Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Budaya"

July 02, 2016 ,
AMP - Di Kawasan Garot, Kabupaten Pidie, Aceh ada tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan oleh masyarakat setempat. Namanya Teut Beude Tring, alias menyalakan meriam bambu. Inilah 'perang-perangan' ala Kabupaten Pidie.

Lebaran telah tiba. Suara takbir trus menggema di berbagai desa. Para perantau pun pulang mudik ke kampung halaman menikmati Hari Raya bersama keluarga tercinta. Begitupun saya, yang kembali menginjak kampung halaman di Kabupaten Pidie, Aceh.

Kampung saya sangat hijau dengan bentangan sawah yang luas. Air sungainya mengalir bersih, perkebunannya pun subur. Namun kali ini saya punya cerita baru, tentang tradisi perang-perangan ala Pidie.

Pada malam kedua Hari Raya, para anak muda dan dewasa memeriahkan malam dengan tradisi 'Teut Beude Tring'. Artinya adalah bermain dengan meriam bambu. Di kampung saya, tradisi ini sudah turun-temurun dari zaman Belanda dulu.

Seiring kemajuan zaman, banyak perubahan yang terjadi pada meriam bambu ini. Kini sudah ada yang menggunakan meriam drum, bahkan petasan atau kembang api.

Anak-anak menghibur didi menggunakan meriam bambu yang dibentuk persis aslinya. Dalamnya diisi minyak sebagai pemicu ledakan. Sementara para pemuda menggunakan drum yang sudah dimodifikasi, diisi dengan karbit sebagai bahan ledaknya.

Tak kalah meriah, warga juga melepaskan kembang api. Serunya tak kalah dengan tahun baru, warna-warni api meliuk di angkasa Kabupaten Pidie. Tak heran banyak warga yang berkunjung dari kampung-kampung sekitar. Suara dentuman meriam bahkan terdengar sampai jarak 10 Km.

Alhasil, tak sedikit warga yang memiliki gangguan jantung harus 'diungsikan' terlebih dahulu agar tidak terkena dampak suara meriam tersebut. Konon, 'Teut Beude Tring' ini juga merupakan ajang mencari jodoh. Banyak pasangan yang menemukan pasangan jiwa di lokasi ini.
 
Dipublish pada Sabtu, 09/08/2014 12:42:54 WIB di Travel.detik.com

Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haytar
AMP - Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh, Tgk. Malik Mahmud Al-Haythar mengatakan, sejarah Aceh banyak tersebar di seluruh dunia. Namun, sayangnya banyak sejarah itu sudah disamarkan, bahkan dihilangkan. Untuk itu, perlu upaya penyelamatan dan pelurusan sejarah itu sendiri.

"Kita akan telusuri, semua sejarah Aceh. Seperti di Turkey, Spanyol, Belanda, Inggris. Sejarah harus kita buka, jangan ada lagi yang ditutup-tutupi. Sejarah Aceh, adalah sejarah kita," ujar Wali Nanggroe saat menerima silaturrahmi sekaligus penyerahan buku "Kemilau Budaya Aceh" karya Harun Keuchik Leumiek, Rabu (8/6/2016) kemarin.

Wali Nanggroe mengaku, saat ini banyak catatan dan benda bersejarah di Aceh sudah hilang dibawa keluar daerah. Benda-benda itu, sangat sulit ditelusuri. Kecuali benda-benda yang ada di museum, baik di Belanda, Malaysia, Spanyol yang masih terjaga dan terawat dengan baik.

Dikatakan, banyak benda bersejarah dan berbagai khazanah budaya Aceh, banyak hilang akibat perang berkepanjangan, hingga konflik sesama. Sebelumnya terlibat peperangan besar mulai dengam Portugis, Belanda. Banyak juga benda-benda bersejaran Aceh, yang dibawa ke luar negeri seperti Belanda.

"Khazanah yang masih banyak di negeri orang. Bagi saya, biar berada di luar negeri saja. Karena mereka sangat baik merawat dan menjaganya," ujar Malik Mahmud.

Tambah Wali Nanggroe, di museum Tentara Belanda, ada tersimpan meriam asal Aceh. Di museum ini dijaga oleh Tentara Belanda dengan pakaian ala marsose dengan memegang senjata layaknya masa perang zaman dulu. Itu dilakukan karena rasa bangga mereka, pernah bertempur di Aceh.
          
Dalam kondisi Aceh yang sudah baik, lanjutnya, Aceh harus bisa jalin hubungan baik dengan Belanda. Sehingga nanti suatu saat, bila Aceh sudah benar-benar siap, semua benda bersejarah tersebut bisa dikembalikan dan dirawat di Aceh..
          
Dalam pertemuan yang sederhana itu, Wali Nanggroe juga mengungkapkan hubungan kerajaan Samudera Pasai, di Aceh Utara saat ini dengan Kerajaan Tamasek di Singapure. Hubungan antar dua kerajaan besar ini sudah terbangun sejak abad 14. Hubungan Aceh (Keraajaan Samudera Pasai) dengan Tamasek, Singapure ini bisa dibuktikan dengan ditemukannya koin (mata uang Kerajaan Samudera Pasai) di pinggir sungai di Singapure, saat dilakukan pembangunan di daerah tersebut.
          
"Satu buah koin itu kini disimpan dengan baik di Singapure. Meskipun hanya satu buah, Pemerintah Singapura percaya Aceh dan Tamasek sudah mempunyai hubungan perdagangan," jelas Malik Mahmud. [Acehtrekini]

AMP - Dibanding rekannya Suaidi Yahya yang Walikota Lhok Seumawe, Walikota Banda Aceh lebih pintar.

Untuk warga yang mengecam konser Bergek, Illiza menampakkan kepeduliannya dengan memberi sanksi pada panitia konser yang telah lalai.

Sedang untuk penggemar Bergek? Illiza juga peduli. Bergek diterima dengan ramah di kantornya (28/3).

Penggemar mana yang tidak senang, walikotanya ternyata ngefans juga pada idola mereka?

SOLUSI ILLIZA

Dua kejadian tadi menunjukkan betapa saktinya walikota Banda Aceh menyikapi dilema.
Konser Bergek yang menjadi buah simalakama bagi walikota Lhokseumawe ternyata hanyalah buah pencuci mulut saja bagi Illiza.
Solusi Illiza untuk kasus bercampurnya penonton laki-laki dan perempuan di konser Bergek di Banda Aceh (12/3) segera meningkatkan popularitasnya. Yang pro maupun yang kontra sama-sama terpuaskan. Dan Illiza pun boleh berharap. Elektabilitasnya akan semakin meningkat untuk pilkada 2017.

SOLUSI SUADI

Kamis (7/4) Wali Kota Lhokseumawe mengeluarkan surat pembatalan konser Bergek. Jika melarangnya hanya semata untuk tujuan politik, Suadi Yahya harus berguru pada Illiza.
Andi Masta KOMPAS.com - Masriadi Sambo
Sejauh ini belum ada alasan kuat Suadi melarang konser tersebut. Menurut panitia, mereka sudah mengantongi berbagai kelengkapan perizinan, mulai dari Polres hingga MPU. Membatalkannya sama artinya Suadi tidak percaya pada instansi yang bertugas mengurusi hal tersebut.

PERAN DKA

Seketika itu pula sikap Suaidi menyadarkan kita akan fungsi Dewan Kesenian Propinsi Aceh (DKA). Lembaga yang dibentuk pemerintah Aceh untuk mengurusi masalah-masalah seperti ini.(hikayataceh.com)

AMP - Hari ini, Minggu (14/2) seribuan orang, lebih kurang, menghadiri acara Pagelaran Seni Budaya Alabas yang diadakan di Grand Santika Hotel Medan.
 
Demikian dilaporkan oleh Fadhly Ali, Jubir KP3 Abas. Fadhly melaporkan juga bahwa pada acara gelar seni budaya Alabas itu tampak hadir anggota DPR RI seperti Tagore Abu Bakar, Irmawan, Muslim Ayub, dan Salim Fakhri. Juga tampak Armen Desky, Tjut Agam dan seluruh pengurus KP3 Alabas. Ada juga Polem Muda Ahmad Yani, Ketua Forkab Aceh dan rombongannya. Ketua PETA Aceh T Sukandi juga hadir.
received_10153339554412967
Fadhly Ali juga melaporkan terlihat beberapa orang asing, yang menurutnya adalah perwakilan dari negara Malaysia, Jepang, India dan Turky.
Sebelumnya, dari lintasgayo.co diwartakan bahwa pertemuan gelar seni budaya Alabas ingin menunjukkan kepada dunia kekayaan seni budaya Alabas.
received_10153339554232967
Mengutip lintasgayo.co, ketua perhelatan Melanie Armelia, mengatakan bahwa acara Pagelaran Seni Budaya juga di isi dengan stand pameran yang menampilkan keunikan dari daerah Alabas, diantaranya alat musik Teganing, Saman, Bines, Pelebat, Cucuk Layang, Ansambal, Tari Munalo, Tari Resam Berume, Didong, Cendayong, Pinggan, Dampeng, Biakhat, dan beberapa kesenian lainnya.

Di samping acara seni dan budaya juga ada rembuk pakat, seminar dan dialog tentang perjalanan ALABAS. [acehtrend]

Dua piring kari kambing khas Kabupaten Pidie siap disajikan dalam kenduri di suatu desa pada pertengahan tahun 2015. (BeritaBenar)
AMP - Mentari pagi baru sepenggalah. Belasan pria sibuk bekerja. Ada yang mengiris aneka bumbu untuk selanjutnya digiling. Ada juga sedang memotong daging kambing yang baru disembelih, lalu membersihkannya. Mereka hendak menyiapkan kari kambing khas Kabupaten Aceh Besar yang lebih populer dengan sebutan kuwah beulangong.

Setelah bumbu selesai digiling, dituang ke ember berisi daging bersih yang dipotong kecil-kecil. Dengan cekatan, tangan Abdullah (52) mengaduk-aduk bumbu dan daging hingga tak ada satu potongan pun yang tidak terlumuri. Lalu, dibiarkan beberapa menit agar bumbu meresap ke dalam daging.

Di depan warung, dua kuali besar sudah disiapkan di atas tungku. Dibantu sejumlah pekerja, Abdullah menuang daging yang telah dilumuri campuran bumbu ke kuali. Api membara di bawahnya. Berselang 30 menit, wangi kari dari kuali yang mengepul asap mengundang selera meski daging belum matang.

Butuh dua jam memasak sampai kari kambing siap disaji. Selama proses memasak, kuah yang mendidih terus diaduk supaya daging tidak lengket di bagian bawah kuali. Aroma wangi kian menusuk hidung. Sekitar pukul 11:15 WIB, kuwah beulangong siap disantap. Api kecil tetap dibiarkan dalam tungku agar kuah tetap panas.

Menjelang siang para pelanggan berdatangan. Mereka dari berbagai kalangan mulai dari pejabat, pengusaha, kontraktor, polisi, tentara dan rakyat biasa. Di tempat Abdullah membuka usahanya di pinggir jalan pusat Kota Banda Aceh, berjejer enam warung lain yang juga mengandalkan kari kambing sebagai menu utama.

Rutinitas itu dilakoni Abdullah bersama dua anaknya Andi Sanjaya (27) dan Reza (23) saban hari, mulai pagi hingga pukul 16:00 WIB. Dia mempekerjakan 13 pemuda yang masih ada ikatan keluarga. Selain kari kambing sebagai menu utama, Abdullah juga menjual ayam goreng dan kari ayam. Warungnya memotong dua ekor kambing tiap hari.

Abdullah boleh disebut sebagai koki handal memasak kuwah beulangong. Dia telah menggelutinya sejak remaja. Tujuh tahun dia bekerja di warung kari kambing, sambil belajar. Setelah menikah tahun 1987, Abdullah memutuskan membuka usaha sendiri, dengan menyewa warung dengan tarif Rp 1.000.000 per tahun. Kini, biaya sewa warung Abdullah mencapai Rp 30.000.000 setahun untuk dua pintu.

Bumbu untuk memasak daging antara satu daerah dengan daerah lain berbeda. Jika kuwah beulangong lebih banyak memakai kelapa gonseng - kukusan kelapa yang digoreng tanpa minyak - di pesisir utara dan timur Aceh menggunakan santan kelapa. Rasanya mengundang selera.

Biji ganja

Sudah rahasia umum kalau memasak kari di Aceh – baik kambing, lembu, ayam maupun itik — kerap ditambah ganja sebagai bagian bumbu untuk penyedap rasa. Bagi sebagian warga, rasa kari tak lengkap tanpa tambahan ganja. Itu diyakini dapat mempercepat empuk daging dan menambah lezat. Pemakaian ganja hampir merata di semua daerah.

Tapi, Abdullah mengaku tak memakai ganja dalam kari kambing racikannya. Dia lebih mengandalkan bumbu seperti bawang putih, bawah merah, kemiri, kelapa gonseng, cabe, kunyit, serai, daun pandan, daun salam, bungong lawang keling, daun temurui (bay leaf), ketumbar, dan lainnya.

“Kadang pelanggan saya bilang sering mengantuk usai makan kari kambing. Mungkin itu karena pengaruh kelapa gonseng,” tuturnya sambil tersenyum, saat diwawancara BeritaBenar di sela-sela kesibukannya memasak kari kambing, Rabu 27 Januari.

Namun Andi – putra tertua Abdullah – berterus terang. Kadang-kadang kari kambing masakan mereka ditambah “sedikit biji ganja” yang digiling bersamaan dengan aneka bumbu.

“Jika pakai biji ganja, memasaknya tak sampai satu jam karena daging cepat empuk. Itu bagian dari bumbu untuk menambah nikmatnya kari. Yang pasti tidak ada mabuk karena ditaruh cuma sedikit saja. Kami tidak pernah pakai daun ganja,” ujar Andi.
 
 Dia mengaku pernah ditangkap polisi ketika membawa pulang 0,5 kilogram biji ganja dari kawasan perbukitan Lamteuba di Aceh Besar ke ibukota, Banda Aceh, pada 2008. Kepada polisi, Andi mengakui biji ganja itu hanya untuk bumbu masak kari kambing.

Untuk membuktikan pengakuan Andi, polisi membawanya ke rumah sakit guna dites urin. Hasilnya negatif. Andi tidak berbohong. Ia akhirnya dilepas dan biji ganja tidak disita.

“Ada beberapa pelanggan tetap kami yang bertanya kenapa selama ini tak lagi pakai ganja,” tuturnya. Dia menambahkan, selama beberapa bulan terakhir sangat sulit mendapatkan biji ganja seiring gencarnya operasi aparat keamanan.

Ibrahim, seorang penikmat kuwah beulangong, mengaku kari yang dicampur ganja berbeda rasanya dengan kari kambing biasa. “Kalau dipakai biji ganja, rasanya sangat lezat dan dagingnya empuk,” ujarnya tertawa. “Tetapi sekarang jarang ada warung yang setiap hari menyediakan kari kambing ganja.”

Ganja tumbuh subur di daerah perbukitan Aceh. Seusai biji disemai, cukup dibiarkan begitu saja karena batang ganja tumbuh sendirinya tanpa ditaburi pupuk. Beberapa bulan kemudian, penanam tinggal datang untuk panen. Setiap tahun puluhan hektar tanaman ganja dimusnahkan.

Kopi dan dodol

Selain untuk melezatkan citarasa kari, biji ganja juga sering digunakan dalam kopi dan dodol. Biasanya kedua kuliner ini menggunakan ganja kalau ada yang memesan khusus. Bubuk kopi ganja sering dipesan pelanggan luar daerah Aceh. Rasanya lebih nikmat.

Yahwa, seorang warga yang sering meracik kopi Arabica, mengaku sulit memperoleh biji ganja dalam beberapa bulan terakhir. Biasanya sekilogram kopi dicampur dengan seperempat kilogram biji ganja sebelum digiling. Sedangkan untuk dodol, takarannya sama atau sesuai pesanan pelanggan.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Nahdhatul Ulama (DPW NU) Aceh Teungku Faisal Ali yang dikonfirmasi BeritaBenar, Jumat, menyatakan bahwa ganja dapat dikategorikan sebagai tumbuhan yang memabukkan dan hukumnya haram kalau dikonsumsikan.

“Tetapi kalau sekadar saja untuk lebih lezat dan menambah empuk daging, tidak ada masalah asalkan jangan berlebihan dan tak sampai memabukkan,” jelas Faisal, yang juga Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.

Warung-warung kari kambing di tiap sudut kota Banda Aceh selalu penuh pelanggan saat menjelang makan siang. Bagi warga pendatang dari luar Aceh, tidaklah lengkap kalau belum menikmati kuliner citarasa ganja di Serambi Mekkah.
 
Sumber: benarnews.org

AMP - Masjid Baitul Musyahadah bisa jadi merupakan satu-satunya masjid yang memiliki kubah berbentuk topi. Masjid di Banda Aceh ini lebih dikenal dengan sebutan masjid Kupiah Meukeutop atau masjid Teuku Umar. Mau lihat?

Masjid Baitul Musyahadah bisa jadi merupakan satu-satunya masjid di dunia yang memiliki kubah berbentuk topi. Bagi warga kota Banda Aceh, masjid yang berada di jalan Teuku Umar, Setui, Banda Aceh ini lebih dikenal dengan sebutan masjid Kupiah Meukeutop atau masjid Teuku Umar.

Kupiah meukeutop adalah nama topi tradisional Aceh. Jika anda ingat poster pahlawan Aceh, Teuku Umar, tentu anda familiar dengan topi yang dipakai oleh Teuku Umar di poster tersebut. Jika dahulu topi ini digunakan oleh bangsawan Aceh, di jaman sekarang topi ini biasanya digunakan oleh pengantin pria pada acara pernikahan.

Dari bentuknya kubah masjid ini jauh berbeda dibandingkan kubah masjid umumnya yg berbentuk bulat atau limas. Ditambah lagi dengan warna kubah yang dicat mencolok dan mengikuti pola topi Aceh. Hal inilah yang menyebabkan orang-orang lebih mengenal masjid ini dengan sebutan masjid kupiah meukeutop dibanding nama resminya.
Bagi traveler yang berkunjung ke kota Banda Aceh, lokasi masjid ini bisa dijangkau dengan mudah dari pusat kota. Anda bisa menumpang angkot (biasanya di Aceh disebut labi-labi) ataupun becak motor. Kalau pun mau sambil berjalan kaki juga memungkinkan karena jaraknya hanya sekitar 3 km dari Masjid Raya Baiturrahman.

Meskipun kesohorannya dari sisi arsitektur dan nilai sejarah masih kalah dibandingkan Masjid Raya Baiturrahman, masjid yang satu ini tetap memiliki keunikan yang tidak dimiliki masjid lainnya di dunia. Jadi mumpung ada kesempatan, datang dan sekalian shalat saja di masjid berkubah unik yang cuma ada satu-satunya di dunia ini.

Sumber: detik.com

AMP - Puluhan Status Media Sosial memposting sikap kritisnya terhadap kehadiran salah satu lokasi wisata alam di Kabupaten Bener Meriah Aceh Tengah,” Jambo Khop” diduga kuat tempat tersebut kerab digunakan sebagai area maksiat oleh muda-mudi.

Faceboker, selain memposting sejumlah fakta hasil investigasinya atau kesaksiannya terhadap aktifitas penzinaan di lokasi wisata tersebut, juga memposting gambar bentuk dan area lokasi wisata dimaksud.

Salah satu Faceboker yang menulis sejumlah kesaksiannya melalui status dinding yang diposting pada Rabu 22 Juli 2015, menjelaskan dalam tulisanya itu, bahwa lokasi wisata alam “Jambo Khop” terletak di bawah jurang, dilintasan jalan Bireun –Takengon.

Sejumlah gebuk yang dibangun berbentuk jamur, disinyalir kerab digunakan oleh muda mudi yang berkunjung kesana, sementara gubuk tersebut sangat kecil dan terkesan tertutup.

Pemilik akun Face Book “Martunis LSK,” menyebutkan aktifitas lokasi wisata dimaksud sangat tertutup dari berbagai informasi, termasuk terkait pemilik lokasi setempat.

Menurut dia, aktifitas maksiat di Lokasi wisata itu tidak hanya dilakukan oleh masyarakat setempat, tapi diduga juga melibatkan ratusan muda-mudi bermesum ria di sana.

“ Pengunjung tidak hanya warga setempat, tetapi juga tamu dari berbagai kabupaten/kota yang sengaja dating kesana berpasang-pasangan,” kata Martunis melalui pesan ruang yang diterima atjehdaily.com.

Kecuali Martunis LSK, sejumlah media publikasi atau blogspot, juga turut mempublikasi dugaan tersebut, dan mengharapkan pihka terkait segera turuntangan.

Salah satu media sosial berdomen blogspot, juga sempat merilis sebuah tulisan dengan judul “ Wisata Esek-Esek di Pedalaman Aceh,” dalam tulisnanya penulis sempat mendiskripsikan bentuk tempat berteduh yang dipersiapkan pengelola, dan dinilai tidka pantas untuk lokasi wisata di Provisi Aceh yang sudah berstatus Syariat Islam.

Tulisan terssebut diposting pada tanggal lapan Juli 2013 silam, namun hingga saat ini lokasi wisata yang diduga turut dilindungi itu, belum muncul kepermukaan, sehingga aktifitas maksiat disana diduga masih berlangsung hingga saat ini.[LG]

Kerkhof atau pekuburan Belanda di Aceh.
AMP - Pekuburan serdadu Belanda atau dikenal dengan "Kerkhof" di Kota Banda Aceh akan didaftarkan ke UNESCO, lembaga kebudayaan PBB, sebagai warisan dunia.

"Kami akan mendaftarkan Kerkhof ini ke UNESCO untuk ditetapkan sebagai warisan dunia," kata Kolonel CJ Kool, mantan Atase Militer Belanda untuk Indonesia di Banda Aceh, Rabu (25/11).

Pernyataan tersebut dikemukakan Kolonel CJ Kool dalam pertemuannya dengan Wakil Wali Kota Banda aceh H Zainal Arifin. Pertemuan berlangsung di ruang kerja Wakil Wali Kota Banda Aceh tersebut membahas pemeliharaan dan perawatan Kerkhof yang berada di pusat Kota Banda Aceh.

Di Kerkhof yang berlokasi di belakang Museum Tsunami tersebut, dimakamkan ribuan marsose atau serdadu Belanda yang terlibat berperang dengan masyarakat Aceh.

Menurut Kolonel CJ Kool yang pernah terlibat dalam rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascatsunami, mendaftarkan Kerkhof sebagai warisan dunia dianggap penting karena tempat itu merupakan bukti sejarah hubungan Aceh dan Belanda. "Ini penting sebagai bukti sejarah Aceh dan Belanda. Karena itu kami akan mendaftarkan kerkhof ke UNESCO sebagai warisan dunia," kata Kolonel CJ Kool.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Banda Aceh H Zainal Arifin mengatakan, pihaknya selama ini telah melaksanakan tugasnya dengan baik dalam merawat kuburan peninggalan Belanda tersebut.

"Perawatan rutin dilakukan, termasuk penghijauan kawasan. Sebab, pada dasarnya di perkuburkan tersebut dulunya memang dipenuhi pohon-pohon yang rindang," ungkap H Zainal Arifin.(ROL)

AMP -, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar ) Aceh bekerjasama dengan Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB) Universitas Syiah Kuala melakukan Seminar Mewujudkan Lamuri Sebagai Situs Cagar Budaya, di Auditorium FKIP Unsyiah, Kamis, 12 November 2015.

Seminar tersebut menghadirkan tiga pemateri; yaitu Prof. Dato’ Mokhtar bin Saidin, Pengarah Pusat Penyelidikan Global USM Malaysia, University Sains Malaysia (USM), Dr. Husaini Ibrahim, MA, Kepala Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya (PPSIB) Unsyiah dan Dra. R. Widiati, M.Hum, Kasubbid Pelestarian Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Rekomendasi seminar tersebut akan diserahkan kepada Pemerintah agar kawasan Lamuri didaftarkan sebagai kawasan sejarah yang dilindungi oleh undang-undang.

Menanggapi hal itu, Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) meminta Disbudpar Aceh agar memperjuangkan kawasan Lamuri sebagai Situs Sejarah Warisan Dunia. Hal ini dikatakan oleh Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi dalam rilisnya, Kamis, 12 November 2015.

“Mendaftarkan kawasan Lamuri sebagai situs dilindungi undang-undang merupakan hal yang mendesak dan mendasar untuk dilakukan dalam menyelamatkan situs Lamuri” ujar Mizuar.

Mizuar mengatakan, Pemerintah Aceh sedikit terlambat merespon penyelamatan Lamuri. Bahkan, dia menilai, seminar tersebut sudah tawar nilainya, karena banyaknya situs yang sudah hilang.

“Walaupun terlambat, Mapesa mengapresiasikan niat dan usaha baik dari Disbudpar Aceh ini. Namun perlu diingat, seminar ini bukan akhir dari proses. Masih banyak hal lain yang perlu dilakukan agar Kawasan Bukit Lamreh bisa menjadi Pusat Laboratorium Arkeologi dan Sejarah di Aceh,” tambah Mizuar.

Menurut Mizuar, situs Lamuri merupakan titik penting dalam rangkaian sejarah Aceh yang harus dikembangkan, baik untuk pengembangan ilmu pengetahuan maupun pengembangan pariwisata di Aceh.

“Panorama alam yang eksotis menjadi nilai lebih bagi kawasan tersebut dijadikan destinasi baru wisata Aceh.Karena itu, Pemerintah Aceh harus berpikir, bagaimana kawasan Lamuri ini bisa menjadi lumbungnya PAD (Pendapatan Asli Daerah) bagi Aceh,” ungkapnya

Menurut Mizuar Lamuri dulunya merupakan kota maritim yang di dalamnya mendiami berbagai masyarakat dari berbagai bangsa. Karena itu ia berharap kawasan tersebut harus didaftar ke UNESCO sebagai situs sejarah warisan dunia.

“Mendaftarkan kawasan Lamuri hanya sebagai situs dilindungi undang-undang. Itu hal biasa. Memperjuangkan kawasan ini sebagai situs sejarah warisan Dunia, adalah hal yang mesti dipikirkan oleh Pemerintah Aceh. Ini akan memberikan nilai lebih bagi Aceh di mata dunia Internasional,” pungkasnya.[Lintasnasional]

AMP - Nanggroe Aceh Darussalam atau lebih dikenal dengan Aceh adalah sebuah provinsi di ujung Pulau Sumatera. Provinsi ini memiliki keindahan alam yang luar biasa, mulai dari pantai sampai pegunungannya. Setelah mengalami kerusakan akibat tsunami pada tahun 2004 di sebagian wilayahnya termasuk tempat wisatanya, Aceh kembali bangkit dan menata sektor pariwisatanya dengan baik.

Berencana liburan ke Aceh? Sudah tahu akan menghabiskan waktu Anda di mana? Agar tidak bingung mau ke mana, simak dulu 10 tempat wisata di Aceh yang layak dikunjungi berikut ini:

 

1. Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrahman
Masjid yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 ini telah menjadi ikon Aceh. Bangunan utama masjid berwarna putih dengan kubah hitam besar dikelilingi oleh tujuh menara. Kesan megah semakin terasa dengan adanya kolam besar dan pancuran air di bagian depan masjid yang mengingatkan pada Taj Mahal di India.

Masjid ini menjadi tempat wisata religi di Aceh yang banyak dikunjungi karena keindahannya. Situs Huffington Post memasukkan Masjid Raya Baiturrahman ke dalam daftar 100 masjid terindah di dunia, bahkan Yahoo! menyebut masjid ini sebagai salah satu dari 10 masjid terindah di dunia. Hal ini tentu saja semakin membuat bangga warga Aceh dan Indonesia.

Jika ingin membeli suvenir, Anda bisa datang ke Pasar Aceh yang terletak di belakang masjid. Setelah puas berkeliling, Anda bisa berwisata kuliner karena ada banyak penjual makanan di pasar ini.

2. Air Terjun Blang Kolam

Air Terjun Blang Kolam
Air Terjun Blang Kolam
Tempat wisata alam yang satu ini sayang untuk dilewatkan. Air Terjun Blang Kolam terletak di Desa Sidomulyo, Aceh Utara dan bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dari Lhokseumawe.
Di sini, Anda bisa melihat air terjun kembar dengan tinggi 75 meter yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. Di sekitar air terjun, ada banyak orang yang bermain air, berendam di kolam tampungan air terjun atau sekedar bersantai di tepiannya. Jika Anda ingin merasakan pengalaman yang berbeda, coba datang dengan membawa perlengakapan berkemah Anda. Di Air Terjun Blang Kolam ini, Anda bisa berkemah dan menikmati alam bebas dengan tarif 5.000 Rupiah per orang.
Tempat wisata di Aceh ini tak hanya menawarkan keindahan alamnya, namun juga menawarkan harga yang murah. Anda cukup membayar 2.500 Rupiah per orang untuk bisa masuk dan membuktikan keindahan Air Terjun Blang Kolam.

3. Air Terjun Suhom

Air Terjun Suhom
Air Terjun Suhom
Air Terjun ini berada di Desa Suhom, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar. Untuk bisa mencapai tempat wisata ini, Anda harus melewati jalanan naik-turun dengan pemandangan pegunungan Paro dan Kulu. Di tengah perjalanan, jangan kaget saat melihat banyak monyet berkeliaran di jalan. Monyet-monyet ini biasanya meminta buah-buahan atau makanan ringan lain pada pengguna jalan yang lewat.

Air terjun setinggi 50 meter ini dibagi menjadi tiga tingkat, namun Anda tidak diperbolehkan naik menuju tingkat dua dan tiga demi alasan keselamatan karena adanya pembangkit listrik bertegangan tinggi.

Meskipun begitu, tempat wisata di Aceh ini tetap menyajikan pemandangan yang luar biasa. Anda bisa berenang di telaga sedalam dua meter di bawah air terjun atau menemani anak-anak bermain air di kolam renang anak. Tak ingin bermain air? Silakan bersantai di gazebo yang telah disediakan sambil menikmati makanan yang banyak dijual di sekitar lokasi air terjun.

4. Pantai Lampuuk

Pantai Lampuuk
Pantai Lampuuk
Warga Aceh tak perlu merasa iri dengan Bali yang memiliki banyak pantai indah karena di Aceh juga terdapat banyak pantai dengan pemandangan menakjubkan. Salah satu tempat wisata pantai yang bisa diandalkan adalah Pantai Lampuuk. Pantai ini disebut juga sebagai Pantai Kuta di Aceh.

Pantai Lampuuk memiliki garis pantai sepanjang 5 km dari selatan ke utara dengan pasir putih lembut dan tebing karang di ujung pantai. Banyak kegiatan yang bisa Anda lakukan di pantai ini mulai dari berselancar, berjemur, berenang dan juga bermain banana boat.

Satu lagi kegiatan menarik yang bisa Anda lakukan di tempat wisata ini adalah melihat upaya pelestarian penyu. Anda bisa ikut melepas tukik ke laut lepas. Seru, ya? Liburan sekaligus menjaga kelestarian alam.

Jika belum puas menikmati Pantai Lampuuk dalam sehari, Anda bisa menginap di cottage yang ada di kawasan pantai. Selain bisa lebih lama menikmati keindahan pantai ini, Anda juga bisa memuaskan perut dengan aneka sajian ikan bakar di warung-warung sekitar pantai.

Pantai Lampuuk berada di Desa Meunasah Masjid, Lhoknga, Aceh Besar. Harga tiket masuk adalah 3.000 Rupiah.

5. Pantai Lhoknga

Pantai Lhoknga
Pantai Lhoknga
Pantai Lhoknga berada tak jauh dari Pantai Lampuuk. Tempat wisata ini berjarak sekitar 20 km dari Banda Aceh. Di sini, Anda bisa bersantai di bawah pepohonan yang rindang atau bermain voli pantai di pasirnya yang luas dan landai.


Jika bersantai dan berjemur di tepian pantai masih kurang menyenangkan bagi Anda, cobalah berselancar di lautnya. Pantai Lhoknga memiliki ombak dengan ketinggian 1,5 – 2 meter yang cocok untuk olahraga ini.
Hari beranjak sore, jangan pulang dulu. Jangan lewatkan pemandangan matahari terbenam yang cantik di pantai ini. Tempat wisata di Aceh ini semakin ramai pada sore hari, banyak yang datang untuk melihat pemandangan matahari terbenamnya dengan duduk bersantai dan menikmati jagung bakar.

6. Pantai Ulee Lheue

Pantai Ulee Lheue
Pantai Ulee Lheue
Tempat wisata yang satu ini hanya berjarak 3 km dari pusat kota Banda Aceh, tepatnya di Kecamatan Meuraxa.

Kegiatan yang paling populer di pantai ini adalah memancing. Jika Anda lupa membawa alat pancing, tidak usah khawatir karena ada yang menjualnya di sekitar pantai. Tak suka memancing? Anda juga bisa menyewa perahu nelayan untuk berlayar di lautnya atau duduk santai di tepian pantai menikmati jagung bakar. Dari pantai, Anda bisa melihat barisan pegunungan diseberang yang menambah keindahan Pantai Ulee Lheue.

7. Pulau Rubiah

Pulau Rubiah
Pulau Rubiah
Pulau Rubiah ada di Sabang, tepatnya di sebelah barat laut Pulau Weh. Nama Rubiah sendiri diambil dari nama yang tertulis di sebuah nisan yang ada di pulau.
Tempat wisata di Aceh ini terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya. Sedikitnya 14 dari 15 biota laut yang dilindungi di Indonesia ada di sini. Siapkan alat menyelam dan snorkeling Anda dan silakan berenang bersama aneka ikan tropis dan bermain terumbu karang warna-warni. Jika lupa membawa alat snorkeling, Anda bisa menyewanya dengan harga 40.000 Rupiah saja dan bisa Anda gunakan seharian.

8. Kuala Merisi

Kuala Merisi
Kuala Merisi
Kuala Merisi merupakan tempat yang tepat untuk menikmati pantai dengan suasana yang sepi dan tenang. Tempat wisata di Desa Ketapang, Kecamatan Krueng Sabee, ini memiliki garis pantai yang panjang dengan ombak kecil yang cocok untuk bermain air di tepian.
Silakan duduk santai di atas tikar Anda dan nikmati deburan ombak dan hembusan angin pantainya. Tak jarang tempat wisata di Aceh ini dijadikan lokasi berselancar karena ombaknya yang cocok untuk olahraga air ini.
Selain itu, pantai ini juga memiliki fasilitas pendukung lainnya seperti kamar mandi dan deretan warung makan.

9. Museum Tsunami

Museum Tsunami
Museum Tsunami
Tsunami yang pernah menerjang Aceh pada tahun 2004 menyisakan duka bagi warga Aceh yang selamat. Untuk mengenang sekaligus menghormati korban meninggal, dibangunlah sebuah Museum Tsunami di Jalan Sultan Iskandar Muda di tahun 2009.
Di dalam museum, terdapat lorong panjang dengan suara gemuruh ombak dan kucuran air yang akan mengingatkan Anda pada bencana besar tersebut. Tempat wisata di Aceh ini banyak dikunjungi wisatawan yang ingin melihat apa saja yang tersisa dari gelombang tsunami. Banyak benda-benda sisa bencana yang dipajang seperti sepeda milik korban. Selain benda sisa tsunami, ada foto korban meninggal dan cerita kesaksian korban selamat juga alat simulasi elektronik gempa bumi.
Museum ini dibangun sebagai pusat pendidikan dan tempat perlindungan jika tsunami datang kembali. Museum buka setiap hari kecuali hari Jumat mulai 10:00 sampai 17:00.

10. Pantan Terong

Pantan Terong
Pantan Terong
Pantan terong merupakan bukit yang biasa digunakan untuk melihat keindahan Aceh Tengah dari atas. Tempat wisata ini berada di ketinggian 1830 meter di atas permukaan laut. Jangan lupa membawa jaket dan baju hangat karena udaranya cukup dingin.

Dari Pantan Terong Anda bisa melihat Danau Laut Tawar yang meyerupai sebuah kuali raksasa. Di sini, Anda juga bisa menikmati pemandangan matahari terbit dan terbenam yang sangat cantik. Jadi, siapkan kamera dan abadikan momen ini.[anekatempatwisata.com]

AMP - Mitos? Siapa yang tidak tertarik. Sesuatu yang tabu justru semakin menarik dibicarakan. Semakin ditutupi, semakin asyik untuk diselami maknanya. Semakin dilarang semakin mudah diburu yang tersimpan rapat tersebut. Begitulah sifat manusia yang tak pernah puas untuk memacari keingintahuannya.

Eit! Jangan salah. Berawal dari bau pula durian itu nikmat untuk disantap. Ibarat durian, mitos memiliki makna tersendiri di dalam masyarakat Aceh, khususnya di Aceh Barat. Seperti lezatnya menyantap durian, seperti itulah mitos terus berkembang.

Ada tiga mitos yang jika didengar tentangnya sangatlah ringan sekali. Tetapi bagi orang-orang tua di Aceh Barat, membicarakan hal ini sangat tabu sekali dan tak boleh. Sekali melanggar, siap-siap dinasehati oleh orang-orang tua di kampung kami!
Jangan duduk di teras/tangga
Entah kenapa, orang-orang tua memberikan pemahaman yang brutal mengenai hal ini. Kenapa saya katakan brutal? Karena menyangkut kebahagiaan pelaku setelah hari itu.

Jangan duduk di teras atau tangga nanti akan ketemu jodoh lebih tua. Penamaan tua itu lebih kepada sangat tua, bukan selisih setahun atau dua tahun saja. Untuk anak laki-laki justru menjadi bumerang tersendiri mengingat “akan menikahi perempuan lebih tua darinya” walaupun jodoh tak ke mana tetapi anak laki-laki menghindari duduk di tangga/teras.

Pada dasarnya, jika dikaji lebih jauh ke sejarah. Dulu, rumah-rumah di Aceh itu lebih tinggi dibandingkan sekarang. Anda bisa mencari tahu bentuk rumah Aceh. Nah, karena persoalan ini pula dilarang duduk di tangga atau teras. Maksudnya ada dua: akan jatuh dan orang lain tidak bisa melewati tangga
Jangan menyapu saat magrib
Apa hubungan ibadah dengan menyapu. Apa pula hubungan kebersihan dengan tata krama. Di sinilah letak semuanya. Orang-orang tua di Aceh Barat sangat melarang anak-anaknya menyapu saat magrib, lebih tepatnya saat matahari terbenam. Alasannya akuratnya tidak jelas tetapi lebih kepada “sebaiknya menunaikan ibadah (salat) terlebih dahulu” yang notabene perkara penting dalam Islam. 

Jangan duduk di atas bantal
Lucu memang menyoal persoalan ini. Jangan duduk di atas bantal nanti kena bisul!

Percaya atau tidak, masyarakat Aceh Barat sangat memercayainya. Larangan yang terjadi turun-temurun ini dipraktikkan oleh masyarakat tanpa protes bahkan tanpa menyelami makna lebih dalam lagi. Padahal, mana ada pula aturan duduk di atas bantal akan berbisul.

Namun, jika ditilik lebih dalam. Maksud orang-orang tua kami itu tak lain supaya bantal tidak cepat rusak. Bayangkan saja anak-anak duduk dengan suka cita di atas bantal, goyang sana-sini, bisa saja bantal itu mudah sobek dan mengeluarkan kapas. Sebelum bantal busa banyak dijual, masyarakat Aceh lebih banyak menggunakan kapas kering di belakang rumah untuk dijadikan bantal. Karena susahnya menunggu kapas kering, orang-orang tua melarang anak-anaknya duduk di atas bantal. 
 Begitulah. Banyak mitos lain yang berkembang di Aceh Barat. Mitos-mitos ini mengajarkan banyak pengajaran tentang hidup. Anda ingin menikmati larangan ini? Mari berinteraksi dengan orang-orang tua kami di sini!

[VIVA]

Banda Aceh - Alumni Gen Peace Aceh bekerjasama dengan Griya Schizofren dan ARD (Aceh Resouerce Development) menggelar diskusi publik. 

Diskusi ini dilakasanakan dalam momentum menjelangnya hari peringatan sumpah pemuda yang jatuh pada27 Oktober2015. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Rodya Cafe, Lampriet, Banda Aceh.

Khalida Zia menuturkan bahwa kegiatan diskusi ini, Bertemakan "Peran Pemuda dalam Keberagaman beragama dalam Upaya Menjaga Perdamaian Berkelanjutan di Aceh, Acara ini menghadirkan empat (4) orang pemateri yang handal di bidangnya masing-masing. Pemateri yang akan hadir adalah Ustadz Masrul Aidi, LC (Pimpinan Ponpes Babul Maghfirah) yang membicarakan permasalahan toleransi kehidupan, Bapak Iskandar Usman (Ketua Banleg DPRA) yang akan menbicarakan tentang permasalahan regulasi dan aturan dalam pengaturan kehidupan dan pendirian rumah Ibadah, Ibnu Mundzir, S.Psi, M.Sc. (PenelitiICAIOS) menyangkut menjaga menjaga perdamaian dalam kontek keberagaman dalam beragama serta Vida Arsina, ST (Aktivis Perempuan Aceh) keterlibatan perempuan dalam menjaga perdamaian dalam pembangunan dan kehidupan beragama.
 
Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkuat kapasitas generasi muda dalam mewujudkan perdamaian dan menjaga keberagaman kehidupan berbangsa,  bernegara dan beragama secara berkelanjutan di Aceh. Selain itu kita juga ingin melihat konsepsi toleransi kehidupan beragama dalam menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian. Tentunya kita juga berharap dengan adanya kegiatan ini mampu memberikan pemahaman kepada pemuda terkait perannya dalam menjaga dan menumbuh nilai-nilai perdamaian didukung dengan pembentukan kreativitas dalam meningkatkan perdamaian melalui pemuda. Ujar Zia sapaan akrab khalidazia selaku ketua panitia bersama.

Menurutnya, Acara puncak dari kegiatan ini adalah melakukan deklarasi bersama lintas lembaga dalam rangka memperingati sumpah pemuda, deklarasi ini juga akan dihadiri oleh semua peserta yang akan mengikuti diskusi publik yang diadakan di D’Rodya Cafee pada hari ini selasa, 27 Oktober 2015. Deklarasi yang akan disampaikan dalam Apel Sumpah pemuda tersebut adalah rekomendasi dari hasil diskusi setengah hari tersebut.

Oleh karena itu kegiatan ini terbuka untuk umum dan turut mengundang seluruh lembaga kampus, dan paguyuban pemuda dan pelajar yang berada di Banda Aceh. Bukan hanya itu, diskusi publik ini juga mengundang komunitas dan pemerhati sosial masyarakat.Ujarnya.

Lhokseumawe - Tempat memadu kasih di kawasan Pulau Semadu, pantai Rancong, Batuphat, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe terlihat bebas dan tanpa ada rasa takut untuk berpelukan bahkan berciuman di rangkang yang terbuat dari pohon bambu dan beratap rumbia tersebut.

Ketika sang reporter meninjau lokasi tersebut, dijalan masuk sudah ditunggu oleh pengutip pajak rancong yaitu RP, 3.000 per kendaraan belum lagi harus membayar uang parkir dan juga tiket melewati jembatan untuk menuju pantai laut, setelah melewati post pengutipan dana tersebut sampai di pinggir pantai terlihat deretan rangkang yang berdiri dan juga berpetak-petak diduduki oleh pasangan para pemadu kasih, tiada lain ialah seorang wanita dan lelaki (pasangan kekasih).

Tiada hari tanpa pendatang yang berpasangan menuju rangkang untuk menikmati Teh Botol sambil memadu kasih, tak hanya pemuda dan remaja yang mengunjungi tempat tersebut, tetapi orang yang rambutnya putihpun (sudah tua) terlihat membawa pasangannya, ada yang sebaya bakan ada pasangan yang masih ABG.

Bagi anda yang baru mengunjungi pulau Semadu, bisa menikmati pemandangan indahnya panorama laut dan juga pantai disitu, tapi jang samapai berkata "sekali pandang rejeki, dua kali pandang dosa", mungkin saja sampai disitu kemanapun mata anda memandang tetap terlihat hal yang sama.

Nah...! apa yang harus dilakukan pemerintah terhadap pulau semadu tersebut yang menjadi tempat bebas untuk berbuat maksiat?

Sampai sekarang belum ada jawaban,,,!

Serangkaian demo dan orasi yang dilakukan FPI dan warga, sangat tidak terpengaruh dengan perubahan lokasi tersebut. 

Apa tindakan yang mepan untuk pulau semadu agar jadi tempat yang islami bagi pendatang dan juga bagi para penikmat indahnya pantai Rancong? mungkin jawabanya ada pada diri kita dan kebijakan pemerindah Kota dan juga Daerah.

Sumber: statusaceh.com

Banda Aceh - SINGKIL -- Pangdam Iskandar Muda Mayjen Agus Kriswanto mempertanyakan alasan realistis pengungsian terkait insiden pembakaran undung-undung tempat ibadah Nasrani di Kabupaten Aceh Singkil.

Insiden itu mengakibatkan satu orang tewas ditembak, di samping telah menyebabkan satu unit tempat ibadah dilalap api. Pelaku penembakan diduga warga sipil yang memiliki senjata api secara ilegal. Usai menghadiri rapat tertutup dengan para tokoh Muslim Aceh Singkil, Sabtu (17/10), dia mengungkapkan dugaan SMS provokatif di balik membludaknya arus pengungsi ke wilayah Sumatera Utara.

Dia menegaskan, warga di desa lokasi kejadian penembakan serta lokasi pembakaran tidak ada yang menjadi pengungsi. Yang banyak menjadi pengungsi, jelas dia, justru warga Kabupaten Aceh Singkil yang jauh dari kedua lokasi itu.

Agus bahkan menegaskan, jarak antara kediaman mayoritas pengungsi dan lokasi kejadian yakni rata-rata satu jam perjalanan. "Di lokasi pembakaran dan penembakan itu rakyatnya tidak mengungsi. Yang mengungsi malah yang jauh-jauh. Ini yang memberitakan," jelas Mayjen Agus Kriswanto di Kantor Kecamatan Gunung Meriah, Sabtu (17/10).

Berita yang dia maksud, yakni informasi simpang siur yang tersebar luas via SMS ke banyak warga Aceh Singkil, khususnya yang beragama Nasrani. SMS provokasi ini membuat mereka takut sehingga memilih hengkang sementara ke Sumatera Utara. "Ya mungkin ketakutan karena berita SMS kan simpang siur," ucap dia.(ROL)

SABANG – Gereja GPIB di Tektok Kota Atas, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, dilaporkan berusaha dibakar oleh orang tak dikenal pada Jumat malam (16/10) sekitar pukul 23.00 WIB.

Informasi yang dihimpun AJNN pada Sabtu (17/10), akibat pembakaran tersebut ruangan konsistory gereja hangus.

Kejadian diketahui sekitar pukul 23.00 WIB ketika pendeta GPIB a.n. Noccon Rumampuk, S.th keluar dari kediaman pendeta yang berada di belakang gereja tersebut dan melihat api berkobar di ruang konsistory gereja.

Pendeta berusaha memadamkan api dengan menyiram air sambil menghubungi jemaat untuk datang membantu.

Api berhasil dipandamkan pukul 00.15 WIB. Selanjutnya pendeta bersama jemaat melaporkan kejadian tersebut ke Polres Sabang.

Mendapat informasi tersebut, pada pukul 00.20 WIB, anggota Polres tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk melakukan olah TKP dan ditemukan beberapa bukti percobaan pembakaran.

Adapun beberapa keganjilan ditemukan di TKP yaitu adanya bekas minyak tanah pada kayu jendela yang terbakar dan pada air terlihat ada bekas minyak.

Jendela konsistory yang sebelumnya tertutup juga terlihat sudah terbuka. Jendela itu diperkirakan sebagai akses keluar masuk pelaku pembakaran.

Selain itu, terdapat keganjilan di dalam gereja, di mana foto perjamuan kudus yang digantung di dinding gereja telah diturunkan, yang diduga dilakukan oleh pelaku.

Kebakaran itu menghanguskan dan merusak beberapa barang, seperti;

Automatic Boltage regulator 10.000 VA 1 buah.
Mixer Sound sistem 1 buah hangus terbakar.
Sebahagian jendela dan pintu terbakar.
Kaca nako 1 buah pecah.
Pot bunga dua buah terbakar dari kramik.
Mimbar kecil dan kotak persembahan terbakar.
Tempat lilin yg digunakan untuk acara natalan terbakar.
Sejauh ini AJNN masih berusaha menghimpun informasi lebih lanjut.

(AJNN)

Indonesia — Penangkapan dua terduga lesbian di Aceh baru-baru ini menjadi perhatian pendiri GAYa Nusantara Dede Oetomo. Ia mengaku kecewa dengan keputusan polisi syariah yang menangkap pasangan tersebut.

“Lesbian jangan dikriminalisasi,” kata Dede pada Rappler, Senin, 5 Oktober.

Wilayatul Hisbah (Polisi Syariah) Kota Banda Aceh sebelumnya menangkap dua wanita yang diduga pasangan lesbian. Keduanya ditangkap sedang duduk berangkulan dan berpelukan pada Selasa, 28 September, lalu sekitar pukul 23:00.

Dua wanita itu masing-masing berinisial AS (18 tahun) dan N (19). AS mengaku asal Makassar dan baru dua hari tiba di Banda Aceh.

Sedangkan N merupakan warga Gampong Landom, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh.

Menurut Dede, seharusnya lesbian dibebaskan seperti di negara-negara lainnya. “Di negara-negara maju itu dibebaskan tidak dikriminalisasi,” kata Dede.

Kepala Seksi Penegakan Peraturan Undang-Undang dan Syariat Islam Wilayatul Hisbah Kota Banda Aceh, Evendi Latif menjelaskan, keduanya ditangkap saat petugas yang patroli di kawasan Ulee Lheue, Banda Aceh. Saat itu petugas melihat kedua wanita ini sedang berperilaku mencurigakan.

"Karena duduk berangkulan dan berpelukan, petugas langsung memeriksa dan kita menduga mereka ini pasangan lesbi," kata Evendi.

Apa alasan penangkapan keduanya?

Pelaksana Tugas Harian (Plt) Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal mengatakan lesbian yang ditangkap oleh polisi bukan ditahan, melainkan dibina agar sesuai dengan syariat Islam.

“Semua selalu dibina,” kata Illiza, pada Rappler, Senin.

Menurutnya, pembinaan dilakukan agar keduanya menaati aturan dalam syariat Islam. “Kalau hidup ada pilihan, kalau secara aturan syariat tidak dibenarkan,” katanya.

Ia mengatakan lesbian adalah bagian dari moralitas, bukan sekedar pilihan hidup. “Secara norma agama dan aturan hukum saya sendiri mencoba memperdalam itu,” katanya.

Alasan syariat Islam tidak cukup

Pegiat hak asasi manusia dari Human Rights Watch Andreas Harsono mengatakan bahwa alasan syariat Islam saja tidak cukup. Karena dalam perjanjian sebelumnya, homoseksualitas tidak dianggap sebagai kejahatan.

“Dalam perjanjian Helsinki, baik Indonesia maupun GAM (Gerakan Aceh Merdeka) setuju, hitam di atas putih, bahwa Aceh berhak memuat qanun jinayat atau hukum pidana,” ujar Andreas.

“Dalam perjanjian yang sama, disepakati bahwa semua aturan di Aceh tak boleh bertentangan dengan konstitusi Indonesia maupun konvenan internasional soal hak sipil dan politik, biasa disebut ICCPR, di mana homoseksualitas tidak dianggap sebagai kejahatan,” katanya.

ICCPR, atau kovenan internasional hak-hak sipil dan politik, adalah salah satu perjanjian internasional pokok tentang hak asasi manusia.

“Artinya, Aceh sebaiknya revisi larangan homoseksualitas tersebut, atau Menteri Dalam Negeri lakukan revisi sesuai dengan ketentuan prosedur hukum di Indonesia,” kata Andreas lagi.

Sedangkan menurut Dede, mengenai syariat Islam ini, kesalahan bukan hanya dari perjanjian, tapi penerapannya pun sudah salah. “Kesalahan awalnya adalah Aceh diberi keistimewaan hukum. Yang menderita kaum LGBT,” kata Dede.

GAYa adalah organisasi nirlaba yang bekerja demi kesetaraan dan kesejahteraan Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Interseks, Questioning, dan orang-orang dengan orientasi seksual, identitas dan ekspresi gender yang beragam.
 
Sumber: rappler.com
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget