Halloween Costume ideas 2015
Articles by "tokoh sepanjang masa"

Ali Hasymi berbincang dengan Syamaun Gaharu
Pada masa awal kemerdekaan hingga tahun 1950-an Aceh kembali terpuruk akibat konflik dan perang. Ekonomi masyarakat anjlok. Aceh benar-benar menderita akibat perang.
Namun, di atas reruntuhan itu Aceh harus dibangun kembali dengan segala daya upaya. Rakyat digerakkan untuk bangkit menggarap kembali sawah-sawah yang terlantar, sekolah-sekolah rakyat juga dibuka untuk memberi kesempatan memperoleh pendidikan bagi generasi muda.

Aceh pada masa itu benar-benar Aceh yang mencoba mendobrak sunyi. Pasar-pasar yang sepi coba dihidupkan kembali dengan berbagai komoditi hasil kebun rakyat. Itu juga tidak mudah, transportasi antar daerah banyak yang putus, rel-rel kereta api dibongkar, sepanjang jalan yang lazim terlihat pada masa itu adalah rumah-rumah yang terbakar akibat konflik dan perang. Aceh benar-benar sedang redup.

Begitulah gambaran Ali Hasjmy dalam Semangat Merdeka. Membangun Aceh yang seperti itu diakuinya sebagai pekerjaan besar untuk membuat Aceh kembali bergairah. Ketika dilantik menjadi Gubernur Aceh pada 27 Januari 1957, Ali Hasjmy menyebut Aceh seakan sebagai bumi yang sudah tidak lagi disinari matahari dan langitnya seperti sudah tak berbintang. Ia juga membuat tamsilan Aceh sebagai suatu warisan dari masa lampau yang suram.

Setelah dilantik menjadi gubernur, kenyataan pahit pertama yang harus dihadapi Ali Hasjmy adalah tidak adanya kantor. Sementara kantor residen harus dibagi dua, sebagian untuk kantor Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, sebagian untuk provinsi. Meski demikian, langkah-langkah percepatan pembangunan Aceh harus terus dilakukan. Gubernur akhirnya menggunakan sebuah ruangan di pendopo untuk kantornya.

Untuk menopang pembangunan Provinsi Aceh yang rusak itu, pemerintah pusat hanya memberikan dana Rp 25 juta. Sebagian dana itu kemudian digunakan Ali Hasjmy untuk membeli tanah di Jalan Teuku Nyak Arif sekarang. Di atas tanah yang dibeli seharga Rp 2.225.000 itu didirikan kantor gubernur dan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), itu pun hanya semi permanen. Antara Gubernur dan DPRD berkantor seatap di gedung tersebut, yakni gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) sekarang.

Di atas tanah yang baru dibeli itu, selain dibangun gedung DPRD dan kantor gubernur, juga didirikan kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Kantor Direktorat Djenderal Sosial Politik, Kantor Keuangan Daerah, Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Pajak Negara, Kantor Pos, Kantor Dinas Kehutanan Pertanian dan Perikanan. Gedung-gedung semi permanen yang dibangun pada tahun 1957 itu kini tidak ada lagi, semua sudah dibongkar diganti dengan gedung-gedung baru.

Dengan anggaran daerah yang hanya Rp 25 juta itu, Pemerintah Aceh juga harus membangun rumah-rumah bagi pegawai negeri yang dipindahkan kembali dari Medan, karena sebelumnya Provinsi Aceh dileburkan ke Provinsi Sumatera Utara dan semua kegiatan pemerintahan dilakukan di Medan. Hal yang kemudian membuat Aceh memberontak menuntut otonomi tersendiri. Perang yang digelorakan di Aceh menuntut hak dari Jakarta memang membuat pemerintah pusat mengembalikan Provinsi Aceh, tapi Aceh yang dikembalikan adalah Aceh yang porak-poranda. Aceh yang disebut Ali Hasjmy sebagai warisan yang suram.

Otonomi Aceh yang diberikan setahun sebelumnya melalui Undang-undang No.24 tahun 1956 sama sekali tidak berjalan. Mr SM Amin dalam artikel Sejenak Meninjau Aceh Serambi Mekkah yang dibukukan dalam Bunga Rampai Tentang Aceh 9 mengungkapkan, otonomi Aceh yang salah satunya soal pemberlakukan syariat Islam belum bisa dijalankan sepenuhnya karena perubahan konstilasi politik nasional. Kabinet Perdana Menteri Mr Burhanuddin Harahap yang tidak sampai berumur delapan bulan, diganti oleh Kabinet Perdana Menteri Mr Ali Sastroamijoyo.

Hak Aceh untuk mengatur diri sendiri kemudian diperbaharui lagi setelah terjadinya pemberontakan DI/TII di Aceh tiga tahun kemudian. Abu Beureueh berhasil diajak untuk berunding dan menyelesaikan persoalan Aceh secara damai melalui misi Perdana Menteri Mr Hardi yang mengeluarkan Ketetapan Perdana Menteri No.1/Missi/1959. Nama Provinsi Aceh diubah menjadi daerah otonomi dengan sebutan Daerah Istimewa Aceh dengan otonomi seluas-luasnya, terutama dalam bidang agama, adat istiadat dan pendidikan.

Pada 27 September 1961 DPRR-GR Daerah Istimewa Aceh membentuk panitia khusus urusan otonomi daerah10. Panitia ini bertugas membuat perincian pengisian otonomi yang luas dalam bidang pendidikan, adat, dan agama sebagaimana yang dimaksud oleh Ketetapan Perdana Menteri No.1/Missi/1959. Panitia ini terdiri dari: H Sjamaun sebagai ketua, Tgk Muhammad Saleh sebagai wakil ketua, Drs Marzuki Nyakman sebagai sekretaris, serta T Sulaiman Mahmud dan Nurdin Sufi sebagai anggota.

Pada Juni 1962, Wakil Gubernur Aceh Letnan Kolonel AM Namploh berangkat ke Jakarta menjumpai Menteri Dalam Negeri Ipik Gandamana untuk memperjuangkan hak-hak otonomi Aceh seluas-luasnya. Hal yang sama dilakukan oleh eksekutif dan legislatif Aceh yang pada 20 Agustus 1962, Gubernur Ali Hasjmy bersama DPRD-GR Aceh bersidang dan melahirkan Resolusi No.B-7/3/DPR-GR/1962. Resolusi dari Musyawarah Pemerintah Daerah Istimewa Aceh ini menuntut pemerintah pusat untuk melaksanakan ide yang terkandung dalam Ketetapan Perdana Menteri No.1/Missi/1959 tentang otonomi Aceh seluas-luasnya.

Dalam kondisi yang serba minim waktu itu, Aceh terus berusaha berbenah untuk bangkit. Tanpa harus menunggu persetujuan pemerintah pusat terhadap implementasi otonomi, Penguasa Darurat Perang Daerah (Peperda) Aceh Kolonel M Yasin mengeluarkan Keputusan Peperda No.KPTS/PEPERDA-061/3/1962 tanggal 7 April 1962. Ia memutuskan agar otonomi Aceh dilaksanakan dengan aturan yang sudah ada tanpa harus menunggu peraturan baru dari pemerintah pusat.

Empat bulan kemudian keluar Pernyataan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh No.B-7/1/DPRD-GR/1962 yang menyatakan bahwa Aceh akan melaksanakan unsur-unsur Syariat Islam bagi pemeluknya sesuai seperti prinsip-prinsip yang terkandung dalam Keputusan Peperda No.KPTS/PEPERDA-061/3/1962.[Iskandar Norman]




Tak ada syeh seudati yang mampu mengalahkan rekor penonton konser raja dang dut Rhoma Irama di Aceh, selain duel dua maestro seudati Syeh Lah Geunta dan Syeh Lah Banguna pada 1980-an di Stadion Kuta Asan, Sigli.

Itu lah sepenggal kenangan yang masih tersisa di benak masyarakat Aceh tentang Syeh Lah Geunta. Namanya sejajar dengan pendahulunya  Syeh Nek Rasyid dan Syeh Rih Krueng Raya.
 
Syeh Lah Geunta I Repro Serambi Indonesia
Hentakan kaki dan tepukan dada dan gemulai ketip jari Syeh Lah Geunta tidak hanya membahana di Aceh, tapi menembus batas benua. Pada tahun 1990-an, para penari seudati ternama di Aceh dikumpulkan dalam satu group, mereka adalah Syeh Lah Geunta, abang adik Syeh Lah Banguna dan Syeh Rih Muda Meureudu, T Abu Bakar, Syeh Jafar, Syeh Muktar, Alamsyah, Marzuki dan Nurdin Daud.

Dua nama terakhir merupakan dosen dan koreografer tari seudati di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Marzuki merupakan pengajar  seudati dan kesenian Aceh lainnya di IKJ, sementara Nurdin Daud, koreografer tarian massal saat Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional di Aceh tahun 1980.

Dalam kelompok seudati itu Syeh Lah Geunta bertindak sebagai syeh, sementara  Syeh Lah Bangunan dan Marzuki bertindak sebagai aneuk syahi (vokal-red) yang membawakan syair-syair seudati yang menghentak, yang lainnya bertindak sebagai penari.

Di Amerika mereka main seudati di sepuluh negara bagian. Mulai dari San Fransico, Atlanta, Iowa, sampai acara puncak di New York. Di setiap negara bagian mereka melakukan pertunjukan tiga malam, kecuali pada acara puncak di New York sepuluh malam.

Setelah pertunjukan usai, penonton tidak berhenti bertepuk tangan, layar yang sudah diturunkan, dinaikkan kembali sampai tiga kali. Mereka terkesima, melihat irama rap dalam syair seudati. Mereka geleng geleng kepala, tak habis pikir ketika ketip jari, tepuk dada dan hentak kaki, jadi irama syair seudati yang begitu cepat nada dan hentakannya.

Tahun 1992, mereka juga melakukan pertunjukan di Spanyol selama 20 hari pada acara Expo dunia di Kota Sevilla. Tahun 1994 melakukan pertunjukan di Belanda selama 22 hari. Pulang dari sana berulang kali melakukan pertunjukan di negara-negara ASEAN.

Kini sang maestro itu telah pergi dengan secercah rasa di benak pecinta seudati. Bagaimana pun Syeh Lah Geunta telah berbuat untuk mengharumkan nama Aceh melalui seudati. Ia telah menyusul Syeh Lah Banguna dan Syeh Rih Muda Meureudu yang juga telah pergi sebelumnya. Selamat jalan maestro. [Iskandar Norman]




Wanita Aceh dalam setiap perang menolak setiap perdamaian dan lebih berwatak keras dengan berprinsip membunuh atau dibunuh �  Zentgraaff

Apa yang dikatakan HC Zentgraaff itu bukanlah tanpa alasan. Jurnalis perang itu mengalami dan melihat sendiri bagaimana perempuan Aceh mengambil perannya dalam perang melawan Belanda. Redaktur Java Bode itu kemudian membukukan pengalaman perangnya di Aceh dalam buku �Atjeh�.

Buku ini kemudian dianggap sebagai gondam yang memukul muka Belanda sendiri, menelanjangi kegagalan Belanda di Aceh. Zentgraaff tak segan-segan mencela bangsanya sendiri yang bertindak kejam dalam memerangi orang-orang Aceh. Ia juga dengan rendah hati memuji kehebatan pejuang Aceh, bukan hanya pria tapi juga wanita.

Zentrgaaff menulis, De atjehschevrouw, fier en depper, was de verpersoonlijking van den bittersten haat jegens ons, en van de uiterste onverzoenlijkheid an als zij medestreed, dan deed zij dit met een energie en doodsverachting welke veelal die der mennen overtroffen. Zij was de draagster van een haat die brandde tot den rand van het graf en nog in het aangezicht van den dood spuwde zij hem, den kaphe in het geizcht.�

Artinya, �Wanita Aceh  gagah dan berani mereka pendukung yang tidak mungkin didamaikan, terhadap kita dan bila ia turut serta bertempur, dilakukannya dengan gigih dan mengagumkan, bersikap tidak takut mati yang melebihi kaum pria. Ia mempunyai rasa benci yang menyala-nyala sampai liang kubur dan sampai saat menghadapi maut, ia masih mampu meludahi muka si kaphe.�

Menurut Zentgraaff, wanita Aceh dalam setiap perang menolak setiap perdamaian dan lebih berwatak keras dengan berprinsip membunuh atau dibunuh. Pujian Zentgraaff terhadap wanita Aceh muncul setelah ia menemui Pucut Meurah Intan yang dikenal sebagai Pocut Di Biheue, seorang wanita pemberani yang menyerang patroli Belanda seorang diri di Padang Tiji.  Ia digelar oleh Belanda sebagai heldhftig yakni perempuan yang gagah berani.

Dalam buku Prominent Women in The Glimpse of History (Wanita-wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah) peristiwa itu ditulis T Ibrahim Alfian dengan juga merujuk pada keterangan Zentgraaff dan sumber-sumber Belanda lainnya.

Suatu ketika keberadaan Pocut Di Biheue diketahui Belanda. Ia berhadapan seorang diri dengan patroli 18 marsose bersenjata lengkap. Pocut di Biheue biukannya mundur, ia mencabut rencong dari pinggangnya, menyerang patroli itu seorang diri. �Meunyoe ka lageei nyoe, bah ulon mate,� teriaknya.

Pocut Di Biheue memilih menyerang patroli itu dari pada ditangkap. Melihat itu, tentara marsose terkejut. Mereka tak menyangka, seorang perempuan paruh baya berani menyerang patroli 18 tentara Belanda lengkap dengan senjata. Ia menikam ke kiri dan ke kanan sehingga mengenai tubuh beberapa marsose. Sementara tubuhnya sendiri juga ditebas dengan sabetan pedang marsose.

Pocut Di Biheue mengalami dua luka sabetan pedang di kepalanya dan dua sabetan di bahu. Salah satu urat keningnya juga putus. Ia terbaring di tanah bersimbah darah dan lumpur. Melihat Pocur Di Biheue yang sudah tak berdaya, seorang sersan bertanya pada Veltman komandannya. Ia minta ijin untuk mengakhiri penderitaan Pocut Di Biheue, ia ingin menembaknya hingga meninggal. �Bolehkan saya melepaskan tembakan pelepas nyawa?� tanya sersan itu.

Veltman kemudian membentak sersan tersebut. �Apa kau sudah gila.� Veltman  membungkuk dan menjulurkan tangannya untuk membantu Pocut Di Biheue, tapi mukanya diludahi, �Bek kamat kei kaphe,� kata Pocut Di Biheue sambil setelah meludah wajah Veltman.

Perwira Belanda yang bisa berbahasa Aceh itu kemudian meniggalkan Pocut Di Biheue seorang diri. Veltman ingin agar Pocut Di Biheue yang sekarat itu meninggal bisa menghembus nafasnya di hadapan bangsanya sendiri.  Namun dugaan Veltman meleset. Beberapa hari setelah kejadian itu, Veltman bersama pasukannya kembali patroli ke kawasan Keude Biheue, antara Sigli dan Padang Tiji. Ia bukan saja mendengar bahwa Pocut Di Biheue masih hidup, tapi juga berencana untuk kembali menyerang patroli Belanda.

Veltman kagum dengan keberanian Pocut Di Biheue, karena itu ia membawa seorang dokter bersamanya ketika menjenguk Pocut Di Biheue dalam masa penyembuhan di kediamannya.

Ketika Veltman sampai, Pocut Di Biheue masih sangat lemah akibat banyak kehilangan darah. Tubuhnya menggigil, ia mengerang kesakitan. Meski begitu, ia tetap menolak bantuan dokter yang dibawa Veltman untuk merawatnya. �Jangan kau sentuh aku, lebih baik aku mati dari pada tubuhku dipegang kaphe,� katanya.

Veltman yang fasih berbahasa Aceh terus membujuk Pocut Di Biheue agar mau diobati. Akhirnya ia menerima juga bantuan dokter itu, tapi tentara pribumi dari pasukan marsose pimpinanVeltman yang mengobatinya. Ia tidak mau tubuhnya dipegang oleh Belanda.

Berita tentang Pocut Di Biheue akhirnya sampai kepada Scheuer, komandan militer Belanda. Ia menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan perempan yang dinilainya sangat luar biasa itu.

Ketika Scheuer sampai ke kediaman Pocut Di Biheue, wanita gagah perkasa itu belum sembuh betul. Di hadapan Pocut Di Biheue, Scheuer, komandan militer Belanda itu mengambil sikap sebagai seorang prajurit. Ia mengangkat tabik tanda hormat dengan meletakkan ujung jari-jarinya di ujung topi petnya. �Katakan padanya, bahwa saya sangat kagum padanya,� kata Scheuer pada Veltmant.
 
Makam Pocut Di Biheu di Blora, Jawa Tengah
Veltman pun menterjemahkan apa yang dikatakan Scheuer terhadap Pocut Di Biheue itu. Pocut Di Biheue yang sudah kelihatan kurus pun tersenyum. �Kaphe ini boleh juga,� katanya. Setelah sembuh, Pocut Di Biheue kemudian diasingkan ke Blora, Jawa Tengah. Belanda takut Pocut Di Biheue kembali memimpin masyarakatnya untuk melawan Belanda.

Kemudian ada lagi kisah keuletan Pocut Baren, yang kakinya harus diamputasi. Suatu ketika pasukan Belanda yang dipimpin Letnan Hoogres menyerang benteng Gunong Macan. Mereka menggempur benteng pertahanan Pocut Baren dengan dahsyat. Pocut Baren bersama pasukannya melakukan perlawan yang sengit. Dalam pertempuran itu, kaki Pocut Baren tertembak dengan luka yang cukup parah. Karena luka itulah, ia ditawan oleh Belanda dan dibawa ke Meulaboh sebagai tawanan lalu dibawa ke Kutaraja untuk pengobatan.

Luka kakinya bertambah parah, hingga tak dapat diobati lagi. Tim dokter yang merawatnya terpaksa melakukan amputasi; kaki Pocut Baren dipotong. Selama di Kutaraja Pocut Baren diperlakukan sebagaimana layaknya tawanan perang dan seorang Uleebalang. Masa-masa di Kutaraja merupakan masa penantian yang sangat panjang, masa penantian keputusan hukuman yang akan dijatuhkan Belanda terhadapnya.

Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh, Van Daalen memutuskan hukuman buang ke Pulau Jawa terhadap wanita perkasa ini. Mendengar putusan itu,  seorang perwira penghubung Belanda, T J Veltman, menyampaikan saran kepada Van Daalen agar Pocut Baren tidak dibuang ke Pulau Jawa, melainkan dikembalikan ke daerahnya untuk melanjutkan kembali kepemimpinannya sebagai Uleebalang. Saran Veltman itu diterima oleh Van Daalen.

Doup seorang penulis Belanda dalam buku Gadenk Book va Het Korps Marechaussee mengungkapkan, Pocut Baren merupakan wanita yang diburu secara khusus oleh Belanda. Para pemimpin patroli pemburu Pocut Baren adalah tokoh-tokoh Belanda terkemuka dan terkenal amat berpengalaman dalam peperangan. �Hal ini menunjukkan bahwa wanita itu memang dianggap sebagai lawan tangguh,� tulis Doup.

Doup mencatat nama-nama perwira Belanda yang pernah pemimpin pasukan pemburu Pocut Baren, mereka antara lain adalah Kapten TJ Veltman, Kapten A Geersema Beckerrigh, Kapten F Daarlang, Letnan JHC Vastenon, Letnan OO Brewer, Letnan W Hoogers, Letnan AH Beanewitz, Letnan HJ Kniper, Letnan CA Reumpol, Letnan Wvd Vlerk, Letnan WL Kramers, Letnan H Scheurleer, Letnan Romswinkel, Sersan Duyts, Sersan De Jong, Sersan Gackenstaetter, Sersan Teutelink, Sersan van Daalen, dan Sersan Bron.
 
Pocut Baren

Veltman yang fasih berbahasa Aceh, secara berkala terus melakukan komunikasi dengan Pocut Baren, sehingga perwira Belanda itu dapat membuat laporan mengenai perubahan yang terjadi pada Pocut Baren. Ia wanita yang suka berterus terang, suatu sikap yang amat dihargai oelh Veltman. Karena itulah Pocut Baren dikenal sebagai pejuang yang dapat menghormati musuhnya karena kebaikannya.

Adalagi kisah istri Teungku Mayed Di Tiro, putra Tgk Chik Di Tiro. Dalam pertempuaran pada tahun 1910, meski sudah dikepung pasukan Belanda, Tgk Mayed Di Tiro bisa meloloskan diri atas bantuan istrinya. Sementara istrinya tertangkap dengan luka parah di tubuhnya, sewaktu komandan pasukan Belanda hendak memberikan pertolongan, ia menolaknya. �Bek ta mat kei kaphe budok (jangan sentuh aku kafir celaka),� hardiknya dengan suara lantang. Ia lebih memilih syahid dari pada mendapat pertolongan dari kafir.

Sikap ceubeh dan tungang itu hingga kini masih menjalar dalam jiwa-jiwa perempuan Aceh. Menutup tulisan ini saya kutip sepenggal puisi Vichitra, cucu Tuanku Hasyim Banta Muda, panglima besar perang Aceh yang mempertahankan mesjid raya saat agresi pertama Belanda. �Bangsa Aceh terkenal tungang, sesama bangsa sendiri sering bertikai, konon lagi dengan musuhnya.� [Iskandar Norman]


Prang ngon taki, khanduri ngon doa, pameo dalam masyarakat Aceh ini yang dikenal sebagai hadihmaja menjadi filosofi perang di Aceh, beberapa peristiwa besar pernah terjadi. Ya, perang itu dengan tipu muslihat, yang akhirnya kesuksesan akan selalu diakhiri dengan kenduri dan doa.

Adalah peristiwa penyerangan kapal Nicero dan Hoc Canton sebagai dua dari sekian banyak peristiwa suksesnya tipu muslihat perang yang dimainkan pejuang Aceh. Bermula ketika Nicero, sebuah kapal berbendera Inggris terdampar di Teunom.

Raja Teunom yang sedang gencarnya berperang dengan Belanda merampas kapal tersebut, awak kapalnya juga disandera. Sebuah tuntutan diajukan kepada Inggris, kapal dan sanera akan dibebaskan jika Inggris membayar tebusan 10.000 dolar.

Teuku Umar yang saat itu sudah memihak kepada Belanda melalui taktik perang tipu Aceh, ditugaskan untuk melakukan pembebasan kapal dan sandera. Teuku Umar meyakinkan Belanda bahwa Raja Teunom memiliki pasukan yang kuat, karena itu Inggris tidak berani menghadapi pasukan Raja Teunom, maka meminta bantuan Belanda.

Dalam uapayanya meyakinkan Belanda, sebenarnya Teuku Umar sedang membuat skenario besar. Ia menyatakan untuk merebut kembali kapal dan membebaskan sandera diperlukan pasukan pilihan dan persenjatan lengkap hingga mampu berperang salam waktu lama. Belanda mengiyakannya.

Teuku Umar bersama 32 tentara Belanda dan beberapa orang panglima, berangkat dari Kutaraja ke Aceh Barat dengan kapal Bengkulen. Di tengah pelayaran, semua tentara Belanda yang menyertainya dibunuh di atas kapal. Seluruh senjata dan amunisi dirampas. Dengan senjata rampasannya itu Teuku Umar dan pengikutnya memperkuat dan bergabung kembali dengan pejuang Aceh. Ia juga meminta kepada Raja Tunom untuk tidak menurunkan nilai tuntutannya kepada Inggris dan Belanda.




[Teuku Umar bersama panglimanya ]

Sejarawan Aceh H M Zainuddin (1972 : 5) mengungkapkan, Belanda sangat tercuncang dengan peristiwa itu. Pemerintah Kolonial Belanda di Kutaraja mengumumkan akan memberi hadiah 25.000 dolar bagi siapa saja yang sanggup menangkap Teuku Umar hidup atau mati.

Sejarawan lainnya Moehammad Said (1985 : 228) menulis bahwa tidak ada efek apapun dari pengumuman Belanda tersebut. Tidak ada di kalangan rakyat Aceh yang berani menghadapi Teuku Umar dan pasukannya, sebaliknya rakyat Aceh menyambut Teuku Umar sebagai pahlawan yang telah berhasil mengelabui Belanda dengan taktik tipu Aceh yang diterapkannya.

Akhirnya, Belanda terpaksa membayar tuntutan Raja Teunom. Pada 10 September 1884, kapal Nicero dan 18 orang awak kapal dibebaskan dengan uang tebusan 10.000 dolar. Raja Teunom berbesar hati atas peristiwa itu, karena kasus Nicero telah menggegerkan negara-negara Eropa.

Dua tahun setelah peristiwa Nicero, peristiwa serupa kembali terjadi. Kali ini menerpa kapal Hoc Canton, kapal dengan kapten Hansen, warga negara Denmark yang mendapat izin berlayar di perairan Aceh dari pemerintah Kolonial Belanda.

Muhammad Said menyebut Hansen sebagai pisau bermata dua. Ia memanfaatkan izin pelayaran untuk menyeludupkan sejata kepada pejuang Aceh di samping bisnis membeli rempah-rempah. Ia sangat lihai berlayar, bahkan untuk mengelabui patroli Belanda, ia mampu berlayar dalam gelap tanpa menghidupkan satu pun lampu di kapalnya.

Namun, pada sisi lain Hansen juga tertarik dengan tawaran imbalan dari Belanda yang masih berlaku, yakni 25.000 dolar untuk menangkap Teuku Umar hidup atau mati. Pada 12 Juni 1886, Hansen bersama Roaura berangkat ke Reugaih dengan kapal Hoc Canton. Alasannya, mereka ingin mengambil kapal The Eagle yang berlabuh di Reugaih, tapi sebenarnya Hasen dan Roaura ingin menjebak Teuku Umar.

Setelah berlayar selama tiga hari, pada 15 Juni 1886, Hoc Canton melepar jangkar di perairan Reugaih. Mula-mula mereka membeli lada dari kelompok Teuku Umar. Setelah semua lada dimuat ke kapal, Hansen memberi syarat bahwa pembayaran akan dilakukan di atas kapal.

E Roaura yang sudah sangat dikenal di kalangan pejuang Aceh sebagai penyeludup senjata menjumpai Teuku Umar di darat. Ia mengatakan Hansen meminta Teuku Umar harus naik ke kapal Hoc Canton untuk menyelesaikan transaksi dagang tersebut. Syarat itu ditolak Teuku Umar, tapi Hansen tetap bersikeras, tiga kali utusan Teuku Umar datang ke kapal ditolak Hansen.

Kesabaran Teuku Umar habis, sebuah tak-tik dirancang, bagaimana pun harga lada yang sudah dimuat ke kapal Hoc Canton harus dibayar. Teuku Umar sendiri akan naik ke kapal itu untuk mengambil uang dengan segala resiko. Baginya uang itu sangat penting untuk kebutuhan logistik perang.

Teuku Umar meminjam kapal The Eagle pada Raoura, kapal yang sudah lama berlabuh di Reugaih untuk merapat dan naik ke Hoc Canton. Tapi ketika Teuku Umar naik, Hansen memerintahkan anak buahnya untuk menangkapnya. Suami Cut Nyak Dhien itu akan dibawa ke Kutaraja untuk diserahkan kepada Belanda. Imbalan 25.000 dolar sudah terbayang di matanya.

Namun, yang terjadi malah sebaliknya, semua anak buah kapal sudah lebih dulu disergap oleh 40 pejuang Aceh. Sebelum Teuku Umar naik ke kapal, ia telah menyusun skenario penyergapan kapal Hoc Canton, 40 pejuang Aceh sudah menyelinap ke sana pada malam hari. Hansen yang mencoba melarikan diri akhirnya ditembak. Kepala juru mudi Lanbker yang berkebangsaan Jerman juga tewas bersama masinis kepala Robert Mc Gulloch.

Sementara istri Hansen bersama masiis kedua John Fay dan enam awak kapal Hoc Canton disandera. Keenam awal kapal itu merupakan pria Melayu dan Tionghoa. Teuku Umar kemudian memerintahkan beberapa orang untuk menjaga kapal itu. Semua isi kapal disita, diantaranya: dua meriam, enam bedil model snider, lima pistol, serta uang tunai 5.000 dolar.


[Belanda membakar rumah Teuku Umar di Lampisang ]

Peristiwa Nicero dan Hoc Canton selain membuat pukulan telak bagi Belanda, juga menjadikan pemerintah kolonial itu di Aceh hilang wibawa di mata internasional. Apa lagi ketika dua peristiwa itu dimuat di koran Penang Gazatte. Asosiasi dagang Penang Association mengadakan rapat khusus dan mengeluarkan dua resolusi bagi Belanda di Aceh, yakni mengambil langkah cepat untuk membebaskan Jhon Fay, dan mendesak pemerintah Inggris untuk menyelesaikan kasus Kapten Hansen. Keputusan itu diambil setelah rapat asosiasi tersebut berkesimpilan bahwa Belanda tidak mampu menguasai keadaan di Aceh.

Belanda makin berang. Gubernur Militer Hindia Belanda di Kutaraja Jenderal Van Teijn memimpin langsung beberapa kapal dan ratusan pasukan menuju Aceh Barat. Reugaih akan dibumihanguskan. Namu n Teuku Umar tidak gentar. Ia balik mengultimatum Belanda, bila Reugaih diserang maka para tawanan akan dihukum mati.

Jenderal Van Teinj benar-benar gentar dengan ancaman itu. Ia memerintahkan semua kapal perang kembali ke Uleelheu. Belanda akan mengupayakan jalan diplomasi untuk menyelesaikan persoalan Hoc Canton.

Rakyat Reugaih bersorak ketika militer Belanda dan kapal-kapal perang itu kembali ke Kutaraja. Sementara Teuku Umar membawa tawanannya ke pedalaman. Nyonya Hansen diminta untuk menulis surat kepada Belanda, bahwa mereka akan dibebaskan jika Belanda bersedia membayar uang tebusan 40.000 dolar.

Sampai dua bulan lebih kemudian persoalan itu bekum juga selesai. Belanda yang mulanya akan menghadiahi 25.000 dolar bagi siapa saja yang mampu menangkap Teuku Umar hidup atau mati, kini dipaksa untuk membayar 40.000 dolar kepada Teuku Umar. Namun Belanda hanya menyanggupi 25.000 dolar saja. Teuku Umar benar-benar mendapat �hadiah� atas kepalanya sendiri.

Uang tebusan itu diserahkan kepada Teuku Umar pada September 1886 dan para sandera dibebaskan. Teuku Umar mempercayakan Nyak Priang tokoh yang masyarakat setempat sebagai perantara dengan Belanda untuk menjumpai Nyonya Hansen yang ditawan dalam rumah Teungku H Darwis Reugaih. Di rumah itu para tawanan diawasi dengan ketat. Nyoya Hansen mengakui dia diperlukan dengan sangat baik selama dalam tawanan, ia hanya mengalami luka kecil saat insiden di atas kapal Hoc Canton. Meski demikian ia mengaku sangat pilu dengan kematian suaminya.

Nyoya Hansen dan Fay bersama anak buah kapal Hoc Canton tiba di Kutaraja pada 6 Oktober 1886. Kepada Belanda Nyonya Hansen yang sudah lancar berbahasa Aceh mengakui bahwa ia diperlakukan dengan sangat baik oleh Teuku Umar.

Nyonya Hansen mengungkapkan semuanya kepada temannta sesama orang Denmark, Chirstiaansen. Ia menulis panjang lebar tentang sifat dan pribadi Teuku Umar beserta Cut Nyak Dhien yang dianggapnya sebagai ksatria. Seorang Mayor Belanda LWA Kessier juga mengakui hal itu. Ia menyebut Teuku Umar sebagai intellegente en zeer baschaafde Atjeher yakni orang Aceh yang paling cerdas dan sopan. [Iskandar Norman]




Perang Aceh melahirkan perempuan-perempuan perkasa, tidak hanya diakui oleh bangsanya, tapi juga musuhnya. Belanda menyebutnya sebagai Grandes Dames, wanita-wanita besar yang perannya melebihi kaum pria.


[Cristine Hakim memerankan sosok Cut Nyak Dhien dalam film Tjoet Nja' Dhien ]

Cut Nyak Dhien merupakan satu di antara sederetan nama-nama besar itu. Mereka muncul silih berganti menjadi panglima perang selama 60 tahun perlawanan terhadap penjajahan Belanda, mulai Maret 1973 ketika perang dimaklumatkan, sampai Belanda meninggalkan Aceh dengan kekalahannya pada tahun 1942.

H C Zentgraff, penulis Belanda dalam buku �Atjeh� menyebut perempuan-perempuan perkasa itu sebagai de leidster van het verzet, para pemimpin perlawanan yang memegang peranan besar dalam perpolitikan dan peperangan. Zentgraaf menulis.

�Keberanian wanita Aceh dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan agamanya. Ia rela hidup dalam kancah perang dan melahirkan putranya di situ. Ia berperang bersama suaminya, kadang-kadang di samping, di hadapan, atau di tangannya yang kecil dan halus itu, kelewang dan rencong dapat menjadi senjata yang berbahaya.�

Salah satu perempuan Aceh yang sangat disegani Zentgraaff dalam bukunya itu adalah Cut Nyak Dhien, yang tampil memimpin peperangan melawan Belanda pada 1896 setelah Teuku Umar, suami keduanya meninggal. Ia lebih memilih melanjutkan perjuangan dalam rimba secara bergerilya dari pada tunduk pada Belanda. Cut Nyak Dhien terus melanjutkan perjuangan meski ia sudah tua, matanya sudah rabun, tapi semangatnya tidak terpatahkan.

Sebagaimana ditulis oleh Rusdi Sufi dalam buku �Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah� keperkasaan Cut Nyak Dhien juga diungkapkan oleh sejarawan Belanda lainnya, M H Szkely Lulafs dalam buku �Tjoet Nja� Dhien� Ia menilai jiwa kepahlawanan yang menggerakkan semangat juang dalam dada Teuku Umar adalah dorongan halus Cut Nyak Dhien. Sifat kepahlawanan Cut Nyak Dhien diwarisi dari ayahnya yang merupakan salah seorang pejuang penentang kolonialis Belanda.

Cut Nyak Dhien lahir pada tahun 1848, ayahnya Teuku Nanta Setia merupakan uleebalang VI Mukim bagian dari wilayah Sagi XXV Mukim. Mereka tinggal di Gampong Lampadang Peukan Bada, Aceh Besar. Ayah Cut Nyak Dhien merupakan keturunan seorang perantau asal Minangkabau Sumatera Barat, yang bernama Machoedoem Sati. Ia diperkirakan datang ke Aceh pada abad XVIII ketika Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sulthan Jamalul Alam Badrul Munir (1711 � 1733).

Sementara ibunya Cut Nyak Dhien merupakan putri uleebalang terkemuka di Kemukiman Lampageu yang juga wilayah Sagi XXV Mukim. Sebagai putri bangsawan, sejak kecil Cut Nyak Dhien sudah memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan agama dari ulama-ulama di wilayah kekuasaan ayahnya.

Sebagai putri uleebalang, kehidupan Cut Nyak Dhien dipengaruhi oleh gaya hidup bangsawan, tapi pendidikan agama yang didapatkannya membuatnya tumbuh menjadi gadis yang memiliki sifat-sifat yang tabah, lembut dan tawakal. Cut Nyak Dhien kemudian dijodohkan dengan anak saudara laki-laki dari ibunya. Pria muda itu bernama Teuku Ibrahim, putra dari Teuku Po Amat, uleebalang Lam Nga XIII Mukim Teungkop di Sagi XXVI Mukim.

Menurut Rusdi Sufi, pada saat Belanda menyerang Aceh dalam bulan Maret 1873, suami Cut Nyak Dhien yang dipanggil dengan sebutan Teuku Nyak Him dan bergelar Teuku Di Bitai, telah ikut berperang melawan agresi Belanda bersama pejuang Aceh lainnya. Meski baru berumahtangga, Cut Nyak Dhien merelakan suaminya untuk terjun ke medan juang. Ia memberi dorongan bagi suaminya dalam setiap peperangan.



[Lukisan perjuangan Cut Nyak Dhien ]

Namun, ketika Mesjid Raya Baiturrahman dibakar Belanda, Cut Nyak Dien tidak lagi menjadi perempuan yang hanya menyemangti suaminya untuk berperang, tapi ia sendiri yang turun ke garis depan setiap peperangan mendampingi suaminya. Cut Nyak Dhien sangat marah ketika Belanda membakar Mesjid Raya Baiturrahman.

Kemarahan Cut Nyak Dhien itu digambarkan oleh sejarawan Belanda M H Szkely Lulafs dalam buku �Tjoet Nja� Dhien� sebagai berikut:

�Cut Nyak Dhien meninggalkan rumah, lalu turun tanah. Dengan rambut tergerai-gerai, kedua tinjunya mengepal dan mengacung-acung, sampailah ia ke halamannya. Kepada sekalian orang kampung yang datang berkerumum melihat apa yang mengolak-olak itu dari jauh, berserulah ia dengan gemas dan mata terbelalak, katanya: Hai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri dengan matamu, mesjid kita dibakarnya. Mereka menentang Allah subhanahuwata�ala, tempatmu beribadah dibinasakannya, nama Allah dicemarkannya, camkanlah itu! Jangan kita melupa-lupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang mengampuni dosa si kafir itu? Masih adakah orang Aceh yang suka menjadi budak Belanda?�

Perang dengan Belanda terus berkecamuk, karena Belanda lebih unggul dalam persenjataan, Cut Nyak Dhien dan suaminya terdesak hingga kemudian berpindah ke wilayah Leupeung. Dari sana perang terus digelorakan. Tapi pada 29 Juni 1878, Teuku Ibrahim Lam Nga, suami Cut Nyak Dhien tewas bersama beberapa pengikutnya dalam sebuah pertempuran di lembah Beuradeun Gle Tarom, Kemukiman Montasik, Sagi XXII Mukim.

Menurut Szekely Lulofs, penyebab peristiwa tersebut adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh Habib Abdurrahman yang telah menyerah dan menerima kompensasi dari Belanda. Kematian suaminya itu membuat kebencian Cut Nyak Dhien terhadap Belanda semakin memuncak. Ia tampil di depan menggantikan suaminya dalam berperang melawan Belanda.

Sejarawan lainnya, Hazil dalam buku �Teuku Umar dan Tjut Nyak Dhien Sepasang Pahlawan Perang Aceh� mengungkapkan, sangking bencinya Cut Nyak Dhien kepada Belanda, suatu ketika antara sadar dan tidak, Cut Nyak Dhien pernah berucap dan berjanji akan bersedia menikah dengan laki-laki yang dapat membantunya untuk menuntut belas atas kematian suaminya.

Dengan gelora batinnya yang dibaluti kebencian terhadap Belanda itu, Cut Nyak Dhien terus memimpin pelawanan. Pada saat yang sama juga terkenal Teuku Umar yang memimpin peperangan melawan Belanda di wilayah barat Aceh. Meski antara Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar sudah saling mengenal nama, keduanya belum pernah bertemu. Hingga kemudian Teuku Umar dalam suatu peperangan mampun mengalahkan pasukan Belanda yang sebelumnya menewaskan Teuku Ibrahim Lam Nga, suaminya Cut Nyak Dhien.

Pada tahun 1878 beberapa bulan setelah kematian suaminya, Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Umar di Montasik. Perkawinan mereka itu dibicarakan banyak orang, karena keduanya sudah dikenal sebagai pemimpin perjuangan melawan penjajah Belanda. Pasangan ini dinilai sangat cocok untuk memimpin kelanjutan peperangan.

Cut Nyak Dhien merupakan istri ketiga Teuku Umar. Sebelumnya Teuku Umar telah menikah dengan dua wanita lain yakni Cut Nyak Asiah putri Uleebalang Geulumpang, dan Cut Nyak Meuligoe putri Panglima Sagi XXV Mukim. Namun, diantara ketiga istrinya itu, Cut Nyak Dhien yang sangat memberi pengaruh padanya.

Dari perkawinannya mereka dikaruniai seorang anak perempuan yan diberi nama Cut Gambang, yang ketika dewasa kelak dinikahkan dengan Teungku Mayed Di Tiro alias Teungku Di Buket, putra Teungku Chiek Di Tiro.

Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien bersama pasukannya terus menjelajahi belantara, dari satu rimba ke rimba lain, dari satu jurang ke jurang lain. Cut Nyak Dhien kadang-kadang ditempatkan di tempat aman di tengah belantara ketika Teuku Umar dan pasukannya turun untuk menyerang patroli marsose yang terus memburu mereka.

Seperti pata tanggal 10 menjelang 11 Februari 1899, Teuku Umar dan pasukannya mencoba mencoba turun ke Meulaboh untuk menyerang sebuah pusat pertahanan Belanda. Esok harinya dalam sebuah pertempuran di Suak Ujong Kala Meulaboh, Teuku Umar tewas tertembak militer Belanda. Sesuai dengan pesannya kepada pasukannya, Teuku Umar dimakamkan di tempat yang tidak diketahui Belanda, yakni di Mon Tulang Pucok Meuhon Kendik Meulaboh.

Berita meniggalnya Teuku Umar diterima dengan tabah oleh Cut Nyak Dhien. Ia mengambil alih pimpinan pasukan yang ditingalkan suaminya itu. Ia melanjutkan perjuangannuya bersama Pang Laot Ali dan bertekat melawan penjajahan Belanda sampai akhir hayatnya.

Cut Nyak Dhien terus memimpin perjuangan melawan Belanda. Ia mengkoordinir pasukannya di belantara antara Kruen Woyla dan Meulaboh. Perang gerilya itu dilakukannya hingga enam tahun. Tapi dalam masa enam tahun itu, pasukan Cut Nyak Dhien mengalami kekurangan makanan. Cut Nyak Dhien juga sudah mulai sakit-sakitan dan rabun. Semua hartanya telah habis untuk membiayai perang melawan Belanda.

Dalam keadaan seperti itu Pang Laot Ali merasa kasihan dengannya. Wanita perkasa itu tidak lagi memiliki apa-apa selain semangatnya yang terus bergelora melawan Belanda. Kehidupannya sudah serba terpencil di rimba raya. Pang Laot Ali benar-benar tak kuasa melihat keadaan Cut Nyak Dhien yang seperti itu. Ia menawarkan kepada Cut Nyak Dhien untuk menyerah kepada Belanda agar ia bisa dirawat oleh rakyatnya di kampung.

Mendengar tawaran seperti itu, Cut Nyak Dhien yang sudah rabun dan mengalami encok, murka. Ia meludah dan berkata dengan lantang kepada Pang Laot Ali. �Takluk kepada kaphe, cis najis, semoga Allah Subhanahuwataala menjauhkan perbuatan yang sehina itu dari diriku.�



[Cut Nyak Dhien setelah ditangkap Belanda akibat pengkhuanatan Pang Laot ]

Namun Pang Laot Ali tetap tidak sampai hati melihat kondisi Cut Nyak Dhien seperti itu. Akhirnya ia mengkhianati Cut Nyak Dhien, ia mengirim seorang kurir untuk melaporkan tempat persembunyian mereka kepada Belanda di Meulaboh. Bagaimanapun ia ingin Cut Nyak Dhien bisa dirawat, tidak terlantar di dalam hutan.

Pada tanggal 4 November 1905, Letnan Van Vuuren bersama pasukannya berangkat ke tempat persembunyian Cut Nyak Dhien. Dalam perjalanan, ketika hampir sampai ke tempat Cut Nyak Dhien, tanpa sengaja seorang tentara Belanda melakukan tembakan. Suara tembakan itu terdengar hingga ke tempat persembunyian Cut Nyak Dhien.

Cut Nyak Dhien kemudian digendong dan dibawa lari dari tempat itu. Tapi beberapa saat kemudian ia ditemukan dan ditangkap. Cut Nyak Dhien yang sudah buta dan tak berdaya menengadah kedua tangannya, kesepuluh jarinya dikembangkan. Ia sangat emosi dan ingin terus melawan, tapi wanita perkasa itu kini sudah renta dan tak berdaya, meski sikapnya sangat menentang, ia kemudian berkata, �Ya Allah ya Tuhanku inikah nasib perjuanganku? Di dalam bulan puasa aku diserahkan kepada kafir.�

Pang Laot Ali kemudian mendekati Cut Nyak Dhien dan berkata padanya agar Cut Nyak Dhien tidak takut, karena Belanda tidak akan menyakitinya, sebaliknya akan memperlakukannya dengan sopan. Akan tetapi ketika Pang Laot Ali henda meraba tangan Cut Nyak Dhien dan membujuknya, Cut Nyak Dhien dengan lantang berkara. �Cis, jangan menyinggung kulitku, pengkhianat engkau, tidak kusangka, lebih baik kau menunjukkan budi baikmu kepadaku dengan jalan menikamku.�

Cut Nyak Dhien kemudian dianikkan ke sebuah tandu, lalu digotong ke sebuah pos penjagaan Belanda. Bersama Cut Nyak Dhien juga ditangkap seorang kemenakannya yang bernama Teuku Nana. Dari sana Cut Nyak Dhien kemudian dipindahkan ke Kutaraja.

Paul Van� Veer menulis, meski Cut Nyak Dhien telah ditawan, pengaruhnya terhadap fanatisme rakyat Aceh dalam menentang Belanda di Aceh, khususnya Aceh Besar tidak lenyap. Perang terus saja berlanjut. Untuk menghilangkan pengaruhnya itu, Cut Nyak Dhien kemudian dipindahkan ke Pulau Jawa yakni ke Suimedang, Jawa Barat, melalui surat keputusan Pemerintah Hindia Belanda nomor 23 tanggal 11 Desember 1906.

Setelah sekitar dua tahun berada di pengasingan, pada 6 November 1908 Cut Nyak Dhien wafat dan dikuburkan di sana. Pemerintah Republik Indonesia kemudian mengangkatnya sebagai pahlawan kemerdekaan nasional melalui Surat keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 106, tanggal 2 Mei 1964.[Iskandar Norman]


Tgk Fakinah merupakan seorang ulama perempuan Aceh. Masa mudanya ia habiskan dalam peperangan melawan penjajah Belanda. Ia memimpin empat benteng pertahanan (kuta). Sementara masa tuanya dihabiskan untuk mengajar dan membangun pendidikan.

H. M. Zainuddin dalam buku Srikandi Aceh menjelaskan, Tgk Fakinah berasal dari keluarga ulama dan bangsawan. Ia lahir pada tahun 1856 M di Gampong Lamkrak. Ayahnya bernama Datu Muhammad seorang pejabat pemerintahan di Kerjaan Aceh pada masa pemerintahan Sulthan Alaiddin Iskandar Syah. Sementara ibunya bernama Cut Fatimah putri dari ulama besar Tgk Muhammad Saad yang dikenal sebagai Tgk Chik Lam Pucok pendiri Dayah Lam Pucok.

Saat perang dengan Belanda berkecamuk di Aceh, Tgk Fakinah dipercayakan memimpin satu resimen pasukan yang prajuritnya terdiri dari pria dan wanita. Ia memiliki beberapa panglima yang menjadi komando pasukan, diantaranya, suaminya sendiri Tgk Nyak Badai, Habib Lhong (Habib Kabul), Tgk Ahmad (Tgk Leupueng), Tgk Saleh dan Tgk Daud.
Tgk Fakinah

Bersama para panglimanya itu, Tgk Fakinah memimpin empat benteng pertahanan (Kuta) yakni, Kuta Lam Sayun dipimpin oleh Tgk Saleh, Kuta Cot Bak Garot dipimpin oleh Tgk Pang Amat, Kuta Bak Balee dipimpin oleh Habib Lhong, dan Kuta Cot Weue yang dipimpin langsung olehnya. Komando pertahanan empat benteng itu dipusatkan di Lam Diran yang setelah perang reda dibangun menjadi Dayah Lam Diran di Lamkrak.

Dalam berperang dan membangun pendidikan di Lamkrak, Tgk Fakinah dibantu oleh suaminya. Suami pertamanya Tgk Abdullah syahid dalam perang, ia kemudian menikah dengan Tgk Nyak Badai salah seorang panglima pasukannya, tapi suami keduanya itu juga syahid dalam perang melawan Belanda. Ia kemudian menikah dengan Tgk Haji Ibrahim. Dari ketiga suaminya itu, Tgk Fakinah tidak memiliki anak.

Menurut Ali Hasjmy dalam buku Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah, usai perang, pada bulan Juli tahun 1915 M, Tgk Fakinah bersama suami (Tgk Haji Ibrahim) berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim di sana selama beberapa tahun untuk memperdalam ilmu agama.

Ketika kembali ke Aceh, Tgk Fakinah bersama suaminya membangun Dayah Lam Diran yang dibantu oleh beberapa ulama di sana. Pada tahun 1925 M, Tgk Fakinah kembali k Mekkah dan bermukim di sana selama satu tahun. Ketika kembali lagi ke Aceh ia melakukan reformasi di Dayah Lam Diran yang dipimpinnya, ia membolehkan pria dan wanita sama-sama menuntut ilmu di dayah itu tapi dengan asrama yang terpisah.

Tgk Fakinah juga membolehkan pria dan wanita bergaul dalam dayah dalam batas-batas yang wajar, hal yang tidak lazim dilakukan di dayah waktu itu. Di dayah yang dipimpimnya juga diajarkan ilmu umum dan kerajinan tangan, tidak hanya fokus pada pendidikan agama saja. Karena itu ia bisa disebut sebagai peletak dasar pendidikan dayah terpadu di Aceh.

Selain itu Tgk Fakinah dikenal sebagai pemimpin yang sanggup memimpin pria dan wanita secara bersamaan, seperti saat ia menggelar gotong royong massal membangun jalan Ateung Seunabat. Tgk Fakinah wafat pada 3 Oktober 1893 bertepatan dengan 8 Ramadhan 1359 H dan dimakamkan di komplek dayah yang dipimpinnya.

Diantara murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama perempuan terkenal di adalah Tgk Fatimah Batee Linteueng, Tgk Saidah Lamjamee, Tgk Fatimah Ulee Tutue, dan Tgk Hawa Lam Dilip.[iskandar norman]






loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget