Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Headlines"

AMP - Polisi sedang menyelidiki pelanggan prostitusi online dari kalangan pejabat, politikus, dan pengusaha di Banda Aceh, Aceh. Aparat juga mengumpulkan rekaman kamera pengawas (CCTV) di dalam hotel.

"Kita juga sedang mengembangkan siapa saja konsumennya; apakah ada oknum pejabat, politikus, pengusaha, dan lainnya," kata Kepala Kepolisian Resor Kota Banda Aceh, Komisaris Besar Polisi T Saladin, pada Senin, 23 Oktober 2017.

Saladin mengatakan, terbongkarnya prostitusi online di salah satu hotel di kawasan Lueng Bata, Banda Aceh, pada Minggu dini hari itu, membuatnya geram pada manajemen hotel. Sebab masih ada yang mau menerima tamu tanpa menunjukkan buku nikah.

Padahal, sudah ada qanun tentang larangan itu. Polisi pun sudah berulang kali mengingatkan kepada pemilik hotel tentang larangan qanun atau peraturan daerah Aceh itu. Aparat mengancam menutup hotel itu jika ditemukan pelanggaran lagi.

Ultimatum polisi itu menyusul penggerebekan praktik prostitusi online satu hotel di kawasan Lueng Bata, Banda Aceh. Seorang diduga muncikari alias germo berinisial AN dan enam perempuan seks komersial (PSK) ditahan.

Menurut polisi, perempuan-perempuan asuhan muncikari AN bertarif Rp800 ribu sampai Rp1,5 juta sekali kencan. AN ditengarai sudah lebih dua tahun menjalankan bisnis prostitusi itu. Dia dibantu seorang rekannya yang kini buron.

Muncikari AN menjaring korban melalui media sosial, setelah disepakati, pelaku menjajakan korban kepada pelanggan. "Kita masih lakukan pengembangan, diduga masih banyak yang berkeliaran di Kota Banda Aceh," ujar Saladin. (Viva)

AMP - Dunia Maya kembali dibuat heboh dengan kelakukan warganet yang  diunggah oleh akun facebook Nur Laila yang menyatakan dakwah diAceh tidak berkualitas, maaf bukan saya benci

Teropong TB menyebutkan ada beberapa poin yang diposting yang pada intinya telah meyebar sesuatu hal yang meresahkan masyarakat, untuk berhati-hatilah membuat status,baik buruk, rugi dan untung terlebih dahulu diperhitungkan sebelum hukum menjawabnya..


Postingan yang diunggah Nurlaila pun sontak mendapat beragam kecaman dari warganet. [Teropong Barat]

Foto: Polres Lhokseumawe menggelar razia narkoba di cafe cafe Altito Desa KP3 Kecamatan Banda Sakti dan cafe Sakira Cunda Kecamatan Muara Dua Lhokseumawe.
AMP - Polres Lhokseumawe gerebek sebuah rumah yang berada di kawasan Dusun Syah Bandar, Cunda, Lhokseumawe. Senin malam (16/10), Rumah tersebut digrebek karna diduga dijadikan lokasi portitusi.

Selain menyediakan wanita, dirumah ini juga disediakan kamar bagi para tamu atau pria hidung belang ingin melakukan hubungan badan ditempat. Bahkan wanita yang disediakan ini juga bisa dibawa keluar sesuai dengan kesepakatan dari pemilik rumah dan wanita bersangkutan.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Hendri Budiman, SH, S.Ik, MH mengatakan, sebelumnya pihaknya mendapat informasi masyarakat terkait praktik prostitusi tersebut, atas informasi itu pihaknya melakukan andercover dan berhasil melakukan operasi tangkap tangan. Dua germo yang juga kakak beradik dan juga pemilik rumah yaitu bernisial CB dan CR, serta satu wanita berinisial A (21), dan dua pria hidung belang masing-masing JK dan KH, berhasil diamankan di lokasi rumah portitusi tersebut.

“Jadi saat penangkapan satu WTS berhasil ditangkap  ditempat dan seorang lagi berhasil melarikan diri,” ujar Kapolres Lhokseumawe, AKBP Hendri Budiman, didampingi Wakapolres Lhokseumawe Kompol Imam Asfali, Kompol Ahzan dan Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha, dalam konferensi pers, Selasa siang (17/10), di Mapolres Lhokseumawe.

Tersangka memperkerjakan wanita sebagai penjaja sex sekitar 8 orang gadis remaja berumur 20 hingga 25 tahun. mereka sebagai korban dan akan dipanggil untuk dimintai keterang guna menindak lanjuti tindak pidana ini."sambungnya

AKP Budi Nasuha menambahkan, rumah berkedok keluarga ini memiliki enam kamar yang kesemuanya disewakan untuk praktek prostitusi tersebut. Dimana satu kamar yang memiliki AC dengan tarif sekali show dengan harga Rp 250 ribu. Sementara kamar yang tidak ada AC lebih murah. Sementara tarif  wanita untuk sekali show sebesar Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu, sesuai kesepakatan dengan wanita tersebut,” ungkap Kasat Reskrim.

AKP Budi menambahkan, keberadaan rumah yang dijadikan tempat portitusi ini sudah berlangsung enam bulan lamanya. Dan tersangka ini kakak beradik dikenakan pasal 12 tentang traffiking atau Qanun No.6 tahun 2014 tentang hukum jinayah dengan ancaman kurungan 15 Tahun.

Dari lokasi polisi menyita barang bukti 2 buah kondom, uang tunai 800.000, 1 hand phone merk oppo serta 1 buah pedang.
(Rill)

AMP - NV (20) salah seorang mahasiswi asal Kecamatan Nisam, Aceh Utara diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh oknum satlantas Polres Lhokseumawe, Selasa 3 Oktober 2017 sekira pukul 07.00 wib pagi.

Informasi yang diterima AMP NV sudah melaporkan peristiwa yang menimpa dirinya ke Propam Polres Lhokseumawe pasca dirinya berhasil kabur dari sekapan Bripda MZ sekira pukul 11.00 WIB jelang siang.

Peristiwa tersebut bermula dirinya ditilang oleh Satlantas Cunda Lhokseumawe,  pada saat itu Bripda MZ melihat adanya seorang perempuan pengendara sepeda motor yg tidak menggunakan helm, dan kemudian langsung menyuruh pelanggar tersebut ke pinggir, untuk dilakukan pemeriksaan kelengkapan kendaraan bermotor, ternyata NV tidak membawa Sim dan Stnk.

Kemudian setelah selesai pengaturan jalan Bripda MZ dan rekan-rekan nya kembali ke Pos Lantas Cunda, dan membawa NV serta kendaraan yg ditangkap tersebut, setelah itu kedua rekan Bripda MZ kembali kerumah masing-masing, sedangkan dirinya masih berada dipos lantas cunda bersama NV.

Tidak lama kemudian Bripda MZ mengatakan kepada NV" dek tolong antarkan abang ke kos abang" dengan iming-iming sepeda motor milik NV akan dikembalikan tanpa ditilang, lalu NV mengantarkannya ke kosnya , sesampai dikos  NV langsung ditarik kedalam kos dan pintu ditutup, lalu Bripda MZ membuka jilbab NV dengan paksa dan juga MZ membuka bajunya, sedangkan celananya hanya dibuka kancing dan resleting nya serta mengeluarkan Penisnya, kemudian dengan paksaan Bripda MZ memeluk serta mencium bibir NV.

Namun NV melakukan perlawanan dan menjerit pada saat Bripda MZ memaksanya melakukan hal yang tidak senonoh itu,dengan perlawanan keras akhirnya NV berhasil melarikan diri dari kos itu dan langsung melaporkan kejadian tersebut ke Propam Polres Lhokseumawe.

Selanjutnya Kasi Propam dan Anggota Si Propam Polres Lhokseumawe, langsung mencari dan menjemput Bripda MZ untuk diamankan dan dilakukan pemeriksaan , selanjutnya Kasi Propam memerintahkan Tim Dokes Polres Lhokseumawe untuk memeriksa Urin Bripda MZ dan hasilnya Positif Zat Methaphetamin dan Inex.

Sedangkan perempuan tersebut didampingi keluarganya langsung membuat laporan pelecehan seksual keruang SPKT Polres Lhokseumawe.(RILL)
Ilustrasi

AMP - Rudaimah binti Mahmud Seorang Janda lanjut usia ditemukan tewas dengan leher tergerok di dusun Lubuk Muku Desa Buket Linteung Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Rabu (06/08/2017) malam sekitar pukul 20:19 WIB.

Kapolres Aceh Utara AKBP Untung Sangaji melalui Kapolsek Langkahan Ipda Sudiarto mengatakan, Rudaimah ditemukan oleh salah seorang tetangga di dalam rumah anaknya yang bernama Musliadi.

"Korban ditemukan dalam rumah oleh Junaidi (32)  yang merupakan tetangga korban, setelah itu dia meminta tolong pada warga di kampung itu,"kata Ipda Sudiarto, Kamis (07/06/2017).

Lanjutnya, pihaknya langsung menuju TKP setelah menerima laporan tersebut dari geuchik setempat.

Dari keterangan Junaidi, Pada saat itu sekitar pukul 20:00WIB dirinya sedang duduk didepan rumah korban dan merasa curiga kepada korban yang biasanya setiap habis shalat Magrib korban keluar rumah untuk nongkrong bersama. Hingga sampai selesai shalat isya korbanpun tidak keluar rumah, dan akhirnya Junaidi  mengajak  Iskandar  (menantu korban) dan Masriani (anak kandung korban) untuk mencari korban kedalam rumahnya,

Tapi korban ternyata tidak berada dirumahnya, selanjutnya Junaidi mengintip dari celah celah rumah korban kerumah Musliadi (anak kandung korban) yang rumahnya kebetulan berdempetan, terlihat olehnya Rudaimah sudah terlentang dengan lumuran darah.

"Setelah melihat korban terlentang, kemudian mereka masuk kerumah Musliadi dengan cara mendobrak pintu tengah, dan korban sudah meninggal dengan lumuran darah," jelas  Ipda Sudiarto.

Selanjutnya korban di bawa ke Rumah Sakit setempat untuk di Visum. Hasilnya, korban diduga di bunuh.

" Dari hasil visum, di leher korban terdapat luka Sayat panjang 6 cm ( atas ), luka sayat panjang 7,5 cm ( bawah ), luka sayat panjang 0,5 cm ( di tengah ), dan dibawah dagu juga terdapat luka sayat sebelah kanan 3,5 cm dan sebelah kiri 1,5 cm sementara
di telapak tangan kanan terdapat luka sayat panjang 1 cm, Bahu sebelah kiri terdapat luka gores dan terakhir di bagian  pundak terdapat luka memar," jelasnya.

Sementara barang bukti yang diamankan di TKP yakni 1 buah Pisau steinlis, 1 buah dompet yang berisikan uang Rp. 105.000. "Untuk sementara  kami sedang periksa saksi-saksi dan melakukan penyidikan lebih lanjut,"tegasnya.[StatusAceh.Net]

AMP - Pasca penangkapan Zainudin alias Geuchik Joi (37), anggota DPRA daerah pemilihan Aceh Timur Fraksi Partai Aceh oleh polisi Rabu 9 Agustus 2017 malam karena kasus narkoba, beredar kabar posisinya akan digantikan oleh Martini yang juga Calon DPRA tahun 2014 lalu.

"Hikmah dibalik kejadian yg menimpa sdr Zainuddin. Krn Insya Allah posisi beliau di DPRA akn diganti oleh sdri Martini yg pastinya seorg perempuan yg pintar & berani serta bertanggung jawab dlm menjalankan tugas. Semoga sukses Martini," posting Juliana via fecebooknya.

Sebelumnya Satuan Reserse Narkoba Polresta Banda Aceh bersama Brimob Polda  Aceh menangkap empat orang pria yang sedang mengesumsi narkotika jenis shabu di salah satu rumah di Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar, Rabu 9 Agustus 2017 sekitar 22.00-23.00 WIB. Salah seorang dari hasil penangkapan tersebut merupakan anggota DPRA  dari salah satu partai lokal di Aceh Timur.

Keempat orang yang ditangkap tersebut diantaranya, HS (35) warga Desa Paleu Blang Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, JN (37) merupakan Anggota DPRA asal Aceh Timur, JH (30) dan Zul (36) keduanya merupakan warga Desa Paleue Blang Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. 


AMP - Satuan Reserse Narkoba Polresta Banda Aceh bersama Brimob Polda  Aceh menangkap empat orang pria yang sedang mengesumsi narkotika jenis shabu di salah satu rumah di Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar, Rabu 9 Agustus 2017 sekitar 22.00-23.00 WIB. Salah seorang dari hasil penangkapan tersebut merupakan anggota DPRA  dari salah satu partai lokal di Aceh Timur.

Keempat orang yang ditangkap tersebut diantaranya, HS (35) warga Desa Paleu Blang Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, JN (37) merupakan Anggota DPRA asal Aceh Timur, JH (30) dan Zul (36) keduanya merupakan warga Desa Paleue Blang Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.

 Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol T. Saladim memalui Kasat Reskrim Kompol Raja Gunawan  kepada StatusAceh.Net menjelaskan, penangkapan tersebut berawal dari laporan masyarakat setempat. 

“Empat orang yang ditangkap itu sedang menghisap narkotika jenis shabu, dan penangkapan ini berawal dari laporan masyarakat,”katanya kepada StatusAceh.Net via whatsapp , Kamis, 10 Agustus 2017 sekitar pukul 20:00 WIB tadi.

Dari hasil penangkapan tersebut, pihaknya berhasil mengamankan 2 ( Dua ) buah plastik  bening ukuran kecil berat brutto 0,64 gr dan 1 ( satu)  buah plastik bening ukuran besar berat brutto 6.39 gr yang di dalamnya berisikan kristal bening yang diduga narkotika jenis sabu.

Selain itu, Polisi juga mngamankan empat bong alat hisab sabu yang terbuat dari botol aqua bekas pakai dan sepucuk senjata api laras pendek jenis Air soft guns dan dua buah Hendphone..

“Keempat orang itu akan kita lakukan penyelidikan lebih lanjut, dan juga mengembangkan asal barang haram itu didapatkan,”jelanya.(*)
 
Sumber: StetusAceh.Net

AMP - Medsos kemabli dikejutkan dengan beredarnya foto cabul seorang wanita yang memamerkan gunung kidul miliknya di depan publik.

Penelusuran AMP, Kamis 13 Juli 2017,  Foto tersebut beredar via jejaring sosial facebook yang di posting oleh "Mawardi Aneuk Lamseunag" yang dikomentari ratusan Netizen lainnya dengan beragam bahasa, bahkan foto tersebut sudah di share oleh 27 pengguna sosial lainnya. 

Bahkan ada Netizen yang mengatakan kalau perempuan itu adalah "nyan inong pungo"(wanita Gila).[ten]


AMP –Sejumlah pemuda  Aceh yang telah lama merantau di Malaysia melakukan aksi membentangkan bendera bintang bulan di Menara Kembar atau Twin Tower Petronas di Kuala Lumpur City Center (KLCC) pada Senin, 26 Juni 2017.

Aksi tersebut dilakukan bertepatan dengan hari kedua lebaran Idul Fitri atau 2 Syawal 1438 H.

Khalil, salah seorang pemuda yang ikut dalam aksi tersebut mengatakan, aksi pembentangan tersebut dilakukan oleh puluhan pemuda Aceh yang merantau di Malaysia.

Seraya membentangkan bendera, puluhan pemuda itu juga berteriak dengan sebutan “merdeka”. Aksi ini mengundang perhatian warga yang melintasi kawasan itu.

“Aksi ini dilakukan untuk minta merdeka kepada Indonesia yang selama ini Indonesia belum penuhi janjinya kepada rakyat Aceh,” kata Khalil saat dihubungi Klikkabar.com dari Bireuen, Aceh, Selasa 27 Juni 2017.

Khalil menambahkan, dengan adanya pembentangan tersebut, mereka berharap polemik persoalan bendera Aceh tersebut dapat diselesaikan secepatnya mungkin.

“Kita berharap pemangku kepentingan di Aceh duduk bersama guna mencari solusi dan melakukan komunikasi lebih baik lagi dengan pusat agar bendera diizinkan berkibar,” pungkas Khalil yang juga pemuda asal Bireuen. [klikkabar]

DARUL Qur’an Indonesia di Jalur Gaza menggelar workshop manajemen pengelolaan lembaga. Kegiatan ini bertujuan untuk membahas aspek manajerial kelembagaan, termasuk  mengkaji  masalah atau tantangan yang dihadapi. Workshop  ini diikuti oleh para pengelola/pembina, dan segenap guru penghapal di Darul Qur’an.

Darul  Qur’an  yang membina dan mencetak para penghapal Qur’an ini telah beroperasi sejak tiga tahun lalu dengan dukungan  dana dari rakyat Indonesia. Kehadiran Darul Qur’an di Jalur Gaza, sebagai bentuk perhatian dan dukungan moril rakyat Indonesia terhadap penderitaan rakyat Palestina yang hidup dibawah pendudukan dan blokade Israel sejak belasan tahun lalu.

Ketua Cabang Darul Qurán Abdillah Onim atau yang akrab disapa dengan “Bang Onim” selaku Ketua Cabang Darul mengatakan, workshop ini  diadakan dalam rangka meningkatkan kualitas kinerja para pembina, dan kualitas pembelajaraan bagi para siswa, sesuai rencana yang telah disusun.

Bang Onim mengajak, semua pihak untuk meningkatkan kinerja dan tetap mematuhi aturan dan mekanisme yang sudah ditetapkan. Dia menegaskan, bahwa aktivitas di Darul-Qur’an ini semata-mata dalam rangka mencari ridha dan pahala dari Allah.

Dalam pemaparannya terkait manajemen pengelolaan Daru Qur’an Ir Jum’ah El-Najjar menjelaskan, pentingya untuk menanamkan pemahaman tentang kecintaan belajar Alquran, demikian pula mengajarkannya. Dia juga menjelaskan, urgensi kerja yang bersifat sukarela dalam bidang ini. Dia menekankan, perlunya bagi semua pihak untuk belajar dari pengalaman negara-negara Islam lainnya, khususnya dalam masalah kedisiplinan, dan penerapan akhlak yang mulia.

Konsepsi  dan tujuan

Salah seorang pembina puteri di Darul Qur’an, Ustazah Maryam El-Barsy mengatakan, sesungguhnya tugas mencetak generasi penghapal adalah tugas yang sangat mulia, di tengah pengaruh negatif kemajuan teknologi seperti televisi, dan situs-situs jejaring sosial. “Dan kita persembahkan jiwa raga kita ini untuk berkhidmat kepada Al-Quran.”

El-Barsy kemudian membahas mengenai konsep pembelajaran Alquran dan jenis-jenisnya, serta meminta pihak pengelola untuk membuka kelas khusus bagi mereka yang ingin mendapatkan sanad dalam ilmu Al-Quran.

Dia menjelaskan, tujuan pembelajaran Alquran melalui sistem halaqah (Kelompok), untuk melahirkan generasi qur’ani yang berakhlak, memahami ilmu Al-Quran serta cara membacanya melalu ilmu qira’ah yang beragam.

Dia juga membahas syarat-syarat yang harus dimiliki oleh para guru (penghapal Quran) baik dari aspek personality, kecakapan keilmuan, dan keterampilan mengajar. [Sumber: Republika]

AMP - Sebuah akun Facebook atas nama Pembina Daulah Khilafah (Musliadi Al Atjehnese) menghina pimpinan Dayah Mudi Mesra Samalanga Waled Hasanoel atau sang akrab disapa Abu Mudi. Amatan aceHTrend, Kamis (27/4/2017) akun tersebut menyebut ulama asal Bireuen itu dengan kalimat yang tidak pantas, disertai dengan editan gambar yang merendahkan.

Dalam sebuah statusnya, Musliadi Al Atjehnese menulis bahwa ulama di Aceh adalah pengikut taghut.

“Ana berani menghujat Ulama-Ulama Thaghut dan Ulama sinetron dan ana berani juga bertanggung jawab atas hujah ana ini pada Ulama Zalim…Tidak seperti Ulama Thaghut yg mengikuti arus sesat ke dalam Demokrasi,mereka para Ulama thagut beraninya memfitnah tanpa ada kesahilan bahkan Ulama Haramjadah tidak berani menanggung jawab atas tebaran fitnah yg telah dipablikasikan di media-media kuffar,bahkan juga Ulama Thaghut menentang pembila ketauhidan daulah khilafah,Dalam dunia fana ini telah banyak lahir para Ulama munafik yg takut kehilangan hartanya dan tahta mereka….!!”

Baca: Selengkapnya

AMP - Sejumlah warga Nisam tidak mengharapkan Azhari Cagee Mundur dari DPRA, yang mereka harapkan adalahjalan dikampungnya itu dibangun sesuai janji dimassa kampanyenya dulu sebelum menjadi Dewan.

"Bang Cagee bek mundur ilee, Jalan gampong Tanyoe Mantong berdebu dan becek,"kata seorang warga desa Panton Kecamatan Nisam, Aceh Utara.

Dilansir beritakini.co, Selasa 4 April 2017, Sejumlah politisi Partai Aceh sempat mengancam akan mundur ramai-ramai dari jabatan publik jika Mahkamah Konstitusi tidak menggunakan UUPA dalam mengadili permohonan pembatalan hasil pilkada.

Hal itu juga disampaikan mereka saat menggelar konferensi pers di ruang Fraksi Gerindra di DPR RI, pada 17 Maret 2017 lalu.

Mereka yang bersuara keras antara lain, anggota DPRA Azhari Cage dan Walikota Lhokseumawe Suadi Yahya.

Suaidi Yahya kala itu mengklaim bahwa seluruh kader Partai Aceh, baik itu eksekutif dan legislatif, siap mengundurkan diri dari jabatan, apabila pemerintah pusat tidak memberi pendapat kepada MK untuk mengambil keputusan sengketa pilkada berdasarkan UUPA.

“Karena kami sia-sia duduk dalam pemerintah, sebab adanya kami dalam pemerintah daerah dikarenakan adanya UUPA,” katanya diamini para politisi yang hadir.

Nah, setelah MK memutuskan menolak gugatan pasangan Muzakir Manaf dan TA Khalid,BERITAKINI.CO mencoba menghubungi dua politisi itu.

Azhari Cage mengaku sibuk saat media ini menghubunginya.

"Nanti ya ini sedang sibuk sebentar, " ujarnya dengan bahasa Aceh, Selasa (4/3/2017).

Sejam kemudian media ini kembali menghubungi Azhari, namun beberapa kali ditelpon tidak diangkat. Pesan WhatsApp yang dilayangkan dibalas Azahari dengan mengatakan, "Preh saba (tunggu, sabar)."

Sementara Suaidi Yahya beberapa kali ditelpon, namun tak menjawab. Pesan konfirmasi yang dilayangkan juga tak berbalas. (beritakini.co)

AMP - Ular Piton yang panjangnya diduga mencapai 7,1 meter memangsa Muhammad Akbar, seorang petani kebun kelapa sawit, di Karossa, Mamuju Tengah, Sulawesi Barat pada Senin (27/3) silam.

Satu hari sebelumnya, Akbar pergi ke kebun sawit untuk bekerja memanen sawit seperti hari-hari biasa. Tapi ia tak kunjung pulang sehingga keluarga dan warga sekitar mencarinya di kebun sawit. Ketika melihat ular dengan benda berbentuk sepatu di perutnya, mereka pun curiga. Benar saja, tubuh Akbar ditemukan tewas di dalam perut ular piton tersebut.

Dikutip dari Detik, berat ular yang memangsa Akbar diperkirakan mencapai 158 kilo gram dan berjenis ular sanca kembang, atau sanca batik.

Ular jenis ini adalah salah satu yang paling besar di dunia yang panjangnya bisa mencapai 10 meter. Namun, panjang rata-rata piton dewasa hanya mencapai 3-6 meter.

Populasi piton berjenis sanca kembang banyak ditemukan di Asia Tenggara, terutama di Indonesia dan Filipina. Pada 1912 silam, piton sepanjang 10 meter pernah ditemukan juga di Sulawesi. 

Dikutip dari Live Science, Piton menyenangi daerah tropis karena mereka berhabitat di daerah yang hangat tapi juga di iklim basah. Banyak di antaranya hidup di hutan tadah hujan. Ketika habitat mereka diganggu, sebagaimana yang terjadi pada kasus gajah atau harimau menyerang perkampungan manusia, barulah mereka mendekati area lain untuk mencari makanan.

Kasus Akbar di Mamuju merupakan pertama kalinya Piton memangsa manusia di area tersebut.

"Yang saya tahu sih belum pernah (terjadi orang dimakan ular). Hanya memang ular sering ditangkap berkeliaran (di wilayah itu)," kata Pejabat Humas Polda Sulbar AKBP Mashura, seperti dikutip dari Detikcom.

"Sebelumnya pernah juga ditangkap (ular) sepanjang tujuh meter lebih, sekitar bulan November 2016."

Guiness World Records mencatatkan, Piton terpanjang yang pernah tertangkap manusia adalah ular bernama Medusa, ular yang dimiliki Full Moon Productions Inc di Kansas City, Amerika Serikat. Ketika diukur pada 12 Oktober 2011, Piton tersebut memiliki panjang 7,67 meter dan berat 158,8 kilo gram.

Ketika diukur, Medusa harus digendong oleh 15 pria dewasa. Ia mengonsumsi kelinci dan rusa setiap dua minggu. Dikutip dari laman resmi Guiness World Records, Medusa pernah memakan rusa seberat 18 kilogram dalam sekali 'telan'.

Tapi Medusa tak berbahaya. Ia justru menjadi tontonan di The Edge of Hell Haunted House dan bahkan sudah paham kode untuk berdiam diri jika ada pengunjung yang ingin berpose dengannya.


Bagaimana Piton Membunuh Mangsa?

Piton kerap disebut-sebut membunuh mangsanya terlebih dahulu dengan melilitkan badan pada korban untuk meremukkan tulang dan membuat mangsa sesak napas.

Akan tetapi penelitian pada 2015 lalu menemukan bahwa ular-ular berukuran besar lain seperti anaconda, piton, dan boas, membunuh mangsa dengan memotong aliran darah sehingga prosesnya lebih cepat.

Dikutip dari National Geographic, peneliti ekologis bernama Scott Boback di Pennsylvania, AS, menjelaskan cara-cara piton memangsa manusia.

"Jantung mangsa tidak punya kekuatan untuk mendorong dan melawan tekanan," kata Boback. "Kekuatan piton ketika mencekik cukup untuk menghentikan aliran darah menuju jantung selama beberapa detik."

Setelah mangsa ditangkap, barulah mereka menelan utuh. Binatang yang biasa dimangsa oleh piton adalah mamalia berukuran kecil seperti anjing hutan atau babi hutan. Kasus piton menelan manusia juga sebenarnya peristiwa jarang terjadi.

BBC menjelaskan, piton sebenarnya sangat sensitif pada getaran, cahaya, dan juga panas lampu sehingga mereka menghindari habitat manusia. Di kasus-kasus tertentu, mereka akan beraksi sebagai bentuk pertahanan. 

Biasanya piton memperkirakan ukuran tubuh mangsa sebelum menelan. Akan tetapi, mereka juga terkadang bisa salah melakukan perhitungan.

Pada 2005, piton di Florida mati karena coba menelan seekor buaya. (CNN)

Barang bukti yang disita dari kediaman husni tahun 2017

BANDA ACEH- Bobroknya Pemasyarakatan Aceh bukanlah hal yang harus ditutupi namun telah menjadi rahasia umum,dalam kasus tewasnya dua bandar narkoba jaringan Malaysia-Indonesia di Medan pekan lalu,adalah pihak yang paling bertanggungjawab adalah lapas banda aceh.

Salahsatu bandar narkoba yang tewas adalah Husni Azhari yang merupakan narapidana lapas banda aceh,keberadaannya diluar lapas merupakan melibatkan oknum petugas lapas banda aceh.

Mari kita simak sepenggal kisah perjalanan kehidupan seorang mantan polisi Aceh Utara Husni Azhari alias Fadil Husni alias Husni yang juga bandar narkoba jaringan Indonesia – Malaysia berakhir dengan sebutir timah panah bersarang di dadanya pekan lalu yang berhasil dihimpun redaksi.

Munkin hanya sedikit orang yang tahu jika husni tewas dalam status masih seorang narapidana lapas banda aceh yang dikeluarkan oleh petugas tanpa memenuhi prosedural yang ada.

Berikut rekam jejak husni sang napi lapas banda aceh yang dapat menjalani masa pidananya denga  tetap menjalankan kegiatan maupun bisnis haramnya tanpa harus bersusah payah berada dibalik tembok lapas.
Barang bukti pada tahun 2012

Fadil Husni alias Husni Azhari alias Husni sebelum tersandung kasus narkoba merupakan anggota Polres Aceh utara, karirnya di Kepolisian sempat menjabat sebagai kanit opsnal.

Pria kelahiran Kutablang, Bireun ini ditangkap  Rabu 19 September 2012 di vonis oleh pengadilan negeri medan atas kepemilikan narkoba dan senjata api selama 4 tahun 7 bulan subsider satu bulan denda 1 Milyar.

Usai di vonis husni menjalani masa pidananya di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Medan,dalam kurun setahun menghuni rutan tanjung gusta pada Sabtu 16 November 2013 husni di pindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banda Aceh setelah permohonan pindahnya dikabulkan oleh Ditjen PAS serta Kantor Wilayah Hukum dan HAM Aceh.(14/10/2014).

Husni tercatat sebagai napi penghuni lapas banda aceh,sejak kalapas banda aceh di pimpin oleh Ibnu Syukur, husni kerap berada diluar lapas berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Demikian juga saat Kalapas Ibnu Syukur di copot digantikan oleh Marasutan, husni senantiasa berada di luar lapas tanpa pengawalan petugas.

Namun napi bandar narkoba ini tetap kembali ke lapas banda aceh kala ada pemberitahuan adanya pemeriksaan oleh pejabat Kanwilkumham Aceh.

Tidak selang berapa lama,akibat kerapnya pengeluaran napi narkoba di lapas banda aceh kalapas marasutan dimutasikan menjadi kalapas Lhokseumawe digantikan oleh Ahmad Faedhoni mantan kalapas anak palembang.

Ahmad Faedhoni mulai membenahi lapas banda aceh dengan prosedural yang berlaku,tak satu pun napi yang dapat keluar masuk lapas,demikian juga husni yang telah jauh-jauh hari kembali berada didalam lapas banda aceh.

Hingga malam kerusuhan meletus di lapas banda aceh,Jum’at (6/3/2015) dimana para penghuni lapas melakukan unjuk rasa yang berujung dengan digantinya ahmad faedhoni sebagai kalapas banda aceh.
Lapas Banda Aceh
Dalam catatan Redaksi napi husni masih berada didalam lapas banda aceh hingga rombongan Kakanwikumham Aceh Suwandi yang didampingi Kadiv PAS Mujiraharjo datang meninjau lapas tersebut.

Sepeninggalan rombongan kakanwilkumham aceh napi husni dengan dibantu oleh oknum petugas lapas mengeluarkannya seperti biasanya.

Hingga keesokan harinya saat serahterima kalapas banda aceh yang lama ahmad faedhoni kepada Joko Budi Setianto sebagai Plt Kalapas Banda Aceh sebanyak 3 napi menghilang yang salahsatunya adalah husni.

Hal ini dibenarkan oleh Plt Kalapas Banda Aceh yang dihubungi oleh Redaksi Sabtu (7/11/2015), “ Benar ada tiga napi yang kurang saat dilakukan penghitungan saat serah terima jabatan kemarin pada saya,salahsatunya adalah napi bernama husni “,ungkap Joko budi yang juga Kalapas Kuala Simpangm Aceh Tamiang. 

Menghilangnya 3 napi narkoba dari lapas banda aceh beberapa jam usai kerusuhan,dimana salahsatunya adalah husni juga diketahui oleh Pihak Kanwilkumham Aceh.

Namun hingga terjadinya pergantian Kalapas Joko budi setianto kepada Kalapas yang baru M. Drais Siddiq kasus pengeluaran ketiga napi bos narkoba ini tidak pernah dilaporkan pada aparat Kepolisian.

Ironisnya pelanggaran yang dilakukan oleh oknum petugas lapas banda hingga kini tidak dilakukan proses maupun tindakan apapun seolah pengeluaran napi bos narkoba tersebut merupakan hal lumrah dilapas banda aceh.

Pekan lalu halaman depan media lokal dan nasional memberitakan dua bandar narkoba tewas ditembak polisi di medan setelah berupaya melawan petugas.

Salahsatunya bandar tersebut tidak lain adalah Fadil Husni yang juga merupakan napi lapas banda aceh yang dikeluarkan oleh oknum,petugas lapas yang kemudian tetap aktif menjalankan bisnis narkoba antar negara.

Demikian mudahnya seorang napi bandar narkoba mendapatkan izin pemindahan ke lapas aceh hanya untuk memperoleh kebebasan menjalankan bisnis narkobanya.

Dan begitu mudahnya proses mendapatkan kebebasan di lapas aceh walau masa pidananya belum selesai dijalaninya.

Konsekwensi atas perbuatan pengeluaran ilegal yang dilakukan oleh oknum petugas lapas banda aceh yang tak pernah ada menjadikan para petugas lapas banda aceh seolah-olah merupakan Power Man yang sulit tersentuh hukum.(tim bapanasnews)

AMP - Kepala Polda Aceh Irjen Pol Rio S Djambak melalui Kabid Humas Kombes Pol Goenawan angkat bicara soal penangkapan terhadap terduga pelaku penembakan dua warga peunaron, Aceh Timur. Senin, 20 Maret 2017.

Pihaknya melaporkan perkembangan penanganan peristiwa penembakan di Dusun. Simpang Tiga, Desa Penarun Baru, Kecamatan Penarun Kabupaten Aceh Timur yang terjadi pada hari Minggu, 5 Maret 2017 lalu sudah terindikasi dan salah seorang tertangkap.

Kejadian tersebut pertama dilapor oleh Yatinem, 45 th warga Dusun Simpang, desa penarun Baru. Kec. Penarun (istri korban Juman) dan mengaku diduga ada 4 orang pelaku sehingga percobaan pembunuhan tersebut dilakukan dengan cara menembak korban dengan senjata api laras panjang ke rumah yang berada di pinggir jalan desa Penarun Baru pada Minggu, 5 Maret 2017, sekira Pkl 02.30 wib.

Menurutnya Modus Operandi dari peristiwa tersebut terutama Pelaku membakar kain di teras rumah dan mobil taft milik korban untuk membangunkan penghuni rumah, setelah penghuni rumah bangun dan keluar rumah, pelaku melakukan penembakan kearah korban Juman selaku penghuni rumah sehingga korban mengalami Luka tembak pada leher an. Juman, 51 th (saat ini dirawat di RS Zainal Abidin Banda Aceh) dan juga Misno bin Iman karta yang mengalami luka tembak dibagian perut (saat ini dirawat di RS Zainal Abidin Banda Aceh)

Barang bukti di TKP

a. Selongsong peluru ada 10 (sepuluh) butir
b. Amunisi senpi 2 butir  blm meledak diduga aminisi Senpi M16
c. Proyektil amunisi sebanyak 4 butir
d. Serpihan proyektil

Dari kejadian tersebut pihak kepolisian memeriksa 19 Saksi sehingga menyimpulkan Kronologis kejadian sekira Pukul 02.30 Wib, pelapor melihat teras bagian depan rumah ada benda terbakar. Selanjutnya pelapor  memberitahu Korban Juman. Saat korban Juman membuka pintu depan rumah, pelaku langsung memberondong tembakan sebanyak 11 tembakan mengenai 1 butir leher korban Juman, 4 butir pintu depan, 4 butir mengenai jendela kaca depan dan 2 butir mengenai tembok dinding depan.
 

Selanjutnya pelaku lari ke arah Timur (perkebunan sawit PT Mapoli) sambil menembak kearah rumah Misno dan mengenai 1 butir peluru ke bagian perut Misno yang saat itu sedang mengintip.
 

Setelah penembakan tersebut, pelaku diduga 2 orang melarikan diri masuk kearah perkebunan sawit turun kearah Peurlak
 

Selanjutnya, anak korban  Julianto membawa korban ke RS. Zubir Idi. Saat ini kedua korban sdh di RS. Zubir.
 

Sekitar pkl. 03.15 Wib, warga masya memberitahukan peristiwa tsb ke piket Polsek Serba Jadi. Selanjutnya Kapolsek dan anggota mendatangi TKP namun korban sdh dlm perjalanan ke RS Zubir Idi.
 

Dari Hasil Penyelidikan tersebut berdasarkan wawancara dilapangan dan analisa IT bahwa Pelaku penembakan diduga sebanyak 4 orang sbb:

1.AR 31thn, warga ds. Kabu kec.Peurlak Barat kab. Aceh timur selaku perencana peristiwa penembakan

2. Mj  30 thn, warga ds. Beurandang kec. Ranto peurlak kab. Aceh Timur selaku turut serta dlm penembakan.

3. Z  alias Nato selaku PENEMBAK

4. Canguk selaku PENEMBAK


Sehingga pihak kepolisian dari Densus 88 berupaya paksa melakukkan penangkapan,

Berdasarkan hasil penyelidikan dan pemeriksaan, Polres Aceh Timur melakukan upaya penangkapan terhadap ke 4 orang diduga pelaku diatas dengan hasil 2 orang berhasil tertangkap antara lain :

1. AR, 31thn, warga ds. Kabu kec.Peurlak barat kab. Aceh timur selaku PERENCANA dan PENGATUR peristiwa penembakan thd korban Juman dg keterangan sbb :

~ Dia selaku Panglima Sagoe wil Penarun merasa sakit hati terhadap korban Juman yang mengejeknya dg cara menari didepannya dan mentertawakan TSK AR saat setelah rekapitulasi di TPS yg hasil paslon No. 1 menang diwilayah Kec. Penarun.

~ Akibat peristiwa ejekan tsb, TSK AR melakukan perencanaan penembakan thd korban Juman. Perencanaan dilakukan di pasir putih Peurlak yg dihadiri oleh TSK AR, MJ, Cangouk dan Z AliasNato.

~ selanjutnya pd hari minggu 5 Maret 2017, Cangok dan Z alias Nato bersama M Jais melakukan aksi penembakan thd korban Juman sekitar pkl 02.30 Wib

~ Sarana transportasi dari Peurlak  pergi ke rumah korban Juman menggunakan kendaraan Avanza BK 1191 IC warna putih yg dirental oleh TSK AR yang dipakai untuk kegiatan kampanye.

2. Mj,  30 thn,warga ds. Beurandang kec. Ranto peurlak kab. Aceh Timur selaku Penunjuk Jalan melarikan diri keluar dari TKP. Adapun keterangannya sbb :

~ bhw Tsk MJ mengakui ikut rapat perencanaan penembakan thd korban Juman.

~ bhw setelah melakukan penembakan, MJ mendapat perintah untuk keluar dari wil Aceh Timur.

~ bhw Tsk Mj blm mengakui keterlibatan di TKP dlm peristiwa penembakan thd korban Juman.

 Sementara untuk Tsk Z alias Nato dan Cangok masih dalam pengejaran Tim Gabungan Polres Aceh Timur, Ditreskrimum Polda Aceh daN Densus 88 AT.

☆ Analisa Kasus sementara sbb :

Berdasarkan hasil penyelidikan dan pemeriksaan thd saksi dan kedua TSK tsb didapatkan analisa kasus sementara sbb:

~ bhw peristiwa penembakan bertujuan untuk membalas dendam thd korban Juman dengan menggunakan senjata api

~ bhw peristiwa penembakan tsb sdh direncanakan oleh Tersangka AR, MJ, Z alias Nato dan Cangok dengan sasaran Korban Juman

~ alasan dilakukan penembakan untuk balas dendam dlm rangka mengobati rasa sakit hati akibat ejekan dari korban Juman yg berhasil memenangkan paslon No. 1 di wil kec Peunarun.

~ selanjut Tindakan penembakan terhadap korban Juman dilaksanakan oleh Z alias Nato dan Cangok dibantu oleh MJ

~ akibat perbuatan tersangka tsb, korban Juman mengalami luka tembak dibagian leher dan korban Misno mengalami luka tembak dibagian perut


Berdasarkan analisa kasus sementar tsb diatas, analisa yuridis sbb :

A. Perbuatan penembakan diawali dengan perencanaan, Pelaku melakukan kekerasan thd korban Juman dg tujuan menghilangkan nyawa menggunakan senjata api illegal.

B. Perbuatan pelaku dapat dipersangkakan sbb :

1. psl 340 Jo psl 53 KUHP jo psl 1 UU darurat th 1951 (percobaan pembunuhan yg direncanakan dan menggunakan senpi)

2. psl 338 Jo psl 53 KUHP jo psl 1 UU darurat th 1951 (percobaan pembunuhan dg menggunakan senpi)

3. psl 351 ayat 2 KUHP jo psl 1 UU darurat th  1951 (penganiayaan dg menggunakan senpi)

4. Psl 1 UU Darurat th 1951 (membawa dan menggunakan senpi scr illegal)

Berdasarkan hasil penyelidikan dan pemeriksaan terhadap saksi saksi dan kedua TSK tsb diatas bahwa diduga keras penembakan dilakukan oleh :

1.AR, 31thn, warga ds. Kabu kec.Peurlak barat kab. Aceh timur selaku PERENCAN dan PENGATUR perbuatan penembakan thd korban Juman

2. MJ,  30 thn, warga ds. Beurandang kec. Ranto peurlak kab. Aceh Timur selaku PEMBANTU dlm peristiwa penembakan

3. Z alias Nato selaku PENEMBAK (DPO /msh dlm pengejaran)

4. Canguk selaku PENEMBAK (DPO / msh dlm pengejaran)

Hambatannya untuk saat ini Saksi saksi merasa takut dengan alasan keluarga mereka berdomisili di desa penarun sewaktu waktu dpt menjadi sasaran kelompok pelaku yang notabene kombatan GAM dan tergabung dalam partai Aceh (PA).
 

Rencana Tindak Lanjut akan Melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap Tersangka Z alias Nato dan Cangok selaku penembak dan Melakukan penyitaan BB Senpi yg diduga dikuasia dan disimpan oleh Cangou.
Laporan: Kadiv Humas Polda Aceh

AMP - Anda yang gemar membaca komik Asterix dan anda yang pernah menonton film ‘Pirates of The Carribean’, tentu ingat karakter jahat ‘Barbarossa’ bukan? Sejak zaman pertengahan, aneka macam karya fiksi Eropa dan Amerika biasa menggunakan nama Barbarossa untuk menamai karakter seorang penjahat –biasanya seorang bajak laut jahat.

Makna negatif Barbarossa terus dipropagandakan hingga zaman sekarang, meski di dalam setting-setting yang berbeda. Tak ada asap jika tak ada api, kebiasaan para penulis fiksi Eropa dan Amerika ini tentu ada sebabnya.

The‬ Barbarosa Brothers

Pada abad ke-15 masehi, di Laut Mediterania ada dua bajak laut bersaudara yang disebut The Barbarossa Brothers. Kedua tokoh ini menjadi legenda dalam dunia ‘per-bajak-laut-an’ dan merupakan tokoh bahari yang sangat ditakuti orang-orang Eropa pada zamannya. Kebiasaannya ialah membajak barang-barang berharga yang diangkut oleh kapal-kapal milik kerajaan-kerajaan Eropa yang melintasi Laut Mediterania. Awak kapal yang dibajak biasanya diberi dua pilihan; mati karena melawan atau hidup dengan menyerah secara sukarela.

Siapakah sebenarnya Barbarossa yang sangat ditakuti oleh orang-orang Eropa selama berabad-abad itu? Mengapa hingga zaman sekarang nama itu terus menghantui benak dan pikiran mereka?

Barbarossa bukanlah sebuah nama. Barbarossa merupakan kata dalam bahasa Latin –gabungan dari kata barber (janggut) dan rossa (merah). Jadi Barbarrossa berarti janggut merah. Barbarossa merupakan julukan yang diberikan oleh para pelaut Eropa kepada kakak-beradik Aruj dan Khairuddin dari Turki. Kedua kakak beradik ini hanyalah pelaut-pelaut biasa yang rutin berlayar di wilayah perairan Yunani dan Turki.

‪‎Awal‬ Gerakan Barbarosa

Pada suatu hari, tanpa sebab yang jelas, kapal milik keluarga mereka diserang secara brutal oleh kapal militer Knight of Rhodes. Dalam peristiwa ini, adik bungsu Aruj dan Khairuddin tewas terbunuh. Aruj dan Khairuddin sangat terpukul dengan kematian adik bungsu mereka. Sejak saat itu, mereka melakukan aksi bajak laut kepada semua kapal-kapal militer milik kerajaan-kerajaan Kristen. Aksi-aksi mereka sangat menggemparkan dan membuat mereka ditakuti militer Kristen. Aruj dan Khairuddin pun kemudian dikenal sebagai The Barbarossa Brothers Pirates karena keduanya berjanggut merah.

Kaum Eropa menyebut Barbarossa sebagai bajak laut, meskipun tidak ada bendera hitam dan tengkorak yang menjadi simbol bajak laut. Bendera yang dipasang Aruj dan Khairuddin di kapal mereka adalah sebuah bendera berwarna hijau berisi kaligrafi doa "Nashrun minallaah wa fathun qariib wa basysyiril mu’miniin, ya Muhammad", empat nama khulafaur rasyidin, pedang Zulfikar dan bintang segi enam Yahudi (Bintang David). Awak kapal yang dipimpin kedua bersaudara ini terdiri atas orang-orang Islam dari bangsa Moor, Turki, dan Spanyol, serta beberapa orang Yahudi.

Pada tahun 1492 M, Andalusia yang sejak tahun 756 M dikuasai oleh Daulah Khilafah Islamiyah, jatuh ke tangan Pasukan Salib yang terdiri atas pasukan gabungan Aragon dan Spanyol. Dalam peristiwa penaklukan Andalusia ini, jutaan orang Islam dan Yahudi tewas dibantai pasukan yang dipimpin Raja Ferdinand II dari Aragon.

Perjuangan Jihad Barbarossa‪

Peristiwa itu mengubah haluan misi dendam Aruj dan Khairuddin menjadi misi Jihad Islam. Bahu-membahu bersama sekelompok milisi bangsa Moor, mereka kemudian menyelamatkan puluhan ribu Umat Islam dari Spanyol ke Afrika utara (Maroko, Tunisia dan Aljazair). Kemudian mereka membangun basis pertahanan laut di Aljazair untuk menghadang gelombang serangan Pasukan Salib dari jalur Afrika Utara menuju Tanah Suci Palestina.

Khalifah Islam saat itu, Sulaiman I, mendengar cerita-cerita heroik Barbarossa bersaudara. Sulaiman I sangat kagum pada heroisme mereka. Karena prestasi mereka di lautan, akhirnya Sulaiman I mengangkat Aruj dan Khairuddin sebagai Kapudan Pasha (Panglima Angkatan Laut) Khilafah Islamiyyah untuk membenahi Angkatan Laut Daulah Khilafah Islamiyah yang amburadul.

‪Adu Domba Pihak Spanyol

Pada tahun 1518 Spanyol berhasil menghasut Amir kota Tlemcen (Tilmisan) untuk melancarkan pemberontakan kepada kepemimpinan Aruj. Aruj kemudian menyerahkan pemerintahan Aljazair kepada Khairuddin untuk sementara. Lalu ia memimpin pasukan untuk berangkat ke Tlemcen. Hati Aruj sangat pilu karena ia malah berperang dengan saudara sendiri sesama Muslim. Akibatnya ia kurang berkonsentrasi dan pasukannya kocar-kacir. Aruj sempat lolos, namun banyak pasukannya yang tertangkap. Karena hubungan emosionalnya dengan anak buahnya, Aruj kembali ke Tlemcen untuk bertempur dan ia gugur dalam pertempuran tersebut.

Dengan gugurnya Aruj, kepemimpinan Angkatan Laut Daulah Khilafah Islamiyah beralih ke tangan Khairuddin. Spanyol mengira bahwa era kejayaan Barbarossa di Laut Tengah telah berakhir. Lalu, dengan percaya dirinya, Spanyol mengirim 20.000 tentaranya ke Aljazair. Pertempuran hebat pun terjadi, namun Khairuddin berhasil menghajar pasukan laut tersebut.

‪Sejarah‬ dan Kehebatan Pasukan Janissary

Guna meminimalisir ancaman dari negeri sekitar Aljazair, selain ancaman utama Spanyol, Khairuddin kemudian meminta kepada Khalifah Sulaiman I agar kekuasaan Amir Tunisia dan Tlemcen dialihkan kepadanya. Sulaiman I pun setuju. Pada 1519, Khalifah mengangkat Khairuddin sebagai beylerbey (Bakhlair Baik) atau wakil Khalifah untuk wilayah Aljazair dan sekitarnya. Kemudian Khairuddin juga ditugasi memimpin pasukan pasukan elit Daulah Khilafah Islamiyah, Pasukan Janissary.

Dalam masa kepemimpinan Khairuddin, Pasukan Janissary berhasil melakukan banyak penyelamatan Umat Islam di Andalusia. Tercatat mereka melakukan 7 kali pelayaran dengan 36 buah kapal untuk mengangkut Umat Islam Spanyol yang diburu bagai hewan oleh Ferdinand II dan Pasukan Salibnya.

Pertengahan dekade 1520-an, Pasukan Darat Janissary yang dipimpin langsung Khalifah Sulaiman I berhasil memenangkan semua pertempuran darat. Pada saat bersamaan, Pasukan Laut Janissary di bawah pimpinan Khairuddin juga berhasil mengontrol lalu lintas pelayaran di Laut Tengah sepenuhnya. Kondisi ini membuat Pasukan Salib Kristen Eropa menjadi pusing tujuh keliling.

Awal Mula Minuman Capucchino

Dalam suasana putus asa, pada tahun 1529 di pulau Penon, Spanyol menembakkan meriam ke menara masjid saat Adzan sedang berkumandang. Maka terjadilah peperangan hebat di Penon dan setelah 20 hari pulau tersebut berhasil dikuasai kembali oleh Khairuddin. Sementara di daratan, Sulaiman I membombardir Wina (Ibukota Austria) dengan dua kali serangan namun keduanya gagal. Pasukan Islam yang mundur dari pertempuran meninggalkan beberapa karung kopi yang kemudian mengubah aturan Paus Roma yang sebelumnya mengharamkan minuman yang biasa diminum kaum muslim itu. Kemudian mereka menyebut minuman itu sebagai dengan nama cappuccino.

Pada tahun 1535 Pasukan Salib Gabungan Spanyol dan Genoa di bawah pimpinan Charles V dan Andrea Doria (Knight of Malta) menyerang Tunisia dengan kekuatan 25.000 orang pasukan dan 500 kapal. Pertempuran pun berjalan tidak imbang hingga Tunisia pun jatuh ke tangan Spanyol. Pada tahun-tahun selanjutnya, Khairuddin Sang Barbarossa mengalami banyak kekalahan. Namun ia berhasil menduduki kepulauan Beleares dan merampas kapal-kapal Portugis dan Spanyol di selat Gibraltar.

‪Akhir‬ Gemilang Barbarosa Sebelum Tutup Usia

Tahun 1538, Pasukan Salib Gabungan Italia-Spanyol menyerang Preveza yang saat itu merupakan pelabuhan penting di Laut Tengah. Andrea Doria memimpin 40 kapal dan Barbarossa hanya memimpin 20 kapal. Namun dengan kecerdikannya, Barbarossa memecah armadanya ke tiga arah dan menjebak Pasukan Andrea Doria di tengah untuk kemudian membombardir armada Andrea Doria habis-habisan. Andrea Doria dan armada lautnya pun lari dari pertempuran. Walau begitu, Khairuddin tak mengejarnya karena ia tak ingin berperang di laut lepas, mengingat kapal-kapal armada laut Spanyol mempunyai peralatan yang lebih canggih. Apalagi ia hanya memimpin 20 kapal.

Tiga tahun kemudian, Pasukan Salib Gabungan Spanyol-Genoa kembali menyerang Aljazair dengan kekuatan 200 kapal. Mereka sengaja melancarkan serangan di luar musim berlayar, untuk menghindari pertemuan dengan Pasukan Barbarossa. Rakyat Aljazair di bawah komando Hasan Agha berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan Aljazair. Charles V dan Andrea Doria yang memimpin serangan tak mengira bahwa pertahanan dan strategi perang Hasan Agha sangat matang, sehingga armadanya pun kacau-balau. Ketika itu pula tiba-tiba badai laut dahsyat menghantam Laut Mediterania. Andrea Doria dan Charles V berhasil selamat, dan kembali ke negerinya dengan kekalahan pahit.

Tahun 1565, dalam usia senja, Khairuddin Barbarossa memimpin pasukan untuk merebut Malta dari tangan Knight of St. John. Namun dalam pertempuran itu, Khairuddin gugur. Kemudian Khairuddin dimakamkan di Istanbul. Di dekat kuburannya didirikan masjid dan madrasah untuk mengenangnya. Hingga kini makam tersebut masih terawat untuk menjadi bukti kepahlawanan Khairuddin alias Barbarossa yang namanya masih ditakuti bangsa Eropa hingga zaman sekarang.

Wallahu'alam..

Sumber: mediamuslim.org

AMP - Dari menjadi tentara Heiho ke pertempuran Medan Area. Ada pesan penting bagi bangsa Indonesia di balik kesunyian hidup mantan pejuang ini.

Pada 7 Maret 2016, sekitar pukul 14.00 Wib, sebuah rumah panggung beratap rumbia di Lorong Lambirah, Gampong Limo Mesjid, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, tampak sibuk namun hening. Beberapa orang sibuk mempersiapkan segala sesuatu. Bukan untuk kenduri besar tapi untuk sebuah upacara kematian.

Seorang pejuang bangsa sudah berpulang. Teungku Abdullah Makam atau akrab disapa Chik Lah menutup usianya pada angka 91. Ia meninggal sebab suatu penyakit. Tidak ada iring-iringan tentara yang mengantar mantan tentara Heiho itu layaknya seorang yang sudah berjuang untuk negara. Paling mewah, berita meninggalnya disebarkan ke seluruh desa melalui mikrofon masjid sementara kerabat dekatnya mengirimkan pesan singkat pada saudara-saudara yang berada di luar desa.

Kisah perjuangan Chik Lah muncul seiring membuminya kebencian masyarakat Aceh terhadap penjajah. Hal ini disebabkan pemahaman orang Aceh terhadap ajaran Islam yang melarang penindasan. Terlebih adanya keinginan Jepang untuk mengusir penjajah Eropa dari Asia. Aceh bahkan sudah punya kontak dengan Jepang sejak 1940.

M Yunus Djamil, dalam bukunya Gerak Kebangkitan Aceh, menulis bahwa tokoh Aceh mengirim 8 utusannya pada 14 Februari 1942 ke pemimpin perang Jepang, guna memberi tahu agar Jepang segara masuk ke Aceh untuk membantu Aceh mengusir Belanda. Disusul pada 21 Februari 1942, berangkat lagi serombongan orang Aceh ke Pulau Pinang, Malaysia, atas utusan PUSA dan tiba pada 4 Maret 1942. Mereka diterima dengan baik oleh petinggi Jepang di Pulau Pinang.

Kerjasama antara PUSA dengan militer Jepang berjalan mulus karena Jepang sedang mengobarkan perang untuk mengusir kolonialis Eropa dari Asia. Pada 1940 negosiasi antara Jepang dengan Aceh dimulai. Pasukan Negeri Sakura menguasai Penang pada 19 Desember 1941. Sehingga sejumlah orang Aceh bermukim di Penang melakukan gerakan politik kemerdekaan dengan dukungan Jepang.

Pihak Belanda pun kewalahan menghadapi Jepang yang dibantu orang Aceh. Peperangan hebat terjadi 14 hari di bagian utara Sumatera. Setelah itu, Jepang berkuasa di Aceh, lalu dibuatlah organisasi penting yaitu Kempetai (Polisi Rahasia Jepang) dan Heiho (Serdadu Pembantu) yang akan membantu Jepang dalam melawan Tentara Sekutu.

Heiho adalah pasukan yang terdiri dari warga pribumi, dibentuk berdasarkan instruksi Bagian Angkatan Darat Markas Besar Umum Kekaisaran Jepang pada 2 September 1942 dan mulai merekrut anggota pada 22 April 1943.

Heiho awalnya dimaksudkan untuk membantu pekerjaan kasar militer seperti membangun kubu dan parit pertahanan, serta menjaga tahanan. Dalam perkembangannya, seiring semakin sengitnya pertempuran, Heiho dipersenjatai dan dilatih untuk diterjunkan di medan perang.

Salah satu Heiho di Aceh ialah Teungku Abdullah Makam atau dikenal Chik Lah. Ia lahir dari pasangan Ibu Cahya dan Bapak Makam di Gampong Limo Mesjid, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, pada 1925 ketika musim potong padi (dulu orang-orang mencatat hari kelahiran dengan menyebut musim).

Chik Lah pernah bersekolah di Sekolah Rakyat sampai kelas IV. Ketika usianya 17 tahun, ia “dijemput” paksa oleh Jepang untuk dijadikan tentara Heiho. Banyak orang Aceh yang dibawa ke Batalion Jepang di Seulimun, di tempat bekas asrama Belanda. Ke sanalah, Chik Lah dan pemuda Aceh lainnya yang berjumlah 150 orang dibawa.

Menurut Teungku Abdullah Makam, kriteria yang diambil untuk menjadi tentara Heiho di antaranya memiliki tinggi minimal 110 cm, berat badan 45 kg dan dites kesehatan. Semua tes itu dilakukan di Seulimum, yang tidak memenuhi persyaratan dipulangkan kembali ke kampung halaman. Setelah ikut pelatihan, mereka ditempatkan ke perbatasan Sumatera pada tahun 1943.

Satu keuntungan tersendiri menjadi tentara Heiho, kata Chik Lah, mereka mengetahui pusat-pusat penyimpanan senjata Jepang selain memiliki senjata sendiri sebagai seorang tentara. Begitu tersiar kabar Jepang kalah usai bom atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945, para Heiho membawa pulang semua peralatan perang ke kampung halaman masing-masing.

Lima belas hari kemudian Chik Lah dipanggil kembali oleh Tengku Manyak Ulee Lheue untuk bergabung dalam perampasan senjata milik Jepang di sebuah perbukitan di Seulimum. “Jepang boleh pergi, tapi senjata tidak boleh berpindah tempat”. Demikian semangat yang berkembang ketika Jepang angkat kaki dari Indonesia.

Saat itu, kelompok Chik Lah berhasil mengambil 150 pucuk senjata, 2 meriam dan 6 kg mesiu. Meriam dan senjata ini kelak digunakan dalam perang Cumbok, membantu pasukan Ulama melawan kaum Uleebalang.

Chik Lah juga ikut dalam pertempuaran Medan Area, di bawah komando Daud Beureueh. Perang tersebut sangat berkesan baginya. Sekitar delapan bulan, ia turut mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Petempuran kemudian terhenti karena pihak Sekutu dan Indonesia (di bawah Presiden Soekarno) membuat perjanjian yang diprakarsai oleh Komisi Tiga Negara hingga lahirlah garis Reformasi. Namun Sekutu melanggar pejanjian itu dan menyerang pasukan Daud Beureueh hingga harus mundur dari Medan Area.

Pada 1953, Daud Bereueh membentuk Tentara Islam Indonesia atau yang lebih dikenal DI/TII karena kecewa terhadap Soekarno yang tidak melaksanakan otonomi daerah berdasarkan keputusan Presiden, bahkan Soekarno meleburkan Provinsi Aceh ke dalam Sumatera Utara. Hal ini menyebabkan Daud Bereueh bentuk tentara Islam dan Chiek Lah salah seorang tentaranya.

Tapi Chik Lah menyerah sebelum pasukan Daud Beureueh berhasil dibujuk Pusat untuk menyerahkan diri. Ia lelah berperang. Chik Lah kemudian pensiun sebagai tentara pejuang kemerdekaan dan kembali melanjutkan hidup bersama keluarga di Gampong Limo Mesjid dengan tunjangan pensiun. Chik Lah baru menikah pada 1957 dengan Halimah dari desa yang sama.

Pekerjaan sehari-hari dilakoni Chik Lah sebelum meninggal adalah berkebun dan beternak kambing. Sebanyak 150 orang (termasuk Chik Lah) mendapat penghargaan sebagai anggota cikal bakal TNI pada tahun 1998.

“Dulu kami tidak menginginkan apa-apa kecuali merdeka, melihat kudis, busung lapar. Tidak sempatlah kami berfikir untuk kejayaan diri sendiri, yang kami tahu hanya berbuat untuk negara,” ujar alm Chik Lah, saat saya mewancarainya pada 23 Maret 2013 dan 11 Mei 2014.

Chik Lah juga mengemukakan harapannya agar generasi muda terus mencari sejarah perjuangan orang terdahulu dan memperhatikan nasib para pejuang kemerdekaan. Ia pun berpesan agar generasi muda mempersiapkan diri dengan baik hingga menjadi seorang insan yang didambakan umat untuk menjadi pemimpin yang peduli.[]

*Nita Juniarti berasal dari Aceh Barat Daya. Alumnus Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry. Email: nitajuniarti@rocketmail.com

AMP - Lirih pilu Muslina menggugah nanuri kemanusian siapa saja. Ia harus melewati hari-hari nestapa bersama tiga anak setelah kematian tak wajar Keuchik Mukhlis.

Puluhan warga desa duduk bersila nyaris di sepanjang lantai papan rumah panggung yang kayunya makin tua dan usang. Dari sisi atap pelepah rumbia yang mulai bocor, tampak guratan awan kelabu tengah menudungi gampong. Petang pun tak kalah pudar, sesekali memancarkan semilir, di tengah pendoa yang masih menengadah pada sang pemilik kodrati. Mereka terus berharap ada ketenangan ditiupkan di rumah keluarga yang kini ditimpa malang.

Dalam sedu, perempuan pemilik rumah, Muslina tak kuasa menahan tangis, apalagi saat menatap mata ketiga anaknya yang pilu karena kehilangan sang ayah, bertanya-tanya perihal mair yang datang tanpa disangka. Saat bicara, suaranya agak tertahan-tahan.

“Mana mungkin suami saya bandar narkoba, Anda bisa lihat kondisi rumah kami,” ujar perempuan berusia 32 tahun ini.

Kondisi tempat tinggal mendiang Mukhlis Hadi alias Pokle, memang amat memprihatinkan. Tak seperti bandar narkoba yang kebanyakan hidup bergelimang aset mewah, rumah ini justru terlihat seperti gubuk reyot. Berdiri selama 15 tahun di atas tanah milik orang tua Muslina, tak pernah ada perabotan baru di dalamnya. Setiap dinding papan dari bilik depan, kamar, hingga dapur yang seluruhnya berukuran sekitar 7×10 meter ini tak luput dimakan rayap.

Rumah panggung Mukhlis ini berada di Gampong Blang Rambong, Kecamatan Banda Alam. Desa ini berjarak kurang lebih 15 kilometer dari pusat kota Idi, Aceh Timur. Saat tiba di rumah duka, Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Timur, Basri yang mendampingi Pikiran Merdeka disambut oleh Anwar, adik kandung Mukhlis.

Di hari ke tujuh, suasana rumah sedang ramai-ramainya. Warga menggelar samadiah. Di tengah-tengah mereka juga tampak hadir Tuha Peut Gampong, Zainuddin dan Kepala Dusun, Salmadi.

Beberapa warga kepada Pikiran Merdeka menuturkan, almarhum yang juga menjabat sebagai Keuchik Blang Rambong semasa hidupnya dikenal penyabar dan sangat peduli pada warga gampong.

“Bahkan beliau dengan warga tidak pernah ada selisih paham maupun kendala lainya,” ujar salah seorang warga.

Dalam keseharian, tak terlihat ada gelagat  mencurigakan di diri Mukhlis. Dalam kesehariannya, kadang ia menyambangi Gampong Benteng, desa tetangga sekedar untuk minum kopi. Sesekali ke kantor Kecamatan Banda Alam untuk berkordinasi sehubungan dengan pekerjaannya sebagai keuchik.

“Paling hanya sesekali ke Kota Idi, itupun jika ada keperluan dan ke kantor bupati, sesudah itu suami saya hanya sibuk ke kebun mengurus ladang sawit dan ke sawah,” imbuh Muslina.

Hidup dengan serba kekurangan, Keuchik Mukhlis tetap giat mencari nafkah untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Selain menjadi kepala desa dengan pendapatan yang pas-pasan, ia bekerja sambilan dengan berkebun di ladang sawit.

“Untuk makan saja kami susah. Jika benar apa yang ditudingkan mungkin bukan begini kondisi kehidupan saya, sangat morat-marit,” katanya menahan isak tangis.

Selama belasan tahun Muslina belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. Keringanan hanya datang dari Dayah Darul Huda di Idi Teunong, balai pengajian tradisional setempat, yang bersedia menampung tinggal seorang anaknya yang paling tua.

“Karena dayah itu mau terima anak kurang mampu dan anak yatim piatu, jadi putri saya tingal di dayah, karena kami keluarga kurang mampu. Kalau tidak ditambah dari penghasilan sawit di kebun, mungkin kami tidak makan,” ucapnya.

Peristiwa naas menimpa Keuchik Mukhlis Hadi di hari Jumat, 24 Februari lalu. Usai salat ashar, dari rumahnya ia beranjak pergi mendatangi dua pria yang sebelumnya telah menunggu di sebuah warung kopi di Gampong Seunebok. Setibanya di sana, mereka duduk saling berhadapan.

“Belakangan diketahui kalau mereka (kedua pria) itu adalah anggota polisi,” ujar Perwakilan YARA, Basri kepada Pikiran Merdeka.

Selang beberapa menit mereka mengobrol, dari arah Kota Idi melaju sebuah sepeda motor yang dikendarai dua pria lainnya datang ke arah warung. Kemudian disusul satu mobil minibus, yang di dalamnya ada beberapa anggota polisi.

“Lalu beberapa orang turun, kemudian mereka menghampiri Mukhlis, mereka menodongkan senjata, ia diminta angkat tangan,” kata Basri.

Menurut kesaksian warga yang berada di lokasi,  saat itu Keuchik Mukhlis bangkit dari duduknya dan mengatakan, “Apa salah saya?” Kemudian polisi yang menodong pistol makin lantang memerintah lagi, ”Tiarap kamu!” kata Basri meniru cerita warga yang menyaksikan langsung kejadian itu.

Polisi lalu menyebutkan barang bukti narkoba jenis sabu-sabu yang sudah ada dalam mobil mereka. Masih menurut keterangan warga, lanjut Basri, Mukhlis saat itu masih tenang, namun tidak mau didekati oleh anggota polisi tersebut. Perlahan ia lalu mulai bergerak mundur dan bergeser hingga sampai di belakang kedai.

Dor..Dor! saat itulah tiba-tiba ia ditembak mengenai paha dan bahu kirinya. Mukhlis pun rebah, ia jatuh ke area sawah di belakang warung. Polisi langsung menghampirinya, saat itu pula mereka memperlihatkan sabu yang diambil dari mobil. Melihat keadaan korban yang sekarat, anggota polisi yang lain lalu berkata kepada warga di sekitar warung.

“Bila ada yang bertanya, bilang kami dari Polda ya,” tegasnya.

Mukhlis dilarikan ke Rumah Sakit Graha Bunda, Kota Idi. Sampai di sana, rumah sakit swasta tersebut menyatakan tak sanggup menangani luka parah yang diderita korban. “Akhirnya mereka (polisi) membuat rujukan ke RSU Zainoel Abidin Banda Aceh, namun beberapa jam perjalanan hingga Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara, korban menghembuskan nafas terakhir dalam kondisi tangan masih terborgol,” jelas Basri.

Dalam kondisi yang tak bernyawa lagi, Mukhlis dibawa ke RSUD Cut Meutia, Lhokseumawe, untuk menjalani visum. Di sanalah Muslina pertama kali melihat jasad Mukhlis yang sudah terbujur kaku.

“Perasaan saya tidak tahu seperti apa, sedih, gundah, tidak mengerti, kenapa suami saya ditembak dengan sadis seperti ini,” ucapnya. Tak lama kemudian, polisi menghampirinya, meminta Muslina menandatangani surat keterangan yang menyatakan Mukhlis adalah bandar narkoba.

“Kata polisi pakai bahasa Aceh, nyoe salah suami ibu (ini salah suami ibu), sambil menampakan bungkusan dengan lakban. Nyo atra lakoe loen (Ini punya suami anda). Saya jelas-jelas bantah, nyan atra droe keuh (itu bukan punya suami saya, itu punya kamu). Lalu diminta tandatangani surat bahwa suami saya bandar narkoba, tapi dengan tegas saya tolak,” ungkap Muslina.

Hal serupa disampaikan Anwar, adik kandung Keuchik Mukhlis. Ia membantah jika abangnya disebut bandar narkoba, karena ia yakin Mukhis tidak terlibat sama sekali dalam bisnis barang haram tersebut. Ia merasakan banyak keganjilan dalam tindakan polisi yang menyebabkan kematian Mukhlis.

“Di sana (RS Cut Meutia) polisi meminta keluarga untuk menandatangani surat pernyataan bahwa korban adalah bandar narkoba. Namun kami keluarga tidak mau menandatanganinya, karena saksi mata bilang, tak ada narkoba yang didapati di diri Mukhlis,” ungkap Anwar.

Lagipula, Mukhlis tidak melakukan perlawanan saat digrebek, juga tidak punya senjata yang dapat membahayakan polisi saat itu. “Ini kan dizalimi namanya, tidak ada upaya apapun yang mengancam keselamatan polisi saat kejadian, tapi kenapa ditembak mati?”

Karena itu, YARA berniat mendampingi Muslina sekeluarga untuk meminta keadilan. Ia akan membuat laporan pada Senin (6/03) ke Polda Aceh.

“Tuduhan keuchik bandar sabu, hingga dia tewas ditembak, banyak terjadi kejanggalan. Lantaran banyak keterangan warga yang menyaksikan langsung kejadian itu, dan kita akan laporkan ini ke Polda Aceh,” kata Basri.

Dia menilai, pihak kepolisian menerangkan cerita yang berbeda. Seperti yang tertera di laman resminya, Mukhlis alias Pokle meninggal dunia akibat terkena tembakan oleh petugas Reserse Narkoba Polda Aceh saat akan melakukan penangkapan terhadapnya. Penangkapan itu hasil pengembangan Dit Narkoba Polda Aceh yang sebelumnya telah meringkus tersangka lain di tempat terpisah.

“Namun saat akan dilakukan penangkapan, Mukhlis berusaha lari. Petugas sudah memberikan beberapa kali tembakan peringatan, namun ia terus berusaha meloloskan diri. Akhirnya petugas melumpuhkan Mukhlis dengan menembak bahu sebelah kiri. Usai diterjang timah panas, petugas hendak membawanya ke Rumah Sakit di Banda Aceh, namun baru sampai Kota Lhokseumawe, Mukhlis menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya,” demikian dikutip dari situs tribratanewsaceh.

Sebagai langkah empati, Sabtu (25/02) siang, Wakil Kepala Kepolisian Resor Aceh Timur Kompol Carlie Syahputra Bustamam bersama beberapa sejumlah anggota Polres Aceh Timur, melayat ke rumah duka. “Mewakili pimpinan (Kapolres) dan institusi Polres Aceh Timur, kami turut berduka cita atas peristiwa ini yang mengakibatkan Almarhum meninggal dunia. Semoga semua kesalahanya diampuni oleh Allah SWT. Sedangkan keluarga, terutama istri dan anak-anak, semoga diberikan kekuatan iman, lahir dan batin,” ujar Carlie.

Namun, upaya polisi dirasa tak cukup oleh keluarga korban. Mereka sudah kehilangan kepala keluarga yang selama ini menafkahi keluarga itu dengan susah payah. Karena itu, Muslina memohon penyelesaian seadil-adilnya.

“Mohon diberikan keadilan kepada saya, dengan kondisi saya saat ini bagaimana cara menghidupi dan membesarkan serta sekolahkan anak saya yang masih kecil-kecil ini. Saya tidak bisa menerima kalau suami saya dituduh bandar narkoba,” pungkasnya

Hingga kini, perasaan Muslina kian campur aduk. Ia masih teringat percakapan beberapa hari lalu, saat suaminya pernah berkeluh kesah mengenai kondisi ekonomi mereka yang tertekan.

“Peujeut susah that lon kon na peusangong (kenapa ya kita masih susah walaupun saya ada pesangon sebagai keuchik),” kata Mukhlis di satu malam.

Muslina buru-buru membalas, “Alah hai Bang, koen neu meucap-ucap, neu sembahyang pue neupeugah Bang, (Alahai Abang, bukannya istighfar dan salat, malah berucap seperti itu),” kata Muslina.

Lamat-lamat ia merenungi beban yang pernah dirasakan sang suami, sebelum mereka berpisah. Sesekali Muslina menoleh ke arah anaknya yang duduk di undakan tangga kayu dengan tatapan kosong. Lalu kembali membacakan doa samadiah, memohon pada sang Khalik, hingga senja perlahan menyambut malam ke tujuh kematian Mukhlis.[pikiranmerdeka]

Rutan Bireun dan Karutan Sigli Irfan 
AMP- Di era kolonial belanda maupun jepang orang menyebutnya penjara, yang kemudian bertransformasi menjadi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) atau Rumah Tahanan Negara (Rutan).

Setiap mereka yang melanggar hukum tetap akan memasuki dan merasakan kehidupan didalam lapas sebagai konsekwensi atas setiap perbuatannya yang melanggar hukum.

Disamping sebagai tempat menjadikan efek jera bagi si pelaku kejahataan lapas/rutan juga berfungsi sebagai tempat pembinaan bagi pelaku kriminal,narkoba maupun koruptor agar kelak bila tiba saatnya masa pidananya selesai dapat kembali hidup normal ditengah masyarakat.

Namun tujuan dan fungsi lapas maupun rutan di Aceh jauh panggang dari api,betapa tidak bagi sebagian pimpinan lapas/rutan yang biasa disebut dijajaran Kanwilkumham adalah Kepala Unit Pelaksana Teknis (Ka.UPT) menjadi lahan mengais rezeki,lahan bisnis serta menjadi objek menimbun harta kekayaan.

Berbagai cara dan upaya akan dilakukan oleh seorang kalapas maupun karutan di Aceh untuk dapat mendapatkan uang tambahan di luar gaji pokok maupun kesejahteraan yang telah diberikan oleh negara kepadanya.

Salahsatu contoh,oknum Karutan Sigli Irfan Riandi yang juga mantan Kepala Rutan Bireun,oknum karutan ini nekad memberikan kebebasan ataupun fasilitas tidak perlu menjalani hukuman didalam rutan kepada seorang napi asal yang penting dapat memenuhi permintaannya.

Salahsatu contoh,Milin warga Matang Glumpang Dua,Bireun terpidana 11 tahun penjara dalam kasus narkoba yang tak lain adalah napi bos narkoba yang diduga masih aktif melakukan bisnis haramnya.

Menurut informasi napi bos narkoba ini menyerahkan uang senilai 200 juta sesuai permintaan irfan yang saat itu masih menjabat Karutan bireun,kompensasi yang didapatkan oleh milin yakni tidak lagi menjalani masa pidana didalam rutan,hingga saat serahterima jabatan karutan bireun milin tidak pernah muncul meski namanya masih tercatat sebagai napi penghuni rutan bireun.

Beberapa pekan sebelum oknum karutan irfan dipindah tugaskan menjadi karutan sigli, Zulfikar alias apachek bin Afifuddin teripidana  8 tahun penjara dalam kasus narkoba,tidak jauh berbeda dengan napi sebelumnya. 

Informasi diterima oleh AMP napi ini menyerahkan uang 40 juta kepada oknum karutan bireun,kompensasi yang didapat napi tersebut yakni asimilasi bodong, dimana napi apachek ini dipindahkan ke rutan sigli namun diketahui belakang napi ini turun ditengah jalan hingga kini napi apachek tidak pernah diketahui rimbanya.

“ Saya tahu pasti karena yang serahkan uang untuk pak irfan itu saya,setelah saya berikan uang itu baru dikasih keluar napinya bang “,ujar sumber BPN yang mengaku ikut menyerahkan uang untuk pengeluaran salahsatu napi tersebut,Jum’at (3/3/2017).

Masih banyak lagi napi yang mendapatkan tiket kebebasan dari oknum karutan sigli irfan,berbagai skenario juga dilakonkan atau dimainkan olehnya  jika adanya kebocoran pada publik maupun pimpinannya di Aceh ataupun Jakarta terkait tidak beradanya napi didalam rutan. 

Mulai alasan napi telah dipindahkan ke rutan maupun lapas lainnya di Aceh,asimilasi bodong dengan jaminan seorang anggota polisi ataupun anggota TNI sampai dengan mengembalikan napi tersebut ke rutan yang bermasalah dengan melibatkan oknum pejabat kanwilkumham aceh untuk meyakinkan tidak adanya pelanggaran yang dilakukannya.

Semua skenario yang melibatkan sejumlah pejabat pemasyarakatan di Aceh dan Jakarta oknum karutan irfan tidak segan-segan mengeluarkan sedikit uangnya untuk para pejabat pemasyarakatan di kanwilkumham aceh dan Jakarta yang mau membantu menutupi pelanggaran ataupun kesalahan dirinya.

Tak sedikit tim kanwilkumham Aceh dan tim dari jakarta yang datang untuk melakukan pemeriksaan atas pelanggaran yang dilakukannya,dirinya mampu menyelesaikannya tanpa mendapat sanksi apapun dari pimpinan kemenkumha maupun Ditjen PAS Jakarta.

Dari hasil laporan serta penelusuran yang dilakukan oleh BPN,dalam rentan waktu sejak irfan menjabat karutan bireun sebanyak 20 orang napi raib dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Bukan saja di bireun, saat ketika menjabat kepala rutan sigli,hal yang sama juga dirinya praktekkan namun hingga saat ini tidak satupun dari pimpinan kemenkumham yang memberikan sanksi kepada oknum karutan sigli ini.

M. Nazar bin Jafar terpidana 10 tahun dalam kasus  narkoba  salahsatu napi pindahan dari lapas pulau jawa yang  saat ini tercatat sebagai napi rutan sigli dimana rutan sigli saat ini dipimpin oleh irfan.

Napi M. Nazar bersama belasan napi lainnya diketahui tidak berada didalam rutan sigli sejak sebulan belakangan ini,. 

Menurut informasi,napi m.nazar dipindahkan ke rutan sigli pada Senin 23 Januari 2017 hanya berada dua hari menjalani hukuman di rutan sigli,hari ketiga hingga hari ini napi m. Nazar tidak pernah lagi terlihat didalam rutan sigli.

“ Banyak bang napi tidak ada didalam rutan sigli,semenjak pak irfan jadi karutan sigli gampang keluar ataupun mau pulang,yang penting ada uang,disini ada napi pindahan dari jawa nazar Cuma dua hari didalam,sekarang tidak pernah masuk lagi kedalam “,ungkap salahsatu napi rutan sigli yang ditemui oleh AMP sedang berada disalahsatu warung di kota sigli,Sabtu (4/3/2017).

Hingga berita ini di lansir pihak Kanwilkumham Aceh maupun Kemenkumham Jakarta belum melakukan pemeriksaan dan memberi tindakan tegas kepada oknum karutan sigli atas semua pelanggaran yang telah diperbuatnya sejak menjadi karutan bireun hingga menjabat karutan sigli,Pidie.

Berikut daftar nama-nama napi yang raib dirutan bireun saat kepala rutan dijabat oleh irfan,diduga semua napi yang menghilang dari rutan ini rata-rata telah memberikan uang mulai puluhan hingga ratusan juta kepada irfan yang kala itu kepala rutan bireun.

1.Milin bin Anwar kasus Narkoba Hukuman 11 Tahun Bebas 23 Januari 2019.

2.Ridwan bin Abubakar kasus Narkoba Hukuman 6 tahun

3.Supriadi bin Yunus kasus narkoba hukuman 6 tahun bebas juli 2019.

4.Zulfikar bin Afifuddin kasus narkoba hukuman 8 tahun bebas 18 juli 2024.

5.Safriadi bin Abdullah kasus narkoba hukuman 6 tahun bebas 16 mei 2022.

6.M. Saladin Akbar kasus Korupsihukuman 4 tahun bebas oktober 2019.

7.Munir bin Yusuf kasus Korupsi hukuman 1 tahun bebas september 2017.

8. Nurdin kasus korupsi,terakhir di informasikan telah dipindahkan ke rutan sigli. (TSA)
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget