Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Sosok"

AMNews - Saya akan merasa gagal jika tidak mampu mewujudkan hal ini, harta dan kekuasaan bukanlah tujuan hidup saya dan bukan pula tujuan perjuangan ini. Saya hanya ingin rakyat Aceh makmur sejahtera dan bisa mengatur dirinya sendiri.” kutipan itu tertuang dalam buku Tgk Hasan Muhammad Ditiro berjudul, "The Price of Freedom: The Unifinished of Diary (1981) halaman 140.

Buku setebal 226 halaman itu merupakan cacatan hariannya ketika ia berperang di hutan Aceh pada 1976-1979.

Di buku itulah ia menukilkan kepulangannya kembali ke Aceh pada 1976, setelah 25 tahun tinggal di Amerika Serikat.

Kiprah Tgk Hasan Tiro di tubuh organisasi GAM semasa hidupnya menjadi inspirasi dan simbol semangat perjuangan pengikut setianya yang bergerilya di hutan-hutan Aceh hampir 30 tahun lamanya.

Setelah Aceh damai, Tgk Hasan Ditiro sudah tiada. Berikut ini sekilas catatan sejarah bernilai yang ia tinggalkan untuk Aceh.

1. Bendera Aceh Bulan Bintang

Bendera Bulan Bintang diciptakan sebagai simbol perjuangan GAM. Pada masa pemerintahan Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf tahun 2013 resmi menetapkan bendera Gerakan Aceh Merdeka tersebut sebagai bendera resmi Propinsi Aceh. Penetapan ini dituangkan dalam Qanun Aceh Nomor 3 tahun 2013.

Disebutkan Bendera Aceh berbentuk segi empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 dari panjang, 2 buah garis lurus putih di bagian atas, 2 buah garis lurus putih di bagian bawah, 1 garis hitam di bagian atas, 1 garis hitam di bagian bawah.

Pada bagian tengah bendera terdapat gambar bulan bintang dengan warna dasar merah, putih, dan hitam.

Garis hitam bermakna untuk mengenang jasa para syuhada yang telah syahid dalam perjuangan.

Garis putih bermakna kesucian perjuangan atau perang di jalan Allah (prang sabi).

Lambang bintang bulan bermakna Islam sebagai hukum tertinggi mengatur tatanan pemerintah.

Sedangkan latar belakang bendera berwarna merah adalah simbol darah para syuhada dalam memperjuangkan dan mempertahankan agama Islam dan tanah air Aceh.

Bendera bintang bulan ini juga disebut sebagai Pusaka Nanggroe.

Sampai sejauh ini tidak diketahui kapan awal mulanya bendera ini gunakan dalam sejarah perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah.

Namun sejak Tgk Hasan Muhammad Ditiro mendeklarasikan GAM pada 3 Desember 1976, bendera ini sudah digunakan.

Saat upacara memperingati Milad GAM, bendera ini dikibarkan diiringi dengan suara azan.

2. Rekaman Suara Asli Tgk Muhamad Hasan Tiro
Meski Wali Nanggroe Tgk Hasan Muhammad Ditiro telah tiada, namun suara aslinya masih dapat didengar hingga sekarang.

Rekaman suara dan jejak perjuangan Hasan Tiro menanamkan ideologi GAM kepada pengikutnya ini direkam sekitar tahun 70-80 an ini beredar luas di internet, khususnya di channel youtube.

Rekaman suara tersebut juga menjadi salah satu bukti otentik bahwa selain menjadi ideolog, Hasan Tiro juga menjadi guru spritual dan sejarah bagi pengikut setianya.

3. Meninggalkan Karya Monumental Berupa Buku Sejarah Aceh dan Gerakan Perjuangan GAM.

Teungku Hasan Tiro adalah sosok yang brilian, dan ahli sejarah Aceh. Pengetahuan sejarahnya yang mumpuni dan mendalam itu mendorongnya memberontak dan mendirikan Negara Aceh Merdeka.

Semua ide perjuangan di medan gerilya dan diplomatik ia tuangkan dalam beberapa buku dengan harapan ide kemerdekaan Aceh membumi dan diketahui dunia.

Adapun buku-buku yang ditulis Hasan Tiro, yaitu Acheh in World History (Atjeh Bak Mata Donja) diterbitkan New York pada 1968.

One-Hundred Years Anniversary of the Battle of Bandar Acheh (Sireutoih Thon Mideuen Prang Bandar Atjeh), New York, 1973.

The Political Future of the Malay Archipelago (Masa Ukeue Politek Donja Meulaju), New York, 1965.

The Struggle for Free Acheh (Perdjuangan Atjeh Meurdehka), 1976.

Semua buku tersebut sangat efektif membuka mata dunia tentang kedaulatan dan kemerdekaan Aceh.

Di mata Hasan Tiro, Aceh tidak pernah menyerah kepada penjajah Belanda.

Ketekunan menulis di medan gerilya juga dibuktikan Hasan Tiro saat menulis naskah drama, "The Drama of Achehness History”.

Hasan Tiro mengetik naskah itu sepanjang hari dari pukul 07.00 pagi sampai 18.00 WIB sore.

“Kadang-kadang ketika Teungku mengetik, seorang pengawal dari balai penjagaan mesti mendatanganinya untuk menyuruh Tengku berhenti mengetik karena penjaga melihat pasukan musuh yang lewat dekat mereka,” kata mantan Menteri Pendidikan Negara Aceh Sumatera, Dr Husaini M Hasan MD dalam bab pendahuluan naskah tersebut.

4. Cikal Bakal Berdirinya Lembaga Wali Nanggroe

Sejatinya Tgk Hasan Muhammad Ditiro adalah sosok yang diangkat rakyat Aceh sebagai Wali Nanggroe.

Namun cita-cita itu terputus di tengah jalan menyusul deklarator GAM itu menghadap Sang Khalik pada 3 Juni 2010 dalam usia 84 tahun.

Saat itu Tgk Hasan Tiro meninggal di Aceh, tanah kelahirannya setelah 30 tahun mengasingkan diri dan menetap di Stokchlom, Swedia.

Sebelum ia mangkat Pemerintah Indonesia memberinya status Warga Negara Indonesia kehormatan. Status Wali Nanggroe saat ini dijabat Tgk Malik Mahmud Al Haytar, rekan seperjuangan Hasan Tiro.

Lembaga Wali Nanggroe juga menjadi salah satu simbol kekhususan Aceh, dan poin penting yang disepakati dalam perjanjian damai antara Pemerintah RI dan GAM di Helsinki 15 Agustus 2005.

Dengan adanya Lembaga Wali Nanggroe ini, Pemerintah Aceh turut membangun sebuah 'istana' megah di Jalan Soekarno-Hatta, Aceh Besar sebagai kantor menjalankan fungsi dan tugas-tugasnya di pemerintahan.

Bersamaan dengan itu, di Aceh juga dibentuk Partai Politik Lokal sebagai jalur perjuangan politik rakyat Aceh di parlemen.

5. Bangga dengan Sejarah Aceh hingga Hadiahkan  Perangko Tengku Tjhik di Tiro kepada Raja Faisal
Dalam bukunya, The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro disebutkan meski pun berada dalam pengintaian Pemerintah Indonesia, selama di Amerika, Hasan Tiro merasa dirinya sukses besar dalam dunia bisnis.

Ia masuk ke jaringan bisnis besar dan berhasil menembus lingkaran pemerintahan di banyak negara, seperti di AS, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan, kecuali Indonesia.

Ia menghindari berhubungan dengan Indonesia. Dari hasil keuletannya itu, Hasan Tiro memiliki relasi bisnis dekat dengan 50 pengusaha ternama AS.

Perusahaan-perusahaan mereka bergerak dalam bidang petrokimia, pengapalan, konstruksi, penerbangan, manufaktur, dan industri pengolahan makanan.

Hasan Tiro punya hubungan kerja sama dengan beberapa perusahaan itu.

Sebagai seorang konsultan, dia banyak memimpin delegasi-delegasi pengusaha AS untuk bernegosiasi dalam transaksi bisnis besar di Timur Tengah, Eropa, dan Asia.

Salah satu kunjungan adalah tahun 1973. Hasan Tiro melawat ke Riyadh dan disambut Raja Faisal.

Ada dua hadiah yang dipersembahkan Hasan Tiro kepada Raja Arab Saudi itu.

Satu potret Raja Faisal berlatar belakang industri Arab Saudi.

Dan, satu lagi adalah album koleksi perangko bergambar Al- Malik Tengku Tjhik di Tiro.

Ini diberikan untuk mengingatkan Raja Faisal akan kepahlawanan Aceh, sekaligus kakek buyut yang dikaguminya.

Meskipun Hasan Tiro datang sebagai ketua konsorsium pengusaha Amerika, dia masih tetap seorang Aceh, bukan warga Indonesia.

6. Tidak Pernah Mencampur Urusan Bisnis dengan Politik.

Rekan-rekan bisnisnya tidak tahu apa yang ada dalam benak Tgk Hasan Tiro yang tinggal di pengasingan.

Terutama tentang ambisinya mewujudkan kemerdekaan Aceh Sumatera.

Ia tidak pernah meminta simpati, nasihat, dan dukungan mereka.

Karenanya, nama dan perusahaan para pengusaha AS itu tidak disebutkan Hasan Tiro dalam buku hariannya yang belum selesai tersebut.

7. Disiplin dan Selalu Menjaga Penampilan

Bukanlah seorang Hasan Tiro bila tidak disiplin dalam berpenampilan.

Penampilan bagi Hasan Tiro menujukkan identitas siapa lawan bicaranya.

Ia akan sangat senang apabila tamu yang datang berpenampilan rapi, bahkan ia lebih suka si tamu memakai jas.

Fakta ini sempat dialami sejumlah wartawan yang meliput kepulangan Hasan Tiro ke Aceh untuk pertama kali setelah 30 tahun hidup di pengasingan pada 2008 silam.

Semua wartawan yang akan menemuinya harus berpenampilan rapi, terkadang harus mengenakan jas hanya untuk menemui sang proklamator GAM itu. Konon, Hasan Tiro enggan mau menerima tamunya bila tidak berpakaian rapi.

Di usianya yang sudah renta, Hasan Tiro masih tetap menjaga penampilannya. Ia selalu mengenakan jas dan sepatu pantofel.

Sosok seorang diplomat dengan pemikiran yang cerdas juga masih terpancar dari sorot matanya yang tajam.

8. Meninggalkan Anak Semata Wayang Demi Perjuangan
Karim sangat berkesan bagi Hasan Tiro. Kemana pun dia pergi, Karim selalu dibawa.

Karim mendapat tempat istimewa dalam The Price of Freedom: the Unfinished Diary of Teungku Hasan Di Tiro yang ia tulis semasa berada di medan gerilya.

Bahkan, ketika Hasan Tiro sudah berada di Aceh, salah satu kamp di hutan dinamakan sebagai Karim.

Bocah Karim telah menunjukkan watak tertentu saat berusia empat dan lima tahun.

Ceritanya, ketika Karim dibawa ke sebuah toko permen, segerombolan anak-anak mencoba mencuri permen.

Penjaga toko tidak mengetahuinya. Hasan Tiro yang sedang melihat-lihat beragam permen berpikir untuk melakukan sesuatu.

Tapi belum sempat ia berpikir, telah ada bunyi peluit. Gerombolan itu pun lari pontang-panting. Saat menoleh ke arah bunyi tersebut, ia melihat Karim dengan sebuah peluit di tangannya.

Wanita tua penjaga toko itu pun berterima kasih pada Karim.

Di lain kesempatan, cerita Hasan Tiro dalam buku The Price of Freedom: the Unfinished Diary of Teungku Hasan Di Tiro, Karim diajaknya ke masjid untuk shalat Jumat.

Karim selalu menjadi pandangan orang dan bahkan dipeluk para diplomat yang shalat di gedung PBB, New York.

Diajaknya Karim shalat di tempat itu, untuk membuat dia mengerti akan perintah agama.

Suatu ketika, Hasan Tiro sedang berjalan-jalan dengan Karim di Fifth Avenue, New York.

Banyak orang yang mendekati bocah itu untuk sekedar berbicara atau memegang pipinya.

Bila berjalan-jalan bersama Karim, Hasan Tiro merasa dirinya seperti mendampingi orang penting. Karena putranya selalu menjadi perhatian para pejalan kaki lain.

Di lain hari, Karim ditinggalkan ayahnya di lobi Hotel Plaza.

Hasan Tiro pergi sebentar untuk menelepon seseorang.

Belum selesai menelepon, ia melihat senator Eugene McCarthy, yang kemudian menjadi seorang calon Presiden AS, berbicara dengan Karim.

Senator itu kemudian menghampiri Hasan Tiro untuk memberi pujian kepada Karim.

"Saya harus menghampiri dan berjabat tangan dengan putra Anda, sebab ia terlihat tampan sekali!" kata senator itu.

Mengenang itu semua, Hasan Tiro galau dalam perjalanan pulang ke Aceh memimpin gerilya dalam upaya memproklamirkan Negera Aceh Merdeka.

Tepat 30 Oktober 1976, Hasan Tiro berhasil menyusup ke Aceh dengan sebuah kapal motor kecil.

Ia mendarat dengan selamat di Pasi Lhok, Kembang Tanjong, Pidie. Hasan Tiro meninggalkan segala kemewahaan di New York, Amerika Serikat kemudian memimpin gerilya di Aceh.

Termasuk, Karim kecil dan istrinya Dora, ia tinggalkan di Amerika Serikat.

Sampai saat ini tidak banyak informasi yang terungkap tentang keberadaan Karim di Tiro, anak satu satunya pewaris Hasan Tiro dari perkawinannya dengan Dora, warga Amerika Serikat keturunan Yahudi yang memeluk Islam. Sesuatu yang misteri.

Bagi Hasan Tiro, kelahiran Karim mendapat tempat istimewa di hatinya. Bahkan naskah berjudul drama “The Drama of Achehness History” ia dedikasikan untuk putranya, Karim.

Beberapa informasi menyebutkan Karim di Tiro kini menetap di New York, Amerika Serikat.

Ia telah menjadi seorang akademisi, asisten professor dan mendalami sejarah Amerika.

Sampai akhir hayat ayahnya, Karim tidak pernah muncul ke publik. Kala itu banyak orang di Aceh menunggu kepulangannya. Tapi itu tidak pernah terjadi.

9. Di Akhir Perjuangan, Hasan Tiro Kembali ke Pangkuan Tanah Kelahirannya Aceh

Seperti sudah mendapat panggilan hati, Hasan Tiro akhirnya kembali ke Aceh, tanah kelahirannya setelah 30 tahun hidup terasing di Swedia.

Kepulangannya

Hasan Tiro pulang ke Aceh pada 11 Oktober 2008 ternyata menjadi akhir dari perjuangannya di organisasi GAM.

Pada 2 Juni 2010 Hasan Tiro meninggal setelah 13 hari dirawat di RSUZA.

Sehari sebelum ia menutup mata untuk terakhir kalinya, Pemerintah Indonesia resmi memulihkan status WNI Hasan Tiro.

Surat itu disampaikan Menkopolhukkam Djoko Suyanto kepada perwakilan mantan petinggi GAM, Malik Mahmud dan kerabat dekat Tiro, di Banda Aceh.

Dalam surat itu disebutkan salah-satu pertimbangannya, yaitu alasan kemanusiaan, khusus dan politik.

Pertimbangan lainnya adalah nota kesepahaman damai antara Indonesia dan GAM.

Sebelumnya Hasan Tiro memegang kewarganegaraan Swedia sejak tahun 1979.

Sumber: serambinews.com

Ishak Daud dan cover dokumen yang diterbitkan USCR terkait pendeportasian dan perjanjian rahasia tentang pelarian politik Aceh antara RI dan Malaysia. Oleh Haekal Afifa*)
MENULIS tentangnya membuat pikiran saya kembali pada tragedi Semenyéh. Peristiwa pembantaian pada 25 Maret 1998 di beberapa kamp penjara Malaysia yang dihuni oleh ratusan pelarian politik dan tenaga kerja asal Aceh yang dilakukan oleh Pemerintah Malaysia dibawah Perdana Menteri Dr Mahathir Muhammad dengan Pemerintah Indonesia kala itu di bawah Presiden Suharto.

Pembantaian ini menjadi perbicangan hangat bagi publik Malaysia kala itu. Ternyata, ini adalah bagian dari “Operasi Bujuk” hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Malaysia dari tahun 1994 sampai tahun 1998.

Hal ini terungkap dalam dokumen rahasia yang di tulis oleh Jana Mason, analis dari United State Committee for Refugees (USCR).

Dalam dokumen yang berjudul “The Lask Risk Solution; Malaysia’s Detention and Deportation of Acehnese Asylum Seekers” yang terbit tahun 1998 itu menceritakan bagaimana pihak Malaysia melakukan penahanan, penyiksaan, dan deportasi tanpa prosedur yang telah ditetapkan oleh UNHCR serta perjanjian rahasia antara RI dan Malaysia terkait pemulangan imigran asal Aceh saat itu.

Ishak Daud, saat kejadian Semenyéh terjadi berada di Malaysia sebagai salah satu anggota Komite Pelarian Politik Aceh di Malaysia bersama Yusra Habib Abdul Ghani, Razali Abdullah, Mahfud Usman lampoh Awé, Syahrul Syamaun dan beberapa aktivis Aceh Merdeka lainnya.

Mereka di tuduh sebagai dalang mobilisasi, sehingga menjadi target penangkapan pasca meledaknya kerusuhan di beberapa Kamp Penjara Malaysia. Akibatnya, Ishak Daud diculik oleh Intel Gabungan (Malaysia-Indonesia) di seputaran Shah Alam pada pukul 09.00 tanggal 26 Maret 1998.

Menjelang siang, giliran Burhan dan Syahrul Syamaun diangkut oleh pasukan yang sama, tepat sehari setelah peristiwa Semenyéh.

Setelah ditangkap dan disiksa oleh pasukan gabungan itu, ia dibawa berobat ke Raimah Hospital, Klang Malaysia. Esoknya (27 Maret 1998) ia di deportasi ke Aceh menggunakan kapal.

Dengan kondisi tangan terikat dan dibungkus dengan plastik, dia bersama Burhan Syamaun dan Syahrul Syamaun (Tgk Linud–Wakil Bupati Aceh Timur sekarang) dilempar di tengah laut Dumai, Riau. Di Selat Malaka, dia bersama dua temannya mengarungi derasnya gelombang dengan selembar papan. Hanya Ishak dan Syahrul yang selamat setelah mengarungi ganasnya lautan.

Mungkin, dia dan Syahrul satu-satunya perenang yang berhasil mengarungi Selat Malaka hingga akhirnya ditangkap dan disiksa oleh pihak TNI AL dan Polres Bengkalis, Riau.

Setelah itu, dia dibawa ke Polda Aceh hingga akhirnya diseret ke Pengadilan Negeri (PN) Lhokseumawe dengan dakwaan kasus Penyerangan Pos ABRI di Buloh Blang Ara, Lhokseumawe pada tahun 1990.

Dari persidangan inilah, Ishak Daud mulai menjadi fenomenal. Ia bersikukuh untuk tidak mau diadili atas nama Pengadilan Indonesia. Bahkan, ia selalu memprotes hakim yang menyebutnya sebagai “Gembong GPK”.

Ia lebih memilih disebut sebagai GAM, bukan GPK.

Sehingga, dalam setiap sidang yang digelar, ia selalu membalut dirinya dengan selembar Bendera Bulan Bintang dan mengikat kepalanya dengan kain bertuliskan “Aceh Merdeka”.

Setelah tiga kali sidang digelar, PN Lhokseumawe diteror dengan Bom sehingga akhirnya 8 Oktober 1998 dia dipindahkan ke PN Sabang.

Pada 13 November 1998, Effinur dan Zainal Zein Koto; dua Jaksa Penuntut Umum menuntut Ishak Daud dengan Hukuman Seumur Hidup. Ketua Majelis Hakim PN Lhokseumawe, M Islam Kareng Dunie memvonis Ishak Daud dengan Hukuman 20 Tahun Penjara.

Setelah menjalani satu tahun di LP Siborongborong, Tapanuli Utara, berdasarkan Keputusan Presiden No. 157/1999 tertanggal 10 Desember 1999, Ishak Daud dan keenam temannya; Abu Bakar (Kasus Perampokan BCA Lhokseumawe pada 1997), Muzir Ramli, Mustafa Razali, Nur Irhamsyah Feruzi, Joni Yasin dan Abdul Manaf Sarông (Lima dari mereka didakwa kasus Penyerangan di Gunung Geurutée pada 10 Juni 1999) mendapat amnesti dari Presiden BJ Habibie.

Di LP Siborongborong, dia menikahi perempuan cantik Cut Rostina, istri mendiang temannya Rahman Paloh yang meninggal dalam satu pengepungan pada 24 Maret 1997 di Mon Kala, Kandang.

Istri pertamanya, dara ayu bernama Siti Zubaidah binti Omar merupakan warga Malaysia, darinya ia dikarunia dua orang Anak.

Setelah bebas, ia merasa lagi taka aman tinggal di Aceh. Lantas, 3 April 1999 ia berangkat ke Jakarta untuk mencari suaka Politik di Kantor Perwakilan PBB.

Permintaannya di tolak, sehingga dia memutuskan kembali ke Aceh dan berjuang kembali atas nama Aceh Merdeka.

Walaupun hanya menempuh pendidikan sekolah sampai kelas IV SD, Ishak Daud adalah sosok alumni pesantren yang cerdas, rasional, berani, lemah lembut, tegas dan berkomitmen.

Secara resmi, dia bergabung dengan GAM pada tahun 1987, dan itu menjadi tiketnya untuk menempuh pendidikan semikomando di Libya selama satu tahun.

Karena, 1989 pendidikan untuk semua GAM di Libya ditutup.

Dia juga seorang orator ulung, bahkan dia sering diminta untuk mengisi ceramah-ceramah Aceh Merdeka kala itu.

Kala itu, saya sering mendengar ceramahnya baik yang diadakan di Wilayah Peureulak ataupun Pasé. Kemampuan orasinya mampu menghipnotis ribuan pengunjung dengan doktrin perjuangan yang ia kuasai secara mumpuni.

Pernah, suatu hari ia bertandang ke rumah kami. Kala itu, dia curhat kepada orangtua kami terkait penculikan dan penyerangan yang ia lakukan.

“Bang, ureung njöe (Elit GAM) hana yakin lom keu ulôn. Maka peureulé kamöe cök peuneutöh lagée njöe (penculikan),” ucapnya.

Dia menjelaskan, bahwa setelah ia ditangkap tahun 1998, dalam “budaya” elite GAM sangat sulit dipercaya orang-orang GAM yang kembali bergabung setelah ditangkap, seakan dicurigai sebagai alat yang sudah “dicuci” oleh Pemerintah.

Sehingga, Ishak Daud membuktikan komitmenya pada elite GAM untuk selalu melakukan penyerangan dan penculikan saat itu.

Akhirnya, komitmen itu ia buktikan.
Dia Syahid bersama istri keduanya (Rostina) dalam kontak sejata selama dua jam di Alue Nireh, Aceh Timur pada 8 September 2004.

Bahkan, setelah dahinya tertembak (meninggal) ia kemungkinan besar disiksa dan ditembak kembali.

Istrinya yang tidak mau meninggalkan jasad suaminya juga mengalami kemungkinan yang sama, hingga kedua-duanya syahid dan dikebumikan satu liang.

Mimpi untuk membawa kelurganya di Malaysia tinggal ke Aceh jika nanti Aceh Merdeka pupus sudah. Ishak Daud sudah mencapai “kemerdekaan” hakiki dengan jalannya.
Ia menjadi panutan dengan pembuktian yang sudah ia berikan.

Kepergiannya hanya meninggalkan satu pesan: “Tanyöe sidröe beudjéut manfaat keu uréung Ramée.”

15 tahun sudah The Phenomenal ini pergi, semoga Allah selalu melapangkan kuburnya! Al Fatihah.(*)

PENULIS Haekal Afifa, Ketua Institut Peradaban Aceh. 
Sumber: atjehdaily.id

AMNews - Tgk Munirwan bergegas turun dari mobil begitu tiba di rumah ibunya, Halimah (58) di Gampong Meunasah Rayeuk, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, Sabtu (27/7). Kakinya melangkah cepat di antara suara azan yang baru saja berkumandang.

Begitu membuka pintu rumah, Munirwan langsung menuju kamar tidur sang ibu dan membangunkannya. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut ibu dan anak itu. Hanya terdengar suara tangis dari keduanya yang pecah dalam dekapan.

Munirwan memeluk erat tubuh ibunya yang belum bangkit dari tempat tidur. Keuchik Meunasah Rayeuk, Kecamatan Nisam, Aceh Utara itu tak kuasa menahan air mata yang membasahi pipinya. Begitu juga dengan Halimah, menangis tersedu.

Pertemuan anak dan ibu itu disaksikan keluarga besarnya. Seisi rumah menangis terharu, baik pria maupun perempuan, menyambut kedatangan Munirwan yang baru saja mendapat penangguhan penahanan setelah ditahan tiga hari di Mapolda Aceh, sejak Selasa (23/7).

Munirwan ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pengedaran bibit padi jenis IF8 tak berlabel. Tapi setelah tiga hari ditahan, Kapolda Aceh menangguhkan penahanan Munirwan, terhitung sejak Jumat (26/7).

Keputusan tersebut diambil dengan berbagai pertimbangan, salah satunya rasa kemanusiaan karena ibu Munirwan, Halimah akan menunaikan ibadah haji, di samping memang dirinya cukup kooperatif selama pemeriksaan.

Di sisi lain, muncul banyak desakan agar penahanan keuchik inovator dalam pengembang bibit padi itu ditangguhkan. Tim kuasa hukum bersama sejumlah LSM bahkan menggalang dukungan dengan mengajak masyarakat menjadi penjamin Munirwan.

Caranya dengan mengirimkan foto KTP ke ke tim kuasa hukum. Penggalangan yang diprakarsai Koalisi NGO HAM Aceh itu berlangsung sejak Munirwan ditahan pada, Selasa-Kamis (23-25/7) siang. Ada 2.000 lembar KTP yang terkumpulkan.

Dalam tangisnya, Halimah menguatkan batin seraya meminta Munirwan tabah menghadapi cobaan. Halimah juga berdoa agar masalah anaknya tersebut cepat selesai. “Saya tidak kuat menahan tangis saat itu,” kata Munirwan kepada Serambi, kemarin, menirukan ucapan ibunya.

Sang ibu juga berharap doa dari anak sulungnya itu agar dirinya selamat saat pergi dan pulang dari menunaikan ibadah haji. Untuk diketahui, Halimah tergabung dalam kloter 6 jamaah calon haji dari Aceh Utara.

Setelah pertemuan mengharukan itu berlangsung, pagi itu juga Munirwan dipeusijuek (ditepung tawari) oleh keluarganya. Alih-alih ingin melihat sang ibu dipeusijuek karena akan berangkat ke Tanah Suci, malah Munirwan yang dipeusijuek oleh ibunya.

Munirwan juga merasa bahagia bisa mengantar ibunya yang tergabung dalam kloter 6 untuk bertolak ke Banda Aceh pada, Sabtu (27/7). Ibunda Munrwan dan calon jamaah haji kloter 6 masuk asrama haji Banda Aceh tadi malam, sebelum berangkat ke Mekkah pada Minggu (28/7) pukul 22.35 WIB malam nanti.

Suasana haru kembali terjadi saat Halimah berpamitan dengan keluarganya. Halimah kembali memeluk erat anaknya. Linangan air mata secara perlahan membasahi pipi Munirwan. Di atas bahu sang ibu, Munirwan menenggelamkan mukanya yang basah dengan air mata.

“Saya masih bisa tahan tangis ketika bertemu dengan orang lain, tapi tidak bisa ketika berjumpa orang-orang yang saya sayangi. Saya meminta ibu untuk mendoakan agar masalah ini cepat selesai, apalagi Tanah Suci, negeri yang dikabulkan doa,” ujar Munirwan.(mas)

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Tangis Ibu Sambut Keuchik Munirwan,

AMNews - Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib Asyi, tidak banyak dikenal oleh generasi Aceh kini. Padahal karya Tajul Muluk, sering dibaca sampai sekarang. Sebelum berangkat ke Mekkah beliau berguru pada Syeikh Ali Asyi di Aceh, dan sewaktu beliau berada di Mekkah diantara guru gurunya adalah, Syeikh Daud bin Abdullah Al Fathani dan Syeikh Ahmad al-Fathani.

Kedua ulama ini memang sangat disegani, tidak hanya di tanah Arab, tetapi juga di rantau Melayu, seperti di Aceh, Pattani, dan Kelantan. Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib Asyi, agaknya tidak lepas dari jaringan keilmuan Nusantara ini. Kendati, sampai sekarang hampir tidak ada peneliti yang berani melakukan pengkajian terhadap biografinya secara lengkap.
Aceh, pulau jawa, sumatera, dan juga Kalimantan, ada kitab yang selalu dibaca oleh kaum santri atau siapapun yang tertarik dengan ilmu pegobatan, yakni Kitab Tajul Muluk. Kitab ini menggunakan bahasa Jawi (jawoe), maka siapapun bisa membacanya bila mengerti.

Anak Aceh yang sudah belajar di pesantren modern atau Madrasah ‘Aliyah, diantara cita-cita mereka adalah bisa belajar di Kairo, Mesir. Negeri yang sudah mencetak ribuan ulama, bahkan tidak sedikit jiwa pembaruan di Nusantara, disemai dari mereka yang pernah menimba ilmu di Mesir.

Sehingga anak muda Aceh yang merantau ke Mesir itu tidak sedikit. Saat ini sudah ada yang berbakti di Darussalam, seperti Prof. Dr. Tgk. Muslim Ibrahim. Juga ada Prof. Dr.Tgk. Azman Ismail (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh). Di dalam era kontemporer, dunia Islâm di Aceh memang tidak dapat dilepaskan dari tradisi keilmuan Islam yang didapatkan oleh sarjana-sarjana Aceh yang pernah menuntut ilmu di Kairo ini.

Ini merupakan impian setiap anak muda Aceh, yang mau menuntut ilmu ke mesir. Karena mesir gudangnya Ilmu Pengetahuan, dan Mesir tempat Ilmu pertama kali yang terbaik dalam hal masalah agama dan Ilmu pengobatan.

Selain Tajul Muluk, ada karyanya yang masih ada sampai saat ini adalah Jam’u Jawami’il Mushannifat. Salah satu kitab yang wajib dibaca di dayah-dayah, tidak hanya di Aceh, melainkan juga di Pattani dan Kelantan. Di dalam kitab tersebut, Syeikh Ismail menulis sepenggal kalimat yang sangat puitis:

Di dalam hal ini, Syeikh Ismail selain mentashihkan kitab-kitab ulama Aceh pada saat itu agar mudah dibaca umum. Selain itu ia juga mengarang kitab sendiri seperti Muqaddimatul Mubtadi-in, yang dicetak oleh Mathba’ah al-Miriyah, Mekah, 1307 Hijrah/1889 Masehi. Tuhfatul Ikhwan fi Tajwidil Quran, diselesaikan pada waktu Dhuha hari Jumaat dua likur Jamadilawal 1311 Hijrah/1893 Masehi.

Cetakan pertama Mathba’ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1311 Hijrah/1893 Masehi. Terdapat lagi cetakan Mathba’ah al-Miriyah, Mekah, 1324 Hijrah/1906 Masehi, Fat-hul Mannan fi Bayani Ma’na Asma-illahil Mannan, diselesaikan tahun 1311 Hijrah/1893 Masehi. Cetakan kedua oleh Mathba’ah al-Miriyah al-Kainah, Makkah, 1311 Hijrah/1893 Masehi, Fat-hul Mannan fi Hadits Afdhal Waladi ‘Adnan, diselesaikan tahun 1311 Hijrah/1893 Masehi.

Berawal dari kisah Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib al-Asyi, lalu mencoba mencari apakah ada ulama Aceh yang cukup disegani di Mesir? Dalam beberapa ‘catatan tercecer’ telah dikupas beberapa nama ulama Aceh di Mekkah serta jasa mereka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Mekkah berikut Serambinya (Aceh).

Tanpa sengaja kemudian tersentak bahwa pengarang kitab Tajul Muluk adalah ulama Aceh yang pernah menetap di Mesir. Lagi-lagi, nama beliau tidak pernah terdengar di Aceh, walaupun hanya untuk nama jalan, seperti yang terlihat sekarang, dimana ada nama-nama ulama besar hanya dijadikan sebagai nama-nama jalan di kota besar Aceh.

Wan Muhammad Sangir Abdullah, pengumpul hasil karya ulama Nusantara, mengatakan bahwa Syeikh Ismail Abdul Muthalib Asyi, setelah lama belajar dan mengajar di Mekkah oleh gurunya Syeikh Ahmad Fathani mengirim beliau ke Mesir untuk mengurus dan membina kader kader muda Islam Nusantara yang lagi belajar di Al Azhar Kairo bersama Syeikh Muhammad Thahir Jalaluddin, Syeikh Ahmad Thahir Khatib, Syeikh Abdurrazak bin Muhammad Rais, dan Syeikh Muhammad Nur Fathani.

Sesampainya di sana beliau mendirikan wadah pemersatu pelajar pelajar Nusantara disana dan beliau diangkat menjadi ketua pertama persatuan pelajar pelajar Melayu di Mesir oleh gurunya Syeikh Ahmad Fathani. Syeikh Ismail Asyi meninggal dunia di Mesir dan sedangkan keturunannya ramai menetap di Makkah.

Sampai sekarang belum diketahui dimana pusaranya. Namun, jasa dan embrio keilmuan yang ditiupkan oleh Syeikh Ahmad Fathani kepada Syeikah Ismail Abdulmuthalib Asyi sudah berhasil. Buah dari hijrah ini sudah dapat kita rasakan sampai hari ini, tidak hanya bagi orang Aceh, tetapi juga bagi umat Islâm di Indonesia, Malaysia, dan Thailand Selatan.

Inilah kisah kecil dan peran Syeikh Ismail bin Abdulmuthalib Asyi. Ada banyak hal yang perlu dipelajari lebih lanjut. Perlu dilacak lagi bagaimana jaringan keilmuannya di Mesir. Sehingga ada ‘alasan sejarah’ mengapa generasi Aceh selalu bermimpi untuk menuntut ilmu ke negeri itu. kisah ini ternyata sudah dilakukan oleh Syeikh Ismail Abdulmuthalib Asyi melalui dorongan dari gurunya yang berasal dari Pattani. Untuk itu, kita berharap nama ulama ini bisa mendapat tempat yang terhormat di Aceh, tidak lantas kemudian menjadi nama-nama jalan di kota besar.

Menghormati dan menghargai ulama, adalah dengan cara membaca karyanya dan berdoa atas jasa yang telah diberikan kepada kita saat ini. Begitu banyak manfaat kitab Tajul Muluk, namun tidak seimbang dengan pengetahuan pembaca akan penulis kitab ini. Akhirnya ‘sejarah tercecer’ dan tersebar entah kemana, kali ini bisa menjadi perhatian bagi masyarakat dan pemerintah Aceh.

Sudah saatnya digagas untuk menulis dan mencari dimana ulama-ulama Aceh di Timur Tengah..Kita berharap ada upaya nyata dari pemerintah untuk menggali dan mencari jejak-jejak ulama Aceh, yang telah berjasa dalam pengembangan keislaman dan keilmuan sehingga menjadi iktibar bagi generasi Aceh selanjutnya.

Secara sejarah, modernisasi pendidikan di Mesir berawal dari pengenalan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi Napoleon Bonaparte pada saat penaklukan Mesir. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang dicapai Napoleon Bonaparte yang berkebangsaan Perancis ini, memberikan inspirasi yang kuat bagi para pembaharu Mesir untuk melakukan modernisasi pendidikan di Mesir yang dianggapnya stagnan.

Diantara tokoh-tokoh tersebut Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Ali Pasha. Dua yang terakhir, secara historis, kiprahnya paling menonjol jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain. Sistem Pendidikan di negara Mesir meliputi: Sekolah Dasar (Ibtida’i); Sekolah Menengah Pertama (I’dadi);  Sekolah Menengah Atas (Tsanawiyah ‘Ammah); Pendidikan Tinggi.

Mesir dengan luas  wilayah sekitar 997.739 km², mencakup Semenanjung Sinai (dianggap sebagai bagian dari Asia Barat Daya), sedangkan sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika Utara. Mesir berbatasan dengan Libya di sebelah barat, Sudan di selatan, jalur Gaza dan Israel di utara-timur. Perbatasannya dengan perairan ialah melalui Laut Tengah di utara dan Laut Merah di timur.

Asal nama Mesir, Orang Qibti (Mesir kuno) menyebut negeri ini di zaman dahulu dengan istilah Kemy dan Takemy yang berarti hitam atau tanah yang hitam, sebagai simbol dari warna tanah yang subur. istilah Mesir paling kuno adalah Tawey yang berarti dua tanah. Karena secara geografis Mesir terbagi kepada dua, Tasymaao (dataran tinggi) dan Tsameho (permukaan laut atau ardh wajhul bahri). Nama ini muncul sejak akhir 4000 tahun SM.

Sumber: Arsip Atjehcyber | Tabloid Modus Aceh, 14 April 2010

Mantan Presiden Mesir Mohammed Morsi, mengenakan jumpsuit merah yang menandakan dia telah dijatuhi hukuman mati, mengangkat tangannya di dalam kandang terdakwa di ruang sidang sementara di akademi kepolisian nasional, di pinggiran timur Kairo, Mesir, Sabtu, 18 Juni. 2016. Amr Nabil/AP
AMNews - Presiden Mesir Muhammad Mursi (Mohammed Morsi) meninggal dunia pada Senin (17/6/2019) saat menjalani proses persidangan. Mursi adalah presiden Mesir pertama yang dipilih secara demokratis. 

The Guardian menulis, Mursi adalah tokoh senior Muslim Brotherhood (Persaudaraan Muslim), yang kini dilarang oleh pemerintah Mesir. Ia tengah menjalani persidangan atas tuduhan espionase. Ia pingsan lalu meninggal di tempat. 

“Setelah [hakim memutuskan] kasus ini ditunda, dia pingsan lalu meninggal. Jasadnya kemudian dibawa ke rumah sakit,” kata salah seorang sumber sebagaimana dilansir The Guardian

Pada Mei 2015, Muhammad Mursi tersingkir, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan. Dakwaannya berlapis, mulai dari penahanan dan penyiksaan para pendemo, membocorkan rahasia negara, berkomplot dengan kelompok asing bersenjata, hingga kabur dari bui (yang dia lakukan bersama anggota Hamas dan Hizbullah pada 2011). 

Sejak kudeta Juni 2013, ia dikurung dalam penjara berkeamanan ketat di Iskandariyah. November 2016 lalu, Pengadilan Tinggi Mesir membatalkan putusan hukuman mati tersebut. Jaksa mengatakan, laki-laki berusia 67 tahun ini, dinyatakan meninggal ketika tiba di rumah sakit Kairo. Penyebab kematian Mursi masih dalam proses penyelidikan. 

Untuk sementara, tidak terlihat bekas luka pada bagian tubuhnya. Namun, Muslim Brotherhood menuduh pemerintah melakukan pembunuhan terhadap Mursi, dengan cara memperlakukannya dengan buruk di penjara. Muslim Brotherhood juga mengajak seluruh Mesir untuk mengadakan pemakaman nasional untuk Muhammad Mursi. 

“Kami mendengar gedoran di kaca penjara oleh para teman sekamarnya, dan mereka meneriakkan bahwa Mursi telah meninggal,” kata Osama El Helw, pengacara Mursi. 

Sementara itu, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan turut menanggapi berita kabar kematian Mursi. 

“Sejarah tak akan melupakan tirani yang menyebabkan kematian [Mursi], dengan memenjarakan dan memperlakukannya dengan buruk,” katanya. 

Mursi memenangkan pemilu demokratis pertama di Mesir pada 2012 dengan perolehan suara 51,7 persen, usai revolusi Mesir yang berlangsung sejak 2011. Namun, beberapa tahun memerintah, Mursi dikudeta oleh pasukan militer masif yang memprotes kepemimpinannya. 

Mursi berkuasa selama satu tahun tiga hari. Ia digulingkan pada 3 Juli 2013 oleh kombinasi protes jalanan dan kudeta militer. Sebulan kemudian, 14 Agustus, ribuan pendukung Mursi turun ke jalan memprotes kudeta. 

Militer merespons dengan membantai sekitar 1500 pemrotes hanya dalam satu hari. Peristiwa ini kelak dikenal sebagai Pembantaian Rabaa. Pada 3 Juli 2013, dia dikudeta dan digantikan oleh Presiden saat ini, Abdel Fattah el-Sisi. Dia menjadi tahanan rumah sebelum dijebloskan ke penjara.

AMP - Tanggal 22 Januari 2002 menjadi hari duka bagi seluruh masyarakat Aceh. Pada hari itu atau 16 tahun yang lalu, Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Teungku Abdullah Syfei'i atau Teungku Lah, gugur di medan perang.

Ketua Fraksi Partai Aceh di DPRA, Iskandar Usman Al-Farlaky, mengaku sangat kehilangan tokoh yang paling diseganinya. Menurut Iskandar, Teungku Lah merupakan sosok panglima yang tak kenal lelah dalam memperjuangkan Aceh.

"Pada haul ini kita yang masih hidup, mari kita sedekahkan doa kepada almarhum Teungku Lah, dua pengawal serta istri beliau, agar mendapat tempat yang layak di sisi-Nya," katanya kepada Serambinews.com, Senin (22/1/2018).

Teungku Abdullah Syafi’i, lebih dikenal dengan nama Teungku Lah, lahir di Bireuen, Aceh, 12 Oktober 1947. Sosok ini sangat dikagumi prajurit GAM serta disegani oleh TNI saat konflik mendera Aceh.

Iskandar mengatakan bahwa pihaknya akan terus menjaga harapan dan cita-cita perjuangan Teungku Lah untuk Aceh yang lebih baik. Supaya, slogan Aceh maju bukan hanya sebatas romantisme masa lalu saja, tetapi harus diwujudkan.

Figur dan jiwa perjuangan yang terpatri dari Teungku Lah, kata Iskandar, harus menjadi spirit bagi semua pihak dalam mengisi pembangunan Aceh dan menjaga setiap jengkal kekhususan Aceh dalam konteks damai ini.

"Jasa-jasa Teungku Lah tak terbalas dengan cara apapun. Mari kita hargai apa yang telah beliau ajarkan dengan berdoa agar apa yang dicita-cita Teungku Lah tercapai di kemudian hari. Tentu untuk meraih ini, diperlukan kekompakan Aceh," kata mantan aktivis ini.

Untuk diketahui, Teungku Lah gugur di medan tempur bersama istrinya Cut Fatimah dan dua pengawal setianya dalam pertempuran dengan pasukan TNI di hutan Jim-jim, Pidie Jaya, 22 Januari 2002.

Senin, (22/1/2018) hari ini genap 16 tahun kepergian sang Panglima menghadap Ilahi.| Serambinews

Brigjen Pol Supriyanto MM
AMP- Akhirnya dengan berkat do’a  serta keinginan masyarakat Aceh, Brigjen Pol Drs. Supriyanto Tarah MM yang akrab di sapa Yanto Tarah kembali bertugas di Tanah Rencong sebagai Wakil Kepala Polisi Daerah (Wakapolda) Aceh. 

Kembalinya yanto tarah  bertugas di aceh sesuai dengan surat telegram Kapolri Nomor: ST/16/I/2018 tanggal 5-1-2018 yang beredar di kalangan wartawan dan jajaran kepolisian .

Yanto tarah merupakan salahsatu perwira tinggi polri yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bidang Penanganan Kejahatan Kekayaan Negara di Kementerian Koordinator Politik,Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam),terhitung sejak tanggal 5 Januari 2018 ditunjuk menggantikan Brigjen Pol Bambang Soetjahyo.

Dalam catatan redaksi, Yanto tarah kelahiran 4 November 1962 di Bojonegoro, Jawa Timur, bagi masyarakat aceh yanto tarah adalah sosok pimpinan polisi yang sangat dekat dengan segala komponen masyarakat.

Pada saat aceh masih dilanda konflik bersenjata yanto tarah pernah menjabat sebagai Kapolres Bireuen,bagi masyarakat bireuen dan aceh utara khususnya memiliki penilaian tersendiri terhadap sosok yanto tarah yang regelius dan ramah senyum.

T. Sayed Azhar salahsatu warga aceh utara yang juga pimpinan redaksi media online statusaceh.net sangat bersyukur kepada Allah atas kembalinya yanto tarah bertugas di aceh, bagi sayed hal ini sudah lama di inginkan dirinya dan masyarakat aceh,disamping yanto tarah merupakan salahsatu perwira polisi saat konflik yang berani dan siap mengorbankan nyawa serta anak istri demi menjalankan tugas sebagai abdi negara.


T. Sayed Azhar
“ Alhamdulillah jika beliau telah jadi wakapolda aceh,ini sudah lama saya dan masyarakat inginkan,kalau tidak salah sejak tahun 2016 aaya ingin beliau kembali ke aceh, beliau layak jadi orang nomor satu atau dua di Polda Aceh karena saat konflik beliau berani ambil resiko bawa anak dan istri bertugas ke aceh karena beliau menganggap itu semua adalah tuntutan sebagai abdi negara “,ungkap sayed yang bersyukur atas kembalinya yanto tarah ke aceh.

Brigjen Drs Supriyanto MM yang dihubungi melalui sambungan telepon selulernya,Minggu (7/1/2018), mengatakan jika dirinya belum mengetahui jika dirinya telah ditunjuk sebagai wakapolda aceh,namun pria yang ramah senyum ini mengatakan akan selalu siap menjalankan tugas dimana dan kapan saja  apalagi ke aceh dirinya mengatakan seperti kembali ke kampung halaman.

“ Oh saya belum tahu, semoga saja benar itu informasinya karena jika benar saya pulang kampung, sudah lama sekali saya tinggalkan aceh,apalagi disana masih ada guru agama saya abu tumin,saya rindu sekali sama beliau,namun pada dasarnya saya siap ditugaskan dimana saja apalagi di Aceh “,ujar yanto tarah di seberang telepon dengan nada datar.

Sementara itu pihak Polda Aceh belum dapat dihubungi serta belum dapat memberikan keterangan terkait adanya mutasi ataupun pergantian salahsatu pimpinan polda aceh. (Redaksi)

AMP - Dikutip dari teropongbarat.com yang bersumber dari akun facebook yang dunggah Velixy Xaxena cukup menghebohkan dunia maya, bagaimana tidak dalam postingan tesebut terdapat 2 sosok wanita cantik yang sedang hamil besar sambil memegang senjata, dengan ciutannya yang buat penasaran apakah hal tersebut memang benar adanya atau memang untuk mencari sensani ditengah situasi Aceh Yang lagi tidak akrab.

“Ayah dari anak yg aku kandung telah tiada tertembak saat konflik aceh.
Suamiku tanpa meninggalkan apapun berupa harta benda.

Yang ada hanya sepucuk senjata,sebagai isyarat untuk terus melanjutkan perjuangannya” .

AMP - Siapa yang tidak mengenal Mutia Lifyana yang sangat cantik dan teranggun versi video klip lagu aceh yang kini sudah menjadi klip nomor satu di Aceh. Kecantikannya mampu menggebrak dunia musik bahkan perfileman Aceh.

Artis ini merupakan figur yang sangat dilihat pada berbagai video klip di dunia musik di Aceh. Artis ini mampu menjalankan berbagai akting dalam video klipnya. Tak heran, selain cantik Mutia Lifyana mampu berakting bagaikan seorang artis nasional di berbagai Video Klip lokal.

Dunia perfilman dan musik Aceh kini semakin maju dan terus berkembang. Apalagi dengan adanya akting-akting wanita-wanita cantik yang mewarnai setiap klip musik atau klip-klip film. Hal ini memberikan warna tersendiri pada aksi-aksi syuting  yang terus menunjukkan sayap-sayapnya untuk memajukan sebuah syuting baik pada klip music atau acting sebuah film. Salah satu wanita cantik yang mewarnai klip music aceh adalah Mutia Lifyana yang sering kita nonton di klip lagu Bergek. {Sumber}

AMP - Dalam sejarah dunia militer Indonesia, sosok Alex Evert Kawilarang merupakan nama yang tak asing lagi dikenal.

Pria kelahiran Batavia (kini Jakarta), 23 Februari 1920 ini pernah menempeleng Presiden kedua Indonesia, Soeharto.

Penempelengan tersebut terjadi ketika Kawilarang menjabat sebagai Panglima selaku atasan dari Letkol Soeharto.

Sekitar tahun 1950-an, sebagai Panglima Wirabuana, Alex E Kawilarang melaporkan kepada Presiden Soekarno bahwa keadaan di Makassar sudah aman.

Namun Soekarno justru menyodorkan sebuah radiogram yang baru saja diterimanya yang melaporkan bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar.

Brigade Mataram, pasukan yang seharusnya mempertahankan kota Makassar saat itu juga dilaporkan telah mundur ke Lapangan Udara Mandai.

Mendengar radiogram tersebut, Kawilarang marah besar dan segera kembali ke Makassar.

Setibanya di lapangan udara Mandai, ia langsung memarahi Komandan Brigade Mataram, Letkol Soeharto, sambil menempelengnya.

Latar belakang Alex E. Kawilarang

Alex E Kawilarang merupakan putera dari keluarga dengan latar belakang militer.

Ayahnya adalah A.H.H. Kawilarang, yang merupakan seorang mayor KNIL asal Tondano.

Ia lahir dari ibu bernama Nelly Betsy Mogot, yang berasal dari Remboken.

Alex E Kawilarang, juga merupakan sepupu dari Pahlawan Nasional, Daan Mogot.

Ia meninggal di Jakarta pada 6 Juni 2000 silam di usia 80 tahun.

Selain sebagai perwira militer yang termasuk dalam Angkatan '45, Alex E Kawilarang juga merupakan mantan anggota KNIL.

Karier Militer Alex E Kawilarang

Alex E Kawilarang mengawali kariernya sebagai Komandan Pleton Kadet KNIL di Magelang pada tahun 1941-1942.

Kariernya melaju cepat seiring berjalannya waktu.

Pada 11 Desember 1945 ia telah menjadi perwira dengan pangkat mayor dan bertugas sebagai penghubung dengan pasukan Inggris di Jakarta.

Sebulan kemudian, tepatnya pada Januari 1946 ia menjabat sebagai Kepala Staf Resimen Infanteri Bogor Divisi II Jawa Barat, dengan pangkat letnan kolonel.

Tiga bulan setelah itu, pada April-Mei 1946, ia diangkat menjadi Komandan Resimen Infanteri Bogor.

Tiga bulan selanjutnya, yakni pada bulan Agustus 1946 hingga 1947 ia diberi kepercayaan sebagai Komandan Brigade II/Suryakencana - Divisi Siliwangi di Sukabumi, Bogor dan Tjiandjur.

Pada 1948-1949, Kawilarang menjabat sebagai Komandan Brigade I Divisi Siliwangi di Yogyakarta.

Di tahun yang sama, tepatnya pada 28 November 1948 ia juga menjabat sebagai Komandan Sub Teritorium VII/Tapanuli, Sumatera Timur bagian selatan.

Setahun selanjutnya, pada 1 Januari 1949 pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), ia dipercaya sebagai Wakil Gubernur Militer PDRI untuk wilayah Tapanuli dan Sumatera Timur bagian selatan.

Di penghujung tahun 1949, tepatnya pada tanggal 28 Desember, ia dipercaya sebagai Gubernur Militer wilayah Aceh dan Sumatera Utara merangkap Wakil Koordinator Keamanan dengan pangkat kolonel.

Dua bulan kemudian, pada 21 Februari 1950, ia mendapatkan kepercayaan tambahan sebagai Panglima Tentara dan Territorium I/Bukit Barisan yang berkedudukan di Medan.

Pada 15 April 1950 ia diangkat sebagai Panglima Operasi Pasukan Ekspedisi.

Saat itu ia ditugaskan untuk memimpin Pasukan Ekspedisi dalam Operasi Penumpasan Pemberontakan Andi Azis di Makassar, pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku, dan Pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan.

Pada 1951-1956, Kawilarang diangkat sebagai Panglima Komando Tentara dan Territorium VII/Indonesia Timur (TTIT) di Makassar dan pada November tahun yang sama menjadi Panglima TT III/Siliwangi yang di kemudian hari diubah namanya menjadi Kodam III/Siliwangi.

Salah satu jasanya yang hingga kini sangat terasa kehadirannya adalah saat ia merintis pembentukan pasukan khusus TNI pada April 1951, dengan nama Kesatuan Komando Territorium III (Kesko TT-III) Siliwangi di Batujajar, Jawa Barat.

Kesatuan ini merupakan cikal bakal dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sekarang.

Pada 10 November 1951 hingga 14 Agustus 1956, Kawilarang diangkat menjadi Panglima Komando Tentara dan Territorium III/Siliwangi yang berkedudukan di Bandung. (TribunWow.com/Fachri Sakti Nugroho)

AMP - Tak banyak yang tahu tentang peristiwa penghadangan pasukan Belanda oleh para suhada di kawasan Tenge Besi tahun 1902. Para pejuang yang sahid ini dimakamkan di daerah ini.

Menurut cerita, ada 5 makam yang merupakan makam para pemimpin pasukan yang menghadang dan menyerang pasukan Belanda saat itu. Sehingga pecahlah pertempuran sengit antara pejuang kemerdekaan dengan pasukan Belanda dan memakan banyak korban. Diantara kelima makam tersebut ada yang bertuliskan “Raja Agam Aman Beramat Raja Bukit Panglima Perang Kandang Gugur Thn 1901/1902”

Meskipun tidak dibangun layaknya pemakaman pejuang kemerdekaan lainnya, makam suhada Tenge Besi ini terlihat tetap terawat walau seadanya. Kiranya pemerintah dapat membangun komplek pemakaman suhada Tenge Besi sehingga dapat menjadi wisata sejarah perjuangan kemerdekaan.

Jumat (15/9/2017), atas instruksi Camat Gajah Putih, Ilham Abdi, SSTP, MAP untuk melaksanakan gotong royong massal di wilayahnya, maka Reje Kampung Persiapan Sentosa Kecamatan Gajah Putih bersama dengan personil koramil Timang Gajah berinisiatif untuk membersihkan dan membuka jalan menuju makam suhada tenge besi.

Bagi anda yang ingin berziarah, Makam Suhada Tenge Besi berada di Kampung Persiapan Sentosa (Pemekaran Kampung Reronga) Kecamatan Gajah Putih Kabupaten Bener Meriah.| lintasgayo.co

Maimun Saleh | Foto: TNI AU
AMP - Monumen pesawat tempur Maimun Saleh yang terletak di jalan Banda Aceh- Medan kawasan Aneuk Galong, Aceh Besar merupakan  salah satu dari 3 monumen pesawat yang ada di Aceh,selain monumen pesawat RI 001 Seulawah di Blang Padang dan monumen pesawat jenis A4 SkyHawk TT-0435  di Lanud SIM.

Namun banyak yang tidak tahu asal usul monumen yang terletak di tepi jalan Banda Aceh itu.

Sebagian orang mengira bahwa pesawat yang berada di atas tugu tersebut merupakan replika, sebenarnya pesawat yang berdiri kokoh itu adalah pesawat asli milik TNI AU yang sudah tidak digunakan lagi.

"Kami mengira pesawat tersebut adalah replika, ternyata itu adaah pesawat asli," kata Iswanda warga Banda Aceh.

Namun siapakah tokoh dibaliik penamaan monumen tersebut?

Maimun Saleh adalah salah seorang warga Aneuk Galong, Aceh Besar. Maimun Saleh lahir pada  14 Mei 1929 dari keluarga Tgk M Saleh dan Aisyah.

Dikutip dari berbagai sumber, pada usianya ke 20 tepatnya pada tahun 1949, Maimun mendaftarkan diri di sekolah penerbang di Banda Aceh (Koetaraja, sebutan Banda Aceh zaman dahulu).

Belajar di sekolah penerbang Maimun membuktikan dirinya sebagai sosok yang patut dibanggakan.Pada tahun 1950 Maimun dipindahkan ke sekolah penerbangan di Jawa Barat untk mendalami pembelajarannya.

Dua tahun mengeyam pendidikan, tepatnya pada awal tahun 1951 Maimun berhasil lulus dan menerima ijazah sebagai penerbang kelas 3.

Karena kemahirannya, Maimun ditempatkan di Skadron IV (pengintai darat). Berbagai misi diselesaikan selama menjadi anggota skadron IV. Dengan menggunakan jet tempur, Maimun aktif sebagai angkatan udara.

Naasnya, pada Jumat 1 Agustus 1952, pessawat tempur jenis Auster IV-R-80 mengalami kecelakaan di Pangkalan Udara Semplak Bogor. Sersan Mayor Maimun Saleh gugur dalam kecelakaan itu.

Berdasarkan website TNI AU disebutkan, bahwa peristiwa yang sangat menjedihkan itu terdjadi ketika diadakan latihan rutin di atas Komando Pangkalan Udara Semplak dan belum diketahui penyebab kecelakaan itu.

Keesokan harinya 2 Agustus 1952, jenazah Maimun Saleh dipulangkan ke kampung halaman untuk disemanyamkan.

Untuk mengenang sang penerbang pesawat tempur pertama asal Aceh itu, tepatnya pada tahun 2008 sebuah pesawat tempur jenis Hawk 200 diterbangkan ke Aceh untuk diletakkan di atas tugu yang diberi mama dengan monumen Maimun Saleh.Selain itu nama AURI Banda Aceh dan landasan udara Sabang juga dinamakan dengan Maimun Saleh.[mediaaceh.co]

UMAR KINI BERUSIA 25 TAHUN. Tiga tahun telah lewat. Tak ada lagi perang yang membuncah. Hanya saja, sembilan butir peluru masih bersarang di tubuhnya: di punggung, dada, ketiak hingga ujung jarinya. ”Kena saraf, gak bisa di operasi. Kalau di operasi bisa lumpuh,” kata Umar. Sesekali, rasa nyeri muncul tiba-tiba.

Di kampungnya, Idi Rayeuk, Aceh Timur, ia tak lagi menenteng senjata. Kini, ia sibuk memelihara seratusan bebek di halaman depan rumahnya yang berdinding papan. Umar berbadan tegap, berambuk cepak ala tentara. Nada suaranya tegas. Umar adalah satu-satunya saksi hidup –dari kalangan GAM– yang terlibat langsung dalam pertempuran dua jam di Alue Nireh, Aceh Timur, 8 September 2004. Ya, pertempuran penghabisan yang menewaskan Komandan GAM Wilayah Aceh Timur, Ishak Daud.

Selama tiga tahun, kematian Ishak Daud meninggalkan misteri. Tak ada yang tahu persis detail kejadiannya. Pihak GAM sendiri baru mengeluarkan keterangan pers pada 12 September 2004, empat hari setelah kejadian. Itupun, GAM hanya menyebut Ishak Daud tewas bersama delapan personel GAM lainnya. Selebihnya adalah misteri. Tiga tahun peristiwa itu tetap menyimpan teka-teki.

“Dengan kesedihan yang sangat mendalam kami umumkan syahidnya Teungku Ishak Daud, anggota staf Operasi Komando Pusat Di Tiro, Tentara Negara Acheh (TNA), dalam pertempuran di Aluë Ôn, Aluë Ië Niréh, Peureulak, Acheh Timur pada siang hari Rabu sekitar pukul 12.20, 8 September 2004.” Begitulah keterangan itu dibuka.

“Saya sebagai orang GAM pun tak pernah tahu bagaimana kejadian sebenarnya,” ujar seorang anggota GAM yang kini bekerja di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh- Nias. Sebelumnya, Umar sendiri lebih memilih diam. Tapi, saat ditemui ACEHKINI, ia buka suara.

Inilah untuk pertama kalinya Umar bersedia buka mulut tentang kisah di balik meninggalnya Ishak Daud. Ayah satu anak ini tak mampu membendung haru. “Kalau ada yang tanya saya gak mau cerita. Ini pertama kali saya cerita tentang kejadian ini. Saya cerita begini sedih,” ujarnya dengan suara tersendat-sendat.

Umar tak pernah melupakan kejadian itu: detik-detik ketika nyawanya dipertaruhkan. Ia sering mengenang pertempuran penghabisan itu dengan hati teriris. Pertempuran itu bermula saat lima orang rombongan Ishak Daud sedang menempuh perjalanan menuju Tualang. Mereka adalah Ishak Daud, istrinya Cut Rostina, Umar, Raider, dan Abu Bakar. Hari itu, rencananya, mereka mau naik ke Tapaktuan karena Ishak Daud dipindahtugaskan ke sana.

”Kami mau jalan lewat laut menuju Jeunieb, lalu menyeberang ke Tapaktuan,” kenang Umar.

Hari naas itu, 8 September 2004, Ishak Daud bersama istri dan tiga pengawalnya sedang berwudhuk untuk sembahyang dhuhur di pinggir kali tak jauh dari kamp darurat mereka. Saat itu, ia hanya mengenakan baju kaos dan celana jeans.

Sungai itu letaknya di lembah, dikelilingi perbukitan. Tiba-tiba, dari atas bukit terdengar salak senjata. Ishak Daud yang ber ada di bibir sungai terperanjat. Ternyata, keberadaannya sudah terendus pasukan TNI.

Umar yang tidak jauh dari Ishak Daud segera tiarap sembari melepas tembakan balasan. “Abu Chik, kita harus mundur,” seru Umar. Abu Chik adalah panggilan kehormatan pasukan GAM kepada Ishak Daud.

“Tidak, ini saatnya kita bertempur habis-habisan. Ini penentuan hidup dan mati,” sergah Ishak di antara peluru yang berdesing seraya mengambil posisi menyerang.

Cut Rostina sang istri yang sedang hamil, juga tak mau lari. “Hidup dan mati saya bersama suami,” ujarnya kepada Umar. Hari itu adalah hari kelima Cut Rostina berkumpul bersama suaminya.

Tret…tret….. rentetan tembakan terus berdesing. Mereka mencari benteng perlindungan. Untungnya, tak jauh dari mereka ada pohon sawit. Di sanalah, mereka berlindung sambil melepas tembakan balasan.

Umar berusaha menarik Cut Rostina untuk berlindung di balik pohon sawit menyusul Ishak. Saat itulah, sebutir peluru merobek lengannya. Ia terlempar ke belakang sejauh dua meter.

”Saya kena,” teriak Umar spontan.

Ia sempat melihat sang penembak tak jauh darinya. Sambil melepas tembakan balasan, ia sempat mengajak Ishak Daud mundur. Tapi, lagi-lagi ajakan itu ditampik.

”Jangan, hari ini kita perang,” kata Ishak.

Ibarat adegan di film laga, mereka bertempur dengan posisi saling melindungi: satu di depan, satu belakang. Umar mengambil posisi di depan. Sementara Ishak dan istrinya di belakang. Dengan tubuh berlumur darah, Umar berdiri di tempat terbuka, seraya memberondong tembakan ke arah tentara.

Umar berseru, ”Neupleung droe neuh, bah lon dong (lari saja dulu, biar saya yang hadapi).”

Umar terus merangsek ke depan sambil memberondong tembakan. Naas, sebutir peluru kembali terpacak di belakang tubuhnya.

”Abu Chik…., saya kena,” teriak Umar.

Mendengar teriakan itu, Ishak Daud melongok dari balik pohon kelapa sawit. Saat itulah, sebutir peluru menembus dahinya.

Ishak terjatuh dengan posisi telungkup. Darah segar keluar dari hidungnya. Saat itu juga, malaikat maut menjemput. Umar lalu membuka baju dan celana Ishak. Yang tersisa hanya celana dalam. Sebelum menjauh, ia sempat menyelimutinya dengan kain hitam. Ia juga membawa lari senjata dan buku catatan Ishak. ”Saya membuka bajunya agar tentara tak mengenali beliau,” kenang Umar.

Pukul 14.30 perang mereda. Cut Rostina menyuruh Umar menyelamatkan diri, sementara ia tetap di sana, meratapi jasad sang suami. Umar sempat tak tahu nasib istri Ishak Daud, sampai akhirnya koran memberitakan Rostina juga tewas dalam pertempuran itu. ”Saat kami berpisah Bunda (Rostina) masih hidup. Kemungkinan beliau disiksa,” tutur Umar.

Dalam kondisi sembilan peluru bersarang di tubuhnya, Umar merangkak mencari perlindungan. Ia sempat pingsan. Ketika tersadar, ternyata ia berada di kandang babi, 50 meter dari lokasi pertempuran. Sadar suasana sudah sepi dan tentara sudah menjauh, dengan luka tembak di sekujur tubuh, ia merangkak ke desa terdekat. Nyawanya terselamatkan.

Tiga hari kemudian Aceh geger setelah berita kematian Ishak muncul di media lokal. Ternyata, tentara mengenalinya. Hanya saja, tubuhnya sudah dipenuhi luka tembak. ”Sepertinya beliau ditembak lagi setelah meninggal,” duga Umar. Raider dan Abu Bakar, dua pengawal Ishak yang lain, juga ikut tewas.
***
LAHIR DI IDE RAYEUK, ACEH TIMUR, 1960, Ishak pernah ditangkap TNI karena menyerang pos ABRI Masuk Desa (AMD) dan merampas 21 pucuk senjata milik TNI pada Maret 1990 di Buloh Blang Ara, Aceh Utara. Ketika itu dua tentara Indonesia dan dua bocah yang berada di dekat pos tewas.

Tak lama ditahan, Ishak kabur ke Malaysia. Pada Maret 1996 ia ditangkap dalam sebuah operasi intelijen bersama Indonesia-Malaysia. Ishak lalu diserahkan polisi Malaysia ke Polisi Resor Bengkalis, Riau. Dari Riau dibawa ke Polda Aceh.

Setelah ditahan lebih dari dua tahun, sidang Ishak baru digelar. Lelaki yang tak lulus sekolah dasar itu lalu dituntut hukuman seumur hidup—meski akhirnya pada Desember 1998 ia dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.

Setahun di penjara, Ishak Daud bersama 30 tahanan politik asal Aceh mendapat amnesti dari Presiden B.J. Habibie. Ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Siborongborong, Tapanuli Utara, Ishak lalu bebas. Ia kembali ke asalnya, mengangkat senjata melawan Jakarta
***
BAGI UMAR, ISHAK ADALAH PANUTAN. Ia sempat dua tahun menjadi pengawal Ishak Daud. Di mana ada Ishak, di sana ada Umar. Pria yang mengaku hanya sekolah sampai kelas dua SD ini, bergabung dengan GAM pada 1999. Saat itu usianya masih 17 tahun.

Umar menyimpan kenangan khusus terhadap Ishak Daud. Baginya, Ishak ibarat orang tua sendiri. Satu petuah Ishak yang selalu diingatnya: ”Si droe tanyoe, beuna manfaat keu ureung ramee.”

Hingga kini, Umar masih sulit menerima kematian Ishak. Tak jarang, ia berkunjung ke kuburan Ishak Daud hanya sekadar mengenang kebersamaan mereka. ”Masak saya tidak bisa menjaga orang yang selama ini membimbing saya,” tutur Umar dengan nada sedih.

Ia sendiri tak pernah menyangka masih bisa hidup. Apalagi dengan kondisi sembilan peluru bersarang di tubuhnya. ”Ini masih bisa diraba pelurunya,” ujarnya seraya memperlihatkan bekas luka tembak di badan, punggung dan ujung jarinya. Di balik kulitnya, peluru memang masih bersarang.

Usai pertempuran itu, Umar sempat dua bulan melarikan diri ke Medan. Dari sana, ia melanjutkan pelarian ke Riau. Enam bulan di sana, ia sempat berobat. Tapi, biayanya na’udzubillah, mencapai Rp 2 juta sekali berobat. Dalam kondisi tak menentu, lewat seorang penghubung, Umar bertolak ke Malaysia. Di sana, lewat bantuan UNHCR, badan PBB yang menangani urusan pengungsi, ia menjalani perawatan intensif.

Beruntung, meski peluru masih bersarang di tubuhnya, nyawa Umar terselamatkan. Lima bulan setelah damai, ia balik ke Aceh. Saat perjanjian damai diteken, ia masih tergolek di rumah sakit. Awalnya ia sempat tak percaya pemerintah dan GAM sepakat berdamai. ”Tapi ini rahmat dari Tuhan. Pat ujeuen yang han pirang, pat prang yang han reuda,” ujarnya.

Ikhlaskah Umar menerima damai? ”Saya waktu itu berpikir untuk kesembuhan sendiri dulu. Jangan sampai negara aman, tapi kita di tempat tidur,” kata Umar. Itu sebabnya, ia berharap perdamaian membawa kesejahteraan dan masa depan lebih baik untuk Aceh. Sebab, detik-detik menegangkan di Alue Nireh terlalu pahit untuk dikenang. Di sana, kebersamaannya dengan Ishak Daud bubar dalam perang penghabisan: perang terakhir buat Ishak, juga bagi Umar.

YUSWARDI A. SUUD | FAKHRURRADZIE GADE
ACEHKINI #2, OKTOBER 2007

AMP - Banyak cara yang dilakukan untuk mencari jodoh, salah satunya adalah dengan mempromosikan diri melalui media sosial, seperti Instagram. Bagaimana caranya? Kamu mungkin bisa meniru apa yang dilakukan oleh dokter cantik asal Kendal bernama Suwitri Prihastuti ini.

Bersama foto gadis cantik berkerudung tersebut, juga terdapat sebuah caption,”Ta’aruf barangkali ada yang serius. Monggo. Data akhwat Ta’aruf Siap Nikah, dipoligami pun siap.” Ya, dalam caption juga dijelaskan secara lengkap data diri dari Suwitri. “Nama: Suwitri Prihastuti, anak tunggal, daerah asal: Kendal kota, suku: Jawa, pekerjaan: dokter PNS.” Dalam data diri juga dituliskan bahwa Suwitri yang jebolan FK Undip tersebut baru berusia 23 tahun dan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Hobinya membaca dan mendengar kajian tentang agama.

Lalu seperti apakah kriteria pasangan yang dicari oleh dokter cantik yang satu ini? “Sholeh, sholat lima waktu berjamaah di masjid, belum Bekerja atau sdh tidak masalah, (nafkah dari gaji dokter insyaAllah mencukupi), dari daerah mana aja yg penting masih indonesia, suku apa saja yang penting berkomitmen mencari nafkah yg halal tidak malas-malasan, Amanah Sebagai Imam dalam keluarga, Bertanggungjawab, Sayang keluarga, mertua dan Saudara. Membawa Semakin dekat ke surga Allah, yang pasti harus Penyayang. Usia tidak masalah,” begitulah kira-kira kriteria pasangan yang diinginkan oleh Suwitri.

Kira-kira siapakah dokter cantik asal Kendal yang sedang mencari suami baik lewat Instagram ini? Kalau dilihat dari fotonya, dokter asal Kendal yang bernama Suwitri tersebut memang terlihat sangat cantik. Hmmm, sepertinya nggak bakalan sulit juga menemukan pria yang ia sukai. Kira-kira foto yang tengah beredar di media sosial tersebut benar atau cuma hoax ya?(bintang.com)

AMP - Setelah berkarir lama di kongsi dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), mulai dari perwira Angkatan Laut hingga Residen Lampung, Reiner de Klerk pun jadi orang kaya raya di Hindia Belanda. Dia punya tanah di daerah yang kini dikenal sebagai kawasan Gajah Mada. Pada 1700an, kawasan yang kini ramai perniagaannya itu terhitung luar kota Betawi (sebutan kota Batavia oleh pribumi).

“Dua ratus lima puluh tahun lalu kawasan ini banyaklah rumah peristirahatan tenang bagi golongan elite yang kaya dan selalu sibuk,” tulis Adolf Heuken SJ dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta (2016).

Ciri laki-laki sukses di zamannya adalah punya istri orang Belanda. Sebelum kawin dengan Sophia Westplam yang dari keluarga berada, de Klerk biasa menuntaskan birahinya dengan budak perempuan sampai mempunyai anak. Kaya raya di zaman itu juga harus disimbolkan dengan kepemilikan rumah gedong.

Di bilangan kawasan yang kini dikenal sebagai Gajah Mada itu, pada 1760 mulai dibangunlah sebuah rumah besar dengan gaya tertutup (Closed Dutch Styl). Langit-langitnya tinggi, jendelanya banyak, lantainya marmer dan ubin, tidak banyak hiasan juga tak punya beranda. Statusnya boleh saja sebagai rumah peristirahatan, “namun [rumah] bertingkat dua ini tampak sebagai rumah orang kaya.”

Sebagai rumah Gubernur Jenderal, rumah ini pasti dijaga serdadu-serdadu VOC rendahan. Satu dari serdadu rendahan yang menjaga di rumah itu adalah seorang Yahudi bernama Jehoede Leip Jegiel Igel. Dia belum lama datang di Betawi. Menurut Victor Ido van de Wall dalam Oude Hollandsche Buitenplaatsen van Batavia (1944), dia tiba dengan “kapal Huys Kruyswijk (yang berlayar) dari Rotterdam pada 1775, terdaftar sebagai serdadu” untuk dinas militer VOC.

Catatan lain tentangnya ada pada Tropisch Nederland Volume 5 (1932): dia lahir pada 22 April 1755 dan menjadi serdadu sejak bulan April 1775 saat usianya 20. Dia adalah Yahudi Polandia asal Lamberg.

Suatu hari, serdadu Yahudi ini bikin masalah yang membikin kesal pejabat tinggi VOC. Dia ketahuan tertidur ketika sedang piket menjaga pintu gerbang di pekarangan rumah yang dibangun Reiner de Klerk ini. Hukuman pukulan rotan 50 kali pun dijatuhkan padanya. Serdadu pantang tidur ketika berjaga. Posisi serdadu bawahan harus dijalani pemuda Yahudi ini, karena dia juga seorang buta-huruf. Menurut Adolf Heuken, SJ, peristiwa itu terjadi sekitar 1788.

“Pada hari naas itu korban hukuman kejam itu bersumpah pada nenek moyangnya Abraham, Ishak dan Yakub, bahwa pada suatu hari ia akan membeli seluruh pekarangan ini,” catat Adolf Heuken. Melihat ia buta huruf, tentu saja omongan itu hampir mustahil di mata teman-temannya. “Tentu saja ia ditertawakan oleh rekan-rekannya.”

Sebagai seorang buta-huruf karirnya di VOC hanya mandeg sebagai serdadu. Jika jadi perwira pun tak akan tinggi pangkatnya. Menjadi perwira rendahan dengan pangkat letnan di VOC belum tentu bisa membuatnya bisa membeli rumah de Klerk tempat dia dihukum. Akhirnya, dia pun keluar dari dinas militer VOC.

Dia lalu memulai hidup barunya sebagai seorang pandai emas, juga dengan nama baru: Leendert Miero. Seperti banyak orang Yahudi sohor lain di dunia, Miero nampaknya punya jiwa dagang yang kuat. Ia juga menjadi lintah darat. Buta-huruf tak menghalanginya untuk jadi kaya-raya. Hasil kerjanya tak sia-sia. Akhirnya dia punya toko di Betawi.

Setidaknya, sekitar tahun 1800, dia bisa membeli sebuah rumah besar alias gedong yang dibangun oleh Pendeta Johannes Hooyman (1775). Tak hanya rumahnya, tapi juga plus tanah di sekelilingnya.

Ketika dibangun oleh sang pendeta, Miero baru saja tiba di Hindia Belanda. Gedong ini dulunya disebut sebagai Pondok Gede, dan menjadi muasal nama daerah bernama Pondok Gede di sekitar perbatasan Jakarta Timur dengan Bekasi. Jadi, Miero bukan sembarang juragan emas. Dalam waktu belasan tahun saja dia sudah kaya. Belasan tahun setelah Pondok Gede dia beli, rumah bekas Gubernur Jenderal pun jadi miliknya juga. Rumah itu, pada 1818, dibelinya dari janda dari pejabat Gubernur Jenderal Johannes Siberg. Selanjutnya

AMP - Qari muda bersuara merdu asal Aceh yang sedang naik daun, Muzammil Hasballah, melangsungkan akad nikah di Masjid Agung Al Makmur, Banda Aceh, pada Jumat (7/7/2017) subuh.

Muzammil menikahi Sonia Ristanti yang juga merupakan gadis asal Aceh. Prosesi akad nikah dimulai sekitar pukul 06.30 WIB. Sebelum proses ijab qabul dilaksanakan, Muzammil sempat menjadi imam salat Subuh yang diikuti ratusan jemaah.

Sebelum ijab kabul dimulai pada pukul 06.30 WIB, Muzammil sempat melantunkan ayat suci Alquran dengan suara merdunya sebanyak tiga surat, yaitu surat Annisa ayat 34, surat Ar Ruum ayat 21, dan surat At Tahrim ayat 6, sekaligus membacakan arti dari surat-surat tersebut.

"Masyaallah, merdunya suaranya," celetuk salah satu tamu yang turut menyaksikan pernikahan tersebut.

Qari muda yang kini menjadi idola di kalangan remaja Indonesia berhasil mengucapkan ijab kabul dengan lancar dengan sekali pengucapan. Ia meminang mempelai wanita dengan mahar 20 maya emas.

Muzammil duduk di depan penghulu dengan mengenakan jas dan dasi kupu-kupu serta dipadu dengan kemeja putih. Sementara, Sonia menggunakan gaun dan cadar yang menutupi wajahnya.

Sonia baru dituntun masuk ke dalam masjid dan duduk di samping Muzammil setelah ijab kabul dilangsungkan. Prosesi akad nikah dilanjutkan dengan momen penyerahan mahar, salam takzim kepada suami dan kedua orangtua. Prosesi akad nikah pasangan muda ini itu menghebohkan warga Kota Banda Aceh dan jemaah masjid yang hadir.

Setelah prosesi akad nikah, tamu yang hadir berebutan untuk foto bersama dan bersalaman dengan pasangan pengantin itu. Kabar pernikahan qari mudah itu viral di kalangan masyarakat Banda Aceh dan media sosial.

Muzammil Hasballah adalah lulusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2011. Muzammil membaca Alquran dengan suara merdu dan fasih sehingga dipercaya menjadi imam Masjid Al Lathif Bandung dan Masjid Salman ITB. Lulus pada 2015, qari muda itu kini sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta.(Liputan6)

AMP - Hari ini tepatnya, pukul 06.30 WIB qari muda Muzammil Hasballah resmi mempersunting Sonia Ristanti, di Masjid Agung Al-Makmur, Banda Aceh, Aceh.

Tentunya, banya dari kita yang mempertanyakan siapakah sebenarnya Sonia Ristanti tersebut.

Ternyata wanita berusia 22 tahun ini, merupakan adik kelas Muzammil sejak SMA. Sonia baru saja saja lulus kuliah pada tahun ini dari Universitas Syiah Kuala, Aceh.

Kabar pernikahan Muzammil ini diketahui dari akun Instagram miliknya. Tak lama kemudian, postingan undangan pernikahan Muzammil di share ustadz Yusuf Mansur.

Dalam captionnya, ustadz Yusuf Mansur menuliskan,”Jangan pada patah hati yah.. hehehe. Pada seneng…yang doain Muzammil, Insyaallah bisa berJodoh dengan Jodoh yang menyenangkan dan menentramkan hati,” tulis Yusuf. [Sumber: Tokoh penemu]

AMP - Pernikahan imam muda Muzammil Hasballah (24) dengan Sonia Ristanti (22) pada Jumat (7/7/2017) disaksikan sejumlah besar jamaah yang melaksanakan sholat Subuh di Masjid Agung Al-Makmur, Banda Aceh. Jamaah memadati sampai lantai dua mesjid yang lebih dikenal dengan Mesjid Oman. Sebelum akad nikah Muzammil juga menjadi imam sholat subuh. Dara yang dipersunting oleh Muzammil adalah gadis kelahiran Simeuleu.

Prosesi ijab kabul sendiri dilaksanakan usai sholat subuh pukul 06:00 Wib, acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran langsung oleh Muzammil Hasballah. Orang tua dari Sonia Ristanti menjadi wali dalam ijab Kabul tersebut dan mahar untuk gadis berdasar tersebut sebanyak 20 mayam emas, sedangkan khutbah nikah disampaikan oleh T.Fakhruddin Lamuddin.

Menurut panitia dari Mesjid Oman akad nikah usai sholat subuh baru pertama kali dilakukan di mesjid ini. Hal ini merupakan kesepakatan antara pihak mesjid dengan keluarga kedua mempelai.

Pernikahan Muzammil menjadi viral di media sosial. Sebuah undangan beredar di medsos, dalam undangan tersebut, Muzammil mengajak masyarakat untuk melaksanakan salat Subuh bersama dan untuk selanjutnya menyaksikan akad imam muda tersebut.[acehtrend.co]

AMP - Ratusan jamaah salat subuh di Masjid Agung Al-Makmur, Lamprit, Banda Aceh, menyaksikan akad nikah Muzammil Hasballah dengan Sonia Ristanti, Jumat (7/7). Acara akad nikah dilaksanakan sekitar pukul 06.00 WIB.

Sebelum akad nikah dimulai, Muzammil Hasballah, imam muda yang dikenal dengan suara merdunya itu terlebih dahulu menjadi imam salat subuh berjamaah. Selanjutnya, dilanjutkan dengan tausyiah yang disampaikan oleh Ustad Fakhruddin Lahmuddin.

Pantauan AJNN, jumlah jamaah subuh sangat jauh berbeda dengan hari-hari biasa. Tak hanya dilantai satu, jamaah juga sampai ke lantai dua. Tak hanya laki-laki, jamaah perempuan juga memadati masjid yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Oman.

Sebelum ijab kabul dimulai, Muzammil terlebih dulu melantunkan ayat suci Alquran sebanyak tiga surat. Muzammil tampil dengan memakai jas biru dengan dasi kupu-kupu serta dipadu dengan kemeja putih serta bunga di saku depan.

Dalam akad nikah itu, bertindak sebagai wali nikah yakni ayah kandung Sonia, Idris. Proses ijab qabul berlangsung lancar dengan sekali ucap. Muzammil menikahi gadis pilihannya itu dengan mahar 20 mayam emas.

Usai ijab kabul, Sonia masuk ke dalam masjid dengan didampingi ibu kandung dan saudaranya. Sonia dengan memakai cadar langsung duduk di samping suaminya Muzammil.

Sebelum prosesi salam takzim, Muzammil membacanya doa sambil memegang kepala Sonia. Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Arsitektur angkatan 2011 itu sangat khusyuk ketika membacakan doa untuk istrinya itu.

Prosesi akad nikah selesai sekitar pukul 08.00 WIB. Panitia masjid sempat kewalahan mengatur banyaknya jamaah yang hadir untuk menyaksikan pernikahan Muzammil. Bahkan usai acara Muzammil langsung dibawa ke sebuah ruang karena banyaknya jamaah yang ingin bersalaman dan berfoto.[Sumber:AJNN]

AMP - Muzammil Hasballah, imam muda asal Aceh yang memiliki suara merdu ini akan segera melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis bernama Sonia Ristanti. Akad nikah sendiri akan dilaksanakan di Masjid Oman, Lamprit, Banda Aceh, Jumat (7/7).
Yang membuat beda pernikahan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Arsitektur angkatan 2011 ini adalah, akad nikah dilaksanakan usai Salat Subuh berjamaah.
 
Pernikahan sendiri disampaikan oleh Muzammil Hasballah melalui akun media sosial instagram miliknya dengan mengupload undangan hari bahagia itu.

Bismillah... Undangan terbuka buat seluruh masyarakat Aceh, khususnya Banda Aceh n sekitarnya... ? ???? Jum'at, 7 Juli 2017 (13 Syawal 1438 H) ? 05:00 WIB ???? Masjid Agung Al-Ma'mur (Oman) Banda Aceh ?

Yuk kita ramein Shalat Shubuh berjama'ah, sekaligus nyaksiin n do'ain keberkahan buat pernikahan kami... ? ? ?

*will be LIVE on instagram @muzammilhb inshaAllah

*tag keluarga/shahabat supaya ikut mendo'akan... ? Yang berbahagia, #muzammilhbn #soniaristanti," tulis Muzammil seperti yang dikutip AJNN, Kamis (6/7).[AJNN]
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget