Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

AMP - Myanmar dihantam badai hebat pada sepanjang akhir pekan ini. Rintik hujan dilaporkan seukuran bola golf di beberapa provinsi. Imbasnya delapan biksu tewas, ribuan rumah hancur, serta ribuan pagoda ambruk.

Channel News Asia melaporkan, Minggu (26/3), kerusakan paling parah terjadi di Provinsi Mandalay. Di Desa Yay Tha Yauk, enam warga tewas karena longsor dan banjir.

"Laporan yang kami terima sedikitnya 7.500 rumah hancur akibat terjangan badai," kata Phyu Lei Tun, Dirjen Kesejahteraan Sosial,

Tanggap Bencana, serta Relokasi Myanmar.
Di kawasan Mandalay, badai bercampur hujan kerikil dan butiran es batu. "Saya melihat balok es jatuh dari langit," kata Yin Myo, warga yang rumahnya beruntung tidak rusak.

Dari laporan televisi pemerintah Myanmar, jumlah pagoda yang rubuh atau rusak mencapai 1.700 tersebar di kawasan selatan negara itu.

Badai besar ini terjadi setelah kemarau panjang melanda Myanmar. Pada Jumat (22/4), cuaca sempat panas hingga mencapai 40 derajat celcius, lalu beralih jadi hujan deras.

Pada 2008, Myanmar pernah dihajar Siklon Nargis, salah satu badai terparah sepanjang sejarah peradaban. Bencana alam parah itu memicu tewasnya 22.980 jiwa ditambah 42 ribu orang masih hilang sampai sekarang. [xinhua]

Pembantai Itu...
AMP - Saudah (21) tak mampu buka suara. Mulutnya kaku dan gemetaran menatap gundukan tanah dari salah satu kuburan massal tanpa nisan yang dibongkar Kamis (29/7) lalu. Jenasah-jenasah di dua kuburan massal itu digali untuk dikuburkan kembali secara islami. Ia menanti dengan harap-harap cemas kalau suami, ayah serta iparnya berada di sana. Air bening tak kuasa
dibendung dan terus membasahi kelopak matanya. Ait matanya kian deras membaur dengan guyuran hujan. Putri bungsunya, Zubaidah yang hari itu datang bersama saudara tertuanya, Karmila terus merengek minta pulang untuk bertemu ayah tercinta.

Zubaidah, (1,5) menangis minta bertemu ayahnya. Putri ketiga Saudah ini tak henti-hentinya menanyakan ke mana sang ayah pergi. Bocah seusia Zubaidah tak tahu apa yang sedang menimpa orang tuanya. Ia meronta dalam gendongan ibunya seraya terus menuntut bertemu ayahnya. Sementara Karmila (6,5) yang baru saja didaftarkan di sebuah SD kawasan itu terpaku tanpa mampu membaca suasana. Karmila mungkin sangat terpukul, karena seminggu lalu ia baru saja dipapah ayahnya masuk sekolah.

Setiap berangkat dan pulang sekolah, Karmila senantiasa dijemput sang ayah. Sekarang entah siapa yang akan menemaninya. Sejak peristiwa itu, Karmila bukan saja tanpa teman, tapi juga kehilangan kesempatan bersekolah. Ia belum diizinkan ibunya sekolah sebelum hari kemalangan berlalu.

Zubaidah dan Karmila adalah dua dari tiga bersaudara pasangan Saudah-Samsuar. Kedua anak ini tidak saja kehilangan ayah, tapi juga ditinggal pergi kakek dan paman tercinta. Bersama Samsuar (27), Abdul Manaf (45), dan M. Ali (25), jadi korban pembantaian Tragedi Bantaqiyah. Sementara korban lain yang tewas M. Harun (18), Zubir (25), Usman bin Bantaqiyah (29), M. Din (45), Tarmizi (32), M. Husen (42), Samin (28), Jamaluddin (29), Suhaimi (35), M Amin M (32), Jamalulhadi (27). Diantara 32 korban, 17 orang warga Blang Beurandeh. Sisanya masih penduduk pemukiman Beutong Ateuh.

Keluarga dekat Bantaqiyah bersama masyarakat menata kembali kuburan massal itu. Peristiwa ini mengingatkan kembali kebrutalan TNI pada masa pemberlakuan DOM. Ketika itu masyarakat mendapatkan mayat-mayat ditindih begitu saja dalam beberapa liang yang sangat sempit. Bantaqiyah dikubur bersama anak dan 23 korban lainnya yang ditanam dalam sebuah liang persis di belakang rumahnya. Sisanya 7 mayat ditanam di kaki bukit sekitar 50 meter dari bangunan utama dayah Bantaqiyah.

Membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk menggali kuburan massal pertama. Para penggali harus hati-hati, karena posisi mayat tidak beraturan dan kedalamannya hanya 50 cm. Sosok mayat itu sebagian besar sudah mengelupas serta mengeluarkan bau tak sedap. Rencana mengangkat mayat-mayat itu diurungkan, karena kondisi sudah sangat mustahil dilaksanakan. Kedua kuburan massal yang berada di belakang deretan bangunan darurat dayah Tgk Bantaqiyah hanya diberi siraman air ritual sekaligus ditutup dengan kaian kafan sebagai simbol tajhiz (memandikan, mengafani, mensalatkan, dan menguburkan).

Semula, dokter Puskesmas Babussalam merencanakan melakukan otopsi dengan seizin keluarga korban. Namun rencana otopsi akhirnya dibatalkan atas permintaan keluarga pula. "Untuk apa lagi kita otopsi. Kami sudah rela, biarlah arwah mereka istirahat dengan tenang," pinta Jamaluddin, Kepala Desa Blang Beurandeh yang juga kehilangan seorang putranya. Selain itu masyarakat juga menemukan 20 sosok mayat berserakan di jurang-jurang sekitar kilometer 7 lintas arah Takengon, Aceh Tengah. Namun masyarakat setempat hanya bisa menguburkan 10 dari 20 korban. Sisanya masih berada di jurang. Karena kondisinya sudah sangat membusuk, masyarakat tak mampu melakukan penguburan. Kesepuluh mayat itu masih berserakan di lintas Takengon-Beutong Ateuh.

Sementara itu 4 warga Blang Beurandeh dan 1 warga Blang Puuk hingga saat ini belum ditemukan. Mereka adalah Tgk M. Din, 41, M Janata, 28, M. Ali B, (35) Abdul Wahid (26) dan Saidi (38).

Misteri antara kematian Tgk Bantaqiyah, ganja dan GAM belum terkuak juga. Tuduhan aparat keamanan terhadap suaminya menanam ganja sama sekali tak beralasan. Menurut isteri keduanya Aman Farisah, 32, suaminya baru kembali ke Beutong 28 Mei 1999 lalu. Sedianya ayah 10 anak ini tak ingin lagi menyelenggarakan pengajian. Namun atas permintaan masyarakat setempat, Tgk Banta akhirnya bersedia juga mengajar kembali warga setempat. Setiap Jumat, penduduk setempat belajar Al Quran dan kitab di sebuah balai utama hingga pecahnya peristiwa berdarah itu.

Menurut Aman Farizah, kira-kira pukul 11.00 siang ratusan personil TNI datang secara tiba-tiba seraya berteriak meminta peserta pengajian berkumpul. Di sela perintah itu, aparat melempari rumah penduduk dengan batu dan kayu sehingga membuat mereka berlarian keluar. Peserta pengajian pun turun menuruti perintah petugas. Aparat berteriak menanyakan Bantaqiyah hingga pimpinan dayah itu keluar dari rumahnya.

Antara aparat dan Bantaqiyah sempat terjadi dialog, namun tak ada yang tahu apa yang dibicarakan. Sementara pasukan lain melepaskan tembakan membabi buta tanpa memberi aba-aba. Bantaqiyah berteriak menyuruh warga tiarap. Rentetan peluru memecahkan keheningan desa. Korban bergelimpangan, darah muncrat dari tubuh korban. Satu-persatu mereka rubuh diterjang peluru tajam jahanam. Mereka tewas bersimbah darah di dalam pekarangan pesantren Bantaqiyah.

Beberapa saksi mata menuturkan, penembak Bantaqiyah bukan pasukan pembantai 51 warga lain. Ia hanya sempat dikurung pasukan dari Aceh Tengah itu, namun ada tembakan dari arah
lain yang berhasil menewaskan Bantaqiyah. "Saya sangat terpukul dengan Tragedi Bantaqiyah," ujar Camat Beutong, Drs. Teuku Bantasyam Puteh.

Masyarakat memungut sosok mayat yang sudah tak utuh lagi pada Senin dan Selasa berikutnya atau sehari setelah pembantaian ini terbongkar. Korban seluruhnya rakyat sipil tak berdosa. Tgk Bantaqiyah yang menjadi incaran mereka turut menjadi korban bersama jemaahnya lainnnya. Bantaqiyah tewas setelah tembakan ketiga. Sebelumnya, Tgk Banta -begitu panggilan akrabnya- sempat dihantam dengan peluru jenis PSD 83 tetapi tak mempan. Akhirnya ia dihantam dengan senjata anti personil.

Deretan daftar kuburan massal di Aceh bertambah panjang. Setelah pembantaian pada masa DOM, Simpang KKA, kini lembah Beutong Ateuh, 340 km barat Banda Aceh jadi cerita.

Pemukiman Itu
Pemukiman Beutong Atueh yang dihuni kurang lebih 800 kepala keluarga itu terletak persis di antara himpitan pegunungan Bukit Barisan. Daerahnya subur, cuma sayang sangat terisolir dan terbelakang. Pekerjaan mereka selain bertani, mencari kayu bakar di hutan. Pemukiman yang dibelah sungai penuh bebatuan itu tercemar darah sudah. Tragedi pada hari Jumat (23/7) lalu telah meremukkan jiwa rakyat di sana. Puluhan perempuan kehilangan suami, tak kurang 25 orang yatim kehilangan ayah, dan puluhan ayah kehilangan anak. Pembantaian ini baru terungkap Minggu (26/7) setelah dilaporkan salah seorang warga Beutong yang lolos ke kota kecamatan.

Beutong memang kerap jadi berita. Setelah kasus Tgk Bantaqiyah dengan jubah putihnya akhir 1987, giliran kebun ganja heboh di sana. Nah, setelah Bantaqiyah dibebaskan, lagi-lagi Beutong
menggores kisah. Apakah karena Bantaqiyah? Tidak juga. Yang pasti lembah itu telah tertumpahi darah putera-putera pemilik sah bumi Aceh.

Menurut warga setempat, Tgk Banta bukan mafia ganja yang dituduhkan ABRI selama ini. Kalangan masyarakat menyebut Bantaqiyah seorang guru mengaji di Blang Beurandeh, tempat ia mendirikan dayah (tempat kegiatan keagamaan). Di atas tanah seluas 3,000 meter, Tgk Banta mendirikan sebuah masjid sederhana. Di samping masjid ini dibangun sebuah balai besar tempat pengajian berlangsung.

Bantaqiyah bersifat terbuka. Ia menerima siapa pun yang ingin menuntut ilmu. Para tamu berdatangan dari hampir seluruh Aceh. Mereka hanya beberapa hari menuntut ilmu yang kemudian kembali
ke tempat asal masing-masing.

Bantaqiyah menyelenggarakan tradisi puasa 7, 14, 40 dan 44 hari sebagai persyaratan menuntut ilmunya. Berbagai lapisan masyarakat datang menimba ilmu dari Bantaqiyah. Bahkan menurut
kalangan dekat Bantaqiyah, salah seorang perwira Kopassus pernah berlajar ilmu dari Bantaqiyah. Namun tidak selesai karena keburu dipulangkan ke markasnya.

Kasus Jubah Putih sempat menghebohkan Aceh pada tahun 1987 lalu. Saat itu Bantaqiyah nyaris ditangkap karena dianggap menyebarkan aliran sesat. Namun kegiatan pengajian berlangsung terus. Hanya saja jubah putih tak lagi memasuki kota. Pada akhir 1993, Bantaqiyah ditangkap dengan dalih memiliki kebun ganja dan memperalat muridnya menanam ganja. Bantaqiyah dituduh memasok ganja untuk membantu perjuangan GPK Aceh. Bantaqiyah dijebloskan ke penjara hingga akhirnya divonis 20
tahun lewat UU Anti Subversi.

Kompleks dayah Bantaqiyah diapit perbukitan dan aliran sungai jernih. Ia mendiami kompleks itu bersama dua isteri dan satu menantunya. Istri pertama Nursiah, dikawini sejak 30 tahun lalu. Dari isterinya ini Bantaqiyah dikarunia 8 anak. Isteri keduanya Aman Farisah, berasal dari Bireun, Aceh Utara. Dari isteri kedua, Bantaqiyah dianugerahi dua putra yang masih bocah.

Perkampungan Beutong Ateuh berada di lembah layaknya setting film The Killing Field yang tenar tenar itu. Daerah ini sulit dijangkau masyarakat asing. Selain tanpa transportasi reguler, untuk mencapai Beutong Atueh harus menempuh perjalanan panjang selama 5-7 jam dari Meulaboh, ibukota Aceh Barat. Itu pun jika menggunakan kenderaan jenis jeep seperti Toyota Land Cruiser, misalnya.

Jalan menuju ke Beutong Ateuh baru saja dibuka pemerintah sekitar 10 tahun lalu. Medan lumpur, tanjakan tajam serta ancaman jurang serta bebatuan cadas acap membahayakan perjalanan. Masyarakat Beutong Ateuh jika ingin turun gunung harus menunggu jadwal angkutan spesial dua hari sekali dengan ongkos Rp 25.000 per orang untuk jarak tempuh 90 km.

Suhu dingin dan balutan kabut kadang kala membuat pengguna jalan berpikir seribu kali kalau ingin ke Beutong. Belum lagi ancaman binatang buas yang kerap mengintai manusia. Tapi, anehnya bagi sebagian masyarakat Beutong, dalam suasana alam yang menyeramkan itu, mereka berani jalan kaki hingga tiga kali 24 jam untuk mencapai kota kecamatan.

Lintas jalan Beutong Ateuh-Meulaboh relatif lembab. Curah hujannya sangat tinggi. Sewaktu-waktu bisa turun hujan yang mengakibatkan terhambatnya perjalanan. Wartawan Nanggroe bersama rombongan LSM dan pers dari Banda Aceh harus mandi lumpur untuk menjinakkan medan dataran tinggi Bumi Teuku Umar itu.

Puncak gunung Singgahmata dengan ketinggian 4,000 kaki dari permukaan laut terkenal dengan medannya yang berat. Singgahmata selalu dibungkus kabut dingin, jalan-jalan penuh batu cadas serta jurang terjal. Di sisi lain perbukitan yang rawan longsor akibat perambahan hutan besar-besaran pada
waktu-waktu sebelumnya.

Pada posisi 70 km dari Meulaboh itu, kami terpaksa istirahat sambil menyantap makanan siang yang molor hingga pukul 16.00 WIB. Dengan kondisi gemetaran menahan dingin, satu persatu bulir nasi disantap guna menaikkan suhu badan. Kopi panas atau teh hangat sama sekali tak bisa dinikmati karena dikalahkan oleh suhu yang bisa anjlok hingga 10 derajat celsius. Beberapa kali mobil yang kami tumpangi kandas, dan nyaris tak mampu melanjutkan perjalanan. Kehandalan mobil tak bisa diharapkan
jika tak ada mobil lain yang bisa membantu. Tikungan tajam ditemui hampir di sepanjang jalan. Setiap 500 meter terdapat tikungan patah. Sepanjang perjanan, beberapa warga Beutong Ateuh yang terlanjur mengungsi ke kota kecamatan ketakutan dan lari ke hutan ketika mendengar deru mesin mobil.

Setelah menempuh perjalanan panjang, rombongan tiba di Blang Beurandeh menjelang maghrib. Disambut isak tangis dan ratapan, rombongan dipandu menuju desa-desa sekitar. Seluruh
penduduk berebutan memberi kesaksian kepada tamu semalam itu. "Kamoe hantem lee tinggai di sino, eunteuh jitimbak lom," (Kami tak mau lagi tinggal di sini, nanti ditembak lagi) begitu lapor mereka sambil meraung.

Selesai meninjau, rencana pembongkaran kuburan diurungkan hingga esok hari, Kamis (29/7). Rombongan disambut hangat dengan secangkir kopi gunung beserta makan malam secara meriah. Wajah-wajah sedih sedikit berubah mengguratkan harapan ketika mereka tahu telah dikunjungi rombongan wartawan. Kami sempat was-was bila para pembantai datang lagi dan aksinya tak akan diketahui hingga tiga hari.

Kawasan Beutong hari itu telah dihuni aparat baru dari Gegana Polri, Kelapa Dua Jakarta. Mereka mengawasi dengan curiga setiap gerak-gerik masyarakat yang bisa-bisa ada kelompok GAMnya. Jumlah mereka tidak kurang dari satu kompi. Mereka didrop dari Jakarta melalui Aceh Tengah.

"Sebenarnya kami ingin cepat-cepat pulang, buat apa lama-lama, kan kita rindu juga dengan keluarga," ujar salah seorang prajurit.

Daerah ini kaya sumber daya alam. Masyarakat, di samping berkebun, ada juga yang bertani meskipun tidak semeriah daerah pesisir. Masyarakat Beutong Ateuh umumnya buta huruf. Di antara ratusan KK hanya satu SD yang bercokol di kawasan ini. Itu pun proses belajar mengajarnya berlangsung seadanya. Namun kondisi ini tidak menyurutkan minat masyarakat setempat menyekolahkan anaknya atau menuntut ilmu agama.

Selama ini satu-satunya pesantren yang ada hanya dayah Bantaqiyah. Dayah ini dibangun dengan dana sekitar Rp 105 juta dari anggaran Rp 400 juta sejak 1987 lalu. Dua tahun kemudian Bantaqiyah turun ke kota menuntut status Aceh sebagai daerah istimewa segera direalisasikan. Pasukan Jubah Putih -
begitulah rombongannya dikenal - mengarak bendera merah berlambang bintang bulan ke ibukota Aceh Barat.

Pesantren Bantaqiyah terletak di desa Blang Beurandeh. Desa ini satu-satunya desa yang berada di seberang sungai. Penduduk Blang Beurandeh lebih sedikit dibanding desa tetangganya.
Namun, Blang Beurandeh telah melahirkan seorang politisi sekaligus pengacara handal Abdullah Saleh, SH yang sekarang menjabat Wakil Ketua DPW PPP Aceh.

Bangunan rumah penduduk terlihat sangat bersahaja. Umumnya berkonstruksi kayu tanpa sentuhan ketam. Luas rumahnya pun hanya mampu menampung dua hingga tiga kamar berukuran 3x3 meter. Sumber air terjun yang ada di kawasan Beutong Ateuh bisa dimanfaatkan untuk pembangkit litsrik tenaga air (PLTA). Peralatan itu sebenarnya sudah didatangkan, namun hingga saat ini masyarakat hanya memiliki lampu petromaks. Itu pun dinyalakan hingga pukul 21.00 WIB. Jangan heran bila kawasan ini masih gelap gulita.

Lembah Beutong sebenarnya strategis bagi daerah latihan militer. Sumber air yang memadai dan jalur distribusi logistik bisa didrop dari udara. Sekitar pemukiman terdapat dataran tinggi yang subur, mampu menghidupkan mahluk apa saja. Tanaman ganja pun bisa hidup sendiri tanpa perlu disemai. "Ganja tumbuh sendiri di hutan, masa dituduh masyarakat yang tanam, seperti yang dituduhkan kepada Tgk Bantaqiyah," bela T. Cut Ali, tokoh masyarakat setempat.

Danrem 012/TU Kolonel Syarifuddin Tippe belum bisa memberi keterangan lebih lanjut. Kepada Nanggroe, Tippe menyatakan laporan yang ditulis di media massa berdasarkan laporan Kasie Intel Korem 011/LW Letkol. Inf. Sujono. Pihaknya sudah mengirimkan tim melakukan recheck bersama Danramil Beutong. "Tapi saya belum terima laporannya," ujar Tippe. ***

Oleh: Laporan Mukhtaruddin Yakub (Wartawan Buletin NANGGROE, WALHI Aceh)

Muka Maha Patih Gajah Mada menurut Muhammad Yamin
AMP - Pada 1334, para menteri berkumpul di panangkilan menghadap sang Rani Majapahit, Tribhuana Tunggadewi. Di hadapan sang rani dan para menteri, Gajah Mada yang baru diangkat menjadi mahapatih, bersumpah yang kemudian dikenal dengan Sumpah Palapa.

“Jika telah berhasil menundukkan Nusantara; Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik telah tunduk, saya baru akan memakan palapa (istirahat),” kata Gajah Mada.

Menurut sejarawan Slamet Muljana, sumpah Gajah Mada itu menimbulkan kegemparan. Para petinggi kerajaan merespons dengan negatif. Ra Kembar mengejek Gajah Mada sambil mencaci maki. Ra Banyak turut mengejak dan tidak mempercayainya. Jabung Tarewes dan Lembu Peteng tertawa terbahak-bahak. “Sumpahnya diucapkan dengan kesungguhan hati. Oleh karena itu, dia sangat marah ketika ditertawakan,” tulis Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakretagama.

Muhammad Yamin, pengagum dan penemu wajah Gajah Mada, juga mengakui bahwa musuh politik Gajah Mada mengejek dan menertawakannya. “Ra Kembar dan Ra Banyak dengan terus terang mengatakan tak mau percaya kepada kemenangan Gajah Mada dan terus memaki-maki dengan perkataan yang kasar. Jabung-terewes dan Lembupeteng tertawa-tawa mengejek Gajah Mada yang dianggapnya sombong dan tinggi hati,” tulis Yamin dalam Gajah Mada: Pahlawan Pemersatu Nusantara.

Gajah Mada pun, kata Yamin, meninggalkan paseban dan terus pergi menghadap batara Kahuripan dan Tribhuana Tunggadewi. Dia sangat berkecil hati karena dapat rintangan dari Kembar, walaupun Arya Tadah membantu sekuat tenaga.

Arya Tadah memang pernah berjanji akan memberi bantuan dalam segala kesulitan kepada Gajah Mada. Namun, menurut Slamet, Arya Tadah juga ikut menertawakan program politik Gajah Mada itu. “Pada hakikatnya, Arya Tadah alias Empu Krewes tidak rela melihat Gajah Mada menjadi patih amangkubumi sebagai penggantinya. Gajah Mada merasa dihina, lalu turun dari paseban, memeluk kaki Sang Rani sambil berkata, bahwa hatinya sangat sedih karena hinaan Arya Tadah,” tulis Slamet.

Gajah Mada kemudian membuat perhitungan dengan mereka yang mengejeknya. “Akibat tindakan itu sangat hebat sekali,” tulis Yamin. “…pada suatu hari tersiar kabar bahwa Ra Kembar dan Ra Banyak ditewaskan dengan hukuman mati.”

Menurut Slamet, Gajah Mada memusnahkan Kembar dan Banyak. “Itulah kesempatan baik untuk melampiaskan dendamnya kepada Kembar yang mendahului pengepungan Sadeng. Hal tersebut dianggap sebagai suatu dosa terhadap Gajah Mada,” tulis Slamet.

Pengepungan Sadeng dan Keta di Jawa Timur terjadi pada tahun 1331. Ketika itu yang menjadi mahapatih adalah Arya Tadah. Dia menjanjikan kepada Gajah Mada, sepulang dari penaklukkan Sadeng dia akan diangkat menjadi patih, bukan mahapatih. Alangkah kecewanya Gajah Mada, karena Kembar mendahuluinya mengepung Sadeng. Untuk menghindari sengketa antara Gajah Mada dan Kembar, Rani Tribhuana Tunggadewi datang sendiri ke Sadeng membawa tentara Majapahit. Kemenangan atas Sadeng tercatat atas nama Sang Rani sendiri. Semua perserta penaklukkan Sadeng dinaikkan pangkatnya. Gajah Mada mendapat gelar angabehi, dan Kembar dinaikkan sebagai bekel araraman. Saat itu, Gajah Mada sendiri telah menjadi patih Daha.

“Kemenangan atas Keta dan Sadeng memberikan ilham untuk menjalankan politik Nusantara,” tulis Slamet.

Gajah Mada melaksanakan politik penyatuan Nusantara selama 21 tahun, yakni antara tahun 1336 sampai 1357. Isi program politik ialah menundukkan negara-negara di luar wilayah Majapahit, terutama negara-negara di seberang lautan, yakni Gurun (Lombok), Seram, Tanjung Pura (Kalimantan), Haru (Sumatera Utara), Pahang (Malaya), Dompo, Bali, Sunda, Palembang (Sriwijaya), dan Tumasik (Singapura). Bahkan, dalam kitab Nagarakretagama pupuh 13 dan 14 nama-nama negara yang disebutkan jauh lebih banyak daripada yang dinyatakan dalam sumpah Nusantara.

“Demikianlah dapat dipastikan bahwa program politik Nusantara itu benar-benar dilaksanakan oleh patih amangkubumi Gajah Mada selama masa jabatan 21 tahun. Setelah itu, dia amukti palapa atau istirahat,” pungkas Slamet.(historia.id)

Letnan Jenderal JB Van Heutsz, komandan pasukan Belanda dalam Perang Aceh, 3 Februari 1901.
Foto
AMP - Aceh menolak mengakui kedaulatan Hindia Belanda. Perang Aceh pecah sebagai perang terlama, terkuat, dan terbesar dalam jumlah korban.

Empat kapal Belanda membuang sauh di Pantai Bandar Aceh. Tak lama kemudian juru bahasa Belanda, Said Tahir menghadap Sultan Alaudin Mahmud Syah, untuk menyampaikan surat dari Komisaris FN Nieuewenhuysen. Isi surat sangat mengejutkan karena Sultan Aceh diminta mengakui kedaulatan Hindia Belanda. Tentu saja, Sultan menolaknya. Surat-surat berikutnya juga dijawab dengan tegas bahwa Aceh menolak mengakui kedaulatan Hindia Belanda.

Empat hari kemudian, Belanda menyatakan perang terhadap Aceh. Dengan demikian, Belanda telah melanggar perjanjian dengan Inggris dalam Traktat London yang menyebutkan bahwa Belanda dilarang mengganggu kemerdekaan Aceh.

Pada serangan pertama, Belanda mengerahkan 3.000 tentara yang dipimpin oleh Jenderal Kohler. Dalam serangan ini, Kohler berhasil ditembak mati.

Pada 1874, serangan kedua Belanda mengerahkan 8.000 tentara. Letjen J. van Swieten mengumumkan telah menguasai Banda Aceh. Namun, kenyataannya, rakyat Aceh terus melancarkan perlawanan hingga tahun 1904.

Perang Aceh (1873-1904) menjadi perang terlama, terkuat, dan terbesar yang dihadapi Belanda, karena rakyat Aceh didorong oleh motivasi keagamaan melawan kaphee (kafir) yang dikenal sebagai Perang Sabil.

Menurut Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia Vol I, Perang Aceh menelan banyak sekali biaya dan nyawa. Di pihak Aceh, empat persen penduduknya atau 70.000 orang tewas. Di pihak Belanda 35.000 serdadu KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) tewas. Mereka yang menderita luka-luka seluruhnya satu juta orang.[Sumber: historia.id]

AMP - Postingan Abdullah Saleh di media sosial dinilai mencemarkan nama baik Askhalani dan GeRAK Aceh. Politisi PA ini pun disomasi.

Status facebook Abdullah Saleh pada 21 Maret 2017 berbuntut panjang. Merasa mencemari nama baiknya, Askhalani mengirim surat somasi (peringatan) kepada Abdullah Saleh pada 23 Maret 2017. Tak tanggung-tangung, dalam surat somasi yang dikirim melalui pengacarnya, ia mencantumkan tujuh poin penting yang dipercaya dapat menyeret legislaor Aceh itu ke meja hijau.

Dalam poin pertama, Askhalani menyatakan status yang berbunyi ‘Gerak Aceh Askhalani bersama Akhiruddin Mahjuddin tim sukses Zaini Abdullah yang sedang bekerja meraup keuntungan diakhir masa kerja Zaini Abdullah. Selama menjadi tim sukses Akhiruddin merasa manis lalu melibatkan anak buahnya Askhalani di GeRAK untuk menyerang DPRA untuk bela2. Beubrang Cit Sigam nyoe’ telah merendahkan harkat dan martabatnya.

Alasannya, postingan yang juga menyertakan fotonya itu telah disampaikan secara luas oleh Abdullah Saleh di laman medsos. Sehingga, lanjutnya, telah dijadikan pesan berantai para netizen yang menyambangi grup tersebut. Karena itu, Abdullah Saleh dinilai menyalahi hukum berlaku.

Poin kedua, frasa ‘beubrang cit sigam nyou’ dinilai sebagai ujaraan hinaan terhadapnya. Dalam penilaian Asqhalani, ‘beubrang’ merupakan sebangsa binatang mamalia yang tidak pantas diibaratkan kepada manusia. Sehingga, penulisan tersebut dianggap telah mencemarkan nama baiknya.

Poin lainnya, karena telah mencemarkan nama baik, postingan tersebut dinilai sebagai bentuk perbuatan melawan hukum berdasarkan Undang-undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Selanjutnya, ia merincikan undang-undang yang dapat dijadikan landasan hukum untuk menindak pelaku pencemaran nama baik. Pelaku ternacam pasal 27 ayat (3) junto dan pasal 45 ayat (1) dengan ancaman enam tahun penjara dan/atau akan dikenakan denda paling banyak Rp1 miliar.

Dalam poin lima surat somasi, Abdullah Saleh juga dinilai telah melanggar Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 10 ayat (1). “Barang siapa dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah,” tulis Asqhalani mengutip undang-undang tersebut.

Perbuatan Abdullah Saleh tersebut dinilainya telah memenuhi criteria tindak pidana yang dirincinya di poin tiga dan empat surat peringatan tersebut.

Pun demikian, Askhalani memberikan kesempatan kepada Abdullah Saleh agar segera mencabut status tersebut secepatnyaa. Selain itu, Ketua Komisi A DPRA itu juga diminta untuk meminta maaf di media lokal selama tiga hari berturut-turut.

Di penutup surat itu, Askhalani menyatakan akan menempuh jalur hukum jika Abdullah Saleh mengabaikan isi somasi lebih dari empat hari sejak surat itu dikirimkan.
DASAR POSTINGAN

Menerima somasi tersebut, Ketua Komisi I DPRA Abdullah Saleh angkat bicara. Menurut dia, postingan itu sebenarnya bukan tanpa alasan. Antara lain sebagai bentuk kekesalannya atas kritikan pedas GeRAK terkait beberapa keputusan DPRA. Apalagi protes tersebut telah dilakukan secara memtubi-tubi.

“Mereka sudah terlalu sering menyudutkan DPRA menggunakan media Akhiruddin. Apalagi terkait keputusan kami saat menolak pelantikan pejabat baru oleh Abu Doto (Gubernur Aceh) beberapa waktu lalu,” ujar Abdullah Saleh saat dihubungi Pikiran Merdeka, Sabtu (25/3/2017).

Dia menilai, kritikan pedas yang datang secara terus-menerus cendrung memojokkan pihak DPRA, baik dari segi keputusan maupun tindakan. “Apalagi saat DPRA menolak pejabat baru itu, dia (Askhalani) malah menuduh kami ingin mengamankan kepentingan terkait dana aspirasi. Seolah-olah keputusan yang kami lakukan semuanya salah,” tambahnya.

Selain itu, menurutnya, kritikan pedas GeRAK—yang belum tentu teruji kebenarannya—tersebut berdampak pada tersebarnya isu-isu yang tidak valid. Dalam hal ini, ia kembali mencontohkan persoalan pergantian SKPA.

“Dalam hal pergantian kepala SKPA tersebut, kami di DPRA hanya melakukan tugas kami dari sisi pengawasan. Ini pun dengan tujuan agar kebijakan pergantian SKPA berjalan sesuai hukum berlaku,” jelasnya.

Sementra terkait somasi GeRAK terhadap postingan dirinya, Abdullah Saleh menyatakan pihaknya juga dapat menuntut balik jika lembaga tersebut bakal menempuh jalur hukum. “Tapi saya rasa tidak perlu sampai ke tahap tersebu,t karena tulisan saya di Grup Abdullah Saleh itu tidak bermaksud memancing keributan baru yang berkepanangan,” pungkasnya.
MENANTI PROSES

Postingan facebook Abdullah Saleh tidak hanya menyentil nama Askhalani. Dalam postingan itu, nama Akhiruddin juga dimunculkan. Karena itu, pendiri GeRAK Aceh itu juga merasa dilecehkan.

Berbeda dengan respon Askhlani, Akhiruddin memilih menunggu proses somasi yang telah dilayangkan GeRAK pada 23 Maret 2017. “Masalah (Abdullah Saleh) dengan Askhalani kan belum selesai. Kalau itu sudah selesai, maka ia harus berurusan dengan saya lagi,” ujar Akhiruddin kepada Pikiran Merdeka, Sabtu (25/3/2017).

Dalam permasalahan tersebut, Akhiruddin mengaku tidak ingin menyelesaikannya secara gegabah. Ia masih menunggu perkembangan dan kelanjutan dari surat peringatan yang dilayangkan kubu Askhalani. “Kita punya strategi dan masih menunggu momen penyelesaian yang tepat,” tuturnya.

Akhiruddin sangat menyanyangkan tudingan yang menimpa dirinya bersama Askhalani. Postingan Abdullah Saleh dinilai telah menyerang dirinya secara pribadi dan lembaga GeRAK di jejaringan sosial tanpa bukti yang kuat.

“Tulisan itu mengaitkan statemen Askhalani dari GeRAK dengan saya secara pribadi. Apalagi dikatakan ingin meraup keuntungan di akhir-akhir masa jabatan Abdullah Zaini. Ini pencemaran nama baik,” tandasnya.[Sumber: pikiranmerdeka.co]

Tahanan hakim yang kabur. [Ist]
AMP - Tahanan hakim dari Rumah Tahanan Negara (Rutan) Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara yang berhasil kabur pada Selasa (26/7/2016) lalu, kini ditangkap kembali. 

Tersangkanya, Muktaruddin, ditangkap di rumahnya di Gampong Meunasah Pante, Kecamatan Syamtalira Aron, sekitar pukul 20.00 WIB, Senin (27/3/2017) kemarin.Namun, dalam penangkapan tersebut, polisi turut menemukan narkotika jenis sabu sebanyak 100 gram atau setara 1 ons. Tersangka ditangkap berdasarkan adanya informasi dari masyarakat.

"Sementara barang bukti sabu 1 ons itu kita temukan saat rumahnya kita geledah," kata Kapolres Aceh Utara AKBP Ahmad Untung Surianata melalui Kasat Reskrim, AKP Sofyan, Selasa (28/3/2017).

Sofyan mengatakan, kasus tersebut masih dalam tahap pengembangan lebih lanjut. Saat ini, tersangka bersama barang bukti sudah diamankan di Mapolres itu.

Seperti diberitakan GoAceh sebelumnya, tahanan hakim Pengadilan Negeri (PN) Lhoksukon yang terlibat kasus narkoba itu melarikan diri saat diantar petugas untuk berobat.

Saat itu, tersangka meminta izin pada petugas Rutan Lhoksukon agar diberi kesempatan untuk berobat. Karena menunjukkan surat keterangan dokter, tersangka diizinkan berobat dan dikawal aparat keamanan. Namun, tersangka berhasil melarikan diri saat turun di rumahnya dengan alasan untuk mengambil uang.

Seperti diketahui, kasus Muktaruddin dilimpahkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) ke PN Lhoksukon pada Jumat (22/7/2016) lalu.[goaceh.co]

Ilustrasi
AMP - Jumlah Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) di Provinsi Aceh meningkat dari 16.892 kasus di 2012 menjadi 22.033 kasus pada tahun 2016. Khusus gangguan jiwa berat atau gila beneran, Aceh sama persis dengan Yogjakarta di peringkat pertama Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr Hanif mengatakan dari 22.033 kasus ODMK se-Aceh di tahun 2016, Pidie merupakan penyumbang terbanyak, mencapai 2.820 kasus. Sedangkan Kabupaten Bireuen berada di urutan dua, dengan jumlah ODMK mencapai 2.586 kasus.

Dikutip Serambi Indonesia, Senin (27/3/2017), khusus gangguan jiwa berat atau ‘gila benaran’ , Hanif mengatakan bahwa prevalensi di Aceh 2,7 per mil, sama persis dengan Provinsi Yogyakarta.

Kondisi ini menempatkan Yogyakarta dan Aceh berada di peringkat pertama se-Indonesia jumlah orang gila untuk setiap 1.000 penduduk. Namun, data ini berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013. “Tapi, kami tak mau pakai istilah gila, ya,” tutur Hanif.

Penyebab jumlah ODMK meningkat kata Hanif, lantaran perawatnya lebih aktif melakukan pendataan untuk mengobati. Pidie menjadi penyumbang terbesar jumlah ODMK juga lantaran perawatnya bergerak door to door.

“Pidie mendominasi jumlah orang yang mengalami masalah kejiwaan, karena perawat di sejumlah puskesmas di Pidie sangat aktif. Mereka door to door. Kalau dulu tak terdata, sekarang tercatat, sehingga seakan-akan lebih tinggi dibanding daerah lain,” kata Hanif.

Menurut Hanif, setidaknya ada tiga penyebab banyaknya warga yang mengalami masalah kejiwaan di Aceh. Pertama, Aceh sebagai daerah bekas konflik puluhan tahun mewariskan dampak sosial yang luas, termasuk tingginya angka gangguan jiwa.

“Sebab lainnya adalah tsunami dan Napza. Yang paling parah adalah Napza,” kata Hanif. Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Aceh Utara, dan Tamiang, merupakan kawasan yang banyak penderita gangguan jiwa akibat konsumsi narkoba.

Petugas kesehatan mengalami kesulitan memulihkan penderita gangguan jiwa dari pecandu narkoba, karena mereka cenderung kembali menjadi pemakai sesudah diobati. [Serambinews]

AMP - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Partai Aceh (PA) yang juga Ketua Komisi I DPRA, Abdullah Saleh mengaku. Pasca Pilkada dan putusan Mahkamah Konstitusi (MK), antara tim Irwandi Yusuf dan Muzakir Manaf atau akrap dipanggil Mualem, perlu dilakukan pemulihan hubungan atau perbedaan politik (rekonsiliasi).

Pernyataan itu disampaikan Abdullah Saleh, di sela-sela pelaksanaan reses, di Kabupaten Aceh Barat, Minggu malam (26/03/2017). Menurut Abdullah Saleh, perlunya rekonsiliasi demi kepentingan Aceh ke depan yang lebih besar.

Sebab, jika saling menyandra bahwa ini kelompok Irwandi dan itu kelompok Mualem, maka tidak bisa bergerak dalam memikirkan Aceh yang lebih besar ke depan.

“Pentingnya rekonsiliasi, kita sama-sama berpikir jauh ke depan, untuk kepentingan Aceh yang lebih besar, bukan lagi kelompok. Kalau kepentingan kelompok, ada kelompok Mualem dan kelompok Irwandi, maka tidak bisa bergerak,” ujar Abdullah Saleh, di Meulaboh, Minggu malam (26/03).

Abdullah Saleh menjelaskan, jika tidak ada rekonsiliasi maka jumlah kursi PA di DPRA yang kini berjumlah 29 kursi, kemudian ditambah kabupaten-kota, maka bisa tersandra dan akan macet.

“Berat juga, maka kedepan perlu kebersamaan dan rekonsiliasi. Kalau tidak, saling menyandra satu sama lain, maka akan macet,” kata Abdullah Saleh.

Mantan politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu melanjutkan. Pengalaman Pilkada 2012 silam munculnya kelompok Irwandi dan kelompok Mualem-dr. Zaini Abdullah, lalu dalam perjalanan Pemerintahan dr. Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, muncul lagi kelompok dr. Zaini Abdullah dan Mualem.

Pengalaman itu, menurut Abdullah Saleh untuk kepentingan Aceh yang lebih besar, maka perlu dileburkan.

“Idealnya pengalaman Pilkada 2012, terjadi konflik, antar  kubu akhirnya menyandra Zaini dan Mualem tidak bisa bergerak, Mualem mati langkah, Irwandi apalagi. Kedepan jangan diulang lagi, jangan buang-buang waktu,” kata Abdullah Saleh.

Abdullah Saleh juga menegaskan, dalam mewujudkan rekonsiliasi itu, ia siap turun ke dearah-daerah. “Saya juga akan turun ke daerah-daerah,” ujarnya.

Namun, rekonsiliasi yang dimaksud Abdullah Saleh itu, pasca pelaksanaan Pilkada dan pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Sedangkan proses di MK, itu proses legitimasi politik lewat proses hukum yang tidak bisa dihindari. “Proses di MK itu proses legitimasi politik lewat proses hukumnya, itu tidak bisa dihindari. Tetapi rekonsiliasi yang saya maksud pasca Pilkada dan pasca putusan MK.  Ini perlu dilakukan,” kata Abdullah Saleh.(modusaceh)

Satu unit lagi pesawat militer Amerika Serikat mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar, Minggu (26/3). Kedatangan pesawat US Air Force itu untuk mengangkut penumpang dari pesawat militer AS yang dua hari sebelumnya mendarat darurat di Bandara SIM. SERAMBI/BUDI FATRIA
Enam Lagi Tinggal di Aceh

AMP - Sebanyak 14 dari 20 awak pesawat militer Amerika Serikat yang pada Jumat (24/3) lalu mendarat darurat di Aceh, sudah kembali ke Pulau Diego Garcia di Samudera Hindia. Mereka dijemput dengan pesawat tanker milik US Air Force di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar, Minggu (26/3) pukul 12.50 WIB.

Amatan Serambi di Bandara kemarin, sejak pukul 11.00 WIB sejumlah awak pesawat yang akan dijemput sudah bersiap-siap dengan barang bawaannya di apron Bandara. Beberapa saat kemudian pesawat berwarna abu-abu gelap dengan kode 23498 bertulis US Air Force mendarat di landasan dan langsung menuju apron.

Sebanyak 14 awak pesawat yang merupakan prajurit militer AS itu langsung naik ke pesawat membawa serta barang bawaannya. Selama proses transfer penumpang, mesin pesawat dibiarkan dalam keadaan hidup. Pesawat kembali lepas landas pukul 13.37 WIB.

Proses penjemputan itu mendapat pengawalan dari Danlanud SIM, Angkasa Pura, dan Airnav.

Komandan Lanud SIM, Kolonel Pnb Suliono kemarin mengatakan, pesawat yang menjemput itu merupakan jenis pesawat tanker (pengisi bahan bakar di udara), tipe KC 135. Pesawat itu tiba dan akan kembali ke Diego Garcia, setelah menjemput awaknya di Aceh.

Berdasarkan informasi Airnav, waktu tempuh Banda Aceh ke Diego Garcia sekitar tiga jam penerbangan. “Orang yang akan naik ke pesawat itu sudah kita cek. Orang per orang juga dicek oleh imigrasi, sedangkan orang dari pesawat lama (pesawat penjemput) yang tidak turun juga tidak masalah, karena mereka sudah ada izin terbang dan izin landing,” ujar Suliono.

Ketika ditanya mengenai kebenaran pesawat yang mendarat darurat merupakan jenis pesawat pendeteksi nuklir, Danlanud mengatakan secara pasti tidak mengetahuinya. “Tapi kalau rekan-rekan membuka di internet taulah dia dari skuadron apa, serta apa tugas-tugasnya,” ujarnya.

Sedangkan enam awak yang tersisa yaitu pilot, co-pilot, navigator, dan teknisi akan tetap berada di Aceh sambil menunggu otoritas Amerika Serikat mengirim mesin baru, sparepart dan teknisnya ke Banda Aceh. Namun, selama di Aceh mereka diperbolehkan menginap ke hotel di dalam kota.

Sementara Penjabat General Manager (Pj GM) Angkasa Pura Banda Aceh, Surkani mengatakan saat ini proses perbaikan pesawat itu diserahkan ke Gapura, sedangkan Angkasa Pura hanya menyediakan apron. Proses perbaikan nanti akan berlangsung di Bandara SIM.

Sebelumnya diberitakan, pada Jumat (24/3) satu pesawat militer AS yang mengangkut 20 awak mendarat darurat di Bandara SIM karena kerusakan mesin saat di udara. Pesawat itu dari Diego Garcia menuju Bandara Kadena di Pulau Okinawa, Jepang. Hingga saat ini pesawat itu masih berada di apron Bandara SIM.

Untuk diketahui, Diego Garcia merupakan sebuah atol (pulau karang) milik Inggris yang berada di Samudera Hindia, sebelah barat daya Aceh. Saat ini pulau itu menjadi pangkalan militer Amerika Serikat dan Inggris. (serambinews.com)
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget