Halloween Costume ideas 2015
Articles by "peristiwa"

AMNews - Ardanita (20) seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) warga Desa Lewak, Kecamatan Alafan, Simeulue, minggat dari rumah saat suami sedang bekerja.

IRT tersebut meninggalkan suaminya dan seorang anak yang masih berumur tiga tahun dalam keadaan sakit.

Angge, suami Ardanita mengetahui istrinya itu minggat dari mertuanya.

Pada 10 Desember 2019 lalu, istrinya sempat berpamitan kepada ibunya hendak ke Sinabang.

Dia mengatakan akan mengambil uang di bank yang dikirim suaminya.

Namun hingga malam, dia tak kunjung kembali.

“Istri saya hilang pada 10 Desember 2019, saat itu saya tidak berada di rumah, saya sedang kerja di laut,” kata Angge kepada BERITAKINI.CO, Senin (6/1/2020).

Angge mengaku tidak tau apa yang menyebabkan istrinya tega meninggalkan dia dan anaknya.

Padahal dikatakannya, keluarga mereka tidak pernah cekcok.

Meski begitu, Angge sangat berharap, istrinya bisa kembali kepadanya.

“Anak sakit, kita sudah lelah mencari, saya berharap dia kembali pulang,” kata Angge, lirih.

Selama ini, Angge sudah berupaya mencari keberadaan istrinya.

Dia juga sudah membagikan foto istrinya ke warga bermaksud jika ada yang melihat supaya memberitahunya.

Ayah satu anak itu juga sudah menulis informasi kehilangan istrinya di media sosial, dan melaporkan ke pihak kepolisian setempat. Namun semua itu tidak membuahkan hasil.

“Kalau dengan cara ini (memuat di media massa) tidak berhasil, berarti memang sudah takdir saya. Saya pasrah.[
BERITAKINI.CO]

Triyantoro warga Banjarnegara ditemukan tewas dengan luka tembak dikepala di Area Kebun Kapulaga, Kecamatan Karang Kobar, Korban ditembak pemburu karena dikira babi hutan. Foto senjata yang menembak korban/iNews TV/Elis N
AMNews - Teka-teki penemuan mayat korban luka tembak atas nama Triyantoro (51) warga Banjarnegara akhirnya terungkap. Korban sebelumnya ditemukan tewas dengan luka tembak dikepala di Area Kebun Kapulaga, Kecamatan Karang Kobar, Banjarnegara.

Kapolres Banjarnegara AKBP Aris Yudha Legawa mengatakan, dalam kasus ini Polisi mengamankan dua pemburu masing masing As (45) dan Ak (32) warga Salatiga. Bersama dua tersangka diamankan dua pucuk senjata api dan peluru untuk berburu.

Menurut Kapolres, korban yang awalnya sedang mencari rumput untuk pakan ternak di semak semak, dikira babi hutan yang tengah masuk ke area lahan pertanian oleh kedua pemburu tersebut. Tanpa pikir panjang korban yang berada disemak semak langsung ditembak dan peluru mengenai kepala.

"Jadi korban ini dikira babi hutan karena dilihat dari kejauhan ada semak semak bergoyang, tanpa pikir panjang dua pemburu tersebut langsung menembaknya hingga mengenai kepala korban tembus dan tewas," jelas Aris.

Namun mengetahui yang tertembak manusia, kata Kapolres, kedua pelaku sempat melakukan rekayasa dengan menggeser korban sejauh 7 meter dari lokasi, dan menempatkannya seolah jatuh dan terbentur bebatuan. Namun dengan adanya bukti luka dan temuan proyektil polisi akhirnya berhasil mengungkap kasus ini .

"Mengetahui yang ditembak ternyata manusia, pelaku sempat melakukan rekayasa dengan seolah korban terjatuh, tapi barang bukti menjadi petunjuk, " jelas Kapolres Banjarnegara.

Polisi kini tengah mendalami kasus ini dan mengusut kepemilikan senjata api yang digunakan untuk melakukan aksi penembakan.

Berdasarkan pengakuan pelaku As, saat akhir tahun ini merupakan waktu yang tepat untuk berburu karena permintaan akan babi hutan banyak di pasaran. [Sindonews]

AMNews - Sejumlah ruko dan satu bangunan masjid terbakar di Gampong Alue Bungkoh, Kecamatan Pirak Timur, Aceh Utara, Sabtu (28/12). Hingga saat ini, petugas masih melakukan pemadaman dan melokalisir agar api tak menjalar ke titik lain.

Kebakaran itu diperkirakan terjadi sekitar pukul 07.00 Wib dan api begitu cepat merambat. Penyebab kebakaran belum diketahui.

"Benar ada kebakaran ruko dan satu masjid," kata Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin.

Ian mengaku belum mendapatkan data lengkap perihal peristiwa itu. Petugas masih berjibaku melakukan pemadaman dan pengamanan di lokasi kebakaran.

Hingga berita ini diturunkan belum ada informasi korban jiwa. Namun akibat kebakaran, sejumlah pedagang tidak sempat menyelamatkan barang dagangannya.

Diperkirakan ada 8 unit toko terbakar. Hampir semuanya terbuat dari kontruksi kayu, sehingga memudahkan api merambat. | Merdeka

AMNews - Pelan tapi pasti, misteri siapa sosok AN, gadis asal Kota Idi, Kabupaten Aceh Timur, yang mengaku dan diduga telah disetubuhi secara paksa, Ketua Umum Forkab Aceh Ahmad Yani alias Polem Muda, mulai terkuak.

Hasil penelusuran media ini dari berbagai sumber menyebutkan, AN (26) yang dimaksud adalah Anisa. Kabarnya, dia warga Gampong Keutapang Mameh, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur.

Begitupun, hingga berita tadi diunggah, media ini belum berhasil terhubung dengan Anisa. Padahal, penjelasan Anisa sangat penting, untuk menjelaskan kejadian atau peristiwa sebenarnya. Termasuk hubungan asmaranya dengan oknum bintara di Polda Aceh.

Sebab, walau Polem Muda mengaku mengenal Anisa dan rekannya Putri. Namun, dia membantah keras telah menyetubuhi Anisa secara paksa di Apartemen Kalibata City Tower Viola, Jakarta Selatan, beberapa hari lalu.

“Betul itu Anisa, tapi saya tidak melakukan seperti yang dituduhkan. Saya masih di Jakarta dan akan segera ke Banda Aceh, melaporkan media online yang memberitakan itu secara hukum,” ancam Polem Muda.

Penjelasan Polem Muda tadi, menjawab konfirmasi media ini, Rabu siang, 18 Desember 2019 melalui saluran telpon, setelah media ini mengirimkan satu foto kepada dirinya.

Dan dia membenarkan jika sosok yang ada pada foto itu adalah; Anisa alias AN. “Saya sudah tahu siapa dalang dibalik semua ini,” kata Polem Muda, menduga.

Siapa Anisa? Baca Disini

AMNews - AB atau kerab dipanggil Tentra Raman dilaporkan tewas dalam kontak tembak di Gampong Punteut, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. 

Informasi yang dihimpun AJNN, pria itu disergap diareal persawahan. Menurut informasi, Tentra Raman merupakan anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang sudah menjadi buronan Polres Lhokseumawe dan memiliki sepucuk senjata api rakitan. 

Sementara itu, Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan saat dikonfirmasi AJNN membenarkan hal tersebut, sementara saat ini pihaknya masih melakukan pengembangan. 

"Hasil pengembangan nanti, akan kami rillis secara resmi, mohon waktu," katanya. [AJNN]

AMNews - Aparat gabungan mengamankan sedikitnya 10 orang yang diduga terlibat tindak pidana penyalahgunaan narkoba di dua kamar di hotel kawasan Lampineueng, Banda Aceh, Rabu (2/10) dini hari. 

Dari informasi laporan yang diterima AJNN, 10 orang yang diamankan itu terbagi lima orang laki-laki dan lima orang perempuan. Kemudian, dari lima orang laki-laki yang diamankan itu, empat diantaranya merupakan oknum anggota TNI. Seluruh yang diamankan itu sudah dilakukan tes urine, dimana hasilnya, tiga orang dinyatakan negatif dan tujuh dinyatakan positif sabu. 

Bahkan, sejumlah foto para terduga yang diamankan itu beserta data diri juga beredar luas di media sosial maupun group-group Whatshap. Sementara para perempuan yang diamankan tersebut ada yang masih berstatus mahasiswi. 

Masing-masing inisial yang ditangkap MU, WR dan LV berprofesi sebagai swasta. Sementara diduga oknum TNI berinisial AN, BE, AH, NI dan mahasiswi berinisial AM, SS dan RU. 

Dari penggeledahan, ditemukan barang bukti satu paket narkotika jenis sabu dan satu alat hisap (bong). 

Namun AJNN belum mendapatkan keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun pihak TNI terkait penangkapan itu. [AJNN]

AMNews - Penyidik Polisi Resor (Polres) Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh mengungkapkan, satu pucuk pistol yang dipakai perampok dua karyawati cantik sebuah koperasi di daerah itu ternyata pistol mainan, bukan senjata api asli seperti dugaan sebelumnya.

“Awalnya diduga senjata api (yang dipakai untuk merampok), setelah kita dalami ternyata hanya pistol mainan,” kata Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Reskrim AKP Adhitya Pratama dalam sebuah konferensi pers di Mapolres di Lhoksukon, Senin siang.

Pistol mainan ini diketahui setelah tiga dari empat pria yang diduga terlibat dalam kasus perampokan itu ditangkap polisi di lokasi terpisah di kawasan Aceh Utara, ketiganya dibekuk pada Sabtu (14/9).

Sementara perampokan yang menimpa dua karyawati cantik itu berlangsung pada Jumat  (13/9) pagi di depan kantornya di kawasan Meunasah Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, sesaat sebelum dia masuk ke kantor.

Dijelaskan, ketiga tersangka masing-masing JM dan SR, keduanya warga Kabupaten Aceh Utara, sementara JR warga Kabupaten Aceh Timur, sedangkan satu pria lainnya yang diduga terlibat dalam kasus perampokan ini telah ditetapkan sebagai daftar pencarian orang atau DPO, berinisial H.

Dari keterangan polisi, JR dan H adalah tersangka yang merampok dua karyawati tersebut, keduanya disuruh oleh JM, orang yang mengamati kedua karyawati itu. Sementara SR diduga berperan sebagai orang yang mengambil uang dari JR dan H, seusai kejadian.

Barang bukti yang diamankan dalam penangkapan itu di antaranya sebuah smartphone milik korban dan sisa uang hasil perampokan itu sebesar Rp150 ribu yang diamankan dari tersangka JM, sementara pistol mainan diamankan dari tersangka JR.

Sementara barang bukti satu unit sepeda motor jenis Scoopy yang digunakan saat beraksi itu masih berada bersama tersangka H, yang kini sedang diburu polisi.

Tersangka JM, yang diduga memiliki peran penting dalam kasus tersebut hanya pasrah saja. Kepada wartawan, JM mengaku melakukan itu lantaran kecewa terhadap perusahaan tempat karyawati cantik itu bekerja, karena selama ini tidak pernah memberikan upah jasa keamanan kepada dia.

Baca juga: Truk pengangkut tiang listrik kecelakaan di Aceh Utara

“Jika ada kendala di lapangan, saya yang ditelepon, namun tidak dikasih uang sedikitpun,” ucap JM, yang turut dihadirkan dalam konferensi pers itu.

Pernyataan tersebut dibantah Kasat Reskrim AKP Adhitya Pratama dengan menyebut, bahwa JM bukan petugas keamanan formal atau resmi dari koperasi tempat karyawati tersebut bekerja.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, dua karyawati sebuah koperasi dirampok pria berpistol di depan kantornya di kawasan Meunasah Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, saat korban akan ke kantornya, Jumat pagi.

Kedua korban itu bernama Siti Umi Rohani (23), warga Alue Seulubok, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang dan Midu Novia Siborok (24) warga Pangburuan, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Selama ini mereka menetap di kawasan Rawang Itek, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Akibat kejadian tersebut korban mengalami kerugian, di antaranya berupa uang tunai sekitar Rp3,9 juta, sebuah smartphone, ATM BRI dan KTP. Dari jumlah uang tersebut, Rp3,5 juta di antaranya adalah uang kas koperasi tempat mereka bekerja, yang baru saja ditarik dari ATM.[Antara]

Ilustrasi
AMNews - Seorang gadis belia sebut saja Bunga (16), warga Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, menjadi korban dugaan pencabulan pemuda yang dikenalinya, di sebuah hotel di Kota Medan, Sumatera Utara.

Gadis belia yang masih duduk di bangku sekolah tingkat SMA itu awalnya diajak jalan-jalan ke Medan, Sumatera Utara dengan menumpangi sebuah mobil jenis CR-V oleh tersangka berinisial KL (29) yang berprofesi sebagai pedagang.

"Kasus ini dilaporkan oleh HS (25), abang kandung korban, pada Senin (26/8),” sebut Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Reskrim Iptu Rezki Kholiddiansyah di Lhoksukon, Rabu.

Perwira yang hari ini telah melakukan sertijab untuk menempati posisi baru sebagai Kasat Reskrim Polres Bireuen itu mengatakan, kasus asusila ini berawal pada Rabu (21/8) sekira pukul 16.00 WIB.

Saat itu terlapor menghubungi korban untuk membujuk agar mau pergi jalan-jalan ke Medan, namun tawaran itu, kata polisi, ditolak oleh korban.

Kemudian sekira pukul 22.00 WIB, tersangka kembali menghubungi korban agar bersedia ikut ke Sumatera Utara diduga dengan nada pemaksaan.

Karena dengan nada sedikit pemaksaan, sambung polisi, akhirnya korban bersedia dengan ajakan tersangka dengan syarat hanya sekadar jalan-jalan, tidak lebih dari itu.

Karena sudah sepakat, malam itu sekira pukul 23.00 WIB, KL menjemput Bunga di depan rumahnya.

Keduanya berangkat ke Medan dengan satu unit mobil CRV milik tersangka, akan tetapi terlapor tidak meminta izin kepada orang tua korban. Perjanjian semula mulai berubah saat dalam perjalanan itu, tersangka mulai nakal.

"Namun pada Kamis (22/8) sekitar pukul 07.00 WIB, terlapor dan korban tiba di Medan dan menginap (beristirahat) di sebuah hotel. Saat itulah terlapor memaksa korban untuk bersetubuh, namun ditolak, akan tetapi terlapor memaksa korban hingga akhirnya terjadi perbuatan tak senonoh,” kata Rezki.

Dikatakan, usai kejadian itu korban memilih pulang dengan menumpangi sebuah bus angkutan kota antar provinsi (AKAP) pada Jumat (23/8). Setiba di rumahnya, korban menceritakan kejadian yang menimpanya. Karena tak terima akhirnya keluarga sepakat mempolisikan pemuda itu ke Polres Aceh Utara.

Atas laporan itu dan berdasarkan bukti permulaan yang cukup, tersangka KL diciduk oleh personil Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Aceh Utara pada Selasa (27/8) sekira pukul 10.00 WIB, di sebuah pasar di daerah itu, tempat kerja tersangka sebagai pedagang ayam.

Menurut polisi, pihaknya juga mengamankan barang bukti di antaranya berupa satu unit mobil CRV yang digunakan mereka saat pergi ke Medan, Sumatera Utara. Korban juga sudah dibawa untuk dilakukan visum et repertum. (ANTARA)

AMNews - Kasus video viral anak kandung yang tega melempar bantal guling dan menginjakkan kaki ke kepala ibunya yang terbaring sakit kini masih berlanjut.

Bukan terkait pengembangan status sang anak yang telah naik menjadi tersangka dan diamankan di sel tahanan. Tetapi kondisi terkini dari sang ibu yang malang tersebut.

Sang ibu, Rusmini, kondisi kesehatannya semakin memburuk dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Soewandi pada Selasa (27/8/2019) kemarin sekitar pukul 14.00 WIB, melansir Tribunnews.com.

Seperti diketahui, Rusmini menderita sakit komplikasi diantaranya penyakit jantung. Karenanya, Rusmini tak bisa melakukan aktivitas banyak dan menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan berbaring.

Namun malang, di tengah kondisinya seperti itu, sang anak bukannya mengasuhnya sebagaimana dirinya mengasuh dia sewaktu kecil dulu, putra bungsunya itu malah berlaku kasar hingga tega menginjak kepalanya.

Kabar duka kepergian Rusmini ini sendiri dikonfirmasi langsung oleh akun resmi Humas Polrestabes Surabaya.

“Innalillahi wainna ilahi rojiun, telah meninggal dunia, ibu Rusmini.

Ibu yg videonya viral karena ditendang kepalanya oleh putranya sendiri.

Barusan humas polrestabes Surabaya tlp mas syukur (anak no 1), membenar bahwa ibunya meninggal dunia di rs soewandi hari ini skj. 14.00 wib krn sakit komplikasi.

Jenazah skrng di rmh dan rencana akan dimakamkan di TPU ngagel selesai sholat isya.

Mari Kita doakan alm semoga kusnul khotimah,” demikian tulis dalam keterangan. [
Tribunnews.com]

AMNews - Kasus mobil bergoyang terjadi di  di jalan Jabal Ghafur-Garot, depan Toko Nareuseki di Gampong Mesjid Ilot, Kecamatan Mila, Pidie, Aceh pada Selasa (20/8/2019) sekitar pukul 01.00 WIB, dini hari.

Warga menggerebek mobil Xenia BL 1083 PI warna merah maroon yang parkir dan menemukan dua remaja diduga sedang bercinta di dalam mobil yang dirental.

Di dalam mobil rental itu, warga menemukan bra (BH) warna pink dan pakaian dalam yang tak berada di tempat semestinya, diduga milik SS yang kini berstatus eks pelajar.

Kedua remaja asal Aceh tersebut awalnya diboyong ke Polsek Mila, namun kemudian diserahkan ke Sat Reskrim Polres Pidie.

"Kedua remaja tersebut ditangkap warga di dalam mobil, karena diduga melakukan hubungan suami istri," kata Kapolres Pidie, AKBP Andy NS Siregar SIK, melalui Kasat Reskrim, AKP Mahliadi, kepada Serambinews.com (grup Surya.co.id), Selasa (20/8/2019).

Ia menambahkan, berdasarkan pengakuan remaja itu, perbuatan terlarang tersebut mereka lakukan saat situasi sepi, setelah sempat jalan-jalan dengan Xenia rental tersebut.
Selanjutnya>>>


AMNews - Anggota DPRA dari Fraksi Partai Aceh (PA), Azhari alias Cage, mengaku dirinya mengalami pengeroyokan dan pemukulan oleh sejumlah oknum polisi, yang tengah mengamankan aksi unjuk rasa di kantor parlemen tersebut.

Kepada popularitas.com, yang menghubunginya, Azhari Cage menceritakan kronologis peristiwa yang menimpanya tersebut. Kasus pemukulan terhadapnya berawal dari kedatangan sejumlah mahasiswa yang menuntut kejelasan tentang nasib Bendera Aceh ke Kantor DPRA, Kamis, 15 Agustus 2019 siang.

Sebagai anggota DPR Aceh, dirinya diminta oleh pimpinan untuk menemui mahasiswa yang sedang aksi tersebut. Selanjutnya, saat Ia menemui peserta demo, sebagian dari mahasiswa itu tidak puas, dan memaksa untuk menghadirkan ketua.

Lantas, Cage berkomunikasi dengan Sulaiman selaku pimpinan tentang aspirasi mahasiswa tersebut. Dia selanjutnya bersama dengan Ketua DPR Aceh menemui para demonstran.

Usai salat Ashar, ternyata mahasiwa belum membubarkan diri. Mereka memilih untuk duduk di halaman kantor DPR Aceh. Saat itu situasi di lapangan sudah chaos. “Para polisi yang mengamankan aksi unjuk rasa membubarkan mahasiswa secara paksa dengan cara dipukuli,” tutur Cage.

Melihat situasi tersebut sambungnya, dirinya bermaksud ingin melerai. Namun, justru dia ikut dipukuli oleh sejumlah polisi yang mencoba membubarkan mahasiswa. “Ada delapan polisi yang memukuli saya,” tukasnya.

Tidak terima hal tersebut, katanya, setelah berkonsultasi dengan pimpinan dewan, dirinya melaporkan kejadian ini ke Polda Aceh. Cage meminta Kapolda untuk mengusut dengan tegas kejadian yang menimpa dirinya.

“Saya ini anggota dewan, sedang bertugas menampung aspirasi mahasiswa,” ujarnya.

Apa yang dialaminya, sebut Cage, adalah sesuatu yang berada dalam luar batas tindakan SOP kepolisian dalam mengamankam aksi unjuk rasa.

“Saya ini dipukuli di rumah sendiri sama polisi polisi itu,” ujarnya.

Sebagai warga negara yang taat hukum, sebut Cage, dirinya telah melaporkan sikap arogansi pihak kepolisian ini. Namun mesti dicatat, kata dia, secara kelembagaan DPR Aceh, persoalan ini akan berbuntut panjang. Dia juga meminta Kapolda Aceh untuk bertanggungjawab atas aksi anak buahnya di lapangan. [SUMBER]

AMnews - Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Aceh yang mendapat penyiksaan dari majikan adalah gadis asal Dusun Krueng Tuan Desa Alue Dua Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara, bernama Annisa (36).

Nisa panggilan akrab gadis tersebut, sudah mulai merantau ke Malaysia 18 bulan atau sejak Oktober 2017 dan menjadi pembantu rumah tangga di kawasan Rawang, Malaysia.

Informasi tersebut diperoleh Serambinews.com dari anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman alias Haji Uma.

Haji Uma setelah mendapat informasi tersebut, berusaha mencari nomor kontak pihak keluarga untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.

"Semalam sudah mendapat nomor kontak Amar Danil, keluarga korban yang saat ini berada di Malaysia," ujar Haji Uma.

Berdasarkan cerita Amar, Danil, Annisa ditemukan oleh warga Indonesia diduga setelah dibuang oleh majikan.

"Karena tidak tahan dengan penyiksaan majikannya, kemudian Nisa kabur," kata Haji Uma mengutip keterangan Amar Danil.

Kemudian naik ke pohon untuk bersembunyi, karena tidak mengetahui jalan kabur.

Namun, karena tak tahan menahan haus dan lapar, Nisa turun dari Pohon, dan meminta bantuan air minum pada seorang warga India yang tinggal di lokasi itu.

Melihat kondisi Nisa dipenuhi luka sekujur tubuhnya dan gigi patah, warga India tersebut membawa Nisa ke Hospital terdekat.

Setelah menemukan kembali Nisa, kemudian majikan tersebut yang disebut-sebut aparat Malaysia, membuang Nisa ke suatu tempat.

"Setelah demikian, Nisa ditolong seorang TKI dan kemudian berhasil dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya," ujar Haji Uma.

Kondisi Annisa sekarang sangat memprihatinkan.

Fasilitasi Pemulangan Korban

Pemerintah Aceh merespons kasus dugaan penganiayaan yang menimpa seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Aceh Utara di Malaysia.

"Atas perintah Plt Gubernur Aceh, kami telah melakukan langkah-langkah awal untuk proses pemulangan korban. Saya sudah berkoordinasi langsung dengan Tgk Mukhtar Abdullah, salah seorang tokoh masyarakat Aceh di Malaysia," kata Kadis Sosial Aceh, Alhudri kepada Serambinews.com, Sabtu (20/7/2019) malam.

Menurut Alhudri, dari koordinasi awal dipastikan ada warga Aceh bernama Anisa binti Jamil (25) yang berasal dari Desa Krueng Tuan, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara yang diduga jadi korban tindak kejahatan/penganiayaan majikan tempat dia bekerja di Malaysia.

Mengutip informasi dari Tgk Mukhtar Abdullah, saat ini korban sudah dititip ke salah satu tempat yang aman.

"Kawan-kawan di sana menjadwalkan membawa korban ke KBRI Kuala Lumpur pada hari Senin (22/7/2019). Selanjutnya kami atas nama Pemerintah Aceh akan berkoordinasi dengan pihak KBRI guna menentukan langkah selanjutnya," ujar Alhudri.

Pada Sabtu malam, Mukhtar Abdullah juga mengirim satu rekaman video berdurasi 23 menit 13 detik yang berisi wawancara tokoh-tokoh Aceh di Malaysia dengan Anisa.

Dalam video tersebut terdengar Anisa bercerita sambil menahan sedih bagaimana dia diperlakukan secara kejam oleh majikannya.

Seperti menyiram air panas ke tubuhnya, meninju mulut hingga giginya copot, dan membenturkan kepala ke dinding.

Beberapa kali Anisa tampak tak mampu menceritakan apa yang dialaminya. Dia terlihat berulang kali menutup wajahnya karena tak mampu menahan tangis.

Tim yang mewawancarai Anisa juga melihat bagian tubuh perempuan tersebut yang dipenuhi bekas-bekas luka akibat disiram air panas.

"Subhanallah, masya Allah, kenapa begini kejam manusia," begitu komentar yang terdengar di video tersebut saat melihat tanda-tanda kekerasan di bagian punggung, paha, tangan, dan wajah korban.

"Mohon doa dari kita semua semoga usaha kita untuk memulangkan Anisa ke kampung halaman berjalan lancar," kata Mukhtar.

Menurut kabar, setelah mengalami penyiksaan, korban diantar seseorang menginap di salah satu hotel.

Karena sewa hotel hanya dibayar satu malam oleh orang yang membawanya, maka dia pun terpaksa keluar.

Dalam kondisi tak tahu apa yang harus dilakukan, Anisa diselamatkan oleh salah seorang perempuan suku Jawa yang bekerja sebagai cleaning servis di hotel tersebut hingga akhirnya Anisa diamankan oleh Tgk Mukhtar Abdullah

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul TKW Aceh Nisa yang Disiksa Majikan Ditemukan Keluarga Setelah Dibuang.

Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen TNI Teguh Arief Indratmoko (dua kiri) memperlihatkan senjata ilegal yang diserahkan warga Aceh Timur dan Aceh Utara ke Kodam Iskandar Muda Aceh di Banda Aceh, Jumat (12/7/2019). (ANTARA News/ Irman)
AMNews - Sejumlah warga Aceh secara sukarela menyerahkan enam pucuk senjata yang masih aktif sisa konflik kepada Kodam Iskandar Muda.

"Senjata ini diserahkan oleh masyarakat wilayah Aceh Timur dan Aceh Utara serta beberapa daerah lainnya ke Kodam Iskandar Muda Aceh," kata Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen TNI Teguh Arief Indratmoko kepada pers di Banda Aceh, Jumat.

Ia menjelaskan, sebanyak enam pucuk senjata sisa konflik tersebut sebelumnya disimpan oleh warga secara ilegal dan Tim Intelijen serta Babinsa Kodam Iskandar Muda Aceh melakukan penggalangan.

Keenam pucuk senjata tersebut terdiri atas lima pucuk senjata laras panjang, yaitu dua pucuk AK-56, M1A1 carbine, SS1 dan M16 (pistol) masing-masing satu pucuk. Jumlah amunisi 261 butir.

Kodam Iskandar Muda Aceh terus melakukan penggalangan senjata ilegal yang ada di masyarakat. Pihaknya akan melindungi warga yang menyerahkan senjata secara sukarela.

"Jika warga menyerahkannya dengan penuh kesadaran saya menjamin mereka akan aman," kata Teguh.

Pangdam Iskandar Muda Aceh juga mengimbau masyarakat Aceh yang masih menyimpan secara secara ilegal untuk menyerahkan kepada TNI dan Polri.

Pada 3 Januari 2019, warga Aceh menyerahkan delapan pucuk senjata, yakni tiga pucuk jenis SS-1 masing-masing satu pucuk jenis AK-101 dan M-16, dua pucuk jenis karaben serta sepucuk pistol revolver dan 10 magasin peluru berikut 800 butir amunisi.

Kemudian, pada 15 Mei 2019, warga Aceh juga telah menyerahkan 12 pucuk senjata kepada Kodam Iskandar Muda Aceh. Senjata yang diserahkan masyarakat tersebut atas sembilan pucuk laras panjang, terdiri dua pucuk M16, dua pucuk AK-47 dan empat pucuk AK56.

Sedangkan tiga pucuk laras pendek terdiri atas ua revolver dan satu FN. Berikutnya lima magasin beserta 455 butir peluru, dua granat lontar dan dua granat tangan. [Antara]

AMNews - Forum Komunikasi Ormas dan OKP Pengawal Syariat Islam Kota Lhokseumawe mengecam kegiatan liga sepakbola Menpora bagi perempuan tingkat Provinsi Aceh yang akan dilaksanakan di Stadion PT Perta Arun Gas, Lhokseumawe. Mereka menuntut Pemerintah Aceh dan Badan Liga Sepakbola Pelajar Indonesia (BLiSPI) membatalkan seleksi dan pengiriman delegasi tim sepakbola U-17 putri Aceh ke tingkat nasional.

Kecaman dan tuntutan itu disampaikan Koordinator Forum Komunikasi Ormas dan OKP Pengawal Syariat Islam Kota Lhokseumawe, Tgk. Sulaiman Lhokweng, dalam konferensi pers di Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe, Kamis, 4 Juli 2019, siang.

Menurut Tgk. Sulaiman Lhokweng, Forum Komunikasi Ormas dan OKP Pengawal Syariat Islam Kota Lhokseumawe telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Nomor: 024/FK/LSM/2019 tentang Menolak Segala Bentuk Kegiatan yang Bertentangan dengan Syariat Islam dan Kearifan Lokal Masyarakat Aceh. Hal itu terkait pemilihan dan penetapan tim Provinsi Aceh yang telah dan akan dilaksanakan pada 30 Juni sampai 14 Juli 2019 di Stadion PT PAG, Batuphat, Kota Lhokseumawe. Di mana tim Provinsi Aceh nantinya akan mengikuti liga sepakbola berjenjang piala Menpora atau Liga Menpora tahun 2019 untuk usia 14, 16 dan 17 tahun putri yang akan dilaksanakan mulai akhir Juli hingga awal September 2019 secara nasional.

"Tentunya ini sangat disayangkan bahwa di Aceh sudah ada liga sepakbola perempuan untuk usia 14, 16 dan 17 tahun. Seluruh OKP dan Ormas bersatu untuk menolak kegiatan tersebut," ujarnya.

Menurutnya, seleksi dan pengiriman delegasi tim sepakbola U-17 putri Aceh ke tingkat nasional itu bertentangan dengan marwah masyarakat Aceh. Untuk itu, pihaknya menuntut pihak pengelola Stadion PT PAG agar lebih selektif dalam memberikan izin tempat, terlebih kegiatan yang dinilai bertentangan dengan syariat Islam dan kearifan lokal di Aceh.

"Kita juga menuntut permintaan maaf dari BLiSPI kepada seluruh umat Islam Kota Lhokseumawe dan Aceh secara umum. Karena telah melukai perasaan dan kearifan lokal masyarakat Aceh, dengan mengeksploitasi perempuan Aceh di bidang sepakbola," katanya.

"Ini menyangkut marwah masyarakat Aceh. Pemerintah dalam hal ini Gubernur Aceh harus melihat kegiatan yang dilakukan oleh pihak terkait agar jangan asal ada kegiatan saja. Artinya, kegiatan itu harus ada nilai positif dan juga menjamin bagaimana berlangsungnya syariat Islam di Aceh. Tapi kita melihat sepakbola untuk putri ini sangat menyedihkan, dan bahkan kita sebagai rakyat Aceh malu dengan provinsi lain. Kok masih ada acara seperti ini khususnya di Aceh," ujar Tgk. Sulaiman.

Tgk. Sulaiman melanjutkan, pihaknya sudah sepakat bahwa sepakbola putri itu harus segera dihentikan, karena dikhawatirkan nanti ada masyarakat yang tidak bisa mengontrol emosi, dan jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.

"Kita mengingat ini bukan cuma kerugian biasa, tetapi ini merupakan kerugian yang sangat luar biasa," pungkasnya.[portalsatu.com]

Foto: Polisi menangkap penculik di Bireun, Aceh (dok. Polres Bireun)
AMNews - Seorang penculik di Bireun, Aceh, YU alias Landak (31) ditangkap personel reskrim Polres Bireun. Dia terpaksa ditembak petugas karena melawan saat ditangkap.

"Kita berhasil menangkap pelaku setelah abang korban membuat laporan secara resmi. Kita selidiki dan menangkap pelaku saat sedang menyekap korban di kawasan Kecamatan Peusangan," kata Kasat Reskrim Polres Bireun, Iptu Eko Rendi Oktama kepada detikcom, Senin (24/6/2019).

Eko menyebutkan YU yang merupakan warga Peusangan Siblah Krung ini diduga melakukan penculikan terhadap NZ (26) warga Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara di kawasan Kota Idi Rayeuk, Aceh Timur. Setelah itu, korban dibawa dan disekap di kebun milik pelaku di kawasan Leubuk Seutuy, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireun.

Kemudian diselidiki dan dilakukan penangkapan pada Minggu (23/6) sekitar pukul 20.00 WIB. Petugas bergerak dari Mapolres ke kawasan Paya Cut, Peusangan setelah mendapatkan informasi keberadaan pelaku dan korban yang masih disekapnya.

Setelah melakukan pengamatan, petugas pun menemukan lokasinya dan berhasil menangkap pelaku serta membebaskan korban dari sekapannya. Namun, saat hendak ditangkap pelaku melawan sehingga diberikan tindakan terukur dengan menembak kaki sebelah kirinya.

"Sesudah kita tangkap. Pelaku kita giring ke Mapolres Bireun. Dari interogasi awal, korban dalam sekapan sempat di ikat tangannya, diancam ditembak dan dipotong bagian tubuhnya. Dugaan sementara, motifnya terkait utang-piutang. Sebab, pelaku sempat menelpon keluarga korban meminta sejumlah uang agar korban dilepaskan," sebut Eko. [Detik.com]

Kapal yang sempat tenggelam di perairan laut Lampuyang, Pulo Aceh. Foto: Dok. SAR Banda Aceh
AMNews - Sebuah kapal transportasi antarpulau di Aceh dikabarkan tenggelam di kawasan perairan laut Lampuyang, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, sekitar pukul 11.30 WIB, Kamis (20/6).

Informasi yang dihimpun acehkini, kapal tersebut diduga membawa rombongan pengantin yang berjumlah 30 orang dari Sabang menuju Pulo Aceh.

"Saat ini Basarnas Banda Aceh sudah berkoordinasi dengan penumpang kapal yang selamat," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Banda Aceh, Budiono, kepada jurnalis, Kamis (20/6).

Ia menyebutkan, tenggelamnya kapal tersebut diduga karena kelebihan muatan dan angin kencang. Saat tenggelam, kapal tersebut dibantu oleh kapal lain yang mengiringinya.

Saat ini semua penumpang yang selamat dievakuasi ke daratan Lampuyang, Pulo Aceh. "Setelah berkomunikasi langsung dengan penumpang yang selamat, mereka meminta penjemputan balik ke Sabang," pungkas Budiono.[Kumparan]

AMNews - Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud, meminta maaf atas insiden salah stempel pada lembaran Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Wakil Bupati Pidie yang berstempel Gubernur Aceh.

LKPJ tersebut dibacakan Fadhlullah TM Daud di depan anggota DPRK setempat, Kamis (20/6/2019).

Usai menyampaikan sidang tersebut , Fadhlullah mengaku sangat terkejut dan langsung meminta maaf sebesar-besarnya begitu mengetahui adanya kekeliruan.

“Mohon maaf atas kekeliruan ini. Ini adalah kesempatan banyak hal yang harus dievaluasi, pembenahan ke depan supaya tidak ada tidak kekeliruan, terutama soal administrasi ini,” ujar Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud saat dikonfirmasi aceHTrend Kamis petang.

Ke depan kata dia, ia akan terus membenahi dan mengevaluasi seluruh manajemen administrasi sehingga kekeliruan yang sama tidak terulang kembali.[Acehtrend]

Mahasiswa minta bantuan d depan Pendopo Bupati Aceh Utara. Foto: Ist
AMNews - Oganisasi Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh melakukan aksi galang dana di depan pendopo Bupati Aceh Utara. Aksi itu dilakukan guna "menampar" pemerintah setempat karena mengingat maraknya masyarakat miskin di daerah tersebut. 

Ketua BEM FH Unimal, Muhammad Fadli mengatakan, melihat sejumlah pemberitaan di media beberapa hari ini, kalau ada sejumlah masyarakat Aceh Utara yang tinggal jauh di bawah garis kemiskinan dengan keadaan ekonomi dan rumah yang sangat memperinhatinkan.

“Jadi ketika membaca berita tersebut, kami dari Ormawa FH Unimal bergerak cepat untuk langsung mengobservasi ke lapangan dan kemudian langsung membuat penggalangan dana untuk masyarakat tersebut, khususnya Nek Aminah dan Tijarahah,” katanya, Rabu (19/6).

Sambungnya, penggalangan sudah dimulai sejak 18 Juni 2019 lalu dengan cara kutib sumbangan di fakultas dan ngamen di kampus Unimal. Kemudian hari ini, hari kedua setengah hari ngamen di kampus dan setengah hari lagi kutip sumbangan dan membuka posko di depan pendopo Bupati Aceh Utara.

“Hari ini kami galang dana di depan Pendopo Bupati Aceh Utara, seharusnya hal ini bisa menjadi tamparan keras dan malu yang luar biasa untuk Pemerintah daerah tersebut,” ujarnya.

Lanjutnya, butuh cara-cara seperti ini terkadang untuk membangunkan para pejabat yang sedang tertidur pulas di bawah dinginnya AC, mereka tidak mau melihat bahwa ada masyarakat yang tidur dibawa teriknya matahari dan derasnya kucuran air hujan. Sementara itu,

Ketua DPM FH Unimal, Muhar juga menambahkan, ini adalah bentuk janji manis yang berakhir tragis. Tragis untuk masyarakat yang dulu percaya dengan para politisi yang membawa atas nama rakyat.

Pemerintah harus sadar banyak masyarakat di luar sana yang sangat butuh kebijakan-kebijakan yang menyentuh langsung mereka.

“Rencana kami hari Sabtu ini akan membawa uang bantuan tersebut untuk diberikan kepada mereka, Allhamdulillah uang yang sudah terkumpul sekitar Rp2.3 juta," ujarnya.

Jika nanti Pemkab Aceh Utara masih belum mau membantu mereka yang membutuhkan atau tidak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro terhadap rakyat kecil, maka pihaknya akan selalu berada di garda terdepan bersama rakyat untuk melawan mereka. 

"Negara harus hadir di tengah pilu dan tangisan masyarakat,” tegasnya.[ajnn.net]

AMP - Mayat laki-laki yang ditemukan mengapung di sungai Gampong Meunasah Pante AB, Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa, 18 Juni 2019 pagi, ternyata salah satu narapidana yang kabur dari Rutan Lhoksukon, dua hari lalu. Hal itu diketahui setelah pihak rutan melakukan identifikasi mayat di RSUD Cut Meutia, Buket Rata, Lhokseumawe.

Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin menyebutkan, anggota Satuan Reskrim bersama tim identifikasi langsung turun ke lokasi setelah mendapat informasi dari warga bahwa ada mayat laki-laki mengapung di sungai.


“Kita bawa ke RSUD Cut Meutia. Sedari awal kita menduga, bisa jadi ini napi yang kabur karena tidak ada identitas apa pun. Lalu kita panggil pihak Rutan Lhoksukon untuk memastikan,” ujar Ian.
Menurut Ian, pihak rutan memastikan mayat itu merupakan salah satu napi yang kabur atas nama Sufriadi bin Aiyub (20), warga Gampong Cot Patisah, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara. Ia merupakan napi kasus narkotika dengan hukuman 2 tahun 6 bulan pidana penjara, dengan sisa hukuman 1 tahun 4 bulan 19 hari lagi.

“Diduga, dia itu mau menyeberangi sungai, namun tidak bisa berenang dan akhirnya tenggelam. Kami menduga, dia menyeberang sungai itu setelah kabur dari rutan pada Minggu sore, baru ditemukan warga hari ini dalam kondisi sudah meninggal dunia. Keluarganya sudah dihubungi untuk proses serah terima jenazah,” pungkas AKBP Ian.


“ Tiap orang adalah manusia dan harus diperlakukan sebagai manusia,meskipun dia tersesat tidak boleh ditunjukkan kepada narapidana bahwa ia itu penjahat,sebaliknya ia harus selalu merasa bahwa ia dipandang dan diperlakukan sebagai manusia “.

AMP-  Itulah salahsatu dari 10 prinsip pemasyarakatan yang dicetus oleh Dr. Saharjo SH dalam pelaksanaan pembinaan bagi narapidana.

Namun prinsip pemasyarakatan ini tidak pernah dilaksanakan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB Gunung Sindur, Jawa Barat,bahkan tidak manusiawi.

Hal ini seperti dikisahkan oleh Zuraida warga Idi Aceh Timur yang juga istri Tabrani seorang napi yang menghuni Rutan Gunung Sindur.

Kepada redaksi,Zuraida menceritakan jika dirinya bersama anaknya juga ditemani istri napi lainnya dari Aceh datang ke Rutan Gunung Sindur untuk membezuk suaminya Tabrani terpidana 8 tahun penjara dalam kasus narkoba.

Kedatangannya untuk pertama sekali membezuk suaminya ini dilakukan disebabkan anaknya yang paling kecil kerap jatuh sakit memanggil nama ayahnya.

Sesampainya dirutan gunung sindur,dirinya bersama anaknya melapor pada petugas piket dan meminta untuk dapat menemui sang suaminya.

Setelah melalui sejumlah pemeriksaan yang ketat dirinya dipersilahkan menuju kesebuah ruangan kaca,alangkah terkejutnya melihat suaminya telah berada disana dengan dibatasi kaca yang tebal.

“ Saya dan anak saya menangis,minta sama petugas agar bisa diberikan ketemu lansung,anak saya ingin memeluk ayahnya namun tidak diberikan,Cuma bisa bicara dari telepon saja “,ungkap zuraida dengan linangan air mata.

Zuraida mengatakan kondisi suaminya selama 6 bulan berada di rutan gunung sindur saat dia temui sangat memprihatinkan dan diperlakukan tidak manusiawi.

“ Sudah 6 bulan suami saya ditahan disana,dikurung 24 jam selama 6 bulan,tidak pernah lihat matahari,makanan apapun tidak diperbolehkan kami titip untuknya,apalagi kalau saya dengar cerita suami saya rasanya sakit kali hati saya “,ujarnya.

Seperti yang diceritakan oleh suaminya tabrani, selama menghuni rutan gunung sindur dirinya ditempatkan satu sel seorang diri.
Selama 6 bulan tabrani tidak pernah mendapatkan kesempatan berdiri ataupun menikmati sinar matahari.

“ Sudah 6 bulan dikurung terus,siang atau malam dia tidak tahu,Cuma waktu dikasih nasi saja dia bisa lihat orang,itupun Cuma tangan saja yang masukkan nasi dari lubang pintu “,kata zuraida menirukan cerita suaminya.

Ironisnya kata zuraida,suaminya menceritakan jika saat pertama sekali dibezuk suaminya ditutup kedua mata oleh petugas saat dibawa ke ruang bezuk,demikian juga saat kembali ke ruang sel.

“ Saat suami saya dibezuk tempo hari oleh keluarga lainnya,kata suami saya matanya ditutup kayak orang mau dieksekusi,sampai ke ruang bezuk dibuka,waktu kembali ke sel ditutup lagi “,tutur zuraida.

Zuraida sangat kecewa dengan perlakuan yang diterima oleh suaminya dirutan gunung sindur,begitu jauh kedatangannya bersama anaknya dari aceh ke rutan gunung sindur namun tidak diperbolehkan bertemu lansung.

“ Saya kecewa dan sedih sekali,jauh-jauh dari aceh saya datang sampai jual harta benda karena anak saya sakit terus panggil nama ayahnya,sampai disini mau meluk ayahnya saja tidak bisa,benar-benar tidak ada rasa kemanusiaan dirutan gunung sindur “,ungkap zuraida.

Seperti diketahui napi tabrani sebelumnya merupakan napi lapas klas I medan,2 tahun menjalani masa pidana di lapas medan. Namun secara tiba-tiba napi tabrani dipindahkan ke nusakambangan 8 bulan lalu bersama napi high risk dan hukuman seumur hidup lainnya.

Pemindahan napi tabrani sempat menjadi perhatian napi lainnya di lapas medan,oleh sebab napi tabrani bukanlah napi yang tergolong high risk.

Demikian juga pihak keluarga sempat mempertanyakan dasar pemindahan tabrani ke nusakambangan karena dinilai adanya permainan pergantian orang dalam pemindahan tersebut.

Dua bulan hanya menjalani tahanan di nusakambangan tabrani kembali dipindahkan ke Rutan Gunung Sindur yang dikenal rutan paling ketat dan tidak manusiawi di Indonesia.

Sementara itu Kepala Rutan Klas II B Gunung Sindur hingga berita ini dilansir belum dapat dihubungi.(Red)
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget