Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Mohammad Roem"

Bedug sebagai alat komunikasi ibadah | Sumber: Tropenmuseum
| Oleh Ridwan Hd. |

Beberapa hari sebelum masuk puasa Ramadhan di tahun 1950, Mohmmad Roem menelpon Mohammad Natsir. Tokoh yang populer dari Perjanjian Roem - Royen ini ingin menanyakan waktu mulai berpuasa. Sebagai pengikut Ru�yatul Hilal, Roem biasa mengikuti suara bedug sebagai informasi telah masuk bulan puasa ataupun menanti hari lebaran. Tetapi, sejak tinggal di daerah Merdeka Barat, Jakarta, karena sebagai pejabat negara dan tidak hidup dilingkungan perkampungan lagi, suara bedug jarang terdengar. Teman-teman dilingkungannya juga lebih banyak mengikuti metode hisab.

Natsir menjawab bahwa puasa akan masuk dua hari lagi. Mendengar jawaban itu, lekas Roem mengatakan kepada istirnya, �Kita lusa mulai puasa.�

�Bagaimana kau tahu?� tanya istri Roem yang dijawabnya kalau tahu dari Natsir. �Dari bedug sampai ke Natsir. Sayang tidak dua puluh tahun lebih dulu kau telpon Natsir.� kata istrinya lanjut. �Kenapa komentar kau begitu?� balas Roem.

�Saya tidak perlu lagi bikin ketupat dengan mendadak.� ucap istri Roem yang dikisahkannya di buku Bunga Rampai Sejarah jilid 2.

Sekitar tahun 1930 hingga 1940an, Roem tinggal di wilayah yang ramai dengan suara bedug. Suara bedug memiliki peranan penting dalam informasi waktu-waktu masuknya kegiatan ibadah, seperti masuk waktu sholat, hingga bedug sebagai informasi munculnya hilal ketika masuk Ramadhan atau Syawal.

Bagi penganut Ru�yatul Hilal seperti Roem, malam hari ke 29 Ramadhan adalah hari yang mendebarkan, �apakah esok hari kita sudah berlebaran, atau harus mencukupkan puasa tiga puluh hari.� tulisnya.

Kadang-kadang isyarat bedug itu datangnya terlambat. Susasana sudah tenang, dapur sudah gelap, dan orang-orang sudah akan beristirahat, tiba-tiba suara bedug terdengar kalau besok lebaran. Para ibu tiba-tiba langsung sibuk. Warung yang tadinya sudah tutup, dibuka lagi. Dapur kembali mengepul. Suara takbiran di masjid juga terdengar semalaman. Kalau suara bedug tidak terdengar, maka artinya besok masih berpuasa satu hari lagi.

Berbeda dengan para pengikut Muhammadiyah yang menggunakan hisab, mereka tak perlu bergantung keputusan lebarannya kepada bedug. Maka sering kali adanya perbedaan hari pertama puasa atau lebaran antara pengikut Ru�yatul Hilal yang notabene dari kalangan tradisional, dan pengikut hisab yang kebanyakan orang Muhammadiyah.

"Begitulah penulis di tahun 1950 beralih dari pengikut ru'yat menjadi pengikut hisab, dan penulis tidak merasa murtad." tulis Roem kemudian. Inilah sebab istri Roem sampai berkomentar: "tidak dua puluh tahun lebih dulu kau telpon Natsir."

Mengapa Kita Tidak Dapat Bersatu?
Pernah suatu kali sekitar 1930an, Roem berdiskusi dengan kawannyanya dari Muahmmadiyah yang baru saja selesai Sholat Ied Idul Fitri. Roem yang masih berpuasa mengucapkan, �Selamat Hari Raya Idul Fitri�.

�Terimakasih.� balas kawan Roem yang tidak disebutkan namanya dalam tulisannya itu. �Besok saya akan mengucapkan yang sama kepada saudara.�

Roem yang masih berpuasa berkomentar, �Kalau begitu puasa saya haram karena hari ini sudah bulan baru.�

�Tidak begitu,� kata kawannya, �Kalau saya masih berpuasa maka haramlah puasa saya karena saya menganut paham hisab. Bagi saudara larangan itu besok berlaku. Ini haru saudara masih wajib berpuasa.�

�Dengan tafsiran itu ajaran menjadi terang, berhubung dengan adanya kemungkinan perbedaan jatuhnya bulan baru.� kata Roem.

Kawannya itu menanggapi, �Begitulah. Soalnya bukan menentukan bulan baru semata-mata. Berpuasa bulan Ramadhan tidak selamanya 30 hari, sedang agama membolehkan kita menentukan bulan Ramadhan itu, baik secara Ru�yat maupun hisab.�

�Mengapa kita tidak dapat bersatu?� tanya Roem.

�Bersatu yang bagaimana?� kawannya itu lalu menjelaskan panjang, �Yang begini ini tidak terjadi tiap tahun. Sering penetapan dengan 2 cara itu sama hasilnya. Tapi kalau hasilnya berlainan, itu hanya hari yang ke 30. Dan kita sudah bersatu 29 hari lamanya. Pengikut Ru�yat dan hisab bersatu menjalankan ibadah puasa berdasarkan syariat yang sama. Hanya satu hari yang tidak sama, karena apa? Karena Agama Islam memberikan kebebasan kepada umatnya untuk memilih diantara dua cara itu. Puasa tidak selamanya 30 hari. Nabi sendiri berpuasa lebih banyak jumlah bulan yang ke 29 hari daripada yang 30 hari. Yang kita berbeda itu pada hari ke 30. Dan berpesta serta sembahyang Id sunnah, sedang berpuasa wajib. Mengapa kita lebih suka melihat adanya perpecahan? Mengapa tidak seperti yang dikatakan Nabi, bahwa perbedaan paham itu rahmat Tuhan.�

�Tidak dapat dipersatukan?�
�Perbedaan paham itu sudah berjalan berabad-abad.�

Masalah perbedaan hari lebaran itu juga, dalam tulisan Roem ini, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan kebijakan libur lebaran dua hari. Tujuannya, agar ketika terjadi perbedaan hari lebaran, kedua penganut ru�yat dan hisab bisa mendapatkan libur.[]

Mohammad Roem di Konfrensi Inter Indonesia pada 1949 di Jogjakarta | sumber: media-kitlv.nl
| Oleh Ridwan Hd. |

Masa perploncoan siswa baru di asrama School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) pada 1924 sedang berlangsung. Secara tiba-tiba, para senior dari perkumpulan Jong Sumatera masuk ke ruang  tidur para siswa baru. Mereka langsung mendata dan mencatat nama-nama yang tertulis di lemari. �Kamu jadi anggota Jong Sumatra, ya!� paksa salah seorang Senior itu kepada Mohammad Roem. �Kontribusi setalen sebulan. Kamu tidak usah bayar sendiri, akan dipotong di kantor.� lanjutnya tanpa sela dan persetujuan.

�Habis perkara!� ungkap Roem dalam hati. Roem tidak bisa berbuat apa-apa atas tindakan paksa mereka.

Senior itu datang kembali keesokan harinya. Lalu marah-marah kepada Roem, �Kamu bohong! Kamu orang Jawa, tidak boleh jadi anggota Jong Sumatera.�

�Tuan yang (kemarin) ngomong sendiri!� balas Roem. Seniornya kemarin memang tidak menanyakan asalnya. Langsung main catat saja. �Saya sudah keliru. Mengapa kamu orang Jawa namanya tidak berakhir dengan O.� kata senior itu masih marah. Belum dijawab oleh Roem, si senior langsung pergi.

Perilaku para senior Roem di STOVIA merupakan salah satu kesibukan pertama di asrama. Mereka adalah para propagandis dari organisasi kepemudaan untuk merekrut anggota baru. �Karena kami masih berstatus plonco, maka propaganda itu tidak berlangsung dengan kata-kata yang lemah lembut.� cerita Roem tentang pengalamannya sekolah di STOVIA pada buku Bunga Rampai dari Sejarah jilid 2.

Aktivtas pemuda STOVIA memang cukup dinamis. Masih banyak waktu tersisa di luar jam berlajar membuat perkumpulan-perkumpulan pemuda itu hidup dengan subur. Mulai dari klub berdasarkan minat hobi seperti senam, main catur, kepanduan, joged Jawa, dan berbagai perkumpulan pemuda daerah. Perkumpulan-perkumpulan seperti Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Celebes, dan Jong-jong lainnya mempunyai komisariat di STOVIA. Setiap anak yang tergabung di perkumpulan harus membayar iuran. Iuran di potong dari uang saku yang berasal dari beasiswa pemerintah. Sejak 1924, atau tahun pertama belajar di STOVIA, Roem sudah aktif di kegiatan Jong Java.

Roem bercerita bahwa STOVIA tempatnya belajar ilmu kedokteran banyak melahirkan tokoh-tokoh pergerakan. Diantaranya yang terkenal adalah dr. Sutomo pediri Boedi Oetomo pada 1908. Dengan begitu, ada rasa kebanggaan tersendiri bisa mengenyam pendidikan di sekolah yang banyak melahirkan tokoh pergerakan.

Ia sendiri masuk STOVIA pada 1924. Teman-temannya se-asrama dari berbagai daerah, seperti Padang, Tapanuli, Makassar, Gorontalo, Bali, dan lain-lain. Meski mereka bersekolah bersama, dalam aktivitas organisasi kepemudaan mereka masih tersekat semangat kebangsaan daerah.

Roem juga bercerita tentang pengalaman menariknya ketika mulai berteman dengan Bustami yang berasal dari Sumatera. Pada hari bertama bersekolah mereka berjanji berangkat bersama dari asrama ke gedung sekolah yang ada di Salemba, Batavia. Sebelum tiba di gedung sekolah mereka mampir dahulu untuk sarapan. Di sini Roem heran, setahu Roem rumah makan yang ada bernama Langen Siswo, tetapi Bustami memilih tempat lain, sebuah rumah makan yang bernama Sumatraas Commensalenhuis. Roem baru sadar, untuk anak-anak Jawa makannya di warung Langen Siswo, sedangkan anak-anak Sumatera memilih Sumatraas Commensalenhuis.

Mereka belajar bersama-sama, tidur di asrama bersama-sama, tetapi makan ditempat berlainan membuat perasaan Roem heran. Lalu ia bertanya kepada Bustami soal tersebut. Di jawab saja oleh Bustami, �Kau akan kepedasan kalau makan  rendang Padang,� kemudian Roem menimpali, �Kau akan keenakan kalau makan gudeg.� Namun rupanya, Roem justru suka dengan masakan Padang, begitu juga dengan Bustami yang ketagihan Gudeg. Seolah dalam cerita Roem ini, makanan bisa menjalin persatuan bangsa meski saat itu masih terpisah oleh sekat-sekat kebanggan daerah.

Saat Jong Islamieten Bond (JIB) berdiri di awal tahun 1925, Roem juga ikut bergabung. Tak ada penjelasan alasannya ikut bergabung di JIB. Namun, ia pernah terkesan dengan pidato salah seorang seniornya di STOVIA, yakni Kasman Singodimedjo.  Ketika itu Kasman adalah pimpinan JIB cabang Batavia. Yang membuatnya berkesan dengan JIB adalah saat Kasman mengucapkan bahwa sebagai golongan terpelajar ada tanggung jawab untuk mengangkat rakyat dari keterbelakangan. Selama ini masih ada sekat-sekat pemisah antara golongan terdidik dengan rakyat jelata. �Kita harus kembali kepada rakyat!� tegas Kasman. Karena sebagian besar rakyat beragama Islam, maka kalangan intelektual harus mengenal agama Islam yang tidak diajarkan di sekolah. Dengan begitu bisa lebih dekat dengan rakyat.

Di JIB Roem melihat tidak ada sekat-sekat daerah. Semua anak dari berbagai daerah bisa bergabung dalam organisasi yang sama. Yang membedakan, JIB hanya menerima anggota beragama Islam. Hubungan persahabatan antara  dirinya dengan Bustami, yang juga ikut bergabung di JIB, justru semakin erat karena bisa bekerja bersama di JIB. Tidak seperti organisasi perkumpulan pemuda sebelumnya yang memisahkan mereka karena perbedaan daerah asal.

Pada 1926 terjadi perubahanan kebijakan pendidikan pada STOVIA yang ditingkatkan statusnya menjadi perguruan tinggi dengan perubahan nama menjadi Geneeskundige Hoge school (HGS). Bagi siswa yang berada di kelas 1 dan 2 STOVIA karena setingkat dengan pendidikan AMS, maka diperkenanan untuk bersekolah di AMS afdeling B atau AMS Batavia. Sedangkan pada tingkat di atasnya bisa langsung melanjutkan di HGS. Roem yang berada di tingat satu dan dua harus memilih sekolah AMS. Setelah lulus AMS ia tidak melanjutkan ke HGS, tetapi justru memilih Rechts Hoge School(RHS), sehingga tidak menjadi dokter tetapi mendapat gelar Mr. (Misteer atau Sarjana Hukum).

Mendapat pendidikan di sekolah Belanda hingga ke jenjang yang tinggi tak membuat Roem dan sebagian kawan-kawannya aktivis pergerakan bersikap inlander. Aktif di organisasi kepemudaan bukan saja wadah aktulisasi diri tetapi juga membangun semangat kesadaran untuk membangun bangsanya. Seperti yang dikatakan Roem di dalam buku Mohamad Roem 70 Tahun, �Di dalam pergerakan Jong Java dan JIB itu kami semua umumnya sudah menyadari bahwa dengan berorganisasi kami kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa di kemudian hari. Waktu itu kaum terpelajar bangsa kita menyadari, bahwa mereka mendapat kesempatan maju, sehingga harus mempunyai tekad untuk memimpin bangsanya yang masih sangat ketinggalan di segala bidang kehidupan.�

Keaktifan di organisasi ini kemudian mengantarkan Roem menjadi salah satu tokoh penting di awal Republik berdiri. 
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget