Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Ulama Aceh"

Banyak sekali kisah keramat abuya muda waly,Salah satu nya kisah ketika Abu Tengku H. Muhammad Hasan Krueng Kalee berkunjung ke Darussalam  labuhan haji dalam rangka mengikuti konferensi PERTI yang diadakan di Dayah Darussalam selama 7 hari 7 malam dengan memotong 7 ekor kerbau.

Setelah acara selesai, abuya muda waly mengajak beliau agar singgah ke Dayahnya di Paoh terlebih dahulu sebelum kembali ke Banda Aceh.

Abuya muda waly berkata : "Bek dilee Abu gisa U-Banda, jino ta singgah bak tempat lontuan U Paoh, hana trep meusi-at manteng pie jeut" ( jangan abu pulang dulu, abu singgah ke tempat saya di paoh dulu, walaupun sebentar).

Abu Hasan Krueng Kalee menjawab :" Beukle lontuan pioh keudeeh, watee laen manteng insya Allah lon tuan singgah, doa manteng..?" ( jangan lagi saya singgah kesana, kapan-kapan Insya Allah saya singgah, doakanlah ).

Setelah mengajak Abu Hasan Krueng Kalee, Abuya pun pulang ke Paoh dan Abu Hasan Krueng Kalee pulang kembali ke Banda Aceh dengan mobilnya.

Belum berapa lama Abuya sampai ke Paoh, maka tiba pula Abu Krueng Kalee kesana.

Maka Abuya menyambut kedatangan Abu Krueng Kalee dengan perasaan gembira sekali.

Abuya Muda Waly berkata :" Alhamdulillah, rupajih troh cit Abu bak teumpat lontuan " ( Segala puji bagi Allah, ternyata sampai juga Abu ketempat saya ).

Ternyata saat sebelumnya pada waktu Abu Krueng Kalee bersama rombongan akan pulang kembali ke Banda Aceh. 

Seperti yang telah disebutkan tadi, ketika beliau sampai ke sungai Krueng Baru, alangkah terkejutnya beliau karena air sungai krueng baru ternyata sedang meluap-luap dan begitu deras, sehingga tidak dapat dilintasi oleh siapa saja yang ingin menyebranginya.

Maka sambil menunggu air sungai surut, akhirnya Abu Krueng Kalee pun menyempatkan dirinya singgah ke dayah Abuya muda waly di Paoh.

Setelah singgah di Paoh labuhan haji barulah beliau pamit kepada Abuya muda waly dan beliau pun mengizinkannya.

Berangkatlah Abu Krueng Kalee. Sesampainya beliau di Krueng baru,air menjadi surut sediakala.

Ditulis oleh: Sajjad Naqsyabandi Waly Ayah


Sejarah abuya muda waly membangun dayah darussalam
Foto:Sajjad Naqsyabandi Waly

Hamparan laut yang luas melahirkan berbagai keindah di sekitar nya.hingga membuat pengunjung betah berlama lama di pantai,dengan pasir pasir yang begitu indah.

Tepat Di belakang Dayah Darussalam labuhanhaji anda langsung bisa melihat Laut Samudera Hindia.laut yang begitu indah.

Jika anda mengunjungi Laut yang terletak di belakang dayah darussalam,anda akan melihat pantai laut ini,lain dari pantai-pantai laut pada umumnya.

Di pantai laut darussalam labuhan haji di hiyasi dengan berbagai bebatuan yang beragam warna,banyak sekali bebatuan di pantai ini.

Batu batu yang ada di pantai laut tepat di belakang dayah darussalam, bukan batu yang sudah ada pada zama purbakala,batu batu ini keluar dengan sendirinya dari laut tepat di belakang dayah darussalam labuhan haji,pada masa abuya muda waly.

Sejarah abuya muda waly membangun dayah darussalam
Foto:Sajjad Naqsyabandi Waly

Dulu Dayah Darussalam semasa abuya muda waly masih di penuhi dengan rawa-rawa,bukan seperti yang kita lihat pada saat ini.untuk menimbun rawa-rawa yang ada di dayah darussalam labuhanhaji kala itu membutuhlan batu.

Namun Jika mengambil batu dari Sungai jarak tempuhnya lumanyan jauh dari pesantren(dayah).

Abuya muda waly berpesan pada santri sehabis solat subuh untuk menganbil bebatuan di belakang dayah darussalam saja.

Sedangkan di belakang dayah darussalam labuhan haji,laut,di laut pasti pasir bukan bebatuan,pikiran santri yang mulai binggung lalu menuju ke arah laut di belakang daya darussalam usai solat subuh.

Sejarah abuya muda waly membangun dayah darussalam
Foto:Sajjad Naqsyabandi Waly

Dengan izin allah Tidak berapa lama, tiba-tiba muncul batu-batu dari Laut Samudera Hindia tepat di belakang Dayah Darussalam.

Hingga memudahkan para santri dan jamaa'ah suluk mengambil batu-batu untuk menimbun Rawa-rawa di Dayah Darussalam..


Tradisi mengambil batu-batu dari laut hingga kini masih dilakukan oleh para santri dan jamaa'ah suluk..

Dan masih banyak lagi rahasia di Dayah Darussalam, baik yang terdapat di atas bumi atau di bawah bumi. Hanya saja tidak bisa diungkapkan di publik.

Sumber: Sajjad Naqsyabandi Waly

Teungku Peulumat nama aslinya Syekh Abdul Karim beliau lahir pada tanggal 8 agustus 1873 di Kota Baru Sungai Tarap Batusangkar Minangkabau Sumatera Barat, sejak kecil sampai dewasa Teungku Peulumat berada di kampungnya,setelah dewasa merantau ke Aceh dan menetap di Peulumat,beliau kawin dan berumah tangga di Peulumat.Saudara beliau adalah seorang Wali Agung dan Ulama besar Aceh yang banyak melahirkan ribuan Pesantren dan Ulama Aceh yaitu Syekh Muda Waly .

Teungku Peulumat ahli syariat , thariqat dan hakikat . Beliau seorang Waliyullah.

Ia hidup dengan ajaran sufi yaitu kaum yang hidup wara' dan qana'ah yang tidak cinta dunia.

Karena kesucian dan kebeningan jiwa Teungku Peulumat beliau menjadi auliya Allah.

Banyak hal-hal diluar logika terjadi pada diri Teungku Peulumat seperti; Ia bisa menghilang dan berjalan diatas air dan shalat Jum'at ke Masjidil Haram dalam waktu singkat dan bisa kembali ke Peulumat.

Sebagaimana cerita yang sudah populer di masyarakat Aceh Selatan, bahwa pada suatu hari Teungku Peulumat pergi membeli ikan, pulang perjalanan tiba-tiba ia ditegur seorang anak yatim,karena mendapat teguran itu,lantas ikan itu diberikannya kepada anak tersebut.Hal itu sempat dilihat oleh istrinya sambil marah kepada Teungku Peulumat.

Tapi dengan tenang Teungku Peulumat mengatakan bahwa ganti ikan itu sudah ada tergantung di dekat tungku dapur yaitu seekor ikan laut sebesar betis yang masih segar dan masih hidup.

Tgk.Peulumat pernah membawa pulang anaknya yang berada di padang dalam waktu singkat, kisahnya ketika Tgk.Peulumat melihat istrinya sedang sedih dan menangis karena rindu dengan anaknya yang lagi merantau ke padang,lalu Tgk.Peulumat berkata jangan sedih dan beliau langsung masuk ke kamarnya.

Tidak berapa lama beliau masuk ke kamarnya, tiba-tiba ada yang mengetok pintu,Tgk.Peulumat berkata pada istrinya bukalah pintunya,ketika dibuka ternyata anaknya yang merantau ke Padang sudah ada didepan rumah.

Dikhabarkan bahwa beliau langsung menjemput anaknya di padang dan membawa pulang ke Aceh selatan dalam sekejap mata memandang.

Pada tahun 1938 sampai 1943 Masehi Tgk.Peulumat sering datang ke Masjid Tuo Kampung Padang terletak di Gampong Padang Tapaktuan Aceh Selatan yang didirikan pada tanggal 10 Agustus 1108 Masehi oleh Syekh Al-Jazirazi Farsyiah bin Ibni Manshur untuk melaksanakan shalat dzuhur dan ashar bahkan dikatakan juga Tgk.Peulumat yang keramat ini sering tidur siang menunggu waktu shalat ashar.

Pada suatu saat Tgk.Peulumat sedang tidur, beberapa murid yang sedang belajar mengaji bertanya kepada Tgk.Peulumat:" Kenapa Anduang tidur bergelung dan menekukkan lutut seperti orang kedinginan?" Lantas orang suci dan keramat ini menjawab:" Jika kedua kaki ini aku ulurkan kena tepi langit".

Kemudian pada hari yang lain, saat shalat ashar tiba-tiba Tgk. Peulumat, saudara dari Syekh Muda Waly ini tiba di depan pekarangan Mesjid Tuo dalam keadaan basah kehujanan.

Salah seorang jama'ah bertanya kepadanya:" Bagaimana Tuanku shalat basah seperti itu ?"Lantas aulia Allah ini membuka bajunya lalu dikibaskannya beberapa kali sehingga semua pakaian yang lagi basah ditubuhnya itu kering seperti baru diangkat dari jemuran.

Tengku Peulumat meninggal pada tanggal 8 agustus 1943.Saat jenazahnya dimasukkan ke dalam kubur dan ketika ikat kain kafan bagian lehernya dibuka,jasad Tengku Peulumat raib.

Dikabarkan jenazah orang suci-aulia Allah diangkat dan diusung para Malaikat ke Alam Malakut . Makam Tgk.Peulumat sampai sekarang masih ramai diziarahi oleh orang-orang Aceh.

Wallahu'alam bisshawab.

Penulis:sajjad naqsyabandi waly
Publish:seur4moe

 Kisah hubungan Syeh Muda Waly dan Syeh Zakariya Labai Sati

Berkata Syeh Muda Waly; " Syeh Zakariya Labai Sati, murid fiddzahir wa mursyid fil batin ( pada dzahir ia Muridku, pada batin ia Mursyid Ku ).

Syeh Zakariya Labai Sati nama kecilnya " Buyuang Malalo ". Beliau mengaji kurang lebih selama tujuh tahun di Pesantren Jaho Padang. Ia berguru pada Ulama besar Minangkabau Syeh Muhammad Jamil Jaho. Ilmu yang dipelajarinya di pesantren Jaho seperti ilmu Nahu, Sharaf, Bayan, Ma'ani, Badi', Mantiq, Tauhid, Fiqh, Ushul Fiqh, Tafsir, Hadits, Tasawuf, dan lain-lain. Tepat pada tahun 1926 beliau mendapat Ijazah dari Madrasah yang masyhur ini.

 Kisah hubungan Syeh Muda Waly dan Syeh Zakariya Labai Sati

Adapun Syeh Muda Waly, setelah belajar di Dayah-dayah Aceh, beliau dikirim oleh Tokoh Modernism ke Normal Islam Padang. Namun Syeh Muda Waly hanya bertahan tiga bulan di Normal Islam, karena di Normal Islam lebih banyak pelajaran umumnya daripada pelajaran agama. Syeh Muda Waly kemudian tinggal di rumah kakek dari istrinya ( Ummi Rasimah ibunda Abuya Prof.Dr.Muhibbuddin Waly ) seorang Ulama besar Padang yaitu Syeh Khatib Ali al Fadany ( pengarang Boerhanul Haq dan Soeloeah Melajoe ).

Syeh Khatib Ali ini murid juga menantu Syeh As'ad Mungka Syaikhul Masyaaikh ( Gurunya para Ulama ) di Minangkabau Padang, juga beliau murid Imam besar Mufti Mazhab Syafi'i Makkah Syeh Ahmad Khatib Minangkabawi ( pengarang kitab Ushul Fiqh Nafahat Waraqat yang dikaji di Dayah-dayah Aceh ).. Syeh Muda Waly sudah begitu sangat Alim, hafidz segala " matan " kitab, cakap mensyarahnya, sehingga membuat beliau seketika terkenal di Minangkabau.

Karena kealimannya itulah banyak ulama Minang yang terpikat, sampai menjadikannya sebagai menantu. Selain Syeh Khatib Ali, ulama besar Minangkabau Syeh Muhammad Jamil Jaho juga menjadikan Syeh Muda Waly sebagai menantunya.

 Kisah hubungan Syeh Muda Waly dan Syeh Zakariya Labai Sati


Syeh Zakariya dan Syeh Muda Waly sangat erat hubungannya, sehingga dua orang ulama ini saling mengaku menjadi murid. Syeh Zakariya mengaku menjadi murid Syeh Muda Waly, begitu juga Syeh Muda Waly mengaku menjadi murid Syeh Zakariya. Sehingga Syeh Muda Waly pernah berkata;" Syeh Zakariya, murid fiddzahir wa mursyid fil batin ( pada zahir ia muridku, namun pada batin ia mursyid/guruku ).Begitulah kerendahan hati dari kedua orang Ulama yang Alim pada masa dulu.

Konon kabarnya yang memberi nama " Zakariya " ialah Syeh Muda Waly. Kisahnya ketika Syeh Muda Waly membuka pengajian di Lubuk Alung Padang yang cukup ramai orang yang datang. Di suatu waktu datang seorang yang serba putih, berjubah putih dan berkopiah putih. Pengajian saat itu tentang Ilmu Ushul Fiqh.

Setelah Syeh Muda Waly selesai mensyarahkannya, seorang yang berjubah putih itu mengajukan pertanyaan tentang Ushul Fiqh. Syeh Muda Waly dapat menjawabnya, tapi setelah merujuk kitab " Waraqat ".

Pada hari berikutnya, pada pengajian yang sama, seorang yang berkopiah putih itu bertanya lagi tentang Ushul Fiqh. Dan Syeh Muda Waly pun dapat menjawabnya, namun setelah merujuk " Lathaif al-Isyarat " ( lebih tinggi dari Waraqat ).

Pada hari berikutnya, pada pengajian yang sama juga, seorang yang berkopiah putih itu lagi-lagi bertanya tentang masalah Ushul Fiqh. Syeh Muda Waly akhirnya dapat menjawab, namun setelah merujuk kitab " Ghayah al Wushul " ( lebih tinggi dari Lathaif al-Isyarat ).

Rupa-rupanya seorang yang serba putih itu ialah seorang ahli Ushul Fiqh dan Ahli Mantiq, yang cukup membuat Syeh Muda Waly berpikir keras untuk menjawab soal yang diajukannya. Lelaki yang serba putih itu tak lain ialah " Buyuang Malalo ".

Karena kealimannya tentang Ushul Fiqh itu, Syeh Muda Waly memberikannya nama Zakariya al-Anshari, mengambil berkat dengan pengarang kitab Ushul Fiqh " Syaikhul Islam Syeh Zakariya al-Anshari al-Syafi'i ". Semenjak itu " Buyuang Malalo " masyhur dengan nama Syeh Zakariya al Anshari Labai Sati, atau lebih dikenal dengan Syeh Zakariya Labai Sati Malalo. Demikianlah penjelasan Buya Laskar Harun Tuanku Sutan Nan Kuniang.

Diceritakan di suatu tempat ada orang yang membatalkan amalan Thariqat. Kemudian datanglah Syeh Muda Waly dan Syeh Zakariya Labai Sati untuk meluruskan bantahan itu. Kedua orang ulama ini saling isi mengisi, Syeh Muda Waly sangat hafidznya akan kitab, sedangkan Syeh Zakariya pintar mensyarahnya. Ketika Syeh Muda Waly membacakan " matan " dari hafalannya, ketika itu Syeh Zakariya mensyarahkannya dengan cemerlang. Sehingga tiada yang dapat menegakkan hujjah di depan dua orang Ulama besar ini.

Demikianlah sepenggal kisah tentang hubungan Syeh Muda Waly dan Syeh Zakariya Labai Sati. Semoga kita semua bisa mendapat keberkahan dengan berkah kedua Ulama besar ini bi-Jaahi Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammad SAW. 
Amien...

Sumber: Surautuo

Wanita muslimah di kota 1001 dayah
kota 1001 dayah,itulah julukan untuk kabupaten bireun,Dayah adalah salah satu lembaga pendidikan Islam di Aceh.

Dulu, dayah merupakan kata serapan dari bahasa Arab; Zawiyah, yang berarti sekolah agama, Agama Islam atau Madrasah.

Hampir semua kabupaten di nanggroe aceh serambi mekkah memiliki dayah.

Bireun adalah salah satu kabupaten di aceh yang di kenal dengan kota 1001 dayah,julukan ini bukan tanpa alasan,karena hampir di setiap kota di kabupaten bireun banyak terdapat dayah-dayah.

Dari dulu sampai sekarang santri sangat diwajibkan dan sudah menjadi gaya hidup untuk mempelajari ilmu agama secara khusus.

Mereka tinggal di pondok-pondok kecil yang sangat sederhana dalam lingkungan dayah, bertahun-tahun lamanya mereka belajar agama siang dan malam.

Begitu juga dengan santriwati,di kabupaten inilah banyak lahir wanita-wanita muslimah,wanita yang mencerminkan aceh sebagai naggroe serambi mekkah.

Bukan cuma itu saja,wanita di kota 1001 dayah juga di kenal dengan wanita muslim yang memiliki paras yang cantik.

Dayah mudi mesra samalanga adalah salah satu dayah paling terkenal dan terbesar di kabupaten bireun.
  • Di sini lah paling banyak melahirkan wanita muslimah cerdas dan juga berparas cantik.
  • Selain MudiI Mesra, ada beberapa dayah lain di kabupaten Bireuen. antara lain.
  • Dayah Babussalam Al-Aziziyah Juenieb.
  • Dayah Nurul Jadid.
  • Dayah Madinatuddiniyah Babussalam Blang Bladeh.
  • Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah.
  • Dayah Darussa'dah Cot Bada.
  • Dayah Serambi Aceh Cot Keumude.
  • Dayah Darul Istiqamah di Desa Geulanggang Kecamatan Kota Juang
  • Dayah Ummul Ayman Samalanga.
  • Dayah-dayah ini lah yang paling banyak mencetak kader-kader santri muslim di Aceh.

Sebagian orang mengatakan jika mendengar nama Aceh,yang terlintas di pikiran hanyalah kota islami,kota dengan pendidikan islam paling kental.
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget