Halloween Costume ideas 2015
Articles by "artikel"

Rakyat Aceh pada masa peperangan 
AMP- Masyarakat Aceh dikenal sebagai satu BANGSA yang suka berperang sebagai PEJUANG (the warrior) di ujung Pulau Sumatera, yang mengawal pintu gerbang Selat Melaka, sebagai pintu gerbang masuk dari Timur Tengah (Middle East) ke Timur Jauh, Laut Cina Selatan (South China Sea), dan Pacific-Asia. Penjajah Belanda menyebut, “Orang Aceh pergi ke medan perang seperti pergi ke pesta perkawinan.”

Sejak dunia berkembang, Bangsa Aceh dikenal dalam sejarah perkembangan bangsa-bangsa Asia Tenggara sebagai The Balcony of Mecca (Serambi Mekkah) disebabkan peranannya sebagai pelopor Islam di Asia Tenggara.

Mulai dari zaman Sulthan Alaidin Malikussalih (659-688 H./1261-1289 M.), telah berdatangan ulama-ulama dari Arab, Yaman, Persia dan India, antara lain Syeikh Hamzah al Fansuri yang membuka pusat pendidikan Islam di Aceh, Syeikh Abdurrauf as-Singkili (Syiah Kuala), dan Syeikh Nuruddin Ar-Raniry.

Pada masa kegemilangan Aceh ini jelas tujuan bangsa Aceh sebagai umat Islam sejati, yang benar-benar menyerahkan dirinya kepada Allah sang Maha Pencipta.

Motto hidupnya diucapkan dalam permulaan shalatnya paling kurang 5 kali sehari, “Sesungguhnya shalatku (pengabdianku), ibadahku (apa saja yang aku lakukan), hidupku dan matiku, semuanya untuk-Mu ya Allah, Tuhan dari alam jagad raya.”

Aceh hari ini

Sebagai orang tua Aceh dan sebagai sesepuh pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM), saya melihat Aceh sekarang sangat parah dibandingkan dengan Aceh masa lalu, atau Aceh 1945 atau Aceh masa perjuangan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Aceh hari ini tidak jelas lagi visi dan misi perjuangan bangsa.

Aceh hari ini ngawur dalam bidang ekonomi, pertanian, peternakan, politik pemerintahan, dan pembangunan negeri. Aceh hari ini tidak menentu dari segi dekadensi moral termasuk penggunaan narkoba.

Rakyat Aceh kini berada dalam kebingungan akan kesadaran bernegara, dan beragama. Mereka berada dalam keadaan identity crisis, tidak mengenal siapa dirinya, bagaimana sejarah bangsanya.

Sehingga tidak tahu menempatkan dirinya di tengah-tengah pergolakan bangsa-bangsa Melayu di Asia Tenggara. Tidak mempunyai visi dan misi untuk masa depan, apalagi sebagai satu bangsa di tengah-tengah peradaban internasional.

Dibandingkan 1945, saat-saat Aceh telah memperoleh kembali kebebasannya, bebas dari pendudukan dan pendjadjahan Belanda dan Jepang, tidak ada tekanan dari pihak manapun.

Pada waktu ini, Aceh benar-benar dalam keadaan satu momentum emas, satu kesempatan yang benar-benar langka, kembali kepada posisinya sebagai satu bangsa yang merdeka seperti sebelum invasi Belanda pada 1873.

Pada waktu ini rakyat Aceh benar-benar dalam keadaan lega, euphoria, hingga lupa diri akan identitasnya sebagai satu bangsa yang merdeka, sebagai pelopor Islam di Asia Tenggara.

Sehingga tidak tahu untuk mengibarkan simbol kebangsaannya, benderanya, bendera Aceh, untuk menegakkan kembali negaranya seperti semula sebelum penjajah Belanda dan Jepang menduduki Aceh.

Ironisnya malah ada sebahagian para uleebalang yang ingin mengembalikan penjajah Belanda untuk kembali menjajah Aceh dengan janji memberikan hak-hak istimewa kepada uleebalang untuk menjajah bangsanya sendiri. Mayoritas masyarakat Aceh masa itu bersatu untuk menaikkan bendera merah-putih, satu bendera baru di Aceh yang belum pernah eksis dibumi Aceh sebelumnya.

Rakyat bersatu-padu meneriakkan pekik merdeka, menunjukkan solidaritas mereka terhadap seluruh bangsa-bangsa melayu diluar Aceh yang dulunya sama-sama dijajah Belanda dan Jepang.

Padahal tidak ada persamaan sejarah mereka kecuali hanya sama-sama dijajah oleh Belanda dan Jepang. Apakah ini disebabkan keluhuran budi bangsa Aceh yang sudah biasa dengan solidaritas terhadap bangsa Islam lain di Nusantara?

Mengapa orang Aceh sampai melupakan identitas mereka sendiri sebagai satu bangsa di Asia Tenggara yang mempunyai negara, pemerintahan, bendera, bahasa dan sejarahnya sendiri yang sungguh gemilang? Ini, tentunya, memerlukan analisa dan pembahasan khusus tersendiri, terlalu kompleks untuk dibahas dalam forum ini.

Mengapa mereka tidak menyatakan kemerdekaannya lebih dulu, kemudian mendukung kemerdekaan bangsa-bangsa Melayu lainnya yang pernah dijajah oleh Belanda? Malah ajakan pemimpin Melayu Deli, Tengku Mansur untuk membentuk negara Sumatera ditolak oleh pemimpin Aceh masa itu.

Pada zaman itu rakyat Aceh lebih bersatu, tidak banyak terpecah seperti sekarang ini. Hanya terpecah dua, yaitu yang satu ingin menaikkan kembali bendera penjajah Belanda, Merah Putih Biru, dan yang satunya ingin menaikkan Bendera Merah Putih. Mungkin dianggap sebagai bendera pemersatu umat Islam, meskipun keduanya bukan bendera Aceh. 

Proses kemerdekaan RI berlangsung timbul-tenggelam 1945-1949. Pada mulanya RI yang baru lahir ini berbentuk negara Persatuan, sebagai Federasi persatuan perwakilan bangsa-bangsa Melayu Nusantara, dengan nama RIS (Republik Indonesia Serikat).

Dalam 1949-1953, rakyat Aceh, Jawa Barat, Banjar, dan Bugis, baru sadar bahwa negara yang mereka perjuangkan itu bukan negara Islam. Tiga wilayah Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim itu bersatu dan memproklamirkan DII/TII di bawah pimpinan Imam Kartosuwiryo. 

Perjuangan DI/TII bukanlah perjuangan menghancurkan RI, tetapi satu perjuangan umat Islam Indonesia untuk mengubah konstitusi RI menjadi konstitusi Islam. Pada masa inilah kembali terlihat persatuan dan solidaritas rakyat Aceh, sehingga hampir seluruh rakyat Aceh mendukung perjuangan DI/TII.

Tanda solidaritas

Pada 4 Desember 1976, Dr Tgk Hasan Muhammad di Tiro, memproklamirkan Negara Aceh Sumatra Merdeka. Meskipun proklamasi ini merupakan double standard terhadap proklamasi RIA yang telah diproklamirkan oleh Tgk Muhammad Daud Beureu-éh 15 Agustus 1961, beliau tidak mempersoalkan hal ini. Bahkan, beliau mendukung kepemimpinan Tgk Hasan Tiro dan membantu perjuangan Aceh Merdeka (AM). 

Itu menunjukkan tanda solidaritas yang ikhlas dari kepemimpinan generasi tua kepada generasi muda Aceh. Hampir seluruh Aceh ikut terlibat dan menyokong organisasi AM ini.

Namun demikian, patut disesalkan perpecahan GAM justeru terjadi ketika Tgk Hasan di Tiro mulai uzur. Waktu itu terjadi perebutan kekuasaan antara petinggi-petinggi GAM yang mengakibatkan perpecahan masyarakat Aceh hingga kini. 

Sebagian orang GAM berhasil mendominasi GAM lainnya dan bertindak seolah-olah mereka bukan wakil semua kelompok GAM yang telah terpecah-belah, tetapi mereka sebagai wakil semua masyarakat Aceh. Demikian yang terjadi hingga berlangsungnya perdamaian MoU Helsinki 15 Agustus 2005.
Hasan tiro proklamirkan Aceh Merdeka
Lebih jauh lagi, mereka yang mewakili perundingan menganggap bahwa Aceh ini adalah milik mereka dan dengan lantang menepuk dada menyerukan kepada rakyat Aceh:

“Pilihlah aku, karena akulah pahlawan Aceh yang berhak atas Aceh!” Tanpa menghiraukan bahwa hampir semua rakyat Aceh ikut terlibat secara langsung atau tidak langsung di masa konflik 1976-2005.

Kini, ada tiga partai lokal Aceh --Partai Aceh (PA), Partai Nasional Aceh (PNA), dan Partai Daulat Aceh (PDA)-- yang mungkin di dalamnya masih ada bekas-bekas pejuang AM, atau keturunan-keturunan mereka. 

Ironisnya ketiganya tidak lagi menunjukkan barisan yang membela kepentingan umum rakyat Aceh, yang manifestasinya kita lihat sewaktu Pilkada 2012 lalu, adanya intimidasi sesamanya sampai-sampai terjadi pembakaran posko dan penembakan terhadap pihak lawan.

Di samping tiga partai tersebut diatas ada golongan-golongan radikal yang tidak mengakui MoU Helsinki, dan ada pula golongan yang mencoba menggagalkan Pilkada 2017. 

Ada lagi golongan baru yang ingin memerdekakan Aceh dan menganggap pengkhianat semua pejuang-pejuang GAM 1976, yang terdahulu, menghalalkan semua darah mereka tanpa satu peradilan yang jelas. 

Na’uzubillah, saya mengharapkan tidak ada lagi darah bangsa Aceh yang akan tertumpah dan tidak ada lagi anak yatim baru, akibat dari pergaduhan perebutan kekuasaan dan perang saudara sesama bangsa Aceh. Semoga! (tribunnews)

* Dr. Tgk. H. Husaini Hasan, mantan Menteri Pendidikan Aceh Merdeka. Email: tengkuhalimon@gmail.com


Hari raya di Aceh zaman dahulu adalah hari bagi bagi para pembersar memberi karunia kepada rakyatnya. Tingkat pemberian sesuai dengan pangkat dan jabatan. Yang besar member untuk yang kecil sebagai wujud ucapan selamat berhari raya.

Raja Aceh yang paling kesohor, Sultan Iskandar Muda malah membuat peraturan (sarakata) khusus tentang perayaan hari raya. Peraturan tersebut dinamai Sarakata Poteumeureuhom Meukuta Alam Iskandar Muda.

Prof. Dr H Aboebakar Atjeh dalam makalah Wajah Rakyat Aceh Dalam Lintasan Sejarah pada Seminar Pekan Kebudayaan Aceh kedua di Banda Aceh, 20 Agustus � 2 September 1972 menyertakan lampiran sarakata tersebut. Ia menjelaskan bahwa salinan Sarakata Sulthan Iskandar Muda diambil dari buku �De Inrichting Van Het Atjeshe Staatbestuur onder het Sultanaan� karangan KFH Van Langen.

Pada pendahuluan buku itu Van Langen menjelaskan baik sarakata Adat Meukuta Alam didapatnya pada waktu menyerang Masjid Indrapuri tahun 1879 dalam kitab-kitab yang telah ditinggalkan orang Aceh. Dokumen-dokumen aslinya tertulis dalam akasara Arab.


Khusus terkait dengan perayaan hari raya, ada sarakata khusus yang berjudul Peraturan Hari Besar Sulthan Aceh Memberi Karunia dan Kehormatan Kepada Uleebalang dan Rakyatnya. Ada 12 pasal dalam peraturan ini. Pada pasal 5 dijelaskan,  jikalau hari raya pitrah (idulfitri-red) dipasang meriam 21 kali pada pukul lima pagi-pagi awal dari satu hari bulan syawal.

Pada pagi-pagi hari raya pertama, baik idul fitri maupun idul adha, raja berangkat ke Mesjid Raya untuk sembahyang hari raya bersama dengan uleebalang yang ada dan rakyat sekalian dalam negerinya. (pasal 12).

Kemudian dalam pasal 7 dilanjutkan bahwa pada hari raya pertama usai shalat ied,
panglima sagi dan uleebalang dalam sagi berkumpul meusapat di Masjid Raya mesjoearat (musyawarah-red) menentukan hari menghadap raja.

Dalam pasal 8 diterangkat bahwa hari menghadap raya itu adalah hari raya ketiga. Karena pada hari raya pertama dan kedua para uleebalang dan panglima sagi harus melayani rakyat di daerah pemerintahan masing-masing yang berkunjung ke rumahnya (open house).

Pada pagi-pagi hari ketiga bulan syawal, panglima sagi dan uleebalang menghadap raja di atas balai Baiturrahman. Saat itulah raja member karunia (hadiah) kepada mereka. Dalam pasal 9 ditulis, �Maka panglima sagi dan ulebalang dalam sagi yang menghadap raja itu mendapat salinan pada satu orang iaitu satu lembar kain dikaruniai oleh raja tanda selamat hari raja.�

Hadiah yang diberikan raja tersebut menurut kesukaan raja dan sesuai dengan pangkat orang yang menghadapkan. Pemberian kepada uleebalang dan panglima sagi berbeda dengan pemberian kepada rakyat biasa. Aturan pemberian hadiah ini sama baik pada hari raya idul fitri maupun hari raya idul adha.[Iskandar Norman]





Tak ada syeh seudati yang mampu mengalahkan rekor penonton konser raja dang dut Rhoma Irama di Aceh, selain duel dua maestro seudati Syeh Lah Geunta dan Syeh Lah Banguna pada 1980-an di Stadion Kuta Asan, Sigli.

Itu lah sepenggal kenangan yang masih tersisa di benak masyarakat Aceh tentang Syeh Lah Geunta. Namanya sejajar dengan pendahulunya  Syeh Nek Rasyid dan Syeh Rih Krueng Raya.
 
Syeh Lah Geunta I Repro Serambi Indonesia
Hentakan kaki dan tepukan dada dan gemulai ketip jari Syeh Lah Geunta tidak hanya membahana di Aceh, tapi menembus batas benua. Pada tahun 1990-an, para penari seudati ternama di Aceh dikumpulkan dalam satu group, mereka adalah Syeh Lah Geunta, abang adik Syeh Lah Banguna dan Syeh Rih Muda Meureudu, T Abu Bakar, Syeh Jafar, Syeh Muktar, Alamsyah, Marzuki dan Nurdin Daud.

Dua nama terakhir merupakan dosen dan koreografer tari seudati di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Marzuki merupakan pengajar  seudati dan kesenian Aceh lainnya di IKJ, sementara Nurdin Daud, koreografer tarian massal saat Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional di Aceh tahun 1980.

Dalam kelompok seudati itu Syeh Lah Geunta bertindak sebagai syeh, sementara  Syeh Lah Bangunan dan Marzuki bertindak sebagai aneuk syahi (vokal-red) yang membawakan syair-syair seudati yang menghentak, yang lainnya bertindak sebagai penari.

Di Amerika mereka main seudati di sepuluh negara bagian. Mulai dari San Fransico, Atlanta, Iowa, sampai acara puncak di New York. Di setiap negara bagian mereka melakukan pertunjukan tiga malam, kecuali pada acara puncak di New York sepuluh malam.

Setelah pertunjukan usai, penonton tidak berhenti bertepuk tangan, layar yang sudah diturunkan, dinaikkan kembali sampai tiga kali. Mereka terkesima, melihat irama rap dalam syair seudati. Mereka geleng geleng kepala, tak habis pikir ketika ketip jari, tepuk dada dan hentak kaki, jadi irama syair seudati yang begitu cepat nada dan hentakannya.

Tahun 1992, mereka juga melakukan pertunjukan di Spanyol selama 20 hari pada acara Expo dunia di Kota Sevilla. Tahun 1994 melakukan pertunjukan di Belanda selama 22 hari. Pulang dari sana berulang kali melakukan pertunjukan di negara-negara ASEAN.

Kini sang maestro itu telah pergi dengan secercah rasa di benak pecinta seudati. Bagaimana pun Syeh Lah Geunta telah berbuat untuk mengharumkan nama Aceh melalui seudati. Ia telah menyusul Syeh Lah Banguna dan Syeh Rih Muda Meureudu yang juga telah pergi sebelumnya. Selamat jalan maestro. [Iskandar Norman]




Pada pertengahan bulan Syakban, masyarakat Aceh melaksanakan khanduri beureu�at dan shalat tasbih di meunasah-meunasah. Di ujung bulan ini juga akan diadakan meugang, tradisi makan daging sehari menjelang Ramadhan.

Khanduri Beureu�at dilaksanakan pada 15 Syakban disebut juga sebagai nisfu Syakban. Pada malam itu, masyarakat gampong mengadakan kenduri dan mengundang seorang teungku untuk menyampaikan ceramah. Kenduri ini dilaksanakan untuk menyambut bulan suci Ramadhan, setelah selesai ceramah dan shalat tasbih, para hadirin akan makan kenduri bersama-sama yang dibawakan oleh masyarakat desa setempat.

Khanduri beureu�at selain disebut sebagai nisfu Syakban juga dikenal sebagai laylatul Bara�ah. Diyakini dari kata Bara�ah dalam bahasa Arab ini menjadi asal usul kata beureu�t dalam masyarakat Aceh.


Hajatan khanduri beureu�at  ini diadakan sebagai wujud untuk mendapatkan keberkatan umur dari Allah SWT, karena diyakini pada malam tersebut Allah SWT akan menentukan umur hamba untuk tahun berikutnya. Pada malam itu masyarakat akan membawa kenduri ke meunasah, kenduri itu akan dimakan setelah selesai shalat tasbih dan berdoa bersama.

Pada malam 15 Syakban para teungku di desa-desa usai kenduri di meunasah tidak akan tidur. Mereka akan kembali ke rumah untuk melanjutkan berdoa kepada Allah SWT, agar umurnya diberkati untuk tahun depan dan segala musibah yang akan dihadapinya tahun depan dihapuskan dalam buku qada dan qadar yang akan ditulis oleh Allah SWT atas namanya.

Seumeusie Meugang
Pada tiga hari terakhir bulan Syakban, masyarakat Aceh disibukkan dengan persiapan untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Setiap rumah akan melakukan seumeusi meugang (menyembelih hewan) untuk bekal makanan selama puasa.

Perayaan meugangdi Aceh selain unik dan religius juga mengandung nilai kebersamaan. Tradisi meugang tidak hanya memiliki makna lahiriah sebagai perayaan menikmati daging sapi, melainkan juga memiliki beberapa dimensi nilai yang berpulang pada ajaran Islam dan adat istiadat masyarakat Aceh.

Pelaksanaan tradisi meugang memang bermula dari upaya masyarakat Aceh untuk merayakan datangnya bulan puasa dan dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Bagi masyarakat muslim pada umumnya, datangnya bulan Ramadhan disambut dengan gegap gempita. Tak terkecuali bagi masyarakat Aceh.

Meugang yang dilaksanakan sebelum puasa merupakan upaya untuk mensyukuri datangnya bulan yang penuh berkah. Meugang pada Hari Raya Idul Fitri adalah sebentuk perayaan setelah sebulan penuh menyucikan diri pada bulan Ramadhan. Sementara meugang menjelang Idul Adha adalah bentuk terima kasih karena masyarakat Aceh dapat melaksanakan Hari Raya Qurban.

Sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam, perayaan meugang telah menjadi salah satu momen berharga bagi para dermawan dan petinggi istana untuk membagikan sedekah kepada masyarakat fakir miskin. Kebiasaan berbagi daging meugangini hingga kini tetap dilakukan oleh para dermawan di Aceh. Tak hanya para dermawan, momen datangnya hari meugang juga telah dimanfaatkan sebagai ajang kampanye oleh calon-calon wakil rakyat, calon pemimpin daerah, maupun partai-partai di kala menjelang Pemilu.

Selain dimanfaatkan oleh para dermawan untuk berbagi rejeki, perayaan meugangjuga menjadi hari yang tepat bagi para pengemis untuk meminta-minta di pasar maupun pusat penjualan daging sapi. Para pengemis ini meminta sepotong atau beberapa potong daging kepada para pedagang. Ini berkaitan dengan terbangunnya nilai sosial atau kebersamaan.

Tradisi meugang yang melibatkan sektor pasar, keluarga inti maupun luas, dan sosial menjadikan suasana kantor-kantor pemerintahan, perusahaan-perusahaan swasta, serta lembaga pendidikan biasanya akan sepi sebab para karyawannya lebih memilih berkumpul di rumah. Orang-orang yang merantau pun bakal pulang untuk berkumpul menyantap daging sapi bersama keluarga. Perayaan meugangmenjadi penting karena pada hari itu akan berlangsung pertemuan silaturrahmi di antara saudara yang ada di rumah dan yang baru pulang dari perantauan.

Pentingnya tradisi meugang, menjadikan perayaan ini seolah telah menjadi kewajiban budaya bagi masyarakat Aceh. Betapa pun mahal harga daging yang harus dibayar, namun masyarakat Aceh tetap akan mengupayakannya, sebab dengan cara ini masyarakat Aceh dapat merayakan kebersamaan dalam keluarga. Dengan kata lain, melalui tradisi meugang masyarakat Aceh selalu memupuk rasa persaudaraan di antara keluarga mereka.

Tradisi meugang juga menjadi ajang bagi para menantu untuk menaruh hormat kepada mertuanya. Seorang pria, terutama yang baru menikah, secara moril akan dituntut untuk menyediakan beberapa kilogram daging untuk keluarga dan mertuanya. Hal ini sebagai simbol bahwa pria tersebut telah mampu memberi nafkah keluarga serta menghormati mertuanya.[Iskandar Norman]

Tanbeh 17 merupakan nama lain dari kitab Munirul Qulub, ditulis dengan bahasa Aceh bersajak. Berisi 17 anjuran bagi pencari surga dan penghapus dosa. Tuntunan bagi umat dalam hakikat hidupnya.

Kitab aslinya bertulis tangan dengan aksara Arab Jawi berbahasa Aceh. Ditulis di atas kertas ukuran 22 x 16 cm setebal 138 halaman. Setiap halaman berisi 19 baris yang ditulis dalam dua lajur. Kitab ini pernah dialih aksarakan oleh tim dari Museum Provinsi Daerah Istimewa Aceh pada tahun 1993.

Dalam pengantar alih akasara dijelaskan, isi Tanbeh 17 berupa 17 pokok bahasan tentang anjuran bagi siapa saja yang hendak mencari surga, serta tuntunan bagi penebus dosa. Penulisnya membuka kitab dengan keterangan, ulon teusurat bahsa droe, Arab Jawoe kupeu bahsa, lon boh lagu ban hikayat, makna kitab simeumata, nama kitab Munirul Qulub, Dawauz Zunub ubat desya.

Penulisan kitab ini disandarkan pada ayat-ayat Alquran, hadis Nabi dan ijmak para ulama. Penjelasan dan argumentasi yang disampaikan selalu begitu mengalir. Dalil dan perumpamaan atas kajian yang disampaikan sangat mengena. Dalil-dalil yang dikemukakan selalu sertakan dengan penjelasan yang begitu dekat dengan realita kehidupan.

Menariknya lagi, penjelasan dalam tanbeh disertai dengan ulasan-ulasan sejarah pada masa nabi. Ini membuat kitab Tanbeh 17 menjadi lebih enak dibaca dan lebih membekas dalam ingatan.

17 tanbeh yang dijelaskan dalam kitab ini berupa: kepercayaan, takwa, makna penting kewajiban agama, martabat ulama dalam masyarakat Islam, kewajiban terhadap orang tua, sopan santun kepada guru, kewajiban istri terhadap suami. Pada bagian kewajiban istri terhadap suami memuat tentang kisah ajaran Nabi Muhammad kepada putrinya Fatimah.

Tanbeh lainnya adalah: kewajiban mandi junub, kewajiban terhadap tetangga, kemuliaan berderma, kejahatan riba, kerugian meninggalkan sembahyang, kepuraan dalam beribadah dan kerugiaannya, bahaya sakaratul maut.

Pada bagian bahaya sekaratul maut ini memuat kisah Jadid bin Ata yang karena kesamaan namanya dicomot oleh malaikat maut sebagai orang kafir bernama Jaded bin Farek. Kemudian ia dihidupkan kembali sehingga dapat menceritakan pengalamannya tetang kesengsaraan kaum kafir setelah mati.

Dua tanbeh terakhir berupa azab yang dilaksanakan dalam kubur dan kerugian meninggalkan shalat Jumat. Pada bagian ini dipaparkan kejadian-kejadian nyata di beberapa tempat pada masa itu yang kerap dilanda kekeringan dan gagal panen akibat masyarakatnya tidak melaksanakan kewajiban shalat Jumat.

Penulis kitab ini juga menyinggung tentang tradisi �Jumat bersih� dalam masyarakat Aceh, yakni bergotong royong bersama setiap pagi Jumat hingga jelang dhuhur. Usai gotong royong para pria akan melakukan shalat Jumat bersama di mesjid. Kerifan lokal ini kini sudah jarang terlihat dalam masyarakat Aceh.

Membaca kitab ini kita diajarkan untuk menjalani hidup seutuhnya sebagai hamba Allah dalam bermasyarakat yang berpedoman pada konsep hablun minallah wa hablun minannas.

Kitab ini tamat ditulis pada tahun 1254 Hijriah bertepatan dengan 1875 masehi. Penulis menyebut namanya sebagai Teuku Muda. Pada bagian akhir kitab Tanbeh 17 ini, ia menjelaskan bahwa Aceh sering dilanda malapetaka karena masyarakatnya banyak melanggar hukum agama.

Teuku Muda menutupnya dengan: bak nanggroe nyoe hana beureukat, le nyang bangsat taat kureung, Aceh pih kayem keunong bala, hana reuda lam teuka khueng, La ila haillallah habeh kisah, han peun bileueng wallahu aklam, tamat surat malam Jumat, khamis watee Insya. Nyang empunya Teuku Muda.

Menarik untuk mengkaji kembali Tambeh 17 ini, semoga kita bisa terhindar dari segara mara bahaya, dan memperoleh ampunan dosa, karena kitab ini merupakan ajaran untuk obat segala dosa. [Iskandar Norman]




Kita dituntut untuk memahami Palestina masa mendatang, melalui tindakan hari ini untuk tujuan hari esok.
Memahami Palestina tidak cukup hanya dengan keprihatinan. Kita harus berkaca pada sejarah bagaimaa Palestina pernah memahami kita. Memahami masa lalu perlu dilakukan sebagai permulaan memahami diri kita sendiri dan Palestina hari esok.

Tindakan kita hari ini harus mampu membantu merancang hari esok Palestina yang lebih baik. Apa yang dilakukan Pemerintah Aceh dengan membuka rekening donasi bagi Palestina patut diapresiasi. Konon, Aceh merupakan satu-satunya pemerintah daerah yang melakukan hal itu.

Kita berharap Pemerintah Aceh tidak hanya sekadar membuka rekening donasi Palestina. Tapi lebih dari itu Gubernur Zaini Abdullah harus mampu mengarahkan Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) untuk benar-benar menerjemahkan tindakan itu dengan baik. Bila semua perangkat daerah bisa digerakkan secara baik, maka donasi yang terhimpun juga akan maksimal.

Sekali lagi, membantu Palestina tidak cukup hanya dengan keprihatinan, tapi tindakan. Mengutip sebuah judul buku Timbor Mende, ini disebut sebagai a glance at tomorrow�s history. Naif terasa bila kita hanya berkata prihatin, tapi tidak bisa melakukan sesuatu untuk mengubah sejarah hari esok Palestina. Prihatin saja tidak membuat perang itu berakhir. Tapi lebih di atas prihatin adalah tindakan, meski hanya melalui sekian rupiah yang kita sumbangan, yang dengan itu mungkin bisa membantu perban pembalut luka perang bagi anak-anak Palestina.

Kita harus menembus waktu, melihat masa lalu bagaimana Palestina membalut luka kita, ketika Indonesia belumlah ada. Palestina bersama Mesir yang pertama kali menyuarakan kemerdekaan Indonesia. Mufti Besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al Husaini pada 6 September 1944 dengan tegas menyatakan dukungan untuk Indonesia merdeka. Pernyataannya disiarkan di Radio Berlin berbahasa Arab. Ia juga yang menyambut kedatangan delegasi Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia.

Masa itu Palestina bukan hanya sekadar mendukung usaha memerdekakan Indonesia dari jajahan Belanda, tapi saudagar kaya Palestina Muhammad Ali Taher menghibahkan seluruh uangnya di rekening bank Arabia untuk mendanai perjuangan rakyat Indonesia. Hebatnya lagi, donasi yang diberiakannya itu tanpa meminta tanda bukti. Ia hanya meminta semua kekayaannya itu diterima untuk memenangkan perjuangan Indonesia.

Muhammad Ali Taher masa lalu telah bertindak untuk menulis sejarah masa depan Indonesia. Saatnya kita untuk menghargai itu dengan tindakan yang sama terhadap Palestina. Tentang ini bisa dibaca dalam buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri.

Masa depan Palestina bukan hanya di tangan pejuang rakyat Palestina semata, tapi juga muslim seluruh dunia, karena kita memang muslim yang satu. Sejarah telah membuktikan bagaimana Aceh mendapat perlindungan dari khalifah Islam dalam menghadapi agresi Portugis di Selat Malaka.

Atas nama Islam, penguasa Utsmani di Turki membantu Aceh memerangi Portugis. Farooqi dalam buku Protecting the Routhers to Mecca mengungkapkan hal itu. Ketua delegasi Aceh Panglima Nyak Dum yang disebut Farooqi sebagai Huseyn Effendi membawa surat sulthan Aceh sebagai laporan tentang aktivitas militer Portugis yang menimbulkan masalah besar terhadap para pedagang muslim dan jamaah haji dalam perjalanan ke Mekkah. Karena itu, Aceh meminta bantuan Turki untuk menghalau Portugis di Selat Malaka.

Hal yang sama juga diungkapkan Ayumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII, Turki mengirim armada besar ke Aceh untuk memerangi Portugis, meski dalam perjalanannya armada besar itu hanya sebagian yang sampai ke Aceh karena dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman yang berakhir pada tahun 1571.

Ketika pimpinan armada Turki Kurtoglu Hizir Reis sampai ke Aceh bersama armadanya, mereka disambut dengan upacara besar oleh raja Aceh. Kurtoglu Hizir Reis kemudian diberi gelar Gubernur Turki di Aceh yang merupakan utusan resmi Khalifah Utsmani yang ditempatkan di Kerajaan Aceh.

Marwati Djuned Pusponegoro dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, jilid III mengungkapkan, pasukan Turki yang tiba di Aceh antara tahun 1566 sampai 1577 sebanyak 500 orang, termasuk ahli senjata api, penembak dan ahli peperangan. Dengan bantuan itu Kerajaan Aceh menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1568. Perlindungan Khalifah Utsmani terhadap kerajaan-kerajaan muslim saat itu sangat kuat. Lalu bagaimana sikap Islam yang satu sekarang terhadap Palestina?

Aceh khususnya dan Indonesia umumnya, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia harus mampu berbuat lebih untuk mendukung secara nyata kemedekaan Palestina. Mengutip apa yang pernah disampaikan Presiden Soekarno dalam diplomasi luar negerinya; we are not sitting on the fence. Soekarno menambahkan, kita harus bekerja untuk retooling for the future untuk menyelenggarakan hari depan yang lebih baik. [Iskandar Norman]
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget