Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

AMP - Ribuan aparat keamanan gabungan TNI/Polri masih memburu Santoso alias Abu Wardah dan sekitar 20-an anggota kelompoknya di Poso, Sulawesi Tengah.
Santoso terpojok. Kelompok Santoso terpecah. Santoso tidak kuat, cuma beruntung. Aparat sudah mengidentifikasi tempat-tempat kelompok Santoso.
Begitulah antara lain pernyataan sejumlah petinggi keamanan negeri ini namun aparat gabungan TNI/Polri serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menggelar Operasi Tinombala belum berhasil menggulung terduga teroris paling dicari itu. Presiden Jokowi telah menginstruksikan jajarannya untuk menghentikan Santoso dan kelompoknya.
Sementara korban di pihak TNI/Polri bertambah saat menjalankan tugas negara memburu kelompok Santoso. Terakhir insiden jatuhnya helikopter TNI AD di Desa Kasiguncu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada Minggu (20/3), menewaskan 13 prajurit TNI, makin memperpanjang duka bangsa ini.
Ke-13 korban gugur dalam insiden tersebut yakni Brigjen TNI Anumerta Saiful Anwar (Danrem 132/Tadulako), Brigjen TNI Anumerta Heri S, Brigjen TNI Anumerta Ontang Roma, Kolonel CPM Anumerta Teddy Alex Supomo Parapat, Letkol Inf Anumerta Rasyid, Mayor CKM Anumerta dr. Yanto, Mayor Cpn Anumerta Agung K (pilot), Kapten Cpn Anumerta Wiradhy (co-pilot), Lettu Cpn Anumerta Tito (co-pilot), Serka Anumerta Bagus R (mekanik), Sertu Anumerta Karmin (mekanik), Praka Anumerta Bangkit (avionik), dan Praka Anumerta Kiki (ajudan Danrem).
Sebaliknya beredar video aktivitas Santoso dan sejumlah pengikutnya sedang membakar hewan buruan, bersenda gurau, bahkan berenang di sungai dalam suasana suka cita di lereng pegunungan di Poso.
Sesuai nama Gunung Tinombala, Operasi Tinombala memang menyasar lereng dan pegunungan di Sulteng.

AMP - Dua petinggi PT Pertani (Persero) Cabang Pemasaran Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tersandung korupsi anggaran pengadaan benih pertanian untuk Aceh tahun 2011 senilai Rp 6,4 miliar. Berkas keduanya sudah dilimpahkan jaksa ke Pengadilan Negeri Tipikor Banda Aceh.

Keduanya adalah Kepala Cabang Pemasaran NAD Wilayah Pemasaran PT Pertani (Persero) Sumatera Bagian Utara, Ir Budijono dan  Kepala Seksi Proyek Pemerintah Cabang Pemasaran NAD pada Wilayah Pemasaran PT Pertani (Persero) Sumatera Bagian Utara, Sukimin.

Informasi dihimpun dari PN Tipikor Banda Aceh, Sabtu (02/04/2016), berkas dakwaan keduanya dibuat dalam dua berkas terpisah oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Berkas itu diserahkan ke PN Tipikor Banda Aceh, tanggal 01 April 2016. Dakwaan Ir Budijono No. 8/Pid.Sus-TPK/2016/PN Bna dan terdakwa Sukimin No. 9/Pid.Sus-TPK/2016/PN Bna dengan JPU, Dafit Triadi, SH dibantu sejumlah jaksa lain dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh.

Dalam berkas dakwaan, JPU menerangkan, pada tahun 2011 Menteri Pertanian RI mengalokasi dana Publik Service Obligation (PSO) Cadangan Benih Nasional (CBN) melalui PT Pertani Wilayah Pemasaran PT Pertani (Persero) Sumatera Bagian Utara Rp 518 miliar.

Dana dialokasikan untuk pengadaan benih padi non hibrida, padi hibrida, jagung komposit, jagung hibrida, kedelai serta biaya distribusi, pengolahan dan penyegaran. Dari anggaran tersebut Rp 113 miliar diantaranya diberikan untuk Aceh yang dikelola oleh Cabang Pemasaran NAD Wilayah Pemasaran PT Pertani (Persero) Sumatera Bagian Utara.

Ketuanya yakni terdakwa Ir Budijon selaku Kepala Cabang Pemasaran NAD dan Sukimin selaku Kepala Seksi Proyek Pemerintah untuk Cabang NAD (Aceh). Namun demikian, dalam pengelolaan pengadaan benih yang berakhir pada 31 Desember 2011 tersebut, ditemukan kejanggalan. “Banyak anggaran dikeluarkan tidak sesuai Juknik dan Juklak CBN,” kata JPU.

Hasil audit Badan Pemeriksaan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), khusus anggaran untuk Aceh ditemukan kerugian negara hingga Rp 6,4 miliar dari anggaran Rp 113 miliar. Sehingga kedua terdakwa selaku penanggung jawab anggaran ini harus mempertanggunjawabkannya.

Ir Budijono dan Sukimin, dijerat sebagai orang yang melakukan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan perbuatan secara melawan hukum, memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. [habadaily]

AMP - Komisi Independen Pemilihan (KIP) belum menetapkan tahapan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Aceh 2017. Namun sesungguhnya, “perang” merebut dukungan telah berlangsung jauh-jauh hari. Bukan saja giat melakukan “kampanye” berbalut kunjungan kerja atau silaturahmi dengan warga. Tak jarang, sejumlah isu menohok satu sama lain dilemparkan ke ruang publik.

Dua bakal kandidat yang begitu kentara saling tohok adalah Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf. Dan publik mengetahui hubungan keduanya memang sudah tak harmonis. Berikut beberapa isu terkini yang di rangkum MODUS ACEH dari sejumlah media.
1. Zaini Abdullah libatkan SKPA berpolitik
Dua pekan terakhir bakal calon petahana Zaini Abdullah menjadi sorotan publik lantaran aktivitas safari politiknya ditengarai melibatkan banyak kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dan menggunaan fasilitas negara. Bahkan, laporan media pers menyebutkan sejumlah kepala SKPA diarahkan untuk ikut mengumpulkan fotocopy KTP demi melengkapi syarat Zaini Abdullah maju lewat jalur perseorangan.

Sedangkan aparatur sipil negara jelas-jelas dilarang untuk berpolitik praktis. Legislatif Aceh yang didominasi Partai Aceh merespon cepat isu ini. Mereka bahkan sudah mengundang gubernur Aceh untuk dimintai keterangan ihwal isu tersebut. Tapi pemerintah Aceh cepat merespon isu tersebut dan mengatakan, keikutsertaan sejumlah kepala SKPA tersebut berkaitan dengan agenda kunjungan kerja Zaini Abdullah sebagai gubernur Aceh ke sejumlah kabupaten/kota untuk menyerap aspirasi. Dengan keikut sertaan pejabat teknis terkait, maka diharap aspirasi itu bisa cepat terakomodir masuk dalam agenda kerja masing-masing dinas.

2. Gubernur Aceh didorong untuk segera mengibarkan Bendera Bintang-Bulan
Lama tak terdengar, isu Bendera Aceh kembali dibergulir. Menjadi isu hangat lantaran anggota legislatif Aceh mengibarkan Bulan-Bintang saat rapat paripurna beberapa waktu lalu. Arahnya sudah sangat jelas. Pemerintah Aceh didesak untuk segera mengibarkan Bulan Bintang lantaran dianggap telah resmi, kerena sudah disahkan DPRA jauh-jauh hari lewat sebuah qanun. Keputusan ini jelas tak mudah bagi pemerintah Aceh. Sebab, Pemerintah pusat lewat kemendagri belum setuju Bulan-Bintang diimplementasikan lantaran masih berbau saparatis dan tak sesuai dengan regulasi. Bagi sebagian warga Aceh, khususnya di kota, isu bendera tak begitu menjadi atensi. Tapi di kawasan perkampungan, bendera Aceh memiliki nilai yang besar karena dianggap sebagai bukti perjuangan dan nasionalisme ke Acehan. 

3. Muzakir Manaf gunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi
Bakal calon gubernur dari Partai Aceh Muzakir Manaf juga mendapat sorotan. Baru-baru ini, Muzakir Manaf dikritik lantaran menggunakan fasilitas negara (pendopo wakil gubernru) untuk kegiatan khitanan anak lelakinya. Sebuah surat beredar yang memerintahkan sejumlah apartur setda Aceh untuk ikut terlibat dalam agenda keluarga Muzakir Manaf. Kontan, isu ini dikomentarai banyak kalangan. Prilaku yang dipertontonkan oleh orang nomor dua di Aceh itu dinilai sangat tidak baik dan menjadi tanda tanya besar bagi publik. Legislatif juga didesak untuk merespon hal ini. Tapi Ketua Komisi I DPRA Abdullah Saleh mengatakan, belum ada larangan penggunaan fasilitas pemerintah untuk keperluan pribadi, seperti acara khitanan.

4. Kepemimpinan Muzakir Manaf di Partai Aceh dinilai sudah salah arah
Di beberapa kesempatan, Zaini Abdullah yang juga anggota Majelis Tuha Peut Partai Aceh melemparkan penilaian terhadap kondisi partainya yang dianggap telah melenceng dari semangat awal pembentukannya. Zaini juga menilai itu terjadi lantaran ulah segelintir oknum partai tersebut. Tak sulit menerka kemana arah penyataan Zaini itu. Saat ini Muzakir Manaf tercatat sebagai Ketua Umum Partai Aceh. [*]

Sumber: ModusAceh.com

AMP - Panglima Sagoe Teungku Chik Buloh, Pon Yahya, menegaskan dukungannya kepada pergerakan Rakan Mualem yang bertujuan memenangkan H. Muzakir Manaf dalam Pemilukada 2017 mendatang. Hal ini disampaikannya dalam forum temu ramah Rakan Mualem Kuta Makmur Aceh Utara dengan masyarakat di Keude Buloh Blang Ara, Aceh Utara, Minggu, 3 April 2016.

"Partai Aceh wajib menang dalam Pilkada 2017. Muzakir Manaf harus menjadi ulee pemerintahan Aceh," ujar Pon Yahya seperti rilis yang dikirimnya ke portalsatu.com.

Dia mengatakan Mualem, sapaan akrab Muzakir Manaf, adalah tokoh yang sangat pantas menjadi gubernur. Pon Yahya juga mengatakan Mualem mampu menyelesaikan persoalan Aceh sekarang. "Karena beliau sangat mengerti dan mampu menyelesaikan persoalan Aceh sekarang," ujarnya.

Hadir dalam pertemuan ini Ketua Partai Aceh Kuta Makmur, Puteh, Anggota DPRK Aceh Utara Arafat dan Nurdi Hasbi.

Pon Yahya mengatakan di DPT Kuta Makmur terdapat 15 ribu pemilih untuk Pemilukada 2017 ini. "Kiban cara kali nyoe, meusiribe pih bek lheuh suara keu gob," ujarnya.

Dia mengaku siap membantu Rakan Mualem Kuta Makmur untuk deklarasi dalam waktu dekat. "Saya siap membantu," katanya.[portalsatu.com]

AMP - Malaysia telah mengerahkan kapal dan pasukan dari kesatuan angkatan lautnya untuk meningkatkan keamanan sehubungan terjadinya penculikan empat warga Malaysia oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina pada Jumat malam, 1 April 2016.

Seperti dilansir dari Globalnation Inquirer, empat warga Malaysia diduga diculik anggota Abu Sayyaf di Semporna, Malaysia.

Sumber militer membenarkan informasi tentang penculikan empat warga Malaysia oleh delapan pria bersenjata yang menerobos kapal yang dioperasikan para korban pada Jumat lalu sekitar pukul 6 sore waktu setempat.

Gerombolan pria bersenjata itu menggunakan perahu motor. Mereka mengaku, sebagaimana dikutip dari laman Malaysia News, sebagai anggota Abu Sayyaf dan membawa paksa korban bersama mereka.

Para pelaku menggunakan bahasa Inggris dan Filipina. Selain menculik empat warga Malaysia, kelompok Abu Sayyaf merampas laptop, uang tunai, dan telepon seluler korban. Mereka kemudian melarikan diri dengan membawa empat warga Malaysia tersebut ke pulau kecil di Sabah.

Mayor Filemon Tan dari Komando Militer Mindanao Barat membenarkan laporan itu, tapi ia mengatakan pihaknya masih menyusun rincian.

Pekan lalu, Abu Sayyaf menculik 10 warga negara Indonesia yang bekerja di kapal di Provinsi Tawi-Tawi dan menuntut uang tebusan Rp 15 miliar untuk pembebasan sandera.

MALAYSIA NEWS | GLOBALNATION INQUIRER | MECHOS

SEPULUH warga negara Indonesia yang diduga disandera kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina, masih belum jelas nasibnya.

Militan yang kebanyakan berbasis di Jolo, Basilan dan Mindanao itu sudah meminta uang tebusan. Sementara pemerintah Indonesia, khususnya pasukan penyelamat sudah siaga.

Nah, mantan instruktur Kamp Hudaibiyah, Filipina Selatan, Ali Fauzi angkat bicara soal pembebasan sandera. Pemerintah diminta mematangkan konsep pembebasan sandera. "Sebab, kemungkinan besar semua sandera tersebut tidak dikumpulkan secara bersama-sama. Tetapi, dipisah-pisah menjadi rombongan yang lebih kecil,’’ paparnya, seperti dikutip dari Jawa Pos.

Menurut dia, ini adalah cara standar yang diketahuinya ketika masih menjadi combatant di Filipina Selatan satu dasawarsa lalu. ’’Mereka (Abu Sayyaf) lahir dari situasi yang sulit dan terbiasa hidup yang sulit. Ilmu survival mereka sangat tinggi. Dan mereka sangat terlatih,’’ tambahnya.

Ali Fauzi menyatakan, opsi serangan militer sebaiknya ditaruh paling akhir. Menurut dia, wilayah yang 'dikuasai', lebih mendukung Abu Sayyaf ketimbang penyerangnya.

’’Saya tahu sendiri. Dan bahkan Rangers (pasukan khusus tentara Filipina) belum bisa mengontrol wilayah Mindanao dan Abu Sayyaf,’’ katanya.[] sumber: JPNN.com

AMP - Seorang wanita diamankan di Bandara Kualanamu, Deliserdang, Sumut. Ia diamankan karena kedapatan menyimpan 900 butir ekstasi di dalam celana dalamnya.

“Wanita itu berinisial Y (30). Ia merupakan warga Aceh” kata Pelaksana Tugas Manager Humas dan Protokoler Bandara Kualanamu Wisnu Budi Setianto dilansir detik, Sabtu 2 April 2016.

Pengungkapan itu bermula ketika calon penumpang pesawat Lion Air nomor penerbangan JT 932 tujuan Balikpapan ini menjalani pemeriksaan sebelum berangkat sekitar pukul 12.00 WIB hari ini.

Saat menjalani pemeriksaan di Security Check Point, petugas Avsec melihat gerak-gerik wanita itu mencurigakan. Atas hal itu, petugas pun melakukan pemeriksaan badan terhadapnya.

“Hasil pemeriksaan, yang bersangkutan membawa narkoba jenis ekstasi sebanyak 900 butir yang disimpan di celana dalam yang dikenakannya,” terang Wisnu.

Kini, wanita itu telah diserahkan ke Mapolres Deliserdang untuk pemeriksaan lebih lanjut.[Klikkabar]

AMP - Salah satu cafe di kawasan pantai rancung, kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, yang diduga merupakan lokasi maksiat dibakar oleh sejumlah massa yang juga diduga anggota Front Pembela Islam (FPI), Minggu dini hari (3/4/2016) sekitar pukul 00.15 WIB.

Informasi yang dihimpun ACEHXPress.com dari sejumlah sumber menjelaskan, massa yang diperkirakan seratusan orang ini datang menggunakan sejumlah kendaraan roda empat dan sepeda motor dengan memakai pakaian serba putih, setiba di lokasi kejadian langsung menyiram minyak dan membakar salah satu cafe tersebut.

Sumber tersebut juga menjelaskan, saat kejadian itu padahal cafe yang dibakar oleh massa tersebut dalam kondisi ditutup atau tidak dibuka dan tidak ada pengunjung. Bahkan, dikatannya lagi, kedatangan massa itu tanpa pemberitahuan sehingga warga di seputaran lokasi hanya bisa menonton aksi pembakaran tersebut.

Saat kejadian itu berlangsung, ratusan warga yang mengetahui kejadian itu langsung menuju lokasi kejadian untuk melihat langsung aksi itu. Hingga berita ini ditayangkan, ACEHXPress.com belum berhasil menghibungi pemilik cafe tersebut dan massa yang melakukan pembakaran itu. [
ACEHXPress.com]

AMP - Sedikitnya empat warga Malaysia diculik kelompok Abu Sayyaf di perairan Malaysia. Kapal tugboat milik korban dicegat sejumlah pria bersenjata di dekat wilayah Semporna, Sabah, Malaysia.

Disampaikan sumber militer Filipina, seperti dilansir media lokal Inquirer.net, Sabtu (2/4/2016), bahwa delapan pria bersenjata yang menumpang perahu motor mencegat dan masuk ke atas tugboat yang ditumpangi para korban pada Jumat (1/4) malam waktu Malaysia.

Semporna merupakan wilayah yang terletak di pantai timur Sabah, wilayah Malaysia yang ada di Pulau Borneo. Menurut sumber militer ini, para pria bersenjata itu mengklaim sebagai anggota kelompok Abu Sayyaf.

Pria bersenjata itu memaksa korban untuk ikut bersama mereka. Ditambahkan sumber ini, para penculik membawa serta sebuah laptop, uang tunai dan sejumlah telepon genggam milik korban.

Para pelaku disebut berbicara dengan bahasa Inggris yang tidak lancar dicampur bahasa khas Filipina. Laporan awal menyebut, para pria bersenjata itu kabur membawa keempat korban ke sebuah pulau kecil di wilayah Sabah.

Mayor Filemon Tan dari Komando Militer Mindanao Barat telah mengkonfirmasi laporan penculikan warga Malaysia tersebut. Namun lebih lanjut, Tan menyatakan pihaknya masih mengumpulkan informasi detail soal penculikan ini.

Penculikan 4 warga Malaysia ini terjadi setelah penculikan 10 warga negara Indonesia (WNI) oleh kelompok Abu Sayyaf pada akhir Maret lalu. Kelompok Abu Sayyaf meminta tebusan 50 juta peso atau setara Rp 15 miliar dan mengultimatum pembayaran paling lambat pada 8 April mendatang.

Hingga kini, upaya penyelamatan 10 WNI itu masih berlangsung. Militer Filipina menolak tawaran bantuan militer Indonesia dalam operasi penyelamatan WNI, namun Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu menyatakan siap membantu jika Filipina membutuhkan.(winnetnews.com)
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget