Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

Tiga pesawat militer bergantian menjatuhkan bom ketika bendera kebangsaan Filipina dikibarkan dalam rangka perayaan hari kemerdekaan di Marawi. (Reuters/Romeo Ranoco)
AMP - Tiga pesawat OV-10 bergantian menjatuhkan bom ketika bendera kebangsaan Filipina dikibarkan dalam rangka perayaan hari kemerdekaan di Marawi, kota di mana bentrokan militer dan militan Maute terus memanas sejak dua pekan lalu.

"Kepada seluruh saudara Muslim kami di sana, kami berpesan kepada mereka untuk menghentikan pertarungan tak berarti mereka karena kita semua Muslim," ujar Gubernur Lanao Del Sur, Mamintal Adion Jr, di hadapan para tentara yang menjadi peserta upacara di Marawi, Senin (12/6).

Upacara bendera biasanya diadakan dua kali dalam sepekan di Filipina. Namun, ini merupakan kali pertama bendera dikibarkan di Marawi pasca pecahnya bentrokan yang sudah menewaskan lebih dari 100 orang sejak 23 Mei lalu.

Bentrokan itu pertama kali pecah ketika militer Filipina melakukan operasi untuk menangkap pemimpin Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, yang disinyalir juga mengepalai kelompok Maute.

Sebagaimana dilansir Reuters, Hapilon merupakan sosok yang disebut-sebut sebagai pemimpin upaya pendirian kekhalifahan ISIS di Asia Tenggara.

Presiden Rodrigo Duterte pun mendeklarasikan darurat militer di seluruh Mindanao dan memerintahkan pemberantasan kantung-kantung ISIS di Filipina sesegera mungkin.

Dalam pidato perayaan hari kemerdekaannya, Menteri Luar Negeri Filipina, Allan Peter Cayetano, pun mengatakan bahwa ancaman ISIS di negaranya memang benar-benar nyata.

Menurutnya, ISIS sedang berupaya merebut dua hingga tiga kota di Mindanao. Ia pun mengatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan Indonesia dan Malaysia untuk mencegah penyebaran militan ISIS yang lebih luas.

Tak hanya negara kawasan, Filipina juga dilaporkan bekerja sama dengan Amerika Serikat. Seorang pejabat AS mengatakan, dukungan dari negaranya mencakup sistem pengawasan, pemantauan elektronik, dan pelatihan.

AS memang sudah tidak memiliki militer permanen di Filipina. Namun, masih ada sekitar 50 hingga 100 personel pasukan khusus AS yang tersisa di selatan Filipina untuk latihan rutin.

Meski demikian, Duterte sendiri mengaku tak mengetahui keberadaan pasukan AS ini. Ia menegaskan, Filipina tak pernah meminta bantuan AS untuk menumpas militan di Marawi.(Sindo)

Assalamualaikum, Allah Akbar, Allah Akbar, Allah Akbar,
Ulon katroh teuka u Atjeh
Saleum meusyeuhu

Itulah kalimat yang diucapkan dengan nada bergetar oleh Paduka Nyang Mulia Mukarram Maulana Al Mudabbir al-Malik Dr. Tengku Hasan M. di Tiro, B.S.,M.A.,LL.D. Ph.D, Sabtu (11/10/2008) sekitar pukul 13.00 WIB, tepatnya pada 10 Idul Fitri 1429 Hijriah di atas panggung besar berdekorasi adat, di depan Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Murizal Hamzah dalam buku: Hasan Tiro, Jalan Panjang Menuju Damai Aceh, terbitan Bandar Publishing, 2014, menuliskan, sepenggal kalimat bergetar itu diucapkan oleh Hasan Tiro di hadapan 100 ribu warga yang menyambut kepulangan Hasan Tiro.

Dalam buku tersebut, Murizal Hamzah menuliskan juga, usai mengucapkan salam pembuka, ia segera menyerahkan microfon (pengeras suara-red) kepada mantan Perdana Menteri GAM Malik Mahmud untuk membaca naskah pidato atas nama Hasan Tiro. Inti orasi yang dibacakan oleh Malik Mahmud itu secara umum menyerukan menjaga perdamaian.

Kepulangan deklarator Aceh Merdeka itu merupakan buah dari lahirnya Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005 yang dimediatori oleh Crisis Management Initiative (CMI). Dua tahun kemudian pasca hadir di Baiturahman, Hasan Tiro mendapatkan surat keputusan menjadi WNI. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 2 Juni 2010. Surat keputusan tersebut diserahkan oleh Djoko Suyanto. Besoknya pada Kamis 3 Juni 2010, pada usia 85 tahun Hasan Tiro meninggal dunia.

Dalam sebuah artikelnya yang dimuat oleh aceHTrend pada 3 Juni 2017, Yusra Habib Abdul Gani (tokoh GAM di luar negeri) menulis sebuah tulisan berjudul: Di Mata Hasan Tiro Aceh Sudah Merdeka?. Dalam artikel tersebut ia menguraikan sebagai berikut:
Di celah-celah perundingan, Hasan Tiro menerima laporan bahwa “MoU Helsinki merupakan kemenangan besar, karena telah mengalahkan Indonesia dan menoreh sejarah gemilang bagi Aceh menuju merdeka. Enam pasal MoU Helsinki sudah cukup untuk mengatakan Aceh menang dan merdeka. MoU ini telah memberi ruang kepada Aceh untuk bergerak bebas walaupun Indonesia tidak sadar akan hal ini. Aceh benar-benar merdeka –satu bendera, satu lagu dan satu bahasa– Tengku dapat kembali ke Aceh untuk memproklamirkan kemerdekaan Aceh untuk kali kedua.” (Laporan Bakhtiar Abdullah kepada Hasan Tiro (tarikh?). Dokumen ini kami simpan. Apapun kisahnya, yang pasti Hasan Tiro baru memperoleh naskah MoU Helsinki dua minggu sebelum penandatanganan MoU Helsinki. Itupun, setelah Abdullah Ilyas mengirimnya melalui fax. dari Kantor Post Rotterdam, Belanda; bukan dari tangan juru runding GAM. (Yusra Habib Abdul Gani, Satus Aceh Dalam NKRI: 2008).

Pasca penandatanganan MoU Helsinki dikatakan: ”kita telah berhasil membuat satu perjanjian dengan pihak pemerintah Indonesia. Apa yang diputuskan merupakan satu langkah dari banyak langkah ke depan yang akan kita ambil alih untuk mengamankan dan memakmurkan Aceh. Kita akan bentuk pemerintahan sendiri (self-government) di Aceh seperti tertulis dalam MoU sesuai dengan kehendak bangsa Aceh, seperti bebas dalam hal politik, ekonomi, pendidikan, agama, hukum, keadilan secara demokrasi.” (Malik Mahmud, 15 Agustus 2005). Realitas yang terjadi ternyata tidak dapat diemplementasikan. Propaganda ini dipakai untuk meyakinkan Hasan Tiro supaya mau pulang ke Aceh, yang kemudiannya dikorbankan. Selanjutnya

AMP - Ketika Teuku Umar masih bekerja sama dengan Belanda, sekitar Februari-Maret 1896, yang bertepatan dengan bulan Ramadan 1313, ia menolak berperang karena umat Islam tengah menjalankan ibadah di bulan suci.

"Gubernur Belanda kemudian mengundurkan perang sampai sehabis Hari Raya Idulfitri,” tulis Mardanus Sofwan dalam Teuku Umar (1982). Sesudahnya, Teuku Umar kembali ke barisan Aceh dan berperang melawan Belanda.

“Bulan Januari 1899 Jenderal van Heutsz datang sendiri ke tempat paling utama di pantai barat Meulaboh. Di sekitar sinilah disinyalir Teuku Umar berada,” tulis Paul van t'Veer dalam Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje (1985).

Medio Januari 1899 adalah bulan Ramadan 1316 H. Di akhir puasa, jelang lebaran, Teuku Umar di ujung tanduk. “Tanggal 10 Februari, suatu detasemen diberi perintah untuk menyergap perkemahannya. Umar telah mengetahuinya ... pada malam itu juga dia berangkat dengan para legiun menempuh jalan putar ke Meulaboh dan gilirannya menyerang kota ini.”

Sialnya, sepasukan militer Belanda yang dipimpin Letnan Verbrugh telah menyebar pasukannya di dekat pantai. “Beberapa jam kemudian," tulis van t'Veer, "tiba-tiba dia melihat dalam gelap, banyak kerumunan orang Aceh muncul. Tembakan dilepaskan.”

Pasukan Aceh itu panik. Sementara pasukan Belanda, karena kalah jumlah, memilih mundur. Di hari-hari berikutnya, diketahui bahwa yang tewas pada 11 Februari 1899, atau sekitar tanggal 30 Ramadan 1316 itu, di antaranya adalah Teuku Umar.

Tak hanya Teuku Umar yang dilumpuhkan pada bulan puasa. Salah satu istrinya, seorang pahlawan bangsa Aceh, Cut Nyak Dien, juga dilumpuhkan di tahun-tahun sesudahnya pada bulan Ramadan.

Pada tengah malam, 6 November 1905, bertemulah Panglima Laot dengan sepasukan serdadu patroli Kompeni. Mereka harus bergerak cepat melalui jalur hutan di Beutong Le Sageu (Nagan Raya) yang becek karena hujan. Jelang fajar, barulah serdadu-serdadu itu tiba ke lokasi tujuan.

Itu sebuah wilayah perkemahan yang agak lapang. Terlihat oleh serdadu-serdadu itu bahwa segerombolan orang Aceh tengah duduk melingkari api unggun. Mereka melihat senjata yang sudah kuno. Pakaian mereka compang-camping.

“Dengan tidak sengaja, senjata yang ada di tangan seorang anggota patroli meletus. Orang-orang yang sedang duduk mengelilingi api unggun itu terperanjat. Mereka langsung berdiri dan memegang kelewang yang terhunus,” tulis Madelon H. Székely-Lulofs dalam Cut Nyak Dien: Kisah Ratu Perang Aceh (2007).

Cut Nyak Dien berusaha menghindari pengepungan tak terduga itu. Ia sudah buta dan sulit bergerak cepat. Ia pun tertangkap. Dalam kondisi terkepung, ia menarik rencongnya.

“Ya Allah, Ya Tuhan! Inikah nasibku? Di dalam bulan puasa, aku diserahkan ke tangan kaphee (kafir)?” ratap Cut Nyak Dien.

Panglima Laot telah mengkhianatinya karena kasihan dengan kondisi Cut Nyak Dien yang sudah tua. Ia mendekati Cut Nyak Dien dan berusaha menenangkan. Cut Nyak Dien menanggapi Panglima Laot dengan cacian dan minta dibunuh.

Penangkapan Cut Nyak Dien pada 6 November 1905. Penangkapan itu terpaksa membuatnya menjalani sisa masa puasa dan lebaran sebagai tawanan di sekitar Kutaraja. Setelahnya, Cut Nyak Dien dibuang hingga meninggal di Sumedang pada 1908.

Ketika Cut Nyak Dien ditangkap, Perang Aceh sudah tiga dekade berlangsung, yang dimulai pada 1873. Di babak awal perang itu, seorang jenderal Belanda harus jadi tumbal. Perang ini setidaknya melewati lebih dari 30 kali bulan puasa. SELANJUTNYA

AMP - Kemenangan besar diraih Turki Usmani dalam Pertempuran Kosovo yang terjadi pada 15 Juni 1389 itu. Dinasti Utsmaniyah pimpinan Sultan Murad I memenangkan perang melawan pasukan koalisi yang berkekuatan 60.000 tentara gabungan dari beberapa kerajaan Kristen yang terdapat di kawasan Balkan.
 
Sang sultan memang tidak terlibat langsung dalam peperangan itu. Namun, ia selalu memantau perkembangannya melalui laporan para jenderalnya. Ketika sudah dipastikan bahwa musuh telah kalah dan menyerah, Sultan Murad I segera menuju area pertempuran keesokan harinya.

Kendati menang, korban jiwa dari pihak Utsmaniyah tidak kalah banyak dengan jumlah tentara salib yang tewas. Mayat-mayat bergelimpangan di medan perang yang berlokasi di tanah lapang yang luas berjarak sekitar 5 kilometer di sebelah barat Prishtina, ibukota Kosovo, itu (Robert Elsie, Historical Dictionary of Kosovo, 2010:155).

Ketika Sultan Murad I sedang berkeliling medan perang untuk mendoakan para prajuritnya yang gugur, mayat seorang tentara Serbia tiba-tiba bangkit. Rupanya, ia pura-pura mati. Prajurit musuh tersebut menyerah dan menyatakan ingin masuk Islam.

Orang Serbia itu memohon agar diizinkan mencium tangan sang sultan. Murad I yang sedang terbawa perasaan pun memerintahkan kepada para pengawalnya untuk melepaskan penjagaan agar calon mualaf itu bisa mendekat untuk bersalaman dengannya.

Terjadilah peristiwa tragis itu tanpa bisa dicegah karena berlangsung sangat cepat. Saat bersimpuh di hadapan sultan yang berjarak sangat dekat, prajurit musuh itu secepat kilat mencabut pisau beracun dan menusukkannya ke perut Murad I (John Fine, The Late Medieval Balkans, 1994:410). Sang sultan pun wafat beberapa saat berselang.

Sultan yang Disayang Tuhan

Sultan Murad I punya julukan terkenal, Hudavendigar. Istilah ini berasal dari bahasa Persia, “Khodavandgar”, atau yang berarti “orang yang disayang Tuhan”. Hudavendigar dilahirkan di Sogut atau Bursa, salah satu kota di wilayah yang saat ini menjadi negara Turki, pada 29 Juni 1326.

Murad adalah putra Urkhan Ghazi atau yang bergelar Sultan Orhan I. Uniknya, ia lahir dari perkawinan Sultan Orhan I dengan Nilufer Hatun, putri seorang pangeran dari Bizantium atau Kekaisaran Romawi Timur, yang tidak lain adalah salah satu seteru terbesar Kesultanan Utsmaniyah dalam Perang Salib (Heath W. Lowry, Nature of the Early Ottoman State, 2012:37).

Menggantikan sang ayah yang wafat tahun 1362, Murad dinobatkan menjadi sultan ke-3 sejak Dinasti Utsmaniyah dideklarasikan sebagai kesultanan pada 1299. Sultan Murad I alias Hudavendigar dikenal sebagai sosok yang jenius, piawai meracik taktik, sekaligus seorang pemimpin yang konsisten menyebarkan dakwah Islam di wilayah-wilayah taklukan kerajaannya.

Kesultanan Utsmaniyah di bawah kendali Hudavendigar berhasil menguasai kawasan Anatolia atau Asia Kecil yang merupakan area pertemuan antara benua Asia dan Eropa, meskipun harus bersinggungan dengan Kekaisaran Bizantium dengan pusatnya di Konstantinopel (kini Istanbul) karena jarak yang relatif tidak terlalu jauh.

Tahun 1365, pasukan Utsmaniyah sukses merebut Adrianopel dari Bizantium, kota yang sangat strategis dan terpenting setelah Konstantinopel. Sultan Hudavendigar lalu memindahkan ibukota kerajaannya dari Bursa ke kota yang kelak dikenal dengan nama Edirne ini (Reinhard Stewig, Proposal for Including Bursa, the Cradle City of the Ottoman Empire, 2004:11). Selanjutnya

AMP - Matahari bersinar terik saat pasukan Amr bin Hisyam alias Abu Jahal nyaris berhadapan dengan pasukan Muslimin yang terhalang bukit di Lembah Badar. Tanah yang sebelumnya basah oleh hujan kini mengeras terkena panas. Menyulitkan langkah Amr dan pasukannya mendaki gundukan-gundukan bukit terjal berbatu. Namun amarah Amr sudah diubun-ubun. Pada 12 Maret 624 Masehi itu, dalam peristirahatan sehari menjelang perang, Amr bersumpah di hadapan sekitar 1.000 orang Quraisy Mekkah untuk menghabisi Muhammad dan pengikutnya.

“Demi Tuhan! Kita tak akan kembali sampai kita tiba di Badar. Kita akan menginap tiga hari di sana, menyembelih unta-unta, berpesta dengan minum anggur dan gadis akan bermain untuk kita. Orang-orang Arab akan mendengar bahwa kita telah datang dan akan menghormati klan Thalib pada masa yang akan datang,” kata Amr.

Kebencian Abu Jahal terhadap Muhammad dan kaum muslim sudah muncul sejak Nabi menerima dan menyebarkan wahyu pertama. Baginya, ajaran baru Muhammad bukan hanya keluar dari pakem budaya warisan nenek moyang, tapi juga menyinggung eksistensi Abu Jahal sebagai tokoh Quraisy Mekkah.

Intimidasi dan penganiayaan terhadap Nabi meningkat setelah Abu Thalib, paman sekaligus pelindung beliau, wafat pada 619. Suatu hari ketika Nabi tengah berjalan-jalan di Kota Mekah, seorang anak muda Quraisy melemparkan kotoran kepada beliau. Saat tiba di rumah Fatimah, anak perempuan Nabi yang masih kecil menangis melihat perlakuan yang dialami ayahnya. Nabi lantas berusaha menenangkan gadis kecil kesayangannya.

“Jangan menangis gadis kecilku. Karena Tuhan akan melindungi ayahmu”. Kalimat itu kemudian ditambahkan oleh Nabi untuk dirinya sendiri. “Quraisy tak pernah memperlakukan aku seburuk ini ketika Abu Thalib masih hidup,” tulis Karen Armstrong dalam Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis (1991).

Hijrah

Puncaknya, pada September 622, dalam satu pertemuan yang melibatkan para pemuka Quraisy, Abu Jahal mengusulkan pembunuhan terhadap Nabi. Agar tak menciptakan dendam di keluarga bani hasyim (klan Nabi), Abu Jahal meminta setiap pemuda berpengaruh yang ada di bani-bani Quraisy turut terlibat. Dengan begitu, setidaknya setiap bani akan bertanggung jawab memberikan uang ganti darah yang memuaskan keluarga Bani Hasyim. Di sisi lain, Bani Hasyim juga tidak akan mungkin menuntut balas kepada mayoritas bani Quraisy.

Namun, persekongkolan itu telah diketahui Nabi melalui malaikat Jibril. Secara cerdik, Nabi hijrah meninggalkan rumahnya bersama Abu Bakar menuju Yastrib (Madinah). Di saat yang sama, ia mengizinkan Ali mengisi tempat tidurnya untuk mengecoh para pemuda Quraisy yang telah mengepung rumahnya.

Mayoritas penduduk Madinah menyambut kedatangan Nabi dengan hangat. Hal ini ditandai dengan kesempatan saling melindungi antara kaum muslim, Yahudi, dan suku-suku di Yastrib melalui Piagam Madinah. Piagam Madinah menandai fase awal Islam sebagai pemersatu. “Bukannya pemecah belah,” tulis Armstrong.

Meski demikian, hal ini bukan berarti konflik dengan Quraisy Mekkah reda sama sekali. Kaum Muhajirin (penduduk Mekkah muslim yang ikut hijrah) mengalami kesulitan-kesulitan mencari nafkah di Madinah. Sehingga banyak dari mereka yang menggantungkan hidup kepada kaum Anshar (penduduk Madinah yang telah memeluk Islam).

Saat itulah turun wahyu Surat Al Hajj ayat 39-40 yang mengizinkan Nabi bersama pengikutnya memerangi orang yang memerangi mereka. Ini ayat Alquran yang berisi perintah jihad.

Dengan nada yang simpatik, Armstrong berpendapat perintah jihad dalam Alquran memiliki makna yang lebih luas dari sekadar perang suci. Jihad, menurutnya, memiliki makna yang kaya sebagai perjuangan moral, spiritual, serta politik untuk menciptakan masyarakat adil dan sejahtera tanpa penindasan sebagaimana perintah Tuhan.

“Ada banyak kata Arab yang berarti perang seperti harb (war), sira’ah (combat), ma’arakah (battle), atau qital (killing) yang dengan mudah (bisa) digunakan Alquran jika perang merupakan cara pokok muslim mencapai keberhasilan,” katanya, menyindir kritikus Islam di Barat yang menyebut Islam agama doyan berperang.

Setelah wahyu tentang jihad turun, Nabi bersama kaum Muhajirin menerapkan ghazwu atau serangan demi bertahan hidup yang biasa dilakukan masyarakat Arab nomaden. Ghazwu menyasar kafilah dagang Quraisy Mekkah dengan berfokus pada upaya mengambil harta benda, hewan ternak, dan hasil dagang seraya menghindari jatuhnya korban jiwa.

Namun, serangan-serangan yang dimulai sejak 623 ini kerap mengalami kegagalan. Ini karena umat Islam memiliki sedikit sekali informasi mengenai waktu dan rute perjalanan musuh. Sehingga tidak ada kerugian dan korban yang jatuh di pihak lawan.

Pada September 623, Nabi memutuskan untuk memimpin langsung penyerbuan terhadap rombongan dagang yang dipimpin Ummayah—orang yang pernah menyiksa Abu Bakar. Lagi-lagi usaha menyergap kafilah yang membawa 2.500 unta itu mengalami kegagalan.

Pada Januari 624, insiden serius terjadi pada akhir bulan Rajab yang dianggap suci. Kala itu, satu dari tiga orang pedagang Quraisy Mekkah yang sedang berkemah di lembah Nakhlah (antara Mekkah dan Thaif) tewas terkena panah pasukan Abdullah bin Jahsy dalam sebuah misi ghazwu. Peristiwa ini dengan segera menimbulkan kemarahan dan dendam di kalangan Quraisy Mekkah. Bagi mereka, hal ini bukan saja ancaman keamanan, tapi penghinaan terhadap keyakinan masyarakat Arab yang menyucikan bulan Rajab dari peperangan.

Nabi sendiri juga tak menyangka misi yang ia perintahkan bakal menimbulkan korban jiwa. Namun, beliau tidak ingin menyalahkan Abdullah sepenuhnya. Betapapun, penindasan yang dilakukan Quraisy Mekkah kepada kaum muslim dengan cara mengeluarkan mereka dari sukunya merupakan kejahatan yang lebih serius dan melanggar nilai-nilai bangsa Arab. Di sisi lain Nabi tampaknya juga ingin “menyelesaikan” kepercayaan bulan-bulan suci masyarakat Arab yang merupakan bagian dari sistem penyembahan berhala. SELANJUTNYA

Polres Bengkalis menangkap kapal pengangkut bawang merah ilegal asal Malaysia di perairan Bengkalis, Riau.Okezone/Banda Haruddin Tanjung
StatusAceh.Net - Polres Bengkalis menangkap kapal pengangkut bawang merah ilegal asal Malaysia di perairan Bengkalis, Riau. Selain mengamankan 100 karung bawang ilegal, petugas juga menyita 100 karung kentang dan 10 karung garam ikan.

"Kapal tersebut diamankan di Perairan Sungai Jangkang , Desa Jangkang, Kecamatan Bantan," kata Kabid Humas Polda Riau Kombes Guntur Aryo Tejo, Kamis (15/4/2017).

Dia mengatakan, kapal tersebut ditangkap setelah petugas mendapat kabar dari sejumlah nelayan ada kapal mencurigakan di Perairan Jangkang. Petugas melakukan penyisiran di sepanjang Perairan Sungai Jangkang.

Tidak lama, petugas menemukan kapal KM Putra Jaya yang membawa barang barang ilegal dari Malaysia. "Diduga mereka melarikan diri saat petugas datang,"ucap Guntur.

Terhadap pemiliknya, petugas masih melakukan pengejaran. Pelaku akan dijerat dengan perkara Karantina hewan ikan dan tumbuhan berdasarkan Pasal 31 ayat (1) UU RI No 16/1992.(Sindo)

AMP - Korea Utara mengindikasikan telah memiliki kemampuan menghantam New York dengan menggunakan misil jarak jauh.

Sebuah artikel harian milik pemerintah Korea Utara Rodong Shinmunpekan lalu menyebut Amerika Serikat telah meremehkan kemampuan negeri itu dalam mengembangkan misil balistik antarbenua (ICBM).

"(Presiden) Trump awal tahun ini mengatakan DPRK ( Korea Utara) tak akan mampu membuat senjata nuklir yang bisa menghantam wilayah AS," demikian Rodong Shinmun.

"AS merasa tak nyaman karena hal ini sangat mungkin terbukti. Serangkaian uji coba senjata strategis yang dilakukan DPRK dengan jelas menunjukkan tak lama lagi kami memiliki ICBM," masih Rodong Shinmun.

Harian tersebut bahkan menyatakan, misil- misil balistik negeri itu mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat bahkan New York yang berjarak 10.400 kilometer dari Korea Utara.

"Namun itu bukan sebuah jarak yang jauh untuk sebuah serangan di masa kini," Rodong Shinmun menegaskan.

Pada Januari lalu, Presiden Donald Trump, lewat akun Twitter-nya, mengatakan, tak akan mungkin membangun ICBM.

" Korea Utara mengatakan tengah mencapai tahap final pembangunan senjata nuklir yang mampu mencapai Amerika. Itu tak akan terjadi!" ujar Trump.

Negeri itu kemudian merespon pernyataan Trump dengan mengatakan, mereka bisa melakukan uji coba senjata kapanpun jika diinginkan Kim Jong Un.

Bulan lalu, kepala dinas intelijen militer AS Letnan Jenderal Vincent Stewart pernah mengatakan, nampaknya Korea Utara akan segera memiliki senjata nuklir yang bisa menghantam Amerika Serikat.

Akhir bulan lalu, Korea Utara merilis foto sebuah misil sejenis Scud yang diluncurkan dan jatuh di wilayah barat perairan Jepang. (Trb)

AMP - A total of 150 tons of rice for Acehnese aid for hunger in the African continent, was removed from Banda Aceh to Belawan Port, North Sumatra, on Tuesday (14/6).

All will be collected with aid rice from several areas in the homeland before departing for Somalia using a humanitarian vessel of rice.

The departure took place at the Multiguna Warehousing Complex in Gampong Baet, Baitussalam Aceh Besar, attended by Aceh Besar Secretary Iskandar MSi, members of Aceh's House of Representatives (DPRA) Darwati A Gani and Aceh Aksi Cepat Tanggap (ACT) and Banda Aceh volunteers.

"The release of the truck carrying rice aid is a special event for Aceh, as Africa's largest aid-gathering region," said Rini Wahyuni, a central ACT volunteer to reporters after the release.

According to him, 150 tons of rice is the result of a two-week fundraising by Aksi Cepat Tanggap (ACT) volunteers at a number of public facility locations in Aceh such as traditional markets and donations of civil servants and the private sector.

It said all the relief aid would be collected with help coming from other parts of Indonesia and would be dispatched to Somalia by humanitarian vessel of rice.

"All the rice will be brought to Belawan port due to the limited ports here, and the rice aid from Aceh will be combined with the help from Tanjung Perak, Jogja, Semarang and Surabaya, while Tanjung Priuk is combined with Jabotabek and West Java," he said.

He said since it was initiated last March, Indonesia has sent 1600 tons of rice and funds totaling Rp 5 billion for famine victims in Africa. The amount is expected to continue to grow.

"The first phase of assistance has already been dispatched on April 29 using a humanitarian vessel while the second phase of assistance will be delivered as soon as possible," said Rini, a ship previously arrived in Somalia after 30 days of travel and the aid will be completed.

It says million Africans today still need a helping hand after the food crisis due to a long drought.

"Millions of Somali people are currently starving due to the lack of water that is doomed to the availability of food.Many children are dying of hunger, while adults have blindness," he concluded.(AJNN)

AMP - Sebanyak 150 ton beras bantuan masyarakat Aceh untuk musibah kelaparan di Benua Afrika, diberangkat dari Banda Aceh menuju Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, Selasa (14/6/2017).

Seluruhnya akan dihimpun dengan beras bantuan dari sejumlah daerah di tanah air sebelum diberangkatkan menuju Somalia menggunakan kapal kemanusiaan beras.

Pemberangkatan berlangsung di Komplek Pergudangan Multiguna di Gampong Baet, Baitussalam Aceh Besar tersebut, dihadiri Sekda Aceh Besar, Iskandar MSi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Darwati A Gani serta relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh dan Banda Aceh.

"Pelepasan truk yang membawa bantuan beras ini merupakan event khusus untuk Aceh, sebagai daerah pengumpul bantuan terbesar untuk Afrika. Total beras yang kita berangkatkan hari ini ada 150 ton," kata Rini Wahyuni relawan ACT pusat kepada wartawan usai pelepas.

Menurutnya 150 ton beras tersebut merupakan hasil penggalangan selama dua pekan oleh relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di sejumlah lokasi fasilitas umum di Aceh seperti pasar tradisional dan sumbangan pegawai negeri sipil serta swasta.

Dikatakan, seluruh bantuan yang diberangkatkan tersebut akan dihimpun dengan bantuan yang berasal dari daerah lain di Indonesia dan akan diberangkatkan menuju Somalia menggunakan kapal kemanusiaan beras.

"Seluruh beras akan dibawa menuju pelabuhan Belawan karena keterbatasan pelabuhan disini. Bantuan beras dari Aceh ini nantinya akan digabung dengan bantuan dari Tanjung perak, Jogja, Semarang dan Surabaya, sementara yang dari Tanjung Priuk digabung dengan Jabotabek, dan Jawa Barat,"katnya.

Dia menyebutkan sejak digagas Maret lalu, Indonesia telah mengirimkan 1600 ton beras dan dana dengan total Rp 5 miliar bagi korban kelaparan di Afrika. Jumlah tersebut diharap dapat terus bertambah.

"Bantuan tahap pertama sudah diberangkatkan 29 April lalu menggunakan kapal kemanusiaan sementara bantuan tahap kedua akan kita berangkatkan secepatnya. Kapal sebelumnya tiba di Somalia setelah 30 hari perjalanan dan bantuan ini akan menyambung setelah itu selesai," kata Rini.

Dikatakan juta rakyat Afrika saat ini masih membutuhkan uluran tangan setelah krisis pangan akibat kemarau panjang.

"Jutaan masyarakat Somalia saat ini kelaparan akibat kekurangan air yang berdapak pada ketersediaan pangan. Banyak anak-anak meregang nyawa karena lapar, sementara orang dewasa mengalami kebutaan,"pungkasnya.(AJNN)
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget