Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Tokoh"

AMP - Ketika Teuku Umar masih bekerja sama dengan Belanda, sekitar Februari-Maret 1896, yang bertepatan dengan bulan Ramadan 1313, ia menolak berperang karena umat Islam tengah menjalankan ibadah di bulan suci.

"Gubernur Belanda kemudian mengundurkan perang sampai sehabis Hari Raya Idulfitri,” tulis Mardanus Sofwan dalam Teuku Umar (1982). Sesudahnya, Teuku Umar kembali ke barisan Aceh dan berperang melawan Belanda.

“Bulan Januari 1899 Jenderal van Heutsz datang sendiri ke tempat paling utama di pantai barat Meulaboh. Di sekitar sinilah disinyalir Teuku Umar berada,” tulis Paul van t'Veer dalam Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje (1985).

Medio Januari 1899 adalah bulan Ramadan 1316 H. Di akhir puasa, jelang lebaran, Teuku Umar di ujung tanduk. “Tanggal 10 Februari, suatu detasemen diberi perintah untuk menyergap perkemahannya. Umar telah mengetahuinya ... pada malam itu juga dia berangkat dengan para legiun menempuh jalan putar ke Meulaboh dan gilirannya menyerang kota ini.”

Sialnya, sepasukan militer Belanda yang dipimpin Letnan Verbrugh telah menyebar pasukannya di dekat pantai. “Beberapa jam kemudian," tulis van t'Veer, "tiba-tiba dia melihat dalam gelap, banyak kerumunan orang Aceh muncul. Tembakan dilepaskan.”

Pasukan Aceh itu panik. Sementara pasukan Belanda, karena kalah jumlah, memilih mundur. Di hari-hari berikutnya, diketahui bahwa yang tewas pada 11 Februari 1899, atau sekitar tanggal 30 Ramadan 1316 itu, di antaranya adalah Teuku Umar.

Tak hanya Teuku Umar yang dilumpuhkan pada bulan puasa. Salah satu istrinya, seorang pahlawan bangsa Aceh, Cut Nyak Dien, juga dilumpuhkan di tahun-tahun sesudahnya pada bulan Ramadan.

Pada tengah malam, 6 November 1905, bertemulah Panglima Laot dengan sepasukan serdadu patroli Kompeni. Mereka harus bergerak cepat melalui jalur hutan di Beutong Le Sageu (Nagan Raya) yang becek karena hujan. Jelang fajar, barulah serdadu-serdadu itu tiba ke lokasi tujuan.

Itu sebuah wilayah perkemahan yang agak lapang. Terlihat oleh serdadu-serdadu itu bahwa segerombolan orang Aceh tengah duduk melingkari api unggun. Mereka melihat senjata yang sudah kuno. Pakaian mereka compang-camping.

“Dengan tidak sengaja, senjata yang ada di tangan seorang anggota patroli meletus. Orang-orang yang sedang duduk mengelilingi api unggun itu terperanjat. Mereka langsung berdiri dan memegang kelewang yang terhunus,” tulis Madelon H. Székely-Lulofs dalam Cut Nyak Dien: Kisah Ratu Perang Aceh (2007).

Cut Nyak Dien berusaha menghindari pengepungan tak terduga itu. Ia sudah buta dan sulit bergerak cepat. Ia pun tertangkap. Dalam kondisi terkepung, ia menarik rencongnya.

“Ya Allah, Ya Tuhan! Inikah nasibku? Di dalam bulan puasa, aku diserahkan ke tangan kaphee (kafir)?” ratap Cut Nyak Dien.

Panglima Laot telah mengkhianatinya karena kasihan dengan kondisi Cut Nyak Dien yang sudah tua. Ia mendekati Cut Nyak Dien dan berusaha menenangkan. Cut Nyak Dien menanggapi Panglima Laot dengan cacian dan minta dibunuh.

Penangkapan Cut Nyak Dien pada 6 November 1905. Penangkapan itu terpaksa membuatnya menjalani sisa masa puasa dan lebaran sebagai tawanan di sekitar Kutaraja. Setelahnya, Cut Nyak Dien dibuang hingga meninggal di Sumedang pada 1908.

Ketika Cut Nyak Dien ditangkap, Perang Aceh sudah tiga dekade berlangsung, yang dimulai pada 1873. Di babak awal perang itu, seorang jenderal Belanda harus jadi tumbal. Perang ini setidaknya melewati lebih dari 30 kali bulan puasa. SELANJUTNYA

AMP - Pahlawan-Pahlawan Wanita. Untuk mempertahankan "Kedaulatan Indonesia" yang masih sisa, Rakyat Aceh telah berperang dengan gagah perkasa selama lebih setengah abad melawan tentara kolonial Belanda, sehingga "Sisa Kedaulatan Indonesia" itu tidak pernah diserahkan kepada Belanda, sampaisampai Belanda terusir dari Tanah Aceh pada permulaan tahun 1942. Dalam Perang Aceh yang berlangsung hampir seratus tahun itu, kaum wanita aktif ikut bertempur, bahkan memimpin pertempuran menggantikan Pahlawan Pria yang syahid, baik suaminya maupun bukan. 

Perang Aceh telah menampilkan sejumlah Pahlawan-Pahlawan Wanita Indonesia yang besar, seperti Teungku Fakinah, Cutnyak Dhien, Cut Meutia, Pocut Baren, Tengku Fatimah, Pocut Meurah Intan dan lain-lainnya, yang kalau disebut semuanya deretan namanya akan terlalu panjang. H.C. Zentgraaff, seorang wartawan dan pengarang Belanda terkenal, Pemimpin Redaksi harian De Java Bode, dalam bukunya ATJEH (Aceh) telah menampilkan beberapa bab yang melukiskan kepahlawanan Wanita-Wanita Islam Indonesia dalam "perang kolonial" di Aceh. 

Setelah Zentgraaff menjelaskan bagaimana wanita-wanita bangsa lain di dunia, yang dengan harap-harap cemas menunggu suaminya pulang dari medan perang dan mereka tidak pernah ikut bertempur, maka pengarang Belanda terkenal itu menampilkan wanita-wanita Aceh sebagai berikut: "Hal ini terjadi dalam semua peperangan, di mana pun ia berkecamuk di atas bumi ini. Namun hal ini lebih hebat lagi dirasakan di Aceh, karena di sana para wanitanya sangat dekat dengan ataupun memang berada dalam kancah peperangan. Di sana mereka hidup bersama peperangan; jiwa mereka setiap hari mengikuti suami atau putera pada perjalanan-perjalanan yang mereka kenal keadaannya sampai kepada yang sekecil-kecilnya. 

"Mengenai wanita Aceh dapat diceritakan, bahwa perannya dalam peperangan sampai sekarang pun sukar untuk dinilai dan biasanya aktif sekali. Wanita Aceh gagah berani, adalah penjelma dendam kesumat terhadap kita yang tidak ada taranya serta tak mengenai damai. 

Jika ia turut bertempur, maka tugas itu dilaksanakannya dengan suatu enerji yang tak kenal maut dan biasanya mengalahkan prianya. la adalah pengemban dendam yang membara yang sampai-sampai ke liang kubur atau di hadapan maut pun masih berani meludah ke muka si "kaphe" (= kafir). 

"Rasanya tak ada seorang penulis roman manapun yang sanggup dan berhasil mengungkapkan daya khayalnya yang segila-gilanya seperti yang telah dibuktikan oleh wanita Aceh dalam kenyataannya " Zentgraaff melukiskan bagaimana hangatnya wanita-wanita Aceh menerima bibit bayi dari suaminya di medan perang, dan kemudian melahirkan kesayangannya di arena pertempuran yang dielu-elukan oleh dentuman suara meriam dan gemerincing pedang berlaga. Menulislah wartawan Belanda yang tajam penanya itu. 

Namun dari semua pemimpin perang kita, yang telah bertempur di setiap pojok dan lobang kepulauan Indonesia ini, kita akan mendengar bahwa tidak ada satu bangsa yang begitu bersemangat dan fanatik dalam menghadapi musuh, selain Bangsa Aceh dengan wanita-wanitanya yang jauh lebih unggul daripada semua bangsa lain dalam keberanian menghadapi maut. 

"Bahkan dalam mempertahankan sesuatu pendirian yang merupakan kepentingan nasional dan agama, para wanita, baik di belakang layar maupun secara terang-terangan telah memimpin perlawanan yang tak kalah unggulnya dari kaum pria. 

"la menuju ke tempat tidur pengantin dengan api berahi seorang wanita yang demikian panasnya, tetapi dengan nafsu demikian pula ia menuju medan perang; ia tidak pernah gentar mengikuti suami dan pasukan-pasukannya dalam pertempuran dalam perjalanan-perjalanan mengharungi rimbaraya dengan segala kekurangan dan bahaya yang tak luput dari intaian pasukan-pasukan marsose yang berada di mana-mana. 

"la menerima kandungan dari suaminya dalam peperangan dan di medan pertempuran pula ia melahirkannya, kadang-kadang antara dua buah peperangan dan semua itu selalu penuh dengan ketegangan-ketegangan. Kemudian ia berpindah dengan pasukan suaminya. Kebanyakan berjuang bersama-sama suaminya, kadang-kadang pula di sampingnya atau di hadapannya, dan di tangan yang kecil mungil itu keiewang dan rencong dapat berobah menjadi alat-alat senjata yang amat dahsyat. 

"Wanita Aceh yang berjuang atas dasar "Sabilillah" (Jalan Allah) menampik setiap kompromi; ia tidak akan mengkhianati wataknya sebagai seorang wanita dan hanya mengenai alternatif ini: membunuh atau dibunuh I" Dengan gaya bahasanya yang khas wartawan, H.C. Zentgraaff melukiskan bagaimana agung dan kesatria seorang Isteri Ulama yang tidak rela tubuhnya yang telah luka-luka parah dijamah tangan musuh, sekalipun hanya untuk mengobatinya : "Menurut hernat saya, tak ada satulukisan yang begitu menarik daripada kejadiankejadian dalam peperangan tentang perasaan benei seorang wanita yang tak kenal damai terhadap lawannya, selain kisah tentang tewasnya Isteri Teungku Mayet di Tiro pada tahun 1910. 

"Pada tahun 1909 dimulailah pengejaran terhadap anggota-anggota terakhir Ulama di Tiro yang terkenal di sekitar pegunungan Tangse. "Schmidt telah mengetahui jejak-jejak mereka dan dia mengikutinya seperti seekor anjing buruan. Akhir tahun 1910 hampir-hampir saja dia dapat menangkap pasukan lawan; dia menyerbu ke tempat-tempat ptersembunyian mereka. Teungku Mayet di Tiro dapat meiepaskan dirinya, tetapi isterinya jatuh ke tangan kita dalam keadaan luka parah. "Kêtika pasukan selesai melakukan pembersihan di daerah itu, barulah diketahui kehadiran wanita itu. la berseluar dan berbaju hitam, badannya tegap, berumur kira-kira tigapuluh tahun. la tertidur terlentang dengan luka-luka akibat tembakan di perutnya. Juga dalam penderitaan ini, ia menampakkan wajahnya yang gagah berani. Walau bagaimanapun sakit yang dideritanya, namun ia tidak mengerang dan tanpa bersuara ia menanti akhir hidupnya. 

"Schmidt mendekatinya dengan membawa air minum dan secara sopan dia bertanya dalam bahasa Aceh: apakah ia tidak ingin dibalut luka-lukanya ? - Bek karnat key, kaphee budok (jangan pegang ak, kafir keparat) jawab wanita itu dengan pasti, sambil membuang mukanya. la lebih menyukai maut daripada hidup di tangan seorang kafir; seekor anjing kafir." Tentang Pahlawan Cut Nyak Dhien, Zentgraaff menulis : "Sesudah suaminya, Teuku Umar Johan Pahlawan, syahid, Cutnyak Dhien lebih senang bergerilya di hutan-hutan daripada menyerah kepada musuhnya; ia telah bertahan demikian rupa, walaupun jumlah pengikutnya semakin mengecil. la menjadi tua, matanya buta, namun semua itu tidak menjadi penghalang untuk mematahkan semangatnya. 

la menderita kelaparan di hutan-hutan, sementara patroli marsose pemburunya dari satu ke lain medan gerilya. Pernah terjadi, sampai berminggu-minggu lamanya ia tidak mengecap sesuap nasi, dan harus makan umbut pisang Mar. Lebih kurang enam tahun ia bertahan dan bergerilya dalam keadaan demikian. Pada masa jayanya, ia berdiri di samping sederet nama-nama wanita paling hebat di daerahnya. 

Karena itu, orang dapat membayangkan berapa besar pengorbanan yang f^lah diberikannya untuk kepentingan bangsanya. "Karena sayang melihat penderitaannya, salah seorang pemuka rakyat menjumpai Veltman dengan tawaran akan menunjukkan tempat markas gerilya Cutnyak Dhien; dengan perjanjian agar pahlawan wanita itu dibiarkan hidüp serta diberikan penghormatan " "Veltman menerima tawaran itu sehingga dia dapat mengetahui markas gerilyanya. 

Cutnyak Dhien yang dalam keadaan tidak berdaya lagi, karena matanya telah buta, kurus oleh penderitaan dan kelaparan, menjadi sangat marah karena ia jatuh ke tangah orang-orang "kaphee" ia meraba rencongnya dan menikam orang Aceh yang telah menunjukkan tempat markas gerilyanya " Dengan keindahan bahsa sastrawan, Zentgraaff melukiskan kehebatan seorang Pahlawan Wanita yang lain, yaitu Isteri Teungku di Barat, seorang Ulama Pahlawan, Zentgraaff mengagumi wanita itu dengan tulisannya : "Dan adakah peristiwa yang lebih gemilang dengan irama yang hanya dapat dinyanyikan seorang ahli syair kenamaan, daripada kematian Isteri Teungku di Barat, salah seorang Ulama terkenal di sebeiah Timur Laut Aceh ? la diburu-buru bersama pasukan suaminya, hingga terpojok ke suatu tempat yang berbahaya sekali, yang rahasianya hanya diketahui oleh marsosemarsose waktu itu. 

Tibalah babak terakhir cerita sedih ini: Teungku dan Isterinya serta beberapa perajuritnya terjepit di antara gunung-gunung. "Dalam sekejap mata saja semua mereka itu telah siap sedia bertempur menghadapi segala kemungkinannya, sementara wanita itu berdiri di samping suaminya; sebutir peluru mengenai lengan kanan Teungku, tetapi dia menyerahkan karabennya kepada isterinya yang kini berdiri di mukanya sebagai pelindung dan sekaligus juga sebagai korban dengan pengabdian keagungan yang tiada bertara. "Demikianlah, ia berdiri di depan suaminya. 

Sebuah peluru yang bertuliskan "maut" menembusi tubuh wanita itu, kemudian tubuh suaminya. Kedua-duanya roboh dan tak berapa lama setelah suaminya, gugur pula pahlawan wanita itu. 

Kedua mereka itu menempuh syahid, suatu akhir yang telah membawa mereka ke dunia kebahagiaan yang sukar untuk dinilai "Wanita-wanita semacam ini ratusan jumlahnya, mungkin ribuan, dan keberanian mereka turut menimbulkan keagungan pada pasukan kita " Pemberontakan dan perlawanan yang terus menerus terjadi di Tanah Aceh sampai-sampai ke tahun tigapuluhan dan empatpuluhan, selalu juga dijiwai dan didorong oleh kaum wanita. Zentgraaff dengan ketajaman mata wartawannya dapat melihat kenyataan tersebut, seperti yang ditulisnya : "Wanita Aceh tidak pernah merasa gusar dalam mempertaruhkan seluruh pribadinya untuk mempertahankan sesuatu yang dipandangnya kepentingan nasional dan agama. Perwiraperwira kita yang camping pun mempercakapkannya dengan perasaan kagum dan hormat. 

"Perlu diingat, batiwa sifat mereka itu belum lagi berobah: mereka sanggup besok memperlihatkan kegagahannya serupa, yang menjadi kenangan-kenangan para pemimpin pasukan kita pada masa-masa yang silam. "Beberapa tahun yang lalu, tahun 1933, seorang dari tigabelas orang pria yang memberontak di daerah Lhong (Aceh Besar datang melapor kepada Kepala Kampungnya (Keuchik). 

Karena dia menyerah, maka isterinya tidak sudi kelihatannya lagi dan dia dipencilkan dari masyarakat kampungnya, sehingga terpaksalah pria itu hidup menyendiri dalam sebuah gubuk di ladangnya. 

Ketika ditanyakan seorang kolonel dan pejabat Pemerintah Belanda kepada isterinya, sang isteri meludah di tanah, dan dengan perasaan geram ia berkata : "Suamiku? Aku tak punya suami!" Dan waktu disebut nama suaminya itu, ia berkata: "Itu bukan laki-laki " Pocut Meurah Intan termasuk dalam leretan nama ribuan Pahlawan Wanita Indonesia di Tanah Aceh, yang telah bertempur selama puluhan tahun berkecamuknya "Perang Mempertahankan Kemerdekaan dan Kedaulatan" di ujung paling barat Tanah Air Indonesia.

Dikutip Dari Buku karya: H. AMRAN ZAMZANY S.E.(PERSATUAN EX TP RESIMEN II ACEH DIVISI SUMATERA. Ketua Umum)  

Habib Abdurrahman Al-Zahir
AMP - Sosok Habib Abdurrahman Al-Zahir selama ini dipersepsikan sebagai tokoh kontroversial, karena pernah menyerah kepada Belanda. Sejarah mencatat, dalam banyak episode sejarah melawan Belanda, dia adalah pahlawan yang memperjuangkan Aceh melalui jalur diplomasi, bahkan militer. Siapa sebenarnya Habib Abdurrahman Al-Zahir?

Ketua Institut Peradaban Aceh (IPA) Haekal Afifa mengatakan, kontribusi Habib Abdurrahman terhadap kerajaan Aceh begitu besar. Setiap kali bicara diplomasi Aceh di dunia internasional, maka tidak bisa menafikan peran sang Habib.

“Dia telah memainkan peranan yang besar dalam dunia diplomasi kerajaan Aceh menjelang pecahnya perang antara Belanda dan Aceh pada 26 Maret 1873,” kata Haekal dalam seminar Peran dan Kontribusi Golongan Sayid dalam Perang Aceh di gedung Mini Theater PKP2A IV LAN, Banda Aceh, Sabtu (13/5/2017) kemarin.

Seminar yang diselenggarakan Asyraf Aceh ini menghadirkan dua pemateri, yakni Haekal Afifa dan Sayid Murtada.

Haekal yang di makalahnya mengutip puluhan penulis dari dalam dan luar negeri itu mengatakan, setelah ibunya meninggal, Habib Abdurrahman kecil dibawa oleh ayahnya ke Malabar tahun 1834. Tafsir Alquran dipelajariny di Mesir, setelah itu dia ke Arab.

Dari Arablah, Habib berkeliling Asia Tengah dan Eropa. Setelah berkelana ke berbagai negara inilah, Habib dewasa menjadi pribadi yang paham ilmu diplomasi sekaligus dalam ilmu agamanya.

Sebelum berlabuh di Aceh, Habib Abdurrahman berada di Johor selama satu setengah tahun. Dalam waktu singkat itu, dia berkontribusi dengan membantu pembangunan dan menyelesaikan pembuatan jalan di Kota Johor dengan baik.

“Atas jasa-jasanya, Maharaja Johor memberikan surat penghargaan sebagai apresiasi atas dedikasinya di negeri Johor,” kata Haekal.

Dari Johor, dia bertolak ke Pulau Pinang, lalu berangkat menuju Pidie dan selanjutnya menuju Banda Aceh Darussalam.

“Di Aceh, dia berada di Kampung Jawa selama tiga hari dan dia menjumpai Habib Muhammad Mahaldi di Kampung Lamseupeung pada bulan Jumadil Awal 1221 H (1864 M). Melalui Habib Mahaldi, dia dipertemukan dengan Sultan Alaiddin Ibrahim Mansursyah. Berbekal surat penghargaan Maharaja Johor, Sultan menerima Habib Abdurrahman dengan baik dan mengangkatnya sebagai Kepala Masjid Raya Baiturrahman,” kata Haekal.

Saat itu, kondisi di Aceh sedang tidak menentu, khususnya kondisi politik internasional Aceh. Tujuh tahun sebelum kehadiran Habib Abdurrahman, Kerajaan Aceh sudah melakukan perjanjian perdamaian, persahabatan, dan perdagangan dengan Kerajaan Belanda sebagai upaya menjalankan Perjanjian London yang sudah disepakati pada 1824.

Perjanjian antara Kerajaan Aceh dan Belanda pada tahun 1857 merupakan perjanjian internasional pertama Kerajaan Belanda sejak merdeka.

“Perjanjian tahun 1857 itulah yang membuka ruang legitimasi bagi Belanda untuk menyerang Aceh, dengan tuduhan Kerajaan Aceh melakukan pembajakan dan perompakan di perairan Sumatera. Pasal 4 dan Pasal 5 dalam perjanjian tersebut menjadi perangkap untuk menjebak Aceh dalam pusaran konflik kolonial yang berkepanjangan,” tutur Haekal.

Belanda, kata Haekal, memainkan politik tipu daya. Dalam istilah Paul Findley, tergolong tipe diplomasi munafik. Konflik dalam wilayah kerajaan Sumatera Timur dimanfaatkan. Perjanjian Siak-Belanda kemudian dibuat.

Mereka berhasil memainkan politik ‘Pula Labu’. Di internal kerajaan Aceh, muncul pertikaian antara Ulee Balang dan petinggi Aceh. Nah, kehadiran Habib Abdurrahman berhasil mengatasi konflik internal yang terjadi antara Sultan Ibrahim Mansursyah dengan Teuku Muda Baet.

Keberhasilan ini membuat sultan mengangkat Habib menjadi Kepala Urusan Agama dan Pemerintahan di Cot Putu dalam III Mukim, Aceh Besar.

Detik-detik jelang perang Aceh, Habib Abdurrahman menjadi kunci diplomasi Aceh dengan dunia. Habib diberikan kuasa tujuh tahun untuk mencari dukungan di Arab dan Eropa. Penunjukan Habib sebagai diplomat juga tidak mudah.

Sebagaimana disebutkan dalam Bustanussalatin pada bab III pasal 5, menjadi seorang utusan harus memenuhi 10 syarat, antara lain, takut kepada Allah, punya ilmu pengetahuan, baik kelakuannya, elok paras, bangsawan, berani melakukan apa yang menjadi kemauan raja, dan sebagainya.

“Syarat-syarat seorang diplomat yang dibuat kerajaan Aceh sangat ketat, melebihi Eropa,” tuturnya.SELANJUTNYA

AMP - Jadwal kegiatan Raja Arab Saudi Faisal bin Abdulaziz Al Saud pada 25 Maret 1975 adalah menyambut delegasi dari Kuwait. Dalam acara kenegaraan resmi di Riyadh ini, Sang Raja direncanakan akan menjamu tetangganya di bagian majlis Dewan Kementerian, tempat ia biasa menerima kunjungan dari rakyatnya. Hari itu keponakan Raja Faisal, Faisal bin Musaid, juga terlihat di tempat penyambutan delegasi.

Delegasi dari Kuwait dipimpin oleh Abd al-Mutalib al-Kazimi, Menteri Minyak Kuwait. Sebelum bertemu dengan Raja Faisal, al-Kazimi bertemu dengan Menteri Minyak Arab Saudi Ahmed Zaki Yamani. Yamani memberitahu bahwa Raja Faisal akan tiba di kantor pukul 10.25 tepat. Yamani menegaskan bahwa Raja Faisal adalah orang yang disiplin. Sambil setengah bergurau, ia meminta al-Kazimi untuk memantau jam tangannya. Tepat di waktu yang Yamani sebutkan, Raja Faisal benar-benar muncul di tempat perjamuan. Kala itu ia hanya dikawal oleh satu pengawal.

Yamani pamit kepada rombongan delegasi Kuwait untuk mendatangi Raja Faisal, lalu terlihat berbisik-bisik sebentar. Kru televisi sudah merekam segala yang terjadi sejak sebelum rombongan dari Kuwait datang. Termasuk saat Faisal bin Musiad menyalami salah satu delegasi dari Kuwait yang pernah saling bertemu di Colorado.

Semua terlihat normal. Hingga pada pukul 10.32, saat Raja Faisal berjabat tangan dengan jajaran kementerian Kuwait, Faisal bin Musaid tiba-tiba mengeluarkan senjata api jenis revolver dari jubahnya dan menembak Raja Faisal dari jarak dekat.

Peluru pertama mengenai kepala Raja Faisal, di dagu dan sebagian melukai telinga. Raja Faisal segera jatuh ke lantai, sementara Faisal bin Musiad masih menembakkan senjatanya beberapa kali, tapi kebanyakan mengenai tembok. Pengawal Raja Faisal berusaha merebut senjata dari tangan Faisal bin Musiad dengan mengarahkannnya ke udara. Rombongan pengawal kerajaan lain terburu-buru memasuki tempat kejadian perkara dan mengamankan Faisal bin Musiad dengan cara diikat.

Salah seorang pengawal berupaya untuk menghabisi nyawa Faisal bin Musaid dengan sebilah pedangnya. Namun ia mundur setelah Yamani berteriak agar nyawa Faisal bin Musaid diampuni.

Raja Faisal yang dalam kondisi kritis segera dilarikan ke rumah sakit. Ia bisa sampai dengan nyawa masih melekat di tubuh. Raja Faisal sempat membisikkan sesuatu di tengah napasnya yang makin berat: agar Faisal bin Musiad jangan dieksekusi mati. Dokter bedah terbaik di rumah sakit tersebut telah berusaha maksimal, namun takdir berkata lain. Raja Faisal mangkat di hari itu juga.

Balas Dendam Pangeran Bengal
Seperti ditulis dalam buku King Faisal: Personality, Faith and Times karya Alexei Vassiliev (2016) yang memuat detail pembunuhan tersebut, beragam teori konspirasi muncul. Terutama di hari-hari usai acara pemakaman Raja Faisal. Publik mereka-reka apa yang membuat sang pelaku begitu nekad. Terlepas dari itu semua, rakyat Arab Saudi jelas marah. Demi tegaknya keadilan, wasiat sang raja pun dikesampingkan.

Siang hari tanggal 8 Juni 1975, Faisal bin Musaid dipancung di depan ribuan rakyat Arab Saudi di Riyadh. Saudaranya, Bandar, yang dituduh turut berkonspirasi dalam pembunuhan itu, dipenjara selama satu tahun sebelum dibebaskan.

Laporan awal di pengadilan, sebagaimana tertera dalam buku The Book of Assasins: A Biographical Dictionary from Ancient Times the Present karya George Fetherling (2001), menjelaskan bahwa Faisal bin Musaid adalah orang yang tak waras. Saat ia dipindahkan ke sebuah penjara di Riyadh, ia dianggap cukup waras untuk mengikuti pengadilan. Pengadilan kala itu langsung memutuskan bahwa Faisal bin Musaid bersalah dan dijatuhi hukuman mati.

Keyakinan bahwa jiwa Faisal bin Musaid tak stabil hingga bisa membunuh dikaitkan dengan rekam jejaknya sebagai pecandu narkotika dan dendam pribadinya kepada Raja Faisal. Sebelum terjadi pembunuhan, Faisal bin Musaid baru saja pulang dari luar negeri. Ia adalah saudara termuda dari Khalid bin Musaid, pangeran Arab Saudi yang terbunuh 10 tahun sebelumnya akibat mendalangi penyerangan ke stasiun televisi Riyadh. Ia menempuh studi di Amerika Serikat, negara kawan Arab Saudi untuk urusan dagang minyak.

Sayang, Faisal bin Musiad bukan tipe mahasiswa berprestasi. Ia bahkan sempat pindah kampus lebih dari sekali. Rekam jejak di luar kampus juga termasuk buruk. Saat masih menjadi mahasiswa di Universitas Colorado di tahun 1969, Faisal bin Musaid pernah ditangkap aparat kepolisian setempat sebab turut berkonspirasi dalam penjualan obat-obatan terlarang.

Ia juga pernah terlibat dalam setidaknya satu kali perkelahian di bar. Otoritas Arab Saudi selalu berusaha keras agar Faisal bin Musaid tak dipenjara. Saat beberapa kali ke Beirut, ia juga ketahuan berkumpul dengan para pecandu narkotika. Saat pulang ke Arab Saudi di tahun 1971, Raja Faisal melarangnya pergi ke luar negeri. Tujuannya tentu saja agar Faisal bin Musaid tak mempermalukan keluarga kerajaan lebih jauh lagi.

Sebagaimana dipaparkan dalam arsip Daily News, sejumlah media di Beirut kala itu menawarkan sejumlah penjelasan mengapa serangan itu terjadi. Salah satu yang mendukung teori balas dendam pribadi adalah koran Al Bayraak. Koran ini mengkalim ada sumber dari Saudi yang berkata bahwa Raja Faisal melarang Faisal bin Musaid meninggalkan negara itu karena penggunaan alkohol yang berlebihan dan konsumsi obat-obatan selama ia berada di luar negeri.

Koran Beirut lain, An-Nahar, melaporkan bahwa Raja Faisal telah mengabaikan protes terhadap kurangnya uang saku $3.500 per bulan yang diterima oleh Faisal bin Musaid, sehingga akhirnya ia nekad. Ada juga kemungkinan bahwa upaya pembunuhan itu adalah taktik untuk meruntuhkan tahta Wangsa Saud, karena Faisal bin Musaid dijadwalkan akan menikahi putri Saud (Putri Sita) di minggu yang sama.

Reformis yang 'Berbahaya'

Teori lain yang dipaparkan An-Nahar mengungkapkan bahwa pembunuhan tersebut sudah direncanakan jauh-jauh hari dan sejumlah media Arab menyatakan bahwa pembunuhan itu dilakukan atas perintah dan arahan dari Badan Intelijen Pusat AS, CIA. Di sisi lain, Raja Faisal sangat pro-kemerdekaan Palestina, dan tentu saja sepaket dengan sikap anti terhadap pendudukan ilegal Israel. Israel, sebagaimana diketahui, disokong penuh oleh AS.

Usai PBB mengeluarkan resolusi pemecahan wilayah Palestina untuk pendirian Israel, Faisal kala itu mendesak ayahnya, Raja Abdulaziz, untuk memutus hubungan dengan AS. Namun, ayahnya tak merealisasikan keinginan itu sebab Arab Saudi sedang berhubungan dagang dengan AS. Sebelum Raja Faisal naik tahta, kekuasaan berada di saudara laki-lakinya Raja Saud bin Abdulaziz Al Saud. Saud adalah raja yang penuh skandal, salah satunya skandal keuangan yang merugikan baik negara maupun kerajaan.

Setelah Saud digulingkan karena tak kompeten, Faisal yang menggantikannya mulai 2 November 1964 segera tancap gas untuk membuat kebijakan-kebijakan luar negeri yang pro-Palestina. Ia menyerukan agresi militer melawan Israel untuk membela Al-Quds (Yerussalem) dan menghentikan pemekaran wilayah Israel. Semangat ini disambut baik oleh Mesir dan Suriah. Ketiganya kemudian membentuk koalisi militer melawan Israel yang disokong AS.

Koalisi ini pada awalnya berada di atas angin. Pasukan ketiga negara mampu menguasai arena pertempuran apalagi setelah sukses memukul mundur pasukan Israel dari Syam. Namun, semuanya berubah saat mereka berencana mamasuki wilayah Israel. AS tiba-tiba mengumumkan ancaman penyerbuan ke Mesir jika serangan itu benar-benar diwujudkan. Mesir takut, dan sang Presiden Gamal Abdul Naser terpaksa menarik pasukannya.

Raja Faisal marah besar. Ia tak memedulikan segala intimidasi dan menyerukan perang ekonomi dengan AS, yakni dengan cara mengembargo ekspor minyak Arab Saudi ke AS. Sikap tegas ini tak ditanggapi dengan semarak oleh negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (N.A.T.O) yang mendukung AS. Mereka khawatir kena embargo juga. Dampak dari embargo itu tak main-main. Sektor industri dan transportasi AS lumpuh dan perekonomiannya kacau hingga memicu krisis berkepanjangan.

Selain diingat sebagai pemberani, Raja Faisal juga dikenal sebagai seorang reformis yang membawa banyak perubahan bagi rakyat Arab Saudi. Ia memodernisasi negaranya dengan banyak kebijakan baru yang tak pernah dikeluarkan raja sebelumnya. Salah satunya adalah menggalakkan program penghapusan budak dengan cara membeli seluruh budak di Arab Saudi memakai uang pribadinya. Sejak saat itu perbudakan dilarang di Arab Saudi.

Raja Faisal juga melakukan penyederhanaan gaya hidup keluarga kerajaan dan melakukan penghematan kas kerajaan dengan menarik 500 mobil mewah Cadillac milik istana. Dana dari hasil program itu, salah satunya, dialihkan untuk pembangunan sumur-sumur raksasa hingga sedalam 1.200 meter sebagai tambahan sumber air rakyat untuk dialirkan pada lahan-lahan tandus di semenanjung Arab.

Ada banyak lagi kebijakan berbasis reformasi dan modernisasi yang mengubah wajah Arab Saudi dan menjadi pondasi yang diletakkan serta diteruskan hingga Raja Salman yang kini berkuasa. Barangkali kecuali satu hal: sikap berani menentang agresi militer Israel plus negara adidaya di belakangnya.

Baca juga artikel terkait RAJA ARAB SAUDI atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan. (tirto.id - awa/msh)

Bekas Presiden Kuba Fidel Castro meninggal dunia di usia 90 tahun, pada Jumat (25/11/2016) waktu Kuba. Dia pernah dicoba dibunuh ratusan kali oleh CIA. Foto / REUTERS
AMP - Bekas Presiden Kuba, Fidel Casto, telah meninggal hari Jumat malam waktu Havana dan telah diumumkan oleh Presiden Kuba Raul Castro, hari ini (26/11/2016). Semasa hidupnya, Fidel Castro pernah dicoba dibunuh oleh CIA Amerika Serikat (AS) hingga 638 kali, tapi selalu gagal.

Salah satu pembunuhan oleh Central Intelligence Agency (CIA) terhadap Castro yang paling terkenal adalah ketika pil beracun dimasukkan ke minuman susu coklatnya pada tahun 1963. Selain itu, rokok cerutu Castro pernah disisipi bahan peledak.

Kisah itu pernah diterbitkan Reuters pada tahun 2007, dan kini diulas kembali sejumlah media internasional bertepatan dengan meninggalnya mantan pemimpin komunis Kuba ini.

Upaya meracuni Castro itu terjadi di tempat persembunyiannya di sebuah kantin di Havana Libre Hotel. ”Saat itu, yang paling dekat adalah CIA harus membunuh Fidel,” kata pensiun pejabat keamanan Kuba, Fabian Escalante kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

Menurutnya, Castro yang merebut kekuasaan dalam revolusi 1959 telah mengubah Kuba menjadi negara komunis. Escalante mengatakan, Castro selamat dari ratusan upaya pembunuhan oleh musuh-musuhnya, termasuk penyergapan mobil untuk serangan granat di stadion bisbol.

Jubah palsu berisi belati gagasan CIA, kata Escalante, juga pernah jadi upaya untuk membunuh Castro.

Escalante melanjutkan, bahan peledak pernah dimasukkan ke rokok cerutu Castro di lokasi pemancingan ikan favoritnya di Kuba. Upaya itu pun gagal.

Kemudian pada tahun 1960, CIA berupaya menyelipkan bubuk kimia di sepatu Castro. Bubuk kimia itu akan menyebabkan jenggotnya rontok ketika dia berada di New York untuk berbicara di sidang PBB. Tapi, upaya CIA itu juga gagal.

Ketika rencana dengan bubuk kimia itu gagal, CIA merencanakan untuk memasukkan kembali zat narkotika jenis LSD ke rokok cerutu Castro. Tujuannya, agar Castro tertawa terbahak-bahak saat wawancara di stasiun televisi. Upaya CIA ini pernah didokumentasikan Escalante dalam sebuah buku berisi 167 plot melawan Castro.

CIA pada pekan lalu untuk pertama kalinya mengakui adanya plot untuk membunuh Castro secara pribadi yang disetujui oleh direktur CIA saat itu Kennedy Allen Dulles.(Sindonews)

AMP - Nama lengkapnya adalah Syaikh Teungku Hasan bin Teungku Muhammad Hanafiyyah bin Teungku Syaikh 'Abbas bin Teungku Muhammad Fadhli rahimahumullah. Dikalangan masyarakat Aceh, beliau lebih dikenal dengan panggilan Syaikh Hasan Krueng Kalee atau Abu Krueng Kalee. Beliau dilahirkan pada tanggal 13 Ra’jab 1303 (17 April 1886) di Kampung Meunasah Ketembu, Kabupaten Pidie, Aceh, (Alizar, 2011).

Ayahandanya bernama Tengku Muhammad Hanafiyyah, terkenal dengan gelaran Teungku Chik Krueng Kalee I atau Teungku Haji Muda, seorang ulama besar yang memimpin Dayah (Pondok) Krueng Kalee yang terletak di Kabupaten Aceh Besar. Beliau juga merupakan sahabat karib pahlawan nasional Indonesia, Teungku Syaikh Muhammad Saman Tiro atau dikalangan masyarakat Aceh dikenal dengan Teungku Chik Di Tiro. Sementara ibundanya bernama Nyak Hafsah binti Teungku Syaikh Ismail atau Teungku Chik Krueng Kalee II. (Alizar, 2011).

Pada tanggal 19 Januari 1973, tepatnya malam Jum’at sekitar pukul 03.00 dini hari, Abu Krueng Kalee menghembuskan nafasnya yang terakhir. Meninggalkan tiga orang istri; Tgk. Hj. Nyak Safiah di Siem; Tgk. Nyak Aisyah di Krueng Kalee; dan Tgk. Hj. Nyak Awan di Lamseunong. Dari ketiga istri tersebut Abu Krueng Kalee Meninggalkan Tujuh belas orang putra dan putri. Salah seorangnya yaitu Tgk. H. Syech Marhaban, Mentri Muda Pertanian pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. (Yasir, 2011).
Pendidikan Syaikh Hasan Krueng Kalee

Syaikh Hasan menerima didikan awal agama dari kedua orangtuanya sendiri. Saat usia remaja, beliau dihantar ke Kedah, Malaysia untuk berguru pada Tok Syaikh Muhammad Arsyad rahimahullah, Pondok Yan, Kedah. Tok Syaikh Muhammad Arsyad adalah ulama Aceh yang telah membuka pondok di Yan, Kedah sekitar tahun 1900, beliau dikenal sebagai Teungku Di Balai. Syaikh Hasan duduk mengaji di Pondok Yan, Kedah selama beberapa tahun dan pada 1910 beliau dengan restu gurunya berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan melanjutkan pengajian di sana. Beliau bermukim sekitar 6 tahun di Makkah dan meneguk kemanisan ilmu dari pada para ulama di sana. (Alizar, 2011).
Pengaruh Syaikh Hasan Krueng Kalee
Pada tahun 1916, Syaikh Hasan pulang ke Kedah dan mengabdikan dirinya sebagai pengajar di Pondok Yan, Kedah. Kemudian beliau diminta oleh pamannya kembali ke Aceh untuk meneruskan kepemimpinan di Dayah Krueng Kalee. Di bawah asuhannya, Dayah Krueng Kalee semakin terkenal dan menjadi sebuah pusat pendidikan agama yang masyhur, tempat mendidik begitu banyak ulama dan pendakwah di Nusantara. (Alizar, 2011).

Selain belajar pelajaran fiqh, tauhid, tasawwuf dan yang seumpamanya, Syaikh Hasan turut mendalami bidang falak dan berjaya menguasainya sehingga sejak di Makkah beliau telah dijuluki dengan Syaikh Muhammad Hasan al-Aasyie al-Falaki. (Alizar, 2011). Di antara para ulama yang menjadi guru beliau adalah Syaikh Ahmad Syatha ad-Dimyathi, Syaikh Sa`id Sunbul (Mufti Syafi`i Makkah), Syaikh 'Abdullah Ismail, Syaikh Hasan Zamzami, Syaikh Utsman bin Muhammad Fadhil Aceh, Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani dan lain masih banyak lagi lainnya. (Alizar, 2011).
Murid-Murid Abu Hasan Krueng Kalee
Di antara murid-murid beliau yang berhasil menjadi ulama adalah:
1. Teungku Ahmad Pante, ulama dan imam masjid Baitur Rahman Banda Aceh.
2. Teungku Hasan Keubok, ulama dan qadhi Aceh Besar.
3. Teungku Muhammad Saleh Lambhouk, ulama dan imam masjid Baitur Rahman Banda Aceh.
4. Teungku Abdul Jalil Bayu, ulama dan pemimpin Dayah Al-Huda Aceh Utara.
5. Teungku Sulaiman Lhoksukon, ulama dan pendiri Dayah Lhoksukon, Aceh Utara.
6. Teungku Yusuf Peureulak, ulama dan ketua majlis ulama Aceh Timur.
7. Teungku Mahmud Simpang Ulim, ulama dan pendiri Dayah Simpang Ulim, Aceh Timur.
8. Teungku Haji Muda Waly Labuhan Haji, ulama dan pendiri Dayah Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan.
9. Teungku Syaikh Mud Blang Pidie, ulama dan pendiri Dayah Blang Pidie, Aceh Selatan.
10. Syaikh Syihabuddin, ulama dan pendiri Dayah Darussalam Medan, Sumatera Utara.
11. Kolonel Nurdin, bekas Bupati Aceh Timur.
12. Teungku Ishaq Lambaro Kaphee, ulama dan pendiri Dayah Ulee Titie. (Alizar, 2011).
Karya Tulis Abu Hasan Krueng Kalee
Untuk mengabadikan isi pendidikan, beliau wujudkan dalam beberapa karya tulis diantaranya :
1. Risalah Lathifah fi Adabi Al-Zikry.
Buku ini mengandung pelajaran tentang petunjuk samadiyah dan tahlil, yang diamalkan oleh wali-wali dan auliya-auliya Allah. Buku tersebut dipublikasi atau diterbitkan oleh Pustaka Aceh raya Banda Aceh dan pertama sekali diterbitkan pada tahun 1958, (Fauziah, 1986).

Abu Krueng Kalee berpendapat berdasarkan hadis Rasulullah Saw, siapa yang mengucapakan La Ilaha Illallah sedangkan ia membenarkannya baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya niscaya ia akan masuk surga. Sebagaiamana bunyinya: “Barang siapa mengucapakan La Ilaha Illallah sedangkan ia membenarkannya baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya niscaya ia akan masuk delapan pintu surga, mana-mana yang mereka sukai. (Fauziah, 1986).

Dari hadis Rasulullah Saw di atas dapat dipahami bahwa seseorang yang membaca qul huwa Allahu ahad sepuluh ribu kali ia akan akan dibebaskan oleh Allah dari api neraka. Begitu juga seseorang yang membaca qul huwa Allahu ahad sepuluh ribu kali bagi orang mati mereka dibebaskan oleh Allah dari api neraka. Demikian juga seseorang yang mengucapakan kalimat la ilaha illa Allah baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya ia akan masuk surga. (Fauziah, 1986).

2. Jawahir Al-Ulum fi kasyafil maklum (ditulis pada tahun 1334 H.)
Buku ini mengupas masalah kelebihan dan kebaikan menuntut ilmu pengetahuan ditinjau dari ilmu tasawwuf setebal 300 halaman. (Fauziah, 1986).

3. An ‘amatu Al-faidhah fi isti’mali qa’idati Al- rabithah (ditulis pada tahun 1327 H.)
Kitab ini Berjumlah 35 halaman, mengupas tentang rabithah yaitu hubungan murid dengan gurunya, yang bersambung sampai kepada Nabi Saw. (Fauziah, 1986).

4. Sirajus salikin ‘ala minhajil ‘abidin, (ditulis pada tahun 1332 H)
Berjumlah 300 halaman. Buku ini menguraikan tentang isi buku minhajul ‘abidin karangan Imam Ghazali, agar orang mudah memahami dan membahas kitab tersebut. (Fauziah, 1986). Pola hidup Tgk Haji Hasan Krueng Kalee lebih menjurus kepada kehidupan sufi yang mengutamakan pangamalan ibadah, (Fauziah, 1986). Pada tanggal
7 Mei 2007, bertepatan dengan 19 Rabiul Akhir 1428 H. Sebuah forum tingkat tinggi ulama Aceh menggelar pertemuan kedua di Mesjid Raya Baiturrahman, dalam pertemuan yang menghadirkan ratusan ulama Aceh ini menyimpulkan bahwa ada empat orang ulama Aceh yang telah sampai pada tingkat Ma’rifatullah, diantara keempat ulama tersebut salah satunya adalah Abu Hasan Krueng Kalee, (Yasir, 2011).

Pada tanggal 1-2 Oktober 1932 ketika diadakan Musyawarah Pendidikan Islam di Lubuk, Aceh Besar, Tgk. Haji Hasan Kruengkalee terlibat didalamnya. Pada kegiatan ini membicarakan masalah pembaruan dan perbaikan pendidikan Islam. Ulama-ulama terkemuka hadir menjadi peserta pada kegiatan tersebut, diantaranya adalah Tgk. H. Hasballah Indrapuri, Tgk H. Abdul Wahab Seulimum, Tgk. Muhammad Daud Beureueh, Tgk M. Hasbi Ash-Shiddiqy, Tgk. H. Hasan Kruengkalee, Tgk. H. Trienggadeng dan masih banyak lagi lainnya.
Keputusan-keputusan yang dihasilkan dari musyawarah pendidikan Islam tersebut adalah:

1. Tiada sekali-kali terlarang dalam agama islam kita mempelajari ilmu keduniaan yang tidak berlawanan dengan syariat, malah wajib dan tidak layak ditinggalkan buat mempelajarinya.
2. Memasukkan pelajaran-pelajaran umum itu ke sekolah-sekolah agama memang menjadi hajat sekolah-sekolah itu.
3. Orang perempuan berguru kepada orang laki-laki itu tidak ada halangan dan tidak tercegah pada syara, (Yasir, 2011). Selain dikenal sebagai ulama sufi, menurut Yasir (2011) beliau juga pengembang Tarekat al-Haddadiyah di Aceh, ia juga diakui berperan aktif dalam sejumlah peristiwa politik ulama di Aceh sepanjang hidupnya.

Pada masa revolusi kemerdekaan, Tgk Haji Hasan Krueng Kalee ikut aktif berjuang menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia, para pemimpin perjuangan bukan hanya tokoh politik saja, tetapi juga dipelopori oleh ulama. Para ulama tidak bergerak sendiri-sendiri, melainkan bergabung dalam suatu organisasi seperti PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh), Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) dan lain-lain. Setelah proklamasi 17 agustus 1945, Tgk H. Hasan Krueng Kalee menandatangi sebuah pernyataan bersama mengenai perang kemerdekaan. Bersama tiga orang ulama besar yaitu Tgk. H. Jakfar Siddiq Lamjabat, Tgk. H. Hasballah Indrapuri dan Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Pernyataan itu menegaskan bahwa: "Menurut keyakinan kami bahwa perjuangan ini adalah perjuangan suci yang disebut perang sabil. Maka percayalah wahai bangsaku bahwa perjuangan ini adalah sebagai sambungan perjuangan dahulu di Aceh yang dipimpin oleh almarhum Teungku chik Ditiro dan pahlawan-pahlawan kebangsaan yang lain. Dan sebab itu bangunlah wahai bangsaku sekalian, bersatu padu menyusun bahu, mengangkat langkah menuju ke muka untuk mengikut jejak perjuangan nenek kita dahulu. Tunduklah dengan patuh akan segala perintah-perintah pemimpin kita untuk keselamatan tanah air, agama dan bangsa." (Yasir, 2011).

Pernyataan tersebut tertanggal 15 Oktober 1945. untuk menggerakkan masyarakat agar berjihat dalam satu barisan yang teratur, barisan sabil atau barisan mujahidin. Pada tanggal 25 Oktober Tgk. H. Hasan Krueng Kalee mengeluarkan sebuah seruan tersendiri yang sangat penting. Seruan ini ditulis dalam bahasa Arab kemudian dicetak oleh Markas Daerah Pemuda Republik Indonesia (PRI) dengan surat pengantar yang ditandatangani oleh ketua umumnya Ali Hasjmy tertanggal 8 November 1945 Nomor 116/1945 dan dikirim kepada para pemimpin dan ulama diseluruh Aceh. Setelah seruan itu tersiar luas, maka berdirilah barisan Mujahidin di seluruh Aceh yang kemudian menjadi Mujahidin Devisi Teungku Chik Ditiro. (Yasir, 2011).

Himbauan jihad di atas telah menggerakkan masyarakat tampil menuju medan perjuangan di tanah Aceh untuk merebut kemerdekaan dan mempertahankannya. Mereka umumnya tergabung dibawah organisasi misalnya PUSA, Pemuda PUSA, Kasyafatul Islam, Muhammaddiyah, Pemuda Muhammaddiyah, PERTI, PERMINDO (Pergerakan Angkatan Muda Islam Indonesia), maupun organisasi-organisasi Islam lainnya. (Yasir, 2011). Pada masa itu Tgk Haji Hasan Krueng Kalee merupakan salah seorang penasehat PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), yaitu salah satu organisasi yang bertujuan untuk mendidik masyarakat melalui organisasi tersebut guna meningkatkannya menjadi wadah pendidikan yang lebih berdaya guna. Organisasi ini menjadi pelopor dalam menggerakkan pemberontakan terhadap pemerintah Belanda, seperti yang dikemukakan oleh Prof. A. Hasjmy dalam salah satu tulisannya. (Yasir, 2011).

Pada awal tahun 1942 Pusa (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) dan Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) menggerakkan sebuah pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda di Aceh, adalah hal yang logis karena para pemuda yang aktif dalam pemberontakan tersebut sebagian besar mereka yang telah ditempa iman dan semangat jihadnya dalam madrasah-madrasah, yang sistem pendidikan dan kurikulumnya telah diperbaharui. (Yasir, 2011). Dapat diketahui bahwa hanya dua organisasi Islam yang tampil sebagai pelopor yang menggerakkan pemberontakan rakyat terhadap penjajahan Belanda, meskipun banyak juga organisasi-organisasi lain yang mulai tumbuh di Aceh.

Dengan demikian para ulama tergabung dalam organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah maupun Perasatuan Ulama Seluruh Aceh, juga para pemuda yang telah ikut aktif dalam pemberontakan terhadap Belanda. Melalui wadah organisasi ini pula bersama-sama dengan ulama-ulama lain seperti disebutkan di atas, Tgk Haji Hasan Krueng Kalee mengeluarkan fatwa tentang perlunya seluruh rakyat berperang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dengan jalan jihad fi sabilillah, hal ini terjadi pada tanggal 15 Oktober 1945. (Yasir, 2011).

Melihat uraian di atas jelaslah bagaimana pengaruh Tgk. H. Hasan Krueng Kalee terhadap kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Seiring dengan itu fatwa syahid yang beliau keluarkan masih terus relevan dan memberi motivasi sendiri bagi masyarakat Aceh dalam mengisi kemerdekaan dan pembangunan. Meskipun pada masa setelah kemerdekaan, mulai muncul organisasi islam yang lain, namun Tgk Haji Hasan Krueng Kalee tetap menyalurkan aktifitasnya melalui organisasi PERTI. (Yasir, 2011).

Referensi:

Yasir Master, 2011, Teungku Syeikh Muhammad Hasan Krueng Kalee,(Online),http://yasirmaster.blogspot.com/2011/09/teungku-syeikh-muhammad-hasan.-krueng. html,.9.November 2011.
Tgk Alizar Usman, 2011.Tgk Syik Hasan Krueng Kalee, (Online), http://kitab.kuneng.blogspot.com/2011_03_01_archive.html, diakses 15 November 2011.
Fauziah Ibrahim, Tgk Haji Hasan Krueng Kalee Sebagai Tokoh Pendidikan Islam di Aceh, Skripsi: IAIN Ar-Raniry, 1986. http://iwanms.blogspot.com/2012/12/abu-krueng-kalee.html

AMP - Bila kita melakukan perjalanan dari Banda Aceh kearah Meulaboh, setelah melewati puncak tertinggi di daerah tersebut yaitu puncak gunung Geurute maka kita akan memasuki sebuah kota yang terkenal dengan kota Lamno atau Peukan Lamno. Di daerah Lamno inilah dulu pernah berdiri kerajaan Daya yang pernah mengalahkan pasukan Portugis dan mengislamkan mereka serta mendirikan perkampungan etnis Portugis, sehingga daerah ini juga dikenal dengan perkampungan Si Mata Biru. Diatas puncak bukit di daerah Kuala Daya terdapat perkuburan raja – raja Daya yang terkenal dengan Almarhum Daya atau dalam bahasa Aceh biasa disebut dengan Meureuhom Daya, karena itulah daerah ini dikenal juga dengan negeri Meureuhom Daya.

Setelah peleburan kerajaan Daya menjadi kerajaan Aceh Darussalam di tahun 1520 M oleh Sultan Ali Mughayat Syah nama Daya terasa hilang seiring perjalanan waktu. Kemudian semenjak didirikan pesantren BUDI di tahun 1967 oleh Teungku Haji Ibrahim Ishak, nama daerah Meureuhom Daya atau Lamno kembali mencuat kepermukaan, terutama bagi yang ingin mengecap pendidikan agama.
A. Silsilah Abu Budi Lamno
Teungku Haji Ibrahim Ishak atau lebih dikenal dengan panggilan Abu Budi Lamno lahir di Mukhan, Lamno, Aceh Barat (sekarang Aceh Jaya) pada tahun 1936. Beliau berumah tangga dengan seorang perempuan bernama Hajjah Sunainiyah. Dari perkawinan itu beliau dikarunia empat orang anak yaitu Nabhani, Chairiati, Afifuddin dan Nurhidayati.
B. Pendidikan Abu Budi Lamno
Ketika umurnya telah sampai usia menuntut ilmu, Teungku Ibrahim dimasukkan oleh orang tuanya untuk mengecap pendidikan dasar pada Sekolah Rakyat (SR). Dengan ketekunan dan kedisiplinannya, beliau menyelesaikan pendidikan di sekolah ini pada tahun 1949. Walaupun pendidikan dasarnya pada lembaga pendidikan umum, namun orang tuanya melihat putranya ini memiliki bakat dan minat pada pendidikan agama. Karenanya Teungku Ibrahim Ishak selanjutnya dikirim ke Labuhan Haji untuk belajar di Dayah Darussalam yang dipimpin oleh Abuya Muda Waly. Lama beliau belajar di dayah ini hingga tahun 1958.

Seiring dengan kepulangan guru beliau Teungku Abdul Aziz (Abon Samalanga) dari Labuhan Haji ke Samalanga pada tahun 1958 untuk memimpin Dayah MUDI MESRA (Ma'hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya), maka Teungku Ibrahim Ishak ikut serta ke Samalanga guna untuk menambah ilmu yang dirasakan belum cukup serta untuk membantu Abon Samalanga mengajar di MUDI MESRA. Teungku Ibrahim Ishak mengabdi di Samalanga hingga tahun 1963. Kehausan terhadap ilmu agama tidak pernah membuat Teungku Ibrahim Ishak merasa puas sehingga dari Samalanga beliau berangkat ke Sumatera Barat untuk belajar di sana hingga tahun 1966.
C. Kiprah Abu Budi Lamno terhadap masyarakat
Pada tahun 1967 atau sekembali dari memperdalam ilmu agama di Sumatera
Barat, Teungku Ibrahim Ishak membuka lembaga pengajian di kampung halamannya. Lembaga pengajian ini bernama Dayah Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah, dayah ini disingkat dan lebih dikenal oleh masyarakat dengan dayah BUDI, maka terkenallah beliau dengan panggilan Abu Budi. Semenjak beliau dirikan pesantren ini hingga akhir hayatnya, beliau selalu memimpin lembaga pendidikan ini dan membina santri – santri yang berdatangan dari seluruh wilayah Aceh serta ada beberapa santri dari luar propinsi Aceh. Beliau seolah – olah tidak mempunyai perasaan bosan dan jenuh untuk membina dan memberi semangat kepada para guru dan santri untuk selalu giat belajar. Abu Budi berpandangan bahwa ilmu akan mudah didapat apabila para pelajar agresif, maka Abu Budi menganjurkan agar dihidupkan Munazharah (berdebat Hukum agama) di setiap pengajian. Oleh karena itu dayah BUDI Lamno terkenal dengan ciri khasnya yaitu diadakannya munazharah disetiap pengajian.

Kepiawan Abu Budi dalam mengupas hukum – hukum agama dengan menggunakan dalil aqli dan naqli dalam setiap pengajian dan acara mubahasah agama dengan gaya beliau yang khas membuat beliau sangat terkenal, sehingga ada yang menjuluki beliau sebagai ulama Mantiq dan juga terasa hambar acara mubahasah agama tanpa kehadiran beliau. Lokasi dayah yang tidak begitu strategis karena berada di muara sungai Lamno yang membuat air di situ menjadi payau dan krisis air bersih, tapi karena karisma Abu Budi yang terkenal membuat santri dari berbagai daerah bahkan yang sudah menjadi guru di pesantren yang lain berdatangan ke dayah BUDI karena ingin menimba ilmu di dayah tersebut. Dayah ini dikenal oleh masyarakat umum, ada 800 orang santri pria dan 700 orang santri perempuan belajar di dayah ini pada tahun 1997, tercatat ada yang berasal dari Jambi, Lampung, Padang, Sulawesi dan Malaysia.

Pada tahun 1990 Abu Budi menjabat sebagai ketua MUI (sekarang MPU) kecamatan Jaya dan pengurus Persatuan Dayah Inshafuddin. Jabatan lain yang dijabatnya hingga akhir hayat adalah ketua IPHI Kecamatan Jaya, ketua DPC PERTI Aceh Barat, wakil ketua MPW PPP Aceh dan ketua DPC PPP Aceh Barat. Semenjak usia muda, Teungku Haji Ibrahim Ishak sangat aktif di bidang pendidikan agama dan sangat berperan dalam bidang sosial kemasyarakatan dalam upaya membantu berbagai program pemerintah. Setiap pemilu Teungku Haji Ibrahim Ishak aktif berkampanye untuk PPP.

D. Akhir hayat Abu Budi Lamno
Teungku Haji Ibrahim Ishak atau Abu Budi Lamno salah seorang ulama karismatik Aceh meninggal dunia pada tanggal 14 Mei 1997 dalam usia 61 tahun. Pimpinan dayah BUDI Lamno itu menghembus nafas terakhir dirumahnya desa Jangeut Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Barat (sekarang Aceh Jaya).

Menjelang detik – detik ajalnya , Abu Budi sempat menitip sebuah amanah kepada keluarga, santri dan dewan guru "jagalah dayah ini baik – baik", demikian pesan Abu Budi yang diulang sebanyak tiga kali. Berita meninggalnya Abu Budi begitu cepat menyebar. Gelombang masyarakat tak pernah henti berdatangan hingga berlangsungnya pemakaman di desa Jangeut, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya.

Ditulis oleh : Tgk Zulfahmi MR; staf pengajar di Dayah Raudhatul Ma'arif, Cot Trueng. Tulisan ini merupakan nukilan dari buku "Biografi Ulama Aceh Abad XX Jilid II".

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), seorang ulama dan sastrawan | Foto: gambar bebas Google Picture
| Oleh Ridwan Hd. |

Di sebuah ruang kelas di Yogyakarta pada 1924, H.O.S Tjokroaminoto terlihat begitu asik mengajar. Ia menerangkan sosialisme dari segi Islam kepada tiga puluh anggota Sarekat Islam (SI). Butir demi butir kalimat yang keluar dari mulutnya membuat Malik, yang menjadi salah satu peserta di dalam kelas itu terpukau. �Pelajaran-pelajaran agama telah kuterima semasa mengaji atau tablig dari ayahku sendiri, karena mendengar keterangan  beliau (Tjokroaminoto), telah menjadi suatu yang hidup dalam hidupku.� kata Hamka yang menceritakan pengalamannya berguru kepada Tjokroaminoto dalam pengantar buku H.O.S. Tjokroaminoto: Hidup dan Perdjuangannja karya Amelz.
Hamka juga menjelaskan, bahwa Tjokro dalam kursusnya tidak mencela para tokoh sosialis-marxis, Marx dan Engel, bahkan berterimakasih kepada keduanya. Menurut Tjokro, dari yang ditulis Hamka, telah menambah jelasnya bagaimana kesatuan sosialisme yang dibawa Nabi Muhammad Saw, sehingga kita sebagai orang Islam merasa beruntung tidak perlu mengambil teori lain lagi.
Bersama R.M. Surjopranoto yang mengajar ilmu sosiologi, H. Fachrudin untuk dasar-dasar hukum Islam, Malik atau Hamka remaja mulai mengenal pemikiran baru seperti komunisme, marxisme, materialisme, sosialisme, dan nihilisme. �Ketiga guru saya adalah orang-orang pergerakan yang memandang Islam dengan cara yang baru.� katanya kemudian.
Bisa berguru dengan Tjokroaminoto merupakan kesempatan yang tak mau ia tinggal selama berada di Jawa. Nama tokoh Sarekat Islam (SI) itu sudah sering didengar Malik remaja sebelum berangkat ke Jawa. Di tahun menjelang �pengembaraanya�, Madrasah Sumatera Thawalib kehadiran paham komunis. Paham asing itu di bawa oleh salah satu gurunya, Hadji Datuk Batuah, yang baru pulang dari Jawa. Tiba-tiba pelajaran di Thalawib hadir semangat baru yang lebih revolusioner. Hanya saja, ajaran komunis yang dibawa lebih kepada semangat melawan penjajah. Dengan mencuplik ayat-ayat Al Qur�an dan Hadist, Hadji Datuk Batuah mengajarkan Islam yang lebih revolusioner. Tapi, ayah Malik mengingatkan baik kepada Malik sendiri maupun para santri di Thawalib, agar berhati-hati pada komunis, �Lahirnya komunis di sini membawa-bawa agama, pada batinnya hendak menghapus agama.� kata ayahnya.

Malik masih belum mengerti maksud ayahnya. Hadji Rasul belum bisa menjelaskan kesalahan-kesalahan berpikir dari komunis. Nama-nama tokoh pergerakan seperti Tjokro, Semaun, Alimin, dan Agus Salim mulai didengar Malik. Kalau membaca koran afiliasi Sarekat Islam, isinya akan mengagung-agungkan Tjokroaminoto. Berbeda jika membaca koran yang afiliasinya komunis, maka Tjokroaminoto menjadi tumpuan serangan, cacian dan hinaan. Pada masa tersebut memang sedang terjadi konflik antara SI-Putih dan SI-Merah. SI-Merah ini yang kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia.
Dinamisnya dunia pegerakan di Jawa merasuk jiwa Malik untuk mencari lebih tahu. Ia pergi seorang diri dengan menumpang saudagar yang telah biasa melakukan perjalanan ke Jawa. Tiba di Jogja, Malik menumpang di rumah seorang sekampungnya, Marah Intan. Malik juga bertemu dengan adik ayahnya, Dja�far Amrullah, yang sedang meninggalkan perniagaannya demi belajar agama di Jogja. Dari pamannya ini, Malik diajak ikut belajar tafsir ke rumah Kiai Haji Hadikusumo (Ki Bagus Hadikusumo) dan juga belajar agama kepada Mirza Wali Ahmad Baig, utusan Ahmadiyah yang baru puang dari Lahore, Pakistan.
Sejak belajar tafsir dengan Ki Bagus, Malik seperti baru belajar agama. Selama di Padang Panjang pelajaran tafsir yang diterimanya baru mengupas matan tafsir dengan tidak boleh salah hukum-hukum nahwu-nya. Berbeda dengan cara Ki Bagus yang menjelaskan maksud dari setiap ayat di dalam Al Qur�an. �Meskipun demikian,� kata Hamka, �hati saya belum puas kalau belum mendapat kursus dari Tjokroaminoto sendiri. Pertama karena keinginan hendak belajar, kedua keinginan hendak melihat beliau daru dekat, orang yang telah sekian lama menjadi buah tutur orang Minangkabau.� ceritanya di Kenang-kenangan Hidup jilid 1.
Marah Intan mengupayakan agar Malik bisa masuk SI. Syarat umur minimal masuk SI sebenarnya 18 tahun. Sedangkan Malik baru 17 tahun. Demi bisa berguru kepada Tjokroaminoto ia katakan umurnya sudah 18 tahun ketika mendaftar. Ia berhasil mendaftar sebagai anggota dengan diikuti sumpah organisasi. Selanjutnya, Malik bisa mengkuti kursus-kursus yang di adakan SI untuk para anggotanya.
Dari sekitar 30 peserta kursus, Malik yang paling muda. Tak hanya termuda, tetapi juga sangat menjadi perhatian Tjokroaminoto sendiri karena terlihat, �lebih terbuka hatinya belajar.� Keseriusan dirinya belajar diungkapkan Hamka dengan mau bertanya dan menyalin ilmu yang di dapat dikelas itu. Materi-materi yang diterimanya sangat mudah ditangkap. Menurutnya, kemudahan menangkap ilmu-ilmu itu berkat kesukaanya membaca, meski terkadang hanya roman.
Dengan sikapnya yang agung, bermata tajam, suara lantang laksana musik, Tjokroaminoto mengajarkan teori-teori Marx dengan cara yang populer. Lalu dijelaskan juga ajaran Islam yang disimpulkan bahwa ilmu Islam itu amat luas. �Tjokro tak fasih berbahasa arab. Ketika Tjokro menjelaskan Sosialisme dari segi Islam dengan mengutip Al-Qur�an, ia  hanya menulis nomor-nomor ayat. Lalu mengutip hadist hanya dengan menuliskan arti dan perawinya.� jelas Hamka. Pelajaran yang diberikan Tjokroaminoto kemudian menjadi buku yang berjudul Islam dan Sosialisme. Pelajaran-pelajaran ini yang membuat Hamka sampai berkata, �Jiwa saya di isi ayah, dan mata saya dibukakan Tjokro.�
Setelah beberapa bulan berguru dengan Ki Bagus, Tjokroaminoto, RM. Surjopranoto, dan Haji Fachroeddin di Jogja, Malik berangkat ke Pekalongan sekitar awal 1925. Malik tinggal di rumah Sutan Mansur, suami dari kakak perempuannya. Sutan Mansur ini adalah murid Haji Rasul yang beberapa tahun sebelumnya pindah ke Jawa dan memasuki gerakan Muhammadiyah. Selama 6 bulan tinggal bersama kakak ipar, Malik mendapat bimbingan agama.
Didikan para guru di Jogja dan kakak iparnya merubah cara pandang Malik terhadap agama. Ia melihat Islam sebagai suatu barang hidup. Dari mereka Malik mulai melihat bahwa, �Islam adalah satu perjuangan, satu pendirian yang dinamis.� Ia melihat perbedaan yang jauh antara Islam di Minangkabau dengan Islam di Jawa, terutama Jogja.
Pada masa itu, pertarungan antara ajaran kebatinan Jawa (kejawen), misi kristenisasi, dan masuknya pemikiran-pemikiran asing seperti komunis-sosialis yang berhadapan dengan ajaran Islam begitu terasa. Secara ekonomi, rakyat yang miskin akibat penjajahan juga cukup dominan di Jawa daripada di daerah Sumatera. Agama Islam yang dibawa kaum modernis akibat pengaruh pemikiran Muhammad Abduh dan Jamaludin Al Afgani begitu merasuki kaum pegerakan untuk menghadapi konteks jaman seperti penjajahan dan kemiskinan. Islam bukan sekedar ritual ibadah, tetapi menjadi jiwa perjuangan. Tidak seperti daerah Minangkabau yang hanya sibuk memperkarakan hal-hal kecil dalam fikih. Ketika Haji Rasul mengunjungi Malik di Pekalongan pada 1925 dilihat anaknya sudah jauh berubah, sudah revolusioner.
Malik juga tak berlama-lama di Pekalongan. Tahun itu juga, ia di suruh pulang oleh kakak iparnya. Malik pulang dengan membawa semangat baru. Ia menjadi remaja 17 tahun dengan wajah yang penuh ide-ide pergerakan. Pidato-pidatonya mulai berisi. Catatan kursusnya bersama Tjokroaminoto ia bawa dan menjadi pegangannya. Tak ketinggalan salinan buku Jamaludin Al Afgani menjadi panduannya. Ayahnya yang pulang lebih dahulu mendirikan Muhammadiyah cabang Padang Panjang. Begitu Malik pulang, ia ikut masuk mengurusi organisasi itu. Kepulangan Malik juga diikuti kepulangan Sutan Mansur beberapa bulan kemudian. Mereka berdua bersama-sama mengembangkan Muhammadiyah di tanah Sumatera.
Sejak itu Malik sering mengisi ceramah atau berpidato ke berbagai tempat tanpa lelah sambil berjalan kaki. Kalau ayahnya dipanggil tablig ke kampung-kampung dia senang sekali mengikutinya. Terkadang ikut mengisi pidato dengan berapi-api. Di usia yang masih remaja, malik sudah menjadi orang terpandang diantara kawan-kawannya. Malik juga membuat kursus �pidato�. Pidato kawan-kawannya itu dicatat dan dikumpulkan. Malik mulai mendirikan majalah di bawah Muhammadiyah. Ia sendiri sebagai kepala redaktur. Dari kumpulan pidato yang dikarangnnya tadi diterbitkannya menjadi sebuah buku. Sejak 1925 atau masih 17 tahun, kumpulan karangan dari pidato kawan-kawannya merupakan buku pertama Malik.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), seorang ulama dan sastrawan | Foto: gambar bebas Google Picture
| Oleh Ridwan Hd. |

Wajah Malik tiba-tiba pucat ketika salah seorang murid terbaik Ayahnya yang juga guru Malik di Madrasah Sumatera Thawalib datang ke rumah. Ketika itu ayahnya sedang santai sedangkan Malik sedang asik bermainnya dengan adiknya. Kedatangan murid ayah yang sangat di sayangi Haji Rasul ini disambut dengan bahagia. Tetapi tidak dengan Malik yang penuh ketakutan. �Hai malik, Engkau sakit? Itu sebabnya engku datang kemari hendak melihatmu.� kata murid ayahnya yang biasa dipanggil malik Engku Mudo. �Tidak engku,� jawab Malik.

�Kenapa?� ayahnya bertanya dengan mata yang mulai tajam. �... sudah lima belas hari Malik tidak datang ke sekolah.� kata Engku Mudo melaporkan. Sontak ayahnya marah besar. Setelah Engku Mudo pulang, Malik langsung di tempeleng. Tapi marahnya hanya sesaat, ayahnya terlihat menyesal. Ia mulai bicara dengan lunak kepada Malik. Ayahnya bertanya, sebenarnya apa yang disukai Malik. Malik tak menjawab, hanya diam di sudut rumah. Rasa bosan dan tidak tertaik dengan pelajaran di Madrasah selama ini membuat Malik jarang bersekolah. Seperti yang dikenang Hamka dalam otobiografinya di Kenang-kenangan Hidup jilid 1, ayahnya tak mengerti jiwa anaknya sama sekali. (Baca juga: MengenalHAMKA (Bagian 1): Masa Kecil yang Nakal)

Beberapa hari kemudian, Haji Rasul memasukan Malik kursus bahasa inggris di malam hari. Di kursus ini ia menemukan sosok guru yang pandai mengajar sehingga mudah menerima pelajaran, tidak seperti guru-guru yang ada di sekolah dan Madrasah ayahnya. Sayang, karena si guru Bahasa Inggris mendapat penghasilan yang lebih bagus, ia pindah mengajar ke Padang. Kursus yang disukainya berhenti setelah berjalan beberapa bulan.

Meski belajar Bahasa Inggris terhenti, ia sudah mempunyai aktivitas yang juga menyenangkan, yaitu seringnya pergi ke penyewaan buku milik Zainuddin Labai, yang juga salah seorang guru favoritnya waktu sekolah diniyah. Ia baca buku-buku terbitan Volkslectuur (kini bernama Balai Pustaka), buku-buku salinan Tionghoa-Melayu, Tiga Panglima Perang, Graaf De Monte Cristo, dan lainnya. Termasuk surat kabar Bintang Hindia yang memuat karangan Dr. A. Riva�i di bacanya juga. Untuk bisa membaca buku tersebut ia harus menyewa lima sen setiap judul selama dua hari. Ketertarikan untuk membaca buku-buku itu membuatnya pintar berhemat uang demi bisa meminjam. Ia bisa menamatkan satu judul dalam satu hari.

Kekurangan biaya menyewa buku tak membuat Malik kehabisan akal. Ia meminta ikut membantu mengelola penyewaan buku itu dengan melipat kertas sampul, membuat perekat, dan membelikan kopi. Setiap tugas yang dikerjakan ia dapat meminjam buku dengan gratis.

Pikiran Malik tentang dunia ini mulai terbuka sejak membaca buku-buku itu. Pernah ia kedapatan sang ayah sedang membaca. Agak marah ayahnya berkata, �Apakah engkau akan menjadi orang alim nanti ini, atau akan jadi tukang cerita?� Diletakkannya buku itu sebentar, setelah pergi dibacanya lagi.

Di masa remaja, ia mengalami peristiwa yang sangat menyakitkan hati. Perceraian ayah dan ibunya membuat Malik semakin terpukul. Kehadiran ibu Malik selama ini rupanya sangat tidak disukai saudara perempuan ayahnya. Sering kali terjadi pertengkaran antara saudara perempuan ayah dengan ibunya. Tapi Haji Rasul tak mampu menghadapi kuatnya adat dalam masalah perkawainan. Ia tak memiliki kuasa untuk menjaga hubungan suami istri. Konflik yang terjadi bukan antara ayah dan ibu malik, melainkan antar keluarga. Perundingan untuk rukun gagal, perceraian jalan terakhir. Malik sedihnya bukan main. Ia dan adik nomor duanya dipilih tinggal dengan ayah. Sedangkan adik perempuan nomor tiga dan empat ikut ibunya.

Sejak itu ia sudah tak pernah lagi di rumah. Di rumah hanya waktu makan saja. Tak ada lagi yang dijadikan pedoman dalam hidup. Kian hari kian renggang  hubungan dengan ayahnya. Ia hidup sesuka hatinya. Mengembara kemana-mana untuk menghibur duka. Selama setahun, atau hingga umur 13 tahun, ia hidup mengembara. Hanya pulang kalau ayahnya tidak dirumah.

Selama mengembara ilmu silat dipelajarinya. Kadang ilmu itu dimanfaatkan untuk berkelahi dengan musuh-musuhnya. Berkelahinya tak tanggung-tanggung, ia pernah berkelahi menggunakan pisau sampai membuat diri dan lawannya terluka serius. Di waktu lain, asik melihat pacuan kuda, menonton permainan judi dan sambung ayam.

Haji Rasul sudah mulai cemas melihat anaknya yang diharapkan bisa menjadi ulama ini belum juga berubah. Memasuki usia remaja, Malik bukannya tambah alim tetapi bertambah nakalnya. Di keluarga, Malik sudah di cap anak nakal dan dianggap sulit diperbaiki. Tampak tidak ada harapan menjadi penerus ayahnya. Haji Rasul kemudian memutuskan agar Malik mengaji ke Parabek, 5 km dari Bukittinggi. Parabek merupakan tempat mengajar seorang ulama besar bernama Syeik Ibrahim Musa.

Beberapa bulan mengaji di Parabek ternyata juga tak ada perubahan. Kawan-kawan mengajinya di kelas rata-rata sudah berumur 20 sampai 30 tahun. Malik paling muda sendiri di umur 14 tahun. Tapi ia merasa senang karena bisa lebih bebas dari perhatian ayahnya. Sikapnya yang mudah bergaul membuatnya bisa kenal banyak orang. Mulai dari murid yang paling tua hingga muda dikenalnya. Begitu juga dengan warga kampung, ia mudah akrab. Pergaulannya yang luwes tetap menjadikan dirinya lebih senang bermain dari pada belajar, termasuk membuat ulah yang menghebohkan warga kampung.

Hanya beberapa bulan saja mengaji di Parabek. �Yang lebih tepat kalau dikatakan�menganji�; mengacau dari pada mengaji.� cerita Hamka. Bosan karena materi pelajaran pondok di Parabek tidak �masuk-masuk�, ia memilih kembali ke Padang Panjang. Kepulangannya jutru malah belajar pidato adat. Kepintaran pidato membuat sang kakek Datuk Radjo Endah mulai suka padanya. Tetapi ayahnya tetap tidak senang melihat Malik bisa berpidato adat dan mulai menggeluti sastra. Haji Rasul menyuruhnya untuk kembali belajar agama di Parabek. �Beliau hanya marah-marah saja, melihat bukan buku nahwu dan sharaf yang banyak dibacanya, tetapi buku cerita, roman dari penyewaan buku, buku minangkabau.� cerita Hamka lagi. Tak hanya itu, Malik juga kedapatan menulis surat kepada gadis-gadis.

Di masa remajanya itu juga, Malik cukup sering bertemu dengan kawannya bernama Ajun Sabirin. Dari Ajun Sabirin ia bisa mendapatkan surat kabar seperti Caya Sumatera, Sinar Sumatera, Hindia Baru. Dari membaca surat kabar itu, ia melihat satu hal yang menarik, �Tanah Jawa!�

Niat untuk mengembara ke tanah Jawa merasuk hatinya. Tanpa seizin ayah, ia putuskan nekat pergi ke Jawa sendirian. Iya yakin, kalau izin pasti dilarangnya. Tapi, upaya ke tanah Jawa itu gagal ketika dalam perjalanan ia terserang sakit cacar disertai malaria. Untungnya, ada kerabat kampung yang mau merawat dan mengembalikan pulang ketika ia singgah di Dusun Napal Putih.

Sembuh dari sakit dan kembali pulang, wajahnya menjadi menjadi buruk rupa. Bekas-bekas cacar yang dideritanya merusak wajah. Sakit malaria yang hinggap menjadikan rambut rontok. Malik menjadi bahan ejekan dan hinaan yang menambah sakit hatinya. Hanya modal semangat dan percaya diri yang membuatnya mencoba bangkit dari berbagai hinaan; �anak nakal dan wajah jelek�.

Malik tetap berkeinginan melanjutkan perjalanan ke Jawa. Selama setahun kemudian ia terus banyak belajar, membaca, mencatat ayat-ayat Al Qur�an yang penting di dalam buku kecilnya sebagai bekal persiapan. Ayahnya juga berkata, �Umurmu sekarang  lebih 15 tahun. Menurut agama, lepaslah kewajiban ayah. Tetapi kalau engkau masih hendak belajar agama, belajarlah di sini. Kitab-kitab yang banyak ini, siapa yang akan menyambutnya dan membacanya kalau bukan engkau?�

Bagi Malik bukan hanya perkara mempelajari agama. Ada  yang lebih di carinya dari pada sekedar belajar agama. Ada yang ingin ia temukan di Jawa. Masuk tahun 1924, ia memberanikan diri kepada ayahnya, �Hamba hendak ke Jawa, ayah.� ia ucapkan sambil menangis.

�Mengapa engkau kesana?� tanya ayahnya. �Menuntut ilmu.� jawab Malik.

�Ilmu apa yang engkau tuntut di sana? Kalau perkara agama tidak di Jawa tempatnya, tetapi di sini di Minangkabau ini. Entah kalau engkau pergi kepada iparmu di Pekalongan.� kata ayahnya. Maksudnya ipar di sini adalah A. R. Sutan Mansur, salah seorang tokoh Muhammadiyah yang menikah dengan kakak perempuan Malik.

Ayahnya sudah tidak bisa menahannya lagi. Ayanya sadar kalau Malik sudah dewasa dan berhak memutuskan pilihan jalan hidupnya. �Berangkatlah.�ayahnya merestui.

Bersambung ke Mengenal Hamka (bagian 3): Menemukan Islam yang Hidup
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget