Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Heboh"

Unit Reskrim Polsek Gunung Kijang menangkap Hg (39), di rumahnya di Toapaya, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Selasa (3/1/2017), atas dugaan melakukan pencabulan terhadap anak kandungnya yang berusia 11 tahun.

Ayah Cabuli Anak Kandung saat Cari Kayu Bakar di Hutan

Terungkapnya pencabulan ayah terhadap anak kandung ini berawal dari kecurigaan dokter Puskesmas Kawal terhadap bocah perempuan itu yang berobat karena keluhan perih akibat luka pada alat vitalnya, Senin (2/1/2017) sore. Korban mengaku lukanya akibat terjatuh dan terkena kayu saat mencari kayu bakar bersama ayahnya di hutan Gesek.

Kepala Puskesmas Kawal Bambang yang mendapati selaput dara bocah perempuan itu robek. Dia mencurigai terjadinya tindakan pencabulan terhadap korban. Dia lalu menyuruh bocah tersebut membawa celana dalam yang dipakai saat mengalami luka. Didapatinya bercak darah pada celana dalam tersebut semakin memperkuat kecurigaan adanya pencabulan.

Bambang segera melaporkan kepada Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah (KPPAD) Kepri. KPPAD Kepri pun segera menemui korban dan membujuk agar korban terbuka, menceritakan kejadian yang sebenarnya. Akhirnya, bocah itu mengaku luka pada alat vitalnya akibat pencabulan yang dilakukan ayah kandungnya Hg, di hutan saat bersama-sama mencari kayu bakar.

"Pencabulannya dilakukan Senin (2/1), menurut Mawar (nama samaran) dilakukan di hutan. Ayahnya menyuruhnya mengaku jatuh tertimpa kayu," kata Titi Sulastri, komisioner KPPAD Kepri.

KPPAD, katanya, akan terus melakukan pendampingan kepada korban hingga proses hukumnya selesai. KPPAD segera mendampingi korban melaporkan kejadian pencabulan ke Polsek Gunung Kijang, Selasa (3/1/2017). Unit Reskrim segera menangkap pelaku.

Kanit Reskrim Polsek Gunung Kijang AKP Hendriyal mengatakan, saat ini pihaknya sudah menangkap Hg terduga pelaku pencabulan. Pihaknya masih melakukan pemeriksaan dan pemberkasan. "Benar, yang bersangkutan sudah kita amankan dan sedang diperiksa," kata Manik. 

Seorang siswi SMP di Kabupaten Pringsewu, berinisial B yang hilang, ternyata dibawa seorang lelaki beranak dua, Pepi. Korban yang masih berusia 14 tahun juga dicabuli sebanyak tiga kali oleh Pepi dan seorang oknum guru sekolah dasar, Sukamto.


Kasus ini berawal dari pertemuan B dengan Pepi di salah satu apotek di Pringsewu, Lampung. Setelah berkenalan ,Pepi mengajak korban jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di Pringsewu.

Kemudian, Pepi membawa  korban ke salah satu hotel dan mencabulinya. Selang satu hari pelaku pepi memperkenalkan bunga kepada Sukamto, seorang oknum guru sekolah dasar di Pringsewu. Korban pun dicabuli oleh Sukamto di kamar hotel dan Pepi berjaga di luar .

Setelah dua hari, Pepi mengantar korban pulang ke rumah. Tanpa merasa berdosa  dia juga memberikan uang pecahan Rp100.000 sebagai uang tutup mulut .

Kapolsek Sukoharjo AKP Wahidin mengatakan, setelah mendapatkan laporan dari orangtua korban, petugas kepolisian langsung menangkap kedua pelaku di rumahnya masing-masing. "Keduanya ditangkap tanpa ada perlawanan dan langsung dibawa ke Polsek Sukoharjo," katanya, Selasa (24/1/2017). 

Puluhan orang ekstremis Buddha melakukan pembubaran paksa terhadap perayaan maulid Nabi Muhammad SAW di Yangon, Myanmar, Ahad 8 Januari 2017. Kondisi ini pun semakin menyulutkan Islamofobia.

Kelompok Budha Nyanmar Bubar Paksa Acara Maulid Nabi

Channel News Asia melaporkan, seorang saksi mata yang enggan disebutkan namanya menjelaskan kronologisnya. Sebelumnya, belasan biksu menyerukan agar kelompok Muslim menghentikan kegiatan maulid Nabi SAW. Kemudian, mereka merangsek masuk ke tengah-tengah acara keagamaan Islam itu dan melakukan pembubaran paksa.

�Ini menciderai kebebasan beragama,� kata sekretaris majelis ulama Islam Yangon, Kyaw Nyein, seperti dikutip //Channel News Asia//, Ahad 8 Januari 2017.

�Para biksu mencoba untuk membubarkan acara ini tanpa menjelaskan apa salah kami. Dan kenapa aparat yang berwajib tidak bertindak?� lanjut Nyein. Diketahui, ada sejumlah aparat kepolisian di lokasi kejadian tetapi tidak melakukan tindakan apa pun.

Menurut wakil ketua panitia Maulid, Tin Maung Win, kelompok nasionalis Buddha itu berusaha melawan keputusan pemerintah, yang kini didukung tokoh sipil Aung San Suu Kyi. Win menilai, kelompok ekstremis Buddha tersebut merupakan simpatisan partai USDP yang didukung pihak militer.

Bagi mereka, kata Win, pemerintahan kini terlalu lunak terhadap kaum Muslim Myanmar. �Inilah yang  menyulut Islamofobia. Kami telah menyelenggarkan acara ini (maulid Nabi SAW) selama tujuh tahun berturut-turut tanpa pernah keributan apa pun. Tapi, hari ini, terjadi. Ada kepentingan politik di balik (aksi pembubaran) ini,� katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok ekstremis Buddha kerap menghalang-halangi penyelenggaraan ibadah kaum Muslim Myanmar. Pada Oktober 2016 lalu, ketegangan sempat terjadi di perbatasan Myanmar-Bangladesh yang dihuni etnis Rohingya, yang mayoritasnya beragama Islam.

Otoritas Myanmar saat itu menuduh etnis Rohingya sebagai dalang kerusuhan yang dibiayai dana asing dari Timur Tengah. 

Berpuluh-puluh tahun lamanya etnis Rohingya diabaikan oleh penguasa Myanmar. Meskipun telah menetap turun-temurun di wilayah Myanmar, pemerintah enggan mengakui mereka sebagai warga negara. Tidak kurang dari 50 ribu orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh untuk menghindari ancaman pembunuhan, pemerkosaan, dan kerusuhan. (republika)
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget