah yang hafalannya lebih bagus dari dirinya. “Tapi dengan adanya peluang besar ini, saya akan membuktikan kalau hafizah Aceh juga mampu berada di panggung internasional. Saya pun bertekat akan mengukir prestasi ternaik,” ujarnya, optimis.

Pengurus PPTQ Lhokseumawe, Tgk Tarmizi SSos menyebutkan, beberapa bulan lalu, Mauliza menjadi juara dua di cabang hafiz pada Seleksi Tilawatil Quran Nasional (STQN) di Kalimantan Utara. Atas prestasi STQN tahun 2017 itulah akhirnya Kementerian Agama RI mengundang Mauliza memperkuat kontingen Indonesia ke ajang MTQ Internasional di Dubai. “Ini kebanggaan bagi kata,” demikian Tgk Tarmizi.(Serambinews)

AMP - Lima santri dari Aceh dipastikan lulus kuliah ke Cairo Mesir. Kelima santri tersebut, tiga diantaranya merupakan santri Pesanteren Az-Zahra Benyout Bireuen dan dua lainnya dari Pesanteren Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) Banda Aceh dan Pesenteren Al-Manar.

Kelimanya menurut informasi yang diterima oleh Ketua Bidang PSDM Ikatan Alumni Az-Zahra (IKAZA), Zikra Juniawan lulus melalui jalur Diktis Kementerian Agama.

“Namanya masing-masing, Andelameta Zitara dari Kampung Uning Niken, Bies. Ismuhadi bin Muhammad dari Desa Juli, Bireuen, Muharir Asy’ari dari Kampung Pondok Baru Bener Meriah, ketiganya berasal dari Pesanteren Az-Zahra Benyout, sementara dua lainnya yakni Tuguh Munara dari Pesanteren Al-Manar, dan santri RIAB yang pernah menjadi pendakwah di AKSI Indosiar asal Bener Meriah, Deffah Cahyani Harist,” jelas Zikra.

Disampaikan lagi, Deffa dan Teguh , sebenarnya juga merupakan alumni Benyout. Keduanya menempuh pendidikan selama 3 tahun disana, untuk tingkat Tsanawiyah. “Kami tetap menganggap keduanya alumni Az-Zahra,” kata Zikra.(Lintasgayo)

AMP - Seorang lelaki lajang berumur 30-an, sebut saja namanya Didi, awal kerap ditanya ihwal klasik "kapan kawin" setiap lebaran. Didi selalu punya jawaban untuk pertanyaan itu untuk menunjukkan bahwa ia acuh-tak-acuh, misalnya: "Nanti, kalau Israel dan Palestina bisa hidup damai di dalam satu negara."

Namun, sebenarnya, ia tidak mau menggadaikan keutamaan berpikir dengan kehidupan rumah tangga yang, dalam kata-katanya sendiri, “prosaik.”

Jawaban alternatif lain dari Didi adalah sebaris kalimat yang dia (dan banyak orang lainnya) percaya berasal dari filsuf Yunani, Sokrates: “Apa pun yang terjadi menikahlah. Jika kamu menikahi perempuan yang baik maka hidupmu akan bahagia, tapi jika kamu menikahi perempuan brengsek, setidaknya kau akan jadi filsuf”.

“Dan saya,” sambungnya, “tak perlu pasangan brengsek untuk jadi filsuf.”

Petikan aslinya lebih metaforis. Teks Symposium hanya memacak kalimat “…penunggang kuda yang paling ahli, tak pernah memelihara kuda jinak.”).

Kutipan tersebut bisa berlaku buat laki maupun perempuan untuk menjalani kehidupan paripurna sebagai intelektual: orang-orang yang malang dalam kehidupan pribadinya lebih banyak berpikir—dan kehidupan berpasangan, dalam pelbagai bentuknya, seringkali memang jadi sumber masalah.

Kenyataannya, Sokrates memang menikah dan sebelumnya sudah menjadi filsuf. Xanthippe, istrinya, ia nikahi karena satu alasan: perempuan itu terkenal cerdas, bertemperamen tinggi, jago debat, sehingga kalau ia bisa bersilat lidah dengan Xanthippe, niscaya ia pun bisa adu bacot dengan seantero penduduk Athena.

Tapi, bisakah kemungkinan lain terjadi: menjadi pemikir, intelektual, atau filsuf tanpa perlu "pasangan brengsek" seperti dikatakan Didi?

Sejarah menjawab bisa, dengan nada optimis.

Khazanah intelektual Barat punya daftar panjang pemikir dan ilmuwan yang jadi bujangan seumur hidup: Leonardo da Vinci, Copernicus, Newton, Hume, Descartes, Leibniz, Voltaire, Spinoza, Pascal, Immanuel Kant, Nikolai Tesla, dan banyak lagi.

Sains, etika, pengetahuan modern—dari empirisisme, rasionalisme, hukum gravitasi, prinsip negara hukum, hingga listrik dan komputer—sebagian berasal dari buah pikiran orang-orang yang memilih jalan pedang untuk terus seorang diri sepanjang hayat. Baca selanjutnya

Naufal, pelajar kelas 2 MTsN Kota Langsa memperlihatkan temuannya berupa sumber energi listrik dari pohon kedondong di stan Teknologi Tepat Guna (TTG) Aceh bertempat di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, Jumat (9/10). (SERAMBI/ NURUL HAYATI)
AMP - Ramainya pemberitaan media tentang penemuan sumber listrik dari pohon kedondong oleh Naufal Raziq bocah asal Kota Langsa, Aceh, membuat seorang ilmuwan dari Jerman mengirim orang kepercayaannya mendatangi kediaman orangtua Naufal Raziq di Kota Langsa, Aceh.

Supriaman, ayah Naufal menceritakan, setelah temuan anaknya ramai diberitakan oleh media lokal dan nasional, pada saat itu ada orang Indonesia yang mengaku utusan dari ilmuwan di Jerman untuk menawarkan kerjasama dan beasiswa di Jerman.

"Mereka menawarkan beasiswa ke Jerman. Tapi saya bilang kerja sama saja dengan Pertamina EP karena yang membantu kami mereka," imbuhnya.

Selain itu ada lagi beberapa lembaga yang menawarkan kerjasama penemua anaknya tersebut," ujarnya saat ditemui Rabu (10/5/2017).

Dia menceritakan, selama melakukan penelitian dirinya kerap mengeluarkan uang untuk membiayai penelitiannya atau eksperimen anaknya. Meski berat, dirinya yakin anaknya bisa sukses.

"Saya pinjem bank sebesar 15 juta untuk biayai eksperimen anak saya," kata dia, bangga.

Supriaman menjelaskan, usahanya meminjam uang ternyata berhasil membuat Naufal juara di tingkat kecamatan, kabupaten dan provinsi.

"Dari sana kami diajak kerjasama dengan Pertamina EP. Sejak saat itu kami dibantu mereka. Maka kalau ada yang mau membantu kami ya harus lewat Pertamina EP," imbuh dia.

Supriaman juga mengucapkan terima kasih kepada Pertamina EP yang telah mendukung penemuan anaknya, termasuk dukungan beasiswa Naufal hingga kuliah.

"Pertamina EP juga telah membantu pengurusan hak paten pembangkit listrik menggunakan pohon kedondong dari Kementerian Hukum dan HAM," ujarnya.

Saat ini temuan Naufal sudah dipatenkan dengan judul inovasi pembangkit listrik menggunakan pohon kedondong.

Temuan itu diajukan pada 23 September 2016 lalu. Lalu Dirjen HAKI mengumumkan temuannya itu pada 27 Januari 2017 dengan nomor publikasi 2017/S/00085.(Serambinews)

Siswa SMP Nisam Antara
AMP - Kemarin secara serentak se-Indonesia telah diumumkan hasil UN SMA/SMK/MA. Pengumuman kelulusan UN menjadi info yang paling dinanti oleh seluruh pelajar setelah mereka sebulan yang lalu mengikuti UN.

Dalam menanggapi kelulusan UN setiap pelajar akan mengekpresikan kegembiraannya dengan berbagai cara. Salah satu cara yang paling sering dilakukan adalah aksi coret-coret baju. Disamping itu ada juga aksi konvoi dijalan dengan kawan-kawan yang lulus UN. Lebih parahnya bahkan ada sebagian pelajar yang merayakannya dengan mengadakan pesta malam antara siswa dan siswi.

Meskipun sudah ada larangan untuk tidak melakukan aksi yang tidak bermanfaat ini. Tapi tetap saja selepas pengumuman UN tindakan sperti ini masih sering kita lihat. Tidak terkecuali di Aceh.

Menurut amatan Tim Kajian Strategis KAMMI Aceh. Masih ditemukan kegiatan-kegiatan coret-coret baju selepas pengumuman UN di Aceh. Masih banyak pelajar Aceh yang melakukan tindakan tidak berguna ini. Bahkan hingga malam masih bisa kita temukan pelajar yang berkeliaran dengan membonceng cowok dan cewek di seputaran simpang Lima Banda Aceh.

Menanggapi hal ini Ketua Umum PW KAMMI Aceh Tuanku Muhammad sangat menyesalkan masih adanya pelajar Aceh yang melakukan coret-coret baju. Seharusnya baju yang mereka pakai bisa disumbangkan ke pihak-pihak yang membutuhkan. Masih banyak saudara-saudara kita yang butuh baju sekolah. “Pelajar sekarang seharusnya bisa lebih cerdas dan tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik, bukan semakin kebablasan,” kata Tuanku dalam rilisnya, Rabu (3/5).

Disamping itu Tuanku Muhammad juga mengajak seluruh elemen masyarakat bersatu dalam menghilangkan budaya ini. Orang tua dan Guru harus menjadi garda terdepan dalam mencegah hal ini.

“Seharusnya aksi para pelajar tidak akan terjadi jika kita semua bersatu dalam mengontrol mereka, bukan malahan kita lepas kontrol”. Tambah Tuanku

“Akhirnya kita mengharapkan agar pelajar Aceh kedepan tidak ada lagi yang melakukan aksi coret-coret baju, konvoi di jalan dan bahkan pesta malam. Seharusnya ketika kita mendapatkan pengumuman kelulusan, kita bersyukur dan berdoa kepada Allah. Perjalanan pendidikan kedepan masih panjang. Jadi, mari bersama-sama bersatu menghapus budaya ini di seluruh Aceh. Selamatkan Pelajar Aceh. Demikian kata Ketua Umum PW KAMMI Aceh. [Sumber: acehtrend.co]

AMP - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara telah memutuskan untuk menutup Akademi Kesehatan (Akkes) Aceh Utara dan menjadikannya Unit Pelayanan Teknik Daerah (UPTD) Dinas Kesehatan.

"Langkah ini diambil setelah pemkab melakukan musyawarah dengan Muspida Plus Aceh Utara terkait surat dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri)," kata Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib (Cek Mad) pada BERITAKINI.CO, Sabtu (15/4/2017). 

Dalam surat Mendagri, katanya, ada empat opsi yang diberikan oleh pemerintah pusat terkait penutupan Akkes Aceh Utara, pertama, mengubah akademi tersebut menjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Kesehatan. Kedua, bergabung dengan Kementerian Kesehatan RI, ketiga, bergabung dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Politeknik Negeri Lhokseumawe dan Universitas Malikussaleh) dan keempat menutup kampus tersebut.

"Dalam hal ini kita ambil opsi pertama, yaitu Akkes Aceh Utara kita jadikan UPTD Dinas Kesehatan. Kita ambil opsi tersebut karena setiap tahunnya kita membutuhkan tenaga medis," ujar Cek Mad.

Selain itu, Pemkab Aceh Utara juga akan membuat satu Balai Latihan Kerja (BLK) untuk tenaga medis. Di tahun ini tenaga medis seperti bidan PTT juga akan diangkat sebanyak 400-an, yang akan di tempatkan di gampong-gampong di Aceh Utara.(beritakini.co)

AMP - Mahasiswa Akademi Kesehatan (Akkes) Pemkab Aceh Utara menyesalkan keputusan pemerintah daerah setempat yang memilih menghentikan operasional kampus. Pengehentian ini lantara adanya surat keputusan Menristekdikti bahwa kampus milik pemda se-Indonesia tidak lagi ada izin operasional.

Mantan Ketua BEM Akkes Pemkab Aceh Utara, Ulul Azmi, mengatakan, berdasarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, pengelolaan pendidikan tinggi merupakan wewenang pemerintah pusat, bukan daerah.

"Sehingga Mendagri memberikan beberapa opsi. Pertama, mengubah akademi tersebut menjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Kesehatan. Kedua, bergabung dengan Kementerian Kesehatan RI. Ketiga, bergabung dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, dan terakhir, menutup kampus tersebut," katanya kepada GoAceh, Sabtu (9/4/2017) malam.

Ulul Azmi menyayangkan sikap Pemkab Aceh Utara yang terkesan egois, karena lebih memilih mengorbankan mahasiswa dan alumni dengan mengambil opsi pertama yaitu membentuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Kesehatan sehingga dalam waktu dua tahun kampus tersebut harus menyelesaikan seluruh proses belajar mengajar.

“Keputusan Pemkab yang memilih opsi pertama sungguh sangat disayangkan. Padahal dari empat opsi yang ditawarkan oleh Pemerintah Pusat. Masih ada opsi yang lebih baik untuk menyelamatkan kampus dan terus beroperasi. Opsi ketiga itu lebih baik dan membawa berkah untuk calon mahasiswa baru yang ingin menempuh pendidikan ilmu keperawatan dan kebidanan,” ujar Ulul azmi,

Tokoh akademisi keperawatan, Hajjul Kamil, menyebutkan terlalu banyak keputusan di negara ini terkait dengan harkat hidup orang banyak yang diputuskan berdasarkan kepentingan politik. Pejabat-pejabat hanya berpikir tentang kepentingan sesaat.

“Padahal bila ada niat akan ada kesepakatan antara Pemkab Aceh Utara dengan pimpinan PTN, maka merger dengan Unimal adalah hal yang sangat mungkin, dengan harapan Prodi D-III Keperawatan suatu saat nanti akan ditingkatkan menjadi S-1 Kep/Ners dan Prodi D-III Kebidanan menjadi Profesi Bidan," katanya.

Ia mengaku kasihan, karena Aceh Utara akan kehilangan daya saing lulusan untuk tenaga keperawatan dan kebidanan karena satu-satunya kampus 'plat merah'.

Mantan Sekretaris PPNI Aceh, Fahmi Ichwansyah, pun mengaku kecewa dan berharap agar keputusan yang telah diambil oleh Pemkab Aceh Utara agar bisa ditinjau ulang dan lebih memilih opsi ketiga.

“Sayang sekali ya, padahal bila digabung dengan Unimal pasti akan lebih bagus lagi karena akan menjadi aset Aceh Utara dan Aceh pada umumnya. Pendidikan ini bisa dikembangkan menjadi sarjana, magister hingga doktoral. Sangat sulit sekarang ini untuk membuka sebuah program studi baru karena harus melewati tahapan dan syarat yang panjang. Pendidikan di Akkes tidak bisa disamakan dengan kedokteran yang ada di Unimal, berbeda profesi dan keahlian,” ujarnya.[goaceh.co]

Ahmad Baedowi bersama Jaana Palojarvi (tengah) dan Jouni Kangasniemi
AMP - Sebanyak 30 guru asal Aceh, Jumat (7/4/2017) ini akan diwisuda setelah menuntaskan program master pendidikan di tiga universitas terkemuka di Finlandia. Prosesi wisuda akan digelar di Tampere University, sekitar satu perjalanan darat dari Helsinki, Ibu Kota Finlandia.

"Mereka mengikuti perkuliahan selama 18 bulan di Aceh dan sejumlah tempat di Finlandia. Komposisi pendidikan dan penelitian sengaja didesain berimbang tanpa mencabut akar guru dari tempat tugasnya," kata Direktur Akademik Yayasan Sukma Bangsa (YSB) Dr Ahmad Baedowi di sela jamuan makan malam dengan Rektor Finland University Pekka T. Saavalainen, pada Kamis 6 April 2017 malam waktu setempat atau Jumat dinihari pukul 03.00 WIB.

Acara tersebut juga dihadiri antara lain oleh Pendiri Yayasan Sukma Surya Paloh, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, Duta Besar RI untuk Finlandia Wiwiek Setyawati Frman, Ketua Yayasan Sukma Rerie Lestari Moerdijat, Penasihat Yayasan Sukma Prof Komarudin Hidayat, dan pakar pendidikan Prof Hafid Abbas.
Program "Master Degree for Teacher Education" ini, menurut Rerie, menelan biaya sekitar 1,1 juta Euro. Dana sebesar itu sepenuhnya ditanggung oleh Surya Paloh.

Sekadar mengingatkan, YSB yang berdiri pada 25 Februari 2005 menyelenggarakan jaringan lembaga pendidikan untuk anak-anak Aceh korban tsunami yang melanda Aceh dan Sumatra Utara pada akhir 2004. Selama 40 hari berturut-turut kelompok Media milik Surya Paloh menyiarkan berita bencana tersebut dan mengumpulkan donasi dan kontribusi dari publik lewat program "Indonesia Menangis".

Dana yang terkumpul selain untuk membantu langsung para korban juga untuk membentuk YSB. Salah satu tujuan utamanya adalah merehabilitasi bidang pendidikan. Akibat bencana tsunami Aceh kehilangan sampai 35 persen potensi intelektualnya. Sejumlah besar guru, pengajar perguruan tinggi, serta fasilitas-fasilitas pendidikannya telah menjadi korban tsunami.

"Tapi dana dari donasi waktuitu hanya cukup untuk tahun pertama. Selebihnya hingga hari ini Pak Surya (Paloh) yang menanggung dari kantong pribadinya," ujar Rerie.

Sebelum jamuan makan malam, Baedhowi melakukan pertemuan dengan Jaana Palojarvi, Director of Internasional Relation dan Jouni Kangasniemi, Head of Development dari Kementrian Pendidikan Dan Budaya Finlandia. Mereka antara lain membicarakan perkembangan kerjasama YSB dengan Finland University yang telah berjalan sejak Oktober 2015.

Kerjasama tersebut telah melaksanakan program peningkatan kapasitas guru di lingkungan Sekolah Sukma Bangsa Aceh sepanjang 2016 hingga awal 2017. "Kerjasama ini akan menjadi langkah awal perubahan di bidang pendidikan yang mengutamakan pengembangan kapasitas guru di sekolah dengan perspektif pendidikan Finlandia yang menekankan identitas profesional guru, otonomi serta kolaborasi di tingkat sekolah," papar Baedowi.[modusaceh.co]

Lambang PKI di dinding IAIN. Foto: Asrul
AMP - Lambang paru arit yang menjadi simbol Partai Komunis Indonesia terpampang di tembok bagian luar kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Zawiyah Cot Kala Langsa.

Coretan dinding itu bertuliskan Partai Komunis Islam Langsa-Aceh-N.A.D. Menurut seorang yang menemukan gambar tersebut, kemarin, tulisan itu terlihat jelas oleh para pelintas.

Orang tersebut langsung melaporkan coretan itu kepada pihak keamanan kampus. Pihak keamanan kampus langsung membersihkannya dengan menimpa lambang PKI itu dengan cat putih.

"Saat petugas datang, lambang itu sudah dicat putih," kata Kapolsek Langsa Iptu Soegiono.(AJNN)

October 22, 2016 ,
AMP - Akhirnya Dosen lulusan Jerman yang dimaksud oleh Nanda Feriana dalam surat terbukanya, Dwi Fitri,S. Sos, MA, pun menjawab hal ihwal kenapa kasus itu bisa berujung ke kantor polisi. Ia mengaku sakit hati dengan ulah mahasiswa berprestasi itu.

Perempuan yang menjabat Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi itu, kepada aceHTrend, Kamis (20/10/2016) mengatakan Nanda dilaporkan karena melakukan pencemaran nama baiknya di jejaring sosial yang, menyatakan dirinya orang tidak bermoral, biadap dan dan sebagainya, tulisannya tersebut sangat mencoreng harga dirinya.

Menurut Dwi, sebutan dosen lulusan Jerman tersebut jelas-jelas ditujukan untuknya, karena di Unimal hanya ada dua dosen lulusan Jerman, yang satunya laki-laki dan satunya lagi adalah dirinya.

“Karena tulisan tersebut, Nanda telah mencemarkan nama baik seorang dosen lewat Medsos, dan untuk menyelesaikan kasus tersebut sebelum di laporkan ke polisi Nanda tak kooperatif dan mengklaim saya salah dalam pelayanan administrasi di Jurusan, padahal pada waktu itu (sebelum Nanda yudisium) dirinya menunggu kelengkapan administrasi dan persyaratan agar Nanda bisa mengikuti Yudisium, tapi dua hari menjelang yudisium Nanda tak juga datang ke kampus, karena tidak lengkap persyaratan maka Nanda dinyatakan belum boleh yudisium atau ditunda ke tahap selanjutnya dan yang menentukan bisa atau tidaknya yudisium adalah jurusan,” ujarnya.

Dwi Fitri juga mengatakan, saat itu dirinya dua hari menunggu agar Nanda Feriana melengkapi persyaratan untuk bisa ikut yudisium, tapi nyatanya dia malah tidak datang, dan tahunya sudah menulis yang tidak-tidak untuk dirinya di Medsos.

Setelah melihat tulisan tersebut, Dwi meminta penjelasan kepada Nanda. Namun Nanda tidak mau bertemu.

“Pasca tulisan itu, saya minta Nanda bertemu saya. Tapi malah tidak datang-datang. Satu hari saya menunggu. Kemudian fakultas melakukan mediasi. Saat itu saya minta ia meminta maaf di surat kabar. Namun ia menolak. Kemudian Dwi pun melaporkan ke polisi.

Masalah Pribadi
Menurut Dwi, apa yang menimpa dirinya dan Nanda tidak ada kaitannya dengan Unimal. Karena saat ini status Nanda adalah sarjana. Ia pun melaporkan ke Polres Lhokseumawe atas perilaku pribadi Nanda yang menulis di facebook untuk dirinya pribadi selaku lulusan Jerman.

“Saya tidak terima, dan juga saya di-bully habis-habisan di medsos, Pernah dia pikir kesitu? Bahkan dia datang ke rumah saya dengan ibunya dan kakeknya setelah kasusnya diproses hukum, saya sudah terlalu sakit ini dan tidak bisa lagi mencabut laporan saya,” ujarnya.

Dwi memaparkan, dua hari lalu Nanda mengirimkan surat dengan kalimat pujian dan sepucuk bunga mawar. Begitupun, Dwi mengaku tetap sulit untuk memaafkannya.

Pada Rabu (19/10/2016) mereka jumpa di Polres, kala itu Nanda malah melihatnya dengan ekor mata. Padahal menurutnya Nanda adalah anak didiknya dan Dwi juga menyebutkan jika dirinya telah gagal dalam mendidik dan mengungkap rasa sedih.

“Ada ribuan mahasiswa saya, tetapi cuma dia (Nanda) yang keterlaluan. Kecuali saya tidak mau jumpa dan bicara, kamu bisa kroscek saya di prodi (program studi). Saya dosen yang selalu siap ditemui mahasiswa,” jelasnya lagi.

Nanda Feriana Membantah
Menanggapi pernyataan Dwi Fitri, Nanda Feriana pun memberikan klarifikasi.

“Saya menulis disitu: Anda seharusnya berperadaban, bukan primitif”. Saya tidak menulis kalimat transitif berupa Anda primitif atau Anda tidak beradab. Ini baru bermakna langsung. Dan cerita saya di status menggunakan kalimat-kalimat satire (bermakna konotatif). Di negara demokrasi, kalimat satire wajar dan bahkan sering digunakan untuk memperhalus sebuah kritikan. Itu salah satu cara menyampaikan gagasan.Dan tidak ada penyebutan nama, ciri-ciri fisik, maupun foto. Saya paham rambu rambu dalam mengeluarkan argumen. Jadi,saya tidak tuliskan itu. ” Ibu Lulusan Jerman” ini secara tersurat sangat anonim. Orang akan menghayal dulu untuk membayangkan ini siapa. Jadi, bagaimana mungkin itu disebut mencemarkan nama sedangkan nama saja saya tak sebut?,”ujarnya.

Ia juga mengatakan, soal berita kedua, pada salah satu media Dwi menyebutkan
“Bahkan ketika saya merangkul dengan sikap lunak saya, dia menepis”. Kalimat ini samasekali tidak benar.

“Kapan kami berangkulan dan kapan saya menepis itu? Tolong buktikan waktu dan tempatnya atau dokumentasinya. Bahkan jangankan utk berangkulan, saya minta maaf saja beliau tidak mau. Dalam mediasi di fakultas, saya bangun menyalami beliau utk meminta maaf, tapi beliau tidak mau dan langsung berlalu meninggalkan ruangan. Banyak saksi yg melihat beliau tinggalkan ruangan saat rapat mediasi berlangsung. Sehingga karena sikap itu, proses mediasi jadi buntu. Sejak kejadian itu pula, tidak benar beliau mengatakan bahwa “saya ajak berjumpa dan memberikan waktu satu pekan, tapi Nanda tidak mau dan alasanya berubah ubah”. Selama satu pekan itu beliau bahkan menutup komunikasi dengan saya, dan terus menghubungi Kajur saya untuk mengingatkan agar saya segera meminta maaf di media cetak (Koran Serambi) dengan ancaman kalau saya tidak bersedia, akan dibawa ke ranah hukum,” terangnya.

Nanda selanjutnya mengatakan “Saya menolak meminta maaf di media serambi Indonesia karena pertimbangan biaya yang mahal, dan justru bertujuan menjaga reputasi beliau, reputasi intitusi, dan juga saya secara pribadi. Karena alasan nya, beliau suruh sebut nama secara terang, bagaimana mungkin? Di status saya di FB saya tak sebut nama beliau (supaya nama itu tetap terjaga), lantas mengapa harus menyebutnya di permintaan maaf ? Di media cetak pula. Itu bagi saya justru akan menyerang reputasi dia secara personal dan juga institusi. Saya tidak menerima ada pengerucutan hanya “2 hari” minta maaf di media cetak, beliau menuntut 4 hari. Soal ukuran beliau tentukan 4-5 kolom layaknya ucapan selamat dan sebut namanya (saya masih memiliki bukti tertulisnya).

Soal pertemuan di Polres, Saya bahkan tidak dipertemukan dalam satu ruangan oleh penyidik. Bagaimana mungkin saya melihat beliau dengan “ekor mata”.

Soal yudisium, berkas yang tidak selesai adalah transkrip dan berita acara sidang. Dua berkas yang tidak lengkap itu bukan tidak selesai karena faktor di diri saya, melainkan karena tidak diselesaikannya oleh staff prodi.

Secara aturan, berita acara sidang itu langsung siap ketika mahasiswa selesai sidang di hari itu juga. Namun berita acara saya malah tidak siap”. Jadi itu bukan salah saya yang tidak lengkap, namun petugasnya yang lamban,”terangnya.

Janggalnya, menurut Nanda kalau Sri menyorot dirinya seorang soal berkas ini, mengapa teman yg bersamaan sekalian sidang dengan Nanda bisa ikut yudisium juga? Ada salah satu dari mereka yang bahkan berkasnya juga tidak lengkap (transkrip) di H-1 sebelum yudisium. Tapi bisa ikut yudisium.

“Tuduhan saya “dispesialkan” oleh fakultas adalah tidak benar. Fakultas sendiri mengakuinya. Kinerja staff prodi berinisial F itu memang sangat lamban, soal ini bisa ditanyakan kepada mahasiswa ilmu komunikasi itu sendiri. Tidak ada permintaan dispesialkan oleh yang bersangkutan. Saya mengkritisinya hanya ingin dia bercermin bahwa pelayanannya tidak ramah. Bagi saya, itu adalah penjelasan yang tidak fair. Ini hak jawab saya selaku yang diberitakan,” Pungkasnya.[Sumber: acehtrend.co]

October 20, 2016 ,
Nanda Feriana, mahasiswi lmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh harus berurusan dengan polisi. Penyebabnya curhatan di media sosial berjudul " "Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman".
AMP - Nanda Feriana, mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh, (Unimal) Aceh, terancam masuk penjara setelah menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Polres Lhokseumawe, Aceh.

Sebelumnya, pada 6 Oktober 2016, Nanda dilaporkan melakukan pencemaran nama baik dan Undang-undang Informasi Transaksi Eletronik (UU ITE) oleh, Sekretaris Prodil Ilmu Komunikasi Unimal, Dwi sekaligus dosennya sendiri ke Polres Lhokseumawe.

Surat terbuka berjudul “Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman” yang ditulis Nanda pada dinding (wall) akun Facebooknya 27 September 2016 dianggap mencemarkan nama baik.

Meskipun, ia tidak menuliskan identitas dosen secara mendetail.

Pada surat terbuka itu, Nanda menyampaikan rasa kecewa karena gagal mengikuti yudisium (penentuan nilai lulus suatu ujian sarjana lengkap di perguruan tinggi) di kampus negeri terbesar kedua di Aceh itu.

Bahkan, ia mengucapkan terima kasih kepada dosen lulusan Jerman yang dianggapnya telah mengagalkannya yudisium.

“Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih telah menggagalkan satu usaha besar untuk membahagiakan orangtua saya. Anda karena berasal dari keluarga orang kaya, tidak pernah merasakan kemiskinan , tidak paham sulitnya kuliah, Itu sebabnya Anda dan teman Anda melakukan ini,” demikian penggalan status di wall akun Facebook Nanda.

Nanda menyampaikan, sebelum dilaporkan ke polisi, telah berulangkali mediasi agar dosen lulusan Jerman tersebut memaafkannya.

Namun, mediasi yang digelar Fakultas Fisip Unimal gagal.

“Saya sudah dimediasi dan akhirnya Ibu dosen  menuntut saya harus minta maaf di koran Serambi Indonesia empat hari berturut-turut. Nanda tidak sanggup kalau harus iklan empat hari koran,” katanya saat dihubungi, www.tribun-medan.com, Kamis (20/10/2016).

Ia menceritakan, telah menjalani pemeriksaan di Polres Lhokseumawe, pada Rabu (19/10/2016).

Pemeriksaan berlangsung dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB, ada 27 pertanyaan dilayangkan penyidik.

“Kemungkinan dalam waktu dekat ini, status saya naik jadi tersangka. Padahal, saya   sudah menempuh jalur damai dan saya minta maaf karena ada pihak-pihak yang anggap saya tidak sopan dengan dosen sendiri. Saya minta maaf,” ujarnya.

Dia mengatakan, telah membawa Ibundanya ke rumah dosen tersebut untuk meminta maaf secara langsung.

Namun, Dwi, dosen Unimal lulusan Jerman itu, tak membuka pintu rumah.

“Saya kirim surat hingga empat halaman dan saya minta maaf dan memberikan setangkai mawar. Namun, surat itu dibakar dan di-posting ke media sosial. Sebenarnya bukan masalah personal saya dengan Ibu dosen, tapi persoalan akademik yang bawa ke hukum,” katanya.

“Sebenarnya dekan telah mediasi untuk pertama kali. Dalam mediasi itu, Ibu dosen minta permohonan maaf seperti ucapan selamat selama empat hari berturut-turut. Padahal di status itu, tidak ada saya sebutkan nama dan ciri-ciri fisik dan penyebutan nama Fakultas Fisip dan Ilmu Komunikasi,” tambahnya.

(tio/tribun-medan.com)

AMP - Sebanyak 215 mahasiswa Indonesia di Turki masih menanti kelanjutan studi mereka pasca-kudeta militer yang gagal pada 15 Juli 2016 silam. Nasib mereka, khususnya kelanjutan kuliah mereka, hingga kini masih terkatung-katung diantaranya 57 orang mahasiswa asal Aceh.

Dilansir laman harianjogja, Sabtu (10/9/2016), Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Turki Wardhana mengatakan 215 mahasiswa dari total 248 penerima beasiswa PASIAD tersebut saat ini masih belum dapat melanjutkan studinya. Pasalnya, yayasan pemberi beasiswa itu dianggap berafiliasi dengan Fethullah Gulen yang dituding menjadi dalang kudeta.

“Padahal 97 diantaranya sudah masuk semester tujuh yang artinya pertengahan tahun depan sudah lulus mestinya, ujarnya di hadapan rombongan sejumlah wartawan dari Tanah Air yang diundang oleh Turkish Airlines, Jumat (9/9/2016).

Wardhana menjelaskan pihaknya sejauh ini terus mengupayakan nasib ratusan mahasiswa tersebut. Sejauh ini, katanya, KBRI telah menjajaki berbagai alternatif solusi dengan pemerintah pusat maupun daerah. Melalui pemda misalnya, sudah ada solusi yang bisa dijadikan alternatif rujukan untuk memberikan beasiswa pemda.

Pemerintah daerah itu di antaranya Aceh (57 mahasiswa), Jawa Tengah (23 mahasiswa), dan Kalimantan Timur (35 mahasiswa).

Sejak kudeta gagal pada 15 Juli, nasib 248 mahasiswa penerima beasiswa Pasiad memang terancam karena terpaksa harus berpindah pondokan. Sebagian di antaranya, sekitar 43 pelajar, ditampung di Wisma Duta milik KBRI di Ankara sejak 18 Juli.

Jumlah mahasiswa Indonesia di Turki tercatat total 738 mahasiswa, baik yang mendapat beasiswa dari Pemerintah Turki, Pasiad maupun biaya sendiri. Sejauh ini, pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan masih terus melakukan pembersihan seiring dengan penerapan status darurat selama 90 hari sejak 18 Juli. [Red/acehterkini.com]

AMP - Peristiwa yang dialami Sinta, 20 dan Daniar, 19, tak akan pernah dilupakan. Dua mahasiswi perguruan tinggi swasta di Surabaya, Jawa Timur itu baru saja tergoda rayuan temannya.

Saat hendak melayani pelanggan pertamanya, ia langsung digerebek.

"Saya baru kali ini dapat order setelah saya sepakat. Saya kaget setelah karena digerebek, saya menyesal," kata Sinta seperti yang dilansir Radar Surabaya (Jawa Pos Group).

Sinta dan Daniar dibekuk Unit Pelindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya pada Kamis (25/8) malam di Hotel Neo di Jalan Jawa, Surabaya.

Ia diduga masuk dalam jaringan prostitusi. Selain Sinta dan Daniar, polisi juga membekuk Nofiarini, 28, yang diduga sebagai muncikari.

Sinta menjelaskan, dirinya tidak berniat ingin menjadi ayam kampus. Tapi karena kiriman uang kuliah telat datang, tawaran dari Nofiarini pun diterimanya.

Dia juga mengaku jika tidak langsung menerima tawaran Nofiarini untuk melayani pria hidung belang. Dia berpikir dulu sebelum menerima tawaran itu.

"Saya semester lima di sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) di Surabaya. Saya  mengenal Nofiarini lantaran teman kos saya," katanya.

Kasubag Humas Polrestabes Surabaya Komisaris Polisi (Kompol) Lily Djafar mengatakan, pengungkapan kasus prostitusi ini berawal dari informasi dijalankan melalui media sosial (medsos).

"Setelah itu, kami melakukan penyelidikan hingga akhirnya mengetahui modus jaringan ini," katanya.

Lily menjelaskan dalam menjalankan aksinya, Nofiarini biasa mencari lelaki hidung belang melalui media facebook dan BBM.

Dia biasa menawarkan pelanggan dengan cara mengirimkan foto. Tergantung pelanggan mau memilih yang mana. Setelah pelanggan sepakat, obrolan dilanjutkan dengan BBM.

"Jadi di facebook hanya pengenalan saja, setelah itu proses tawar menawar dan booking dilanjutkan lewat obrolan BBM," lanjut Lily.

Dia mengatakan untuk sekali kencan, Nofiarini biasa mematok harga Rp 1,3 juta untuk satu anak buahnya. Tarif ini belum termasuk harga sewa kamar hotel. (jpg)

AMP - Dewasa ini bagaimana politik sudah merajalela dalam keseharian aktifitas manusia, bagaimana politik sudah di interperestasikan dengan berbagai ideologi-ideologi baru. Kekuasaan dan kekuasaan yang menjadi inti dalam politik itu sendiri sudah menjadi berlian yang sangat berharga untuk diburu sehingga dengan cara apapun sehingga kekuasaan itu dapat di dapatkan.
 
Tulisan ini berisikan tentang bagaimana realitas kekinian tentang banyak dan maraknya praktek-praktek politik dalam dunia pendidikan. Seperti kita ketahui bersama bahwa pendidikan dan politik dalam konsep keidealannya tak bisa begitu saja di satukan, banyak aspek yang membuat semua itu berlaku, yang mana guru tidak bisa ikut serta dalam politik dan bagaimana pegawai dinas yang terikat dalam birokrat pendidikan dilarang mengambil andil dalam segala macam praktek politik lainnya. 

Politik dalam pendidikan memang bisa dikatakan sangat sulit untuk di dapatkan titik ke idealannya, selain dikarenakan bagaimana tokoh-tokoh pendidikan yang memang aktif dan seakan tidak tahu menahu bahwa mereka sedang berada di jalur yang salah dan juga pada dasarnya politik dalam artian kekuasaan ini sudah merenggut konsep prinsip dan ideologi orang-orang tentang bagaimana tetap akan adanya permainan politik kekuasaan di dalamnya. Dan satu hal lagi tentang masih adanya kesimpangsiuran yang mana dikatakan politik dan bukan politik dalam pendidikan, walaupun hanya dalam skala paling kecil saja. 

Banyak tokoh pendidikan yang bergelut dalam system birokrat pendidikan itu sendiri yang menjadi tumbal ataupun korban dalam pertarungan antara politik dan pendidikan bagaimana dia menjadi kambing hitam oleh orang-orang yang ingin berkuasa dan bagian dari mereka yang tak mengenal system kekerabatan lagi, tidak mengenal nilai-nilai kearifan local tentang system kekeluargaan akan tetapi lebil mengutamakan tentang adanya kelas-kelas social ataupun startifikasi social bagaimana seperti dikatakan bapak politik dunia yaitu Machevelli bahwa tidak ada teman sejati yang ada hanya kepentingan sejati.

Konsep pendidikan sebenarnya ada tentang pembelajaran politik. Dan baiknya begitu. Akan tetapi sebenarnya dalam hakikatnya bagaimana orang-orang dalam instansi pendidikan juga baiknya diberikan pendidikan politik tentang batasan-batasan tentang sepatutnya dan seharusnya porsi-porsi politik yang boleh dan tidak boleh dilakukan sehingga politik praktis dan lain sebagainya tidak lagi menjadi momok tersendiri oleh mereka yang ada dibidang pendidikan, begitualah para elit polotik Aceh yang sekarang mencari strategi untuk menjadi orang nomor satu di Aceh. 

Seperti clon Kandidat dari Partai Aceh yang sekarang gencar mempromosi dirinya melalui tim-tim yang di bentuk dengan menjejaki instasi pendidikan, tetapi kenapa harus sekolah, itulah pencitraan yang akan di publikasi di klangan masyarakat dan juga peluang dari anaknya untuk meminta ibunya agar memilih sipulan,, bersambung....(Red)

amiruddin bersama kakaknya, sumber foto:goaceh
AMP - Setelah tamat sekolah di SD Negeri 17 Tanah Jambo Aye, Gampong Buket Jrat Manyang, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara pada tahun 2015 lalu, Amiruddin, (12) terpaksa mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP. Itu terjadi karena faktor ekonomi keluarganya yang tidak mencukupi.

Sore itu, sekitar pukul 16.00 WIB, Sabtu (30/7/2016), cuaca agak sedikit mendung di kawasan Kecamatan Tanah Jambo Aye. Namun, wartawan tetap berusaha menempuh jarak belasan kilometer untuk menemui rumah Amiruddin.

Sekitar pukul 17.00 WIB, wartawan  tiba di lokasi yang dimaksud. Keluarga Amiruddin menyambut baik kedatangan wartawan. Setelah sedikit berbasa-basi, kemudian dipersilahkan untuk memasuki ruang rumah yang sudah di persiapkan dengan alas tikar seadanya.

Kala itu, Ibu kandung Amiruddin yakni Tihasanah, (52), kepada wartawan menceritakan keluh kesah hidupnya. Dikatakan dia, jangankan untuk membiayai sekolah anaknya untuk mendapat sesuap nasi sehari saja tidak mudah. Namun, karena kebutuhan yang sangat mendesak, saban hari ia terpaksa harus bekerja keras membantu mengangkut papan kayu di tempat orang.

"Untuk saat ini saya yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Kalau hari-hari saya kadang ke hutan bantu-bantu orang angkat papan kayu, kadang-kadang pilih berondolan (buah sawit) di kebun orang," kata Tihasanah saat ditemui wartawan di kediamannya di Dusun Buket Bayah, Gampong Buket Jrat Manyang, Sabtu (30/7/2016).

Bola mata Tihasanah terlihat berkaca-kaca saat mengisahkan tentang kehidupannya. Ibu yang akrab disapa Kak Nah ini dikaruniai lima orang anak. Selain Amiruddin, (12), yakni Intan, (9), M. Sufi, (25), Maryama, (16) dan Zulfikar, (27).

Intan adalah anak yang paling kecil dalam keluarga. Ia saat ini masih duduk di bangku kelas 6 di SD Negeri yang sama. Sementara abangnya M. Sufi dan Zulfikar juga menganggur setelah tamat SMP. Keduanya ikut bekerja keras sebagai buruh di kebun karet desa setempat.

"Suami saya, Zainal Abidin, (57), sedang sakit lumpuh sudah lama. Mau tak mau ya saya harus bertanggung jawab untuk kebutuhan keluarga," imbuhnya lagi.

Dikatakan Tihasanah, jarak tempuh dari rumahnya ke sekolah SD Negeri 17 itu mencapai 4 kilometer. "Si adek Intan ini kadang jam 8 baru sampai di sekolah karena dari sini jalan kaki tiap hari nggak ada sepeda," kata dia sambil membelai rambut anaknya.

Kala itu, Amiruddin yang juga ikut mendampingi ibunya kepada wartawan mengatakan, minatnya untuk melanjutkan pendidikan di tingkat SMP sangat besar. Namun, dirinya mengaku tidak mungkin bisa bersekolah lagi.

"Hana itangen, pane eik tajak ikula koep ji oeh bak SMP. Tapi ilong hawa jal ikula lagei goeb (Enggak ada sepeda, mana sanggup jalan cukup jauh ke SMP. Tapi saya ingin sekolah lagi seperti orang lain)," kata Amiruddin sambil bersembunyi dibelakang ibunya.

Menurut penuturan ibunya, jarak tempuh dari tempat kediaman ke sekolah SMP yang ada di kecamatan itu mencapai belasan kilometer.

Pada Jumat (29/7/2016) kemarin, keluarga kurang mampu ini didatangi tamu dari Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Kecamatan Tanah Jambo Aye. Ibu Tihasanah bersama anak-anaknya menyambut baik kedatangan tim IPSM itu.

Tujuan tim tersebut tak lain, adalah untuk memberikan bantuan. Tihasanah yang awalnya sempat terkejut melihat tamu yang datang menggunakan mobil, tiba-tiba tersenyum saat diberikan bantuan berupa sepeda dan peralatan sekolah untuk anak-anaknya.

"Kemarin itu saya sangat berterimakasih kepada IPSM yang telah membantu sepeda dan peralatan sekolah untuk anak saya. Ini sangat membantu kami," tuturnya sambil meneteskan air mata.

Sementara itu, ketua IPSM Tanah Jambo Aye, Akmal Daud saat dihubungi wartawan mengatakan, bantuan itu diserahkan karena pihaknya merasa prihatin dengan kondisi keluarga Tihasanah.

"Kita prihatin sekali keluarga ibu (Tihasanah) itu. Apalagi ada anaknya yang putus sekolah. Jadi kedatangannya kami waktu itu disambut baik dan kami memberikan sedikit bantuan berupa sepeda dan peralatan sekolah," sebut Akmal, Sabtu (30/8/2016).

Diatakan, adapun bantuan yang diberikan pihaknya merupakan hasil donasi dari teman-teman di Facebook. "Itu hasil donasi teman-teman hamba Allah di Facebook. Semoga dapat bermanfaat bagi keluarga Tihasanah," ujar dia.

Akmal menambahkan, sebagai rasa peduli terhadap masyarakat miskin, pihaknya juga akan berusaha menanggung semua biaya sekolah Amiruddin untuk melanjutkan pendidikan di tingkat SMP atau sekolah sederajat.

"Disamping itu, kita juga berharap agar pihak sekolah nantinya dapat memperhatikan kekurangannya. Karena di sekolah kan ada dana BOS. Jadi kita harap pihak sekolah dapat menyisihkan sedikit dana untuk kebutuhan Amiruddin," harapnya.

Berdasarkan amatan wartawan, kondisi tempat tinggal keluarga Tihasanah memang sangat memperihatinkan. Rumah berdinding kayu lapuk dengan atap daun rumbia itu menjadi satu-satunya tempat istimewa bagi mereka.

sumber: goaceh.co

Sekretaris Kabinet Pramono Anung.
AMP - Sekretaris Kabinet Pramono Anung menegaskan, Indonesia tidak akan memenuhi permintaan Pemerintah Turki agar menutup sejumlah sekolah di Tanah Air.

Turki meminta sejumlah sekolah tersebut ditutup karena terindikasi dengan organisasi ulama Fethullah Gulen, tokoh yang dituding berada di balik kudeta atas pemerintahan Presiden Turki Recep Tayip Erdogan beberapa waktu lalu.

"Tentunya kita tidak mau urusan dalam negeri kita dicampuri oleh siapa pun," kata Pramono di Kantor Setkab, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (29/7/2016).

Pramono Anung menegaskan, Indonesia adalah negara yang demokratis, negara yang menjunjung tinggi atau mengedepankan politik bebas-aktif.

Jika memang sekolah yang dilarang oleh Pemerintah Turki tersebut tak melanggar hukum apapun yang ada di Indonesia, maka pemerintah tak akan menutupnya.

"Urusan dalam negeri Indonesia menjadi tanggung jawab Indonesia, termasuk yang secara resmi diatur dalam undang-undang telah mendapatkan persetujuan oleh pemerintah di Indonesia, tentunya peraturan perundangan Indonesia lah yang digunakan," ujar Pramono.

"Karena kedaulatan itu menjadi penting bagi Indonesia," tuturnya.

Kedutaan Besar Turki telah mengeluarkan rilis yang meminta Pemerintah RI melakukan penutupan sekolah-sekolah terkait dengan jaringan Organisasi Teroris Fethullah (FETO).

FETO merupakan sebutan Pemerintah Turki untuk para pengikut Fethullah Gulen, seorang ulama yang dituding Presiden Recep Tayyip Erdogan sebagai dalang aksi percobaan kudeta militer yang terjadi di Turki, beberapa waktu lalu.

Dalam rilis tersebut ada sembilan sekolah yang diduga terkait dengan jaringan Gulen. Di antaranya Pribadi Bilingual Boarding School, Depok, Pribadi Bilingual Boarding School, Bandung, Kharisma Bangsa Bilingual School, Tangerang Selatan.

Selain itu, Semesta Bangsa Bilingual Boarding School, Semarang, Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School, Yogyakarta, Sragen Bilingual Boarding School, Sragen, Fatih Boy's Shool, Aceh, Fatih Girl's School, Aceh, Banua Bilingual Boarding School, Kalimantan Selatan.(kompas.com)

Gulen

AMP - Kedutaan Besar Turki di Indonesia mengeluarkan rilis media terkait sekolah-sekolah yang dianggap berkaitan dengan organisasi ulama Fethullah Gulen. Mereka berharap dilakukan penutupan sama seperti yang sudah dilakukan negara lain.

Dalam siaran pers yang diterbitkan Rabu (28/7/2016), Kedutaan Turki menyebut situasi di Turki setelah upaya kudeta semakin membaik. Namun saat ini sedang diberlakukan situasi darurat dari tanggal 21 Juli lalu. Kondisi ini diklaim tak akan mengganggu hak-hak mendasar dan kebebasan warga. Sebaliknya, pemerintah Turki melakukan sejumlah upaya untuk melindungi hak dan kebebasan warga.

Selain itu, pemerintah Turki saat ini sedang melakukan upaya-upaya yang perlu untuk menghukum sebagian orang yang terlibat kudeta. Mereka kembali menuding Fethullah Gulen sebagai aktor intelektual kudeta tersebut. Gulen yang berada di Amerika Serikat sudah membantahnya.

Nah, pemerintah Turki juga menyoroti pengaruh Gulen di sejumlah negara, termasuk di Indonesia. Salah satu yang dipersoalkan adalah sekolah-sekolah yang dipayungi oleh PASİAD.

Kedutaan juga merilis nama-nama sekolah tersebut sebagai berikut:

1) Pribadi Bilingual Boarding School, Depok
2) Pribadi Bilingual Boarding School, Bandung
3) Kharisma Bangsa Bilingual Boarding School, Tangerang Selatan
4) Semesta Bilingual Boarding School, Semarang
5) Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School, Jogjakarta
6) Sragen Bilingual Boarding School, Sragen
7) Fatih Boy's School, Aceh
8) Fatih Girl's School, Aceh
9) Banua Bilingual Boarding School, Kalimantan Selatan

Selain itu, pemerintah Turki juga mengklaim mendapat informasi dari Menteri Agama di Indonesia, terkait aktivitas gulen di Universitas Islam Negeri (UIN) di Ciputat, Jaksel, dan meminta kegiatannya ditutup.

Kedutaan Turki kemudian menyebut, negara-negara lain sudah menutup aktivitas yang berhubungan dengan Fethullah Gulen Terrorist Organisation (FETO). Contohnya, Yordania, Azerbaijan, Somalia dan Niger. Kedutaan Turki berharap Indonesia melakukan hal yang sama.

"Sebagai partner strategis, kami berharap dan mengandalkan dukungan dari Indonesia dalam perang melawan FETO sebagai organisasi teroris," demikian lanjut pernyataan tersebut.

Pemerintah Turki memang gencar membersihkan segala sesuatu yang berkaitan Gulen. Guardian melaporkan, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan keputusan untuk menutup 1.043 sekolah, 1.229 yayasan, 35 institusi medis, 19 perkumpulan dan 15 universitas. Aset-aset mereka dibekukan.

Belum ada tanggapan dari pemerintah Indonesia termasuk Menag Lukman Hakim Saifuddin terkait hal ini. Pihak yayasan dari sekolah-sekolah tersebut juga belum memberikan tanggapan. detikcom masih berusaha mendapatkan konfirmasi.(detik.com)

AMP - Mari menepi sejenak untuk menyimak taujih Rabbani dari salah satu imamnya kaum sufi, Syaikh Abdul Qadir al-Jilany. Taujih ini disampaikan pada hari Jum’at pagi tanggal 13 Rajab 546 Hijriyah di madrasahnya.

“Setiap orang yang Islamnya bagus dan nyata, senantiasa mengerjakan hal-hal yang berguna dan meninggalkan hal-hal yang tidak perlu.”

Beliau mengatakan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Diantara tanda-tanda kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak perlu.”
Perhatikanlah, wahai para penempuh jalan menuju Allah Ta’ala. Bagaimana aktivitasmu sehari-hari? Apakah kesibukanmu dalam rangka berbibadah kepada Allah Ta’ala atau terjerumus dalam sia-sia yang melalaikan dari amalan ketaatan?

“Sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna adalah aktivitas mereka yang terjerambab dalam kebatilan, yang terhalang dari ridha Tuhannya.”

Hal-hal yang tidak berguna amat banyak ragamnya. Tapi sebagian kita bersikap acuh hingga tidak menghiraukannya sedikit pun. Banyak di antara hal yang tidak berguna itu yang bersifat mubah, dibolehkan. Namun lantaran dilakukan secara berlebihan menjadi tidak baik karena waktu yang diberikan untuk seorang hamba tidak mengasilkan kebaikan atau pahala.

“Siapa yang tidak mengamalkan apa yang diperintahkan-Nya lalu sibuk dengan hal-hal yang tidak diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, berarti ia nyata-nyata terhalang, nyata-nyata mati, dan terlempar.”

Sebagai kiat efektif agar tidak terjerumus dalam perbuatan sia-sia adalah menyibukkan diri dengan amalan-amalan shalih yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Sibuk dalam melakukan ibadah wajib dan sunnah di sepanjang waktu hingga tiada sedikit pun ruang bagi setan untuk menggoda.

Lakukan ketaatan di jalan-Nya dengan tulus, berharap ridha dari Allah Ta’ala. Itulah kekayaan dan kemenangan sejati yang menyelamatkan seorang hamba dari sengsara dan siksa di dunia hingga akhirat.

Sang imam para sufi ini juga memberi kiat, “Sucikan jasadmu dengan sunnah, lalu sucikan hatimu dengan al-Qur’an al-Karim. Jagalah hatimu hingga jasadmu terjaga.”

Sunnah Nabi bukan sekadar ritual. Ianya juga berisi banyak amalan yang besar dan agung manfaatnya bagi kemaslahatan hidup umat manusia; agar mereka masuk dalam Islam yang mulia dan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Rujukan: Majalah Cahaya Sufi edisi 95 tahun 2016 halaman 8-9

Sumber: http://kisahikmah.com

AMP - Seorang siswa di India dijatuhi hukuman penjara dua minggu karena terbukti menyontek setelah gagal dalam ujian ulangan.

Ruby Rai menduduki peringkat pertama dalam ujian akhir sekolah menengah di negara bagian Bihar namun dalam sebuah rekaman wawancara dia mengatakan bahwa ilmu politik adalah tentang masak memasak.

Setelah video tersebut beredar meluas di internet, remaja perempuan berusia 17 tahun itu -bersama beberapa murid lain yang nilainya bagus- diharuskan untuk mengikuti ujian ulangan dan ditangkap setelah hasilnya tidak cukup untuk bisa lulus.

Sementara hasil ujian awalnya -dengan nilai terbaik di negara bagian tersebut- dibatalkan.

Rai dibawa ke pengadilan Minggu (26/06) dan hakim mengirimnya ke penjara hingga tanggal 8 Juli mendatang.

Keputusan untuk menghukum Rai ke penjara dikritik berbagai pihak karena dia masih tergolong di bawah umur dan seharusnya dikirim ke rumah tahanan khusus untuk anak.

Namun seorang perwira polisi, Manu Maharaj, mengatakan kepada surat kabar The Hindu, bahwa Rai harus membuktikan dirinya sebagai 'anak di bawah umur'.

Surat penangkapan juga sudah dikeluarkan untuk beberapa siswa lain -yang mendapat nilai baik dalam ujuan awal- termasuk Saurabh Shrestha yang mendapat nilai tertinggi untuk Sains namun belakangan tidak tahu kalau H20 adalah air.

Tahun lalu, negara Bihar menjadi perhatian di seluruh dunia karena para orang tua dari siswa yang sedang ujian sampai memanjat dinding sekolah dengan tangga untuk memberikan jawaban atas soal ujian.

Pemerintah negara bagian Bihar sudah menempuh sejumlah langkah guna memastikan kecurangan tidak terjadi lagi antara lain dengan menjatuhkan denda maupun hukuman penjara bagi yang terbukti curang.

Dan hasil ujian bulan lalu 'yang tidak sebagus seperti tahun lalu' dilihat sebagai petunjuk bahwa langkah-langkah tersebut membawa hasil nyata.
(BBC)

AMP - Heboh, pasangan yang masih bau kencur ini memamerkan foto ciuman di jejaring sosial, bahkan di cemooh oleh para pengguna Facebook yang lain.

Dari penelusuran AMP, Pengguna FB Tasya Jumita di duga kuat menjalankan pendidikannya di SMP Negeri 1 Dewantara, Aceh Utara, dan sampai hari ini Selasa, 28 Juni 2016 pukul 00:00 WIB tengah malam, foto tersebut sudah di bagi mencapai 547 pengguna Fb.

Sampai berita ini diturunkan, pihak SMP N 1 Dewantara belum bisa di konfirmasi, (*)
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget