Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

AMP - Diawali pembukaan Sidang Paripurna oleh Ketua DPR Aceh Tgk. H. Muharuddin, pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh Periode 2017-2022 Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah dilakukan di Gedung DPR Aceh, Banda Aceh, Rabu, (7/7/17).

Selanjutnya, Mendagri Tjahjo Kumolo mengambil sumpah. "Apakah Anda Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah siap disumpah sebagai Gubernur dan Wakli Gubenur Aceh," sebut Tjahjo Kumolo, dan diucap siap  Irwandi-Nova," dan sesuai agama apa Anda akan disumpah," tanya Mendagri. "Islam" sahut keduanya serentak.

Mendagri mengatakan bahwa sumpah yang telah diucapkan Gubernur dan Wakil Gubenur Aceh tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada bangsa Aceh, namun juga akan dipertanggungjawabkan pada Allah SWT. Hingga berita ini diturunkan, sedang menunggu Presiden Joko Widodo berserta Ibu Negara Iriana Widodo memasuki ruang sidang paripurna DPR Aceh.(modusaceh)

AMP - Biadab, agaknya kata itu cocok disematkan pada SF (30). Bayangkan, berbekal mengiming-imingi dengan jajanan (snack), diduga SF sukses mensodomi 11 bocah (anak) dibawah umur. Untung, aksi SF cepat diketahui  salah satu orang tua korban, hingga Tim Gabungan Res dan Intel Polsek Delima, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh berhasil membekuk SF, warga Gampong Ulee Tutue Raya, (04/07/2017).

Seperti dikutip dari Tribratanewspolrespidie, Kapolsek Delima Iptu Asnawi mengatakan. Penangkapan pelaku sodomi 11 anak di bawah umur itu, berawal dari  laporan orang tua korban berinisial RH (63) dan M (38) pada Mapolsek Delima tentang perilaku SF  terhadap anaknya.

Sebut Asnawi, dari laporan tersebut pihaknya langsung melakukan penyelidikan dan memeriksa beberapa saksi serta korban tentang ciri–ciri pelaku yang mengalami kelainan seksual itu, setelah diyakin memenuhi unsur melawan hukum, aparat kepolisian langsung menangkap tesangka di satu warung kopi di Gampong Mesjid Aree, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie.

“Saat tim tiba di warung kopi tersebut, tersangka berusaha kabur, namun berhasil ditangkap dan langsung di bawa ke Mapolsek Delima,” jelas Asnawi.

Masih kata Asnawi, dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka merupakan predator anak–anak di bawah umur yang sering melakukan aksinya di Gampong Ulee Tutue Raya. Caranya, pelaku mendekati korbannya dengan mengiming– imingi makanan snack maupun dengan memberikan sejumlah uang.

Katanya lagi, ada 11 (sebelas) orang yang menjadi korban pelaku diantaranya berinisial RA, 13 thn, SL, 10 thn, AA, 10 thn, MK, 13 thn, MW, 13 thn, DM, 14 thn, FK, 15 thn, SF, 12 thn, IK, 11 thn, RS, 16 thn, dan MK, 12 thn, yang semuanya merupakan warga Gampong Ulee Tutue Raya, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie. “Sementara baru 11  korban, namun terus kita kembangkan, bisa saja korban terus bertambah, untuk tersangka sudah kita tahan guna mempertanggungjawabkan perbuatannya,” ungkap Asnawi.(Modusaceh.co)

Habib Rizieq Shihab saat ini berada di Yaman. (DOK. JAWA POS)
AMP - Menjadi buronan Polda Metro Jaya tak membuat Habib Rizieq Shihab takut tampil di media dan mengomentari keadaan demokrasi Indonesia. Bahkan, Imam Besar Front Pembela Islam yang kini ada di Yaman itu buka suara soal pertemuan antara petinggi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia dengan Presiden Joko Widodo.

Dalam keterangannya melalui video, dia yang menjabat sebagai Ketua Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI menyampaikan beberapa hal. Apresiasi tinggi dan jutaan terima kasih dia sampaikan kepada semua elemen bangsa yang selama ini selalu bersama para Habaib dan Ulama mengawal Aksi Bela Islam yang disebutnya untuk perjuangan melawan Kezaliman dan Kemunkaran.

"Saya dari kejauhan selalu memonitor dan mencermati serta mengevaluasi semua pergerakan para sahabat baik dari kalangan Islam maupun Nasionalis di negeri tercinta Indonesia," kata dia.

Kepada umat yang setia mendukung dia, Rizieq mengatakan harus selalu waspada. "Terhadap lawan kita harus bersikap negatif thinking yaitu berfikir negatif untuk tetap membangun kewaspadaan, maka terhadap kawan kita wajib bersikap positif thinking yaitu berfikir positif untuk menjaga persatuan dan persaudaraan," sambung dia.

Menurutnya, GNPF-MUI akan menggelar rapat akbar dengan pimpinan semua elemen juang untuk melaporkan tentang apa yang sudah, dan sedang, serta akan dilakukan dalam perjuangan Aksi Bela Islam selanjutnya.

"Insya Allah, rapat akbar yang akan digelar GNPF MUI yang akan datang ini akan menjadi satu forum silaturrahmi untuk lebih memperkuat tali persaudaraan dan persatuan semua Elemen Juang yang pro Aksi Bela Islam selama ini," ucapnya.

Dia mengingatkan agar masyarakat berhenti melakukan perdebatan via media sosial karena hanya akan jadi fitnah yang memecah belah umat. Tak hanya itu, Rizieq juga mengeluarkan ultimatum dengan situasi semacam ini.

"Rekonsilasi atau revolusi. Ultimatum ini bukan menyerah, sekali lagi saya katakan ultimatum ini bukan sikap menyerah. Akan tetapi justru sikap kesatria habib dan ulama dalam mengimplementasikan RUH Aksi Bela Islam 411 dan 212 yang selalu mengedepankan dialog serta perdamaian dengan semua pihak," papar dia.

Menurutnya, tak ada rekonsiliasi tanpa stop kriminalisasi ulama dan aktivis. "Tidak ada rekonsiliasi tanpa stop penistaan terhadap agama apapun. Tidak ada rekonsiliasi tanpa stop penyebaran paham komunisme, marxisme, leninisme dan liberalisme serta paham sesat lainnya," sambungnya.

Menurut dia, bila rekonsiliasi gagal, maka jalan lainnya adalah jihad untuk revolusi damai. "Ganti rezim pelindung penista agama dan pelanggar konstitusi negara. Bersihkan negara dari neolib dan neo PKI," ucap Rizieq.

Dia juga meminta agar umat tetap menjaga keutuhan NKRI dan tegakkan supermasi hukum di semua bidang. Dan juga kembali ke UUD 18 Agustus 1945 yang asli dan dijiwai Piagam Jakarta 22 Juni 1945. (JPG)

AMP - Kompleks Kerkhof merupakan pemakaman militer tentara Belanda terbesar nomor dua setelah Tanah Abang. Terletak di Jalan Teuku Umar, Kampung Sukaramai atau dikenal Blower, Banda Aceh. Kompleks yang bersebelahan langsung dengan Museum Tsunami Aceh ini memiliki lahan seluas 3,5 hektare dengan 2.200 makam.

Saat memasuki areal kompleks, pengunjung disambut tembok tinggi melengkung. Pintu gerbang megah itu dibangun pada 1893 yang terbuat dari batu bata. Bagian atas pintu gerbang tertulis “Untuk sahabat kita yang gugur di medan perang” dalam tiga bahasa: Belanda, Arab Melayu, dan Jawa.

Pada dinding gerbang terdapat deretan nama serdadu maupun jenderal Belanda yang tewas di tangan pejuang Aceh, lengkap dengan tahun dan lokasi meninggal. Namun, tak semua dari Belanda. Sebagian nama yang tertera dari orang pribumi. Mereka diyakini sebagai prajurit Marsose alias tentara bayaran Belanda yang direkrut dari Manado, Ambon, Batak, Cina, dan Jawa untuk melawan Bangsa Atjeh.

Dua puluh meter memasuki pintu gerbang Kerkhof, tepatnya di tengah-tengah jalan setapak, terdapat sebuah prasasti putih bersepuh warna keemasan dan biru. Prasasti setinggi 1,5 meter itu adalah kediaman terakhir Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler, Panglima Angkatan Perang Belanda dalam Agresi Pertama yang mendarat di Pantai Ceuremen, 6 April 1873. Apa yang disebut pihak Belanda sebagai "Ekspedisi Pertama" itu gagal telak menguasai Istana Sultan.

Pasukan Köhler sempat merebut Masjid Raya Baiturrahman di Kutaraja (sekarang Banda Aceh) pada 14 April, tetapi mereka terpukul mundur ketika Köhler tewas tertembak pada pertempuran tersebut.

Sebagaimana dicatat dalam Perang Kolonial Belanda di Aceh (Teuku Ibrahim Alfian, dkk, cet. 3: 1997), korban tewas di pihak Belanda pada Agresi Pertama itu: 45 orang (termasuk 8 perwira); dan 405 orang cedera (di antaranya 8 perwira). Pada 29 April, angkatan perang Belanda meninggalkan Aceh dalam kecamuk duka. Perang kolonial Belanda untuk menguasai Aceh akan terus berlanjut sampai 1910-an, betapapun perlawanan rakyat secara gerilya masih muncul di sana-sini hingga pendudukan Jepang pada 1942.

Köhler termasuk di antara keturunan Yahudi yang ikut peperangan Aceh. Di empat sisi nisan terdapat simbol Bintang Daud. Ada obor terbalik bersepuh warna emas dengan api seakan menyala, dan simbol salib templar serta ular melingkar dengan moncongnya menggigit ujung ekor. Dalam dunia simbol, itu dikenal Ouroboros. Bagi kaum Yahudi, ular dianggap hewan suci yang melambangkan kebijaksanaan, kecerdikan, dan pergerakan.

Makam Köhler tersebut dipugar ulang dengan menguburkan kembali tulang-belulangnya oleh pemerintah Daerah Istimewa Aceh pada 19 Mei 1978.

Menurut Amri, penjaga dan pemelihara kompleks Kerkhof, saudara perempuan Köhler pada 2003 pernah mengunjungi makam tersebut. Amri, yang telah bekerja di sana selama 35 tahun, mengatakan bahwa makam Yahudi lain berada di sudut barat pemakaman.

Di lokasi yang ditunjuk Amri itu, di sebelah kanan makam Mayor Jenderal J.L.J.H. Pel, ada 23 makam, sembilan nisan di antaranya tertera simbol bintang Daud dan pahatan bahasa Ibrani. Identitas ke-14 makam lain sudah mengabur termakan usia.

Ke-23 nisan tersebut tampak tak terurus. Dedaunan dan ranting pohon kering menimbun nisan, sebagian tulisan memudar dan ada pula nisan yang rusak karena dampak tsunami Aceh tahun 2004. Dari sembilan nisan dengan identitas nama yang masih terpahat jelas, ada satu yang terkenal: Avram Meier Bolchover. Ia keturunan Yahudi kelahiran Rumania pada 1856. Di sampingnya, ada makam Deborah Bolchover, masih satu keluarga dengan Avram Meier.

"Tiga tahun lalu, seorang pria yang mengaku keluarga Balchover mendatangi makam Avram Meier Bolchover. Pria itu berasal dari Rusia dan pernah menetap di Inggris. Ia menangis terisak-isak sambil meratap makam eyang buyutnya. Ia tak menyangka makam buyutnya ada di sini," ujar Amri.

Amri lupa nama pria tersebut. Tapi selama di Banda Aceh, pria itu mendatangi makam eyang buyutnya selama empat hari berturut-turut. Dalam percakapan yang ia ingat, Amri mendapat pesan untuk menjaga dan merawat makam keluarganya.

Selain itu, di kalangan tentara Belanda maupun rakyat Aceh sendiri, Bolchover dikenal sebagai tuan tanah. Penyebutan namanya menjadi cikal bakal nama Kampung Blower di Banda Aceh, yang sekarang disebut Kampung Sukaramai.

"Bachlover berubah nama menjadi Blower. Orang Aceh itu selain kesulitan menyebut nama Balchover, punya historis dan benci dengan penjajah, makanya berubah nama menjadi Blower," kata Darma Santoso, yang pernah menjadi kepala Kampung Sukaramai, kepada saya, akhir Juni lalu.

Meski sebagian besar penduduk Banda Aceh mengenal Blower, tetapi dalam catatan administrasi pemerintah tertulis Kampung Sukaramai. Menurut pria yang sudah enam tahun menjabat kepala kampung, nama Blower tidak ada dalam peta; yang ada Sukaramai. Namun, karena orang dari dulu menyebut Blower, sampai sekarang nama itu menetap dalam ingatan masyarakat.

Rusdi Sufi, sejarawan dari Universitas Syiah Kuala, mengatakan bahwa Bolchover adalah seorang pedagang yang datang ke Aceh sebelum Perang Aceh. Catatan mengenai kuburan Yahudi terdokumentasikan dalam Buku Panduan Kuburan Militer Peutjut karangan G.A. Geerts tahun 2007. Ia menyebut bahwa Balchover ialah pedagang Yahudi dari Eropa Timur dan tinggal di sebuah tempat di pinggiran Kota Banda Aceh.

Balchover membeli sebidang tanah dan membuka usaha perumahan dan perkebunan kelapa, yang kemudian dikenal sebagai Kampung Blower. Kampung ini sekarang seluas 47 ha dengan 4.000 penduduk.

Selain Blower, ada tanah milik tuan tanah orang Yahudi di kawasan Dinas Sosial atau kantor pelayanan perbendaharaan negara Kota Banda Aceh. Sejak kemerdekaan, tanah itu beralih status menjadi aset milik negara.

Orang Yahudi lain yang dimakamkan di Kerkhof pada 1931 bernama Hermann Werebeitschik. Ia berasal dari Grodno, Belarusia. Dulunya Grodno memiliki populasi orang Yahudi sekitar 25 ribu pada 1795. Hrodna adalah nama lain untuk Grodno. Seluruh penduduk Yahudi tumbuh sekitar 50 ribu orang per tahun. Tapi sejak pendudukan Nazi, mereka dibasmi.

Kemudian ada makam anak kecil bernama Evelline Goldenberg dari Wina. Ia baru berumur 5 tahun ketika dimakamkan di Kerkhof. Evelline memiliki keluarga bernama Moritz Adolf Goldenberg, seorang pedagang kelahiran Jassy, Rumania. Sebelum invasi Nazi, Yahudi-Rumania memiliki populasi 800 ribu orang. Namun, setelah Perang Dunia Dua, hanya meninggalkan setengah populasi.

Yahudi di Kesultanan Aceh
Tanah Kerkhof sebelumnya milik Kesultanan Aceh Darussalam. Jauh sebelum Belanda menyerang Aceh pada 1873, tanah itu sudah ditempati makam anak Sultan Iskandar Muda.

Sebutan "Peutjut" atau "Peucut" atau "Pocut" merujuk nama panggilan kesayangan Meurah Pupok, putra mahkota Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Meurah Pupok meninggal setelah dihukum ayahnya sendiri karena melanggar syariat Islam di Kesultanan Aceh Darussalam saat itu. Adapun Kerkhof secara harfiah artinya gereja atau kuburan.

Teuku Cut Mahmud Aziz, dosen ilmu sosial dan politik serta peneliti jejak Yahudi di Aceh dari Universitas Al Muslim, Bireun, pernah melakukan kajian pustaka dan observasi pemakaman Yahudi. Ia mewawancarai informan di Aceh, Surabaya, Jakarta, Singapura, Semarang, Penang, dan Belanda, termasuk keturunan orang Yahudi yang pernah tinggal di Aceh dan kini menetap di London, Manchester, dan Hongkong.

Menurutnya, dalam diskusi Jejak Yahudi di Aceh, 20 Mei 2016,  seorang Yahudi yang bekerja sebagai penerjemah bernama Abraham Nabarro pernah berkunjung ke Aceh pada 1689. Ia datang ke Aceh melalui Malaka. Pada abad 18, orang Yahudi bernama Isrealiet Abraham Geheeten juga bekerja sebagai linguis (ahli ilmu bahasa) pada Kesultanan Aceh Darussalam.

Hal itu dibenarkan oleh Rusdi Sufi, alumnus Universitas Leiden, Belanda. Ia mengungkapkan bahwa seorang Yahudi yang bekerja untuk Kesultanan Aceh Darussalam (era Sultan Alaiddin Riayah Syah Al-Mukammil, awal abad 17) menerjemahkan surat dari Ratu Elizabeth I. Surat dan hadiah dari Ratu Elizabeth dibawa oleh Sir James Lancaster. Ia membawa surat untuk meminta izin agar Inggris diperbolehkan berlabuh dan berdagang di Bandar Aceh Darussalam (Banda Aceh) dengan seperangkat perhiasan bernilai tinggi.

"Ratu Elizabeth Inggris mengirim utusan Sir James Lancaster, lalu diterjemahkan oleh orang Yahudi. Namanya saya tidak tahu, tapi mereka menyebutnya orang Yahudi (dari Kesultanan)," kata Rusdi.

Leonard Chrysostomos Epafras dalam jurnal “Realitas Sejarah dan Dinamika Identitas Yahudi di Nusantara” menyebutkan pada abad 16 dan 17, sejumlah penerjemah berbangsa Yahudi melayani kepentingan perusahaan dagang Inggris (East India Company) dan Portugis.

Francois Pyrard, seorang kapten kapal Perancis, mengatakan bahwa penerjemah Yahudi mengetahui banyak bahasa, antara lain Arab dan India. Laporan hasil ekspedisi Sir James Lancaster menyebut orang Yahudi menggunakan bahasa Arab dengan sempurna.

Pada 1762, Kapten Thomas Forrest berkebangsaan Inggris bertemu dengan penerjemah Yahudi bernama Abraham di Istana Sultan Aceh. Penerjemah ini menceritakan kepadanya mengenai ketegangan antara Sultan Aceh dan kaum bangsawan.

Catatan lain kehadiran Yahudi melalui perdagangan dari India. Mereka adalah Yahudi dari Cochin (Kochi) atau Yahudi Malabar yang terlibat perdagangan antarnegeri sejak abad 18. Yahudi Cochin merupakan komunitas Yahudi yang sangat tua, jauh sebelum kedatangan orang Eropa di Asia. Mereka meyakini nenek moyangnya tiba di India sejak zaman Raja Sulaiman (Salomo).

Binyamin Mitudela, pelancong dari Yahudi-Spanyol, dan Marco Polo dari Italia melaporkan pernah berjumpa dengan mereka. Contoh paling terkemuka dari komunitas ini adalah Yechezkel Rahabi (1694-1771), yang aktivitas perdagangannya meliputi Yaman, Sri Lanka, India, dan Pulau Sumatera.

Dengan jejak makam maupun literatur terkait Yahudi yang bekerja sebagai penerjemah, baik untuk Kesultanan Aceh, Portugis dan Inggris, maka tak heran ada orang Yahudi yang pernah bermukim sebelum terjadi perang rakyat Aceh melawan Belanda. Buktinya sembilan makam Yahudi di Kerkhof.

“Ini semua makam Yahudi. Kalau batu nisan seperti ini (bahasa Ibrani), sudah dipastikan ia seorang Yahudi,” kata Amri.(tirto.id)

AMP - Di tugu makamnya, Kompleks Kerkhof Peucot, Banda Aceh, terdapat simbol Bintang Daud. Di Eropa, nama Köhler merujuk sebuah nama keluarga Yahudi. Nama lengkapnya, Johan Herman Rudolf Köhler, orang Yahudi yang menjalankan diri sebagai Panglima Angkatan Perang Belanda dalam Agresi Pertama menundukkan Istana Sultan Aceh pada 1873.

“Dia diterjang peluru seorang penembak jitu Aceh ketika sedang tegak berpongah-pongah di bawah pohon beringin,” tulis mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef dalam Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran (2006). Köhler tewas menjelang tiga bulan usianya genap 55 tahun.

Dalam satu kesaksian, menjelang ajal menjemput, Köhler berucap: "O, God, ik ben getroffen!" Ya, Tuhan, aku tertembak, pekiknya.

Karier Militer Köhler
Jenderal kelahiran Groningen, 3 Juli 1818 ini, menurut George Lodewijk Kepper dalam De oorlog tusschen Nederland en Atchin (1874), adalah “serdadu terbaik, perwira berpengalaman, penuh disiplin serta orang yang ramah.”

Ia mulai menjalani karier militer dari pangkat terbawah. "Sejak 3 Mei 1832, saat usianya 14 tahun, ia mulai jadi serdadu bawahan dalam jawatan Afdeling Infanteri ke-9. Antara tahun 1832-1834, ia sempat terlibat dalam kampanye militer Belanda di Belgia dan Flandria,” tulis Kepper.

Menurut Paul van 't Veer dalam Perang Aceh: Kegagalan Snouck Hurgronje (1985), “Köhler adalah orang self made. Masa Pemberontakan Belgia sempat masih dialaminya sebagai kopral. Berangsur-angsur ia naik dalam Tentara Hindia menjadi Kolonel.”

“Pada 21 Mei 1834 dia adalah kopral, 16 Desember 1836 mencapai fourier, 21 Juli 1838 sudah mencapai Sersan [….] ia kemudian dimutasi ke Tentara Hindia Timur alias KNIL, berangkat pada 14 November 1839 dengan kapal Batavia, di bawah komando JA Pronk, dari Hellevoetsluis menuju Hindia dan tiba di sana 2 Mei tahun 1840,” tulis Kepper.

Di Hindia Belanda, karier perwiranya menanjak perlahan. Ia sebentar jadi Letnan Dua. “Tahun 1847 (Köhler) ditempatkan di Pesisir Barat Sumatera, dan pada 4 Oktober diangkat menjadi Letnan satu […] dia menjadi kapten pada 1852,” tambah Kepper.

Menurut Kepper, Köhler pernah ikut dalam ekspedisi militer di Lampung pada 1856. Pada 1857 ia dianugerahi Bintang Ridder der Militaire Willemsorde 4de klasse. Tahun berikutnya, ia jadi Mayor seusai ditempatkan di Batalyon Infanteri ke-2 pada 1859 dan tahun berikutnya di garnisun Bangka.

Tak lama kemudian Köhler diangkat menjadi letnan kolonel dan lima tahun kemudian berpangkat kolonel. Sebelum berangkat dalam apa yang disebut pihak Belanda sebagai "Ekspedisi Pertama" ke Aceh, berdasarkan Keputusan Kerajaan nomor 19 pada 7 Januari 1873 , ia diangkat lagi menjadi mayor jenderal.

Masjid dikira Istana
Menurut Paul van 't Veer, J.H.R. Köhler dipilih sebagai panglima ekspedisi militer ke Aceh lantaran ia adalah salah satu komandan teritorial Sumatera Barat. “Köhler adalah orang yang tepat. Berdasarkan perintah Gubernur-Jenderal Hindia Belanda James Loudon (1872-1875), sudah lama ia sibuk mengumpulkan keterangan militer tentang Aceh.”

Dalam kepala Köhler, ada rencana perang yang sederhana. Begitu menginjak Aceh, ia ingin membangun sebuah pangkalan di sekitar muara Sungai Aceh. Dari situ, pasukan KNIL akan bergerak ke arah Istana, tempat kediaman Sultan Aceh sekaligus ibu kota Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Menguasai ibukota akan mempermudah penguasaan wilayah lain, demikian pikirnya.

Masalah utama baginya sederhana tetapi terbukti betapa lemahnya pengetahuan pasukan tentara Belanda akan Aceh: mereka tidak tahu letak persisnya Istana Kesultanan. Kohler memang mengumpulkan informasi soal Aceh, tapi hal itu masihlah minim.

Hanya saja, dalam panduan kepada para perwira, dijelaskan bahwa Istana adalah "sebuah tempat yang luas dan besar, yang terdiri dari berbagai kampung, dengan banyak sawah, lapangan, kebun kelapa, serta kira-kira 6.000 jiwa yang bermukim."

Menurut catatan Dutch Colonial War in Acheh (1990), pendaratan "dimulai pada Senin pagi, 6 April 1873, saat pasukan Belanda yang pertama mendarat di Panté Ceuremèn di bawah pimpinan Mayor Jendral J.H.R. Köhler.” Mereka didaratkan armada laut di bawah komando Kapten Laut JF Koopman. Menurut Anthony Reid dalam Asal Mula Konflik Aceh (1969), militer Belanda yang dikerahkan untuk ekspedisi itu terdiri dari 3.000 serdadu.

Dalam catatan lain, Perang Kolonial Belanda di Aceh (Teuku Ibrahim Alfian, dkk, cet. 3: 1997), kekuatan armada Belanda terdiri 6 kapal perang, 2 kapal angkutan laut pemerintah, 5 barkas, 8 kapal peronda, 1 kapal komando, 6 kapal pengangkut, dan 5 kapal layar yang masing-masing ditarik oleh kapal pengangkut: 3 untuk pasukan artileri, kavaleri, dan pekerja; 1 untuk amunisi dan perlengkapan; serta 1 untuk persiapan orang-orang sakit (cedera).

Angkatan Perang Belanda seluruhnya terdiri 168 perwira (140 orang Eropa, 28 orang bumiputera), 3.198 bawahan (1.098 orang Eropa, 2.100 bumiputera), 31 ekor kuda untuk perwira, 149 ekor kuda untuk pasukan, 1.000 orang pekerja paksa dengan 50 mandor, 220 orang perempuan bumiputera (8 orang untuk tiap kompi), serta 300 orang laki-laki bumiputera sebagai pelayan pembantu para opsir (perwira).

Setelah mendarat pada 6 April 1873, pasukan Köhler harus empat hari mengalami pertempuran. Dalam empat hari itu, bangunan megah, yang mereka kira sebagai benteng Sultan Aceh, berhasil direbut pada 10 April 1873. Ternyata bangunan itu adalah Masjid Baiturrahman.

Orang-orang Aceh tentu tak terima masjid mereka dikuasai kaum yang disebut sebagai Kaphee  alias kafir. Akhirnya, “malam itu juga terpaksa (daerah yang diduduki itu) dilepaskan karena serangan gencar Pasukan Aceh,” tulis Teuku Ibrahim Alfian dalam Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah (1999).

“Köhler menyuruh meninggalkan benteng itu, karena menurut dia pasukan terlalu letih untuk dapat bertahan dalam posisi yang begitu terancam. Segera pula orang Aceh menduduki masjid itu dengan sorak kemenangan,” tulis Paul van 't Veer.

Masjid itu pun lalu berusaha direbut lagi oleh Köhler dan pasukannya. “Pada 14 April, dengan mengerahkan seluruh kekuatannya (di bawah komando Köhler), tentara Belanda merebut lagi Masjid Baiturrahman, tetapi tembakan pembidik Aceh telah merenggut nyawa Köhler, sehingga rencana penyerangan selanjutnya menjadi tak terkendali,” tulis Ibrahim Alfian, menambahkan bahwa seraya mengusung jenazah sang Panglima, tentara Belanda terpaksa mundur ke arah pantai.

“Saat itu seluruh ekspedisi kehilangan semangat,” tulis Paul van 't Veer.

Pengganti Köhler, Kolonel van Daalen, tak diberi rencana lanjutan oleh Köhler yang malang itu. Namun, sebelum benar-benar mundur, pasukan Belanda terus berusaha menghantam benteng Aceh, di tengah ganasnya para pejuang Aceh yang tak takut mati.

Pada 16 April, dua batalyon militer Belanda berusaha menyerang tempat yang dianggap Istana, tetapi mereka harus mundur dengan meninggalkan 100 orang tewas dan luka-luka. Kolonel van Daalen dan para perwiranya pun memutuskan mundur.

“Tiga minggu kemudian mereka sudah kembali di atas kapal-kapal mereka setelah menghadapi perlawanan paling sengit yang dihadapi militer Belanda di (Hindia) Timur. Jenderal (Mayor) Köhler, Panglima Belanda, terbunuh pada 14 April dan Belanda menderita kerugian luar biasa besar...” tulis Reid.

Menurut catatan Paul van 't Veer, kematian Köhler bikin perasaan duka bagi kerajaan Belanda. Sebulan kemudian, 18 Mei 1873, Raja Willem III mengunjungi ayah sang Jenderal Mayor di Groningen.

Sementara di nisannya kini, di Kompleks Kerkhof Peucot, terpahat Bintang Daud. Pada 19 Mei 1978, pemerintah Daerah Istimewa Aceh melakukan penguburan kembali tulang-belulangnya. Tersimpan di dalam kotak berbalut bendera Triwarna Belanda, seorang perwira militer Belanda Kolonel Brendgen dari Pasukan Marsose Bakongan mengangkat kotak tersebut, diapit oleh dua orang pendamping berpakaian adat Aceh. Prosesi ini disaksikan oleh para pejabat daerah Aceh, termasuk Gubernur Kepala Daerah Muzakkir Walad dan Walikota Djakfar Ahmad, serta Kolonel J. Linzel, saat itu Atase Militer Kedutaan Besar Belanda di Jakarta.

Perang Aceh akan terus bergolak hingga 1910-an di era gubernur militer Van Heutz (1898-1904) dengan penasihatnya yang terkenal, Snouck Hurgronje, seorang orientalis yang menyamar selama dua tahun untuk mengenal masyarakat Aceh.

Meski begitu, perlawanan rakyat Aceh secara sporadis masih berlanjut. Paul van 't Veer bahkan memberi penilaian bahwa Perang Aceh berlangsung selama 70 tahun dan berakhir bulan Maret 1942 di saat Belanda bertekuk lutut kepada Pentadbiran (Pemerintahan) Militer Jepang.(tirto.id)

Ilustrasi
AMP-  Personel Satuan Narkoba Polres Langkat menggagalkan pasokan narkoba tujuan Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau, berikut menyita dua ratus gram sabu dari salah seorang penumpang bus Putra Pelangi BL 7547 AA, Senin (3/7/2017) pukul 07.30 WIB.

Tersangka diamankan saat petugas menggelar razia di depan pos lalu lintas Sei Karang Desa Kuala Begumit Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Razia guna mengantisipasi melintasnya dan masuknya peredaran narkoba di wilayah hukum Polres Langkat.

"Kini tersangka MW (23) warga Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, sudah ditahan di sel tahanan Mapolres Langkat," ujar Kapolres Langkat AKBP Dede Rojudin kepada Analisa di Mapolres Langkat, Stabat.

Sebelum pelaku diamankan, polisi mendapat informasi dari masyarakat bahwa salah satu penumpang mobil bus dari Aceh menuju Medan diduga kuat membawa narkotika jenis sabu, ujar Kapolres.

Dijelaskannya, dirinya kemudian meme­rintahkan personel Satuan Lalu Lintas di Pos Sei Karang agar menggelar razia di lokasi dimaksud. Saat bus melintas, petugas menghentikannya dan meminta kepada sopirnya agar dapat memeriksa seluruh penumpang serta barang ba­wa­­annya yang ada di dalam kendaraan tersebut.

Setelah pemeriksaan para penumpang, petugas menemukan seorang lelaki mencu­rigakan dan saat diperiksa personel mene­mu­kan sabu yang disimpan tersangka di dalam tas ranselnya. Selanjutnya petugas membawa pelaku bersama dengan barang bukti guna diproses hukum lebih lanjut, pungkas, Kapolres Langkat.

Dijanjikan

Tersangka kurir narkoba dijanjikan uang puluhan juta, jika berhasil mengantarkan dua ratus gram sabu ke Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau. "Pengakuan kurirnya saat kita interogasi, dia akan memperoleh uang sebesar Rp20 juta, jika sabu yang dibawanya sampai ke tempat yang dituju," ujar Kapolres.

Namun, sambung Kapolres, tersangka baru menerima uang jalan sebagai panjar sebesar Rp1 juta, sedangkan sisanya akan diperolehnya jika barang tersebut tiba di lokasi tempat yang dituju.[analisadaily.com]

AMP - Filipina meminta bantuan militer Indonesia guna menyelesaikan konflik di Marawi, Filipina. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengatakan Presiden Joko Widodo belum mengabulkan permintaan tersebut.

"Belum (disetujui Presiden)," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (3/7).

Wiranto menegaskan bantuan militer tidak serta merta diberikan. Perlu ada persiapan secara matang dan pertimbangan beberapa hal.

"Perlu ada persiapan, baik persiapan konstitusional, persiapan legislasinya maupun persiapan berupa suatu penyamaan prosedur operasi bersama. Itu tidak mudah," kata Wiranto.

"Jadi kita tunggu. Jangan sampai ada isu kita sudah mengirimkan pasukan ke sana, belum. Kita sedang merancang suatu yang baik. Sedang kita rancang bersama bagaimana melakukan suatu prosedur operasi bersama, apakah latihan, atau operasinya, sedang digarap oleh AD, AL, AU," sambungnya.

Mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) ini menuturkan, permintaan bantuan militer oleh Filipina menjadi kebanggaan tersendiri. Sebab, itu menandakan bahwa Indonesia dipandang memiliki kemampuan militer.

"Mereka hargai Indonesia sebagai negara yang mempunyai kemampuan untuk melakukan suatu operasi perkotaan seperti itu," pungkasnya [mdk]

AMP - MS (37), warga Gampong Teupin Reusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara babak belur diamuk massa karena diduga telah melakukan percobaan pencurian ternak lembu di Gampong Blang Pala, Kecamatan Nisam, Minggu, (02/7) malam sekitar pukul 21.30 WIB.

Dari informasi yang dihimpun AJNN, dalam insiden tersebut, massa juga membakar sepeda motor yang digunakan terduga pelaku.

"Dia kepergok warga mau curi sapi milik warga disini. Karena diteriaki maling, semakin banyak warga yang datang. Dia sempat lari hingga ke Gampong Gampong Paloh Kayee Kunyet dan  kemudian terdesak dihadang warga. Bahkan dia sempat mengancam warga pakai pisau" kata Munzir salah seorang saksi mata kepada AJNN, Senin, (03/7).

Massa yang marah, kata Munzir, lalu menghakimi MS hingga babak belur. Bahkan sepeda motor jenis Honda Beat milik pelaku juga hangus dibakar massa yang semakin tidak terkendali.

"Dia sempat keluarkan pisau dari sakunya dan mengajak duel warga. Makanya massa tambah emosi" imbuhnya.

Untung saja, aparat kepolisian kemudian tiba di lokasi dan mengamankan sekaligus mengevakuasi pelaku yang sudah bonyok berlumuran darah ke Puskesmas setempat dan lalu dirujuk ke Rumah Sakit Umum Cut Mutia.

Saat ini MS masih dirawat intensif akibat luka di bagian kepala dan wajah. Hingga  berita ini dirilis, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait dugaan tindak pidana pencurian tersebut. (AJNN)
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget