Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

AMP - Tim gabungan Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Pidie, Kepolisian, TNI, Dinas Perhubungan dan Dinkes Pidie melakukan sweping angkutan umum yang dipusatkan di Terminal Terpadu Sigli, Senin (19/6/2017).

Tak hanya itu, petugas juga menyasar para pengemudi bus untuk dites urin yang dikawal ketat petugas.

Hasilnya, ditemukan seorang supir bus, HS warga Blang Aman, Kabupaten Aceh Utara, yang positif sebagai pengguna narkoba jenis sabu.

Kepala BNNK Pidie AKBP Werdha Susetyo kepada BERITAKINI.CO mengatakan, tes urin langsung dilakukan di lokasi terminal tersebut.

"Dari sejumlah sopir angkutan umum yang kita tes urin, satu orang positif menggunakan sabu, dan dua lainnya menggunakan obat-obatan," kata Werdha.

Dengan adanya temuan tersebut, Werdha berharap Organisasi Angkutan Darat (Organda) memperketat pemeriksaan terhadap sopir, terutama saat arus mudik lebaran.

"Sopir bus harus bebas dari narkoba dan obat-obatan berdosis tinggi untuk menjamin keselamatan penumpang," ujarnya.

Gabungan personil juga melakukan penggeledahan seisi mobil hingga tas panumpang untuk memastikan tidak ada penyimpanan narkoba saat arus mudik.

Polisi juga memastikan tidak ada barang selundupan dari Banda Aceh ke Sumatera Utara atau sebaliknnya menggunakan angkutan umum.(
BERITAKINI.CO)

AMP - Anggota DPRK Abdya Reza Mulyadi babak belur diduga dihajar oknum TNI Angkatan Darat, di depan Toko UD Berkah Sejahtera, Desa Keude Paya, Kecamatan Blangpidie, Senin (19/6/2017). Pemicunya lantaran Reza dituding menggoda istri Kopral Dua (Kopda) Ismuhadi, anggota Koramil Kuala Batee.

Kepada wartawan, Dandim 0110 Abdya Letkol Puji Hartono menjelaskan, kasus itu bermula saat Ismuhadi menemukan istrinya yang sedang melakukan video call dengan Reza. “Si istri ini baru keluar dari kamar mandi, menggunakan handuk sambil video call,” katanya seperti yang dirilis sejumlah media pers.

Mediasi itu, katanya, juga dihadiri Ketua DPRK Abdya Zaman Akli dan geuchik Geulumpang Payong.

“(Kejadian) ini karena tidak sabar menunggu proses hasil itu (kesepakatan),” katanya.

Puji mengatakan, Ismuhadi bersama seorang rekannya lantas menemui Reza di toko tersebut. Tujuannya, untuk mempertanyakan kejelasan realisasi kesepakatan sebelumnya.

“Namun saat mereka berada di toko bangunan itu, keduanya sempat cek cok. Bahkan adik dari Reza, yang juga berada di toko saat itu, sempat mengambil parang dan melempar anggota Kodim dengan batu,” paparnya.

Situasi semakin tegang dan mengundang perhatian para pengguna jalan.

Tidak lama, datang sejumlah anggota TNI Kodim 0110 Abdya, termasuk personel polisi dari Polres Abdya dan Polsek Blangpidie untuk mengamankan situasi. Reza Mulyadi dan adiknya Azmi dibawa ke Kodim Abdya

Minta Rp 200 juta dan 2 Ekor Kerbau

Sementara Reza Mulyadi yang dikonfirmasi BERITAKINI.CO membenarkan jika dia sempat berkomunikasi dengan istri Ismuhadi melalui video massanger. Tapi dia mengaku tidak menggoda, apalagi berbuat macam-macam.

“Demi Allah saya tidak macam-macam dengan istrinya,” kata Reza, Senin malam (19/6/2017).

Reza mengungkapkan, kejadian itu bermula sejak Minggu 11 Juni 2017. Saat itu, istri Ismuhadi menginboxnya untuk menanyakan kabar.

Reza lantas menghubunginya. Menurut Reza, dia hanya sekedar basa basi. “Di sini saya akui saya salah, menghubungi istri orang,” katanya.

Tapi, panggilannya itu sesungguhnya tak terjawab. Setelah itu, kata Reza, istri Ismuhadi balik menghubunginya.

Selesai berkomunikasi, kata Reza, dia pergi salat di kawasan Susoh. Setelah salat ia langsung pulang ke rumahnya.

Sejak saat itu, katanya, dia mendapat banyak laporan dari kerabatnya bahwa dia dicari oleh beberapa oknum yang belakangan diketahui adalah tentara.

“Sorenya ada juga orang datang ke rumah, jadi takut orang rumah. Kemudian saya cari tahu, ternyata memang anggota, saya langsung ingat kalau ini pasti masalah tadi,” ungkapnya.

Mengetahui hal itu, dia mengajak kawan-kawan yang bisa diajak berkomunikasi untuk memfasilitasi dan mencari solusi.

Ternyata, oknum tentara itu masih terus mencarinya bahkan hingga ke kantornya di gedung DPRK Abdya.

“Seorang anggota satpol PP memberi tahu saya bahwa ada orang yang mencarinya, sejak saat itu saya semakin waspada,” katanya.

Selain itu, kata Reza, seorang yang diduga Ismuhadi juga sempat melayangkan SMS padanya. “Hey dimana kau, jangan kau andal-andalkan GAM,” kata Reza menirukan bunyi SMS tersebut. Pesan itu tak diladeni Reza.

 Beberapa hari kemudian, kasus itu dimediasi oleh aparat kodim. Reza mengaku dia telah mengajukan permohonan maaf.

Danramil Kuala Batee, kata Reza, mengatakan kasus itu akan diselesaikan secara adat. Hal itu disampaikan pada Ketua DPRK Abdya Zaman Akli. Sejak saat itu, Reza menunggu kabar untuk penyelesaian secara adat tersebut.

Akhirnya, kata Reza, perkara tersebut dilimpahkan ke geuchik Geulumpang Payong, Kecamatan Blangpidie. Dia mendapat informasi dari geuchik bahwa syarat damainya adalah uang senilai Rp 200 juta dan dua ekor kerbau.

“Namun saya sampaikan kalau saya tidak punya uang sebanyak itu. Saya hanya mampu Rp 5 juta dan dua ekor kambing,” katanya.

Diduga tak menuai titik temu, Ismuhadi dan beberapa rekannya mendatangi Reza di tokonya di Blangpidie.

“Saya katakan pada dia saat dia pukul saya, Demi Allah saya tidak macam-macam dengan istrimu,” katanya.

Menurut Reza, adiknya Azmi memang sempat memegang parang saat sejumlah oknum tentara sedang cek cok dengannya. Namun parang itu merupakan peralatan kerja lantaran toko mereka merupakan penjual jasa pemasangan plafon rumah.

“Akibatnya, adiknya juga menjadi sasaran. Jadi mereka semua memukul saya dan adik saya. Saya melihat sudah banyak tentara yang datang, sekitar 60 orang. Kami babak belur,” katanya.

Reza menyesalkan aksi pemukulan tersebut. “Seharusnya kan ada saluran yang bisa digunakan, inikan negara hukum,” katanya.(beritakini.co)

Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha Waruwu memperlihatkan empat tersangka judi dan barang bukti. Foto: Safrizal
AMP - Empat dari sembilan tersangka judi yang diringkus Tim Situasi Tertib Aman untuk Rakyat (Star) Polres Lhokseumawe, pada Sabtu (17/6) masih ditahan di Polres Lhokseumawe, untuk menjalani pemeriksaan dan proses hukum sesuai ketentuan berlaku.

Kapolres Lhokseumawe AKBP melalui Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha Waruwu, Senin (19/6) kepada AJNN mengatakan, lima orang yang ikut ditangkap sudah diserahkan kepada pihak keluarga melalui keuchik gampong masing-masing.

"Empat orang lagi masih kami tahan di Mapolres Lhokseumawe, untuk diproses hingga ke pengadilan nantinya," kata Budi.

Budi Nasuha menyebutkan, empat orang yang masih ditahan di antaranya adalah dua oknum keuchik berinisial MH (40), SA (34) dan Kaur Pemerintahan TA (34), dan satu lagi RA (22) masyarakat biasa.

"Untuk empat tersangka tersebut masih dalam proses, rencananya keempat tersangka ini akan kami lanjutan hingga pengadilan, sesuai dengan undang-undang dan ketentuan Qanun Provinsi Aceh," jelasnya.

Hingga saat ini pihak kita sudah memintai keterangan dari sejumlah saksi dan ke empat tersangka judi masih kita tahan," sebut Kasat Reskrim.(AJNN)

AMP - Ada dua sudut pandang bagaimana mengira-ngira kemungkinan tekanan psikologis Jenderal Polisi Tito Karnavian sebagai Kapolri dalam konstelasi politik pasca 9 Mei 2017, yaitu dari perspektif media arus utama dan media sosial.

Jika melihat pada yang pertama, maka Kapolri terlihat baik-baik saja dan kalimat “aspek yuridis” seperti yang diungkapkannya pada bocoran video di suatu acara bersama “silent majority”, akan selalu tampak ditegakkannya meskipun terkesan ditujukan pada figur yang itu-itu saja.

Tentunya penampilan seperti itu diharapkan mendapat sambutan luas dari seluruh masyarakat, meskipun ternyata hanya sebagian tertentu saja.

Sebaliknya jika melihat kondisi Kapolri pada perspektif kedua, pada media sosial yang selalu saya sebut “jatuh utuh ke tangan Umat Islam”, keadaan Kapolri sama sekali tidak baik-baik saja.

Polisi seolah mati gaya dalam menjelaskan perlakuan berbeda antara Aksi Bela Islam dan Aksi Bela Ahok yang sangat jelas didukung oleh bukti-bukti visual, belum lagi masalah lainnya yang tidak kunjung reda menimpa kepolisian.

Munculnya video 16 menit berjudul “Fitnah Mesum Rekayasa Polisi???” yang menerangkan secara rinci logika hukum yang kini sedang dipaksakan pada Habib Rizieq Shihab atas tuduhan perselingkuhan, sudah mencerminkan bagaimana di lini tersebut sedang dilakukan perlawanan besar terhadap dugaan rekayasa fitnah dengan senjata berupa “logika hukum” dengan amunisi yang ditembakkan secara serentak oleh para ahli hukum, ahli IT, politikus dan pengamat.

Gempuran habis yang tidak membuat Kapori nyaman sebab logika hukum itu terus menantang logika versi Polri yang jika pada perspektif media sosial, jauh dari meyakinkan untuk diterima akal sehat.

Kegelisahan pada Kapolri juga selayaknya ditambah dengan dimunculkannya kembali secara meluas video ancaman dari “anonymous” yang menaruh perhatian besar sebab pihak misterius ini “dibawa-bawa” sebagai “pembocor” bukti perselingkuhan tersebut yang ternyata dibantahnya.

Beredarnya percakapan yang diduga antara Kapolri dan Kombes Argo Yuwono, mengindikasikan bahwa kata “anonymous” lumayan mengganggu apalagi percakapan itu juga mengindikasikan bahwa rekayasa besar sedang dilakukan oleh kepolisian! Bukankah itu adalah suatu penambahan tekanan bagi Kapolri?

Anonymous adalah jenius internasional, yang bukan tidak mungkin menjadi lawan main lembaga-lembaga keamanan dan intelijen dunia yang moncong laras panjangnya perlahan mengarah pada Indonesia. Umat Islam mungkin akan senang-senang saja seolah ini bonus bantuan yang datang dari “dunia lain”.

Sebagian pihak pasti akan mendorong moncong meriam itu mengeluarkan proyektil senyap yang membunuh banyak sistem informasi yang bisa menanggung kerugian besar dan menyebabkan kekacauan keamanan berbagai sektor atau membuka perang hacker seperti yang pernah terjadi antara Indonesia dengan Australia beberapa tahun silam, itu pun jika seluruh hacker garis lurus

Indonesia mau turun tangan, jika tidak? Apalagi karena sudah punya pandangan politik? Lagi pula belum tentu mereka mau menghadapi kelompok bertopeng ini apalagi bagian dari anonymous sendiri ada yang beredar di Indonesia entah siapapun itu.

Jangan pernah mengabaikan resiko ancaman di sektor IT dalam konstelasi politik sebab skala akibatnya bisa lebih besar dari “rush money”! Bukti adanya Undang-Undang IT di setiap negara adalah karena besarnya kerugian yang bisa ditimbulkan oleh kesalahan, pelanggaran dan serangan IT.

Video 16 menit ini juga seharusnya membuat Kapolri merasa tidak enak jika karangan isu bahwa TNI ingin melakukan kudeta dapat diindikasikan benar. Ini adalah tuduhan yang sangat sensitif dan membuat pihak terkait TNI dan masyarakat pendukungnya menjadi perlu bereaksi karena ini adalah tindakan melampaui batas apalagi jika karangan isu ini kemudian selaras dengan pihak-pihak yang menghendaki TNI menjauh dari garis Umat Islam dengan mengangkat bendera yang berarti Panglima TNI berada dalam posisi “off side”! Pihak TNI harus menginvestigasi karangan isu ini!

Jangan pernah memicu chaos dengan memanfaatkan celah TNI yang ketaatannya pada konstitusi bukan berarti kelemahannya.

Mereka adalah institusi bersenjata yang paling terlatih di negara ini dengan reputasi internasionalnya. TNI kian didukung dan diharapkan oleh rakyat ketika kekacauan-kekacauan kian melebar.

Lihat peristiwa 18 Mei 2017 di Makassar, aksi mahasiswa di sana menghendaki TNI mengambil alih pemerintahan! Saya rasa itu pernyataan yang jarang atau mungkin yang pertamakalinya sejak Jenderal TNI Soeharto “mengambil suatu tindakan yang dianggap perlu” di Republik ini pada tahun 1966.

Tuntutan ini adalah suatu bukti bahwa Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dengan sendirinya dikehendaki oleh rakyat untuk mengambil alih pemerintahan. Bukankah ini juga berarti suatu tekanan dan serangan memalukan bagi Kapolri?

Dari perspektif kedua, media sosial, Kapolri sudah dicitrakan sebagai musuh Umat Islam, sejenak malah lebih dari serangan kekecewaan pada Presiden Joko Widodo. Sedangkan di perspektif pertama, media arus utama, Habib Rizieq Shihab adalah sasaran dari citra negatif yang ditelan mentah-mentah oleh golongan tertentu tanpa berusaha secara rinci dan logis memperkuat bahwa tuduhan itu benar.

Sekiranya dari berbagai permasalahan dengan segala bukti yang telah dilakukan Kapolri dan institusinya lalu dipelihara oleh Umat Islam, maka selayaknya tekanan itu akan berbalik pada Kapolri sendiri sebab telah dan akan selalu direspons oleh beberapa pihak dari Ulama, masyararakat, aktivis, politikus, tokoh nasional, mantan pejabat tinggi, anggota parlemen dan pihak-pihak lainnya yang tidak bisa menahan diri untuk bersikap sebagai upaya pembelaan.

Tentunya perspektif kedualah yang akhirnya akan menjadi ukuran konstelasi politik di negara ini dan sayangnya, ukuran itu justru dilihat dari skala kegagalan hukum dan seberapa jauh Kapolri dan institusinya bertindak salah!

Oleh : Fahmi M.S Kartari

AMP - Kabar tak sedap datang dari kota udang cirebon, Pasalnya Aparat Kepolisian membubarkan pengajian Ramadhan yang berisikan acara Santunan yatim piatu, Bedah buku dan Buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh para Muallaf dan aktifis anti pemurtadan dengan pemateri Ust.  Bernard A Jabbar di Masjid Baiturrohim Kota Cirebon. Minggu (18/6/2017)

Dari info yang beredar, awalnya acara Kajian akan diselenggarakan di Masjid Pertamina Klayan namun di pindah ke Masjid Baiturrohim, karena adanya penolakan dari Presdir Pertamina.

Namun setelah lokasi acara di pindah ke Masjid Baiturrohim ternyata tetap masih ada intervensi yang datang dari aparat Kepolisian dengan meminta agar acara di batalkan, dan diancam apabila tetap dilaksanakan maka polres akan mengerahkan seluruh pasukan dan akan memproses hukum setiap orang yang ada di dalam masjid.

Pihak panitia acara dikabarkan sempat bernegosiasi dengan Kapolres Cirebon dan yang datang kelokasi agar acara tetap dapat terlaksana namun dengan format yg berbeda, bukan bedah buku akan tetapi hanya santunan yatim piatu dan buka puasa bersama.

Namun pihak aparat tetap menolak bernegosiasi, dan tepat pukul 12.43 WIB banyak anggota polisi disertai Ormas GMBI dan Macan Ali datang langsung membentuk formasi mengepung Masjid Baiturrohim, ketika salah satu dari peserta ( Ust. Andi Mulya) keluar pintu masjid beliau langsung di tarik dan di paksa untuk masuk ke dalam mobil, kemudian diikuti dengan semua peserta beserta Ust Bernard Abdul Jabbar selaku pemateri juga ikut dibawa ke Polres Cirebon Kota.

“kami masih menunggu tindak lanjut/kejelasan dari pihak aparat, mengapa kami di bawa padahl kami ingin beribadah,menyantuni anak yatim, dn berbuka puasa bersama, apakah umat Islam di negara ini di larang utk beribadah mengadakan kegiatan keislaman? Sdh tdk ada kah hak & keadilan utk umat islam saat ini?” Tulis Rifa’i Iwan salah seorang peserta pengajian dalam pesan WhatsApp nya.

Sampai berita ini di tulis pihak panitia dan para peserta masih menunggu kejelasan dari pihak aparat Kepolisian atas alasannya membawa peserta ke Mapolres Cirebon padahal ingin mengisi bulan ramadhan dengan beribadah. (mediaharapan.com)

AMP – Meskipun sudah berusia 111 Tahun, Nek Rakibah, sampai saat ini masih tinggal di gubuk reyot bersama kedua putrinya, Hamidah dan Maimunah. Nek Rakibah merupakan seorang tua renta dan juga menjadi manusia tertua di Gampong Suka Jaya Laweung, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie. Sejauh ini, belum ada sentuhan apapun baik dari Pemerintah setempat atau pihak lainnya terhadap keluarga mereka.

Hamidah, anaknya yang juga umurnya sudah lanjut mengalami kebutaan, keseharian hanya bisa menghabiskan sisa umurnya di gubuk reot milik ibunya. Dia tidak bisa bekerja apa-apa lagi, ia hanya bisa menikmati sisa umurnya yang sekarang sudah mencapai 65 tahun lebih dalam keadaan tanpa penglihatannya.

Begitu pula dengan Maimunah, yang saat ini sudah berumur mendekati 60 tahun yang saat ini kondisi kakinya sedang terkilir. Mengingat dirinya seorang tulang punggung keluarga, ia tetap harus bekerja meski serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari. “Banting tulang sudah menjadi hal biasa bagi saya, mengingat saya harus mememenuhi kebutuhan untuk Mak dan Kak Midah yang sudah tidak memungkinkan untuk bekerja lagi.” Jelas Maimunah kepada Ceritapidie saat menyambangi gubuk mereka. Jum’at (16/16).

“Sebenarnya saya ingin membangun tempat tinggal yang layak untuk kami, tapi sampai saat ini cita-cita saya itu masih belum kesampaian. Kami masih harus lebih bersabar untuk bisa menempati rumah yang layak.” Ungkapnya.

Munawar Iskandar, yang merupakan salah satu Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Pidie, yang sempat dimintai keterangan oleh Ceritapidie. Jum’at (16/6) mengatakan, kondisi seperti ini perlu perhatian dari berbagai pihak untuk menampung atau menyuarakan aspirasi masyarakat seperti keluarga Nek Rakibah tersebut, maka perlu kesadaran secara kolektif baik dari masyarakat sekitar maupun pihak-pihak yang seharusnya berkewajiban untuk memperhatikan keluarga nek rakibah.

“Saling memperhatikan, adalah kewajiban kita bersama, apalagi di bulan Ramadhan ini merupakan momentum bagi kita untuk saling membantu dan saling berbagi dengan mereka-mereka yang perlu untuk kita bantu dan perhatikan.” Tutup Munawar. (ceritapidie.com)

AMP - Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor kontra becak menyebabkan dua korban meninggal dunia di Jalan Elak Desa Tanjong Kumala, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Senin (19/6) sekira pukul 08.30 WIB.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Hendri Budiman melalui Kapolsek Sawang Iptu Ridwan mengatakan dugaan sementara, laka lantas sepeda motor kontra becak tersebut terjadi ketika becak barang yang melaju dari arah barat ke timur dengan kecepatan sedang, sementara dari arah berlawanan sepeda motor honda Vario yang melaju dalam kecepatan tinggi diperkirakan mengambil jalan agak melebar ke arah kanan, dan seketika itu pula salah satu sepeda motor lainnya tiba-tiba muncul di depan korban.

"Pengendara sepeda motor vario hilang kendali saat secara tiba-tiba muncul sebuah sepeda lainnya dari arah berlawanan sehingga korban langsung menghantam sebuah becak barang," jelas Kapolsek.

Ridwan menyebutkan dua pengendara yang meninggal dunia akibat peristiwa naas tersebut yaitu pengedara becak, Zulkifli Yahya (44) warga Desa Beuyot, Kabupaten Bireun, Awaluddin (42) pengendara sepeda motor vario warga Desa teupin Ara, Kecamatan Samudera.

"Setelah pihak Puskesmas memastikan korban sudah tidak lagi bernyawa, pihak kita langsung berupaya menghubungi keluarga korban serta mengamankan barang bukti ke unit laka lantas," ujarnya.(AJNN)

AMP - Tentara Filipina masih belum mampu menguasai kota Marawi dari tangan militan Maute yang berafiliasi dengan ISIS. Sniper dan ranjau ISIS berhasil menghentikan langkah pasukan Filipina dan membuat mereka kewalahan. 

Sersan teknis militer Filipina Mahamud Darang mengakuinya sendiri. Kepada Reuters, Kamis (15/6), Darang mengatakan formasi tentara langsung lumpuh setelah sniper ISIS menyerang. 

Dalam salah satu peristiwa, ketika tentara dengan kendaraan lapis baja menyeberang Sungai Agus menuju pusat kota Marawi, mereka dihujani tembakan oleh sniper ISIS. 

Sniper ISIS menembaki mereka dengan peluncur granat. Granat pertama, kata Darang, meledak di depan mereka. Penembak jitu ISIS itu ada di lantai tiga bangunan. Ketika terdeteksi, dia langsung menembak lagi.

"Dia ada di lantai tiga bangunan. Lalu tembakan kedua tepat masuk ke dalam kendaraan dan meledak," kata Darang.

Seorang tentara tewas dalam peristiwa itu, Darang dan tentara lainnya terluka akibat pecahan peluru. Dalam keadaan pendarahan hebat, Darang memerintahkan pasukannya berlindung di balik bangunan.

Pasukan lainnya juga dihujani tembakan oleh sniper ISIS ketika melintasi jembatan Mapandi di atas Sungai Agus. ISIS juga melempari bom Molotov. 

Pertempuran itu berlangsung selama 14 jam dan menewaskan 13 tentara dan melukai 40 lainnya. Peristiwa ini menjadi salah satu pukulan terbesar bagi tentara Filipina yang berjuang merebut Marawi dari sekitar 150-200 tentara ISIS yang tersisa.

Militer Filipina mengakui sniper ISIS sangat piawai dalam menembak. Mereka juga pandai memanfaatkan bangunan tinggi di Marawi yang kebanyakan dari beton tebal seperti benteng. 

Senjata sniper ISIS yang paling ditakuti adalah Barrett kaliber .50 buatan Amerika Serikat.

"Sniper mereka sangat pandai, mereka memastikan setiap tembakan yang dilepaskan berhasil membunuh atau melukai," kata Pendaton Guro, mantan kolonel Filipina yang tinggal di Marawi.

Guro menyaksikan pertempuran di kota itu dari atap rumahnya. Jika tentara menggunakan kendaraan lapis baja, kata Guro, militan menembak dengan roket peluncur granat (RPG) yang bisa menembus besi.

"Para pemimpin Maute dilatih di luar negeri. Sulit mengalahkan mereka," kata Guro.
Tentara Filipina menghadapinya dengan papan kayu untuk menghadapi RPG ISIS. Menurut seorang tentara, "granat akan meledak ketika menghantam papan kayu, dan tidak akan meledak di besi."

Pertempuran berlangsung sejak 23 Mei lalu. Tentara mengatakan, moral pasukan ISIS sudah turun. Mereka saling memanggil bantuan lantaran pasukan amunisi, makanan, dan senjata kian menipis.

"Mereka memanggil satu sama lain, meminta bantuan, mengira yang sudah kabur. Moral mereka turun," kata petugas radio.

Namun tidak hanya ISIS yang moralnya turun, tentara Filipina juga demikian. Seorang tentara yang telah menghabiskan sembilan hari di garis depan mengeluhkan kekurangan perangkat tempur.

"Kami tidak punya rompi anti peluru, helm, atau senjata baru," kata seorang tentara Filipina.

Militer mengatakan 290 orang tewas dalam pertempuran di Marawi, terdiri dari 58 tentara, 206 militan, dan 26 warga sipil. Namun diduga jumlahnya lebih dari itu. Berdasarkan pengakuan warga yang berhasil kabur, mereka melihat setidaknya 100 jasad di medan perang.(Kumparan)

AMP - Personel Satuan Reskrim Polres Langkat, Sumatera Utara mengamankan truk intercooler BK 8519 DB asal Aceh bermuatan empat peti papan berisi 549 kilogram ganja kering, Kamis (15/6) sekitar pukul 21.30 WIB.

Dalam penangkapan tersebut, salah seorang tersangka berinisial MZ, terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas karena berusaha kabur dan melawan petugas.

Berdasarkan pengakuan sopir truk, IS (43), warga Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie dan kernet berinisial MZ (30), warga Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie, ratusan ganja yang mereka bawa itu berasal dari Kuala Simpang, Aceh Tamiang.

Keterangan yang dihimpun Analisadaily.com, aksi penangkapan berawal dari informasi masyarakat yang melaporkan ada salah satu truk diduga kuat membawa ratusan kilogram narkoba jenis ganja.

Selanjutnya, petugas melakukan sweeping di depan pos lantas Sei Karang, Kelurahan Kwala Bingai, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat dan menyetop setiap kendaraan yang sedang melintas di lokasi razia.

Ketika itu, petugas menghentikan truk tronton yang sedang melintas. Saat salah satu petugas naik ke atas truk untuk memeriksa, pelaku langsung tancap gas dan membuat personel kalang kabut. - Sumber     :     analisadaily.com
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget