Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

AMP - Satu lagi warga Aceh meninggal dunia di daerah Kwantan Tanjoeng Lumpo, Malaysia, yang bernama Ahlul Zikri warga Cot Tufah, Gandapura, Bireun.

Diduga korban meninggal dunia karena terjatuh ke dalam sungai ketika bekerja membuat jembatan. Sampai saat ini jenazah belum ditemukan, kejadian tersebut diperkirakan terjadi, Sabtu (18/11) pukul 05.00 sore waktu Malaysia.

Informasi meninggalnya warga Aceh di Malaysia disampaikan oleh Anggota DPD asal Aceh Sudirma atau yang disapa Haji Uma.

Ia mengatakan ketika terjatuh ke sungai, rekan-rekan korban sempat menyelam untuk mencari korban, karena arus sungai cukup deras, akhirnya pencarian dihentikan.

"Kami dapatkan informasi warga Aceh meninggal dunia di Malaysia, hingga kini di jenazahnya juga belum ditemukan. Informasi ini saya terima dari lapora Abu Saba grup Aneuk Nanggroe yang ada di Malaysia," kata Haji Uma kepada AJNN, Senin (20/11).

Sementara itu, Haji Uma sempat menghubungi Keuchik (Kepala Desa) Cot Tuphah M Nasir dan membenarkan ada warganya yang meninggal dunia di Malaysia.

"Keuchik saya hubungi membenarkan kejadian itu. Salah seorang warganya yang bekerja di Malaysia juga memastikan kalau korban memiliki dokumen resmi bekerja di Malaysia," ujarnya.

Haji Uma juga mengatakan informasi dari Keuchik Cot Tufah, korban bekerja di sebuah perusahaan kontruksi jembatan.

"Tadi keuchik juga sampaikan suasana rumah korban cukup ramai, dan keluarga sangat terpukul atas kejadian itu. Saya juga sampaikan ke keuchik akan terus menjadi komunikasi sampai mendapatkan kepastian terkait jenazah korban," ujarnya.

AMP - Beredar kabar seorang pemuda di Baktiya, Aceh Utara bawa kabur salah seorang anak gadis atas nama Rahmi warga Aceh Timur.

Dari penelusuran AMP, Senin, 20 November 2017 kabar tersebut beredar via facebook Abd Hadi Abidin atau lebih dikenal dengan Adi Maros.

Berikut postingannya.

Peringatan Keras Kepada ANWAR Ben ISHAK Gampong Alue Rambong Kecamatam BAKTYA Kabupaten Aceh Utara,supaya segera mengantar kembali Rahmi warga desa paya demam saa kecamatan Pantei Bidari Kabupaten Aceh timur.

Yang kamu bawa lari dari rumahnya, Rahmi anak di bawah umur, Kami atas nama pemuda Pante Bidari sangat mengecam apa yang kamu lakukan, ibu dan Ayah Rahmi sekarang Dalam ke adaan sedih dan cemas.


AMP - 16 Februari 2011. Terinspirasi “Arab Spring” di Tunisia dan Mesir, rakyat Libya berdemonstrasi di Kota Badya menuntut Muammar Khadafi turun dari tahta yang didudukinya sejak 1969. Sebuah mobil polisi diserang dan dibakar di persimpangan jalan besar. Delapan bulan berikutnya, Tripoli dan kota lain merasakan situasi serupa. Situasinya kadang berlangsung dalam eskalasi yang lebih mengerikan. Korban berjatuhan. Rezim yang telah berkuasa selama 40 tahun lebih pun ambruk.

20 Oktober 2011. Khadafi sudah tak bisa kemana-mana lagi. Di kota kelahirannya, Sirte, Khadafi dikepung milisi. Saat seluruh pengawalnya habis tak tersisa, Khadafi memilih bersembunyi di sebuai pipa drainase bawah tanah. Berdasarkan rekaman amatir, di hari itu pemberontak berhasil menyeretnya keluar dari persembunyian. Dalam kondisi tak berdaya, Khadafi dikeroyok massa, dijambak hingga hampir habis rambutnya, ditikam dari belakang, dan meregang nyawa.

Narasi yang selama ini terbangun adalah perseteruan rezim Khadafi dengan Barat. Keduanya saling menegasikan satu sama lain, setidaknya demikian pemberitaan media massa.

Dalam revolusi enam tahun silam, Barat pun melakukan intervensi militer melalui penerjunan Pasukan Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Gabungan pasukan beberapa negara, termasuk Inggris, bersama-sama milisi pemberontak turut menyerang pertahaan Khadafi selama tujuh bulan (Maret-Oktober 2011) atas dasar tuduhan pelanggaran hak asasi yang dilakukan rezim Khadafi kepada rakyat Libya.

Khadafi pun menyerang Barat tak hanya lewat pidato super-panjang di forum internasional. Rezim ini, misalnya, dikaitkan dengan serangan bom pesawat Pan Am tahun 1988 di atas langit Kota Lockerbie, Skotlandia, yang membunuh 270 orang. Dunia Barat kala itu marah besar dan meningkatkan tensi ketegangan antara Barat dan Khadafi.

Khadafi diduga terlibat dalam pemboman pada tahun 1986 di sebuah klub malam di Berlin Barat yang sering dikunjungi oleh tentara Amerika Serikat, pun dalam sabotase penerbangan UTA Perancis 772 di Chad pada 1989 yang mengakibatkan hilangnya 170 penumpang. Lebih jauh lagi, Khadafi juga menyuplai senjata ke Pasukan Republik Irlandia (IRA) dan kelompok pemberontak di negara-negara lainnya.

Namun, situasi yang terbangun sesungguhnya tak sehitam-putih itu. Usai revolusi menumbangkan Khadafi, kantor-kantor pemerintahan diserbu massa. Salah satunya kantor badan intelijen Libya bernama Organisasi Keamanan Eksternal Libya (ESO). Di dalamnya ditemukan arsip dengan konten menarik: Inggris dan Libya pernah menjalin hubungan mutualis pada awal 2000-an.

Jurnalis Guardian Ian Cobain menelusuri dokumen-dokumen terkait dan jejak hubungan Inggris-Libya di masa lampau yang menguatkan fakta tersebut. Cobain melacak dokumen pemerintah Inggris yang dirilis berdasarkan hukum “Freedom of Information Act” dan materi yang muncul dalam penyelidikan otoritas keamanan London plus arsip pengadilan sipilnya. Cobain juga mewawancarai pejabat berwenang Inggris dan para korban dari hubungan kedua negara.

Dalam laporan final bertajuk "How Britain did Gaddafi’s dirty work" yang dipublikasikan Kamis (9/11/2017) kemarin, ia menemukan bahwa akar hubungan intens kedua negara berawal dari rangkaian empat serangan bunuh diri terhadap beberapa target di New York City dan Washington DC pada 11 September 2001, atau yang dikenal dengan tragedi 9/11.

Lima hari usai tragedi, sekelompok kecil petugas senior Badan Intelijen Pusat AS (CIA) mengunjungi kedutaan besar Inggris di Washington. Tujuannya untuk mengajak badan intelijen Inggris MI6 untuk bekerja sama memburu gerombolan ekstremis Islam. Dalam pertemuan selanjutnya di Selandia Baru, Direktur CIA George Tenet mengulangi ajakannya dengan lebih spesifik: menjalin kerja sama dengan badan intelijen negara muslim, dan sebagai imbalannya menuruti keinginan negara yang bersangkutan.

MI6 bersedia. Pada tahun 2002 MI6 dan CIA mulai mendekati ESO yang selama ini dikenal piawai menjalankan misi rahasia ke berbagai negara di bawah komando Khadafi. Awalnya, MI6 dan CIA datang untuk mempelajari gerakan Islam ekstremis, namun lama-lama keduanya memandang kedekatan dengan ESO bisa dimanfaatkan untuk menghentikan proyek senjata pemusnah massal yang saat itu sedang dibangun oleh Khadafi.

Khadafi mempunyai dua jenis senjata pemusnah massal, yakni senjata berbahan kimiawi/biologi dan senjata berbasis nuklir. Proyek senjata nuklir sudah digagas Khadafi sejak awal 1970-an. Bahan-bahan dasarnya ia upayakan dari India, sementara bijih uranium dan teknologi pengayaannya ia dapatkan dari aliansi blok kiri seperti Rusia dan Cina. Jika proyek ini dibiarkan, demikian menurut MI6 dan CIA, keamanan global akan terancam.

Menuju musim panas 2003, AS menginvasi Irak dalam dalih operasi pembebasan. Setelah 20 hari bertempur (20 Maret-1 Mei) dengan pasukan Saddam Hussein, permasalahan pokok yang muncul jauh-jauh hari sebelum perang rupanya mengemuka kembali: AS tak pernah merilis bukti solid tentang senjata pemusnah massal milik Saddam yang jadi dalih utama invasi. Kritikan pedas muncul dari berbagai sisi, terutama aktivis-aktivis dalam negeri AS sendiri, yang menyatakan bahwa senjata pemusnah massal itu sebenarnya tak pernah ada.

Dengan demikian, selain karena amanat kontra-terorisme pasca tragedi 9/11, tugas membujuk Khadafi agar berhenti bermain dengan senjata pemusnah massal menjadi penting bagi MI6 dan CIA. Jika keduanya berhasil, merujuk laporan Cobain, maka badai kritik pedas yang dialamatkan pada pemerintahan George W. Bush akan mereda. Dengan kata lain, perang yang menyeret ribuan nyawa rakyat sipil di Irak sedikit terlegitimasi.

Ada negosiasi panjang, tentunya lewat jalan belakang, yang kemudian terjalin antara Inggris yang saat itu dipimpin Tony Blair, dengan ESO dan Khadafi. Dalam dokumen yang diinvestigasi Cobain, dinyatakan bahwa Khadafi mau memperlambat program senjata pemusnah massalnya. Dalam tafsiran lain, Khadafi dinilai berkeinginan meninggalkan sepenuhnya proyek senjata berbahan kimiawi/biologi dan senjata berbasis nuklir.

Blair dan Bush sama-sama menyatakan kegembiraannya di depan awak media, menyebut keputusan Khadafi sebagai kemenangan kecil. Blair menyatakan “kejadian dan kebijakan politik baru-baru ini” telah membuat dunia lebih aman. Opini-opini yang ditulis oleh para pendukung invasi AS ke Irak menyebar di sejumlah media, secara implisit menyatakan bahwa pelucutan senjata Khadafi menjustifikasi perang di Irak. 

Namun tak ada makan siang yang gratis. Sebagai imbalannya, MI6 dan CIA harus melakukan kerja-kerja kotor pesanan Khadafi untuk mempertahankan kekuasaannya. Kerja-kerja itu beragam, namun intinya adalah membungkam dan mengintimidasi para lawan politik Khadafi yang sedang di Inggris ataupun di negara lain. Dalam sejumlah kasus, para oposan korban intrik politik ini juga diusahakan agar bisa dideportasi kembali ke Tripoli, tempat Khadafi menjalankan kekuasannya.

Oposan rezim Khadafi yang tinggal secara legal di Inggris selama bertahun-tahun ditangkap oleh kepolisian Inggris. Para pencari suaka keturunan Inggris-Libya di Manchester dan London marah besar. Agen suruhan Khadafi saat itu bisa melenggang bebas di jalanan bersama agen intelijen Inggris dan merepresi orang-orang asal Libya yang anti-Khadafi. Keluarga mereka diancam. Otoritas berwenang juga berusaha untuk mendeportasi mereka.

Represi difokuskan pada anggota Al-Jama'ah al-Islamiyyah al-Muqatilah bi-Libya atau Kelompok Pertarungan Islam Libya (LIFG) yang ingin menggulingkan Khadafi dan mendirikan negara dengan hukum syariah secara murni dan konsekuen. Para pemimpinnya yang melarikan diri ke luar negeri diculik untuk diboyong kembali ke Tripoli beserta anak dan istrinya. Sesampainya di Libya, mereka disiksa sambil ditahan dalam kondisi ekstrem. Beberapa rekan mereka mengalami perlakuan serupa, sebelum akhirnya dibawa ke tempat pengasingan.

Salah satu cerita yang didapatkan Cobain berasal dari wawancara dengan Komandan LIFG Abdel Hakim Belhaj.

Pada Februari 2004 Berlhaj dan istrinya yang sedang hamil empat bulan sedang berupaya mencari penerbangan dari Beijing ke London, berharap mencari suaka. Namun, otoritas Cina mendeportasi keduanya ke Malaysia. CIA kemudian membawanya ke sebuah tempat tahanan di Bandara Don Mueang di Bangkok, dan disiksa.

Belhaj mengaku dipukuli sambil dipaksa mendengarkan musik bervolume keras. Istrinya ditempatkan di ruangan berbeda, dengan tangan dan kakinya terikat. Ia ketakutan jika suaminya dibunuh. Lima hari kemudian keduanya dibawa ke Tripoli, juga ditahan di dua tempat berbeda. Berlhaj pun disiksa lagi.

Akhirnya Belhaj dikerangkeng di tempat penahanan anak-anak buahnya di LIFG dan faksi oposan anti-Khadafi lainnya. Mereka diinterogasi dengan keras oleh otoritas Libya yang dibantu personil MI6.

Dua hari usai kunjungan pertama kali Tony Blair ke Libya pada 25 Maret 2004, operasi serupa dilaksanakan lagi untuk menculik Sami al-Saadi, pemimpin spiritual LIFG. Saadi pindah ke Cina dengan istri dan empat anaknya. Beserta sang istri, ia melakukan perjalanan ke Hong Kong setelah sempat ditemui oleh anggota MI6. Anggota MI6 tersebut menawari Saadi pindah ke London agar lebih aman. Saadi setuju, namun ia dan keluarganya justru ditahan oleh otoritas Hong Kong.

Saadi dan keluarganya kemudian diterbangkan kembali ke Libya dan ditahan di penjara Kota Tajoura. Saadi dipukuli, dintimidasi, dan disetrum. Anak-anaknya, plus sang ibu, kemudian dilepaskan setelah 10 minggu ditahan dan diperbolehkan masuk sekolah. Saadi dan Belhaj sendiri ditahan selama enam tahun oleh Khadafi, hingga tahun 2011 revolusi pecah.

Kerja Sama juga Melebar ke Bidang Pendidikan dan Keamanan
Inggris memang menampakkan wajah bengisnya selama revolusi penggulingan rezim Khadafi. Pesawat pembom hingga pasukan bersenjatanya di grup NATO beriringan dengan faksi-faksi pemberontak dalam upaya merebut kota demi kota di Libya. Situasinya cukup kontras, mengingat menurut catatan media massa, kerja sama antara Inggris dan Libya pada hingga beberapa tahun sebelum revolusi berlangsung cukup mesra di ranah pendidikan.

Merujuk laporan Cobain, Saif al-Islam Khadafi, anak Muammar Khadafi, pada tahun 2002 kembali bersekolah di London School of Economics (LSE). Sejak enam tahun silam muncul berbagai laporan tentang hubungan kuat antara Khadafi dan LSE. Lebih dari sekedar memasukkan anaknya bersekolah di universitas terkemuka di Inggris tersebut, Khadafi juga turut menjadi donor bagi LSE. Skandal ini kerap diistilahkan dengan “LSE Libya Links”.

LSM Gaddadi Foundation menyumbang sekitar 1,5 juta poundsterling selama lima tahun ke pusat penelitian LSE Global Governance. LSE kemudian menetapkan kontrak senilai 2,2 juta poundsterling untuk melatih para pejabat Libya, dan menilai bahwa langkah ini dimotivasi oleh cita-cita menyiapkan para pemimpin masa depan Libya.

Pada tahun 2008 juga ditemukan fakta menarik: LSE memberikan gelar PhD kepada Saif untuk disertasinya. Dalam laporan Telegraph, Saif juga membayar seorang profesor sebesar 600 poundsterling untuk membuatkan tugas-tugas kuliahnya. Selain biaya pembuatan paper ilmiah, sang dosen yang bernama Dr. Philip Dorswitz juga dibayar 150 poundsterling per jam untuk menjadi tutor pribadi Saif. SELANJUTNYA

AMP - Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman alias Haji Uma, mengingatkan Sumatera Utara (Sumut) tidak asal klaim wilayah Aceh.

Sebab perbuatan tersebut telah memancing keresahan masyarakat Aceh.

Hal tersebut disampaikan Haji Uma, Senin (13/11/2017) terkait masuknya Pulau Mangkir Besar, Mangkir Kecil, Lipan dan Pulau Panjang dalam rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (RZWP-3-K) Provinsi Sumut.

“Kita mengingatkan Sumut jangan asal klaim wilayah Aceh,” kata Haji Uma.

Menurut Haji Uma, klaim Sumatera Utara, terhadap wilayah Aceh, bukan kali ini saja.

Sebelumnya kejadian serupa pernah dilakukan terhadap perbatasan walau pada akhirnya wilayah yang diklaim Sumut, tetap masuk Aceh.

Ia menyatakan telah meminta koleganya di DPD RI asal Sumatera Utara, Drs H Rijal Sirait.

Agar menyampaikan kepada Pemerintah Sumut, untuk tidak mengulangi lagi klaim terhadap wilayah Aceh.

“Beliau sudah berjanji akan menyampaikan ke Pemerintah Sumut,” ujarnya.

Sudirman menegaskan dirinya yang dipercaya daerah berada di pusat berjuang keras menjaga keutuhan wilayah Aceh.

“Yang di pusat kita menjaga keutuhan wilayah Aceh,” kata Haji Uma.

Sebagaimana diketahui Pulau Mangkir Besar, Mangkir Kecil, Lipan dan Pulau Panjang, masuk dalam rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (RZWP-3-K) Provinsi Sumut.

Hal itu menuai rekasi dari berbagai pihak, termasuk dari masyarakat Aceh Singkil, yang tidak rela wilayahnya masuk ke Sumatera Utara.(Serambinews)

AMP - Taliban Afghanistan menyerang lebih dari selusin pos pemeriksaan selama enam jam di provinsi Kandahar, Afghanistan selatan. Serangan itu menewasan 22 polisi dan mencederai 15 lainnya, seperti dikatakan oleh beberapa pejabat. Serangan terjadi saat militan membunuh delapan tentara di barat dalam sebuah pemberontakan.

Beberapa pejabat mengatakan pasukan pemerintah berhasil membunuh 45 gerilyawan dan melukai 35 lainnya. Selain itu, tidak ada pos pemeriksaan yang berhasil dikuasai dalam serangan semalam.

"Pasukan kita melawan sampai mereka mendapat bala bantuan dan dukungan udara. Taliban dikalahkan," kata Zia Durrani, juru bicara kepala polisi Kandahar seperti dilansir dari Reuters, Selasa (14/11/2017).

Taliban mengatakan kepada wartawan lewat aplikasi WhatsApp bahwa mereka membunuh 43 polisi dan anggota milisi. Mereka juga mengklaim menghancurkan 13 kendaraan lapis baja.

Namun, kelompok pemberontak sering membesar-besarkan korban di medan perang.

Taliban, yang berjuang untuk mengembalikan pemerintahan Islam setelah digulingkan pada tahun 2001 oleh pasukan pimpinan Amerika Serikat (AS), juga menyerang Bala Boluk, di provinsi barat Farah. Serangan tersebut menewaskan delapan tentara dan melukai tiga lainnya, menurut pemerintah provinsi.

Kontrol atau pengaruh pemerintah terhadap negara tersebut telah turun sampai di bawah 60 persen, turun enam persen dari tahun lalu, menurut Inspektur Jenderal untuk Rekonstruksi Afghanistan.[Sindo]

BR (21) mahasiswi cantik semester akhir salah satu perguruan tinggi negeri di Palembang diperkosa oleh seorang dosen berinisial DS. BR usai melapor ke Polisi. (Ad H/Koran SINDO)
AMP - BR (21) mahasiswi cantik semester akhir salah satu perguruan tinggi negeri di Palembang diperkosa oleh seorang dosen berinisial DS. Pelaku DS merupakan dosen salah satu universitas di Kota Palembang yang tak lain merupakan orang tua angkat sekaligus suami dari EL dosen pembimbing skripsi BR.

Dugaan pemerkosaan itu terungkap setelah BR didampingi orang tuanya mendatangi Polresta Palembang, Jum'at (29/4/2016), untuk memenuhi panggilan penyidik unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) guna dilakukan pemeriksaan lanjutan terhadap dirinya.

Dari cerita BR, dugaan pemerkosaan berawal ketika saat dirinya sedang menyelesaikan skripsi miliknya. Lantaran skripsi yang dikerjakannya cukup rumit, membuat BR akhirnya rutin berkunjung ke kediaman EL, dosen pembimbingnya di univeritas untuk berdiskusi terkait kendala yang dialaminya dalam menyelesaikan skripsi itu.

Dari situ, BR sering bertemu dengan DS suami EL yang juga seorang dosen hingga terjadi keakraban antara mereka. Bahkan diketahui, karena tidak mempunyai anak, DS dan EL menganggap BR sebagai anak mereka. Begitu juga BR yang menganggap kedua pasangan tersebut sebagai orang tuanya.

Singkat cerita, keakraban sebagai orang dan anak pun terjalin. Sehingga BR pun tak canggung untuk menginap di kediaman keluarga dosen tersebut.

"Mereka mempunyai rumah di Indralaya. Tapi karena pak DS ini dosen univeritas swasta, jadi dia ngekos di Palembang, sementara EL dosennya sendiri. Saya memang sering main ke kediaman mereka, kami sudah dekat. Bahkan seperti keluarga," ujar korban BR, saat di Polresta Palembang.

Dikatakan korban, DS juga kerap membantunya untuk menyelesaikan skripsi tersebut. Termasuk mencari sample penelitian yang dibutuhkan BR dalam skripsi tersebut.

Namun petaka itu datang pada awal Januari silam, atau tepatnya enam bulan setelah perkenalan BR dengan DS.

Sebelum kejadian itu, BR yang sedang pulang ke kampung halamannya di Jambi, tiba-tiba mendapat telepon dari DS dan mengatakan jika sample penelitian yang dibutuhkan BR sudah ditemukannya.

"Pak DS itu membantu saya untuk mencarikan sample yang saya butuhkan. Malam itu dia mengabarkan jika samplenya sudah ada dan saya disuruh datang malam itu juga," terangnya.

Tiba di Palembang, BR pun dijemput oleh DS. Tapi karena sudah larut malam, DS akhirnya menawarkan korban BR untuk menginap di kamar kostnya.

"Awalnya saya tidak mau karena istri pak DS (EL) tidak bisa datang. Tapi karena pak DS meyakinkan saya jika tak akan terjadi apa-apa, jadi saya mau," ungkapnya.

Lelah dengan perjalanan jauh, akhirnya BR langsung tertidur saat tiba di kamar kost milik DS. "Baru saja tidur, saya terbangun dan melihat pak DS sudah berada di atas badan saya. Saya mencoba melawan pak, tapi tenaganya terlalu kuat," keluhnya.

Setelah kejadian itu, kata BR, DS mengancam dirinya agar tidak menceritakan kejadian tersebut ke orang lain.
"Dia mengancam akan menghambat penyelesaian skripsi dan menunda wisuda saya. Dia mengatakan punya hak untuk itu karena dia suami dosen pembimbing saya," timpalnya.

Rupanya, perbuatan itu DS kembali diulangi. Sejak awal Januari 2016 lalu, sedikitnya sudah tiga kali aksi bejat DS dilakukan terhadap korban.

"Saya tidak berani bercerita karena diancam itu. Karena saya tertunda wisuda, kasihan dengan orang tua saya," katanya.

Namun, BR ternyata tak mampu untuk menutupi aibnya tersebut, dan akhirnya bercerita kepada EL. Malangnya, bukan tanggapan perihatin yang diterima olehnya, EL justru menuduh BR sudah berselingkuh dengan DS.

"Ibu EL tidak mau mendengar penjelasan saya. Dia juga akhirnya menelepon orang tua saya, sehingga orang tua saya yang ada di Jambi datang ke Palembang," ungkapnya.

Setelah ibunda BR datang ke Palembang, terjadilah pertemuan diantara kedua keluarga ini. Keluarga BR menuntut tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan oleh DS. Namun DS enggan bertanggung jawab, dan akhirnya BR beserta keluarga memutuskan untuk menempuh jalur hukum.

"Pak DS itu juga sebelumnya sempat mengajari saya untuk tidak menceritakan kejadian itu, tapi saya tidak mau. Intinya dia tidak mau tanggung jawab," terangnya.

Sementara ibunda BR, Nurhayati mengatakan, awalnya ketika terjadi pertemuan antar kedua korban DS sempat membantah peristiwa itu, namun setelah diajak berkomunikasi secara kekeluargaan, DS akhirnya mengakui semua perbuatannya.

"DS mengaku hanya sekali melakukan itu. Saya hanya menuntut tanggung jawab, agar anak saya ini cepat selesai kuliahnya, dan setelah itu akan saya bawa pulang, namun ternyata tidak ada tanggapan. Saya hanya menutut kebenaran saja. Saya harap pelakunya ditangkap dan dihukum sesuai apa yang dia lakukan," kata Nurhayati.

Kasatreskrim Polresta Palembang Kompol Maruly Pardede mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan saksi-saksi.

"Saksi-saksi masih kita periksa. Sekaligus menunggu hasil visum dari rumah sakit. Pasti akan kita lakukan pemanggilan terhadap terlapor," timpal Kasat. [Sindonews]

AMP - Hobi memang tidak mengenal berapa banyak uang yang harus dikeluarkan. Sebagai bukti, wanita asal Kota Banda Aceh, Kharisma, menyulap eksterior dan interior mobil kesayangannya hingga menelan biaya ratusan juta rupiah.

Ia memodifikasi Honda Jazz lansiran 2006 dengan tema full Hello Kitty. Tengok saja bagian kabin, semua dilapisi kelir pink dan pastel hingga ke setir. Tak lupa aksen gambar Hello Kitty berjejal, membuat gemas siapa saja yang melihatnya.

Tak puas dengan itu semua, Kharisma juga menaruh puluhan boneka untuk semakin memperkuat kesan girly. Tiga boneka di antaranya berukuran besar dan diletakkan di kursi baris kedua.

Pada bagian eksterior, ia menyemprotkan cat putih doff, dan lagi-lagi ditambah stiker Hello Kitty. Kaki-kaki, Kharisma mempercayakan pada ban Bridgestone dan pelek SSR 14 inci.

Kharisma mengaku sengaja menyulap Jazz kesayangannya bergaya demikian berkat kegilaannya akan sosok kartun Hello Kitty. “Awalnya, saya suka sama Hello Kitty. Jadi ada mobil di rumah, ya saya buat modifikasi seperti ini,” kata Kharisma kepada VIVA saat mengikuti meet up komunitas Freedom, di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Aceh, Minggu, 11 November 2017.

Proses modifikasi dilakukan sejak enam bulan lalu. Tak tanggung-tanggung, sudah Rp150 juta uang melayang demi si Jazz agar punya penampilan seperti sekarang ini. “Tiga bulan pertama untuk aksesori dalam, tiga bulan berikutnya baru diceperin hingga ganti pelek dan lainnya. Semua totalnya sampai Rp150 juta,” sebutnya.

Sistem hiburan juga tak luput dari pantauan. Agar betah berlama-lama di dalam mobil, Kharisma  menanamkan enam speaker berbagai ukuran. Di antaranya dua power merek Venom, ditambah TV LED 17 inci yang juga dikelilingi boneka dan warna khas kartun Hello Kitty.

Lantas apakah mobil ini digunakan untuk aktivitas harian, Kharisma mengatakan ia selalu menggunakannya kendati tidak rutin. [VIVA]

AMP - Dibalik fakta, Nasib naas dialami oleh Puji, gadis berusia 21 Tahun asal Lhokseumawe, Aceh. Niatnya menjadi artis lokal Aceh membuat ia harus kehilangan nyawa. Tak ada yang menyangka, pengambilan gambar Sciene ke delapan Film berjudul "Dendam Nurmala" tersebut, SAProduction harus kehilangan salah satu bintang.

Puji pertama kali keserupan saat memperagakan salah satu adegan pada Minggu malam (12/11/2017) dikawasan Simpang Keuramat, tidak bisa dibendung akhirnya sang pemeran utama itu jatuh ke jurang dan mengalami luka parah.

Wanita yang sedang menempuh pendidikan disalah satu kampus ternama di Lhokseumawe sempat dievakuasi dan dilarikan ke Rumah Sakit, namun di tengan perjalanan Puji menghembuskan nafas terakhir.

Menjadi artis memang mimpi kebanyakan banyak orang, namun harus jiuga di perhatikan Film apa yang digarap. Bila tidak sanggup, sebaiknya mundur.[nanggroeaceh.net]

AMP - Terkait dugaan yang menyebut adanya malpraktik terhadap Muhammad, warga Aceh Utara, setelah menjalani operasi usus buntu di RSUD Kasih Ibu dibantah oleh Hj. Herawati, SH selaku Ketua Yayasan Rumah Sakit tersebut.

Menjawab pemberitaan media ini pihak RS Kasih Ibu keberatan dengan dengan istilah Malpraktik, karena menurutnya secara hukum dan Undang-undang sudah ada lagi yang namanya malpraktik, yang ada hanyalah kelalaian dalam perawatan medis.

“Sudah Ratusan malah ribuan pasien yang kami tangani mudah-mudahan ini tidak menyebar,” kata Hj. Herawati kepada Wartawan Lintasnasional.com pada Senin 13 November 2017.

Didampingi dr. Ahyar dan dr. Darwin beserta staf Rumah Sakit, Hj. Herawati juga menjelaskan, awalnya pasien yang bernama Muhammad (35) warga Gampong Matang Kumbang Kecamatan Baktiya Kabupaten Aceh Utara tersebut menderita sakit perut dan mengalami kebas di kaki dan susah digerakkan.

“Jadi yang pertama kali kami lakukan adalah meringankan sakit pasien, dan itu dilakukan oleh dr. yang bertugas di UGD, dan yang dilakukan oleh dr. sudah sesuai dengan SOP dan Protap Rumah Sakit,” tegas Herawati.

Lanjutnya, setelah diperiksa di UGD mereka memindahkan pasien tersebut ke ruangan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

“Besoknya kami konsultasikan ke dr. bedah karena hasil diagnosa sementara pasien mengalami gejala Radang usus buntu (Appendicitis) akut karena mengalami sakit kebas-kebas,” katanya.


Lanjutnya lagi setelah dikonsultasikan dengan dr. Bedah dalam hal ini dr. Darwin, ia malakukan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi sehingga diambil kesimpulan pasien harus di operasi.

Ketika disinggung terkait rujukan ke RSU Adam Malik Medan dr. Herawati menjelaskan peralatan medis dan obat-obatan yang dibutuhkan pasien tidak tersedia di RSUZA Banda Aceh.

“Dengan alasan itulah kami merujuk pasien ke RSU Adam Malik Medan,”
sebutnya 

Hj. Herawati juga menjelaskan penyebab lumpuh ada tiga kategori, diantaranya, sakit di kepala, di tulang rusuk belakang dan di kaki, karena pasien tersebut memiliki penyakit tersendiri dan juga ketidaksabaran keluarga dalam proses perawatan.

Yang anehnya pihak RS Kasih Ibu tidak mungkin lagi memberikan perawatan lanjutan kepada pasien, mereka beralasan sudah merujuk ke RS Adam Malik sesuai dengan peraturan medis.

Sebelumnya diberitakan Muhammad (35) warga Gampong Matang Kumbang Kecamatan Baktiya Kabupaten Aceh Utara mengalami lumpuh kedua kakinya setelah menjalani operasi di RS Kasih Ibu. Pihak keluarga menduga, Muhammad mengalami lumpuh setelah menjalani operasi di RS tersebut.

“Menurut keterangan dokter RSU Adam Malik, Muhammad menderita lumpuh kedua kakinya akibat terjadi infeksi ketika disuntik bius dan itu dibuktikan dari hasil Rotgen,” sebut Dewi Mutia saat ditemui di ruang RJK di RSUD Cut Mutia Aceh Utara pada Minggu 12 November 2017.

Menurut Dewi yang merupakan istri pasien sebenarnya pasca operasi, pasien dan keluarganya menolak dirujuk ke RS Adam Malik. “Saat itu kami menginginkan dirujuk ke RSUZA Banda Aceh saja, tapi pihak RS Kasih Ibu memaksakan pasien harus dirujuk ke RSU Adam Malik,” kisah Dewi.

Dalam hal ini Pihak keluarga akan meminta pertanggungjawaban RS Kasih Ibu supaya bertanggung jawab dan tidak semena-mena dalam menangani pasien.
“Kami hanya menginginkan pihak RS Kasih Ibu bertanggungjawab atas apa yang dialami oleh suami saya,” pungkasnya.(Lintasnasional.com)
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget