Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Hamka"

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), seorang ulama dan sastrawan | Foto: gambar bebas Google Picture
| Oleh Ridwan Hd. |

Di sebuah ruang kelas di Yogyakarta pada 1924, H.O.S Tjokroaminoto terlihat begitu asik mengajar. Ia menerangkan sosialisme dari segi Islam kepada tiga puluh anggota Sarekat Islam (SI). Butir demi butir kalimat yang keluar dari mulutnya membuat Malik, yang menjadi salah satu peserta di dalam kelas itu terpukau. �Pelajaran-pelajaran agama telah kuterima semasa mengaji atau tablig dari ayahku sendiri, karena mendengar keterangan  beliau (Tjokroaminoto), telah menjadi suatu yang hidup dalam hidupku.� kata Hamka yang menceritakan pengalamannya berguru kepada Tjokroaminoto dalam pengantar buku H.O.S. Tjokroaminoto: Hidup dan Perdjuangannja karya Amelz.
Hamka juga menjelaskan, bahwa Tjokro dalam kursusnya tidak mencela para tokoh sosialis-marxis, Marx dan Engel, bahkan berterimakasih kepada keduanya. Menurut Tjokro, dari yang ditulis Hamka, telah menambah jelasnya bagaimana kesatuan sosialisme yang dibawa Nabi Muhammad Saw, sehingga kita sebagai orang Islam merasa beruntung tidak perlu mengambil teori lain lagi.
Bersama R.M. Surjopranoto yang mengajar ilmu sosiologi, H. Fachrudin untuk dasar-dasar hukum Islam, Malik atau Hamka remaja mulai mengenal pemikiran baru seperti komunisme, marxisme, materialisme, sosialisme, dan nihilisme. �Ketiga guru saya adalah orang-orang pergerakan yang memandang Islam dengan cara yang baru.� katanya kemudian.
Bisa berguru dengan Tjokroaminoto merupakan kesempatan yang tak mau ia tinggal selama berada di Jawa. Nama tokoh Sarekat Islam (SI) itu sudah sering didengar Malik remaja sebelum berangkat ke Jawa. Di tahun menjelang �pengembaraanya�, Madrasah Sumatera Thawalib kehadiran paham komunis. Paham asing itu di bawa oleh salah satu gurunya, Hadji Datuk Batuah, yang baru pulang dari Jawa. Tiba-tiba pelajaran di Thalawib hadir semangat baru yang lebih revolusioner. Hanya saja, ajaran komunis yang dibawa lebih kepada semangat melawan penjajah. Dengan mencuplik ayat-ayat Al Qur�an dan Hadist, Hadji Datuk Batuah mengajarkan Islam yang lebih revolusioner. Tapi, ayah Malik mengingatkan baik kepada Malik sendiri maupun para santri di Thawalib, agar berhati-hati pada komunis, �Lahirnya komunis di sini membawa-bawa agama, pada batinnya hendak menghapus agama.� kata ayahnya.

Malik masih belum mengerti maksud ayahnya. Hadji Rasul belum bisa menjelaskan kesalahan-kesalahan berpikir dari komunis. Nama-nama tokoh pergerakan seperti Tjokro, Semaun, Alimin, dan Agus Salim mulai didengar Malik. Kalau membaca koran afiliasi Sarekat Islam, isinya akan mengagung-agungkan Tjokroaminoto. Berbeda jika membaca koran yang afiliasinya komunis, maka Tjokroaminoto menjadi tumpuan serangan, cacian dan hinaan. Pada masa tersebut memang sedang terjadi konflik antara SI-Putih dan SI-Merah. SI-Merah ini yang kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia.
Dinamisnya dunia pegerakan di Jawa merasuk jiwa Malik untuk mencari lebih tahu. Ia pergi seorang diri dengan menumpang saudagar yang telah biasa melakukan perjalanan ke Jawa. Tiba di Jogja, Malik menumpang di rumah seorang sekampungnya, Marah Intan. Malik juga bertemu dengan adik ayahnya, Dja�far Amrullah, yang sedang meninggalkan perniagaannya demi belajar agama di Jogja. Dari pamannya ini, Malik diajak ikut belajar tafsir ke rumah Kiai Haji Hadikusumo (Ki Bagus Hadikusumo) dan juga belajar agama kepada Mirza Wali Ahmad Baig, utusan Ahmadiyah yang baru puang dari Lahore, Pakistan.
Sejak belajar tafsir dengan Ki Bagus, Malik seperti baru belajar agama. Selama di Padang Panjang pelajaran tafsir yang diterimanya baru mengupas matan tafsir dengan tidak boleh salah hukum-hukum nahwu-nya. Berbeda dengan cara Ki Bagus yang menjelaskan maksud dari setiap ayat di dalam Al Qur�an. �Meskipun demikian,� kata Hamka, �hati saya belum puas kalau belum mendapat kursus dari Tjokroaminoto sendiri. Pertama karena keinginan hendak belajar, kedua keinginan hendak melihat beliau daru dekat, orang yang telah sekian lama menjadi buah tutur orang Minangkabau.� ceritanya di Kenang-kenangan Hidup jilid 1.
Marah Intan mengupayakan agar Malik bisa masuk SI. Syarat umur minimal masuk SI sebenarnya 18 tahun. Sedangkan Malik baru 17 tahun. Demi bisa berguru kepada Tjokroaminoto ia katakan umurnya sudah 18 tahun ketika mendaftar. Ia berhasil mendaftar sebagai anggota dengan diikuti sumpah organisasi. Selanjutnya, Malik bisa mengkuti kursus-kursus yang di adakan SI untuk para anggotanya.
Dari sekitar 30 peserta kursus, Malik yang paling muda. Tak hanya termuda, tetapi juga sangat menjadi perhatian Tjokroaminoto sendiri karena terlihat, �lebih terbuka hatinya belajar.� Keseriusan dirinya belajar diungkapkan Hamka dengan mau bertanya dan menyalin ilmu yang di dapat dikelas itu. Materi-materi yang diterimanya sangat mudah ditangkap. Menurutnya, kemudahan menangkap ilmu-ilmu itu berkat kesukaanya membaca, meski terkadang hanya roman.
Dengan sikapnya yang agung, bermata tajam, suara lantang laksana musik, Tjokroaminoto mengajarkan teori-teori Marx dengan cara yang populer. Lalu dijelaskan juga ajaran Islam yang disimpulkan bahwa ilmu Islam itu amat luas. �Tjokro tak fasih berbahasa arab. Ketika Tjokro menjelaskan Sosialisme dari segi Islam dengan mengutip Al-Qur�an, ia  hanya menulis nomor-nomor ayat. Lalu mengutip hadist hanya dengan menuliskan arti dan perawinya.� jelas Hamka. Pelajaran yang diberikan Tjokroaminoto kemudian menjadi buku yang berjudul Islam dan Sosialisme. Pelajaran-pelajaran ini yang membuat Hamka sampai berkata, �Jiwa saya di isi ayah, dan mata saya dibukakan Tjokro.�
Setelah beberapa bulan berguru dengan Ki Bagus, Tjokroaminoto, RM. Surjopranoto, dan Haji Fachroeddin di Jogja, Malik berangkat ke Pekalongan sekitar awal 1925. Malik tinggal di rumah Sutan Mansur, suami dari kakak perempuannya. Sutan Mansur ini adalah murid Haji Rasul yang beberapa tahun sebelumnya pindah ke Jawa dan memasuki gerakan Muhammadiyah. Selama 6 bulan tinggal bersama kakak ipar, Malik mendapat bimbingan agama.
Didikan para guru di Jogja dan kakak iparnya merubah cara pandang Malik terhadap agama. Ia melihat Islam sebagai suatu barang hidup. Dari mereka Malik mulai melihat bahwa, �Islam adalah satu perjuangan, satu pendirian yang dinamis.� Ia melihat perbedaan yang jauh antara Islam di Minangkabau dengan Islam di Jawa, terutama Jogja.
Pada masa itu, pertarungan antara ajaran kebatinan Jawa (kejawen), misi kristenisasi, dan masuknya pemikiran-pemikiran asing seperti komunis-sosialis yang berhadapan dengan ajaran Islam begitu terasa. Secara ekonomi, rakyat yang miskin akibat penjajahan juga cukup dominan di Jawa daripada di daerah Sumatera. Agama Islam yang dibawa kaum modernis akibat pengaruh pemikiran Muhammad Abduh dan Jamaludin Al Afgani begitu merasuki kaum pegerakan untuk menghadapi konteks jaman seperti penjajahan dan kemiskinan. Islam bukan sekedar ritual ibadah, tetapi menjadi jiwa perjuangan. Tidak seperti daerah Minangkabau yang hanya sibuk memperkarakan hal-hal kecil dalam fikih. Ketika Haji Rasul mengunjungi Malik di Pekalongan pada 1925 dilihat anaknya sudah jauh berubah, sudah revolusioner.
Malik juga tak berlama-lama di Pekalongan. Tahun itu juga, ia di suruh pulang oleh kakak iparnya. Malik pulang dengan membawa semangat baru. Ia menjadi remaja 17 tahun dengan wajah yang penuh ide-ide pergerakan. Pidato-pidatonya mulai berisi. Catatan kursusnya bersama Tjokroaminoto ia bawa dan menjadi pegangannya. Tak ketinggalan salinan buku Jamaludin Al Afgani menjadi panduannya. Ayahnya yang pulang lebih dahulu mendirikan Muhammadiyah cabang Padang Panjang. Begitu Malik pulang, ia ikut masuk mengurusi organisasi itu. Kepulangan Malik juga diikuti kepulangan Sutan Mansur beberapa bulan kemudian. Mereka berdua bersama-sama mengembangkan Muhammadiyah di tanah Sumatera.
Sejak itu Malik sering mengisi ceramah atau berpidato ke berbagai tempat tanpa lelah sambil berjalan kaki. Kalau ayahnya dipanggil tablig ke kampung-kampung dia senang sekali mengikutinya. Terkadang ikut mengisi pidato dengan berapi-api. Di usia yang masih remaja, malik sudah menjadi orang terpandang diantara kawan-kawannya. Malik juga membuat kursus �pidato�. Pidato kawan-kawannya itu dicatat dan dikumpulkan. Malik mulai mendirikan majalah di bawah Muhammadiyah. Ia sendiri sebagai kepala redaktur. Dari kumpulan pidato yang dikarangnnya tadi diterbitkannya menjadi sebuah buku. Sejak 1925 atau masih 17 tahun, kumpulan karangan dari pidato kawan-kawannya merupakan buku pertama Malik.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), seorang ulama dan sastrawan | Foto: gambar bebas Google Picture
| Oleh Ridwan Hd. |

Wajah Malik tiba-tiba pucat ketika salah seorang murid terbaik Ayahnya yang juga guru Malik di Madrasah Sumatera Thawalib datang ke rumah. Ketika itu ayahnya sedang santai sedangkan Malik sedang asik bermainnya dengan adiknya. Kedatangan murid ayah yang sangat di sayangi Haji Rasul ini disambut dengan bahagia. Tetapi tidak dengan Malik yang penuh ketakutan. �Hai malik, Engkau sakit? Itu sebabnya engku datang kemari hendak melihatmu.� kata murid ayahnya yang biasa dipanggil malik Engku Mudo. �Tidak engku,� jawab Malik.

�Kenapa?� ayahnya bertanya dengan mata yang mulai tajam. �... sudah lima belas hari Malik tidak datang ke sekolah.� kata Engku Mudo melaporkan. Sontak ayahnya marah besar. Setelah Engku Mudo pulang, Malik langsung di tempeleng. Tapi marahnya hanya sesaat, ayahnya terlihat menyesal. Ia mulai bicara dengan lunak kepada Malik. Ayahnya bertanya, sebenarnya apa yang disukai Malik. Malik tak menjawab, hanya diam di sudut rumah. Rasa bosan dan tidak tertaik dengan pelajaran di Madrasah selama ini membuat Malik jarang bersekolah. Seperti yang dikenang Hamka dalam otobiografinya di Kenang-kenangan Hidup jilid 1, ayahnya tak mengerti jiwa anaknya sama sekali. (Baca juga: MengenalHAMKA (Bagian 1): Masa Kecil yang Nakal)

Beberapa hari kemudian, Haji Rasul memasukan Malik kursus bahasa inggris di malam hari. Di kursus ini ia menemukan sosok guru yang pandai mengajar sehingga mudah menerima pelajaran, tidak seperti guru-guru yang ada di sekolah dan Madrasah ayahnya. Sayang, karena si guru Bahasa Inggris mendapat penghasilan yang lebih bagus, ia pindah mengajar ke Padang. Kursus yang disukainya berhenti setelah berjalan beberapa bulan.

Meski belajar Bahasa Inggris terhenti, ia sudah mempunyai aktivitas yang juga menyenangkan, yaitu seringnya pergi ke penyewaan buku milik Zainuddin Labai, yang juga salah seorang guru favoritnya waktu sekolah diniyah. Ia baca buku-buku terbitan Volkslectuur (kini bernama Balai Pustaka), buku-buku salinan Tionghoa-Melayu, Tiga Panglima Perang, Graaf De Monte Cristo, dan lainnya. Termasuk surat kabar Bintang Hindia yang memuat karangan Dr. A. Riva�i di bacanya juga. Untuk bisa membaca buku tersebut ia harus menyewa lima sen setiap judul selama dua hari. Ketertarikan untuk membaca buku-buku itu membuatnya pintar berhemat uang demi bisa meminjam. Ia bisa menamatkan satu judul dalam satu hari.

Kekurangan biaya menyewa buku tak membuat Malik kehabisan akal. Ia meminta ikut membantu mengelola penyewaan buku itu dengan melipat kertas sampul, membuat perekat, dan membelikan kopi. Setiap tugas yang dikerjakan ia dapat meminjam buku dengan gratis.

Pikiran Malik tentang dunia ini mulai terbuka sejak membaca buku-buku itu. Pernah ia kedapatan sang ayah sedang membaca. Agak marah ayahnya berkata, �Apakah engkau akan menjadi orang alim nanti ini, atau akan jadi tukang cerita?� Diletakkannya buku itu sebentar, setelah pergi dibacanya lagi.

Di masa remaja, ia mengalami peristiwa yang sangat menyakitkan hati. Perceraian ayah dan ibunya membuat Malik semakin terpukul. Kehadiran ibu Malik selama ini rupanya sangat tidak disukai saudara perempuan ayahnya. Sering kali terjadi pertengkaran antara saudara perempuan ayah dengan ibunya. Tapi Haji Rasul tak mampu menghadapi kuatnya adat dalam masalah perkawainan. Ia tak memiliki kuasa untuk menjaga hubungan suami istri. Konflik yang terjadi bukan antara ayah dan ibu malik, melainkan antar keluarga. Perundingan untuk rukun gagal, perceraian jalan terakhir. Malik sedihnya bukan main. Ia dan adik nomor duanya dipilih tinggal dengan ayah. Sedangkan adik perempuan nomor tiga dan empat ikut ibunya.

Sejak itu ia sudah tak pernah lagi di rumah. Di rumah hanya waktu makan saja. Tak ada lagi yang dijadikan pedoman dalam hidup. Kian hari kian renggang  hubungan dengan ayahnya. Ia hidup sesuka hatinya. Mengembara kemana-mana untuk menghibur duka. Selama setahun, atau hingga umur 13 tahun, ia hidup mengembara. Hanya pulang kalau ayahnya tidak dirumah.

Selama mengembara ilmu silat dipelajarinya. Kadang ilmu itu dimanfaatkan untuk berkelahi dengan musuh-musuhnya. Berkelahinya tak tanggung-tanggung, ia pernah berkelahi menggunakan pisau sampai membuat diri dan lawannya terluka serius. Di waktu lain, asik melihat pacuan kuda, menonton permainan judi dan sambung ayam.

Haji Rasul sudah mulai cemas melihat anaknya yang diharapkan bisa menjadi ulama ini belum juga berubah. Memasuki usia remaja, Malik bukannya tambah alim tetapi bertambah nakalnya. Di keluarga, Malik sudah di cap anak nakal dan dianggap sulit diperbaiki. Tampak tidak ada harapan menjadi penerus ayahnya. Haji Rasul kemudian memutuskan agar Malik mengaji ke Parabek, 5 km dari Bukittinggi. Parabek merupakan tempat mengajar seorang ulama besar bernama Syeik Ibrahim Musa.

Beberapa bulan mengaji di Parabek ternyata juga tak ada perubahan. Kawan-kawan mengajinya di kelas rata-rata sudah berumur 20 sampai 30 tahun. Malik paling muda sendiri di umur 14 tahun. Tapi ia merasa senang karena bisa lebih bebas dari perhatian ayahnya. Sikapnya yang mudah bergaul membuatnya bisa kenal banyak orang. Mulai dari murid yang paling tua hingga muda dikenalnya. Begitu juga dengan warga kampung, ia mudah akrab. Pergaulannya yang luwes tetap menjadikan dirinya lebih senang bermain dari pada belajar, termasuk membuat ulah yang menghebohkan warga kampung.

Hanya beberapa bulan saja mengaji di Parabek. �Yang lebih tepat kalau dikatakan�menganji�; mengacau dari pada mengaji.� cerita Hamka. Bosan karena materi pelajaran pondok di Parabek tidak �masuk-masuk�, ia memilih kembali ke Padang Panjang. Kepulangannya jutru malah belajar pidato adat. Kepintaran pidato membuat sang kakek Datuk Radjo Endah mulai suka padanya. Tetapi ayahnya tetap tidak senang melihat Malik bisa berpidato adat dan mulai menggeluti sastra. Haji Rasul menyuruhnya untuk kembali belajar agama di Parabek. �Beliau hanya marah-marah saja, melihat bukan buku nahwu dan sharaf yang banyak dibacanya, tetapi buku cerita, roman dari penyewaan buku, buku minangkabau.� cerita Hamka lagi. Tak hanya itu, Malik juga kedapatan menulis surat kepada gadis-gadis.

Di masa remajanya itu juga, Malik cukup sering bertemu dengan kawannya bernama Ajun Sabirin. Dari Ajun Sabirin ia bisa mendapatkan surat kabar seperti Caya Sumatera, Sinar Sumatera, Hindia Baru. Dari membaca surat kabar itu, ia melihat satu hal yang menarik, �Tanah Jawa!�

Niat untuk mengembara ke tanah Jawa merasuk hatinya. Tanpa seizin ayah, ia putuskan nekat pergi ke Jawa sendirian. Iya yakin, kalau izin pasti dilarangnya. Tapi, upaya ke tanah Jawa itu gagal ketika dalam perjalanan ia terserang sakit cacar disertai malaria. Untungnya, ada kerabat kampung yang mau merawat dan mengembalikan pulang ketika ia singgah di Dusun Napal Putih.

Sembuh dari sakit dan kembali pulang, wajahnya menjadi menjadi buruk rupa. Bekas-bekas cacar yang dideritanya merusak wajah. Sakit malaria yang hinggap menjadikan rambut rontok. Malik menjadi bahan ejekan dan hinaan yang menambah sakit hatinya. Hanya modal semangat dan percaya diri yang membuatnya mencoba bangkit dari berbagai hinaan; �anak nakal dan wajah jelek�.

Malik tetap berkeinginan melanjutkan perjalanan ke Jawa. Selama setahun kemudian ia terus banyak belajar, membaca, mencatat ayat-ayat Al Qur�an yang penting di dalam buku kecilnya sebagai bekal persiapan. Ayahnya juga berkata, �Umurmu sekarang  lebih 15 tahun. Menurut agama, lepaslah kewajiban ayah. Tetapi kalau engkau masih hendak belajar agama, belajarlah di sini. Kitab-kitab yang banyak ini, siapa yang akan menyambutnya dan membacanya kalau bukan engkau?�

Bagi Malik bukan hanya perkara mempelajari agama. Ada  yang lebih di carinya dari pada sekedar belajar agama. Ada yang ingin ia temukan di Jawa. Masuk tahun 1924, ia memberanikan diri kepada ayahnya, �Hamba hendak ke Jawa, ayah.� ia ucapkan sambil menangis.

�Mengapa engkau kesana?� tanya ayahnya. �Menuntut ilmu.� jawab Malik.

�Ilmu apa yang engkau tuntut di sana? Kalau perkara agama tidak di Jawa tempatnya, tetapi di sini di Minangkabau ini. Entah kalau engkau pergi kepada iparmu di Pekalongan.� kata ayahnya. Maksudnya ipar di sini adalah A. R. Sutan Mansur, salah seorang tokoh Muhammadiyah yang menikah dengan kakak perempuan Malik.

Ayahnya sudah tidak bisa menahannya lagi. Ayanya sadar kalau Malik sudah dewasa dan berhak memutuskan pilihan jalan hidupnya. �Berangkatlah.�ayahnya merestui.

Bersambung ke Mengenal Hamka (bagian 3): Menemukan Islam yang Hidup

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), seorang ulama dan sastrawan | Foto: gambar bebas Google Picture
| Oleh Ridwan Hd. |

Nakalnya sudah terkenal di seluruh kampung Padang Panjang, Sumatera Barat. Adalah Malik nama anak Syeik Abdul Karim Amrullah yang nakal itu. Sampai-sampai ayahnya Malik berkali-kali berkata tentang dirinya, �ketika kecil ayah sudah alim�, sehingga kepada Malik bertanya,�Mengapa engkau belum alim?� Dalam hati Malik malah bertanya, �Apakah ayahnya dahulu tidak pernah bermain?�

Malik atau nama kecil dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) lahir dari ayah seorang ulama besar dan berpengaruh di Sumatera Barat yang akrab dipanggil Haji Rasul. Dalam otobiografinya di Kenang-kenangan Hidup jilid 1, Hamka bercerita bahwa sering kali ayahnya tak segan memukul dengan tongkat karena kenakalannya. �Nakalnya bukan buatan, membuat pusing orang kampung.� pengakuannya.

Haji Rasul pernah sangat berang ketika Malik ketahuan menipu anak-anak kampung dengan menjadi menteri cacar. Awalnya Malik melihat mentri cacar sedang mencacar anak-anak. Disuruh engkunya membuatkan kaca mata dari daun pandan untuk meniru mentri cacar yang berkaca mata. Lalu ia mengumpulkan anak-anak kira-kira sepuluh orang. Dikatakannya kepada mereka bahwa ia adalah mentri cacar dan ingin mencacar. �Heran, semuanya patuh saja menuruti perintah.� kata Hamka. Kemudian ditorehnya anak-anak itu dengan duri jeruk limau. Ada yang menangis kepedihan dan ada yang berdarah.

Keesok hari, Malik di ajak ibunya ke Surau dengan baju baru pemberian ayahnya. Baru saja sampai di atas Surau, mata ayahnya sudah berapi-api karena sudah mengetahui ulah si anak. Diambilah tongkat besar lalu meminta Malik menjulurkan kakinya untuk dipukul. Malik bersimpuh minta ampun. Tetapi ayahnya tetap ingin memukul. Malik terus bersimpuh minta ampun. Untungnya, ada dua orang lain yang ada di Surau itu menyaksikan dan menahan amarah ayah. �Dia sudah minta ampun, engku! Dia sudah minta ampun.� kata mereka. Pukulan tak jadi diterima Malik berkat kedua orang itu. �itulah, jangan nakal juga. Mujur ada orang yang memisahkan tadi, kalau tidak tentu hancur badanmu dipukul ayahmu.� ucap ibunya setelah disuruh pulang.

Malik kecil hanya senang bermain. Di suruh mengaji sulit sekali. Ketika umurnya memasuki 6 tahun, ia disuruh ayah belajar mengaji dengan kakaknya, Fatimah. Cara mengajar kakaknya tidak disukai Malik. Kalau Malik tidak bisa membaca seperti yang diajarkan kakaknya selalu mendapat cubitan. Cara mengajar sang kakak membuatnya kesulitan meyelesaikan bacaan mengaji Juzz Amma. Sudah tiga bulan tak rampung-rampung. �Untunglah ada satu penolong yang datang dengan tiba-tiba.� cerita Hamka.

Mengajinya mulai lancar ketika ada seorang anak perempuan bernama Chamsinah. Anak perempuan itu ikut mengaji bersama Malik tanpa ada cubitan. Semangat mengaji timbul kalau bisa mengaji berdua dengan Chamsinah. Kalau biasanya habis magrib berpetualang dahulu keliling kampung Padang Panjang, setelah adanya anak perempuan itu pikirannya hanya pergi mengaji hingga berhasil khatam.

Pada umur 7 tahun, Malik di masukan ke sekolah desa. Setahun kemudian berdiri sekolah diniyah di Padang Panjang yang pelaksanaan belajarnya sore hari. Malik juga dimasukan ke sekolah diniyah itu sore harinya untuk belajar bahasa arab. �Dalam usianya diantara 7 dengan 10 tahun, tidak ada lagi satu kampung keliling Padang Panjang yang tidak mengenal anak nakal itu.�

Ia selalu pergi ke sekolah pagi sekali, agar menyempatkan bermain. Selesai sekolah pukul 10, kembali bermain; bergelut, bertinju, cari-carian, banting-bantingan, hingga jelang sore. Selelesai sekolah Diniyah sore, sekitar pukul 5, kembali lagi bermain di jalanan sambil mengganggu anak-anak perempuan. Tuduhan sering diterima, �Si Malik nakal!�, �Si Malik jahat!�.

Senakal-anaklnya Malik, ia juga bisa berbuat baik. Orang buta yang sedang meminta-minta di sebuah pasar di Padang Panjang pernah mengetuk hati Malik. Ia mencoba membantu si buta itu dengan membimbing jalan atau ikut mencarikan uang sedekah. Ketika si buta mau memberinya bagian, Malik tak mau menerima. Ia senang sekali seharian bisa membantunya. Hingga suatu saat, ia kepergok sang ibu. Rasa malu si ibu melihat Malik memaksanya pulang. �Perbuatannya itu, memberi malu ayahnya.� ucap ibunya. Ia heran, padahal ayahnya sendiri dalam setiap pengajian disuruh membantu fakir miskin. Berat benar perasaan Malik meninggalkan si buta.

Pernah juga ketika terjadi pembagian beras saat masa sulit bahan pokok, ia melihat perempuan yang lemah tidak kuat berdesak-desakan. Di dekatinya perempuan itu, dan diminta surat pengambilan beras agar Malik saja yang mengambilkan. Belum selesai mendapatkan beras, ia ketahuan murid Ayahnya. Malik di suruh pulang. Tetapi ia tak mau sebelum selesai membantu perempuan ini. Sampai di rumah, ia kena marah. Perbuatannya dikatakan memberi malu ayahnya.

�Lantaran itu dan beberapa sebab yang lain, dia lebih suka banyak jalan. Bermain jauh-jauh, mengelak dari rumah. Banyak benar peraturan di rumah yang berlawanan dengan hatinya. Dia hendak berbuat baik menolong orang. Membela, tetapi di rumah dilarang. Rupanya ada beberapa fatwa yang diberikan ayahnya, tetapi dia sendiri tidak boleh melakukan.� cerita Hamka dengan menarik.

Setelah bulan puasa pada 1918 atau bertepatan umur 10 tahun, ayahnya baru pulang dari Jawa. Madrasah Sumatera Thawalib yang didirikan ayahnya mengalami perubahan sistem pendidikan, yaitu berubah menjadi sistem kelas seperti sekolah modern pada umumnya. Malik yang sebelumnya sudah masuk kelas 3 Sekolah Desa di suruh berhenti dan dimasukan ayahnya ke Sumatera Thawalib agar bisa fokus belajar agama. Sejak lahir, Haji Rasul memang berharap Malik dapat melanjutkan kiprahnya sebagai seorang ulama. Berbagai upaya ia lakukan agar Malik mendapat mendidikan agama yang baik.

Di Madrasah Sumatera Thawalib, Malik harus menghafal Matan Taqrib (Nahwu). Beberapa kaidah tentang nahwu dan sharaf mesti hafal. Malik yang baru 10 tahun harus duduk bersela di atas lantai, menghadap guru, mendengarkan penyampaian materi tentang kedudukan baris tiap-tiap kalimat, mengapa jadi baris atas (nasab), atau di depan (rafa�), atau baris bawah (djar) dan mati (djazam). Hafalan-hafalan itu sangat memusingkannya. Ketika berhadapan dengan guru yang agak keras, hampir semua pelajaran yang diberikan tidak ada yang masuk. Disuruhnya juga menghafal hadist empat puluh (Arba�in An Nawawiyah). Bagi yang tidak hafal di hukum berdiri lama-lama. Malik adalah anak yang selalu berdiri jika masuk pelajaran hafalan hadist.

Satu materi yang menarik hatinya adalah pelajaran Arudh, yaitu timbangan syair Arab. Syair-syair dalam pelajaran itu dengan mudah dihafalnya. Berbeda dengan pelajaran lain yang lebih banyak mengantuk. Kalau pun matanya melihat kitab, pikirannya jauh di tempat lain. Setiap selesai pelajaran langsung diletakkan kitab-kitab yang berat itu, �berat diangkat dan berat dipelajari.� Di letakkan di atas rak, dan tidak dipegang lagi. Ditengoknya pun tidak sampai hari berikutnya. Ia langsung berlari ke Pasar Usang untuk menonton film di bioskop, main layang-layang, menonton adu sapi, atau sepak bola. �Tidak ada waktu untuk menghafal. Main! Main yang perlu.� kata Hamka.


loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget